- Beranda
- Stories from the Heart
TEMBANG LARUNG MAYIT (HORROR, MISTERI)
...
TS
LiongMelfin
TEMBANG LARUNG MAYIT (HORROR, MISTERI)
Di dusun Tegalranti, tembang Jawa kuno terdengar setiap malam Jumat Kliwon dari dasar sendang yang disucikan. Tak ada yang berani mendengarkannya sampai habis—konon, bait terakhir membangkitkan mereka yang telah ditenggelamkan: mayat-mayat penari yang dikutuk tak bisa mati.
Arsad, seorang mahasiswa antropologi, datang untuk meneliti ritual larung mayit dan tembang kematian yang telah dilupakan. Tapi kedatangannya justru membuka segel kutukan yang selama ini dikunci oleh darah dan tembang.
Saat realitas mulai retak, dan suara-suara dari dalam air memanggil namanya, Arsad dihadapkan pada satu pilihan: berhenti menulis… atau ikut dituliskan dalam bait terakhir.
Tembang Larung Mayitadalah kisah horor gothic yang membaurkan budaya Jawa, mitos lokal, dan teror psikologis dalam narasi mencekam yang menghantui bahkan setelah cerita berakhir.
1. BAYANGAN YANG MENULIS DIRINYA SENDIRI
2. BAIT YANG DILUPAKAN
3. BAYANG YANG TERTINGGAL
4. BAYANG YANG TERTINGGAL (LANJUTAN)
5. BAYANG-BAYANG YANG TAK BISA LARUNGTEMBANG YANG TAK BISA DI DENGAR
6. PENCURI SUARA YANG MENGUNCI DUNIA
7. WARISAN YANG BERDENYUT
8. BAIT BISU YANG DIPILIH
9. LURAH, LONTAR, DAN LUKA YANG DISIMPAN
10. Gending yang Dilupakan, Tubuh yang Dikorbankan
11. Tunjung Ayu, Penari Istana yang Dilarung oleh Cahaya
12. Mereka yang Datang Tanpa Mendengar
13. Bait-bait Yang Di Gugat
14. Gending yang Menyebrang Batas

Arsad, seorang mahasiswa antropologi, datang untuk meneliti ritual larung mayit dan tembang kematian yang telah dilupakan. Tapi kedatangannya justru membuka segel kutukan yang selama ini dikunci oleh darah dan tembang.
Saat realitas mulai retak, dan suara-suara dari dalam air memanggil namanya, Arsad dihadapkan pada satu pilihan: berhenti menulis… atau ikut dituliskan dalam bait terakhir.
Tembang Larung Mayitadalah kisah horor gothic yang membaurkan budaya Jawa, mitos lokal, dan teror psikologis dalam narasi mencekam yang menghantui bahkan setelah cerita berakhir.
1. BAYANGAN YANG MENULIS DIRINYA SENDIRI
2. BAIT YANG DILUPAKAN
3. BAYANG YANG TERTINGGAL
4. BAYANG YANG TERTINGGAL (LANJUTAN)
5. BAYANG-BAYANG YANG TAK BISA LARUNGTEMBANG YANG TAK BISA DI DENGAR
6. PENCURI SUARA YANG MENGUNCI DUNIA
7. WARISAN YANG BERDENYUT
8. BAIT BISU YANG DIPILIH
9. LURAH, LONTAR, DAN LUKA YANG DISIMPAN
10. Gending yang Dilupakan, Tubuh yang Dikorbankan
11. Tunjung Ayu, Penari Istana yang Dilarung oleh Cahaya
12. Mereka yang Datang Tanpa Mendengar
13. Bait-bait Yang Di Gugat
14. Gending yang Menyebrang Batas

TEMBANG LARUNG MAYIT BY AMELIONG @OWNERLIEBI
Diubah oleh LiongMelfin 03-07-2025 22:34
bukhorigan dan 7 lainnya memberi reputasi
8
2.2K
45
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
LiongMelfin
#15
Tunjung Ayu, Penari Istana yang Dilarung oleh Cahaya
Malam itu, bulan tidak muncul di langit. Awan menggulung seperti amarah para leluhur yang tidak pernah diundang. Di istana Kadhaton Lembayung, ratusan pelita dipasang di sepanjang pendapa. Bukan untuk pesta. Tapi untuk mengantar satu tubuh ke tengah sendang. Gadis itu bernama Tunjung Ayu, seorang penari kesayangan permaisuri. Tubuhnya ramping, wajahnya seperti dilukis dari kabut fajar. Tapi malam itu, ia tidak menari karena panggilan seni. Ia menari karena perintah... dan karena darah.
Raja Jaka Sastranegara telah berjanji pada dukun istana: jika ingin melanggengkan kekuasaan tanpa perang, ia harus memberikan satu widodari bumi—seorang penari suci—untuk dikorbankan kepada penjaga sendang. Tapi sang raja tak mau kehilangan siapa pun dari keluarganya. Maka dipilihlah Tunjung Ayu, gadis dari rakyat jelata yang dibesarkan di istana, dilatih menari, dibentuk menjadi lambang harmoni. Tak ada yang tahu bahwa ia disiapkan sejak kecil untuk satu malam ini saja: malam larung yang ditulis dalam perjanjian darah.
Tunjung Ayu tahu nasibnya. Tapi ia tidak melawan. Hatinya telah mati sejak hari ia melihat ibunya digiring keluar desa karena dituduh melahirkan anak dari roh sendang. Ia percaya bahwa tubuhnya bukan miliknya. Tapi malam itu, saat duduk di bilik sebelum ritual, suara dalam dirinya memberontak. “Jika harus mati, mengapa tidak membawa sesuatu bersamaku?” pikirnya. Ia menyelipkan kendi kecil berisi air mata sendiri, disegel dengan sehelai rambut, ke dalam selendang tari.
