- Beranda
- Stories from the Heart
TEMBANG LARUNG MAYIT (HORROR, MISTERI)
...
TS
LiongMelfin
TEMBANG LARUNG MAYIT (HORROR, MISTERI)
Di dusun Tegalranti, tembang Jawa kuno terdengar setiap malam Jumat Kliwon dari dasar sendang yang disucikan. Tak ada yang berani mendengarkannya sampai habis—konon, bait terakhir membangkitkan mereka yang telah ditenggelamkan: mayat-mayat penari yang dikutuk tak bisa mati.
Arsad, seorang mahasiswa antropologi, datang untuk meneliti ritual larung mayit dan tembang kematian yang telah dilupakan. Tapi kedatangannya justru membuka segel kutukan yang selama ini dikunci oleh darah dan tembang.
Saat realitas mulai retak, dan suara-suara dari dalam air memanggil namanya, Arsad dihadapkan pada satu pilihan: berhenti menulis… atau ikut dituliskan dalam bait terakhir.
Tembang Larung Mayitadalah kisah horor gothic yang membaurkan budaya Jawa, mitos lokal, dan teror psikologis dalam narasi mencekam yang menghantui bahkan setelah cerita berakhir.
1. BAYANGAN YANG MENULIS DIRINYA SENDIRI
2. BAIT YANG DILUPAKAN
3. BAYANG YANG TERTINGGAL
4. BAYANG YANG TERTINGGAL (LANJUTAN)
5. BAYANG-BAYANG YANG TAK BISA LARUNGTEMBANG YANG TAK BISA DI DENGAR
6. PENCURI SUARA YANG MENGUNCI DUNIA
7. WARISAN YANG BERDENYUT
8. BAIT BISU YANG DIPILIH
9. LURAH, LONTAR, DAN LUKA YANG DISIMPAN
10. Gending yang Dilupakan, Tubuh yang Dikorbankan
11. Tunjung Ayu, Penari Istana yang Dilarung oleh Cahaya
12. Mereka yang Datang Tanpa Mendengar
13. Bait-bait Yang Di Gugat
14. Gending yang Menyebrang Batas

Arsad, seorang mahasiswa antropologi, datang untuk meneliti ritual larung mayit dan tembang kematian yang telah dilupakan. Tapi kedatangannya justru membuka segel kutukan yang selama ini dikunci oleh darah dan tembang.
Saat realitas mulai retak, dan suara-suara dari dalam air memanggil namanya, Arsad dihadapkan pada satu pilihan: berhenti menulis… atau ikut dituliskan dalam bait terakhir.
Tembang Larung Mayitadalah kisah horor gothic yang membaurkan budaya Jawa, mitos lokal, dan teror psikologis dalam narasi mencekam yang menghantui bahkan setelah cerita berakhir.
1. BAYANGAN YANG MENULIS DIRINYA SENDIRI
2. BAIT YANG DILUPAKAN
3. BAYANG YANG TERTINGGAL
4. BAYANG YANG TERTINGGAL (LANJUTAN)
5. BAYANG-BAYANG YANG TAK BISA LARUNGTEMBANG YANG TAK BISA DI DENGAR
6. PENCURI SUARA YANG MENGUNCI DUNIA
7. WARISAN YANG BERDENYUT
8. BAIT BISU YANG DIPILIH
9. LURAH, LONTAR, DAN LUKA YANG DISIMPAN
10. Gending yang Dilupakan, Tubuh yang Dikorbankan
11. Tunjung Ayu, Penari Istana yang Dilarung oleh Cahaya
12. Mereka yang Datang Tanpa Mendengar
13. Bait-bait Yang Di Gugat
14. Gending yang Menyebrang Batas

TEMBANG LARUNG MAYIT BY AMELIONG @OWNERLIEBI
Diubah oleh LiongMelfin 03-07-2025 22:34
bukhorigan dan 7 lainnya memberi reputasi
8
2.2K
45
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
LiongMelfin
#13
Lurah, Lontar, dan Luka yang Disimpan
Sejak tembang kedelapan ditulis dalam diam, Dusun Wiragati tak pernah benar-benar tidur. Orang-orang bangun tengah malam, terdorong rasa cemas yang tak mereka pahami. Dupa habis lebih cepat dari biasanya. Anak-anak menangis tanpa sebab. Dan para tetua mulai bertanya-tanya: siapa yang akan menjadi pengendali dusun jika suara lama kembali hidup? Dalam keheningan yang masih menggema, kekuasaan mulai goyah.
Pak Lurah, yang selama ini memimpin dengan tenang, mulai menunjukkan tanda-tanda ketakutan. Ia memanggil empat kepala rukun dalam rapat diam-diam di rumahnya. Mereka duduk mengelilingi meja kayu, tak berani menyebut nama Ningsih, tapi semua sadar: suara lama telah memilih wadah, dan dusun ini kini hanya punya dua pilihan—menerima atau mengasingkan.
Namun pilihan ketiga tiba-tiba mengendap dari mulut Pak Lurah: "Atau… kita kunci dia."
Kepala Rukun RT II, Pak Darmo, mengerutkan dahi. “Kunci? Maksudmu mengasingkan Ningsih?”
Pak Lurah mengangguk. “Bukan mengasingkan. Kita rawat dia. Tapi dalam tempat yang tak bisa ia tinggalkan.”
“Seperti penjara?”
“Seperti pura.”
Kata itu bergema lebih berat daripada yang mereka kira. Mereka akan membangun tempat suci untuk mengurung… suara. Tapi benarkah yang mereka tahan adalah suara? Atau rasa takut mereka sendiri?
