- Beranda
- Stories from the Heart
TEMBANG LARUNG MAYIT (HORROR, MISTERI)
...
TS
LiongMelfin
TEMBANG LARUNG MAYIT (HORROR, MISTERI)
Di dusun Tegalranti, tembang Jawa kuno terdengar setiap malam Jumat Kliwon dari dasar sendang yang disucikan. Tak ada yang berani mendengarkannya sampai habis—konon, bait terakhir membangkitkan mereka yang telah ditenggelamkan: mayat-mayat penari yang dikutuk tak bisa mati.
Arsad, seorang mahasiswa antropologi, datang untuk meneliti ritual larung mayit dan tembang kematian yang telah dilupakan. Tapi kedatangannya justru membuka segel kutukan yang selama ini dikunci oleh darah dan tembang.
Saat realitas mulai retak, dan suara-suara dari dalam air memanggil namanya, Arsad dihadapkan pada satu pilihan: berhenti menulis… atau ikut dituliskan dalam bait terakhir.
Tembang Larung Mayitadalah kisah horor gothic yang membaurkan budaya Jawa, mitos lokal, dan teror psikologis dalam narasi mencekam yang menghantui bahkan setelah cerita berakhir.
1. BAYANGAN YANG MENULIS DIRINYA SENDIRI
2. BAIT YANG DILUPAKAN
3. BAYANG YANG TERTINGGAL
4. BAYANG YANG TERTINGGAL (LANJUTAN)
5. BAYANG-BAYANG YANG TAK BISA LARUNGTEMBANG YANG TAK BISA DI DENGAR
6. PENCURI SUARA YANG MENGUNCI DUNIA
7. WARISAN YANG BERDENYUT
8. BAIT BISU YANG DIPILIH
9. LURAH, LONTAR, DAN LUKA YANG DISIMPAN
10. Gending yang Dilupakan, Tubuh yang Dikorbankan
11. Tunjung Ayu, Penari Istana yang Dilarung oleh Cahaya
12. Mereka yang Datang Tanpa Mendengar
13. Bait-bait Yang Di Gugat
14. Gending yang Menyebrang Batas

Arsad, seorang mahasiswa antropologi, datang untuk meneliti ritual larung mayit dan tembang kematian yang telah dilupakan. Tapi kedatangannya justru membuka segel kutukan yang selama ini dikunci oleh darah dan tembang.
Saat realitas mulai retak, dan suara-suara dari dalam air memanggil namanya, Arsad dihadapkan pada satu pilihan: berhenti menulis… atau ikut dituliskan dalam bait terakhir.
Tembang Larung Mayitadalah kisah horor gothic yang membaurkan budaya Jawa, mitos lokal, dan teror psikologis dalam narasi mencekam yang menghantui bahkan setelah cerita berakhir.
1. BAYANGAN YANG MENULIS DIRINYA SENDIRI
2. BAIT YANG DILUPAKAN
3. BAYANG YANG TERTINGGAL
4. BAYANG YANG TERTINGGAL (LANJUTAN)
5. BAYANG-BAYANG YANG TAK BISA LARUNGTEMBANG YANG TAK BISA DI DENGAR
6. PENCURI SUARA YANG MENGUNCI DUNIA
7. WARISAN YANG BERDENYUT
8. BAIT BISU YANG DIPILIH
9. LURAH, LONTAR, DAN LUKA YANG DISIMPAN
10. Gending yang Dilupakan, Tubuh yang Dikorbankan
11. Tunjung Ayu, Penari Istana yang Dilarung oleh Cahaya
12. Mereka yang Datang Tanpa Mendengar
13. Bait-bait Yang Di Gugat
14. Gending yang Menyebrang Batas

TEMBANG LARUNG MAYIT BY AMELIONG @OWNERLIEBI
Diubah oleh LiongMelfin 03-07-2025 22:34
bukhorigan dan 7 lainnya memberi reputasi
8
2.3K
45
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
LiongMelfin
#24
Gending yang Menyeberang Batas
Tiga hari setelah insiden panggung rubuh, desa kembali sunyi. Namun kali ini, bukan karena tembang telah berhenti, melainkan karena ia telah menemukan jalan keluar. Seperti air yang menembus retakan dinding tua, gending larung merambat lewat siaran, lewat potongan suara dalam video TikTok, lewat artikel berita yang dibacakan ulang di podcast. Tak ada yang tahu pasti bagaimana, tapi satu hal jelas: gamelan itu kini berdentang di luar desa. Bahkan di kamar-kamar kos mahasiswa, di lorong redaksi berita, di ruang editing video yang kedap suara.
Indra kembali ke Jakarta, membawa oleh-oleh yang tak ia minta: insomnia, suara gamelan di dalam telinga, dan lembar lontar yang muncul di saku jaketnya setiap pagi. Ia sudah buang tiga kali—dengan cara berbeda: dibakar, direndam, dan dikoyak. Tapi lembar itu selalu kembali, lengkap dengan tambahan baris baru. Baris keempat hari ini berbunyi:
“Jika kau masih merekam, maka baitmu belum selesai.”
Ia berhenti menyentuh laptop sejak itu.
Di salah satu stasiun TV nasional, editor bernama Lusi merasa ada sesuatu yang ganjil saat memotong footage pertunjukan larung. Meski berulang kali menghapus bagian yang dianggap tidak layak tayang—yakni saat aktris mendadak kejang di panggung—potongan itu terus muncul kembali di timeline. Yang membuatnya panik: suara latar berubah. Tidak ada lagi sorak penonton. Hanya satu suara perempuan yang lirih menyanyikan bait tembang... sambil menyebut nama lengkap Lusi.
