Kaskus

Story

shirazy02Avatar border
TS
shirazy02
Lemon Tea
Lemon Tea

Sinopsis:


Zoya (27 tahun), seorang barista super sarkastik yang hobby menyindir pelanggan pakai tulisan di cup kopi, sudah kehilangan semangat hidup: mantannya menikah minggu depan setelah sebelumnya ia disuruh menanti selama empat tahun, ibunya menyalahkannya dan mulai menjodohkan Zoya dengan anak teman arisan. Mirisnya lagi, tabungan Zoya yang tidak seberapa, habis dalam hitungan jam gara-gara perawatan klinik yang sama sekali tidak membawa perubahan. Hari-harinya jadi seambyar cappucino yang gagal dibikin foam art. Ia memilih tak pulang ke rumah. Memohon pada Om Hans, bos-nya, untuk bisa tidur dan bergelandangan manja di kafe seumur hidup.

Suatu hari, ia kedatangan Arion (25 tahun), pelanggan aneh yang setiap hari datang ke kafe dan minum lemon tea. Pesanannya selalu sama: lemon tea, tanpa es, tanpa gula. Zoya sangat penasaran dengan sosok satu ini. Siapa sih, yang ke kafe lucu-lucu cuma buat minum lemon tea yang lebih cocok untuk orang demam?

Hidupnya yang sudah cukup drama berubah makin absurd ketika tahu bahwa pria itu adalah seorang konsultan manajemen, yang datang untuk “merapikan sistem kerja kafe.” Sikap dingin dan perfeksionisnya, membuat gadis itu merasa tertantang sekaligus ingin melempar gelas. Arion benci ketidakteraturan. Sementara Zoya adalah definisi dari kekacauan yang hidup. Dua kutub yang seharusnya tak bertemu… tapi terus bertabrakan di balik mesin espresso.

Di antara kejadian-kejadian menyebalkan, masa lalu Zoya yang ia kubur dengan whipped cream, malah ikut naik ke permukaan, membawa kabar barunya jika ia tak jadi menikah.

Apakah Zoya bisa benar-benar melupakan masa lalunya? Atau kah dia bisa membuka hati yang baru? Atau ia lebih memilih menjalani hidup sendiri?

----
Spoiler for .:



Lemon Tea
Bab 1



Kopi Kawan, tempatku mengabdikan hidup, hati, dan kadang-kadang rasa frustasi, adalah kafe kecil bergaya vintage yang berada di sudut jalan Kota Mojokerto. Dulunya ramai. Dulunya hangat. Dulunya punya lima karyawan yang kompak dan sering karaoke di dapur pakai sendok. Sekarang? Tinggal aku dan Vina. Dan satu kipas angin yang bunyinya kayak suara hewan mitologi kehausan.

Semenjak pandemi dan datangnya tren kopi-kopi viral yang disajikan pakai mangkuk keramik Korea dan background neon pink, Kopi Kawan mulai ditinggal. Pelanggan setianya sekarang hanya beberapa: mas-mas ojek online yang pesan untuk dirinya sendiri, penjual angkringan sebelah yang mungkin terpaksa beli karena sering minta air se-timba, dan... baru-baru ini ada satu pria misterius.

Dia sudah tiga kali datang. Dan setiap kali itu juga, pesanannya selalu sama: lemon tea panas, tanpa gula, tanpa es, dan tanpa ekspresi di wajahnya.

Namaku Zoya. Umur 27 tahun. Barista di kafe kecil ini sejak tiga tahun lalu, setelah gagal total jadi editor buku karena terlalu sering ngoreksi isi hati sendiri. Motto hidupku sederhana: kalau bisa disindir, kenapa harus dipendam?

Dan pagi ini, seperti biasa, aku siap meladeni para pelanggan dengan kopi dan—kalau sempat—komentar nyinyir penuh kasih sayang.

Di balik meja bar, aku berdiri tengah menyusun gelas sambil menggumam lagu, yang bahkan aku sendiri nggak tahu liriknya. Seragam barista warna moca agak kusut—bukan karena lupa disetrika, tapi karena aku percaya "kerutan adalah bukti perjuangan." Atau karena aku bangun kesiangan. Dua hal itu kadang tak bisa dibedakan.

Tiba-tiba, pintu kaca kafe berbunyi. Masuklah pelanggan pertama kami.

Seorang perempuan muda, sepertinya belum pernah ke sini. Ia pakai tote bag bertuliskan “I Need Coffee More Than Therapy”, dengan riasan mata yang seolah menjerit, “aku belum move on tapi pura-pura bahagia.” Ah, parah!