Di sisi lain dusun, Mbok Jirah mendengar kabar itu dari angin. Ia tahu nada-nada penuh intrik yang mengendap di balik rumah kayu dan kursi rapat. Ia pernah mendengarnya dulu—saat Retnadi dikorbankan karena dianggap penyebab musim gagal panen. Dan kini, sejarah hendak diulang. "Bukan suara Ningsih yang menakutkan mereka," gumamnya, "tapi kemungkinan bahwa tembang lama lebih jujur daripada para pemimpinnya."
Di balai desa, Pak Wiryo membaca kembali lontar-lontar yang nyaris hangus. Di antaranya, ia menemukan naskah retak berjudul “Tatacara Pangiket Swara”—sebuah panduan kuno untuk memenjarakan tembang di dalam tubuh. Ia gemetar. Panduan itu hanya boleh dibaca oleh pemimpin spiritual dusun, dan setiap penggunaannya mengorbankan satu nyawa muda. Ia menyadari bahwa para lurah dahulu… pernah membungkam tembang dengan darah.
Malam harinya, warga dikumpulkan. Pak Lurah berdiri di mimbar balai desa dengan suara keras—berbeda dari biasanya. Ia menyampaikan bahwa desa akan membangun Pawon Swara—tempat perlindungan, katanya, bagi yang “terpilih dan terkutuk.” Tapi tatapan warga kosong. Beberapa melihat Ningsih, berdiri di kejauhan, mengenakan kain putih dan memegang sampur seperti biasa. Tak ada senyum di wajahnya. Tapi angin di sekelilingnya… membisikkan dendam.
“Ningsih tidak meminta suara itu,” kata Mbok Jirah dari belakang kerumunan. “Ia hanya tubuh yang dipilih oleh sejarah. Tapi kalian akan mengurungnya… karena kalian takut sejarah akan mengulang luka yang kalian sembunyikan.”
Suasana hening. Pak Lurah menatap tajam. “Ia bukan kutukan, tapi ia membuka pintu yang seharusnya tetap terkunci!”
Dan dengan itu, bayang-bayang politik pun berubah menjadi cakar kutukan.
Seorang pemuda dari pinggiran dusun maju. Namanya Surya, cucu dari dukun desa yang dulu dibakar karena dianggap pengganggu panen. “Kalau suara bisa memilih tubuh, kenapa kalian memilih tembok?” katanya. “Kenapa tidak pilih mendengarkan dulu, sebelum menutup pintu?” Tapi argumen logis tak bisa menandingi ketakutan massal. Apalagi ketika kekuasaan mulai merasa dirinya bisa mengatur arwah.
Di malam berikutnya, pembangunan Pawon Swara dimulai. Tanah dipilih di bekas panggung Retnadi—sebuah pelanggaran yang tak terlihat oleh hukum manusia, tapi dicatat oleh langit. Di sana, batu-batu dari candi terbengkalai dibawa tanpa doa, dan tembok dibangun dari semen dan kelupaan. Tapi setiap kali dinding berdiri… suara gamelan samar terdengar dari bawah tanah. Gamelan yang marah. Gamelan yang belum rampung.
Dan dari kejauhan, di dalam kabut tipis di pinggir sendang, Ningsih menari. Tak ada musik. Tak ada penonton. Tapi tanah di bawahnya mulai retak halus, dan akar-akar tua dari pohon beringin melingkar ke arah dusun.
Karena satu hal telah dibangkitkan:
Tembang tak bisa dikurung.
Ia hanya bisa ditulis ulang—dengan darah baru.
Dan darah itu… telah mulai mengalir.
Malam keempat sejak batu pertama Pawon Swara ditanamkan, para pekerja mulai bermimpi buruk. Satu orang mengigau dalam tidur: "Tutuplah mulutnya, sebelum ia menyanyi bait kesembilan!" Satu lainnya bangun dengan mata bengkak dan bekas cakaran di punggung. Namun tak seorang pun berani berhenti, sebab proyek itu kini dilindungi langsung oleh lurah dan para tetua desa yang haus akan kekuasaan spiritual. Ketika suara takut dibungkam, maka tubuh mulai bicara.
Salah satu pekerja bernama Giman tiba-tiba menghilang. Sepatunya ditemukan di dekat sendang, namun tubuhnya tak pernah muncul. Penduduk mulai berspekulasi: apakah ia tergelincir? Atau ditelan air? Namun beberapa warga tua tahu—jika sendang memakan seseorang tanpa suara, itu artinya tubuh itu telah menjadi bagian dari bait. Dan bait yang lapar… tak pernah cukup dengan satu korban.
Mbok Jirah mulai dikucilkan. Ia dianggap provokator karena tak mendukung pembangunan Pawon Swara. Tapi ia tetap duduk di beranda rumahnya, menulis bait demi bait dalam bahasa aksara Jawa yang tak lagi diajarkan. Setiap malam, lontarnya semakin banyak, tapi tak satu pun bertahan hingga pagi. Semua terbakar sendiri. Seolah tembang yang ingin ditulis… tak ingin diikat oleh tangan manusia.
Ningsih, sejak malam bait kedelapan, tak pernah bicara. Tapi ia mulai menggambar. Dinding rumahnya kini penuh dengan lukisan arang: wajah-wajah penari larung dari masa silam, panggung-panggung tua, dan sebuah bangunan tinggi dari batu yang ditelan tanah. Di antara gambar itu, satu tulisan muncul berulang kali:
"Ora bisa dikubur swara kang lair saka lara."
(Tak bisa dikubur suara yang lahir dari luka.)
Warga mulai mendengar suara aneh saat subuh. Bukan adzan, bukan suara ayam. Tapi suara perempuan menyanyi dari dasar tanah. Suaranya bergetar, memanggil nama-nama yang tak dikenal, dalam bahasa yang tak sepenuhnya manusia. Beberapa warga menggigil saat mendengarnya. Satu nenek bahkan muntah darah sambil berteriak: “Itu bukan nyanyian… itu ajakan!”