Sementara itu, kota terdekat dari desa mulai menerima gelombang tamu misterius. Bukan wisatawan, tapi mereka yang datang dalam diam. Mereka bertanya ke warga: “Di mana kami bisa mendengar tembang asli?” Beberapa di antaranya datang dari luar negeri. Mereka membawa alat perekam, kamera 360 derajat, bahkan drone. Tapi mereka semua meninggalkan kota tanpa hasil. Dan dua di antaranya tak pernah pulang. Salah satunya ditemukan di kamar hotel, menggambar motif batik sendang dengan darah di dinding.
Di tengah kota itu, Arsad muncul kembali—bukan sebagai pemuda kebingungan seperti dulu, tapi sebagai pria yang tampak... kosong. Ia tak berbicara banyak. Ia menyewa kamar di losmen tua, dan setiap malam duduk di balkon menghadap bulan. Warga sekitar menyebutnya "Mas Gending", karena setiap malam terdengar suara tembang pelan dari kamar nomor 8. Mereka pikir itu rekaman. Tapi penjaga losmen bersumpah: kamar itu tidak memiliki listrik.
Di meja kecilnya, Arsad menyusun kembali naskah tembang yang pernah ia lihat di desa. Ia tidak menulis. Ia hanya memindahkan baris-baris yang muncul sendiri di kertas. Tangan kirinya gemetar setiap kali satu bait selesai. Tangan kanannya mulai mati rasa. Tapi ia terus duduk. Karena dalam setiap helaan napas, ia mendengar suara Tunjung Sekar berkata,
“Bait empat belas telah dibuka. Tapi bait lima belas hanya bisa ditulis oleh tubuh yang pernah menolak panggilan.”
Di desa, Kusumo mencoba membendung pengaruh luar. Ia menghapus semua akses internet desa, memutus sinyal, dan menyegel panggung bekas pertunjukan. Tapi ia lupa satu hal: tembang tidak butuh jaringan. Ia hidup di udara. Di bisikan. Bahkan di suara desahan yang keluar saat seseorang tertidur lelah di lantai rumah. Dan malam itu, bayi yang baru lahir di dusun Banyu Bening menangis tidak seperti biasa—tangisnya ritmis, berirama, seolah... menembang.
Bu Ratih mulai mencatat kejadian-kejadian kecil yang ia sebut “perambatan bait.” Ia menulis dalam lontar baru, tapi tak satupun bisa menyentuhnya selain dirinya. Dalam catatannya, ada pola: bait kelima belas tidak datang sebagai teks, tapi sebagai peristiwa. Ia berkata, “Kita tak bisa lagi menghalangi tembang. Tapi kita bisa memilih siapa yang jadi penafsirnya.” Dan ia tahu, hanya satu orang yang bisa: Arsad.
Kembali ke kota, Arsad menerima surat tanpa nama di bawah pintu losmennya. Isinya hanya dua kata: “Balik nulis.” Ia tertawa kecil—satu-satunya tawa yang keluar sejak ia pulang. Tapi ia tahu, ini bukan candaan. Di balik kata-kata itu, ada dendam. Ada luka. Dan ada panggilan untuk menyelesaikan cerita yang ia tinggalkan. Ia menyalakan lilin, mengeluarkan selembar kertas, dan mulai menulis bait kelima belas... dengan darah dari ujung jarinya sendiri.
Kalimat pertama dari bait kelima belas terbentuk:
“Jika bait ini dibaca oleh yang tak terpilih, maka dunia akan bernyanyi dengan suara air yang tak mengenal dasar.”
Dan malam itu, di kota yang tidak pernah tahu tembang, terdengar suara gamelan dari dalam selokan.
Seiring menyebarnya cerita tembang larung lewat media dan mulut ke mulut, lahirlah kelompok-kelompok kecil yang menyebut diri mereka Sahabat Bait. Mereka adalah orang-orang yang percaya bahwa tembang tersebut bukan sekadar kisah mistik lokal, melainkan wahyu budaya yang tertunda. Beberapa dari mereka mulai menggelar “malam tembang” di kafe, memutar rekaman suara gamelan dari acara yang viral itu. Tapi satu demi satu, tempat itu ditutup paksa. Bukan oleh polisi. Tapi oleh fenomena yang tak bisa dijelaskan: air keran berdarah, tembok retak membentuk aksara Jawa, dan suara nyanyian yang tak bisa dimatikan meski listrik padam.
Di antara penggemar tembang, muncul figur karismatik: seorang ustaz muda bernama Habib Rauf. Ia tampil di berbagai kanal YouTube, mengaku bisa menafsirkan tembang dari sisi spiritual keislaman. “Tembang larung adalah bagian dari sejarah kebatinan Nusantara yang harus disucikan kembali,” katanya. Ia menyerukan ajakan “penyucian sendang”, menyebut bait-bait tembang sebagai ‘penggoda iman’ yang menyamar dalam suara merdu. Anehnya, setiap kali ia menyebut nama “Tunjung Sekar”, mikrofon di depannya selalu mengeluarkan dengung aneh, dan sinyal siaran terputus selama beberapa detik.
