Kaskus

Story

shirazy02Avatar border
TS
shirazy02
Lemon Tea
Lemon Tea

Sinopsis:


Zoya (27 tahun), seorang barista super sarkastik yang hobby menyindir pelanggan pakai tulisan di cup kopi, sudah kehilangan semangat hidup: mantannya menikah minggu depan setelah sebelumnya ia disuruh menanti selama empat tahun, ibunya menyalahkannya dan mulai menjodohkan Zoya dengan anak teman arisan. Mirisnya lagi, tabungan Zoya yang tidak seberapa, habis dalam hitungan jam gara-gara perawatan klinik yang sama sekali tidak membawa perubahan. Hari-harinya jadi seambyar cappucino yang gagal dibikin foam art. Ia memilih tak pulang ke rumah. Memohon pada Om Hans, bos-nya, untuk bisa tidur dan bergelandangan manja di kafe seumur hidup.

Suatu hari, ia kedatangan Arion (25 tahun), pelanggan aneh yang setiap hari datang ke kafe dan minum lemon tea. Pesanannya selalu sama: lemon tea, tanpa es, tanpa gula. Zoya sangat penasaran dengan sosok satu ini. Siapa sih, yang ke kafe lucu-lucu cuma buat minum lemon tea yang lebih cocok untuk orang demam?

Hidupnya yang sudah cukup drama berubah makin absurd ketika tahu bahwa pria itu adalah seorang konsultan manajemen, yang datang untuk “merapikan sistem kerja kafe.” Sikap dingin dan perfeksionisnya, membuat gadis itu merasa tertantang sekaligus ingin melempar gelas. Arion benci ketidakteraturan. Sementara Zoya adalah definisi dari kekacauan yang hidup. Dua kutub yang seharusnya tak bertemu… tapi terus bertabrakan di balik mesin espresso.

Di antara kejadian-kejadian menyebalkan, masa lalu Zoya yang ia kubur dengan whipped cream, malah ikut naik ke permukaan, membawa kabar barunya jika ia tak jadi menikah.

Apakah Zoya bisa benar-benar melupakan masa lalunya? Atau kah dia bisa membuka hati yang baru? Atau ia lebih memilih menjalani hidup sendiri?

----
Spoiler for .:



Lemon Tea
Bab 1



Kopi Kawan, tempatku mengabdikan hidup, hati, dan kadang-kadang rasa frustasi, adalah kafe kecil bergaya vintage yang berada di sudut jalan Kota Mojokerto. Dulunya ramai. Dulunya hangat. Dulunya punya lima karyawan yang kompak dan sering karaoke di dapur pakai sendok. Sekarang? Tinggal aku dan Vina. Dan satu kipas angin yang bunyinya kayak suara hewan mitologi kehausan.

Semenjak pandemi dan datangnya tren kopi-kopi viral yang disajikan pakai mangkuk keramik Korea dan background neon pink, Kopi Kawan mulai ditinggal. Pelanggan setianya sekarang hanya beberapa: mas-mas ojek online yang pesan untuk dirinya sendiri, penjual angkringan sebelah yang mungkin terpaksa beli karena sering minta air se-timba, dan... baru-baru ini ada satu pria misterius.

Dia sudah tiga kali datang. Dan setiap kali itu juga, pesanannya selalu sama: lemon tea panas, tanpa gula, tanpa es, dan tanpa ekspresi di wajahnya.

Namaku Zoya. Umur 27 tahun. Barista di kafe kecil ini sejak tiga tahun lalu, setelah gagal total jadi editor buku karena terlalu sering ngoreksi isi hati sendiri. Motto hidupku sederhana: kalau bisa disindir, kenapa harus dipendam?

Dan pagi ini, seperti biasa, aku siap meladeni para pelanggan dengan kopi dan—kalau sempat—komentar nyinyir penuh kasih sayang.

Di balik meja bar, aku berdiri tengah menyusun gelas sambil menggumam lagu, yang bahkan aku sendiri nggak tahu liriknya. Seragam barista warna moca agak kusut—bukan karena lupa disetrika, tapi karena aku percaya "kerutan adalah bukti perjuangan." Atau karena aku bangun kesiangan. Dua hal itu kadang tak bisa dibedakan.

Tiba-tiba, pintu kaca kafe berbunyi. Masuklah pelanggan pertama kami.