"Selamat pagi, Mbak. Mau diseduh atau dipeluk hari ini?" tanyaku sambil tersenyum ramah-ramah sarkas.

“Ehm…" Gadis itu diam sejenak, memandang buku menu yang ada di hadapan. "...aku latte oat milk, ya. Tapi gulanya setengah. Tapi foamy-nya banyak, dan kopinya jangan terlalu pahit," lanjutnya. Sementara aku tersendat menulis karena pendengaran nggak fokus.

“Baik, Mbak. Jadi... kita pesan satu latte… dengan ekspektasi rumit?”

Dia ketawa. “Iya, sorry-sorry. Lagi kacau banget nih hari ini.”

“Tenang, Mbak. Di sini, kita nggak hanya seduh kopi. Kita juga seduh perasaan.”
Aku mulai menuliskan pesan di cup-nya:

>“Semoga harimu lebih manis dari cowok yang nggak jadi milikmu.”

Dia senyum malu-malu. “Aduh, itu dalem banget.”

“Dari lubuk hati barista yang lelah hidup, Mbak," sahutku datar.

---

Baru saja si latte rumit keluar dengan hati ringan, pintu kafe berbunyi lagi.

Ternyata pria itu lagi!

Dengan style yang sama. Rapi. Tegas. Jelas bukan tipe yang nyasar ke kafe kecil penuh quote nyinyir seperti Kopi Kawan. Kemejanya kali ini warna cerah, dengan celananya hitam pekat, dan jam tangan yang seperti bisa mengatur waktu hidup orang lain. Wajahnya masih sama, kaku. Seperti lemari file kantor pajak. Dia berjalan ke arahku. Tanpa senyum. Tanpa sapaan.

Kutatap jam yang menempel di dinding bagian tengah kafe. Selalu tepat jam 09.00 WIB. Langkahnya konsisten, dengan sepatu yang selalu bersih.

Di balik mesin kopi, kusaksikan langkahnya seperti robot terprogram. Mata kami bertemu sebentar. Tatapannya biasa saja. Sangat membosankan.

“Pelanggan lemon tea datang lagi." Lirih aku berkata pada Vina yang baru saja lewat. Vina yang hendak mengisi kopi bubuk, langsung berbinar. “Zoy, sumpah deh, aku nggak ngerti kenapa kamu bisa sesantai itu ngeliat dia. Dia itu kayak... kayak arsitek dari web drama Korea. Cool banget nggak,sih.”

Aku mendesah. “Vin, kalau kamu jatuh cinta sama pelanggan yang sukanya cuma pesan lemon tea, hidup kamu akan berakhir dengan vitamin C dan kekecewaan.”

Dia mencubit lenganku. “Kamu tuh nggak peka. Bisa aja itu gayanya pendekatan dia ke kita.”

Aku tersenyum setengah hati. “Oke, pendekatan pakai air jeruk. Romantis banget.”

"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi si Keenan! Buktinya, tuh, langsung dikasih pengganti sama Tuhan yang lebih bening!" Vina tersenyum lebar menatap pria itu. Aku mendengkus masa bodoh. "Nggak ada hubungannya sama Keenan. Sudah, jangan sebut nama itu lagi!"

Laki-laki itu tampaknya menunggu di meja bar. Kutarik napas lebih dulu. Kemudian melangkah ke luar dan menyambutnya dengan senyum profesional. "Selamat pagi!" Mencoba seramah mungkin meskipun malas sekali berhadapan dengan laki-laki.

“Satu lemon tea. No sugar, no ice, no soul,” serunya. Kalimat yang sama. Nada yang sama. Seperti direkam dan diulang.

“Mengerti, Pak. Tapi, kami hanya jual minuman, bukan racikan untuk patah hati,” balasku sambil menekan tombol pemanas air. Masih dengan senyum terpasang semanis mungkin.

Dia mengangkat alis. “Saya serius.”

“Saya juga. Tapi kalau anda senyum sedikit seperti saya, itu akan terasa lebih manis,” ujarku, terus memaksakan senyum padanya.

Dia menatap datar dan mencebik, “saya alergi senyum palsu.”

Ah, sudahlah! Apapun perkataannya, aku berusaha memberi senyum pasti- khas ramah seorang barista. Biar hati asalnya remuk, yang penting dipandang pelanggan baik-baik saja.

Asli, pria yang sangat membosankan. Mungkin diciptakan dari sari lemon murni. Asem kecutnya terasa sekali.