Sementara itu, seorang politisi tua yang dulu mencibir budaya lokal, kini mendirikan proyek “Pelestarian Tembang Nusantara” dengan dana APBN. Ia menyewa penari dari akademi seni, memaksa mereka mempelajari tembang larung dengan tujuan pertunjukan nasional. Tapi hasilnya mengerikan: dua penari pingsan tanpa sebab, satu mengalami kelumpuhan separuh wajah, dan satu lagi terus bergumam bait tak dikenal hingga dicekik oleh tim medis sendiri. "Bait itu hidup," desahnya sebelum koma. Tapi semua itu ditutup dalam konferensi pers sebagai “kecelakaan artistik.”
Di sebuah pesantren di pinggir kota, seorang santri kesurupan setelah membaca lontar digital yang tersebar di grup WhatsApp. Ia berteriak dalam bahasa Jawa Kuno, lalu tertawa seperti wayang buta. Saat sadar, ia hanya mengucapkan satu kalimat:
“Bait kelima belas tak bisa dibacakan oleh lidah yang belum pernah merasakan air sendang.”
Sejak malam itu, air wudhu di pesantren itu berubah warna kehijauan. Para kyai bingung. Tapi para santri mulai bermimpi tentang panggung, gamelan, dan perempuan yang menari di balik tabir.
Di tengah kekacauan itu, Arsad mendadak menghilang dari losmen. Penjaga menemukan kamarnya terkunci dari dalam, tetapi kosong saat dibuka. Di meja, hanya tersisa lontar yang menuliskan baris baru:
“Jangan cari aku. Aku telah menjadi bait.”
Namun yang aneh, seorang warga kota melihat sosok Arsad duduk di stasiun kereta, mengenakan kebaya putih dan wajahnya berubah... menjadi Tunjung Sekar.
Bu Ratih, yang mendengar semua ini dari radio gelombang pendek, hanya menghela napas. Ia tahu: tembang tak lagi milik desa. Tapi bukan berarti desa bisa lari. Ia mulai menulis kembali bait-bait pelindung di dinding rumahnya, menyusun sesaji, dan menyuruh semua anak-anak kecil menghafal lagu penolak larung. Bukan untuk membatalkan tembang, tapi untuk mengingatkan: setiap bait punya harga. Dan generasi selanjutnya harus tahu kapan harus berhenti menyanyi.
Kusumo kembali ke kota, membawa satu tujuan: mencari pangkal penyebaran. Ia mendatangi studio, kantor media, bahkan stasiun TV. Tapi semua orang yang ia temui berkata sama: “Kami hanya menyalin. Aslinya sudah ada lebih dulu.” Ia menemukan hard drive tua yang menyimpan video pertama pertunjukan larung. Tapi saat dibuka, file itu tak berisi rekaman… melainkan gambar diam: potret dirinya sendiri berdiri di tepi sendang. Padahal ia yakin, malam itu... ia tak pernah ke sana.
Indra, jurnalis yang dulu jadi saksi awal, kini tinggal di rumah sakit jiwa. Ia terus menggambar lingkaran gamelan di dinding. Perawatnya berkata, “Dia berbicara dengan bayangan sendiri.” Tapi tak ada yang tahu, bahwa suara yang ia dengar bukan delusi. Itu suara asli tembang yang belum selesai. Dan di satu malam, ia menggambar bait keenam belas... yang belum ditulis siapa pun.
Di desa, air sendang mulai surut. Tapi bukan karena kemarau. Dasarnya mulai terlihat, menunjukkan ukiran-ukiran batu seperti candi yang belum selesai dibangun. Warga mulai mendengar suara-suara dari dasar air. Bukan gamelan. Tapi suara langkah... seolah seseorang berjalan perlahan dari bawah sana, menaiki tangga waktu. “Tunjung Sekar tidak sendiri,” kata Mbok Jirah gemetar. “Ada penari lain yang ditinggal. Dan kini mereka menuntut panggung mereka kembali.”
Di sebuah kota jauh, seorang anak kecil tiba-tiba menyanyikan bait keempat. Padahal ia tak bisa bahasa Jawa. Ia tak pernah ke desa. Tapi ibunya melihat sesuatu: anaknya menyanyi sambil menari... dengan langkah yang sama seperti Tunjung Sekar dalam lontar lama. Anak itu lalu berkata pelan, “Ibu... aku dapat undangan dari tembang.”
Dan saat itu, di berbagai penjuru negeri, jam digital mulai rusak... semua menunjukkan waktu yang sama: 18:88.
Waktu yang tak pernah ada.
Waktu milik bait yang tak selesai.
Di kota tua sebelah utara, sekelompok orang bertudung hitam berkumpul di sebuah gedung bekas bioskop yang tak lagi beroperasi sejak tahun 2001. Mereka menyebut diri sebagai Paguyuban Laras Wengi—sekte modern yang percaya bahwa tembang larung adalah jalan menuju “kesadaran abadi.” Di tengah ruangan mereka, tergantung satu lembar lontar asli, dengan bagian tengah dibakar membentuk lubang, dan di sekelilingnya ditulis dengan darah: “Yang tak menari, akan diseret dalam tidur.”
Pemimpin sekte itu bernama Nyai Nirwana—mantan dosen etnomusikologi yang menghilang selama empat tahun dan kini kembali dengan mata yang tak pernah berkedip. Ia mengajarkan bahwa bait kelima belas adalah naskah akhir dunia, dan setiap kali seseorang membaca bait itu, satu penari akan dibangkitkan. “Dunia akan bergoyang di ujung suara kendang terakhir,” katanya pelan, sambil memukul kendi berisi air sendang yang diambil secara terlarang dari desa Wiragati.