Iringan gamelan tua dimainkan dengan nada rendah. Para abdi dalem berbaris. Di ujung panggung, sendang Wiragati menunggu—belum seperti sekarang, tapi tetap sunyi dan kelam. Di sekelilingnya, rakyat diam menyaksikan. Tak ada yang menangis. Karena siapa pun yang menangis akan dianggap membawa sial. Tapi di antara mereka ada satu anak laki-laki yang menunduk dalam-dalam, menggenggam sabetan angin dengan marah. Dialah adik Tunjung Ayu—Arsanta. Kelak, ia akan menjadi cikal bakal penjaga bait. Tapi malam itu, ia hanya seorang bocah yang kehilangan kakaknya.
Tunjung Ayu menari. Setiap gerakannya seperti doa yang patah. Kakinya menyentuh tanah, tubuhnya berputar, tapi matanya menatap satu titik: raja yang duduk di singgasana, tersenyum tanpa dosa. Bait pertama diucapkan:
“Aku bukan tubuh. Aku bukan bayang. Aku bukan nyawa. Aku adalah harga.”
Dan dengan itu, ia melangkah ke dalam air.
Air yang memanggil seperti ibu yang merindukan anaknya.
Tapi larung kali ini tidak seperti sebelumnya. Ketika tubuh Tunjung Ayu menyentuh permukaan air, sendang bergetar. Bunga teratai yang biasanya mengapung, tenggelam satu per satu. Angin mendesir ke belakang, seolah menarik ingatan para saksi. Dan dari tengah sendang, muncul kabut pekat, membentuk wajah raksasa perempuan. Semua terdiam. Permaisuri pingsan. Raja pucat. Karena wajah itu adalah wajah ibu Tunjung Ayu—yang telah dituduh mati, namun kini muncul sebagai penjaga bait.
Tunjung Ayu tenggelam dengan tenang. Tapi kendi kecil yang ia selipkan tidak ikut larut. Ia terapung, pecah, dan dari dalamnya keluar kabut tipis berwarna perak. Kabut itu berputar, membentuk aksara di atas air:
“Yang kalian larung akan kembali. Tapi tak untuk melayani.”
Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah istana, suara gamelan berhenti sebelum tabuhan terakhir. Sebuah pertanda bahwa roh yang dilepas tidak menyatu, melainkan menolak menjadi alat kekuasaan.
Hari-hari setelah itu penuh kecelakaan. Raja kehilangan suara. Abdi dalem bermimpi buruk. Seorang penari istana lainnya ditemukan gila, menari di tengah sumur, sambil mengulang bait larung yang tak pernah diajarkan padanya.
“Aku bukan persembahan. Aku peringatan.”
Rakyat mulai percaya bahwa Tunjung Ayu tidak pergi. Ia tinggal di dasar sendang, menulis bait dengan jarinya sendiri, dan menunggu seseorang… yang cukup berani untuk melanjutkan cerita yang tak pernah diizinkan hidup.
Bertahun-tahun kemudian, bait itu dikubur. Dilarang. Ditulis ulang sebagai legenda indah. Tapi para penulis istana tahu kebenarannya. Dan satu naskah lontar disembunyikan di bawah batu gamelan tua, menunggu hingga generasi yang cukup retak—seperti Bu Ratih dan Arsad—datang membaca ulang luka itu.
Karena cerita Tunjung Ayu bukan tentang keindahan. Tapi tentang perlawanan diam yang tak butuh senjata.
Dan kini, bait itu kembali hidup.
Dan dalam setiap riak sendang yang tenang, ada napas perempuan yang pernah menari…
Bukan untuk dihormati.
Tapi untuk diingat.
Di sebuah perpustakaan tersembunyi di balik sendang, terletak di bawah tanah, buku-buku tua dan naskah lontar ditata dalam bentuk spiral. Tak banyak yang tahu tempat ini ada. Hanya mereka yang disebut sebagai Para Pelaras Gending, keturunan abdi dalem istana yang membelot dari raja karena menolak bait larung palsu. Mereka adalah penjaga suara sejati—yang mencatat dengan darah dan membaca dengan luka. Di ruang itulah, sejarah asli tentang Tunjung Ayu dituliskan. Bukan dalam tinta, tapi dalam tulang burung bangkai yang ditumbuk menjadi abu.
Pemimpin tempat itu adalah seorang lelaki tua bernama Raka Wana, keturunan langsung dari adik Tunjung Ayu, Arsanta. Ia tidak bicara banyak. Tapi jika ia membaca tembang, seluruh ruangan menjadi sunyi seperti liang lahat. Saat berita tentang Bu Ratih dan bait kesepuluh palsu sampai ke telinganya, ia hanya mengangguk.
“Tembang telah bangun,” gumamnya.
“Saatnya sejarah menguap dari tempat ia dikurung.”
Di atas meja batu, Raka membuka kembali naskah rahasia istana: cerita yang tidak pernah ditulis ulang. Ia menunjuk pada satu bagian—bait yang terhapus oleh raja setelah larung Tunjung Ayu.
“Tembang larung bukan untuk kekuasaan. Ia adalah bentuk sumpah—bahwa perempuan yang dikorbankan akan kembali sebagai penjaga.”
Raka tahu, ini bukan sekadar metafora. Jiwa Tunjung Ayu memang tidak pernah pergi. Ia disegel, bukan dibebaskan.
