- Beranda
- Stories from the Heart
TEMBANG LARUNG MAYIT (HORROR, MISTERI)
...
TS
LiongMelfin
TEMBANG LARUNG MAYIT (HORROR, MISTERI)
Di dusun Tegalranti, tembang Jawa kuno terdengar setiap malam Jumat Kliwon dari dasar sendang yang disucikan. Tak ada yang berani mendengarkannya sampai habis—konon, bait terakhir membangkitkan mereka yang telah ditenggelamkan: mayat-mayat penari yang dikutuk tak bisa mati.
Arsad, seorang mahasiswa antropologi, datang untuk meneliti ritual larung mayit dan tembang kematian yang telah dilupakan. Tapi kedatangannya justru membuka segel kutukan yang selama ini dikunci oleh darah dan tembang.
Saat realitas mulai retak, dan suara-suara dari dalam air memanggil namanya, Arsad dihadapkan pada satu pilihan: berhenti menulis… atau ikut dituliskan dalam bait terakhir.
Tembang Larung Mayitadalah kisah horor gothic yang membaurkan budaya Jawa, mitos lokal, dan teror psikologis dalam narasi mencekam yang menghantui bahkan setelah cerita berakhir.
1. BAYANGAN YANG MENULIS DIRINYA SENDIRI
2. BAIT YANG DILUPAKAN
3. BAYANG YANG TERTINGGAL
4. BAYANG YANG TERTINGGAL (LANJUTAN)
5. BAYANG-BAYANG YANG TAK BISA LARUNGTEMBANG YANG TAK BISA DI DENGAR
6. PENCURI SUARA YANG MENGUNCI DUNIA
7. WARISAN YANG BERDENYUT
8. BAIT BISU YANG DIPILIH
9. LURAH, LONTAR, DAN LUKA YANG DISIMPAN
10. Gending yang Dilupakan, Tubuh yang Dikorbankan
11. Tunjung Ayu, Penari Istana yang Dilarung oleh Cahaya
12. Mereka yang Datang Tanpa Mendengar
13. Bait-bait Yang Di Gugat
14. Gending yang Menyebrang Batas

Arsad, seorang mahasiswa antropologi, datang untuk meneliti ritual larung mayit dan tembang kematian yang telah dilupakan. Tapi kedatangannya justru membuka segel kutukan yang selama ini dikunci oleh darah dan tembang.
Saat realitas mulai retak, dan suara-suara dari dalam air memanggil namanya, Arsad dihadapkan pada satu pilihan: berhenti menulis… atau ikut dituliskan dalam bait terakhir.
Tembang Larung Mayitadalah kisah horor gothic yang membaurkan budaya Jawa, mitos lokal, dan teror psikologis dalam narasi mencekam yang menghantui bahkan setelah cerita berakhir.
1. BAYANGAN YANG MENULIS DIRINYA SENDIRI
2. BAIT YANG DILUPAKAN
3. BAYANG YANG TERTINGGAL
4. BAYANG YANG TERTINGGAL (LANJUTAN)
5. BAYANG-BAYANG YANG TAK BISA LARUNGTEMBANG YANG TAK BISA DI DENGAR
6. PENCURI SUARA YANG MENGUNCI DUNIA
7. WARISAN YANG BERDENYUT
8. BAIT BISU YANG DIPILIH
9. LURAH, LONTAR, DAN LUKA YANG DISIMPAN
10. Gending yang Dilupakan, Tubuh yang Dikorbankan
11. Tunjung Ayu, Penari Istana yang Dilarung oleh Cahaya
12. Mereka yang Datang Tanpa Mendengar
13. Bait-bait Yang Di Gugat
14. Gending yang Menyebrang Batas

TEMBANG LARUNG MAYIT BY AMELIONG @OWNERLIEBI
Diubah oleh LiongMelfin 03-07-2025 22:34
bukhorigan dan 7 lainnya memberi reputasi
8
2.2K
45
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
LiongMelfin
#3
Bayang yang Tertinggal
Fajar yang muncul setelah malam itu bukan fajar yang biasa. Langit berwarna merah kehitaman, seperti luka yang menganga. Kabut masih menggantung di pelataran rumah Pak Wiryo, seakan enggan meninggalkan tanah yang telah dibangkitkan kembali oleh tembang. Arsad duduk di serambi, matanya merah, tangannya gemetar karena tidak tidur. Di hadapannya, lembaran lontar dan catatan-catatan berserakan seperti tubuh-tubuh yang tak sempat dikuburkan. Ia mencoba menenangkan pikirannya, tapi suara bait keempat terus mengalun dalam kepalanya. Ia mencoba menuliskan bait kelima malam tadi, tapi tak satu pun kata berhasil tertulis. Seolah kertas itu menolak diisi sebelum waktunya.
Dari balik pintu, suara langkah Mbok Jirah terdengar pelan. Wajahnya tampak lebih tua dari semalam, matanya kosong. Ia duduk di samping Arsad tanpa berkata sepatah kata pun. Hening menggantung di antara mereka, hingga akhirnya Mbok Jirah berkata lirih, “Kau tahu, dulunya dusun ini selalu dipenuhi suara. Gamelan, tembang, tawa anak-anak, doa dari langgar. Tapi sejak Tunjung Sekar dilarung, semua suara itu perlahan hilang. Dusun ini hidup, tapi jiwanya mengungsi.” Arsad tidak menjawab. Ia tahu, suara yang ia dengar semalam bukan hanya tembang—tapi juga jeritan dari sesuatu yang telah lama dikubur.
Mbok Jirah menatap tangannya yang keriput. “Kami sudah terlalu tua untuk memperbaiki apa yang kami lakukan dulu. Kami cuma bisa menunggu… dan berharap, ada yang cukup kuat untuk menghadapinya.” Arsad ingin bertanya siapa yang ia maksud dengan ‘kami’, tapi tak sempat. Pak Wiryo keluar dari dalam rumah dengan langkah tertatih, membawa gulungan kain putih berisi naskah lama yang belum pernah ditunjukkan. “Ini milik Kakekku,” katanya pendek. “Ia adalah dalang, dan juga saksi pertama ritual terakhir sebelum larung Tunjung Sekar. Apa yang ia lihat, ia simpan di sini. Tapi butuh seseorang yang dipilih tembang untuk membukanya.”