Seorang perempuan muda, sepertinya belum pernah ke sini. Ia pakai tote bag bertuliskan “I Need Coffee More Than Therapy”, dengan riasan mata yang seolah menjerit, “aku belum move on tapi pura-pura bahagia.” Ah, parah!

"Selamat pagi, Mbak. Mau diseduh atau dipeluk hari ini?" tanyaku sambil tersenyum ramah-ramah sarkas.

“Ehm…" Gadis itu diam sejenak, memandang buku menu yang ada di hadapan. "...aku latte oat milk, ya. Tapi gulanya setengah. Tapi foamy-nya banyak, dan kopinya jangan terlalu pahit," lanjutnya. Sementara aku tersendat menulis karena pendengaran nggak fokus.

“Baik, Mbak. Jadi... kita pesan satu latte… dengan ekspektasi rumit?”

Dia ketawa. “Iya, sorry-sorry. Lagi kacau banget nih hari ini.”

“Tenang, Mbak. Di sini, kita nggak hanya seduh kopi. Kita juga seduh perasaan.”
Aku mulai menuliskan pesan di cup-nya:

>“Semoga harimu lebih manis dari cowok yang nggak jadi milikmu.”

Dia senyum malu-malu. “Aduh, itu dalem banget.”

“Dari lubuk hati barista yang lelah hidup, Mbak," sahutku datar.

---

Baru saja si latte rumit keluar dengan hati ringan, pintu kafe berbunyi lagi.

Ternyata pria itu lagi!

Dengan style yang sama. Rapi. Tegas. Jelas bukan tipe yang nyasar ke kafe kecil penuh quote nyinyir seperti Kopi Kawan. Kemejanya kali ini warna cerah, dengan celananya hitam pekat, dan jam tangan yang seperti bisa mengatur waktu hidup orang lain. Wajahnya masih sama, kaku. Seperti lemari file kantor pajak. Dia berjalan ke arahku. Tanpa senyum. Tanpa sapaan.

Kutatap jam yang menempel di dinding bagian tengah kafe. Selalu tepat jam 09.00 WIB. Langkahnya konsisten, dengan sepatu yang selalu bersih.

Di balik mesin kopi, kusaksikan langkahnya seperti robot terprogram. Mata kami bertemu sebentar. Tatapannya biasa saja. Sangat membosankan.

“Pelanggan lemon tea datang lagi." Lirih aku berkata pada Vina yang baru saja lewat. Vina yang hendak mengisi kopi bubuk, langsung berbinar. “Zoy, sumpah deh, aku nggak ngerti kenapa kamu bisa sesantai itu ngeliat dia. Dia itu kayak... kayak arsitek dari web drama Korea. Cool banget nggak,sih.”

Aku mendesah. “Vin, kalau kamu jatuh cinta sama pelanggan yang sukanya cuma pesan lemon tea, hidup kamu akan berakhir dengan vitamin C dan kekecewaan.”

Dia mencubit lenganku. “Kamu tuh nggak peka. Bisa aja itu gayanya pendekatan dia ke kita.”

Aku tersenyum setengah hati. “Oke, pendekatan pakai air jeruk. Romantis banget.”

"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi si Keenan! Buktinya, tuh, langsung dikasih pengganti sama Tuhan yang lebih bening!" Vina tersenyum lebar menatap pria itu. Aku mendengkus masa bodoh. "Nggak ada hubungannya sama Keenan. Sudah, jangan sebut nama itu lagi!"

Laki-laki itu tampaknya menunggu di meja bar. Kutarik napas lebih dulu. Kemudian melangkah ke luar dan menyambutnya dengan senyum profesional. "Selamat pagi!" Mencoba seramah mungkin meskipun malas sekali berhadapan dengan laki-laki.

“Satu lemon tea. No sugar, no ice, no soul,” serunya. Kalimat yang sama. Nada yang sama. Seperti direkam dan diulang.

“Mengerti, Pak. Tapi, kami hanya jual minuman, bukan racikan untuk patah hati,” balasku sambil menekan tombol pemanas air. Masih dengan senyum terpasang semanis mungkin.

Dia mengangkat alis. “Saya serius.”

“Saya juga. Tapi kalau anda senyum sedikit seperti saya, itu akan terasa lebih manis,” ujarku, terus memaksakan senyum padanya.

Dia menatap datar dan mencebik, “saya alergi senyum palsu.”