Sejenak kutatap name tag yang terkalung di dadanya, sebelum akhirnya ia sadar, lalu melepaskan name tag-nya. Aneh sekali. Kenapa seperti takut ketahuan?
Baru kali ini aku membaca namanya setelah berhari-hari dia gentayangan di Kopi Kawan. Sambil menyiapkan tehnya, aku menulis di kertas, lalu menyelipkannya di cup: “Cocok diminum sambil evaluasi keputusan hidup, Pak Airon Man.”

Dia membaca. Sejenak diam. Lalu menyeruput tehnya. Dan... sudut bibirnya naik. Sedikit. Hampir tidak terlihat. Tapi aku menangkapnya.

Vina menyenggolku dari belakang. “Dia senyum, Zoy. Demi kopi sachet, dia senyum!”

“Cuma refleks otot wajah. Bukan buat aku,” jawabku sok tenang.

---

Saat kafe mulai lengang, aku dan Vina saling bersandar di kursi malas dekat kasir.

"Perut aku masih kek orang hamil gak, sih?" Pelan aku mengajak Vina ngobrol.

"Tenang aja. Masih berupa benjolan dikit. Daripada perut aku, malah kayak orang brojol." Vina cekikikan sembari menatap layar gawainya.

"Tapi, ada perubahan gak sih, sedot lemaknya?"

"Nggak kelihatan, sih. Atau emang belum keliatan, ya?"

"Yaaahh... sia-sia, dong, ATM-ku jadi kinclong." Aku mendengkus. Entah mengapa, ingatanku kembali menjurus pada Keenan, mantan pacar yang dengan sadarnya mengirim surat undangan di grup WhatsApp SMA. Ada notes khusus pula: 'Buat mantanku, Fatrisa Zoya, datanglah saat akad sebagai saksi ya. Aku bakal terima kasih banget'... yang akhirnya notes itu jadi pasar kaget. Teman-teman saling ramai berbalas chat di grup menyoraki.

Ada yang ngasih dukungan aku.
Ada yang ngasih emot ngeledek, ngetawain.
Definisi jagain jodoh orang yang sesungguhnya.

Aku sedih bukan karena patah hatinya, tapi lebih ke 'Awas loe, ya, Keenan'

Calonnya, aku kenal. Kita bertiga dulu satu kelas saat SMA. Sudah dari dulu Aurel naksir Keenan. Tapi bagi Keenan, dia kayak buntelan kentut. Dulu badannya jumbo, dan bisa lah kalian bayangin kenapa bisa Keenan ngatain seperti itu.

Ternyata, lain dulu lain sekarang. Foto di undangan beda banget. Aurel sudah langsing, kulitnya putih, bahkan wajahnya jauh berbeda dengan jaman kita saat SMA. Iseng-iseng kupelototin dia di Instagram. Uang memang bisa merubah buntelan kentut jadi bidadari surga.

Gara-gara itu lah, tabunganku di ATM kinclong hitungan jam untuk sedot lemak dan perawatan wajah. Niat hati pengen balas dendam ke mantan dengan upgrade diri, tapi berubahnya enggak, miskin seketika-iya.

Oh My God, kejadian ini bikin ibu banyak nyalahin aku. Terbayang lagi, deh, ucapan ibu yang memaksaku berkenalan dengan anak teman arisannya. Melihat laki-laki saja sudah mati rasa, apalagi disuruh kenalan. Untung Om Hans mau menerimaku pulang di Kopi Kawan. Kalau tak, mungkin aku sebaiknya mati ketimpuk mesin espresso.

Sedang lelah-lelahnya meratapi nasib, tiba-tiba saja pria paruh baya itu muncul dari balik pintu gudang. Seperti biasa, penampilannya nyentrik: kaos bekas konser tahun 1998, celana pendek army, dan topi fedora yang terlalu percaya diri.

“Halo, guys!” Om Hans menyapa berat seperti efek suara radio rusak. “Aku mau ngomong sama kalian.”

Aku dan Vina menoleh bersamaan. Sementara Om Hans sudah berdiri tepat di depan kita.

“Kalian tahu, kan, gimana keadaan kafe sekarang? Sebenernya Om sudah kehabisan cara untuk mempertahankan. Sudah mencoba merombak gaya kafe, yang kata kalian, harus instagramable. Tapi, tetap saja tidak menarik para konsumen untuk singgah balik. Kalian tahu sendiri. Hanya beberapa saja yang penasaran, tapi gak pernah datang lagi."