Beberapa anggota pelaras gending mulai resah. “Jika bait kesebelas muncul, dan tembang lengkap terbuka, maka dinding antara dunia kita dan dunia suara akan runtuh. Apakah manusia siap untuk itu?” tanya salah satu.
Raka menjawab, “Tidak. Tapi suara tidak butuh kesiapan. Ia hanya butuh kejujuran.”
Di tempat lain, Bu Ratih mendadak merasa telinganya berdenging hebat. Suara seperti gending yang dibalik—dibunyikan dari ujung terakhir menuju awal. Ia tak sadarkan diri dan dalam tidurnya melihat sosok lelaki tua bersorban hitam, memegang rebab, duduk di tengah lingkaran api.
“Namaku Raka. Aku penjaga tembang. Aku datang untuk membantumu menyusun bait yang tak bisa ditulis dengan tanganmu sendiri.”
Bu Ratih bangun dengan mata merah. Di mejanya sudah terletak sebentuk tulang kecil bertinta hitam, seperti pena kuno. Ia menyentuhnya dan tiba-tiba tahu: ini adalah tulang milik burung pelaras pertama. Di dalamnya tertulis seluruh nama para penari larung yang selama ini dihapus. Nama-nama yang membuat tembang menjadi lengkap. Nama-nama yang harus ia baca—satu per satu—untuk membuka bait kesebelas.
Di desa, kejadian aneh mulai terjadi. Warga mulai bermimpi hal yang sama: perempuan berkebaya putih menari di tengah rumah mereka, meninggalkan jejak kaki dari tinta lontar. Jejak itu tak bisa dihapus. Satu demi satu, rumah-rumah berubah menjadi panggung yang tak terlihat. Dan suara gamelan tak lagi datang dari luar, tapi dari dalam dinding.
Seorang anak kecil tiba-tiba bisa melantunkan bait kuno meski belum bisa membaca. Seorang ibu mendapati bayinya menggumam dalam bahasa Jawa Kuno. Dan seorang pemuda dikejar bayangan perempuan yang terus membisikkan:
“Sebut namaku, agar aku tidak dilupakan.”
Bait-bait tersebar sendiri, menyusup ke tubuh warga seperti virus yang membawa kenangan masa lalu.
Para pelaras gending tahu: tembang kini telah memilih panggung barunya. Ia tidak lagi terbatas pada penyair atau penari. Tapi mengalir dalam darah warga desa. Namun jika bait palsu terus dipaksakan, maka suara asli akan berubah menjadi kemarahan.
“Jika tembang dipalsukan, maka seluruh desa akan menjadi bait yang dikorbankan.”
Raka pun mengirim pesan terakhir kepada Bu Ratih melalui suara gamelan yang dikirim lewat mimpi:
“Tulis bait ke-11. Tapi jangan sebagai penyair. Tulis sebagai manusia yang pernah ditinggalkan.”
Di akhir malam, Bu Ratih duduk kembali dengan pena tulang di tangan. Di sekelilingnya, para penari larung hadir sebagai cahaya remang-remang, menanti kalimat pertama. Ia membuka mulut dan berkata:
“Bait kesebelas bukan tentang tembang. Tapi tentang kalian yang tak pernah dicatat.”
Dan ia mulai menulis,
dengan air matanya.
dengan lukanya.
dengan kesadarannya bahwa:
suara yang ditulis dari duka tak bisa dibungkam dengan lupa.
Bait kesebelas ditulis dalam senyap. Tak ada gamelan, tak ada dupa. Hanya suara detak jantung Bu Ratih dan desir angin yang membawa aroma tanah basah. Ketika tinta pertama dari tulang burung menyentuh daun lontar, lantai rumahnya bergetar ringan. Seolah dunia menyadari bahwa sesuatu yang selama ini ditahan akhirnya dituliskan. Bukan dengan tinta puisi, melainkan dengan tulang luka dan napas kenangan.
Kalimat pertama terbaca:
“Aku menulis karena dunia terlalu sunyi untuk bersuara sendiri.”
Dan kalimat itu hidup. Ia merambat ke dinding rumah, ke lantai, ke tanah desa. Setiap orang yang sedang tertidur gelisah, mendengar kata-kata itu dalam mimpi mereka, seolah mereka yang mengucapkannya. Bahkan bayi yang baru lahir menangis saat bait itu lengkap ditulis, seolah merasakan sesuatu telah berubah dalam tubuh ibunya.
Di sendang Wiragati, air yang biasanya tenang mulai menunjukkan kilatan cahaya dari bawah. Seolah ada sesuatu yang mencoba naik dari dasar. Tapi kali ini bukan roh yang terjebak. Bukan penari yang tersesat. Melainkan ingatan kolektif: sejarah yang disembunyikan, cerita yang dipendam, wajah-wajah perempuan yang ditulis dalam bisikan kini muncul sebagai pantulan di permukaan air.
Seorang lelaki tua buta yang tinggal di pinggir desa, mendadak bisa melihat. Matanya memutih sempurna, tapi dari mulutnya mengalun tembang dalam bahasa yang sudah mati selama ratusan tahun. Ia tak paham artinya, tapi tangisnya pecah.
“Itu suara anak saya...” katanya, “Ia dilarung sebelum bisa bicara.”
Bu Ratih tahu, bait ke-11 telah membuka pintu rasa yang lebih dalam dari nalar.
Para warga mulai bermimpi bersamaan. Dalam mimpi itu, mereka menjadi penari. Menjadi tumbal. Menjadi bayang-bayang. Tapi anehnya, mereka tak merasa takut. Justru merasa dikenali. Seolah tembang ini bukan sekadar cerita yang menakuti, tapi benang merah yang selama ini mengikat nasib mereka tanpa mereka sadari.