Ah, sudahlah! Apapun perkataannya, aku berusaha memberi senyum pasti- khas ramah seorang barista. Biar hati asalnya remuk, yang penting dipandang pelanggan baik-baik saja.

Asli, pria yang sangat membosankan. Mungkin diciptakan dari sari lemon murni. Asem kecutnya terasa sekali.

Sejenak kutatap name tag yang terkalung di dadanya, sebelum akhirnya ia sadar, lalu melepaskan name tag-nya. Aneh sekali. Kenapa seperti takut ketahuan?
Baru kali ini aku membaca namanya setelah berhari-hari dia gentayangan di Kopi Kawan. Sambil menyiapkan tehnya, aku menulis di kertas, lalu menyelipkannya di cup: “Cocok diminum sambil evaluasi keputusan hidup, Pak Airon Man.”

Dia membaca. Sejenak diam. Lalu menyeruput tehnya. Dan... sudut bibirnya naik. Sedikit. Hampir tidak terlihat. Tapi aku menangkapnya.

Vina menyenggolku dari belakang. “Dia senyum, Zoy. Demi kopi sachet, dia senyum!”

“Cuma refleks otot wajah. Bukan buat aku,” jawabku sok tenang.

---

Saat kafe mulai lengang, aku dan Vina saling bersandar di kursi malas dekat kasir.

"Perut aku masih kek orang hamil gak, sih?" Pelan aku mengajak Vina ngobrol.

"Tenang aja. Masih berupa benjolan dikit. Daripada perut aku, malah kayak orang brojol." Vina cekikikan sembari menatap layar gawainya.

"Tapi, ada perubahan gak sih, sedot lemaknya?"

"Nggak kelihatan, sih. Atau emang belum keliatan, ya?"

"Yaaahh... sia-sia, dong, ATM-ku jadi kinclong." Aku mendengkus. Entah mengapa, ingatanku kembali menjurus pada Keenan, mantan pacar yang dengan sadarnya mengirim surat undangan di grup WhatsApp SMA. Ada notes khusus pula: 'Buat mantanku, Fatrisa Zoya, datanglah saat akad sebagai saksi ya. Aku bakal terima kasih banget'... yang akhirnya notes itu jadi pasar kaget. Teman-teman saling ramai berbalas chat di grup menyoraki.

Ada yang ngasih dukungan aku.
Ada yang ngasih emot ngeledek, ngetawain.
Definisi jagain jodoh orang yang sesungguhnya.

Aku sedih bukan karena patah hatinya, tapi lebih ke 'Awas loe, ya, Keenan'

Calonnya, aku kenal. Kita bertiga dulu satu kelas saat SMA. Sudah dari dulu Aurel naksir Keenan. Tapi bagi Keenan, dia kayak buntelan kentut. Dulu badannya jumbo, dan bisa lah kalian bayangin kenapa bisa Keenan ngatain seperti itu.

Ternyata, lain dulu lain sekarang. Foto di undangan beda banget. Aurel sudah langsing, kulitnya putih, bahkan wajahnya jauh berbeda dengan jaman kita saat SMA. Iseng-iseng kupelototin dia di Instagram. Uang memang bisa merubah buntelan kentut jadi bidadari surga.

Gara-gara itu lah, tabunganku di ATM kinclong hitungan jam untuk sedot lemak dan perawatan wajah. Niat hati pengen balas dendam ke mantan dengan upgrade diri, tapi berubahnya enggak, miskin seketika-iya.

Oh My God, kejadian ini bikin ibu banyak nyalahin aku. Terbayang lagi, deh, ucapan ibu yang memaksaku berkenalan dengan anak teman arisannya. Melihat laki-laki saja sudah mati rasa, apalagi disuruh kenalan. Untung Om Hans mau menerimaku pulang di Kopi Kawan. Kalau tak, mungkin aku sebaiknya mati ketimpuk mesin espresso.

Sedang lelah-lelahnya meratapi nasib, tiba-tiba saja pria paruh baya itu muncul dari balik pintu gudang. Seperti biasa, penampilannya nyentrik: kaos bekas konser tahun 1998, celana pendek army, dan topi fedora yang terlalu percaya diri.

“Halo, guys!” Om Hans menyapa berat seperti efek suara radio rusak. “Aku mau ngomong sama kalian.”

Aku dan Vina menoleh bersamaan. Sementara Om Hans sudah berdiri tepat di depan kita.