"Trus, Om... apa kali ini Om Hans bakal nutup Kopi Kawan? Apa nggak sayang, Om, merintis sekian tahun lamanya harus tutup. Ini 'kan bisnis kenangan dengan almarhumah Tante Hera, Om. Tante di surga pasti sedih kalau ditutup, Om." Vina mulai mengeluarkan gaya melasnya, seperti ayam susah napas. Kata-kata yang selalu sama dilontarkan saat Om Hans mengajak diskusi terkait perkembangan kafe yang tak ada kembang-kembangnya. Kecuali kembang-kempis.

"Tentu saja tidak." Om Hans menimpali. "Tapi, aku sedang minta bantuan temanku yang sekarang kerja di manajemen bisnis. Dia ngirim seorang konsultan buat bantu naikin performa kafe.”

Aku mengernyit. “Konsultan?” Lalu saling pandang bersama Vina.

"Iya. Dalam beberapa bulan, ia akan ada di Kopi Kawan. Membantu kita merombak semuanya."

Kami hanya terdiam, sama-sama mengingat tentang name tag yang terkalung di dada pria itu, yang bertuliskan 'Management Consultant'

Vina spontan mengucap takbir sambil menajamkan mata. “Om... jangan bilang... orangnya itu,” serunya kemudian. Aku mulai menarik napas dalam-dalam.

Om Hans langsung mengalihkan pandangannya ke sosok yang ditunjuk Vina. Matanya mengernyit, seakan-akan juga tak tahu siapa sosok yang duduk di seberang. "Om kurang paham, sih... tapi, masa iya, teman Om tidak bilang dulu kalau mengirim konsultannya sekarang," ujarnya.

"Lah, dia ke sini udah sering, Om. Dia juga seorang konsultan managemen. Sepanjang hari dia duduk di situ. Seperti seorang detektif yang suka mengamati suasana kafe dari ujung ke ujung." Vina mencoba menjelaskan.

"Astaga, kok bisa-bisanya teman Om nggak ngenalin dulu konsultan yang akan dikirimnya," protesku.

"Iya, dia memang ngomong kalau konsultannya bakal ke sini sewaktu-waktu. Yang pasti katanya, dia suka lemon tea."

Aku dan Vina kompak menyahut, “naaahhh!”

Tanpa ba-bi-bu, Om Hans melangkah ke luar menuju pria dingin itu seraya berseru, "Halo, selamat siang. Pak Arion, ya?"
Keduanya lalu berjabat tangan.

Vina mendadak berdiri dari kursinya seperti habis disetrum kopi sachet tiga lapis. Wajahnya merah, matanya membesar, dan mulai menggoyangkan badan, seperti orang yang kaget dapat doorprize. Ia mulai menari menggila. Campuran antara K-Pop, poco-poco, dan ketindihan jin bahagia.

“Zoy! Zoy! Ini takdir!” serunya, memutar badan dan hampir menjatuhkan toples kue kering.

“Vin, jangan deket-deket grinder! Ntar nyangkut.” Aku mulai mengamankan teko susu dari goyangan Vina yang membabi buta. Bisa-bisanya Vina begitu girang, sementara hari-hari kita selanjutnya bakal jadi musibah nasional.

Di saat aku mulai kesal dengan tingkah gadis berbadan bontot itu, tiba-tiba Om Hans memanggil kami. Vina menghentikan atraksinya, bergegas ke luar. Sementara aku menyusul gontai di belakang.

"Ayo, kenalkan... ini rekan kerja kita sementara untuk beberapa bulan ke depan." Om Hans berseru, kemudian dilanjutkan dengan uluran tangan dari Vina. "Selamat bergabung di Kopi Kawan, Pak. Nama saya Lovina Anastasya. Biasa dipanggil Vina, atau lebih enaknya Love juga boleh." Mulut Vina mulai cekikikan di akhir.

Aku diam saja. Membuang pandang. Sepertinya ia menangkap wajah cuekku.

"Saya Arion Keandra Neal." Seusai melepas jabatan tangan Vina. Ia menyodorkan secarik kertas padaku. Kertas kecil yang tadinya kuselipkan di balik lemon tea-nya. "Panggil saya Arion. Bukan Airon, apalagi di tambah 'Man'. Saya bisa saja somasi, jika ini suatu penghinaan," lanjutnya datar.

Aku terhenyak. Sekilas kami beradu pandang. Kali ini ia tersenyum, namun sinis.

Siapa suruh punya nama susah dibaca. Apalagi baca tulisan sekecil itu di name tag-nya. Bukan menghina, tapi memang gak fokus baca. Umpatan demi umpatan terus bermunculan dalam hati.

Oke, jika robot lemon ini menantangku, akan kusiapkan tantangan balik. Kukira dia hanya orang yang membosankan. Namun ternyata, jauh lebih menyebalkan dari kelakuan mantan.