Arsad menerima gulungan itu. Tangannya bergetar saat menyentuh kainnya—bukan karena takut, tapi karena naskah itu hangat. Seperti denyut nadi. Di balik gulungan kain tua, terlipat rapi naskah kertas bergambar pewayangan. Namun wayang yang tergambar bukan tokoh Mahabharata atau Ramayana. Tokoh itu... tanpa nama. Bertopeng, tanpa mulut, dengan gamelan di punggungnya dan bayangan perempuan menari di bawah kakinya. Di sudut gambar tertulis aksara: “Sang Cangkem Rereh, panggudo tembang peteng.” Arsad tidak mengerti sepenuhnya, tapi tubuhnya menggigil saat membaca nama itu: Sang Mulut Pelan, pemanggil tembang gelap.
Malam sebelumnya, ia sempat bermimpi. Tapi entah mengapa, ingatan itu baru kembali saat ia memandangi gambar tersebut. Dalam mimpinya, ia berjalan di dalam gua penuh air, dan setiap tetes air yang jatuh berubah menjadi suara. Di ujung gua, ada seorang perempuan tanpa wajah yang menari dalam posisi terbalik, dengan darah menetes dari ujung rambutnya. Suara dalam mimpinya berkata: “Bait terakhir tak bisa ditulis dengan tangan. Hanya bisa digoreskan dengan luka.” Ketika ia terbangun, ia mendapati tangannya penuh goresan halus yang tidak ia sadari saat tidur.
Hari itu mereka tidak bicara banyak. Pak Wiryo menyarankan agar Arsad mengunjungi rumah peninggalan dalang tua yang disebut dalam naskah—sebuah rumah joglo tua di bagian timur dusun, yang konon telah ditutup sejak puluhan tahun lalu. “Di sana mungkin kau akan mengerti siapa yang menyimpan bait terakhir,” ujar Pak Wiryo sambil menatap tajam. “Karena tidak semua larung dilakukan karena tradisi. Sebagian... karena dosa yang harus ditutup darah.” Arsad menelan ludah. Ia merasa perjalanan ini bukan lagi tentang tembang, tapi tentang luka kolektif yang dijadikan warisan.
Saat siang menjelang, Arsad menyusuri jalan setapak menuju timur dusun. Rumah-rumah terlihat kosong, meski jendela terbuka. Tak ada suara ayam, tak ada tawa anak. Seperti dusun ini mengintai dari balik tirai waktu. Ia sampai di depan rumah joglo yang dimaksud—bangunan besar, beratap sirap, dengan pintu utama yang dikunci palang kayu. Di sana tergantung kain hitam bertuliskan aksara Jawa: “Aja dibukak sadurunge tembang rampung.” Jangan dibuka sebelum tembang selesai. Tapi Arsad tahu... justru di sinilah kuncinya. Ia mengetuk. Tidak ada jawaban. Lalu mengetuk lagi, dan pintu itu... terbuka sendiri.
Di dalam rumah, udara terasa berat. Bau kayu tua bercampur anyir darah dan dupa. Debu menutupi hampir seluruh permukaan perabotan, tapi di tengah ruangan terdapat satu meja kecil, bersih, seolah baru dipakai semalam. Di atasnya terletak wayang kulit tunggal, tertancap dalam bantal pentas, dan secarik kain putih berlumur darah kering. Di belakang ruangan, tergantung gamelan yang sudah tidak bersuara, tapi permukaannya penuh ukiran tangan-tangan kecil yang menjerit. Arsad merinding. Ruangan ini bukan hanya peninggalan—ini adalah panggung untuk pertunjukan yang tidak pernah selesai dimainkan.
Ia duduk perlahan di depan meja itu, dan saat jemarinya menyentuh bantal wayang, matanya langsung terpejam. Sebuah suara masuk ke dalam kepalanya, suara tua, berat, seperti berasal dari tenggorokan manusia yang telah lama membusuk. “Kau yang menulis... tapi kau bukan pengarangnya. Kau hanya corong. Dan kini, suara kami telah menemukanmu.” Arsad ingin membuka mata, tapi kelopak matanya tak bisa digerakkan. Di dalam pikirannya, ia melihat perempuan-perempuan larung menari di panggung darah. Dan di ujung panggung, seorang anak kecil dengan mata hitam tanpa bola mata menggenggam pena dan tersenyum padanya.
Saat ia membuka mata, hari telah gelap. Ia tak sadar telah tertidur atau hilang kesadaran. Di hadapannya kini terbuka satu lembar naskah baru, tidak ia bawa sebelumnya. Kertas itu ditulis dengan tinta emas di atas kain hitam. Hanya satu baris: “Bait kelima tidak ditulis... bait kelima dijalani.” Arsad menatapnya lama. Ia sadar—ia bukan hanya saksi dari kisah ini. Ia telah menjadi bagian darinya. Dan untuk menyelesaikan tembang itu, ia harus menjadi tembang itu sendiri.
Arsad pulang dari rumah joglo dengan langkah limbung. Udara di luar tak lagi sama; lebih hangat tapi menyimpan aroma basah seperti tanah kuburan baru. Di tangannya tergenggam erat naskah bertinta emas yang ia temukan. Sepanjang perjalanan pulang, matanya terus menoleh ke belakang, seolah ada langkah-langkah halus yang mengikutinya dari balik bayang-bayang pohon. Tidak ada yang terlihat, tapi daun-daun bergoyang seakan dilewati sosok tak kasatmata. Sesekali ia mendengar suara kecil menyanyikan bait tembang, namun dengan bahasa yang belum pernah ia dengar. Seperti tembang dari zaman sebelum bahasa terbentuk.
Sesampainya di rumah Pak Wiryo, ia langsung disambut dengan keheningan. Tak ada suara, tak ada lampu menyala. Rumah itu tampak seperti ditinggalkan. Namun begitu ia membuka pintu, ia mendapati Pak Wiryo sedang duduk bersila di tengah ruangan, dikelilingi lilin dan asap dupa yang mengepul pekat. Di hadapannya, lontar-lontar tua terbuka, membentuk pola lingkaran. “Duduklah,” ucapnya tanpa menoleh. “Kau sudah masuk terlalu dalam, Nak. Kini hanya ada dua pilihan: menyelesaikannya, atau tenggelam bersama mereka yang gagal.” Arsad menelan ludah dan duduk di seberang.