“Kalian tahu, kan, gimana keadaan kafe sekarang? Sebenernya Om sudah kehabisan cara untuk mempertahankan. Sudah mencoba merombak gaya kafe, yang kata kalian, harus instagramable. Tapi, tetap saja tidak menarik para konsumen untuk singgah balik. Kalian tahu sendiri. Hanya beberapa saja yang penasaran, tapi gak pernah datang lagi."

"Trus, Om... apa kali ini Om Hans bakal nutup Kopi Kawan? Apa nggak sayang, Om, merintis sekian tahun lamanya harus tutup. Ini 'kan bisnis kenangan dengan almarhumah Tante Hera, Om. Tante di surga pasti sedih kalau ditutup, Om." Vina mulai mengeluarkan gaya melasnya, seperti ayam susah napas. Kata-kata yang selalu sama dilontarkan saat Om Hans mengajak diskusi terkait perkembangan kafe yang tak ada kembang-kembangnya. Kecuali kembang-kempis.

"Tentu saja tidak." Om Hans menimpali. "Tapi, aku sedang minta bantuan temanku yang sekarang kerja di manajemen bisnis. Dia ngirim seorang konsultan buat bantu naikin performa kafe.”

Aku mengernyit. “Konsultan?” Lalu saling pandang bersama Vina.

"Iya. Dalam beberapa bulan, ia akan ada di Kopi Kawan. Membantu kita merombak semuanya."

Kami hanya terdiam, sama-sama mengingat tentang name tag yang terkalung di dada pria itu, yang bertuliskan 'Management Consultant'

Vina spontan mengucap takbir sambil menajamkan mata. “Om... jangan bilang... orangnya itu,” serunya kemudian. Aku mulai menarik napas dalam-dalam.

Om Hans langsung mengalihkan pandangannya ke sosok yang ditunjuk Vina. Matanya mengernyit, seakan-akan juga tak tahu siapa sosok yang duduk di seberang. "Om kurang paham, sih... tapi, masa iya, teman Om tidak bilang dulu kalau mengirim konsultannya sekarang," ujarnya.

"Lah, dia ke sini udah sering, Om. Dia juga seorang konsultan managemen. Sepanjang hari dia duduk di situ. Seperti seorang detektif yang suka mengamati suasana kafe dari ujung ke ujung." Vina mencoba menjelaskan.

"Astaga, kok bisa-bisanya teman Om nggak ngenalin dulu konsultan yang akan dikirimnya," protesku.

"Iya, dia memang ngomong kalau konsultannya bakal ke sini sewaktu-waktu. Yang pasti katanya, dia suka lemon tea."

Aku dan Vina kompak menyahut, “naaahhh!”

Tanpa ba-bi-bu, Om Hans melangkah ke luar menuju pria dingin itu seraya berseru, "Halo, selamat siang. Pak Arion, ya?"
Keduanya lalu berjabat tangan.

Vina mendadak berdiri dari kursinya seperti habis disetrum kopi sachet tiga lapis. Wajahnya merah, matanya membesar, dan mulai menggoyangkan badan, seperti orang yang kaget dapat doorprize. Ia mulai menari menggila. Campuran antara K-Pop, poco-poco, dan ketindihan jin bahagia.

“Zoy! Zoy! Ini takdir!” serunya, memutar badan dan hampir menjatuhkan toples kue kering.

“Vin, jangan deket-deket grinder! Ntar nyangkut.” Aku mulai mengamankan teko susu dari goyangan Vina yang membabi buta. Bisa-bisanya Vina begitu girang, sementara hari-hari kita selanjutnya bakal jadi musibah nasional.

Di saat aku mulai kesal dengan tingkah gadis berbadan bontot itu, tiba-tiba Om Hans memanggil kami. Vina menghentikan atraksinya, bergegas ke luar. Sementara aku menyusul gontai di belakang.

"Ayo, kenalkan... ini rekan kerja kita sementara untuk beberapa bulan ke depan." Om Hans berseru, kemudian dilanjutkan dengan uluran tangan dari Vina. "Selamat bergabung di Kopi Kawan, Pak. Nama saya Lovina Anastasya. Biasa dipanggil Vina, atau lebih enaknya Love juga boleh." Mulut Vina mulai cekikikan di akhir.

Aku diam saja. Membuang pandang. Sepertinya ia menangkap wajah cuekku.

