Kaskus

Story

shirazy02Avatar border
TS
shirazy02
Lemon Tea
Lemon Tea

Sinopsis:


Zoya (27 tahun), seorang barista super sarkastik yang hobby menyindir pelanggan pakai tulisan di cup kopi, sudah kehilangan semangat hidup: mantannya menikah minggu depan setelah sebelumnya ia disuruh menanti selama empat tahun, ibunya menyalahkannya dan mulai menjodohkan Zoya dengan anak teman arisan. Mirisnya lagi, tabungan Zoya yang tidak seberapa, habis dalam hitungan jam gara-gara perawatan klinik yang sama sekali tidak membawa perubahan. Hari-harinya jadi seambyar cappucino yang gagal dibikin foam art. Ia memilih tak pulang ke rumah. Memohon pada Om Hans, bos-nya, untuk bisa tidur dan bergelandangan manja di kafe seumur hidup.

Suatu hari, ia kedatangan Arion (25 tahun), pelanggan aneh yang setiap hari datang ke kafe dan minum lemon tea. Pesanannya selalu sama: lemon tea, tanpa es, tanpa gula. Zoya sangat penasaran dengan sosok satu ini. Siapa sih, yang ke kafe lucu-lucu cuma buat minum lemon tea yang lebih cocok untuk orang demam?

Hidupnya yang sudah cukup drama berubah makin absurd ketika tahu bahwa pria itu adalah seorang konsultan manajemen, yang datang untuk “merapikan sistem kerja kafe.” Sikap dingin dan perfeksionisnya, membuat gadis itu merasa tertantang sekaligus ingin melempar gelas. Arion benci ketidakteraturan. Sementara Zoya adalah definisi dari kekacauan yang hidup. Dua kutub yang seharusnya tak bertemu… tapi terus bertabrakan di balik mesin espresso.

Di antara kejadian-kejadian menyebalkan, masa lalu Zoya yang ia kubur dengan whipped cream, malah ikut naik ke permukaan, membawa kabar barunya jika ia tak jadi menikah.

Apakah Zoya bisa benar-benar melupakan masa lalunya? Atau kah dia bisa membuka hati yang baru? Atau ia lebih memilih menjalani hidup sendiri?

----
Spoiler for .:



Lemon Tea
Bab 1



Kopi Kawan, tempatku mengabdikan hidup, hati, dan kadang-kadang rasa frustasi, adalah kafe kecil bergaya vintage yang berada di sudut jalan Kota Mojokerto. Dulunya ramai. Dulunya hangat. Dulunya punya lima karyawan yang kompak dan sering karaoke di dapur pakai sendok. Sekarang? Tinggal aku dan Vina. Dan satu kipas angin yang bunyinya kayak suara hewan mitologi kehausan.

Semenjak pandemi dan datangnya tren kopi-kopi viral yang disajikan pakai mangkuk keramik Korea dan background neon pink, Kopi Kawan mulai ditinggal. Pelanggan setianya sekarang hanya beberapa: mas-mas ojek online yang pesan untuk dirinya sendiri, penjual angkringan sebelah yang mungkin terpaksa beli karena sering minta air se-timba, dan... baru-baru ini ada satu pria misterius.

Dia sudah tiga kali datang. Dan setiap kali itu juga, pesanannya selalu sama: lemon tea panas, tanpa gula, tanpa es, dan tanpa ekspresi di wajahnya.

Namaku Zoya. Umur 27 tahun. Barista di kafe kecil ini sejak tiga tahun lalu, setelah gagal total jadi editor buku karena terlalu sering ngoreksi isi hati sendiri. Motto hidupku sederhana: kalau bisa disindir, kenapa harus dipendam?

Dan pagi ini, seperti biasa, aku siap meladeni para pelanggan dengan kopi dan—kalau sempat—komentar nyinyir penuh kasih sayang.