Pak Wiryo menyentuh naskah bertinta emas itu. “Ini bukan naskah biasa. Ini adalah ‘layang panggudo’—lembar pemanggil. Siapa pun yang memilikinya, akan dibawa masuk ke dalam panggung kematian.” Ia menatap Arsad dalam-dalam. “Dan panggung itu bukan hanya milik Tunjung Sekar. Ada penari sebelum dia. Ada nyawa-nyawa yang dilarung bahkan sebelum dusun ini punya nama.” Arsad terpaku. “Dusun ini dibangun di atas panggung kutukan, Arsad. Sebuah tempat yang dibentuk dari nyanyian dan darah.” Kata-kata itu membuat bulu kuduknya berdiri.
Mbok Jirah masuk membawa kendi air dan secarik kain kafan. “Kau harus bersuci dulu,” katanya datar. “Bait kelima tidak bisa dijalani dengan tubuh yang membawa dunia.” Arsad menurut. Ia mengguyur wajah dan tangan dengan air kendi yang beraroma melati dan kemuning, lalu mengganti bajunya dengan kain putih lusuh yang diberikan. Saat ia duduk kembali di dalam lingkaran lontar, suasana berubah. Udara menebal, napas terasa berat. Lilin bergetar, dan api mulai membentuk bayangan yang tak mengikuti gerak benda—bayangan yang punya kehendaknya sendiri.
Pak Wiryo mulai melantunkan tembang pembuka. Suaranya rendah, penuh getar dan nada tinggi yang tidak wajar bagi usianya. Saat bait pertama selesai, Arsad mulai merasa telinganya berdengung. Dunia di sekitarnya melarut, ruangan berganti menjadi gelap pekat, dan dari kejauhan terdengar gemerincing gelang kaki penari. Ia melihat dirinya berdiri di tepi panggung tua, dengan tubuh berkain putih dan di hadapannya, sebuah gamelan tua berkarat memainkan dirinya sendiri. Ia telah masuk ke dalam panggung larung—tempat di mana bait kelima hanya bisa ditapaki, bukan dibaca.
Dari balik kabut, muncullah sosok wanita bermahkota bunga kantil kering. Ia menari dengan langkah lambat namun dalam, gerakannya menyapu udara seperti merobek waktu. Arsad tak bisa bergerak. Tubuhnya kaku. Tapi suara dalam kepalanya membimbing, “Ikuti geraknya… atau kau akan hancur bersama tanah ini.” Ia mencoba mengikuti gerakan itu, satu per satu, seperti dipanggil oleh memori yang bukan miliknya. Setiap langkah membawa rasa sakit. Otot-ototnya menegang, tapi di balik rasa sakit itu, ia merasakan... sesuatu yang seperti kebenaran purba. Seolah tubuhnya sedang menebus dosa yang belum sempat ditebus.
Gamelan tiba-tiba berdentang keras. Sosok wanita itu menoleh padanya dan mulai menyanyikan bait kelima. Tapi suaranya bukan suara manusia. Ia terdengar seperti tanah longsor, jerit bayi, dan denting logam berkarat menjadi satu. Arsad menjerit, bukan karena takut, tapi karena bait itu... adalah tentang dirinya. Tentang ibunya yang hilang di sendang saat ia masih bayi. Tentang darah yang mengalir di tubuhnya yang ternyata berasal dari garis keturunan pelarung. Ia bukan hanya pewaris kisah. Ia adalah bagian dari darah kutukan itu sendiri.
Saat nyanyian mencapai nadir, panggung mulai runtuh. Gamelan pecah satu per satu, dan air sendang menyembur dari bawah lantai. Arsad terseret ke dalam pusaran, tubuhnya terhuyung dalam gelap dan bunyi dentuman. Ia merasa tubuhnya hancur, tercerai. Tapi dalam kehancuran itu, ia mendengar suara kecil—suara anak kecil yang tertawa, lalu bersenandung. Ia membuka matanya dan mendapati dirinya kembali di ruang Pak Wiryo, namun kini duduk sendirian. Lingkaran lontar telah gosong. Lilin padam. Pak Wiryo dan Mbok Jirah… menghilang.
Di atas lantai, hanya tersisa satu benda: topeng penari kecil dari kayu cendana. Topeng itu menatapnya kosong, tapi di bagian belakangnya terukir satu kalimat dengan tulisan tangan: “Jangan dengarkan sampai bait terakhir.” Arsad menggenggam topeng itu. Kini ia mengerti: bait kelima bukan akhir. Bait kelima adalah pintu. Dan ia telah membukanya. Di luar rumah, suara gamelan kembali terdengar. Namun kali ini... bukan hanya dari arah sendang. Tapi dari seluruh penjuru dusun. Seakan seluruh tanah mulai menyanyi.
Arsad bangkit perlahan. Ia mengambil catatan-catatan dan lontar yang tersisa, lalu melangkah ke luar. Malam telah turun. Bulan merah menggantung rendah di langit, dan kabut menyelimuti rumah-rumah yang tampak hidup meski tak berpenghuni. Setiap langkahnya menggema, dan suara bait kelima terus mengikuti, menyatu dengan detak jantungnya. Ia tahu satu hal pasti: malam ini, tembang belum selesai. Dan tugasnya... baru saja dimulai.
Arsad berjalan perlahan melewati jalanan dusun yang tampak sama namun terasa berbeda. Dinding rumah-rumah yang tadinya kusam, kini tampak berembun dari dalam. Seperti napas dari sesuatu yang baru saja bangkit. Gamelan terdengar dari segala arah, namun tak satu pun manusia terlihat. Suara kendang, bonang, dan saron mengalun dengan tempo lambat, menciptakan irama yang membuat jantungnya berdetak tak selaras. Di kejauhan, ia melihat bayangan penari berkebaya putih yang berlalu begitu saja, meninggalkan jejak bunga kantil layu di tanah. Tidak ada angin, tapi daun-daun berguguran sendiri, mengikuti irama gamelan.
Di pertigaan jalan tua, Arsad berhenti. Di sana terdapat sebuah gapura kayu yang dulu tertutup rapat oleh sulur-sulur tumbuhan liar. Kini gapura itu bersih, dan di atasnya tertulis ukiran aksara Jawa: "Watu Lirih – Padepokan Suwara Ketiga." Ia tak pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tapi ketika kakinya melangkah ke bawah gapura, tubuhnya mendadak terasa ringan. Angin dari dalam padepokan membawa bau melati kering dan suara langkah tarian. Seakan tempat ini bukan sekadar lokasi… tapi panggung yang telah menunggu penampilnya selama puluhan tahun.