"Saya Arion Keandra Neal." Seusai melepas jabatan tangan Vina. Ia menyodorkan secarik kertas padaku. Kertas kecil yang tadinya kuselipkan di balik lemon tea-nya. "Panggil saya Arion. Bukan Airon, apalagi di tambah 'Man'. Saya bisa saja somasi, jika ini suatu penghinaan," lanjutnya datar.

Aku terhenyak. Sekilas kami beradu pandang. Kali ini ia tersenyum, namun sinis.

Siapa suruh punya nama susah dibaca. Apalagi baca tulisan sekecil itu di name tag-nya. Bukan menghina, tapi memang gak fokus baca. Umpatan demi umpatan terus bermunculan dalam hati.

Oke, jika robot lemon ini menantangku, akan kusiapkan tantangan balik. Kukira dia hanya orang yang membosankan. Namun ternyata, jauh lebih menyebalkan dari kelakuan mantan.

(Bersambung)
Diubah oleh shirazy02 16-07-2025 21:52
tiokyapcingAvatar border
kobimterbang675Avatar border
bukhoriganAvatar border
bukhorigan dan 2 lainnya memberi reputasi
3
230
4
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.1KAnggota
Tampilkan semua post
shirazy02Avatar border
TS
shirazy02
#4
Lemon Tea

Bab 4

kaskus-image

Pagi itu, matahari belum sempat menguap sempurna. Tapi, aku sudah berdiri di depan kafe dengan setengah terpanggang rasa malas. Baru juga kunci berputar satu kali di pintu, ada bayangan berdiri manis di depan teras. Seorang pria tengah tersenyum lebar saat mendapatiku. Ia berkemeja rapi, celana chino krem, dengan kacamata hitam yang entah buat gaya-gayaan atau buat nutupin belekan. Ia menyelempang tas kecil, dengan tangan membawa sebuah buku kecil dan bolpoin. Senyumnya benar-benar bikin eneg, seperti iklan pasta gigi yang over-budget.

“Selamat pagi!” katanya dengan nada semangat lima kali lipat dari tukang pos yang nemu amplop THR.

Aku menatapnya dengan curiga, campur setengah ngantuk.

“Saya Jimmy. Dikirim Pak Arion ke sini untuk bantu operasional kafe.” Ia berkata lagi, membuatku mengerjap dua kali.

Yang pertama karena silau, yang kedua karena kaget. Kulirik penampilam Jimmy dari atas ke bawah, balik lagi ke atas. Gila amat si Robot Lemon ngirimin tukang kredit ke mari.

“Langsung standby kayak mahasiswa ngejar dosen pembimbing, ya?” ledekku. Jimmy nyengir, senyumnya manis tapi bikin gatal. “Kalau gak rajin, nanti kalah saing.” Lalu ia membuka buku catatan kecil di tangannya. Sumpah, anak ini bawa buku catatan beneran! Siapa sih yang masih bawa buku catatan di era digital?

“Ehm... ini pasti Bu Zoya, ya?” katanya penuh keyakinan. “Di catatan saya, kalau ada wanita yang buka pintu kafe pertama kali, dia bernama Zoya.”

Aku langsung ngerem emosi. BU ZOYA? Ini bukan seminar parenting. “Zoya aja kaleeeee! Gak pake ‘Bu’! Ibu-ibu, emang kapan aku kimpoi sama bapakmu?!”

Jimmy ketawa kecil, tidak terguncang sedikit pun oleh semprotan sarkas level platinum milikku. “Ehm, maaf. Bagaimana kalau... ‘Kak’?” ujarnya, tetap membuntuti masuk seperti anak magang yang kelewat antusias.

Aku tak membalas. Hanya berjalan menuju wastafel. Sambil cuci muka, aku menatap cermin dan berkata dalam hati, "Ya Tuhan, aku butuh sabar sebotol, bukan segelas."

Tapi pas balik badan... aku langsung speechless.

Tanpa perlu disuruh, tanpa perlu pakai toa, si Jimmy udah mulai menyapu. Bukan sekadar gaya, ya. Ini nyapu serius. Bahkan bagian bawah rak tempat biasanya kucing liar pun malas lewat, dia sikat juga. Dia nyabet lap, bersihin meja, ganti galon, dan—yang paling bikin aku tersinggung secara spiritual—dia berhasil ngangkat debu di sela lemari yang bahkan aku dan Vina udah ikhlaskan jadi bagian sejarah kafe.