Di sisi lain kota, Kusumo—yang kini menganggap dirinya satu-satunya pewaris sah kunci bait—mendirikan Forum Penjaga Tembang bersama Bu Ratih. Mereka mengumpulkan saksi, penulis lontar, penggiat budaya, bahkan paranormal, dalam satu rumah joglo di pinggiran kota. Tujuannya bukan sekadar menyegel tembang, tapi memahami bagaimana bait itu memilih korbannya. Dalam rapat perdana, Bu Ratih menggambarkan sketsa penari lama selain Tunjung Sekar—nama-nama yang bahkan tak ada dalam arsip sejarah, tapi kini mulai bermunculan dalam mimpi banyak orang.
“Kita tak sedang menghadapi hantu,” kata Kusumo dalam pertemuan itu, “tapi sedang didekati oleh naskah yang menulis dirinya sendiri. Dan naskah ini tak bisa dibakar.” Ia menunjuk ke lontar yang semalam coba ia bakar. Lembar itu hanya menghitam, namun tidak hangus. Dan saat pagi tiba, tulisan baru muncul di permukaannya:
“Aku tak ingin dilupakan. Aku ingin ditonton… sampai habis.”
Sekte Laras Wengi mulai melakukan ritual langsung: menggelar pertunjukan rahasia di gedung tua dengan penari-penari trans yang menari tanpa musik. Anehnya, gerakan mereka selalu sinkron. Mereka tak pernah berlatih. Dalam salah satu video bocor yang beredar di forum gelap, seorang penari tiba-tiba berhenti, berteriak, lalu jatuh dengan wajah membeku. Dari mulutnya keluar air sendang. Tak ada yang bisa menjelaskan bagaimana air itu sampai ke sana. Video itu hilang dari internet keesokan harinya.
Di kantor berita nasional, seorang reporter yang menulis tentang Laras Wengi mendadak hilang. Di mejanya ditemukan memo kecil bertuliskan:
“Aku sedang belajar menari. Jangan dicari.”
Di komputernya, wallpaper berubah menjadi gambar sendang Wiragati... tapi berwarna merah darah, dengan pantulan wajah penari yang bukan dari dunia ini.
Bu Ratih merasa waktunya semakin sempit. Ia menyusun “naskah penolak bait”, berisi serangkaian tembang tandingan yang dulu hanya dinyanyikan para penjaga ritual. Tapi ia tahu, kekuatannya lemah. Karena bait larung lahir dari luka, sementara tembang penolak lahir dari ketakutan. Dan dalam dunia ini, luka selalu bersuara lebih nyaring.
Dalam pertemuan rahasia, Kusumo mengusulkan satu hal ekstrem: memanggil kembali Arsad. Mereka yakin hanya dia yang bisa menulis ulang bait kelima belas ke dalam bentuk akhir: naskah penutup. Tapi bagaimana jika Arsad bukan lagi dirinya sendiri? “Kalau dia sudah jadi bagian dari bait, maka ia bisa jadi pena… atau jadi pelantun terakhir,” kata Bu Ratih. Namun pilihan itu tetap harus diambil.
Di tempat lain, seorang penari jalanan bernama Sekar Ayu mendadak viral karena gerakannya yang mirip dengan penari dalam lontar. Banyak yang mengira ia kerasukan. Tapi ia hanya bilang, “Aku diajak mimpi oleh seseorang bersanggul, dan dia berkata: ‘teruskan tarianku, jangan biarkan mereka berhenti di bait kelima belas’.” Sekar Ayu mulai menari tiap malam di perempatan lampu merah. Tapi setelah malam ketiga, lampu lalu lintas rusak, dan empat kecelakaan terjadi secara bersamaan.
Malam itu, jam digital kota besar kembali menunjukkan angka aneh: 18:88. Mereka yang bermimpi serempak mendengar suara yang sama—gamelan retak, suara sinden tua, dan bisikan seorang perempuan:
“Bait ke-16 hanya untuk yang siap menjadi panggung.
Bait ke-17 hanya untuk yang rela lenyap.”
Dan satu per satu, orang-orang yang pernah menyaksikan pertunjukan larung mulai menghilang dari kehidupan… tapi muncul kembali dalam bait baru yang terus tumbuh di lembar lontar tak bertuan.
Forum Penjaga Tembang menggelar ritual terakhir di padepokan tua. Tujuannya: menuliskan bait ke-16 sebagai segel penutup. Tapi saat seorang anggota bernama Desti kerasukan dan melantunkan tembang asing, lontar tempat menulis bait itu terbakar sendiri. “Itu bukan bait keenam belas… tapi keenam belas setengah,” desah Kusumo. Naskah itu tidak mau ditulis—ia menulis dirinya sendiri.
Sementara itu, sekte Laras Wengi menggelar pertunjukan rahasia di basement hotel kosong. Para penonton yang live streaming menyaksikan penari-penari kerasukan. Salah satu influencer merekam momen saat darah menetes dari matanya—dan dari mulutnya keluar air sendang. Video itu lenyap, tapi suara gamelan tetap muncul di jam 18:88.
Fenomena ini meluas secara nasional. Di sekolah-sekolah, anak-anak menggambar panggung dan penari yang sama. Dua guru besar menghilang. Pemerintah membentuk tim “Penelusuran Warisan Tembang,” tapi isinya diam-diam terdiri dari orang-orang yang sudah mendengar bait kelima belas… dan ingin menyelesaikannya.
