Kaskus

Story

aguzblackrxAvatar border
TS
aguzblackrx
Satu Kelas Dengan Dia
Horror, Romance

Satu Kelas Dengan Dia

Quote:


PROLOG


Bagas tak sengaja menjadi indigo karena insiden tenggelam di kolam empang yang berair kotor saat masih berumur 3 tahun yang membuat jiwanya terbawa ke alam gaib dan mendapat kemapuan bisa melihat makhuk tak kasat mata meski tidak sekaligus dan berangsur angsur lama hingga dia bertemu dengan sosok di sekolah nya yang membuat dirinya menyadari memiliki kemampuan dan mendapatkan sebuah tanggung jawab besar dalam hidupnya




Quote:


Spoiler for Jangan di Buka:


Quote:
Diubah oleh aguzblackrx 21-09-2024 09:52
viper990Avatar border
qiem.tamvanAvatar border
dwi.haryana.982Avatar border
dwi.haryana.982 dan 28 lainnya memberi reputasi
27
30K
1.6K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.7KAnggota
Tampilkan semua post
aguzblackrxAvatar border
TS
aguzblackrx
#443
Part 67

Sindi dan dua bocah jin bocil telah hilang dari pandangan ku, mata ku mengedar ke segala arah kemana mereka pergi. Ada yang aneh dengan sindi begitu pula ucapannya tentang Hesty.

Tak ambil pusing, Akupun segera bergegas menuju kelas ku yang berada di ujung lapangan sebelah Utara dan masuk ke dalam kelas. Disana sudah ada Eri , kini kami menjadi teman saku bangku yang sama.

"Tadi kemana lu, ngilang" tanya Eri yang sudah duduk di bangku

"Elu ,yang ngilang er . Gw malah ketemu Merry"
Jawab ku lalu duduk disamping Eri

"Oh... Pantes , " balas Eri sambil membuka tas nya untuk mengambil buku
"Gw ngejar Sindi, yang gw liat dia masuk kelas. Lalu gw tiba tiba kebelet Pepsi , akhirnya gw ke toilet , ga lama bell" jelas Eri menambahkan penjelasan

Penjelasan Eri aneh padahal jelas jelas Sindi tadi menemuiku dan dia tidak dari dalam kelas tapi dari arah yang tidak diketahui dan mengatakan sesuatu tentang Hesty.

Namun aku tidak menceritakan pertemuan ku dengan Sindi agar Eri tidak salah sangka terhadap ku.

Pelajaran berlangsung seperti biasa , hingga akhirnya jam yang ditunggu tiba. Jam istirahat . Ini adalah kesempatan ku untuk berbicara dengan Hesty . Buku dan alat tulis segera aku masukan ke dalam tas.

"Kemana lu bro, buru buru amat. Kebelet berak lu ye?" tanya Eri yang melihat ku dengan cepat memasukan buku pelajaran dan alat tulis begitu tergesa gesa.

Pertanyaan Eri itu kadang bikin kesel bin ketawa sehingga membuat ku kehilangan fokus .
Mata ku melirik ke arah eri sembari memasukan tas ke dalam laci meja belajar.

"Gw, kebelet kimpoi Er." Jawab ku spontan

Mata Eri terbelalak mendengar jawaban ku

"Wanjrittt , udah punya duit nya lu bro ?" Tanya Eri sambil menepuk pundak ku

Tepukan Eri lumayan kencang dan terasa sedikit sakit namun aku tidak menghiraukannya.

"Gak bro, lu yang bayarin acara hajatannya hehe" balas ku dengan diakhiri tawa kecil

" Gampang men, tapi ya ntar kalau gw udah jadi pejabat, gw korupsi sebanyak banyak nya , dan gw kasi ke elo duitnya sekaligus dosa nya , puas . Kwkwk " celetuk Eri yang membuat kami tertawa terpingkal pingkal.

"Udah ah. Gw buru buru nih"

"Ikut bro" sahut eri

"Jangan, ganggu acara aja" ucap ku becanda

"Kemana sih,?? "

"Sindi " jawab ku singkat

Eri terkejut lagi
"....????? Maksud Lo ?"

"Ga becanda gw, ikut aja lah"

Kami pun keluar kelas , sebenarnya aku tidak enak hati mengajak satu kecoa nyesot ini ikut dalam urusan yang tidak akan dia pahami.

Cahaya terik pagi pukul 10 memang cukup membakar kulit apabila berada di lapangan , kami berdua berjalan pada lorong yang dijejali siswa siswi yang akan hendak menuju Kantin. Mata ku terus tertuju pada kelas Xi.7 yang ada di ujung lorong samping lab bahasa dan IPA disana memang dekat dengan kantin paling awal.