“Ini… inisiatif?” Aku memicingkan mata. Curiga ini manusia dikirim langsung dari surga kompetitor.

“Kebiasaan, Kak. Kalau lihat debu, tangan saya jadi gatal.”

Aku nyengir. “Dih. Kebiasaan juga ya, gak pernah lepas kacamata tiap hari. Atau emang kalau gak pake itu, muka kamu jadi... kayak salah pencet filter Instagram?”

Jimmy gak tersinggung. Malah langsung lepas kacamatanya dengan gaya dramatis, seperti Superman hendak berubah jadi... ya, Jimmy.

“Oh, maaf, Kak. Ini emang menutupi kelebihan saya. Kalau dilepas, bukan Jimmy lagi yang dilihat. Tapi... Chris Hemsworth.”

Buset. PD-nya setinggi utang negara.

Dan pada saat itulah... muncul suara mirip petir menyambar. “O-em-jiiiiiii!!”

Aku nyaris lempar gayung.

“Siapa ini? Pagi-pagi udah kayak sinar mentari. Bikin mata silau, bikin ati anget,” seru Vina sambil berjalan ke arah Jimmy dengan langkah-langkah centil yang kayaknya dipelajari dari TikTok tutorial jadi cewek Korea.

Jimmy menyambutnya dengan senyum manis khas anak muda yang belum paham bahwa dunia ini kejam. “Naaaah, ini pasti Vina. Saya Jimmy, pegawai baru.”

Mereka bersalaman. Tangan ketemu tangan. Senyum ketemu senyum. Sementara aku? Pengen banget ngelempar mereka berdua ama galon.

“Bentar. Kenapa dia gak kau panggil ‘ibu’? Badannya udah pantes disebut ibu-ibu. Kenapa cuma aku yang tadi kau sebut Bu Zoya?!”

Sebelum Jimmy sempat menjawab, tiba-tiba suara dari belakang menusuk udara seperti lemparan sendok ke panci kosong.

“Karena dia belajar dari pengalaman.”

Manusia Lemon muncul. Arion. Seperti biasa, masuk lewat pintu belakang, seolah dia pemain rahasia dalam sinetron yang muncul pas iklan udah habis.

“Jimmy tidak akan mengulangi kesalahan yang sama,” lanjutnya dengan gaya kayak dosen killer. “Satu pengalaman akan dijadikannya pelajaran. Jika pagi tadi dia salah memanggil Anda, maka dia tak akan mengulanginya untuk orang lain.”

Ia berjalan perlahan, berhenti tepat di sebelahku. Aromanya seperti perpaduan sabun mandi mahal dan... masalah pribadi.

“Kau datang dari tadi?” tanyaku. “Menguping kita?”

Ia menatapku seperti detektif yang baru saja menemukan bukti pembunuhan.

“Menurut Anda?”

Aku mulai kesal. Jidatku berkedut seperti sinyal WiFi lemah.

“Jangan pernah lewat pintu belakang lagi! Semua yang datang, selalu lewat depan. Bahkan yang punya kafe saja datangnya lewat depan. Paham, Pak Lemon?”

Arion tak berkedip. “Di sini, hanya saya yang berhak mengatur semuanya. Pak Hans sudah serah tugas pada saya.”

Aku hampir batuk darah. “Maksudnya?”

“Artinya, Anda hanya perlu menuruti apa yang saya perintahkan. Jika tidak mau diatur... silakan pergi.”

Kami bertatapan. Aku, si barista sarkas. Dia, si konsultan tanpa dosa. Tegang? Iya. Tapi juga... panas. Dalam berbagai arti.

Vina buru-buru menarik lenganku. “Zoy, diem. Please!” Ia menggeser posisi lebih jauh dari dua pria tanpa dosa itu. Karena kesal dan demi menjaga harga diri (yang sisa 12% saja), aku menghentakkan kaki dan naik ke lantai atas. Kalau ini drama Korea, sekarang saatnya backsound mellow muncul. Tapi ini Kopi Kawan, jadi yang terdengar cuma bunyi galon blubuk-blubuk doang.

Kutatap ruangan bawah dari atas tangga. Jimmy masih membersihkan meja. Vina masih senyum-senyum sendiri sambil bantuin. Dan Arion... sedang melihat dokumen. Mereka tak menggubrisku sama sekali.

Ini perang.

Dan aku, Zoya sang barista sarkastik, tidak akan kalah hanya karena seseorang datang membawa clipboard dan lesung pipi.