Di balik meja bar, aku berdiri tengah menyusun gelas sambil menggumam lagu, yang bahkan aku sendiri nggak tahu liriknya. Seragam barista warna moca agak kusut—bukan karena lupa disetrika, tapi karena aku percaya "kerutan adalah bukti perjuangan." Atau karena aku bangun kesiangan. Dua hal itu kadang tak bisa dibedakan.

Tiba-tiba, pintu kaca kafe berbunyi. Masuklah pelanggan pertama kami.

Seorang perempuan muda, sepertinya belum pernah ke sini. Ia pakai tote bag bertuliskan “I Need Coffee More Than Therapy”, dengan riasan mata yang seolah menjerit, “aku belum move on tapi pura-pura bahagia.” Ah, parah!

"Selamat pagi, Mbak. Mau diseduh atau dipeluk hari ini?" tanyaku sambil tersenyum ramah-ramah sarkas.

“Ehm…" Gadis itu diam sejenak, memandang buku menu yang ada di hadapan. "...aku latte oat milk, ya. Tapi gulanya setengah. Tapi foamy-nya banyak, dan kopinya jangan terlalu pahit," lanjutnya. Sementara aku tersendat menulis karena pendengaran nggak fokus.

“Baik, Mbak. Jadi... kita pesan satu latte… dengan ekspektasi rumit?”

Dia ketawa. “Iya, sorry-sorry. Lagi kacau banget nih hari ini.”

“Tenang, Mbak. Di sini, kita nggak hanya seduh kopi. Kita juga seduh perasaan.”
Aku mulai menuliskan pesan di cup-nya:

>“Semoga harimu lebih manis dari cowok yang nggak jadi milikmu.”

Dia senyum malu-malu. “Aduh, itu dalem banget.”

“Dari lubuk hati barista yang lelah hidup, Mbak," sahutku datar.

---

Baru saja si latte rumit keluar dengan hati ringan, pintu kafe berbunyi lagi.

Ternyata pria itu lagi!

Dengan style yang sama. Rapi. Tegas. Jelas bukan tipe yang nyasar ke kafe kecil penuh quote nyinyir seperti Kopi Kawan. Kemejanya kali ini warna cerah, dengan celananya hitam pekat, dan jam tangan yang seperti bisa mengatur waktu hidup orang lain. Wajahnya masih sama, kaku. Seperti lemari file kantor pajak. Dia berjalan ke arahku. Tanpa senyum. Tanpa sapaan.

Kutatap jam yang menempel di dinding bagian tengah kafe. Selalu tepat jam 09.00 WIB. Langkahnya konsisten, dengan sepatu yang selalu bersih.

Di balik mesin kopi, kusaksikan langkahnya seperti robot terprogram. Mata kami bertemu sebentar. Tatapannya biasa saja. Sangat membosankan.

“Pelanggan lemon tea datang lagi." Lirih aku berkata pada Vina yang baru saja lewat. Vina yang hendak mengisi kopi bubuk, langsung berbinar. “Zoy, sumpah deh, aku nggak ngerti kenapa kamu bisa sesantai itu ngeliat dia. Dia itu kayak... kayak arsitek dari web drama Korea. Cool banget nggak,sih.”

Aku mendesah. “Vin, kalau kamu jatuh cinta sama pelanggan yang sukanya cuma pesan lemon tea, hidup kamu akan berakhir dengan vitamin C dan kekecewaan.”

Dia mencubit lenganku. “Kamu tuh nggak peka. Bisa aja itu gayanya pendekatan dia ke kita.”

Aku tersenyum setengah hati. “Oke, pendekatan pakai air jeruk. Romantis banget.”

"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi si Keenan! Buktinya, tuh, langsung dikasih pengganti sama Tuhan yang lebih bening!" Vina tersenyum lebar menatap pria itu. Aku mendengkus masa bodoh. "Nggak ada hubungannya sama Keenan. Sudah, jangan sebut nama itu lagi!"

Laki-laki itu tampaknya menunggu di meja bar. Kutarik napas lebih dulu. Kemudian melangkah ke luar dan menyambutnya dengan senyum profesional. "Selamat pagi!" Mencoba seramah mungkin meskipun malas sekali berhadapan dengan laki-laki.