Sendang Wiragati berubah. Kabut menetap. Bayangan mendahului tubuh. Airnya memperlihatkan dunia lain: panggung abadi, penari tanpa kepala. Kusumo dan Bu Ratih mencoba mengubur lontar, tapi air menyanyikan bait tak dikenal. “Kita sedang dibaca,” bisik Kusumo. “Kita ini tokohnya.”
Fenomena global muncul: seorang anak Jepang bernama Keiji menari dengan mata tertutup dan menulis aksara Jawa. Ia berkata, “Aku hanya meminjam tubuh ini untuk menyelesaikan tarian.” Di kota-kota besar, layar iklan menampilkan penari tanpa wajah dan kalimat:
“Pertunjukan dimulai saat kau memejamkan mata.”
Sekte Laras Wengi lenyap tanpa jejak, menyisakan panggung tua berdarah dan naskah yang menulis sendiri. Seorang anak punk yang menyusup ke dalam sekte ditemukan tewas—kulit tubuhnya dipenuhi aksara: bait keenam belas penuh. Lainnya hanya tersisa dalam posisi duduk menghadap panggung… sambil tersenyum kosong.
Bu Ratih dan Kusumo menyadari bait ke-17 telah muncul. Namun setiap orang mendengar versi berbeda: satu menyuruh menari, satu menyuruh menulis, dan satu menyuruh tenggelam. Dunia terbelah dalam tiga pilihan. Dan Arsad, yang lama menghilang, muncul di layar siaran berita sebagai bayangan. Ia menunjuk kamera, lalu siaran mati. Komputer redaksi hanya menyisakan satu file:
Di tengah kekacauan, rumah ibadah penuh, bukan oleh pemuja, tapi tubuh-tubuh bisu yang menari dengan mata kosong. Pemerintah tak bisa berbuat apa-apa. Tembang berhenti malam itu, bukan karena selesai… tapi karena semua pendengarnya telah jadi bagian dari naskahnya.
Lautan air sendang surut, menyisakan panggung batu di tengah tanah retak. Dan di atasnya, satu lontar baru terbuka sendiri, halaman pertama bertuliskan:
“Bait ke-18: Tembang yang Ditulis oleh Penonton.”
Dan gamelan kembali berbunyi. Tak dari panggung. Tapi dari dalam kepala mereka.
Indra kembali ke Jakarta, membawa oleh-oleh yang tak ia minta: insomnia, suara gamelan di dalam telinga, dan lembar lontar yang muncul di saku jaketnya setiap pagi. Ia sudah buang tiga kali—dengan cara berbeda: dibakar, direndam, dan dikoyak. Tapi lembar itu selalu kembali, lengkap dengan tambahan baris baru. Baris keempat hari ini berbunyi:
“Jika kau masih merekam, maka baitmu belum selesai.”
Ia berhenti menyentuh laptop sejak itu.
Di salah satu stasiun TV nasional, editor bernama Lusi merasa ada sesuatu yang ganjil saat memotong footage pertunjukan larung. Meski berulang kali menghapus bagian yang dianggap tidak layak tayang—yakni saat aktris mendadak kejang di panggung—potongan itu terus muncul kembali di timeline. Yang membuatnya panik: suara latar berubah. Tidak ada lagi sorak penonton. Hanya satu suara perempuan yang lirih menyanyikan bait tembang... sambil menyebut nama lengkap Lusi.
Sementara itu, kota terdekat dari desa mulai menerima gelombang tamu misterius. Bukan wisatawan, tapi mereka yang datang dalam diam. Mereka bertanya ke warga: “Di mana kami bisa mendengar tembang asli?” Beberapa di antaranya datang dari luar negeri. Mereka membawa alat perekam, kamera 360 derajat, bahkan drone. Tapi mereka semua meninggalkan kota tanpa hasil. Dan dua di antaranya tak pernah pulang. Salah satunya ditemukan di kamar hotel, menggambar motif batik sendang dengan darah di dinding.
Di tengah kota itu, Arsad muncul kembali—bukan sebagai pemuda kebingungan seperti dulu, tapi sebagai pria yang tampak... kosong. Ia tak berbicara banyak. Ia menyewa kamar di losmen tua, dan setiap malam duduk di balkon menghadap bulan. Warga sekitar menyebutnya "Mas Gending", karena setiap malam terdengar suara tembang pelan dari kamar nomor 8. Mereka pikir itu rekaman. Tapi penjaga losmen bersumpah: kamar itu tidak memiliki listrik.
Di meja kecilnya, Arsad menyusun kembali naskah tembang yang pernah ia lihat di desa. Ia tidak menulis. Ia hanya memindahkan baris-baris yang muncul sendiri di kertas. Tangan kirinya gemetar setiap kali satu bait selesai. Tangan kanannya mulai mati rasa. Tapi ia terus duduk. Karena dalam setiap helaan napas, ia mendengar suara Tunjung Sekar berkata,
“Bait empat belas telah dibuka. Tapi bait lima belas hanya bisa ditulis oleh tubuh yang pernah menolak panggilan.”
Di desa, Kusumo mencoba membendung pengaruh luar. Ia menghapus semua akses internet desa, memutus sinyal, dan menyegel panggung bekas pertunjukan. Tapi ia lupa satu hal: tembang tidak butuh jaringan. Ia hidup di udara. Di bisikan. Bahkan di suara desahan yang keluar saat seseorang tertidur lelah di lantai rumah. Dan malam itu, bayi yang baru lahir di dusun Banyu Bening menangis tidak seperti biasa—tangisnya ritmis, berirama, seolah... menembang.