Padepokan itu berada di balik rerimbunan bambu tua. Bangunannya berupa joglo kecil dengan genteng merah tua dan dinding dari kayu jati yang hitam oleh usia. Tapi di dalamnya, lilin-lilin menyala sendiri, dan di tengah ruangan berdiri sebuah patung penari tanpa wajah—tangannya terbentang seperti mengajak berdansa. Di sekeliling patung terdapat lingkaran kecil dari tanah liat, dan di tiap sudutnya berdiri patung wayang dengan wajah rusak. Ketika Arsad masuk, suara gamelan mendadak senyap. Udara berubah. Hening. Seperti jantung dusun berhenti berdetak untuk mengamatinya.
Di depan patung itu tergeletak sebilah keris kecil bersarung kain beludru merah, dan secarik daun lontar yang tampak lebih baru dari lainnya. Arsad mengambilnya dengan hati-hati. Daun lontar itu tidak ditulis dengan tinta, melainkan goresan halus seperti cakaran kuku. Isinya adalah nama-nama—nama perempuan, semuanya berbeda, semuanya dengan satu kesamaan: di samping tiap nama tertulis waktu dan bunyi gamelan. "Ratna Wilis – pukul 3 dini hari, nada pelog." "Srintil Asih – pukul 12 tengah malam, nada slendro." Daftar tumbal larung. Para penari yang dikorbankan dalam generasi ke generasi.
Arsad menggenggam keris dan naskah itu. Tiba-tiba, sebuah bisikan muncul dari dinding-dinding joglo. "Mereka tidak semua dilarung karena kehendak dewata... sebagian karena dendam manusia." Suara itu tidak bisa ditentukan sumbernya, tapi menggema jelas di kepala. Patung penari tanpa wajah itu perlahan retak, dan dari sela-selanya, mengalir cairan hitam pekat yang menetes ke lantai. Arsad mundur selangkah, namun suara itu terus berbicara. "Temukan bait yang hilang. Ia tidak ditulis di lontar. Ia disimpan dalam tubuh mereka yang dibungkam."
Langit mendung. Petir menyambar tanpa suara. Arsad keluar dari padepokan dan berjalan menyusuri pematang sawah yang tampak seperti tenggelam dalam dunia abu-abu. Kabut makin menebal, namun di kejauhan ia melihat sesosok tubuh berdiri di tengah sawah. Sosok itu tidak bergerak. Ketika Arsad mendekat, ternyata itu adalah sebuah boneka manusia dari jerami, lengkap dengan kebaya putih dan topeng kayu. Di dadanya tertulis dengan darah kering: "Penari yang gagal menulis bait kelima." Di leher boneka itu tergantung lonceng kecil. Begitu lonceng bergoyang, suara tangis anak kecil menggema dari balik ilalang.
Arsad berlari. Tapi suara tangis itu justru mengikuti langkahnya, semakin keras. Ia berbalik, dan di hadapannya, bayangan anak kecil berkepala besar dengan mata hitam muncul sebentar, lalu menghilang. Suasana berubah membeku. Sawah tak lagi tampak seperti ladang, melainkan panggung raksasa tempat tubuh-tubuh tergantung di langit-langit tak kasat mata. Semuanya dalam posisi menari. Dan di bawah mereka, ada seorang dalang tua duduk di tengah, memainkan wayang dengan benang yang terhubung langsung ke tulang para penari di udara. Arsad berteriak, tapi suaranya tak keluar. Ia terseret kembali ke pusaran gelap, menuju naskah yang terus menulis dirinya sendiri.
Ketika ia terbangun, ia sudah berada di rumah Pak Wiryo lagi. Tapi kali ini suasana berbeda. Rumah itu seperti sudah tak ditempati bertahun-tahun. Debu menebal di mana-mana. Angin dingin menerobos dari sela jendela yang terbuka. Namun di tengah ruangan, ada sebuah kursi bambu tua yang menghadap langsung ke pintu. Di kursi itu, duduk Pak Wiryo—tapi tubuhnya kaku, matanya terbuka tanpa nyawa, dan di dadanya tertancap keris kecil yang tadi ia bawa dari padepokan. Mbok Jirah berjongkok di sampingnya, tubuhnya berguncang, menangis tanpa suara. Di tangannya, tergenggam lembaran terakhir lontar... bait keenam.
Arsad mendekat pelan, dan saat ia mengambil lontar itu dari tangan Mbok Jirah, darah Pak Wiryo mulai merembes dari luka di dadanya, mengalir ke lantai dan membentuk huruf demi huruf. Mbok Jirah berkata pelan, “Ia memilihmu… demi agar kutukan ini tidak menular ke bayi-bayi dusun yang akan lahir.” Arsad membuka lontar itu dan membaca bait keenam: bait ini bukan penutup, melainkan pengantar menuju penghabisan. “Larung terakhir hanya dapat ditulis saat penari baru lahir. Dan ia... telah bangkit.” Arsad menoleh. Di luar rumah, langit bersinar merah darah, dan kabut membuka jalan menuju sendang.
Malam mulai turun dengan perlahan, seolah langit tak rela menutup harinya. Arsad membawa lontar keenam dan melangkah keluar. Ia tak menoleh lagi pada jasad Pak Wiryo. Ia tak bicara sepatah kata pun pada Mbok Jirah yang kini bersandar lemas. Ia tahu, dusun ini telah berbicara padanya dengan bahasa paling purba—dengan air, darah, dan tembang. Di kejauhan, sendang Wiragati menyala redup, dan di atas permukaannya, siluet perempuan mulai menari kembali. Tapi kali ini, iramanya berbeda. Ini bukan tembang kematian… ini adalah pembuka upacara larung terakhir.