“Satu lemon tea. No sugar, no ice, no soul,” serunya. Kalimat yang sama. Nada yang sama. Seperti direkam dan diulang.

“Mengerti, Pak. Tapi, kami hanya jual minuman, bukan racikan untuk patah hati,” balasku sambil menekan tombol pemanas air. Masih dengan senyum terpasang semanis mungkin.

Dia mengangkat alis. “Saya serius.”

“Saya juga. Tapi kalau anda senyum sedikit seperti saya, itu akan terasa lebih manis,” ujarku, terus memaksakan senyum padanya.

Dia menatap datar dan mencebik, “saya alergi senyum palsu.”

Ah, sudahlah! Apapun perkataannya, aku berusaha memberi senyum pasti- khas ramah seorang barista. Biar hati asalnya remuk, yang penting dipandang pelanggan baik-baik saja.

Asli, pria yang sangat membosankan. Mungkin diciptakan dari sari lemon murni. Asem kecutnya terasa sekali.

Sejenak kutatap name tag yang terkalung di dadanya, sebelum akhirnya ia sadar, lalu melepaskan name tag-nya. Aneh sekali. Kenapa seperti takut ketahuan?
Baru kali ini aku membaca namanya setelah berhari-hari dia gentayangan di Kopi Kawan. Sambil menyiapkan tehnya, aku menulis di kertas, lalu menyelipkannya di cup: “Cocok diminum sambil evaluasi keputusan hidup, Pak Airon Man.”

Dia membaca. Sejenak diam. Lalu menyeruput tehnya. Dan... sudut bibirnya naik. Sedikit. Hampir tidak terlihat. Tapi aku menangkapnya.

Vina menyenggolku dari belakang. “Dia senyum, Zoy. Demi kopi sachet, dia senyum!”

“Cuma refleks otot wajah. Bukan buat aku,” jawabku sok tenang.

---

Saat kafe mulai lengang, aku dan Vina saling bersandar di kursi malas dekat kasir.

"Perut aku masih kek orang hamil gak, sih?" Pelan aku mengajak Vina ngobrol.

"Tenang aja. Masih berupa benjolan dikit. Daripada perut aku, malah kayak orang brojol." Vina cekikikan sembari menatap layar gawainya.

"Tapi, ada perubahan gak sih, sedot lemaknya?"

"Nggak kelihatan, sih. Atau emang belum keliatan, ya?"

"Yaaahh... sia-sia, dong, ATM-ku jadi kinclong." Aku mendengkus. Entah mengapa, ingatanku kembali menjurus pada Keenan, mantan pacar yang dengan sadarnya mengirim surat undangan di grup WhatsApp SMA. Ada notes khusus pula: 'Buat mantanku, Fatrisa Zoya, datanglah saat akad sebagai saksi ya. Aku bakal terima kasih banget'... yang akhirnya notes itu jadi pasar kaget. Teman-teman saling ramai berbalas chat di grup menyoraki.

Ada yang ngasih dukungan aku.
Ada yang ngasih emot ngeledek, ngetawain.
Definisi jagain jodoh orang yang sesungguhnya.

Aku sedih bukan karena patah hatinya, tapi lebih ke 'Awas loe, ya, Keenan'

Calonnya, aku kenal. Kita bertiga dulu satu kelas saat SMA. Sudah dari dulu Aurel naksir Keenan. Tapi bagi Keenan, dia kayak buntelan kentut. Dulu badannya jumbo, dan bisa lah kalian bayangin kenapa bisa Keenan ngatain seperti itu.

Ternyata, lain dulu lain sekarang. Foto di undangan beda banget. Aurel sudah langsing, kulitnya putih, bahkan wajahnya jauh berbeda dengan jaman kita saat SMA. Iseng-iseng kupelototin dia di Instagram. Uang memang bisa merubah buntelan kentut jadi bidadari surga.