Bu Ratih mulai mencatat kejadian-kejadian kecil yang ia sebut “perambatan bait.” Ia menulis dalam lontar baru, tapi tak satupun bisa menyentuhnya selain dirinya. Dalam catatannya, ada pola: bait kelima belas tidak datang sebagai teks, tapi sebagai peristiwa. Ia berkata, “Kita tak bisa lagi menghalangi tembang. Tapi kita bisa memilih siapa yang jadi penafsirnya.” Dan ia tahu, hanya satu orang yang bisa: Arsad.
Kembali ke kota, Arsad menerima surat tanpa nama di bawah pintu losmennya. Isinya hanya dua kata: “Balik nulis.” Ia tertawa kecil—satu-satunya tawa yang keluar sejak ia pulang. Tapi ia tahu, ini bukan candaan. Di balik kata-kata itu, ada dendam. Ada luka. Dan ada panggilan untuk menyelesaikan cerita yang ia tinggalkan. Ia menyalakan lilin, mengeluarkan selembar kertas, dan mulai menulis bait kelima belas... dengan darah dari ujung jarinya sendiri.
Kalimat pertama dari bait kelima belas terbentuk:
“Jika bait ini dibaca oleh yang tak terpilih, maka dunia akan bernyanyi dengan suara air yang tak mengenal dasar.”
Dan malam itu, di kota yang tidak pernah tahu tembang, terdengar suara gamelan dari dalam selokan.
Seiring menyebarnya cerita tembang larung lewat media dan mulut ke mulut, lahirlah kelompok-kelompok kecil yang menyebut diri mereka Sahabat Bait. Mereka adalah orang-orang yang percaya bahwa tembang tersebut bukan sekadar kisah mistik lokal, melainkan wahyu budaya yang tertunda. Beberapa dari mereka mulai menggelar “malam tembang” di kafe, memutar rekaman suara gamelan dari acara yang viral itu. Tapi satu demi satu, tempat itu ditutup paksa. Bukan oleh polisi. Tapi oleh fenomena yang tak bisa dijelaskan: air keran berdarah, tembok retak membentuk aksara Jawa, dan suara nyanyian yang tak bisa dimatikan meski listrik padam.
Di antara penggemar tembang, muncul figur karismatik: seorang ustaz muda bernama Habib Rauf. Ia tampil di berbagai kanal YouTube, mengaku bisa menafsirkan tembang dari sisi spiritual keislaman. “Tembang larung adalah bagian dari sejarah kebatinan Nusantara yang harus disucikan kembali,” katanya. Ia menyerukan ajakan “penyucian sendang”, menyebut bait-bait tembang sebagai ‘penggoda iman’ yang menyamar dalam suara merdu. Anehnya, setiap kali ia menyebut nama “Tunjung Sekar”, mikrofon di depannya selalu mengeluarkan dengung aneh, dan sinyal siaran terputus selama beberapa detik.
Sementara itu, seorang politisi tua yang dulu mencibir budaya lokal, kini mendirikan proyek “Pelestarian Tembang Nusantara” dengan dana APBN. Ia menyewa penari dari akademi seni, memaksa mereka mempelajari tembang larung dengan tujuan pertunjukan nasional. Tapi hasilnya mengerikan: dua penari pingsan tanpa sebab, satu mengalami kelumpuhan separuh wajah, dan satu lagi terus bergumam bait tak dikenal hingga dicekik oleh tim medis sendiri. "Bait itu hidup," desahnya sebelum koma. Tapi semua itu ditutup dalam konferensi pers sebagai “kecelakaan artistik.”
Di sebuah pesantren di pinggir kota, seorang santri kesurupan setelah membaca lontar digital yang tersebar di grup WhatsApp. Ia berteriak dalam bahasa Jawa Kuno, lalu tertawa seperti wayang buta. Saat sadar, ia hanya mengucapkan satu kalimat:
“Bait kelima belas tak bisa dibacakan oleh lidah yang belum pernah merasakan air sendang.”
Sejak malam itu, air wudhu di pesantren itu berubah warna kehijauan. Para kyai bingung. Tapi para santri mulai bermimpi tentang panggung, gamelan, dan perempuan yang menari di balik tabir.
Di tengah kekacauan itu, Arsad mendadak menghilang dari losmen. Penjaga menemukan kamarnya terkunci dari dalam, tetapi kosong saat dibuka. Di meja, hanya tersisa lontar yang menuliskan baris baru:
“Jangan cari aku. Aku telah menjadi bait.”
Namun yang aneh, seorang warga kota melihat sosok Arsad duduk di stasiun kereta, mengenakan kebaya putih dan wajahnya berubah... menjadi Tunjung Sekar.
Bu Ratih, yang mendengar semua ini dari radio gelombang pendek, hanya menghela napas. Ia tahu: tembang tak lagi milik desa. Tapi bukan berarti desa bisa lari. Ia mulai menulis kembali bait-bait pelindung di dinding rumahnya, menyusun sesaji, dan menyuruh semua anak-anak kecil menghafal lagu penolak larung. Bukan untuk membatalkan tembang, tapi untuk mengingatkan: setiap bait punya harga. Dan generasi selanjutnya harus tahu kapan harus berhenti menyanyi.