Ajakan untuk turun, untuk larung, untuk mengakhiri apa yang belum selesai.
Pak Lurah memanggil seorang "ustadz" dari kota untuk menenangkan warga. Tapi malam sebelum ustadz itu datang, rumahnya terbakar. Anehnya, hanya rak buku dan lemari tempat ia menyimpan catatan dusun yang hangus total. Tubuhnya ditemukan selamat tapi linglung. Ia hanya menggumam berulang: “Kalian tak bisa menambal luka dari langit… dengan semen dari tanah.”
Di tengah kecamuk itu, seorang tokoh baru datang ke dusun: Bu Ratih, seorang peneliti kebudayaan dan penulis skripsi tentang "tradisi tembang ritual Jawa". Ia datang karena mendengar kabar dari radio AM tua tentang dusun yang hendak mengunci tembang dalam sebuah pura. Ia tertarik, tapi juga curiga. "Tembang tidak dibuat untuk dikurung," katanya saat pertama kali mewawancarai Pak Wiryo. "Tembang adalah tubuh dari sejarah. Jika kalian kurung, kalian sedang mengubur ingatan sendiri."
Pak Wiryo menunjukkan lontar-lontar yang nyaris hangus. Bu Ratih membacanya, dan wajahnya berubah pucat. Ia menyadari bahwa Pawon Swara bukan tempat penyimpanan… tapi tempat penahanan tembang yang belum pernah berhasil. Tembang larung adalah ritual yang menuntut akhir dalam bentuk tarian dan pengorbanan. Tapi jika akhir itu diganggu, ia akan mencari wadah baru—dan bisa berubah menjadi tembang penghancur.
“Ini bukan lagi budaya,” katanya lirih. “Ini ancaman metafisik.”
Di malam yang sama, Bu Ratih mendengar suara Ningsih dari kejauhan. Bukan suara manusia, tapi getaran halus seperti bisikan yang ditarik dari akar bumi. Ia mengikuti suara itu… dan menemukan Ningsih menari sendirian di pinggir sendang, dikelilingi lingkaran bunga-bunga yang layu di satu sisi tapi mekar di sisi lain. Tubuhnya bergerak lambat seperti wayang.
Dan di langit… muncul cahaya merah berbentuk aksara: ꦭ (la) — bait awal dari tembang kesembilan.
Dan dusun pun mulai retak—bukan secara fisik, tapi dalam kesadaran. Sebagian ingin mengunci masa lalu. Sebagian ingin mendengarkannya. Sebagian lagi hanya ingin bertahan tanpa terlibat. Tapi tembang tidak peduli. Ia hanya tahu: ia belum rampung. Dan bait kesembilan sedang mengalir dalam tubuh-tubuh yang tidak bersalah.
Bait yang jika selesai… bisa menjadi lagu penutup.
Atau ratapan terakhir sebuah desa.
Pagi itu, Bu Ratih duduk di rumah Pak Wiryo, dikelilingi lontar-lontar tua yang kini ditutupi kain putih. Ia membaca dengan cepat namun penuh hormat. Setiap aksara yang tergores membawa jejak darah, udara, dan peringatan. Ia menemukan sesuatu yang ganjil: ada satu bait yang selalu hilang dari setiap naskah tembang larung. Tidak dihapus, tidak dilupakan—namun sengaja dikosongkan. Seperti seseorang dulu berusaha menyelamatkan dunia dengan membiarkan bagian itu tak terucap.
“Ini bukan kesalahan penyalin,” katanya lirih. “Ini bentuk pembungkaman terencana.” Pak Wiryo mengangguk perlahan. Ia tahu, tapi tak berani mengucapkannya selama ini. “Bait kesembilan tidak ditulis,” ujar Pak Wiryo. “Karena ia bukan untuk didengar oleh telinga manusia biasa. Konon, hanya kalangan keraton dan penari sakral yang boleh mendengarnya.”
Bu Ratih mencatat: bait kesembilan = tembang larangan kerajaan.
Ia pergi ke rumah kepala dusun lama yang kini sudah tua dan nyaris pikun. Di sana ia menemukan sekar gending—buku tua tentang jenis-jenis tembang kerajaan. Dalam salah satu halamannya, tertulis dalam huruf pudar:
“Tembang Larung Mayit dilarang dibacakan lengkap. Bait kesembilan menyimpan mantera untuk membuka alam antar–antara:
tempat roh penari, pengganti, dan penyambung jiwa…”
Kalimat itu berhenti di situ, seperti diputus dengan sengaja.
Malam itu, Bu Ratih menyalin kalimat itu ke dalam buku catatannya dan mencocokkannya dengan lukisan-lukisan Ningsih. Ia mulai menyadari bahwa setiap gerakan tarian Ningsih adalah kode—gerak tubuh sebagai penulisan ulang aksara. Dan bait kesembilan sedang ditulis perlahan… bukan lewat mulut, tapi lewat tubuh hidup. Tubuh itu adalah surat. Dan isinya belum sepenuhnya terbaca.
Mbok Jirah akhirnya menemui Bu Ratih. Ia membuka rahasia lama: dulu, ibunya adalah pembaca tembang untuk keluarga keraton. Ia pernah membaca bait kesembilan, dan sejak itu, ia buta—bukan karena penyakit, tapi karena "mata batinnya dipenuhi terlalu banyak wajah orang mati." Mbok Jirah memperingatkan:
“Jika kau teruskan membaca, kau tak hanya membaca sejarah. Kau akan membaca neraka orang lain.”
Tapi Bu Ratih sudah terlalu jauh untuk berhenti. Ia mendatangi bagian belakang balai dusun, di mana arsip kuno tersimpan. Di sana ia menemukan surat-surat rahasia dari masa kolonial. Salah satunya mencatat bahwa tentara Belanda pernah menyaksikan tarian larung di sendang Wiragati dan melaporkan peristiwa itu sebagai ritual pemberontakan spiritual. Mereka menyebut tembang itu “nyanyian maut yang membuat tanah menolak bangunan.” Satu batalyon Belanda bahkan mengalami halusinasi massal setelah mendengar irama gamelan dari air.