Gara-gara itu lah, tabunganku di ATM kinclong hitungan jam untuk sedot lemak dan perawatan wajah. Niat hati pengen balas dendam ke mantan dengan upgrade diri, tapi berubahnya enggak, miskin seketika-iya.

Oh My God, kejadian ini bikin ibu banyak nyalahin aku. Terbayang lagi, deh, ucapan ibu yang memaksaku berkenalan dengan anak teman arisannya. Melihat laki-laki saja sudah mati rasa, apalagi disuruh kenalan. Untung Om Hans mau menerimaku pulang di Kopi Kawan. Kalau tak, mungkin aku sebaiknya mati ketimpuk mesin espresso.

Sedang lelah-lelahnya meratapi nasib, tiba-tiba saja pria paruh baya itu muncul dari balik pintu gudang. Seperti biasa, penampilannya nyentrik: kaos bekas konser tahun 1998, celana pendek army, dan topi fedora yang terlalu percaya diri.

“Halo, guys!” Om Hans menyapa berat seperti efek suara radio rusak. “Aku mau ngomong sama kalian.”

Aku dan Vina menoleh bersamaan. Sementara Om Hans sudah berdiri tepat di depan kita.

“Kalian tahu, kan, gimana keadaan kafe sekarang? Sebenernya Om sudah kehabisan cara untuk mempertahankan. Sudah mencoba merombak gaya kafe, yang kata kalian, harus instagramable. Tapi, tetap saja tidak menarik para konsumen untuk singgah balik. Kalian tahu sendiri. Hanya beberapa saja yang penasaran, tapi gak pernah datang lagi."

"Trus, Om... apa kali ini Om Hans bakal nutup Kopi Kawan? Apa nggak sayang, Om, merintis sekian tahun lamanya harus tutup. Ini 'kan bisnis kenangan dengan almarhumah Tante Hera, Om. Tante di surga pasti sedih kalau ditutup, Om." Vina mulai mengeluarkan gaya melasnya, seperti ayam susah napas. Kata-kata yang selalu sama dilontarkan saat Om Hans mengajak diskusi terkait perkembangan kafe yang tak ada kembang-kembangnya. Kecuali kembang-kempis.

"Tentu saja tidak." Om Hans menimpali. "Tapi, aku sedang minta bantuan temanku yang sekarang kerja di manajemen bisnis. Dia ngirim seorang konsultan buat bantu naikin performa kafe.”

Aku mengernyit. “Konsultan?” Lalu saling pandang bersama Vina.

"Iya. Dalam beberapa bulan, ia akan ada di Kopi Kawan. Membantu kita merombak semuanya."

Kami hanya terdiam, sama-sama mengingat tentang name tag yang terkalung di dada pria itu, yang bertuliskan 'Management Consultant'

Vina spontan mengucap takbir sambil menajamkan mata. “Om... jangan bilang... orangnya itu,” serunya kemudian. Aku mulai menarik napas dalam-dalam.

Om Hans langsung mengalihkan pandangannya ke sosok yang ditunjuk Vina. Matanya mengernyit, seakan-akan juga tak tahu siapa sosok yang duduk di seberang. "Om kurang paham, sih... tapi, masa iya, teman Om tidak bilang dulu kalau mengirim konsultannya sekarang," ujarnya.

"Lah, dia ke sini udah sering, Om. Dia juga seorang konsultan managemen. Sepanjang hari dia duduk di situ. Seperti seorang detektif yang suka mengamati suasana kafe dari ujung ke ujung." Vina mencoba menjelaskan.

"Astaga, kok bisa-bisanya teman Om nggak ngenalin dulu konsultan yang akan dikirimnya," protesku.

"Iya, dia memang ngomong kalau konsultannya bakal ke sini sewaktu-waktu. Yang pasti katanya, dia suka lemon tea."

Aku dan Vina kompak menyahut, “naaahhh!”

Tanpa ba-bi-bu, Om Hans melangkah ke luar menuju pria dingin itu seraya berseru, "Halo, selamat siang. Pak Arion, ya?"
Keduanya lalu berjabat tangan.