Aku menuruni tangga lagi. Dengan penuh percaya diri, dengan tatapan begitu elegan (mungkin hanya bagiku). Saat menuju meja bar, Vina dan Jimmy saling memandang. Kuangkat dagu tinggi, sebagai pernyataan 'berani melawan perang'.

Cling!

Pelanggan pertama datang.

Jimmy terkesiap menyambut dengan penuh senyum. Namun, aku bergegas lebih dulu menghampiri sambil menunjukkan buku menu. "Selamat datang di Kopi Kawan, satu-satunya kafe yang seramah kawan, dan lebih setia daripada mantan. Mau cari rasa yang pahit tapi gak nyakitin hati?" Zoya menuntun Bang Amri, tukang ojek online yang sebenarnya udah sering mampir.

"Silakan duduk di sini, Bang! Tempat paling cocok buat rileks—dekat AC yang sejuknya kayak di pantai, plus ada pemandangan hijau ala pegunungan."
Aku mempersilakan Bang Amri duduk di kursi favorit—tepat di depan AC dan sebelah taman kecil.
Meski nyatanya, AC-nya lebih mirip angin sepoi-sepoi, dan tamannya... yah, sudah lebih mirip lahan tandus. Daun-daunnya tinggal kenangan karena lupa disiram berbulan-bulan.

Arion menatapku aneh. Sementara pegawai bawaannya, terlihat berjalan ke arahku sambil membawa kotak tisu. Cepat-cepat kuambil kotak tisu itu darinya, lalu meletakkannya di meja Bang Amri. "Sebuah sentuhan lembut untuk menghapus dosa-dosa yang tak sengaja terbentuk," lanjutku lagi, yang kemudian dibalas dengan tawa kencang dari Vina di ujung sana.

Bang Amri tampak bingung. "Pertama kali ke sini ya, Mas? Wajahnya kayak baru bangun dari mimpi buruk ekonomi!" Aku bergaya sok akrab, padahal aslinya bosen banget keseringan ngeliat.

"Mbak, seperti biasa...." Belum sempat Bang Amri melanjutkan omongannya yang sangat mudah kutebak sendiri, aku cepat-cepat membuka buku menu sambil menyahut, "ini cocok untuk menghapus mimpi buruk perekonomian yang sedang tidak stabil. Namanya kobusta, kopi penebus air mata. Gopek doang, tanpa menambah rasa sedih."

"Iya. Emang itu, Mbak."

"Noted. Sambil menunggu, aku puterin lagu rock, ya. Biar Mas-nya tau, hidup itu tak selalu untuk diratapi, dibikin gempa juga asyik."

Aku melangkah riang dengan mata menatap seluruh penghuni kafe, tak lupa melempar senyum sinis ala pebisnis yang gak mau kalah saing.

"Ngapain ikutan sinisin aku, Zoy?" Suara Vina melas saat aku berada di meja bar. "Karena kau lupa daratan," jawabku.

"Kamu yang lupa kali, Zoy. Ini kita masih ada di darat."

Aku mendengkus sambil menatap gadis 160 cm itu. "Kamu ada di pihak siapa, sih? Kenapa akrab banget sama si jangkung itu."

"Lah, 'kan yang jadi musuh kamu si Arion. Bukan Jimmy."

"Sama aja, kocak. Dia dibawa Arion 'kan? Sama aja!" Aku berbalik lagi sembari meletakkan satu cup kosong. Tiba-tiba suara pintu kafe berbunyi. Kupikir ada pelanggan baru datang, ternyata si tukang ojek yang barusan pergi. "Lho, he?" Aku terperangah menatapnya. Dari ujung sana, Jimmy berseru, "Silakan datang kembali, ya, Kak!"

"Vin...."

"Iya, Zoy."

"Kobustanya siapa yang buat?"

"Jimmy, Zoy."

"Bagaimana dia bisa tau yang dipesan itu Kobusta? Kamu yang kasih tahu?"

"Dia ngamatin gerak bibir kamu mungkin. Tadi dia nyatat 'kobusta' di buku catatannya."

"Trus... kok bisa tahu racikannya kobusta?"

"Liat catatannya, Zoy. Arion sudah banyak kasih tau dia. Hampir semua tentang kafe ia sudah menguasai, deh, kayaknya."