Langkah Arsad menyusuri jalan menuju Sendang Wiragati terasa seperti menyusuri lorong kelahiran dan kematian sekaligus. Tanah di bawahnya memanas perlahan, seperti menyimpan bara. Pohon-pohon di kiri-kanan jalan menggugurkan daunnya dalam senyap, menciptakan permadani coklat-merah yang seperti menuntunnya pada altar terakhir. Udara dipenuhi aroma bunga kantil dan darah kering. Dari kejauhan, suara gamelan terdengar perlahan, ritmis, namun kini berubah nadanya—tak lagi seperti musik ritual, melainkan seperti panggilan makhluk purba yang telah tertidur terlalu lama.
Di pinggir sendang, kabut membentuk dinding tipis yang hidup. Arsad berhenti sejenak. Ia bisa melihat air sendang berkilau merah tua, seperti cermin darah. Di atas air itu, sosok perempuan menari perlahan. Ia mengenakan kain jarit usang, dan rambutnya menjuntai panjang, menutup sebagian wajahnya. Tapi bukan hanya satu sosok. Kali ini, belasan siluet penari lain ikut muncul dari balik kabut—berkebaya, menari tanpa suara, tubuh mereka nyaris tak menyentuh tanah. Setiap gerakan mereka seperti menulis huruf-huruf tak terlihat ke udara malam.
Arsad berjalan lebih dekat, dan suara dalam kepalanya mulai berbisik. Bukan suara satu orang—melainkan paduan suara perempuan, tua dan muda, yang menyatu dalam satu napas: “Kau membawa bait keenam… tapi belum ada yang menuliskan bait ketujuh. Bait penebus. Bait penghabisan.” Arsad menatap lontar yang ia bawa. Huruf-huruf di dalamnya berdenyut lembut, seperti nadi. Ia tahu, bait ketujuh tidak bisa ditulis dengan tangan semata. Ia harus tahu kisah penuh dari tembang itu. Ia harus tahu, siapa yang menyembunyikan bait terakhir untuk dirinya sendiri.
Sebuah batu besar berdiri di tepi sendang. Arsad mendekat. Di atasnya tertulis ukiran lama: “Pangandika Kang Kawurung – Suara yang Dikhianati.” Tepat di bawahnya, ada bekas tangan mencakar batu. Bekas itu bukan pahat, melainkan goresan manusia yang mencoba meninggalkan pesan terakhir. Dalam sorot bulan merah yang perlahan terbit, ia membaca ukiran itu lebih jelas: “Bait ketujuh ditelan oleh cinta yang berkhianat.” Arsad terdiam. Ia teringat kembali kisah Tunjung Sekar yang dilarung sebelum baitnya selesai. Tapi siapa yang mencuri bait itu?
Fajar yang muncul setelah malam itu bukan fajar yang biasa. Langit berwarna merah kehitaman, seperti luka yang menganga. Kabut masih menggantung di pelataran rumah Pak Wiryo, seakan enggan meninggalkan tanah yang telah dibangkitkan kembali oleh tembang. Arsad duduk di serambi, matanya merah, tangannya gemetar karena tidak tidur. Di hadapannya, lembaran lontar dan catatan-catatan berserakan seperti tubuh-tubuh yang tak sempat dikuburkan. Ia mencoba menenangkan pikirannya, tapi suara bait keempat terus mengalun dalam kepalanya. Ia mencoba menuliskan bait kelima malam tadi, tapi tak satu pun kata berhasil tertulis. Seolah kertas itu menolak diisi sebelum waktunya.
Dari balik pintu, suara langkah Mbok Jirah terdengar pelan. Wajahnya tampak lebih tua dari semalam, matanya kosong. Ia duduk di samping Arsad tanpa berkata sepatah kata pun. Hening menggantung di antara mereka, hingga akhirnya Mbok Jirah berkata lirih, “Kau tahu, dulunya dusun ini selalu dipenuhi suara. Gamelan, tembang, tawa anak-anak, doa dari langgar. Tapi sejak Tunjung Sekar dilarung, semua suara itu perlahan hilang. Dusun ini hidup, tapi jiwanya mengungsi.” Arsad tidak menjawab. Ia tahu, suara yang ia dengar semalam bukan hanya tembang—tapi juga jeritan dari sesuatu yang telah lama dikubur.
Mbok Jirah menatap tangannya yang keriput. “Kami sudah terlalu tua untuk memperbaiki apa yang kami lakukan dulu. Kami cuma bisa menunggu… dan berharap, ada yang cukup kuat untuk menghadapinya.” Arsad ingin bertanya siapa yang ia maksud dengan ‘kami’, tapi tak sempat. Pak Wiryo keluar dari dalam rumah dengan langkah tertatih, membawa gulungan kain putih berisi naskah lama yang belum pernah ditunjukkan. “Ini milik Kakekku,” katanya pendek. “Ia adalah dalang, dan juga saksi pertama ritual terakhir sebelum larung Tunjung Sekar. Apa yang ia lihat, ia simpan di sini. Tapi butuh seseorang yang dipilih tembang untuk membukanya.”
Arsad menerima gulungan itu. Tangannya bergetar saat menyentuh kainnya—bukan karena takut, tapi karena naskah itu hangat. Seperti denyut nadi. Di balik gulungan kain tua, terlipat rapi naskah kertas bergambar pewayangan. Namun wayang yang tergambar bukan tokoh Mahabharata atau Ramayana. Tokoh itu... tanpa nama. Bertopeng, tanpa mulut, dengan gamelan di punggungnya dan bayangan perempuan menari di bawah kakinya. Di sudut gambar tertulis aksara: “Sang Cangkem Rereh, panggudo tembang peteng.” Arsad tidak mengerti sepenuhnya, tapi tubuhnya menggigil saat membaca nama itu: Sang Mulut Pelan, pemanggil tembang gelap.
Malam sebelumnya, ia sempat bermimpi. Tapi entah mengapa, ingatan itu baru kembali saat ia memandangi gambar tersebut. Dalam mimpinya, ia berjalan di dalam gua penuh air, dan setiap tetes air yang jatuh berubah menjadi suara. Di ujung gua, ada seorang perempuan tanpa wajah yang menari dalam posisi terbalik, dengan darah menetes dari ujung rambutnya. Suara dalam mimpinya berkata: “Bait terakhir tak bisa ditulis dengan tangan. Hanya bisa digoreskan dengan luka.” Ketika ia terbangun, ia mendapati tangannya penuh goresan halus yang tidak ia sadari saat tidur.