Semua catatan itu membentuk satu benang merah: bait kesembilan bukan sekadar puisi penutup. Ia adalah kunci pembuka dunia ketiga—tempat tinggal arwah yang tidak diterima langit maupun bumi. Ketika bait itu dilantunkan lengkap, batas akan runtuh. Dan orang-orang seperti Ningsih… menjadi jembatannya.
Bu Ratih menggenggam catatan itu erat. “Jika mereka melanjutkan pembangunan Pawon Swara, dan bait ini rampung… dunia bisa berbalik arah.”
Di tengah malam yang sunyi, Bu Ratih terbangun oleh suara arang yang digores di dinding. Ia menyangka maling, tapi saat ia menyalakan lampu, ia melihat gambar baru di dinding kamarnya: siluet keraton yang terbelah dua dan dari celah itu, muncul bayangan penari-penari tanpa wajah. Di bawahnya, tertulis satu kalimat dengan darah kering:
“Nanging swara ora iso dibendung… mung iso diarak.”
(Tapi suara tak bisa dibendung… hanya bisa diarak.)
Bu Ratih mendatangi Pak Lurah. Ia mencoba memperingatkan. Tapi lurah menolak. "Kita hanya perlu menutup mulut Ningsih. Tak ada tembang tanpa suara."
Bu Ratih membalas pelan, “Tapi tembang ini tak lahir dari mulut. Ia lahir dari luka, dari tubuh, dari sejarah. Dan sejarah... tak bisa kalian bungkam dengan tembok.”
Pak Lurah diam, tapi matanya menunjukkan ketakutan yang tak bisa ditutupi oleh jabatan.
Dan di malam yang sama, Ningsih menari lagi di pinggir sendang. Tapi kali ini… ada penonton. Bukan manusia. Tapi roh-roh yang tak selesai menari di masa lalu. Mereka berdiri dalam lingkaran, diam, menunggu bait terakhir.
Di atas langit, awan membentuk aksara samar:
ꦢ (da)
Tanda bahwa bait kesembilan mulai menunjukkan wujudnya.
Dan dusun tak punya banyak waktu lagi.
Di hari ke-9 pembangunan, tanah mulai retak. Bukan gempa. Tapi seperti napas dari bawah tanah yang terlalu lama ditahan. Seorang pekerja jatuh ke dalam celah kecil di dekat pondasi Pawon Swara. Tubuhnya ditemukan setengah terkubur, matanya membelalak ke langit, dan di dadanya tertulis aksara Jawa yang tergores seperti luka: “ꦩ꧀ꦤꦶꦏ” (mnikā - "aku miliknya"). Tak ada yang bisa menjelaskan dari mana goresan itu muncul. Tapi semua tahu: itu bukan tulisan tangan manusia.
Pak Lurah bersikeras melanjutkan pembangunan. Ia menyebut kejadian itu sebagai “ujian spiritual.” Tapi malam itu, istrinya mendadak kehilangan suara. Ia membuka mulut, menggerakkan lidah, tapi tak ada satu pun bunyi keluar. Bu Ratih datang dan menatap perempuan itu dalam-dalam, lalu berkata lirih, “Ia sudah dipanggil… jadi tubuhnya ditandai.”
Mereka mengerti saat itu juga: bait kesembilan sedang mencari korbannya sendiri.
Di rumahnya, Ningsih menggambar ulang seluruh bait tembang dalam gerakan tubuh. Tapi kali ini, ia tak sendiri. Cermin-cermin di sekelilingnya memantulkan bukan hanya dirinya, melainkan penari-penari lain—Retnadi, Saktinah, Tunjung Sekar—semuanya menari bersamanya, dalam ritme yang tak didengar telinga, tapi dirasakan oleh tulang.
Tembang telah bangkit. Tapi ia tak ingin dinyanyikan. Ia ingin dihidupkan kembali.
Bu Ratih mulai menyalin ulang seluruh lontar yang sempat ia pelajari. Ia menyadari satu hal yang lebih mengerikan: bait kesembilan bukan hanya membuka alam antara, tapi juga mengubah dunia nyata menjadi bagian dari bait itu sendiri. Desa bukan lagi panggung. Ia adalah lontar hidup, dan setiap rumah, pohon, dan manusia adalah aksara yang akan segera dibaca oleh kekuatan yang lama terkubur.
Pada malam Jumat Kliwon, warga mulai kerasukan secara acak. Mereka menari di jalanan, di pelataran rumah, bahkan di sawah. Suara gamelan berdentang dari arah sendang, meski tak ada yang memainkannya. Beberapa warga menangis sambil menjerit, “Tutuplah lontar! Sebelum ia membaca kita semua!” Tapi sudah terlambat. Pawon Swara kini mengeluarkan suara sendiri—gemuruh lirih seperti napas bayi… atau bisikan kubur.
Pak Wiryo mencoba menghentikan pembangunan dengan membakar blueprint dan menyiram keris pengunci dengan darahnya sendiri. Tapi ia tak tahu bahwa keris itu justru menjadi katalis. Besi panas yang pernah memutus tembang… kini membuka jalurnya kembali. Api dari pembakaran itu menjalar ke tanah, membentuk huruf-huruf yang menyala merah:
ꦠꦩ꧀ꦧꦁ ꦭꦫ ꦩꦪꦶꦠ꧀
(Tembang Larung Mayit)
Kini baitnya punya tubuh. Dan tubuh itu… berjalan.