Mimpi-mimpi itu menyatu, dan membentuk satu fragmen naskah raksasa yang hanya bisa dilihat di langit saat dini hari.
Langit di atas desa berubah menjadi lembaran lontar raksasa, dipenuhi aksara Jawa yang menyala pelan. Orang-orang keluar rumah dan menengadah. Mereka membaca bait ke-11 yang terukir dalam awan. Beberapa menangis. Beberapa ketakutan. Tapi yang paling mengejutkan adalah: seorang anak kecil, buta huruf, mulai membacanya dengan lancar.
“Tembang ini bukan kutukan. Tapi cermin. Siapa yang menolak bercermin, akan ditelan bayangan.”
Di rumah Bu Ratih, para penari larung yang dulunya hanya hadir sebagai roh, kini muncul dalam bentuk utuh. Mereka duduk melingkar, tidak menari, tidak bersedih. Hanya diam, menatap bait yang ditulis. Tunjung Ayu tersenyum pada Bu Ratih.
“Akhirnya ada yang menulis kami bukan sebagai korban, tapi sebagai suara.”
Dan satu per satu, tubuh mereka berubah menjadi bunga kantil kering, beterbangan, menempel di sudut-sudut rumah dan desa sebagai penjaga baru.
Tapi tidak semua bisa menerima perubahan ini. Mereka yang telah terikat dengan tembang palsu, termasuk sisa-sisa pengikut Paguyuban Swara Wening, mulai kehilangan suara. Lidah mereka kelu, mata mereka tertutup kabut, dan tubuh mereka memucat. Karena bait ke-11 hanya bisa dibaca oleh mereka yang tidak memanipulasi sejarah.
“Siapa yang menulis bait untuk menyesatkan, akan menjadi baris yang dipadamkan.”
Bu Ratih, setelah menulis bait terakhir, tidak pingsan, tidak dirasuki, tidak menjadi roh. Ia tetap manusia. Tapi manusia yang kini tahu seluruh nama penari larung, tahu luka yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi perpustakaan hidup, penjaga tembang bukan karena dipilih, tapi karena memilih.
Dan malam itu, ia menutup lontar dengan satu kalimat tambahan:
“Aku menulis bukan agar kalian ingat. Tapi agar kalian tidak melupakan dirimu sendiri.”
Pagi hari setelah bait ke-11 selesai, kabut di desa menghilang untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade. Matahari menyentuh tanah tanpa rasa takut. Anak-anak bermain di dekat sendang, dan suara angin terdengar seperti tawa kecil dari masa lalu. Tembang larung masih hidup. Tapi kini, ia bukan lagi jerat.
Ia adalah warisan.
Dan dalam setiap bisikan angin yang lewat di telinga warga, terdengar kalimat lembut:
“Kami telah selesai. Kini giliran kalian… untuk hidup.”
Hari ketiga setelah bait ke-11 selesai ditulis, suasana desa tidak lagi sama. Namun bukan perubahan yang dapat dilihat dengan mata. Melainkan sesuatu yang lebih halus: udara yang lebih berat tapi bersih, tanah yang terasa lebih jujur, dan suara yang datang dari dalam tubuh, bukan dari luar. Orang-orang mulai bermimpi jernih. Tak ada lagi jerit dalam tidur. Tak ada kabut pagi yang membawa wajah.
Di pendapa desa, warga berkumpul. Bukan karena upacara, bukan karena larung, tapi karena kebersamaan yang selama ini hilang. Bu Ratih berdiri di tengah, memegang lontar yang kini tertutup bunga kantil kering. Ia tak memberikan pidato. Hanya membuka gulungan itu dan membiarkan angin membacanya sendiri. Dan angin itu, seperti sudah tahu naskahnya, membacakan bait ke-11 dengan lirih, seperti tembang yang dibisikkan ibu ke telinga anak.
Di antara warga ada anak-anak yang belum tahu kisah Tunjung Ayu. Tapi ketika bait dibacakan, mereka mendengarkannya dengan tenang. Mereka tidak menangis. Tapi mata mereka memantulkan rasa kehilangan yang tidak berasal dari pengalaman pribadi—melainkan dari darah leluhur yang masih hangat dalam tubuh mereka. Desa itu, akhirnya, menyatu kembali dengan ingatan yang dulunya tercecer di dasar sendang.
Seseorang bertanya, “Apakah ini akhir dari tembang larung?”
Bu Ratih menjawab, “Tidak. Ini hanya akhir dari tembang yang dipalsukan.”
Ia melanjutkan, “Tembang larung tidak pernah diciptakan untuk ditakuti. Ia adalah cara para perempuan menulis luka mereka... agar tidak dihapus sejarah. Jika kalian takut pada tembang ini, itu karena kalian tidak pernah ingin mendengar cerita mereka dari awal.”
Malam pun tiba. Tapi tak ada gamelan. Hanya suara jangkrik, suara angin, suara genteng yang retak karena waktu. Bu Ratih duduk di serambi rumah, menatap ke arah sendang yang kini jernih, tak lagi menyembunyikan pantulan siapa pun. Di sana, ia melihat bayangan bukan penari, melainkan wajah dirinya sendiri—untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun—tanpa beban, tanpa suara asing dalam kepalanya.
Sebuah surat datang dari kota: sekelompok peneliti meminta izin datang ke desa untuk “meneliti kebudayaan lokal”. Bu Ratih hanya tertawa kecil. Ia menulis di kertas balik lontar, “Datanglah, tapi jangan menulis ulang kisah ini sebagai cerita mistik. Jika kalian ingin menjual horor, pergilah ke tempat lain. Karena kisah ini bukan horor—ia adalah puisi yang dibungkam dan kini berbicara dengan darah.”