Vina mendadak berdiri dari kursinya seperti habis disetrum kopi sachet tiga lapis. Wajahnya merah, matanya membesar, dan mulai menggoyangkan badan, seperti orang yang kaget dapat doorprize. Ia mulai menari menggila. Campuran antara K-Pop, poco-poco, dan ketindihan jin bahagia.

“Zoy! Zoy! Ini takdir!” serunya, memutar badan dan hampir menjatuhkan toples kue kering.

“Vin, jangan deket-deket grinder! Ntar nyangkut.” Aku mulai mengamankan teko susu dari goyangan Vina yang membabi buta. Bisa-bisanya Vina begitu girang, sementara hari-hari kita selanjutnya bakal jadi musibah nasional.

Di saat aku mulai kesal dengan tingkah gadis berbadan bontot itu, tiba-tiba Om Hans memanggil kami. Vina menghentikan atraksinya, bergegas ke luar. Sementara aku menyusul gontai di belakang.

"Ayo, kenalkan... ini rekan kerja kita sementara untuk beberapa bulan ke depan." Om Hans berseru, kemudian dilanjutkan dengan uluran tangan dari Vina. "Selamat bergabung di Kopi Kawan, Pak. Nama saya Lovina Anastasya. Biasa dipanggil Vina, atau lebih enaknya Love juga boleh." Mulut Vina mulai cekikikan di akhir.

Aku diam saja. Membuang pandang. Sepertinya ia menangkap wajah cuekku.

"Saya Arion Keandra Neal." Seusai melepas jabatan tangan Vina. Ia menyodorkan secarik kertas padaku. Kertas kecil yang tadinya kuselipkan di balik lemon tea-nya. "Panggil saya Arion. Bukan Airon, apalagi di tambah 'Man'. Saya bisa saja somasi, jika ini suatu penghinaan," lanjutnya datar.

Aku terhenyak. Sekilas kami beradu pandang. Kali ini ia tersenyum, namun sinis.

Siapa suruh punya nama susah dibaca. Apalagi baca tulisan sekecil itu di name tag-nya. Bukan menghina, tapi memang gak fokus baca. Umpatan demi umpatan terus bermunculan dalam hati.

Oke, jika robot lemon ini menantangku, akan kusiapkan tantangan balik. Kukira dia hanya orang yang membosankan. Namun ternyata, jauh lebih menyebalkan dari kelakuan mantan.

(Bersambung)
Diubah oleh shirazy02 16-07-2025 21:52
tiokyapcingAvatar border
kobimterbang675Avatar border
bukhoriganAvatar border
bukhorigan dan 2 lainnya memberi reputasi
3
230
4
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.1KAnggota
Tampilkan semua post
shirazy02Avatar border
TS
shirazy02
#1
Lemon Tea
Bab 2

kaskus-image

Kalau hidup ini sinetron, maka pagi ini jelas adegannya pakai slow motion dan backsound lagu galau remix EDM.

Karena sejak pria bernama Arion Keandra Neal, yang lebih cocok jadi nama tokoh dalam novel distopia futuristik, duduk manis di salah satu sudut Kopi Kawan sebagai "konsultan penyelamat", aku merasa hidupku resmi berpindah genre. Dari drama patah hati ke thriller psikologis.

Lelaki itu duduk di meja paling pojok, dengan laptop terbuka, catatan rapi, dan headset nempel di kuping. Matanya tetap aktif keliling, memperhatikan setiap sudut, dari sofa yang mulai bolong, lampu hias yang miring, sampai ke rak buku yang isinya lebih banyak curhatan pengunjung ketimbang buku.

Paling menyebalkan adalah: dia mencatat.
Dengan pulpen.
Di buku.
Seolah-olah hidup kami ini adalah studi kasus di Harvard Business School.

“Zoy, aku panik! Barusan dia nanya kenapa meja kita gak konsisten tinggi kakinya.” Vina berbisik dramatis di belakang kulkas mini.