Hari itu mereka tidak bicara banyak. Pak Wiryo menyarankan agar Arsad mengunjungi rumah peninggalan dalang tua yang disebut dalam naskah—sebuah rumah joglo tua di bagian timur dusun, yang konon telah ditutup sejak puluhan tahun lalu. “Di sana mungkin kau akan mengerti siapa yang menyimpan bait terakhir,” ujar Pak Wiryo sambil menatap tajam. “Karena tidak semua larung dilakukan karena tradisi. Sebagian... karena dosa yang harus ditutup darah.” Arsad menelan ludah. Ia merasa perjalanan ini bukan lagi tentang tembang, tapi tentang luka kolektif yang dijadikan warisan.
Saat siang menjelang, Arsad menyusuri jalan setapak menuju timur dusun. Rumah-rumah terlihat kosong, meski jendela terbuka. Tak ada suara ayam, tak ada tawa anak. Seperti dusun ini mengintai dari balik tirai waktu. Ia sampai di depan rumah joglo yang dimaksud—bangunan besar, beratap sirap, dengan pintu utama yang dikunci palang kayu. Di sana tergantung kain hitam bertuliskan aksara Jawa: “Aja dibukak sadurunge tembang rampung.” Jangan dibuka sebelum tembang selesai. Tapi Arsad tahu... justru di sinilah kuncinya. Ia mengetuk. Tidak ada jawaban. Lalu mengetuk lagi, dan pintu itu... terbuka sendiri.
Di dalam rumah, udara terasa berat. Bau kayu tua bercampur anyir darah dan dupa. Debu menutupi hampir seluruh permukaan perabotan, tapi di tengah ruangan terdapat satu meja kecil, bersih, seolah baru dipakai semalam. Di atasnya terletak wayang kulit tunggal, tertancap dalam bantal pentas, dan secarik kain putih berlumur darah kering. Di belakang ruangan, tergantung gamelan yang sudah tidak bersuara, tapi permukaannya penuh ukiran tangan-tangan kecil yang menjerit. Arsad merinding. Ruangan ini bukan hanya peninggalan—ini adalah panggung untuk pertunjukan yang tidak pernah selesai dimainkan.
Ia duduk perlahan di depan meja itu, dan saat jemarinya menyentuh bantal wayang, matanya langsung terpejam. Sebuah suara masuk ke dalam kepalanya, suara tua, berat, seperti berasal dari tenggorokan manusia yang telah lama membusuk. “Kau yang menulis... tapi kau bukan pengarangnya. Kau hanya corong. Dan kini, suara kami telah menemukanmu.” Arsad ingin membuka mata, tapi kelopak matanya tak bisa digerakkan. Di dalam pikirannya, ia melihat perempuan-perempuan larung menari di panggung darah. Dan di ujung panggung, seorang anak kecil dengan mata hitam tanpa bola mata menggenggam pena dan tersenyum padanya.
Saat ia membuka mata, hari telah gelap. Ia tak sadar telah tertidur atau hilang kesadaran. Di hadapannya kini terbuka satu lembar naskah baru, tidak ia bawa sebelumnya. Kertas itu ditulis dengan tinta emas di atas kain hitam. Hanya satu baris: “Bait kelima tidak ditulis... bait kelima dijalani.” Arsad menatapnya lama. Ia sadar—ia bukan hanya saksi dari kisah ini. Ia telah menjadi bagian darinya. Dan untuk menyelesaikan tembang itu, ia harus menjadi tembang itu sendiri.
Arsad pulang dari rumah joglo dengan langkah limbung. Udara di luar tak lagi sama; lebih hangat tapi menyimpan aroma basah seperti tanah kuburan baru. Di tangannya tergenggam erat naskah bertinta emas yang ia temukan. Sepanjang perjalanan pulang, matanya terus menoleh ke belakang, seolah ada langkah-langkah halus yang mengikutinya dari balik bayang-bayang pohon. Tidak ada yang terlihat, tapi daun-daun bergoyang seakan dilewati sosok tak kasatmata. Sesekali ia mendengar suara kecil menyanyikan bait tembang, namun dengan bahasa yang belum pernah ia dengar. Seperti tembang dari zaman sebelum bahasa terbentuk.
Sesampainya di rumah Pak Wiryo, ia langsung disambut dengan keheningan. Tak ada suara, tak ada lampu menyala. Rumah itu tampak seperti ditinggalkan. Namun begitu ia membuka pintu, ia mendapati Pak Wiryo sedang duduk bersila di tengah ruangan, dikelilingi lilin dan asap dupa yang mengepul pekat. Di hadapannya, lontar-lontar tua terbuka, membentuk pola lingkaran. “Duduklah,” ucapnya tanpa menoleh. “Kau sudah masuk terlalu dalam, Nak. Kini hanya ada dua pilihan: menyelesaikannya, atau tenggelam bersama mereka yang gagal.” Arsad menelan ludah dan duduk di seberang.
Pak Wiryo menyentuh naskah bertinta emas itu. “Ini bukan naskah biasa. Ini adalah ‘layang panggudo’—lembar pemanggil. Siapa pun yang memilikinya, akan dibawa masuk ke dalam panggung kematian.” Ia menatap Arsad dalam-dalam. “Dan panggung itu bukan hanya milik Tunjung Sekar. Ada penari sebelum dia. Ada nyawa-nyawa yang dilarung bahkan sebelum dusun ini punya nama.” Arsad terpaku. “Dusun ini dibangun di atas panggung kutukan, Arsad. Sebuah tempat yang dibentuk dari nyanyian dan darah.” Kata-kata itu membuat bulu kuduknya berdiri.
Mbok Jirah masuk membawa kendi air dan secarik kain kafan. “Kau harus bersuci dulu,” katanya datar. “Bait kelima tidak bisa dijalani dengan tubuh yang membawa dunia.” Arsad menurut. Ia mengguyur wajah dan tangan dengan air kendi yang beraroma melati dan kemuning, lalu mengganti bajunya dengan kain putih lusuh yang diberikan. Saat ia duduk kembali di dalam lingkaran lontar, suasana berubah. Udara menebal, napas terasa berat. Lilin bergetar, dan api mulai membentuk bayangan yang tak mengikuti gerak benda—bayangan yang punya kehendaknya sendiri.