Di tepi sendang, Ningsih menari untuk terakhir kalinya malam itu. Tapi kali ini, seluruh warga menyaksikan. Tak ada yang bisa menoleh. Tak ada yang bisa lari. Karena di bawah kaki Ningsih, tanah bergelombang seperti kulit makhluk hidup, dan dari air sendang muncul wajah-wajah yang tak utuh, menatap, meminta…
“Lanjutkan baitnya… biarkan kami menutupnya…”
Tapi saat bait kesembilan hampir selesai ditulis lewat tarian, sesuatu terjadi. Dari jauh, suara kecil terdengar—suara anak kecil yang menembang dalam nada pelan namun pasti. Suara itu memecah suasana. Ningsih berhenti menari. Suara itu berasal dari seorang bocah perempuan—anak petani yang kerasukan seminggu lalu. Dari mulutnya, bait kesembilan akhirnya dilantunkan:
“Yen swara lair saka lara,
Aja kok kurung nganggo tembok,
Sebab swara iku… nyawa.”
Dan saat bait terakhir rampung, langit terbuka—bukan dalam arti fisik, tapi dalam rasa. Angin berhenti. Semua suara lenyap. Dan satu demi satu warga desa ambruk, tertidur. Tidak mati. Tidak sadar. Tapi tertulis. Mereka menjadi bagian dari naskah yang lebih tua dari keraton, lebih gelap dari mantra, dan lebih dalam dari sendang.
Tembang Larung Mayit telah rampung. Tapi bukan di lontar. Melainkan di desa itu sendiri.
Ketika fajar menyingsing, Bu Ratih adalah satu-satunya yang terjaga. Ia berdiri di tengah balai desa yang kini kosong. Lontar-lontar tua telah hancur menjadi debu. Pawon Swara berubah menjadi batu cair, seolah tak pernah dibangun. Ningsih menghilang tanpa jejak.
Tapi satu suara tetap terdengar—pelan, jauh, tak jelas… namun terus-menerus:
“Bait kesepuluh… akan ditulis di tempat lain.”
Dan Bu Ratih tahu, kutukan itu tak pernah berakhir. Ia hanya pindah halaman.
Sejak tembang kedelapan ditulis dalam diam, Dusun Wiragati tak pernah benar-benar tidur. Orang-orang bangun tengah malam, terdorong rasa cemas yang tak mereka pahami. Dupa habis lebih cepat dari biasanya. Anak-anak menangis tanpa sebab. Dan para tetua mulai bertanya-tanya: siapa yang akan menjadi pengendali dusun jika suara lama kembali hidup? Dalam keheningan yang masih menggema, kekuasaan mulai goyah.
Pak Lurah, yang selama ini memimpin dengan tenang, mulai menunjukkan tanda-tanda ketakutan. Ia memanggil empat kepala rukun dalam rapat diam-diam di rumahnya. Mereka duduk mengelilingi meja kayu, tak berani menyebut nama Ningsih, tapi semua sadar: suara lama telah memilih wadah, dan dusun ini kini hanya punya dua pilihan—menerima atau mengasingkan.
Namun pilihan ketiga tiba-tiba mengendap dari mulut Pak Lurah: "Atau… kita kunci dia."
Kepala Rukun RT II, Pak Darmo, mengerutkan dahi. “Kunci? Maksudmu mengasingkan Ningsih?”
Pak Lurah mengangguk. “Bukan mengasingkan. Kita rawat dia. Tapi dalam tempat yang tak bisa ia tinggalkan.”
“Seperti penjara?”
“Seperti pura.”
Kata itu bergema lebih berat daripada yang mereka kira. Mereka akan membangun tempat suci untuk mengurung… suara. Tapi benarkah yang mereka tahan adalah suara? Atau rasa takut mereka sendiri?
Di sisi lain dusun, Mbok Jirah mendengar kabar itu dari angin. Ia tahu nada-nada penuh intrik yang mengendap di balik rumah kayu dan kursi rapat. Ia pernah mendengarnya dulu—saat Retnadi dikorbankan karena dianggap penyebab musim gagal panen. Dan kini, sejarah hendak diulang. "Bukan suara Ningsih yang menakutkan mereka," gumamnya, "tapi kemungkinan bahwa tembang lama lebih jujur daripada para pemimpinnya."
Di balai desa, Pak Wiryo membaca kembali lontar-lontar yang nyaris hangus. Di antaranya, ia menemukan naskah retak berjudul “Tatacara Pangiket Swara”—sebuah panduan kuno untuk memenjarakan tembang di dalam tubuh. Ia gemetar. Panduan itu hanya boleh dibaca oleh pemimpin spiritual dusun, dan setiap penggunaannya mengorbankan satu nyawa muda. Ia menyadari bahwa para lurah dahulu… pernah membungkam tembang dengan darah.
Malam harinya, warga dikumpulkan. Pak Lurah berdiri di mimbar balai desa dengan suara keras—berbeda dari biasanya. Ia menyampaikan bahwa desa akan membangun Pawon Swara—tempat perlindungan, katanya, bagi yang “terpilih dan terkutuk.” Tapi tatapan warga kosong. Beberapa melihat Ningsih, berdiri di kejauhan, mengenakan kain putih dan memegang sampur seperti biasa. Tak ada senyum di wajahnya. Tapi angin di sekelilingnya… membisikkan dendam.
“Ningsih tidak meminta suara itu,” kata Mbok Jirah dari belakang kerumunan. “Ia hanya tubuh yang dipilih oleh sejarah. Tapi kalian akan mengurungnya… karena kalian takut sejarah akan mengulang luka yang kalian sembunyikan.”
Suasana hening. Pak Lurah menatap tajam. “Ia bukan kutukan, tapi ia membuka pintu yang seharusnya tetap terkunci!”
Dan dengan itu, bayang-bayang politik pun berubah menjadi cakar kutukan.