“Karena Tuhan adil, Vin. Biar meja juga merasakan ketimpangan hidup,” jawabku sambil tetap mengocok matcha.

“Terus dia minta SOP pelayanan ditulis ulang! Terus dia bilang senyum kita... nggak standar!”

Kali ini kupalingkan wajah ke Vina. “Maksudnya gimana ‘senyum standar’? Emang dia beli senyum di IKEA?”

Vina hampir menangis. “Dia bilang senyumku lebih ke arah ‘kebingungan batin’, bukan keramahan.”

“Hebaaatt! Dia rupanya bisa baca aura. Bukan konsultan lagi ini mah, dukun berkemeja.”

---

Jam menunjukkan pukul 10.00 WIB. Di luar matahari menyala penuh semangat, berbanding terbalik dengan semangat hidup kami yang perlahan terkikis tiap kali Arion berdiri dari kursinya sambil membawa... clipboard.

Setiap kali clipboard itu muncul, rasanya seperti sedang ikut audition acara MasterChef, tapi yang dihakimi bukan masakan, melainkan harga diri.

“Zoya,” panggilnya, seraya mendekat ke area bar dengan langkah terukur.

Aku sudah bersiap. Mental, ekspresi, dan nada suara.

“Ya, Pak Lemon?”

“Siapa yang Pak Lemon?"

"Maaf, Pak. Takut salah sebut nama. Takut di-somasi." Aku menjawab datar.

Arion tak merespon ucapanku. Berganti menyodorkan setoples kue ke meja bar. "Mengapa ini tidak diberi label harga? Dan mengapa kamu menatap saya seperti itu?”

“Karena begini lah cara menatap Capricorn, dan toples itu... mungkin ingin bebas menentukan nasibnya sendiri.”

Ia tidak tertawa. Tentu saja. Dia hanya mencatat sesuatu di clipboard-nya dan menatapku seperti aku adalah Excel file yang penuh error.

“Kamu tahu kenapa saya ke sini tidak memesan minuman lain selain lemon tea?" tanyanya lagi.

"Tidak tahu, Pak. Saya bukan peramal, apalagi tukang komentar. Selain pertanyaan 'mau pesan apa?' ke pelanggan, saya sudah tidak tertarik lagi bertanya apapun. Termasuk bertanya tentang alasan pelanggan memesan minuman tersebut, seperti yang anda bilang itu."

Arion terdiam. Namun tatapannya lama padaku. Kubuang saja pandangan ke arah lain.

“Nama minuman di sini terlalu konyol. Aneh. Gak ada branding kuat. Harus dirombak.”

Vina yang diam-diam mendengar dari balik kulkas, spontan nyeletuk, “Tapi 'kan menu kita lucu-lucu! Ada 'Kopi Mantan', 'Matcha Move On', sama 'Choco Nggak Jadi-Jadi’!”

Arion mengangguk. “Itu dia masalahnya. Lucu. Tapi tidak menjual. Kita butuh konsistensi identitas.”

“Identitas apa, Pak? Ini kafe, bukan pelaku kriminal,” sahutku. Dan setiap aku bicara, sorot mata Arion tampak tajam memandangku.

Lagi-lagi aku mengalihkan pandang.

Pria itu mulai membawa laptopnya pada kami. Lalu berkata, "sekarang bisa tolong jelaskan, kenapa ada tiga belas varian minuman yang disebut signature drink, tapi delapan di antaranya rasanya seperti trauma masa kecil?”

Aku menatap layar, lalu kembali menatap wajahnya. “Pak, itu menu warisan. Dirancang sama mantan barista yang katanya pernah ikut pelatihan di Bali. Tapi dia juga pernah ngira daun kemangi itu garnish buat cappuccino. Jadi ya…”

“Hmm,” gumamnya. “Sudah kuduga kenapa kafe ini jadi sepi." Lagi-lagi ia sok peramal.

"Kita perlu uji rasa. Hari ini. Sekarang.”

"Apa? Sekarang? Uji rasa yang apa?" Vina langsung melotot mendengar ucapan Arion barusan.