Aku terdiam sejenak. Cepat tanggap rupanya si jangkung ini. Kalau yang satu Robot Lemon. Satunya lagi AI Barista.

******

Sore yang mengantuk di Kopi Kawan. Magrib belum berkumandang, tapi rasanya ingin kututup Kopi Kawan sekarang juga.

Hari-hari berikutnya nampak lebih menyebalkan.

Virus Jimmy mulai cepat menyebar. Sengaja ia beramah-tamah dengan anak-anak SMP yang mampir untuk berfoto di pelataran kafe. Dulu mereka hanya singgah sebentar, lalu pergi. Sekarang sudah berani masuk ke kafe dan memesan minuman-minuman receh. Seperti kecanduan, setiap hari mereka datang dan ingin Jimmy yang melayani. Lama-lama, mereka membawa pasukan bergantian tapi satu seragam. Kebanyakan di antaranya centil dan bangga banget jadi korban ghosting si jangkung.

Vina berasa jadi dekorasi. Diem saja gak ada kerjaan selain ngupil di pojokan dan nonton Drakor diam-diam. Sedang aku mulai bete karena merasa tersingkir.

"Kamu nggak ada kerjaan kah, selain diam begitu? Gelas-gelas banyak yang kotor." Arion tiba-tiba muncul dari belakang.

"Atau kamu... sedang galau karena memikirkan besok?" lanjutnya lagi.

"Besok? Emang kenapa besok?" Aku jadi sedikit panik mendengarnya. Jangan-jangan manusia lemon ini sedang mempersiapkan suatu jebakan untukku.

"Lupa, ya? Bukannya mantanmu besok menikah? Bukannya kamu diminta jadi saksi."

Aku mendadak kaku, seperti sedang disuruh menghafal rumus fisika dadakan.

Kenapa Arion bisa ingat? Bahkan aku yang adalah korbannya, malah lupa sama sekali. Bebanku sudah kubuang bersama sim card yang penuh kenangan.

“Ngapain juga datang untuk menjadi saksi? Yang di sana nangis haru, di sini nangis kejang.”

“Justru!” Arion berdiri tegak, nadanya berubah jadi seperti motivator abal-abal. “Kamu harus datang, untuk menunjukkan bahwa kamu bukan perempuan biasa. Kamu wanita bekas!”

"Heehh?"

"Maaf, berkelas maksud saya."

Aku diam sejenak. Menimbang perkataan Arion sambil berpikir gajian kapan. Ah, ternyata masih dekat tanggal kondangan daripada tanggal terima uang.

Lantas kupandang wajahku ke arah cermin kecil di samping bar. Ini muka gak jelek-jelek amat, tapi kok kayak lebih cocok jadi warga penerima bantuan dari pemerintah. Lagi-lagi aku teringat omongan Arion barusan.

"Berkelas... apanya yang berkelas? Calonnya keturunan darah biru. Mantannya keturunan darah tinggi. Beda kelas lah!"

Arion tersenyum aneh, sembari merapikan kerah kemejanya. “Kamu hanya butuh teman biar kelihatan berkelas. Aku akan menemanimu. Sebagai plus one. Pendamping elegan. Tameng sosial. Kamu tinggal tampil cantik dan pegang lenganku erat-erat.”

Mataku sontak terasa bulat sempurna mendengarnya. “Kamu mau ikut ke nikahan mereka? Mau buka booth konsultasi bisnis di sana?”

“Bukan. Aku cuma mau kamu lebih berani saja soal ini, seperti kebiasaanmu yang sulit dirubah. Sifatmu penantang, Zoya. Kenapa malah kikuk hanya gara-gara hal sepele ini."

“Sepele bagi orang lain. Tidak berlaku pada si pelaku.”

“Ini bukan masalah sepele tidaknya. Ini strategi. Kita tunjukkan bahwa kamu bukan korban... tapi pemenang!”

Lagi-lagi aku melirik ke arah cermin. Rambut begini acak-acakan. Ditambah celemek yang ada noda kopi dan tulisan “Team Zoya, No Cry.” Pemenang macam apa ini?

Tapi entah kenapa, ide itu mulai masuk akal. Kalau pun aku gak bisa pamer kesuksesan, setidaknya bisa pamer cowok keren, putih, rapi, yang aroma parfumnya kayak mahal—meskipun isinya mungkin cuma body mist yang dilabeli ulang.

😌😌😌
Diubah oleh shirazy02 16-07-2025 21:46
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.