(Bersambung)
Diubah oleh shirazy02 16-07-2025 21:52
tiokyapcingAvatar border
kobimterbang675Avatar border
bukhoriganAvatar border
bukhorigan dan 2 lainnya memberi reputasi
3
221
4
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
shirazy02Avatar border
TS
shirazy02
#2
Lemon Tea
Bab 3

kaskus-image

Aku berdiri di atas kursi kayu dengan tangan menjulur. Bukan bergaya ala spiderman, tapi repot membersihkan sarang laba-laba di sudut langit kafe. Sekilas kulihat, muka Vina mirip lemon. Masam, seperti percintaan yang gak ada manis-manisnya. Rambut dikuncir asal, dan mulutnya komat-kamit menyumpahi debu-debu yang tak tahu diri.

“Bener-bener pengen pensiun dini rasanya." Aku berseru sambil menuruni tangga lipat.

“Udah lama kita gak kayak gini ya, Zoy. Kemaren-kemaren, hidup kita tenang dan damai."

"Lagian, udah bener yang kerja kita berdua aja. Ngapain pula Om Hans datengin tuh manusia lemon. Padahal tiap hari kita udah bantu beli minuman kafe biar ada pemasukan."

"He-eh, malah Om Hans jadi lebih sering ke kafe lagi. Nggak pulang-pulang juga. Gak bisa ngeliat drakor, deh,” balas Vina ketus.

Aku menghempas tubuh ke sofa, menarik napas lelah bersama sejuta harap yang kayaknya gak bakal sampai. Dengan celemek penuh noda kopi dan rambut keringat menempel di pelipis, Vina tampak serius menyikat sudut-sudut lantai yang bahkan pelanggan pun mungkin saja tak pernah lihat.

“Eh, ini laci kasir kok banyak remah keripik, ya? Ada yang sempat buka warung snack di sini tanpa laporan?” tanya Vina sambil mengangkat alis.

“Itu sisa tragedi malam minggu lalu. Waktu kamu nangis karena nonton drakor. Ingat gak, kamu nyelipin keripik di situ sambil bilang, ‘biar kalau sedih bisa ngemil tanpa bangun dari kursi kasir’.”

Vina pura-pura tak dengar. Tapi pipinya memerah. “Eh, itu saran yang tepat, kan?”

“Saran tepat bagi orang males,” sahutku sambil membuka laci freezer.

“Ini siapa yang taruh sendok di freezer?”

“Om Hans. Katanya buat eksperimen. Tapi kayaknya dia lupa eksperimennya apa.”

Kami berdua saling pandang, lalu menghela napas bersamaan.

Langkah Om Hans terdengar menuruni tangga. Aku dan Vina langsung terksiap, bergaya sok sibuk.

"Wah, kali ini Kopi Kawan kelihatan fresh. Lebih hidup." Pria paruh baya sebesar gapura itu memuji kinerja kami.

"Kopi Kawan memang bukan tempat paling modern, atau paling bersih. Tapi tangan-tangan kita yang membuatnya tetap hidup, Om. Walau penuh drama, tisu tumpah, dan kadang... krimer yang salah tuang." Tegas aku menolak menyetujui ungkapan Om Hans. Biarpun pemasukan jarang, tapi coba kalau kita nggak kerja, pasti mangkrak usahanya, sebab si Bos gagal menyadari kesalahan apa yang membuat kafenya sepi. Salah satunya mungkin, dari doa para mantan barista yang kesal karena gaji yang gak seberapa, tapi suka telat dibayar.

Beda hal dengan gadis gemoy yang umurnya selisih lebih muda setahun dariku itu. Vina sebenarnya gak butuh pekerjaan banget. Bapak-ibunya tajir melintir. Mungkin dengan bengong di rumah saja dia sudah mampu beli apapun yang di-mau. Dan mana mungkin ia kepikiran gaji telat dibayar. Ia bahkan tak pernah mengharap tanggal berjalan cepat seperti aku yang haus banget gajian.

"Pak Arion hebat, ya... Om gak pernah kepikiran seribet ini ternyata langkah mengembangkan strategi bisnis." Om Hans membuka lembar demi lembar kertas di meja bar. Ingin sekali kujawab omomgan Om Hans, namun batal saat Arion muncul dari pintu belakang kafe, lengkap dengan kemeja yang terlalu disetrika dan clipboard baru—mungkin dia punya langganan toko alat tulis dan sedang memanfaatkan promo "Beli 2, Dapat Hak Mengatur Orang".