Raka Wana, sang pelaras gending, muncul di rumah Bu Ratih malam itu. Tidak dalam wujud roh, tapi dalam tubuh nyata. Ia kini seorang lelaki renta dengan tongkat dari kayu gamelan. Ia berkata, “Tembang larung telah selesai. Kini saatnya menciptakan gending baru. Tapi bukan dari tumbal, bukan dari kematian. Dari suara-suara yang ingin hidup tanpa menaklukkan.”
Mereka berdua duduk di pendapa, memainkan suara dari bambu dan angin. Dan malam itu, suara itu menjadi gending pertama dari zaman baru, yang tidak lagi membutuhkan bait pengorbanan. Tapi bait-bait pengakuan.
Bait yang mengatakan:
“Aku tidak ingin dilarung,
Aku hanya ingin dikenang,
Bukan sebagai korban,
Tapi sebagai orang yang pernah ingin bicara.”
Desa itu tak menjadi tempat wisata. Tidak menjadi konten viral. Tidak menjadi latar film. Tapi orang-orang datang diam-diam untuk menangis di sendang, lalu pergi tanpa berkata apa-apa. Karena tempat itu, kini, adalah tempat suci bagi luka-luka yang tak pernah diberi bahasa.
Dan setiap kali angin lewat, ia membawa fragmen suara:
“Jangan dengarkan sampai bait terakhir,
Kecuali kau siap menulis yang berikutnya…”
Malam terakhir bab ini ditutup dengan satu kalimat di atas nisan tua di pinggir sendang:
“Di sinilah kami tenggelam agar kalian bisa belajar berenang.”
Dan di bawahnya tertulis nama-nama yang dulu hanya disebut dalam bisikan.
Kini, mereka hidup.
Dalam setiap bait.
Dalam setiap langkah.
Dalam setiap gending yang tak pernah dipaksa jadi tembang.
Malam itu, bulan tidak muncul di langit. Awan menggulung seperti amarah para leluhur yang tidak pernah diundang. Di istana Kadhaton Lembayung, ratusan pelita dipasang di sepanjang pendapa. Bukan untuk pesta. Tapi untuk mengantar satu tubuh ke tengah sendang. Gadis itu bernama Tunjung Ayu, seorang penari kesayangan permaisuri. Tubuhnya ramping, wajahnya seperti dilukis dari kabut fajar. Tapi malam itu, ia tidak menari karena panggilan seni. Ia menari karena perintah... dan karena darah.
Raja Jaka Sastranegara telah berjanji pada dukun istana: jika ingin melanggengkan kekuasaan tanpa perang, ia harus memberikan satu widodari bumi—seorang penari suci—untuk dikorbankan kepada penjaga sendang. Tapi sang raja tak mau kehilangan siapa pun dari keluarganya. Maka dipilihlah Tunjung Ayu, gadis dari rakyat jelata yang dibesarkan di istana, dilatih menari, dibentuk menjadi lambang harmoni. Tak ada yang tahu bahwa ia disiapkan sejak kecil untuk satu malam ini saja: malam larung yang ditulis dalam perjanjian darah.
Tunjung Ayu tahu nasibnya. Tapi ia tidak melawan. Hatinya telah mati sejak hari ia melihat ibunya digiring keluar desa karena dituduh melahirkan anak dari roh sendang. Ia percaya bahwa tubuhnya bukan miliknya. Tapi malam itu, saat duduk di bilik sebelum ritual, suara dalam dirinya memberontak. “Jika harus mati, mengapa tidak membawa sesuatu bersamaku?” pikirnya. Ia menyelipkan kendi kecil berisi air mata sendiri, disegel dengan sehelai rambut, ke dalam selendang tari.
Iringan gamelan tua dimainkan dengan nada rendah. Para abdi dalem berbaris. Di ujung panggung, sendang Wiragati menunggu—belum seperti sekarang, tapi tetap sunyi dan kelam. Di sekelilingnya, rakyat diam menyaksikan. Tak ada yang menangis. Karena siapa pun yang menangis akan dianggap membawa sial. Tapi di antara mereka ada satu anak laki-laki yang menunduk dalam-dalam, menggenggam sabetan angin dengan marah. Dialah adik Tunjung Ayu—Arsanta. Kelak, ia akan menjadi cikal bakal penjaga bait. Tapi malam itu, ia hanya seorang bocah yang kehilangan kakaknya.
Tunjung Ayu menari. Setiap gerakannya seperti doa yang patah. Kakinya menyentuh tanah, tubuhnya berputar, tapi matanya menatap satu titik: raja yang duduk di singgasana, tersenyum tanpa dosa. Bait pertama diucapkan:
“Aku bukan tubuh. Aku bukan bayang. Aku bukan nyawa. Aku adalah harga.”
Dan dengan itu, ia melangkah ke dalam air.
Air yang memanggil seperti ibu yang merindukan anaknya.
Tapi larung kali ini tidak seperti sebelumnya. Ketika tubuh Tunjung Ayu menyentuh permukaan air, sendang bergetar. Bunga teratai yang biasanya mengapung, tenggelam satu per satu. Angin mendesir ke belakang, seolah menarik ingatan para saksi. Dan dari tengah sendang, muncul kabut pekat, membentuk wajah raksasa perempuan. Semua terdiam. Permaisuri pingsan. Raja pucat. Karena wajah itu adalah wajah ibu Tunjung Ayu—yang telah dituduh mati, namun kini muncul sebagai penjaga bait.