Seorang pemuda dari pinggiran dusun maju. Namanya Surya, cucu dari dukun desa yang dulu dibakar karena dianggap pengganggu panen. “Kalau suara bisa memilih tubuh, kenapa kalian memilih tembok?” katanya. “Kenapa tidak pilih mendengarkan dulu, sebelum menutup pintu?” Tapi argumen logis tak bisa menandingi ketakutan massal. Apalagi ketika kekuasaan mulai merasa dirinya bisa mengatur arwah.
Di malam berikutnya, pembangunan Pawon Swara dimulai. Tanah dipilih di bekas panggung Retnadi—sebuah pelanggaran yang tak terlihat oleh hukum manusia, tapi dicatat oleh langit. Di sana, batu-batu dari candi terbengkalai dibawa tanpa doa, dan tembok dibangun dari semen dan kelupaan. Tapi setiap kali dinding berdiri… suara gamelan samar terdengar dari bawah tanah. Gamelan yang marah. Gamelan yang belum rampung.
Dan dari kejauhan, di dalam kabut tipis di pinggir sendang, Ningsih menari. Tak ada musik. Tak ada penonton. Tapi tanah di bawahnya mulai retak halus, dan akar-akar tua dari pohon beringin melingkar ke arah dusun.
Karena satu hal telah dibangkitkan:
Tembang tak bisa dikurung.
Ia hanya bisa ditulis ulang—dengan darah baru.
Dan darah itu… telah mulai mengalir.
Malam keempat sejak batu pertama Pawon Swara ditanamkan, para pekerja mulai bermimpi buruk. Satu orang mengigau dalam tidur: "Tutuplah mulutnya, sebelum ia menyanyi bait kesembilan!" Satu lainnya bangun dengan mata bengkak dan bekas cakaran di punggung. Namun tak seorang pun berani berhenti, sebab proyek itu kini dilindungi langsung oleh lurah dan para tetua desa yang haus akan kekuasaan spiritual. Ketika suara takut dibungkam, maka tubuh mulai bicara.
Salah satu pekerja bernama Giman tiba-tiba menghilang. Sepatunya ditemukan di dekat sendang, namun tubuhnya tak pernah muncul. Penduduk mulai berspekulasi: apakah ia tergelincir? Atau ditelan air? Namun beberapa warga tua tahu—jika sendang memakan seseorang tanpa suara, itu artinya tubuh itu telah menjadi bagian dari bait. Dan bait yang lapar… tak pernah cukup dengan satu korban.
Mbok Jirah mulai dikucilkan. Ia dianggap provokator karena tak mendukung pembangunan Pawon Swara. Tapi ia tetap duduk di beranda rumahnya, menulis bait demi bait dalam bahasa aksara Jawa yang tak lagi diajarkan. Setiap malam, lontarnya semakin banyak, tapi tak satu pun bertahan hingga pagi. Semua terbakar sendiri. Seolah tembang yang ingin ditulis… tak ingin diikat oleh tangan manusia.
Ningsih, sejak malam bait kedelapan, tak pernah bicara. Tapi ia mulai menggambar. Dinding rumahnya kini penuh dengan lukisan arang: wajah-wajah penari larung dari masa silam, panggung-panggung tua, dan sebuah bangunan tinggi dari batu yang ditelan tanah. Di antara gambar itu, satu tulisan muncul berulang kali:
"Ora bisa dikubur swara kang lair saka lara."
(Tak bisa dikubur suara yang lahir dari luka.)
Warga mulai mendengar suara aneh saat subuh. Bukan adzan, bukan suara ayam. Tapi suara perempuan menyanyi dari dasar tanah. Suaranya bergetar, memanggil nama-nama yang tak dikenal, dalam bahasa yang tak sepenuhnya manusia. Beberapa warga menggigil saat mendengarnya. Satu nenek bahkan muntah darah sambil berteriak: “Itu bukan nyanyian… itu ajakan!”
Ajakan untuk turun, untuk larung, untuk mengakhiri apa yang belum selesai.
Pak Lurah memanggil seorang "ustadz" dari kota untuk menenangkan warga. Tapi malam sebelum ustadz itu datang, rumahnya terbakar. Anehnya, hanya rak buku dan lemari tempat ia menyimpan catatan dusun yang hangus total. Tubuhnya ditemukan selamat tapi linglung. Ia hanya menggumam berulang: “Kalian tak bisa menambal luka dari langit… dengan semen dari tanah.”
Di tengah kecamuk itu, seorang tokoh baru datang ke dusun: Bu Ratih, seorang peneliti kebudayaan dan penulis skripsi tentang "tradisi tembang ritual Jawa". Ia datang karena mendengar kabar dari radio AM tua tentang dusun yang hendak mengunci tembang dalam sebuah pura. Ia tertarik, tapi juga curiga. "Tembang tidak dibuat untuk dikurung," katanya saat pertama kali mewawancarai Pak Wiryo. "Tembang adalah tubuh dari sejarah. Jika kalian kurung, kalian sedang mengubur ingatan sendiri."
Pak Wiryo menunjukkan lontar-lontar yang nyaris hangus. Bu Ratih membacanya, dan wajahnya berubah pucat. Ia menyadari bahwa Pawon Swara bukan tempat penyimpanan… tapi tempat penahanan tembang yang belum pernah berhasil. Tembang larung adalah ritual yang menuntut akhir dalam bentuk tarian dan pengorbanan. Tapi jika akhir itu diganggu, ia akan mencari wadah baru—dan bisa berubah menjadi tembang penghancur.
“Ini bukan lagi budaya,” katanya lirih. “Ini ancaman metafisik.”
Di malam yang sama, Bu Ratih mendengar suara Ningsih dari kejauhan. Bukan suara manusia, tapi getaran halus seperti bisikan yang ditarik dari akar bumi. Ia mengikuti suara itu… dan menemukan Ningsih menari sendirian di pinggir sendang, dikelilingi lingkaran bunga-bunga yang layu di satu sisi tapi mekar di sisi lain. Tubuhnya bergerak lambat seperti wayang.