Kalau pagi sebelumnya hidupku terasa seperti sinetron dengan backsound EDM galau, maka pagi ini... levelnya naik. Bukan sinetron lagi. Tapi variety show.

"Selamat pagi," sapanya.

Aku pura-pura gak denger. Hanya Om Hans dan Vina yang kompak menjawab sapaan manusia lemon itu.

"Sudah sarapan, Pak Arion? Mau dibuatkan sarapan dulu?" Om Hans mempersilakannya duduk di sofa sebelah ujung. Mata itu sekilas menatapku, yang akhirnya membuatku melepas pandang. "Sumpah, Zoy. Arion memang nyebelin, tapi dia cakep bangeeeett. Duh!" Vina lirih berkomentar.

"Jangan ketinggian memuji! Spek seperti dia tak pernah mengharapkan cewek modelan kayak kita, Vin. Terlalu maksain baper, sakit hati sendiri tau rasa."

"Tapi beneran 'kan, pagi ini style dia keren banget. Mirip oppa."

"Duh, kah!" Hampir kesal aku melihat gadis satu ini.

Obrolan kami terputus saat Om Hans memanggil. Lantas, kita berdua langsung menghampiri.

Arion duduk dengan pose terlalu rapi, tangan di atas lutut, clipboard di pangkuan, dan wajah yang… entah kenapa bikin aku pengen nyiram dia pakai air pel. Bukan karena nyebelinnya, tapi karena wajahnya terlalu percaya diri, seperti orang yang baru menyelesaikan misi penyelamatan bumi dari krisis keuangan global.

“Jadi,” Arion memulai, suara tenangnya seperti backsound iklan suplemen otak, “saya pernah menangani berbagai klien—start up kopi kekinian sampai pabrik sandal refleksi.”

Aku menyender ke rak bumbu, mencoba mengalihkan perhatian ke sachet gula yang salah susun. Tapi mataku tetap mengawasi. Vina, dengan penuh antusias, duduk bersila di karpet, ekspresinya kayak anak TK yang baru pertama kali diajak ke kebun binatang.

“Waktu itu,” lanjut Arion, “saya pernah dikirim untuk bantu bisnis barbershop yang pelanggan loyalnya cuma satu—bapaknya pemilik.”

Aku nyaris tersedak tawa. Tapi kupendam di kerongkongan.

“Masalahnya, setiap minggu si bapak potong rambut. Padahal rambutnya udah kayak landasan pesawat. Gak tumbuh-tumbuh,” ucap Arion sambil menahan senyum.

Vina terkekeh geli. “Terus, gimana cara anda bantu?”

“Saya ajarin mereka buka kelas self-love dan meditasi di ruang tunggu. Ternyata yang butuh cukur bukan rambutnya, tapi emosi mereka.”

Aku tak tahan, akhirnya ikut nyengir juga. Tapi buru-buru tunduk, pura-pura mengelap meja yang sudah kering dari lima menit lalu.

Arion bangkit berdiri, mulai berjalan keliling kafe dengan gaya ala-ala detektif Sherlock Holmes habis pensiun dini. “Nah, kafe ini juga butuh perubahan mindset. Bukan cuma bersih-bersih. Tapi juga konsep. Suasana. Identitas. Branding. Misalnya, aroma khas…”

Ia mencium udara, alisnya berkerut. “Hmm. Ini wangi apa ya? Kayak kopi… campur pembersih lantai.”

“Itu karena kopi tumpah dan belum sempat dilap,” jawabku datar.

“Dan krimer-nya,” tambah Vina, “dari bulan lalu. Aroma vintage.”

Arion mencatat sesuatu di clipboard-nya. Aku curiga isinya cuma doodle berbentuk sosis. Padahal sudah dari kemarin ada di sini, kenapa baru dirasakan sekarang aroma khas-nya.

“Intinya, kita bakal bikin Kopi Kawan punya ‘jiwa’. Tempat ini harus jadi bukan cuma tempat nongkrong, tapi tempat orang merasa pulang.”

“Pulang dengan utang?” selaku, tak tahan menahan sindiran.

Om Hans langsung batuk-batuk kecil. Vina menyikutku, tapi senyumnya juga susah ditahan.

“Zoya, sebelumnya saya minta maaf. Kinerja anda bagus, tapi auranya terlalu dingin. Sikap seperti ini harus dirubah.”

Aku mendongak pelan. “Dingin bagaimana? Aku bukan AC. Emang harus hangat?”

“Hangat, minimal tidak menggigit,” balas Arion tenang. “Setiap pelanggan datang, yang mereka cari bukan cuma kopi. Tapi juga sambutan hangat. Sapaan ramah. Senyum.”