Satu persatu siswa yang keluar aku perhatikan namun Hesty belum nampak keluar dari kelasnya. Apakah sudah keluar dahulu atau masih di dalam kelas. Semoga masih ada kesempatan untuk berbicara padanya.

Akan tetapi

"Bagas..."

Di depan kelas xi.4 Merry sedang berdiri , tangannya melambai lambai ke arah ku. Ada saja memang gangguan pada ku ketika aku terburu buru seperti ini.

"Oh, Merry . Iya kenapa?"

" Koq nanya? Hadiah tadi maaf yah dilempar abisnya aku kesel " ucap Merry memohon

"Gak, ga apa apa koq. Aku suka hadiahnya " balas ku

"Sungguh, terus bagaimana?" Tanya Merry

Untuk menjawab ini aku bingung karena hadiah yang aku terima belum sama sekali aku buka entah apa isi dari kotak kardus itu.

"Hmm... " Sedikit menarik napas

Tiba tiba ada bisikan gaib terdengar di telinga kanan ku, tapi jelas ini pesan dari Anna

"Kakang, bilang aja sepatunya bagus banget" bisiknya

Mendengar bisikan itu tak banyak fikir aku menjawabnya spontan.

"Ooh. Iya , sepatunya bagus banget . Impor yah"

Merry tersenyum senang mendengar ucapan ku,

"Suka kan?" Tanya lagi Merry memastikan

"I iya suka banget, udah dicoba tadi pas ukurannya " jawab ku
Tiba tiba Eri menepuk pundak ku cukup kencang sambil berkata
"Hey , bro , kita jadi ga ?"

Aku pun tersadar kembali dengan tujuan ku
"Oh , iya jadi"

"Kalian mau kemana ? Kantin? Bareng yuk" tanya Merry

Mata ku menoleh tajam pada Eri sambil melotot lalu pandangan ku kembali pada Merry dengan nyengir kuda.
" Itu .... Aku mau... " Tangan ku mengangguk tapi tidak gatal

"Mau kemana?" Tanya Merry menelisik

Sebenarnya jika maksud ku ketemu dengan Hesty bisa bisa Merry marah . Seperti tadi pagi saat melihat kenarah Hesty. Entah bagaimana Merry bersikap seperti itu padahal sebelumnya masih normal.

Kemudian Eri menyela pembicaraan kami
"Oh, kita mau potocopy materi , cuma materinya ada di kelas XI.7 punya pacar gw , mer"

Ide brilian Eri lumayan bagus juga terkadang otaknya encer dikala dibutuhkan.

"Ooh, padahal aku mau ngajak makan di kantin" ucap Merry dengan sedikit nada kecewa

"Nanti yah kalau beres fotocopy , bentar ini"
"Bener? "

"Iya , kalau ga keburu bell sih"

"Yasudah, aku ke kantin duluan ,.kamu nyusul ya gas"

Merry akhirnya pergi menuju kantin dengan salah satu temannya ,

"Aman bro " ucap Eri.

Aku dan Eri sesegera mungkin masuk ke kelas xi.7 beberapa siswa nampak baru keluar kelas .
Setelah masuk semua siswa sudah keluar kecuali dua gadis ini.

Sampai disana nampak dua gadis sedang berhadapan satu sama lain. Salah satunya Hesty yang sedang berdiri mengarah pada Sindi yang duduk di bangku paling pojok. Anehnya hanya bangku Sindi yang nampak sedikit kotor oleh debu.

Kedatangan kami ternyata disadari oleh mereka , Hesty menoleh ke arah kami . Perasaan ku campur aduk karena sudah sekian lama kami tidak bertemu .

Akan tetapi tatapan dingin masih tersirat dari wajah Hesty yang kini nampak sedikit pucat . Apakah dia sedang sakit atau memang tidak memakai make up seperti biasanya.

Sindi nampak tersenyum tipis ke arah ku dan Eri. Entah apa yang terjadi semenjak kami masuk kami tidak mendengar obrolan apapun.

"Hay, Bagas , erri " sahut Sindi

Eri segera pindah posisi di depan ku,
"Kalian udah kenalan? Hesty apa kabar " sapa Eri sambil menyodorkan tangannya

Kemudian Sindi bangun lalu melewati Hesty dan memegang tangan Eri dan merangkul lengannya . Hesty nampak sedikit terkejut namun

"Er, aku laper pengen jajan " ucpannya manja pada Eri

Wajah Eri tergaris tersenyum senang dengan tingkah manja Sindi namun senyumannya bikin aku mual. Biasa aja kali gerutu ku dalam hati.

"Gas, hayu lah ke kantin bareng Hesty " ajak Eri

Aku hanya melirik ke arahrri dan ternyum bingung ,

"Lu berdua duluan saja , gw nyusul" balas ku

"Yasudah, oke GPL yah"

Eri dan Sindi meninggalkan kami berdua di selama kelas. Akan tetapi Hesty masih berdiam diri .