"Ya tiga belas rasa signature ini."

"Bahkan kita saja sudah lupa racikannya seperti apa, Pak. Sebab gak pernah laku minuman itu sejak pertama kami bekerja," ujar Vina.

"Gak pernah laku?" Arion mengernyit. Vina berbalik menatapku. "Pernah gak buatin pesenan signature?" tanyanya. Aku menggeleng. "Belum pernah. Tapi, racikannya... sedikit ingat, sih."

Dan begitulah kemudian... aku, Vina, dan Om Hans mendadak ikut kegiatan yang disebut Audit Cita Rasa. Suatu bentuk hukuman psikologis dari langit.

---

Pukul 10.00 pagi, seluruh menu signature kami dibuat dan ditata di meja besar. Meja itu biasanya dipakai pelanggan untuk rapat arisan atau kumpul emak-emak belajar TikTok. Hari ini, dijadikan lokasi eksekusi rasa.

Ada kopi rasa klepon, matcha-pandan double foam, dan menu legendaris: es kopi janda beranak dua—karena kata mantan barista dulu, rasanya bisa bikin mellow.

“Siapa yang kasih nama minuman ini?” tanya Arion, menunjuk cup bertuliskan Choco-Bucin With Guilt Foam.

“Vina,” jawabku sambil ngunyah kue kering.

Dia menatap Vina.

Vina malah menjawab polos, “Soalnya foam-nya lembut tapi rasa akhirnya pahit. Kayak hubungan aku sama dia. Dulu manis, terakhirnya nyakitin. Sedang aku-nya bucin.”

Arion mencatat. Entah apa yang ia tulis. Tapi aku curiga dia nulis: “Karyawan terindikasi gangguan emosional level ringan.”

Saat sesi icip-icip dimulai, kami menyodorkan minuman satu per satu.

Arion mencicipi semua tanpa ekspresi. Tapi ketika sampai di kopi janda beranak dua, ia tersedak.

“Ini... ada rasa jahe dan cabai rawit?”

Aku dan Vina kompak menjawab, “Signature banget 'kan, Pak.”

Lelaki itu masih terbatuk, sambil merogoh saku celananya, mengeluarkan tisu.

Lah? Aku tercengang.

Laki-laki cool bukannya sapu tangan yang ada di saku, ini malah tisu?

Om Hans panik. Ia menyuruh Vina cepat-cepat memberi Arion minum. Bukannya air mineral yang dikasih, malah 'kopi janda beranak dua' lagi. Karena tak sempat melirik, Arion langsung saja minum. Akibatnya, tersedak dua kali. Batuk tiada henti. Lebih parah.

Gak tahu kenapa, pengen banget kali ini nyalain musik pakai volume kenceng. Pas banget sepertinya berdendang dengan lirik batuk yang dramatis.

---

Sore hari, pelanggan makin sepi. Sepertinya hawa korporat yang dibawa Arion mampu mengusir aura nyantai khas kafe ini. Vina duduk lunglai di sofa, rambutnya berantakan seperti habis perang saudara dengan sendok kopi.

“Zoy... aku capek. Aku merasa teropresi,” katanya lemah.

“Vin, ini belum seminggu. Baru sehari.”

“Ya, tapi rasanya kayak ikut pelatihan militer. Gak biasanya kita se-sibuk ini. Padahal pelanggan sepi.”

Aku menghela napas. Saat itu juga, seekor kucing kampung lompat masuk lewat jendela belakang. Si Belang, langganan datang setiap sore untuk numpang tidur atau curi susu. Tapi kali ini... kucing itu malah melompat ke meja Arion dan menjilat latte miliknya.

Vina histeris, “Astaga, itu latte evaluasi keuangan kafe!”

Arion menatap kucing itu. Lalu menatap kami.

Dia diam saja. Tampaknya menulis sesuatu di clipboard-nya.

Aku tak tahan lagi.

“Apa Bapak mau kasih feedback juga untuk kucing liar?”