Tunjung Ayu tenggelam dengan tenang. Tapi kendi kecil yang ia selipkan tidak ikut larut. Ia terapung, pecah, dan dari dalamnya keluar kabut tipis berwarna perak. Kabut itu berputar, membentuk aksara di atas air:
“Yang kalian larung akan kembali. Tapi tak untuk melayani.”
Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah istana, suara gamelan berhenti sebelum tabuhan terakhir. Sebuah pertanda bahwa roh yang dilepas tidak menyatu, melainkan menolak menjadi alat kekuasaan.
Hari-hari setelah itu penuh kecelakaan. Raja kehilangan suara. Abdi dalem bermimpi buruk. Seorang penari istana lainnya ditemukan gila, menari di tengah sumur, sambil mengulang bait larung yang tak pernah diajarkan padanya.
“Aku bukan persembahan. Aku peringatan.”
Rakyat mulai percaya bahwa Tunjung Ayu tidak pergi. Ia tinggal di dasar sendang, menulis bait dengan jarinya sendiri, dan menunggu seseorang… yang cukup berani untuk melanjutkan cerita yang tak pernah diizinkan hidup.
Bertahun-tahun kemudian, bait itu dikubur. Dilarang. Ditulis ulang sebagai legenda indah. Tapi para penulis istana tahu kebenarannya. Dan satu naskah lontar disembunyikan di bawah batu gamelan tua, menunggu hingga generasi yang cukup retak—seperti Bu Ratih dan Arsad—datang membaca ulang luka itu.
Karena cerita Tunjung Ayu bukan tentang keindahan. Tapi tentang perlawanan diam yang tak butuh senjata.
Dan kini, bait itu kembali hidup.
Dan dalam setiap riak sendang yang tenang, ada napas perempuan yang pernah menari…
Bukan untuk dihormati.
Tapi untuk diingat.
Di sebuah perpustakaan tersembunyi di balik sendang, terletak di bawah tanah, buku-buku tua dan naskah lontar ditata dalam bentuk spiral. Tak banyak yang tahu tempat ini ada. Hanya mereka yang disebut sebagai Para Pelaras Gending, keturunan abdi dalem istana yang membelot dari raja karena menolak bait larung palsu. Mereka adalah penjaga suara sejati—yang mencatat dengan darah dan membaca dengan luka. Di ruang itulah, sejarah asli tentang Tunjung Ayu dituliskan. Bukan dalam tinta, tapi dalam tulang burung bangkai yang ditumbuk menjadi abu.
Pemimpin tempat itu adalah seorang lelaki tua bernama Raka Wana, keturunan langsung dari adik Tunjung Ayu, Arsanta. Ia tidak bicara banyak. Tapi jika ia membaca tembang, seluruh ruangan menjadi sunyi seperti liang lahat. Saat berita tentang Bu Ratih dan bait kesepuluh palsu sampai ke telinganya, ia hanya mengangguk.
“Tembang telah bangun,” gumamnya.
“Saatnya sejarah menguap dari tempat ia dikurung.”
Di atas meja batu, Raka membuka kembali naskah rahasia istana: cerita yang tidak pernah ditulis ulang. Ia menunjuk pada satu bagian—bait yang terhapus oleh raja setelah larung Tunjung Ayu.
“Tembang larung bukan untuk kekuasaan. Ia adalah bentuk sumpah—bahwa perempuan yang dikorbankan akan kembali sebagai penjaga.”
Raka tahu, ini bukan sekadar metafora. Jiwa Tunjung Ayu memang tidak pernah pergi. Ia disegel, bukan dibebaskan.
Beberapa anggota pelaras gending mulai resah. “Jika bait kesebelas muncul, dan tembang lengkap terbuka, maka dinding antara dunia kita dan dunia suara akan runtuh. Apakah manusia siap untuk itu?” tanya salah satu.
Raka menjawab, “Tidak. Tapi suara tidak butuh kesiapan. Ia hanya butuh kejujuran.”
Di tempat lain, Bu Ratih mendadak merasa telinganya berdenging hebat. Suara seperti gending yang dibalik—dibunyikan dari ujung terakhir menuju awal. Ia tak sadarkan diri dan dalam tidurnya melihat sosok lelaki tua bersorban hitam, memegang rebab, duduk di tengah lingkaran api.
“Namaku Raka. Aku penjaga tembang. Aku datang untuk membantumu menyusun bait yang tak bisa ditulis dengan tanganmu sendiri.”
Bu Ratih bangun dengan mata merah. Di mejanya sudah terletak sebentuk tulang kecil bertinta hitam, seperti pena kuno. Ia menyentuhnya dan tiba-tiba tahu: ini adalah tulang milik burung pelaras pertama. Di dalamnya tertulis seluruh nama para penari larung yang selama ini dihapus. Nama-nama yang membuat tembang menjadi lengkap. Nama-nama yang harus ia baca—satu per satu—untuk membuka bait kesebelas.
Di desa, kejadian aneh mulai terjadi. Warga mulai bermimpi hal yang sama: perempuan berkebaya putih menari di tengah rumah mereka, meninggalkan jejak kaki dari tinta lontar. Jejak itu tak bisa dihapus. Satu demi satu, rumah-rumah berubah menjadi panggung yang tak terlihat. Dan suara gamelan tak lagi datang dari luar, tapi dari dalam dinding.
Seorang anak kecil tiba-tiba bisa melantunkan bait kuno meski belum bisa membaca. Seorang ibu mendapati bayinya menggumam dalam bahasa Jawa Kuno. Dan seorang pemuda dikejar bayangan perempuan yang terus membisikkan:
“Sebut namaku, agar aku tidak dilupakan.”