Dan di langit… muncul cahaya merah berbentuk aksara: ꦭ (la) — bait awal dari tembang kesembilan.
Dan dusun pun mulai retak—bukan secara fisik, tapi dalam kesadaran. Sebagian ingin mengunci masa lalu. Sebagian ingin mendengarkannya. Sebagian lagi hanya ingin bertahan tanpa terlibat. Tapi tembang tidak peduli. Ia hanya tahu: ia belum rampung. Dan bait kesembilan sedang mengalir dalam tubuh-tubuh yang tidak bersalah.
Bait yang jika selesai… bisa menjadi lagu penutup.
Atau ratapan terakhir sebuah desa.
Pagi itu, Bu Ratih duduk di rumah Pak Wiryo, dikelilingi lontar-lontar tua yang kini ditutupi kain putih. Ia membaca dengan cepat namun penuh hormat. Setiap aksara yang tergores membawa jejak darah, udara, dan peringatan. Ia menemukan sesuatu yang ganjil: ada satu bait yang selalu hilang dari setiap naskah tembang larung. Tidak dihapus, tidak dilupakan—namun sengaja dikosongkan. Seperti seseorang dulu berusaha menyelamatkan dunia dengan membiarkan bagian itu tak terucap.
“Ini bukan kesalahan penyalin,” katanya lirih. “Ini bentuk pembungkaman terencana.” Pak Wiryo mengangguk perlahan. Ia tahu, tapi tak berani mengucapkannya selama ini. “Bait kesembilan tidak ditulis,” ujar Pak Wiryo. “Karena ia bukan untuk didengar oleh telinga manusia biasa. Konon, hanya kalangan keraton dan penari sakral yang boleh mendengarnya.”
Bu Ratih mencatat: bait kesembilan = tembang larangan kerajaan.
Ia pergi ke rumah kepala dusun lama yang kini sudah tua dan nyaris pikun. Di sana ia menemukan sekar gending—buku tua tentang jenis-jenis tembang kerajaan. Dalam salah satu halamannya, tertulis dalam huruf pudar:
“Tembang Larung Mayit dilarang dibacakan lengkap. Bait kesembilan menyimpan mantera untuk membuka alam antar–antara:
tempat roh penari, pengganti, dan penyambung jiwa…”
Kalimat itu berhenti di situ, seperti diputus dengan sengaja.
Malam itu, Bu Ratih menyalin kalimat itu ke dalam buku catatannya dan mencocokkannya dengan lukisan-lukisan Ningsih. Ia mulai menyadari bahwa setiap gerakan tarian Ningsih adalah kode—gerak tubuh sebagai penulisan ulang aksara. Dan bait kesembilan sedang ditulis perlahan… bukan lewat mulut, tapi lewat tubuh hidup. Tubuh itu adalah surat. Dan isinya belum sepenuhnya terbaca.
Mbok Jirah akhirnya menemui Bu Ratih. Ia membuka rahasia lama: dulu, ibunya adalah pembaca tembang untuk keluarga keraton. Ia pernah membaca bait kesembilan, dan sejak itu, ia buta—bukan karena penyakit, tapi karena "mata batinnya dipenuhi terlalu banyak wajah orang mati." Mbok Jirah memperingatkan:
“Jika kau teruskan membaca, kau tak hanya membaca sejarah. Kau akan membaca neraka orang lain.”
Tapi Bu Ratih sudah terlalu jauh untuk berhenti. Ia mendatangi bagian belakang balai dusun, di mana arsip kuno tersimpan. Di sana ia menemukan surat-surat rahasia dari masa kolonial. Salah satunya mencatat bahwa tentara Belanda pernah menyaksikan tarian larung di sendang Wiragati dan melaporkan peristiwa itu sebagai ritual pemberontakan spiritual. Mereka menyebut tembang itu “nyanyian maut yang membuat tanah menolak bangunan.” Satu batalyon Belanda bahkan mengalami halusinasi massal setelah mendengar irama gamelan dari air.
Semua catatan itu membentuk satu benang merah: bait kesembilan bukan sekadar puisi penutup. Ia adalah kunci pembuka dunia ketiga—tempat tinggal arwah yang tidak diterima langit maupun bumi. Ketika bait itu dilantunkan lengkap, batas akan runtuh. Dan orang-orang seperti Ningsih… menjadi jembatannya.
Bu Ratih menggenggam catatan itu erat. “Jika mereka melanjutkan pembangunan Pawon Swara, dan bait ini rampung… dunia bisa berbalik arah.”
Di tengah malam yang sunyi, Bu Ratih terbangun oleh suara arang yang digores di dinding. Ia menyangka maling, tapi saat ia menyalakan lampu, ia melihat gambar baru di dinding kamarnya: siluet keraton yang terbelah dua dan dari celah itu, muncul bayangan penari-penari tanpa wajah. Di bawahnya, tertulis satu kalimat dengan darah kering:
“Nanging swara ora iso dibendung… mung iso diarak.”
(Tapi suara tak bisa dibendung… hanya bisa diarak.)
Bu Ratih mendatangi Pak Lurah. Ia mencoba memperingatkan. Tapi lurah menolak. "Kita hanya perlu menutup mulut Ningsih. Tak ada tembang tanpa suara."
Bu Ratih membalas pelan, “Tapi tembang ini tak lahir dari mulut. Ia lahir dari luka, dari tubuh, dari sejarah. Dan sejarah... tak bisa kalian bungkam dengan tembok.”
Pak Lurah diam, tapi matanya menunjukkan ketakutan yang tak bisa ditutupi oleh jabatan.