“Senyum? Mau senyum? Nih!” Aku tersenyum lebar, berlebihan, sampai Vina terbatuk.

“Nah, seperti itu 'kan, gayanya. Selalu ada sindiran dalam setiap kalimat. Zoya, kamu kerja di kafe, bukan jadi komentator.”

Om Hans mencoba menengahi, “Zoya memang begitu gayanya, Pak Arion. Tapi pelanggan tetap balik lagi, kok.”

“Balik lagi mungkin karena mereka belum nemu kafe yang lebih dekat, bukan karena pelayanannya. Saya sarankan… cari satu pegawai baru untuk di depan. Yang bisa bawa atmosfer positif. Yang ramah. Biar ada perbandingan.”

Aku mendengkus. “Silakan, cari aja. Tapi jangan kaget kalau nanti si pegawai ramah itu kabur sendiri karena sesuatu.”

“Zoya…” Om Hans memperingatkan.

“Tak apa, Pak Hans,” potong Arion, “biar nanti kelihatan mana yang profesional, mana yang cuma pintar ngomel.”

Aku berdiri, hampir membanting lap yang kupakai. Tapi belum sempat membalas, suara bel pintu berbunyi.

CLING!

Masuklah dua emak-emak. Yang satu berkacamata segede mangkok bakso, yang satunya lagi bawa tas belanja besar seperti habis nyerbu diskon sayur. Kami pun bubar sendiri-sendiri.

"Selamat pagi dari Kopi Kawan. Lagi cari kopi yang bisa menyembuhkan luka lama, atau sekadar pelarian dari rutinitas rumah tangga, Bu?” Aku tersenyum selebar biasanya, sambil sedikit melirik pada Arion, berharap ia lihat senyumku kali ini memang sangat memaksakan.

Dua ibu itu berdiri di depan kasir, menatap menu dengan kening berkerut dan suara cukup keras untuk mengguncang harga diri. "Menu apaan ini, ribet banget. Kita gak lagi tinggal di Inggris. Jangan pake Bahasa Inggris!" Ibu berkacamata lebar terkesan protes.

"Maaf, Ibu. Ini memang nama menunya, tidak ada kita pakai bahasa inggris. Kalau bingung mau pilih yang mana, kami punya pilihan yang paling aman: air putih dan sabar," jawabku. Masih dengan senyum lebar yang menampakkan deretan gigi besar-besar.

Si ibu kacamata mulai bergidik menatapku sepertinya. "Kamu kalau senyum biasa saja! Aneh amat,"

"Maaf, ibu. Ini tidak aneh. Saya hanya mau menunjukkan sapaan hangat pada pelanggan, biar tidak terkesan dingin."

"Iih, sapaan hangat. Ngeri kita liatnya. Biasa aja, deh!"

"Fix, jadi senyum lebar yang hangat itu memberikan poin 'ngeri' pada pelanggan. Mohon maaf atas ke-tidak nyamanannya, ibu...." Aku sedikit berteriak agar Arion dan Om Hans di ujung mendengar, sembari mengambil pulpen dan notes. "Jadi, apa yang ingin dipesan?"

"Mau teh dua."

----

Matahari sudah tenggelam sejak tadi, meninggalkan langit dengan warna oranye sisa-sisa. Jam dinding berdetak malas, seperti ikut lelah setelah seharian mendengar keluhan pelanggan dan suara mesin blender yang sudah pantas pensiun. Kafe kali ini lumayan rame, karena kita berempat berdiri di tepi jalan memberikan selebaran kertas promo yang gak ada promo-promonya. Memang ramah di kantong pelajar. Mungkin karena mereka belum tahu harga Kopi Kawan turun sejak pandemi lalu, atau karena penghuni kafe terkesan horor sampai mereka gak mau tahu. Atau memang betul karena kita kurang promo? Entah apapun itu, yang pasti hari ini jauh lebih lelah dari kemarin. Dan di jam yang mendekati hawa ngantuk ini, kafe mulai lengang. Hanya sisa bau kopi yang menggantung di udara dan bunyi sesekali dari kulkas mini yang mendengkur seperti kucing pilek.

Om Hans menggulung lengan kemejanya, menepuk-nepuk punggung sendiri. “Zoy, Vin, saya duluan ya. Hari ini lumayan capek juga. Ternyata... ngobrol sama pelanggan lebih menguras tenaga daripada giling biji kopi.”

Vina mengangguk sambil membuka ikatan celemek. “Aku juga pamit ya, Zoy. Kalau ada pelanggan yang datang jam segini, suruh mereka cari Tuhan dulu, bukan cari espresso.”