Kusumo kembali ke kota, membawa satu tujuan: mencari pangkal penyebaran. Ia mendatangi studio, kantor media, bahkan stasiun TV. Tapi semua orang yang ia temui berkata sama: “Kami hanya menyalin. Aslinya sudah ada lebih dulu.” Ia menemukan hard drive tua yang menyimpan video pertama pertunjukan larung. Tapi saat dibuka, file itu tak berisi rekaman… melainkan gambar diam: potret dirinya sendiri berdiri di tepi sendang. Padahal ia yakin, malam itu... ia tak pernah ke sana.
Indra, jurnalis yang dulu jadi saksi awal, kini tinggal di rumah sakit jiwa. Ia terus menggambar lingkaran gamelan di dinding. Perawatnya berkata, “Dia berbicara dengan bayangan sendiri.” Tapi tak ada yang tahu, bahwa suara yang ia dengar bukan delusi. Itu suara asli tembang yang belum selesai. Dan di satu malam, ia menggambar bait keenam belas... yang belum ditulis siapa pun.
Di desa, air sendang mulai surut. Tapi bukan karena kemarau. Dasarnya mulai terlihat, menunjukkan ukiran-ukiran batu seperti candi yang belum selesai dibangun. Warga mulai mendengar suara-suara dari dasar air. Bukan gamelan. Tapi suara langkah... seolah seseorang berjalan perlahan dari bawah sana, menaiki tangga waktu. “Tunjung Sekar tidak sendiri,” kata Mbok Jirah gemetar. “Ada penari lain yang ditinggal. Dan kini mereka menuntut panggung mereka kembali.”
Di sebuah kota jauh, seorang anak kecil tiba-tiba menyanyikan bait keempat. Padahal ia tak bisa bahasa Jawa. Ia tak pernah ke desa. Tapi ibunya melihat sesuatu: anaknya menyanyi sambil menari... dengan langkah yang sama seperti Tunjung Sekar dalam lontar lama. Anak itu lalu berkata pelan, “Ibu... aku dapat undangan dari tembang.”
Dan saat itu, di berbagai penjuru negeri, jam digital mulai rusak... semua menunjukkan waktu yang sama: 18:88.
Waktu yang tak pernah ada.
Waktu milik bait yang tak selesai.
Di kota tua sebelah utara, sekelompok orang bertudung hitam berkumpul di sebuah gedung bekas bioskop yang tak lagi beroperasi sejak tahun 2001. Mereka menyebut diri sebagai Paguyuban Laras Wengi—sekte modern yang percaya bahwa tembang larung adalah jalan menuju “kesadaran abadi.” Di tengah ruangan mereka, tergantung satu lembar lontar asli, dengan bagian tengah dibakar membentuk lubang, dan di sekelilingnya ditulis dengan darah: “Yang tak menari, akan diseret dalam tidur.”
Pemimpin sekte itu bernama Nyai Nirwana—mantan dosen etnomusikologi yang menghilang selama empat tahun dan kini kembali dengan mata yang tak pernah berkedip. Ia mengajarkan bahwa bait kelima belas adalah naskah akhir dunia, dan setiap kali seseorang membaca bait itu, satu penari akan dibangkitkan. “Dunia akan bergoyang di ujung suara kendang terakhir,” katanya pelan, sambil memukul kendi berisi air sendang yang diambil secara terlarang dari desa Wiragati.
Di sisi lain kota, Kusumo—yang kini menganggap dirinya satu-satunya pewaris sah kunci bait—mendirikan Forum Penjaga Tembang bersama Bu Ratih. Mereka mengumpulkan saksi, penulis lontar, penggiat budaya, bahkan paranormal, dalam satu rumah joglo di pinggiran kota. Tujuannya bukan sekadar menyegel tembang, tapi memahami bagaimana bait itu memilih korbannya. Dalam rapat perdana, Bu Ratih menggambarkan sketsa penari lama selain Tunjung Sekar—nama-nama yang bahkan tak ada dalam arsip sejarah, tapi kini mulai bermunculan dalam mimpi banyak orang.
“Kita tak sedang menghadapi hantu,” kata Kusumo dalam pertemuan itu, “tapi sedang didekati oleh naskah yang menulis dirinya sendiri. Dan naskah ini tak bisa dibakar.” Ia menunjuk ke lontar yang semalam coba ia bakar. Lembar itu hanya menghitam, namun tidak hangus. Dan saat pagi tiba, tulisan baru muncul di permukaannya:
“Aku tak ingin dilupakan. Aku ingin ditonton… sampai habis.”
Sekte Laras Wengi mulai melakukan ritual langsung: menggelar pertunjukan rahasia di gedung tua dengan penari-penari trans yang menari tanpa musik. Anehnya, gerakan mereka selalu sinkron. Mereka tak pernah berlatih. Dalam salah satu video bocor yang beredar di forum gelap, seorang penari tiba-tiba berhenti, berteriak, lalu jatuh dengan wajah membeku. Dari mulutnya keluar air sendang. Tak ada yang bisa menjelaskan bagaimana air itu sampai ke sana. Video itu hilang dari internet keesokan harinya.
Di kantor berita nasional, seorang reporter yang menulis tentang Laras Wengi mendadak hilang. Di mejanya ditemukan memo kecil bertuliskan:
“Aku sedang belajar menari. Jangan dicari.”
Di komputernya, wallpaper berubah menjadi gambar sendang Wiragati... tapi berwarna merah darah, dengan pantulan wajah penari yang bukan dari dunia ini.