Akan tetapi tiba tiba

"Brukk "
Hesty terjatuh namun segera aku tangkap dan jatuh di dalam pelukan ku .

"Hesty , kamu kenapa ?"

Setengah sadar Hesty bergumam " Jaka Wardhana "

Seketika mendadak angin datang entah dari arah mana sampai sampai menyibak rambut Hesty.

Seketika seseorang memangkat tubuh Hesty , orang itu adalah Jaka Wardhana. Lalu

"Brukkkk "

Tubuh ku terpental jatuh di atas lantai dan menabrak meja guru hingga bergeser .

"Argggh..." Dada ku merasa sakit namun mata ku teralihkan dengan Jaka Wardhana yang memandang ke arah ku, lalu mendudukan Hesty di atas bangku.

"Jangan sentuh tuan putri , dia milik ku" ucap Jaka warhdana

Akupun mencoba berdiri dan masih memandang ke arah mereka . Hesty yang sudah didudukan lalu dipijat oleh Jaka Wardhana pada bagian leher dan pundaknya lalu dibacakan sesuatu yang entah bacaan apa namun asap putih keluar dari mulut Jaka. Asap itu perlahan membesar dan menyelimuti tubuh Hesty.

Hesty yang tadi terlihat lemas kini mulai tersadar dan bangun lalu nampak lebih sehat bugar dari biasanya .

Jaka Wardhana lalu berlutut disamping kiri Hesty sambil menunduk lalu anehnya sesuatu terjadi . Tangan Hesty membelai kepala Jaka lalu diciumnya kening Jaka .

Seketika perasaan ku campur aduk antara aneh, sedih, dan cemburu . Bisa bisanya Hesty melakukan itu di depan mata ku.

Kemudian wajah Jaka Wardhana terangkat dan matanya menyorot ke arah ku darinposisi lutut nya. Tersirat garis senyum senang di bibirnya isyarat sebuah kemenangan.

Tiba tiba
"Awas kakang " teriak seseorang
Sebuah perisai hijau menangkis sebuah serangan . Sebilah keris kecil terjatuh di atas lantai sekolah. Senjata itu ternyata di lempar oleh Hesty .

Aku terkejut tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Hesty. Jadi benar apa yang dikatakan sindi bahwa Hesty bukanlah yang dulu aku kenal.

Anna kini berdiri di samping ku , kini posisiku sudah berdiri sambil memegang dada ku yang cukup sakit akibat ditendang oleh Jaka wardhana.

Anna berdiri di depan ku sambil membentangkan selendang hijaunya sebagai perlindungan . Lalu aja berkata pada Hesty DNS Jaka Wardhana

"Kalian , kini menjadi musuh ku setelah mencoba menyerang kekasih ku" ucap Anna

Hesty kemudian berdiri dari duduknya lalu Jaka pun sudah berdiri dengan sorot mata yang tajam sambil melipat kedua tangannya di dada.

Sorot mata Hesty kini berubah menjadi tajam juga lalu keluar ucapan yang membuat ku merinding.

"Aku kesini datang untuk membunuh mu" ucap Hesty namun suaranya seperti ada dua orang yang berbicara bersamaan..

Aku terkejut tidak percaya hingga dada ku terasa sesak. Entah apa salah dan dosa ku.
Akan tetapi Jaka Wardhana tertawa terbahak bahak mendengar ucapan tuan nya itu seolah puas .

"Dengarkan itu bocah tengik" ucap Jaka

"Apa salah ku Hesty ? Sampai kau ingin membunuhku ?" Tanyanku heran


"Kau... Sudah membuat hati ku sakit , Bagas . Tolong aku" ucap Hesty sambil menitikan air mata namun kini suaranya tidak seperti tadi yang bersuara dua

"Tolong ?" Gumam ku dalam hati

Tanpa pikir panjang aku melewati tangan Anna yang tadi menghalangi ku dan berlari ke arah Hesty segera menyerang Jaka warhdana ayang jelas jelas telah mempengaruhi Hesty selama ini.

Aku melompat dan hendak melakukan pukulan ke arah Jaka warhdana namun Jaka seolah tidak bergeming .

"Kakang , jangan ......" Teriak Anna

Senyum Jaka nampak jelas skeitka sebuah keris mengarah pada ku seolah gerakan tangan Jaka sangat cepat akan tetapi untungnya anna segera menangkap ku dan menarik tubuh ku ke belakang.

"Sudah kakang, kita harus pergi "

Seketika muncul lingkaran teleport dan menyedot tubuh ku.








Bersambung
hendrap77
viper990
Kurohige410
Kurohige410 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.