“Noted,” sahutku.

Vina melambai sambil melirik Arion yang masih duduk dengan tubuh tegap di sofa belakang. “Pak Arion, gak pulang juga? Jangan-jangan, lagi jatuh cinta sama bau karpet kafe?”

“Masih ada yang perlu saya evaluasi,” jawab Arion, ringan tapi dengan nada kayak kepala HRD yang belum puas lihat kinerja kita secapek ini.

Akhirnya, pintu berbunyi cling lagi untuk terakhir kalinya malam itu. Vina dan Om Hans menghilang dalam kegelapan luar, meninggalkan aku... dan manusia lemon.

Sunyi.

Aku sudah membersihkan diri dan berganti pakaian, mau bersiap untuk rebahan dan tidur. Kutatap, kopi di meja Arion sudah tinggal ampas, tapi dia masih betah duduk, seperti sedang menunggu bis ke masa depan. Aku mengelap meja bar dengan gerakan dramatis, sesekali menguap keras, berharap dia peka dan tahu diri. Tapi tidak. Dia tetap di sana, menatap dokumen seperti memeriksa DNA perekonomian Indonesia.

“Kafe ini tutup jam sembilan. Sekarang udah… jam sembilan lewat tiga drama Korea.”

Arion tidak menoleh. “Masih ada catatan yang harus saya selesaikan. Evaluasi ini penting.”

Aku menghela napas. “Evaluasi? Apa perlu saya evaluasi juga bangku yang kamu duduki? Sudah miring tuh satu kakinya.”

Dia tertawa kecil. Tapi lebih ke... sinis. Itu tidak legal. Karena setiap kali dia tersenyum, langit-langit kesabaranku mulai retak.

“Zoya,” katanya tiba-tiba, menatapku dengan tatapan yang terlalu serius untuk ukuran malam hari. “Kamu kenapa gak pernah sedikit saja mencoba untuk ramah dengan saya?”

Aku terdiam. Sebentar. Lalu menatapnya balik. “Masih ingat tentang senyum hangat di pagi hari?”

Ia menyandarkan tubuhnya santai. “Jadi, kamu merasa omongan saya tidak ada gunanya?”

“Banget.”

“Dan bagaimana jika kamu menyesal suatu hari bersikap seperti ini?”

Aku mendekat, menopang dagu di atas meja, membalas dengan nada datar, “Kenapa menyesal?”

Arion kali ini tertawa. Beneran tertawa! Pertama kalinya aku melihat dia tertawa yang seakan sedang meremehkan. “Kamu tahu, dari semua karyawan yang pernah saya temui, kamu yang paling beda.”

"Iya, kah?" Aku berkata menye-menye.

"Saya dengar, kamu sedang patah hati mau ditinggal nikah mantan. Saya dengar, tabunganmu habis untuk perawatan yang sia-sia. Saya juga dengar, kamu pergi dari rumah karena tak tahan dengan perjodohan ibu."

Kali ini omongan Arion membuatku mendelik. “Kalau kamu mau ngetes kesabaran manusia, jangan di kafe. Buka wahana uji mental aja.”

Sunyi lagi. Tapi bukan sunyi canggung. Lebih seperti... jeda sebelum punchline. Entah mengapa, kali ini aku tak hanya kesal dengan sosok di depan mata. Tapi, juga ke Om Hans... atau Vina.

"Oke." Arion akhirnya berdiri. Hatiku bersorak. Tapi terlalu cepat. Dia mendekat ke meja bar dan berkata pelan, nyaris seperti bisikan konspirasi:

“Besok pagi saya akan membawa kandidat pegawai baru. Yang ramah. Ceria. Dan... lebih murah senyum dari kamu.”

Aku mengedip. “Kandidat? Pegawai baru? Ini... kamu serius?”

“Serius,” jawabnya sambil merapikan clip board. “Kita lihat siapa yang lebih disukai pelanggan. Si ramah... atau si sarkas.”

Sebelum aku sempat membalas, dia berbalik menuju pintu. Tapi sebelum keluar, dia menoleh sekali lagi dan menambahkan:

“Oh iya. Pegawai baru ini... laki-laki.”

Lalu pintu cling menutup di belakangnya. Meninggalkan aku berdiri sendiri di tengah kafe, dengan ekspresi seperti baru ditinggal sopir ojek online padahal sudah ganti baju.

Gila! Dia mulai berani menggeser posisiku. Benar-benar potensi chaos.
Diubah oleh shirazy02 16-07-2025 21:56
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.