Dan di malam yang sama, Ningsih menari lagi di pinggir sendang. Tapi kali ini… ada penonton. Bukan manusia. Tapi roh-roh yang tak selesai menari di masa lalu. Mereka berdiri dalam lingkaran, diam, menunggu bait terakhir.
Di atas langit, awan membentuk aksara samar:
ꦢ (da)
Tanda bahwa bait kesembilan mulai menunjukkan wujudnya.
Dan dusun tak punya banyak waktu lagi.
Di hari ke-9 pembangunan, tanah mulai retak. Bukan gempa. Tapi seperti napas dari bawah tanah yang terlalu lama ditahan. Seorang pekerja jatuh ke dalam celah kecil di dekat pondasi Pawon Swara. Tubuhnya ditemukan setengah terkubur, matanya membelalak ke langit, dan di dadanya tertulis aksara Jawa yang tergores seperti luka: “ꦩ꧀ꦤꦶꦏ” (mnikā - "aku miliknya"). Tak ada yang bisa menjelaskan dari mana goresan itu muncul. Tapi semua tahu: itu bukan tulisan tangan manusia.
Pak Lurah bersikeras melanjutkan pembangunan. Ia menyebut kejadian itu sebagai “ujian spiritual.” Tapi malam itu, istrinya mendadak kehilangan suara. Ia membuka mulut, menggerakkan lidah, tapi tak ada satu pun bunyi keluar. Bu Ratih datang dan menatap perempuan itu dalam-dalam, lalu berkata lirih, “Ia sudah dipanggil… jadi tubuhnya ditandai.”
Mereka mengerti saat itu juga: bait kesembilan sedang mencari korbannya sendiri.
Di rumahnya, Ningsih menggambar ulang seluruh bait tembang dalam gerakan tubuh. Tapi kali ini, ia tak sendiri. Cermin-cermin di sekelilingnya memantulkan bukan hanya dirinya, melainkan penari-penari lain—Retnadi, Saktinah, Tunjung Sekar—semuanya menari bersamanya, dalam ritme yang tak didengar telinga, tapi dirasakan oleh tulang.
Tembang telah bangkit. Tapi ia tak ingin dinyanyikan. Ia ingin dihidupkan kembali.
Bu Ratih mulai menyalin ulang seluruh lontar yang sempat ia pelajari. Ia menyadari satu hal yang lebih mengerikan: bait kesembilan bukan hanya membuka alam antara, tapi juga mengubah dunia nyata menjadi bagian dari bait itu sendiri. Desa bukan lagi panggung. Ia adalah lontar hidup, dan setiap rumah, pohon, dan manusia adalah aksara yang akan segera dibaca oleh kekuatan yang lama terkubur.
Pada malam Jumat Kliwon, warga mulai kerasukan secara acak. Mereka menari di jalanan, di pelataran rumah, bahkan di sawah. Suara gamelan berdentang dari arah sendang, meski tak ada yang memainkannya. Beberapa warga menangis sambil menjerit, “Tutuplah lontar! Sebelum ia membaca kita semua!” Tapi sudah terlambat. Pawon Swara kini mengeluarkan suara sendiri—gemuruh lirih seperti napas bayi… atau bisikan kubur.
Pak Wiryo mencoba menghentikan pembangunan dengan membakar blueprint dan menyiram keris pengunci dengan darahnya sendiri. Tapi ia tak tahu bahwa keris itu justru menjadi katalis. Besi panas yang pernah memutus tembang… kini membuka jalurnya kembali. Api dari pembakaran itu menjalar ke tanah, membentuk huruf-huruf yang menyala merah:
ꦠꦩ꧀ꦧꦁ ꦭꦫ ꦩꦪꦶꦠ꧀
(Tembang Larung Mayit)
Kini baitnya punya tubuh. Dan tubuh itu… berjalan.
Di tepi sendang, Ningsih menari untuk terakhir kalinya malam itu. Tapi kali ini, seluruh warga menyaksikan. Tak ada yang bisa menoleh. Tak ada yang bisa lari. Karena di bawah kaki Ningsih, tanah bergelombang seperti kulit makhluk hidup, dan dari air sendang muncul wajah-wajah yang tak utuh, menatap, meminta…
“Lanjutkan baitnya… biarkan kami menutupnya…”
Tapi saat bait kesembilan hampir selesai ditulis lewat tarian, sesuatu terjadi. Dari jauh, suara kecil terdengar—suara anak kecil yang menembang dalam nada pelan namun pasti. Suara itu memecah suasana. Ningsih berhenti menari. Suara itu berasal dari seorang bocah perempuan—anak petani yang kerasukan seminggu lalu. Dari mulutnya, bait kesembilan akhirnya dilantunkan:
“Yen swara lair saka lara,
Aja kok kurung nganggo tembok,
Sebab swara iku… nyawa.”
Dan saat bait terakhir rampung, langit terbuka—bukan dalam arti fisik, tapi dalam rasa. Angin berhenti. Semua suara lenyap. Dan satu demi satu warga desa ambruk, tertidur. Tidak mati. Tidak sadar. Tapi tertulis. Mereka menjadi bagian dari naskah yang lebih tua dari keraton, lebih gelap dari mantra, dan lebih dalam dari sendang.
Tembang Larung Mayit telah rampung. Tapi bukan di lontar. Melainkan di desa itu sendiri.
Ketika fajar menyingsing, Bu Ratih adalah satu-satunya yang terjaga. Ia berdiri di tengah balai desa yang kini kosong. Lontar-lontar tua telah hancur menjadi debu. Pawon Swara berubah menjadi batu cair, seolah tak pernah dibangun. Ningsih menghilang tanpa jejak.
Tapi satu suara tetap terdengar—pelan, jauh, tak jelas… namun terus-menerus:
“Bait kesepuluh… akan ditulis di tempat lain.”
Dan Bu Ratih tahu, kutukan itu tak pernah berakhir. Ia hanya pindah halaman.
0