Bait-bait tersebar sendiri, menyusup ke tubuh warga seperti virus yang membawa kenangan masa lalu.
Para pelaras gending tahu: tembang kini telah memilih panggung barunya. Ia tidak lagi terbatas pada penyair atau penari. Tapi mengalir dalam darah warga desa. Namun jika bait palsu terus dipaksakan, maka suara asli akan berubah menjadi kemarahan.
“Jika tembang dipalsukan, maka seluruh desa akan menjadi bait yang dikorbankan.”
Raka pun mengirim pesan terakhir kepada Bu Ratih melalui suara gamelan yang dikirim lewat mimpi:
“Tulis bait ke-11. Tapi jangan sebagai penyair. Tulis sebagai manusia yang pernah ditinggalkan.”
Di akhir malam, Bu Ratih duduk kembali dengan pena tulang di tangan. Di sekelilingnya, para penari larung hadir sebagai cahaya remang-remang, menanti kalimat pertama. Ia membuka mulut dan berkata:
“Bait kesebelas bukan tentang tembang. Tapi tentang kalian yang tak pernah dicatat.”
Dan ia mulai menulis,
dengan air matanya.
dengan lukanya.
dengan kesadarannya bahwa:
suara yang ditulis dari duka tak bisa dibungkam dengan lupa.
Bait kesebelas ditulis dalam senyap. Tak ada gamelan, tak ada dupa. Hanya suara detak jantung Bu Ratih dan desir angin yang membawa aroma tanah basah. Ketika tinta pertama dari tulang burung menyentuh daun lontar, lantai rumahnya bergetar ringan. Seolah dunia menyadari bahwa sesuatu yang selama ini ditahan akhirnya dituliskan. Bukan dengan tinta puisi, melainkan dengan tulang luka dan napas kenangan.
Kalimat pertama terbaca:
“Aku menulis karena dunia terlalu sunyi untuk bersuara sendiri.”
Dan kalimat itu hidup. Ia merambat ke dinding rumah, ke lantai, ke tanah desa. Setiap orang yang sedang tertidur gelisah, mendengar kata-kata itu dalam mimpi mereka, seolah mereka yang mengucapkannya. Bahkan bayi yang baru lahir menangis saat bait itu lengkap ditulis, seolah merasakan sesuatu telah berubah dalam tubuh ibunya.
Di sendang Wiragati, air yang biasanya tenang mulai menunjukkan kilatan cahaya dari bawah. Seolah ada sesuatu yang mencoba naik dari dasar. Tapi kali ini bukan roh yang terjebak. Bukan penari yang tersesat. Melainkan ingatan kolektif: sejarah yang disembunyikan, cerita yang dipendam, wajah-wajah perempuan yang ditulis dalam bisikan kini muncul sebagai pantulan di permukaan air.
Seorang lelaki tua buta yang tinggal di pinggir desa, mendadak bisa melihat. Matanya memutih sempurna, tapi dari mulutnya mengalun tembang dalam bahasa yang sudah mati selama ratusan tahun. Ia tak paham artinya, tapi tangisnya pecah.
“Itu suara anak saya...” katanya, “Ia dilarung sebelum bisa bicara.”
Bu Ratih tahu, bait ke-11 telah membuka pintu rasa yang lebih dalam dari nalar.
Para warga mulai bermimpi bersamaan. Dalam mimpi itu, mereka menjadi penari. Menjadi tumbal. Menjadi bayang-bayang. Tapi anehnya, mereka tak merasa takut. Justru merasa dikenali. Seolah tembang ini bukan sekadar cerita yang menakuti, tapi benang merah yang selama ini mengikat nasib mereka tanpa mereka sadari.
Mimpi-mimpi itu menyatu, dan membentuk satu fragmen naskah raksasa yang hanya bisa dilihat di langit saat dini hari.
Langit di atas desa berubah menjadi lembaran lontar raksasa, dipenuhi aksara Jawa yang menyala pelan. Orang-orang keluar rumah dan menengadah. Mereka membaca bait ke-11 yang terukir dalam awan. Beberapa menangis. Beberapa ketakutan. Tapi yang paling mengejutkan adalah: seorang anak kecil, buta huruf, mulai membacanya dengan lancar.
“Tembang ini bukan kutukan. Tapi cermin. Siapa yang menolak bercermin, akan ditelan bayangan.”
Di rumah Bu Ratih, para penari larung yang dulunya hanya hadir sebagai roh, kini muncul dalam bentuk utuh. Mereka duduk melingkar, tidak menari, tidak bersedih. Hanya diam, menatap bait yang ditulis. Tunjung Ayu tersenyum pada Bu Ratih.
“Akhirnya ada yang menulis kami bukan sebagai korban, tapi sebagai suara.”
Dan satu per satu, tubuh mereka berubah menjadi bunga kantil kering, beterbangan, menempel di sudut-sudut rumah dan desa sebagai penjaga baru.
Tapi tidak semua bisa menerima perubahan ini. Mereka yang telah terikat dengan tembang palsu, termasuk sisa-sisa pengikut Paguyuban Swara Wening, mulai kehilangan suara. Lidah mereka kelu, mata mereka tertutup kabut, dan tubuh mereka memucat. Karena bait ke-11 hanya bisa dibaca oleh mereka yang tidak memanipulasi sejarah.
“Siapa yang menulis bait untuk menyesatkan, akan menjadi baris yang dipadamkan.”
Bu Ratih, setelah menulis bait terakhir, tidak pingsan, tidak dirasuki, tidak menjadi roh. Ia tetap manusia. Tapi manusia yang kini tahu seluruh nama penari larung, tahu luka yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi perpustakaan hidup, penjaga tembang bukan karena dipilih, tapi karena memilih.