Dia hanya menjawab, “Kucing ini tahu cara menikmati produk lebih baik dari anda.”

Astaga. Aku tidak tahu apakah dia genius, atau memang menyebalkan level dewa. Atau keduanya.

---

Malam harinya, saat kafe sudah tutup, Arion menghampiriku dengan satu map penuh kertas. Rapi. Berlabel.

“Apa ini? Kenapa baru dikasih aku sekarang? Sengaja ya, nungguin Vina sama Om Hans balik duluan, biar aku yang ngerjain semua." Aku mencecar.

"Tidak, saya hanya titip. Kamu boleh lihat jika mau. Ini hasil analisa saya sementara. Besok saya akan ajukan perubahan layout, menu, sistem kasir, dan... branding sosial media. Saya tahu kamu tidak setuju, Zoya. Tapi tolong beri kesempatan. Saya tidak ke sini untuk merusak, tapi untuk menyelamatkan.”

Aku memandangi map itu. Berat. Seperti proposal menikah, tapi dengan resiko burnout.

“Saya hanya barista, Pak. Bukan pemilik. Kalau saya ngedumel, itu karena hobi, bukan keputusan.”

Arion tersenyum tipis. Kali ini agak tulus. Sedikit saja. Sepersekian milimeter.

“Terima kasih atas kerja keras kamu, Zoya. Saya perhatikan, kamu punya loyalitas tinggi. Tapi terlalu sarkastik.”

Aku nyengir. “Kalau saya berhenti sarkastik, saya bisa meledak, Pak. Ini semacam sistem ventilasi.”

Dia mengangguk. “Baik. Semoga ventilasinya tidak bocor ke laporan saya.”

Arion mulai menurunkan pandangannya. Aku tahu apa yang dilihatnya. Matanya meluncur seperti lift rusak—berhenti tepat di area rawan.
Aku buru-buru berbalik, tapi ya telat.
"Sepertinya kamu kurang serat, Zoya. Badan kamu gak sesuai dengan kondisi perut. Celemekmu bahkan nggak bisa menutupinya." Dia nyeletuk datar, seolah baru menemukan teori baru tentang gravitasi dan perut.

"Bagaimana kalau ikut yoga? Atau senam zumba?" tambahnya.

Tajam. Bahkan lebih tajam dari cobek yang kupakai buat ulekan sambal kemarin.

Tanpa banyak kata, kulepas celemekku. Aku lempar asal ke kursi di sebelah kulkas—kursi itu tak bersalah, tapi dia jadi korban suasana.

"Memangnya situ merasa sempurna? Bisa-bisanya ngomentarin fisik orang, padahal rambut sendiri kayak hasil permen karet ketarik dari bawah meja sekolah," sahutku sambil melotot.

"Bukan menghina. Saya cuma..."

"...cuma laki-laki, yang standar ceweknya setinggi langit, padahal diri sendiri nyangkut di atap seng," potongku.
"Begitu 'kan? Klasik banget. Mau cewek cakep, langsing, wangi, pinter masak, bisa ngoding, bisa jadi brand ambassador, tapi diri sendiri masih nanya 'password WiFi kafe apa, ya?'"

Arion terdiam. Matanya seperti sinyal E—lemah dan nyari tower.

"Cukup kafe ini aja yang kamu nilai. Jangan aku. Aku udah lulus penilaian... dari Tuhan," ucapku dramatis sambil naik tangga.

Jam menunjukkan pukul 21.40 WIB. Waktu yang tepat untuk tidur... atau balas dendam keesokan harinya.

Arion masih di bawah, berdiri kayak tokoh sinetron abis ditampar istri sah.
Entah apa yang ada di pikirannya, tapi aku tahu satu hal: dia potensi chaos. Mungkin bisa untuk mengubah Kopi Kawan.

Tapi, dia tidak akan pernah bisa mengubahku.

...atau jangan-jangan...
justru aku yang akan mengubahnya?
Diubah oleh shirazy02 16-07-2025 21:54
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.