Pak Wiryo mulai melantunkan tembang pembuka. Suaranya rendah, penuh getar dan nada tinggi yang tidak wajar bagi usianya. Saat bait pertama selesai, Arsad mulai merasa telinganya berdengung. Dunia di sekitarnya melarut, ruangan berganti menjadi gelap pekat, dan dari kejauhan terdengar gemerincing gelang kaki penari. Ia melihat dirinya berdiri di tepi panggung tua, dengan tubuh berkain putih dan di hadapannya, sebuah gamelan tua berkarat memainkan dirinya sendiri. Ia telah masuk ke dalam panggung larung—tempat di mana bait kelima hanya bisa ditapaki, bukan dibaca.
Dari balik kabut, muncullah sosok wanita bermahkota bunga kantil kering. Ia menari dengan langkah lambat namun dalam, gerakannya menyapu udara seperti merobek waktu. Arsad tak bisa bergerak. Tubuhnya kaku. Tapi suara dalam kepalanya membimbing, “Ikuti geraknya… atau kau akan hancur bersama tanah ini.” Ia mencoba mengikuti gerakan itu, satu per satu, seperti dipanggil oleh memori yang bukan miliknya. Setiap langkah membawa rasa sakit. Otot-ototnya menegang, tapi di balik rasa sakit itu, ia merasakan... sesuatu yang seperti kebenaran purba. Seolah tubuhnya sedang menebus dosa yang belum sempat ditebus.
Gamelan tiba-tiba berdentang keras. Sosok wanita itu menoleh padanya dan mulai menyanyikan bait kelima. Tapi suaranya bukan suara manusia. Ia terdengar seperti tanah longsor, jerit bayi, dan denting logam berkarat menjadi satu. Arsad menjerit, bukan karena takut, tapi karena bait itu... adalah tentang dirinya. Tentang ibunya yang hilang di sendang saat ia masih bayi. Tentang darah yang mengalir di tubuhnya yang ternyata berasal dari garis keturunan pelarung. Ia bukan hanya pewaris kisah. Ia adalah bagian dari darah kutukan itu sendiri.
Saat nyanyian mencapai nadir, panggung mulai runtuh. Gamelan pecah satu per satu, dan air sendang menyembur dari bawah lantai. Arsad terseret ke dalam pusaran, tubuhnya terhuyung dalam gelap dan bunyi dentuman. Ia merasa tubuhnya hancur, tercerai. Tapi dalam kehancuran itu, ia mendengar suara kecil—suara anak kecil yang tertawa, lalu bersenandung. Ia membuka matanya dan mendapati dirinya kembali di ruang Pak Wiryo, namun kini duduk sendirian. Lingkaran lontar telah gosong. Lilin padam. Pak Wiryo dan Mbok Jirah… menghilang.
Di atas lantai, hanya tersisa satu benda: topeng penari kecil dari kayu cendana. Topeng itu menatapnya kosong, tapi di bagian belakangnya terukir satu kalimat dengan tulisan tangan: “Jangan dengarkan sampai bait terakhir.” Arsad menggenggam topeng itu. Kini ia mengerti: bait kelima bukan akhir. Bait kelima adalah pintu. Dan ia telah membukanya. Di luar rumah, suara gamelan kembali terdengar. Namun kali ini... bukan hanya dari arah sendang. Tapi dari seluruh penjuru dusun. Seakan seluruh tanah mulai menyanyi.
Arsad bangkit perlahan. Ia mengambil catatan-catatan dan lontar yang tersisa, lalu melangkah ke luar. Malam telah turun. Bulan merah menggantung rendah di langit, dan kabut menyelimuti rumah-rumah yang tampak hidup meski tak berpenghuni. Setiap langkahnya menggema, dan suara bait kelima terus mengikuti, menyatu dengan detak jantungnya. Ia tahu satu hal pasti: malam ini, tembang belum selesai. Dan tugasnya... baru saja dimulai.
Arsad berjalan perlahan melewati jalanan dusun yang tampak sama namun terasa berbeda. Dinding rumah-rumah yang tadinya kusam, kini tampak berembun dari dalam. Seperti napas dari sesuatu yang baru saja bangkit. Gamelan terdengar dari segala arah, namun tak satu pun manusia terlihat. Suara kendang, bonang, dan saron mengalun dengan tempo lambat, menciptakan irama yang membuat jantungnya berdetak tak selaras. Di kejauhan, ia melihat bayangan penari berkebaya putih yang berlalu begitu saja, meninggalkan jejak bunga kantil layu di tanah. Tidak ada angin, tapi daun-daun berguguran sendiri, mengikuti irama gamelan.
Di pertigaan jalan tua, Arsad berhenti. Di sana terdapat sebuah gapura kayu yang dulu tertutup rapat oleh sulur-sulur tumbuhan liar. Kini gapura itu bersih, dan di atasnya tertulis ukiran aksara Jawa: "Watu Lirih – Padepokan Suwara Ketiga." Ia tak pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tapi ketika kakinya melangkah ke bawah gapura, tubuhnya mendadak terasa ringan. Angin dari dalam padepokan membawa bau melati kering dan suara langkah tarian. Seakan tempat ini bukan sekadar lokasi… tapi panggung yang telah menunggu penampilnya selama puluhan tahun.
Padepokan itu berada di balik rerimbunan bambu tua. Bangunannya berupa joglo kecil dengan genteng merah tua dan dinding dari kayu jati yang hitam oleh usia. Tapi di dalamnya, lilin-lilin menyala sendiri, dan di tengah ruangan berdiri sebuah patung penari tanpa wajah—tangannya terbentang seperti mengajak berdansa. Di sekeliling patung terdapat lingkaran kecil dari tanah liat, dan di tiap sudutnya berdiri patung wayang dengan wajah rusak. Ketika Arsad masuk, suara gamelan mendadak senyap. Udara berubah. Hening. Seperti jantung dusun berhenti berdetak untuk mengamatinya.
Di depan patung itu tergeletak sebilah keris kecil bersarung kain beludru merah, dan secarik daun lontar yang tampak lebih baru dari lainnya. Arsad mengambilnya dengan hati-hati. Daun lontar itu tidak ditulis dengan tinta, melainkan goresan halus seperti cakaran kuku. Isinya adalah nama-nama—nama perempuan, semuanya berbeda, semuanya dengan satu kesamaan: di samping tiap nama tertulis waktu dan bunyi gamelan. "Ratna Wilis – pukul 3 dini hari, nada pelog." "Srintil Asih – pukul 12 tengah malam, nada slendro." Daftar tumbal larung. Para penari yang dikorbankan dalam generasi ke generasi.