Dan malam itu, ia menutup lontar dengan satu kalimat tambahan:
“Aku menulis bukan agar kalian ingat. Tapi agar kalian tidak melupakan dirimu sendiri.”
Pagi hari setelah bait ke-11 selesai, kabut di desa menghilang untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade. Matahari menyentuh tanah tanpa rasa takut. Anak-anak bermain di dekat sendang, dan suara angin terdengar seperti tawa kecil dari masa lalu. Tembang larung masih hidup. Tapi kini, ia bukan lagi jerat.
Ia adalah warisan.
Dan dalam setiap bisikan angin yang lewat di telinga warga, terdengar kalimat lembut:
“Kami telah selesai. Kini giliran kalian… untuk hidup.”
Hari ketiga setelah bait ke-11 selesai ditulis, suasana desa tidak lagi sama. Namun bukan perubahan yang dapat dilihat dengan mata. Melainkan sesuatu yang lebih halus: udara yang lebih berat tapi bersih, tanah yang terasa lebih jujur, dan suara yang datang dari dalam tubuh, bukan dari luar. Orang-orang mulai bermimpi jernih. Tak ada lagi jerit dalam tidur. Tak ada kabut pagi yang membawa wajah.
Di pendapa desa, warga berkumpul. Bukan karena upacara, bukan karena larung, tapi karena kebersamaan yang selama ini hilang. Bu Ratih berdiri di tengah, memegang lontar yang kini tertutup bunga kantil kering. Ia tak memberikan pidato. Hanya membuka gulungan itu dan membiarkan angin membacanya sendiri. Dan angin itu, seperti sudah tahu naskahnya, membacakan bait ke-11 dengan lirih, seperti tembang yang dibisikkan ibu ke telinga anak.
Di antara warga ada anak-anak yang belum tahu kisah Tunjung Ayu. Tapi ketika bait dibacakan, mereka mendengarkannya dengan tenang. Mereka tidak menangis. Tapi mata mereka memantulkan rasa kehilangan yang tidak berasal dari pengalaman pribadi—melainkan dari darah leluhur yang masih hangat dalam tubuh mereka. Desa itu, akhirnya, menyatu kembali dengan ingatan yang dulunya tercecer di dasar sendang.
Seseorang bertanya, “Apakah ini akhir dari tembang larung?”
Bu Ratih menjawab, “Tidak. Ini hanya akhir dari tembang yang dipalsukan.”
Ia melanjutkan, “Tembang larung tidak pernah diciptakan untuk ditakuti. Ia adalah cara para perempuan menulis luka mereka... agar tidak dihapus sejarah. Jika kalian takut pada tembang ini, itu karena kalian tidak pernah ingin mendengar cerita mereka dari awal.”
Malam pun tiba. Tapi tak ada gamelan. Hanya suara jangkrik, suara angin, suara genteng yang retak karena waktu. Bu Ratih duduk di serambi rumah, menatap ke arah sendang yang kini jernih, tak lagi menyembunyikan pantulan siapa pun. Di sana, ia melihat bayangan bukan penari, melainkan wajah dirinya sendiri—untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun—tanpa beban, tanpa suara asing dalam kepalanya.
Sebuah surat datang dari kota: sekelompok peneliti meminta izin datang ke desa untuk “meneliti kebudayaan lokal”. Bu Ratih hanya tertawa kecil. Ia menulis di kertas balik lontar, “Datanglah, tapi jangan menulis ulang kisah ini sebagai cerita mistik. Jika kalian ingin menjual horor, pergilah ke tempat lain. Karena kisah ini bukan horor—ia adalah puisi yang dibungkam dan kini berbicara dengan darah.”
Raka Wana, sang pelaras gending, muncul di rumah Bu Ratih malam itu. Tidak dalam wujud roh, tapi dalam tubuh nyata. Ia kini seorang lelaki renta dengan tongkat dari kayu gamelan. Ia berkata, “Tembang larung telah selesai. Kini saatnya menciptakan gending baru. Tapi bukan dari tumbal, bukan dari kematian. Dari suara-suara yang ingin hidup tanpa menaklukkan.”
Mereka berdua duduk di pendapa, memainkan suara dari bambu dan angin. Dan malam itu, suara itu menjadi gending pertama dari zaman baru, yang tidak lagi membutuhkan bait pengorbanan. Tapi bait-bait pengakuan.
Bait yang mengatakan:
“Aku tidak ingin dilarung,
Aku hanya ingin dikenang,
Bukan sebagai korban,
Tapi sebagai orang yang pernah ingin bicara.”
Desa itu tak menjadi tempat wisata. Tidak menjadi konten viral. Tidak menjadi latar film. Tapi orang-orang datang diam-diam untuk menangis di sendang, lalu pergi tanpa berkata apa-apa. Karena tempat itu, kini, adalah tempat suci bagi luka-luka yang tak pernah diberi bahasa.
Dan setiap kali angin lewat, ia membawa fragmen suara:
“Jangan dengarkan sampai bait terakhir,
Kecuali kau siap menulis yang berikutnya…”
Malam terakhir bab ini ditutup dengan satu kalimat di atas nisan tua di pinggir sendang:
“Di sinilah kami tenggelam agar kalian bisa belajar berenang.”
Dan di bawahnya tertulis nama-nama yang dulu hanya disebut dalam bisikan.
Kini, mereka hidup.
Dalam setiap bait.
Dalam setiap langkah.
Dalam setiap gending yang tak pernah dipaksa jadi tembang.
rbrataatmadja dan gwnormalbro955 memberi reputasi
2
Tutup