Bu Ratih merasa waktunya semakin sempit. Ia menyusun “naskah penolak bait”, berisi serangkaian tembang tandingan yang dulu hanya dinyanyikan para penjaga ritual. Tapi ia tahu, kekuatannya lemah. Karena bait larung lahir dari luka, sementara tembang penolak lahir dari ketakutan. Dan dalam dunia ini, luka selalu bersuara lebih nyaring.
Dalam pertemuan rahasia, Kusumo mengusulkan satu hal ekstrem: memanggil kembali Arsad. Mereka yakin hanya dia yang bisa menulis ulang bait kelima belas ke dalam bentuk akhir: naskah penutup. Tapi bagaimana jika Arsad bukan lagi dirinya sendiri? “Kalau dia sudah jadi bagian dari bait, maka ia bisa jadi pena… atau jadi pelantun terakhir,” kata Bu Ratih. Namun pilihan itu tetap harus diambil.
Di tempat lain, seorang penari jalanan bernama Sekar Ayu mendadak viral karena gerakannya yang mirip dengan penari dalam lontar. Banyak yang mengira ia kerasukan. Tapi ia hanya bilang, “Aku diajak mimpi oleh seseorang bersanggul, dan dia berkata: ‘teruskan tarianku, jangan biarkan mereka berhenti di bait kelima belas’.” Sekar Ayu mulai menari tiap malam di perempatan lampu merah. Tapi setelah malam ketiga, lampu lalu lintas rusak, dan empat kecelakaan terjadi secara bersamaan.
Malam itu, jam digital kota besar kembali menunjukkan angka aneh: 18:88. Mereka yang bermimpi serempak mendengar suara yang sama—gamelan retak, suara sinden tua, dan bisikan seorang perempuan:
“Bait ke-16 hanya untuk yang siap menjadi panggung.
Bait ke-17 hanya untuk yang rela lenyap.”
Dan satu per satu, orang-orang yang pernah menyaksikan pertunjukan larung mulai menghilang dari kehidupan… tapi muncul kembali dalam bait baru yang terus tumbuh di lembar lontar tak bertuan.
Forum Penjaga Tembang menggelar ritual terakhir di padepokan tua. Tujuannya: menuliskan bait ke-16 sebagai segel penutup. Tapi saat seorang anggota bernama Desti kerasukan dan melantunkan tembang asing, lontar tempat menulis bait itu terbakar sendiri. “Itu bukan bait keenam belas… tapi keenam belas setengah,” desah Kusumo. Naskah itu tidak mau ditulis—ia menulis dirinya sendiri.
Sementara itu, sekte Laras Wengi menggelar pertunjukan rahasia di basement hotel kosong. Para penonton yang live streaming menyaksikan penari-penari kerasukan. Salah satu influencer merekam momen saat darah menetes dari matanya—dan dari mulutnya keluar air sendang. Video itu lenyap, tapi suara gamelan tetap muncul di jam 18:88.
Fenomena ini meluas secara nasional. Di sekolah-sekolah, anak-anak menggambar panggung dan penari yang sama. Dua guru besar menghilang. Pemerintah membentuk tim “Penelusuran Warisan Tembang,” tapi isinya diam-diam terdiri dari orang-orang yang sudah mendengar bait kelima belas… dan ingin menyelesaikannya.
Sendang Wiragati berubah. Kabut menetap. Bayangan mendahului tubuh. Airnya memperlihatkan dunia lain: panggung abadi, penari tanpa kepala. Kusumo dan Bu Ratih mencoba mengubur lontar, tapi air menyanyikan bait tak dikenal. “Kita sedang dibaca,” bisik Kusumo. “Kita ini tokohnya.”
Fenomena global muncul: seorang anak Jepang bernama Keiji menari dengan mata tertutup dan menulis aksara Jawa. Ia berkata, “Aku hanya meminjam tubuh ini untuk menyelesaikan tarian.” Di kota-kota besar, layar iklan menampilkan penari tanpa wajah dan kalimat:
“Pertunjukan dimulai saat kau memejamkan mata.”
Sekte Laras Wengi lenyap tanpa jejak, menyisakan panggung tua berdarah dan naskah yang menulis sendiri. Seorang anak punk yang menyusup ke dalam sekte ditemukan tewas—kulit tubuhnya dipenuhi aksara: bait keenam belas penuh. Lainnya hanya tersisa dalam posisi duduk menghadap panggung… sambil tersenyum kosong.
Bu Ratih dan Kusumo menyadari bait ke-17 telah muncul. Namun setiap orang mendengar versi berbeda: satu menyuruh menari, satu menyuruh menulis, dan satu menyuruh tenggelam. Dunia terbelah dalam tiga pilihan. Dan Arsad, yang lama menghilang, muncul di layar siaran berita sebagai bayangan. Ia menunjuk kamera, lalu siaran mati. Komputer redaksi hanya menyisakan satu file:
Code:
Bait_17_FINAL.mkv
Di tengah kekacauan, rumah ibadah penuh, bukan oleh pemuja, tapi tubuh-tubuh bisu yang menari dengan mata kosong. Pemerintah tak bisa berbuat apa-apa. Tembang berhenti malam itu, bukan karena selesai… tapi karena semua pendengarnya telah jadi bagian dari naskahnya.
Lautan air sendang surut, menyisakan panggung batu di tengah tanah retak. Dan di atasnya, satu lontar baru terbuka sendiri, halaman pertama bertuliskan:
“Bait ke-18: Tembang yang Ditulis oleh Penonton.”
Dan gamelan kembali berbunyi. Tak dari panggung. Tapi dari dalam kepala mereka.
0