Arsad menggenggam keris dan naskah itu. Tiba-tiba, sebuah bisikan muncul dari dinding-dinding joglo. "Mereka tidak semua dilarung karena kehendak dewata... sebagian karena dendam manusia." Suara itu tidak bisa ditentukan sumbernya, tapi menggema jelas di kepala. Patung penari tanpa wajah itu perlahan retak, dan dari sela-selanya, mengalir cairan hitam pekat yang menetes ke lantai. Arsad mundur selangkah, namun suara itu terus berbicara. "Temukan bait yang hilang. Ia tidak ditulis di lontar. Ia disimpan dalam tubuh mereka yang dibungkam."
Langit mendung. Petir menyambar tanpa suara. Arsad keluar dari padepokan dan berjalan menyusuri pematang sawah yang tampak seperti tenggelam dalam dunia abu-abu. Kabut makin menebal, namun di kejauhan ia melihat sesosok tubuh berdiri di tengah sawah. Sosok itu tidak bergerak. Ketika Arsad mendekat, ternyata itu adalah sebuah boneka manusia dari jerami, lengkap dengan kebaya putih dan topeng kayu. Di dadanya tertulis dengan darah kering: "Penari yang gagal menulis bait kelima." Di leher boneka itu tergantung lonceng kecil. Begitu lonceng bergoyang, suara tangis anak kecil menggema dari balik ilalang.
Arsad berlari. Tapi suara tangis itu justru mengikuti langkahnya, semakin keras. Ia berbalik, dan di hadapannya, bayangan anak kecil berkepala besar dengan mata hitam muncul sebentar, lalu menghilang. Suasana berubah membeku. Sawah tak lagi tampak seperti ladang, melainkan panggung raksasa tempat tubuh-tubuh tergantung di langit-langit tak kasat mata. Semuanya dalam posisi menari. Dan di bawah mereka, ada seorang dalang tua duduk di tengah, memainkan wayang dengan benang yang terhubung langsung ke tulang para penari di udara. Arsad berteriak, tapi suaranya tak keluar. Ia terseret kembali ke pusaran gelap, menuju naskah yang terus menulis dirinya sendiri.
Ketika ia terbangun, ia sudah berada di rumah Pak Wiryo lagi. Tapi kali ini suasana berbeda. Rumah itu seperti sudah tak ditempati bertahun-tahun. Debu menebal di mana-mana. Angin dingin menerobos dari sela jendela yang terbuka. Namun di tengah ruangan, ada sebuah kursi bambu tua yang menghadap langsung ke pintu. Di kursi itu, duduk Pak Wiryo—tapi tubuhnya kaku, matanya terbuka tanpa nyawa, dan di dadanya tertancap keris kecil yang tadi ia bawa dari padepokan. Mbok Jirah berjongkok di sampingnya, tubuhnya berguncang, menangis tanpa suara. Di tangannya, tergenggam lembaran terakhir lontar... bait keenam.
Arsad mendekat pelan, dan saat ia mengambil lontar itu dari tangan Mbok Jirah, darah Pak Wiryo mulai merembes dari luka di dadanya, mengalir ke lantai dan membentuk huruf demi huruf. Mbok Jirah berkata pelan, “Ia memilihmu… demi agar kutukan ini tidak menular ke bayi-bayi dusun yang akan lahir.” Arsad membuka lontar itu dan membaca bait keenam: bait ini bukan penutup, melainkan pengantar menuju penghabisan. “Larung terakhir hanya dapat ditulis saat penari baru lahir. Dan ia... telah bangkit.” Arsad menoleh. Di luar rumah, langit bersinar merah darah, dan kabut membuka jalan menuju sendang.
Malam mulai turun dengan perlahan, seolah langit tak rela menutup harinya. Arsad membawa lontar keenam dan melangkah keluar. Ia tak menoleh lagi pada jasad Pak Wiryo. Ia tak bicara sepatah kata pun pada Mbok Jirah yang kini bersandar lemas. Ia tahu, dusun ini telah berbicara padanya dengan bahasa paling purba—dengan air, darah, dan tembang. Di kejauhan, sendang Wiragati menyala redup, dan di atas permukaannya, siluet perempuan mulai menari kembali. Tapi kali ini, iramanya berbeda. Ini bukan tembang kematian… ini adalah pembuka upacara larung terakhir.
Langkah Arsad menyusuri jalan menuju Sendang Wiragati terasa seperti menyusuri lorong kelahiran dan kematian sekaligus. Tanah di bawahnya memanas perlahan, seperti menyimpan bara. Pohon-pohon di kiri-kanan jalan menggugurkan daunnya dalam senyap, menciptakan permadani coklat-merah yang seperti menuntunnya pada altar terakhir. Udara dipenuhi aroma bunga kantil dan darah kering. Dari kejauhan, suara gamelan terdengar perlahan, ritmis, namun kini berubah nadanya—tak lagi seperti musik ritual, melainkan seperti panggilan makhluk purba yang telah tertidur terlalu lama.
Di pinggir sendang, kabut membentuk dinding tipis yang hidup. Arsad berhenti sejenak. Ia bisa melihat air sendang berkilau merah tua, seperti cermin darah. Di atas air itu, sosok perempuan menari perlahan. Ia mengenakan kain jarit usang, dan rambutnya menjuntai panjang, menutup sebagian wajahnya. Tapi bukan hanya satu sosok. Kali ini, belasan siluet penari lain ikut muncul dari balik kabut—berkebaya, menari tanpa suara, tubuh mereka nyaris tak menyentuh tanah. Setiap gerakan mereka seperti menulis huruf-huruf tak terlihat ke udara malam.
Arsad berjalan lebih dekat, dan suara dalam kepalanya mulai berbisik. Bukan suara satu orang—melainkan paduan suara perempuan, tua dan muda, yang menyatu dalam satu napas: “Kau membawa bait keenam… tapi belum ada yang menuliskan bait ketujuh. Bait penebus. Bait penghabisan.” Arsad menatap lontar yang ia bawa. Huruf-huruf di dalamnya berdenyut lembut, seperti nadi. Ia tahu, bait ketujuh tidak bisa ditulis dengan tangan semata. Ia harus tahu kisah penuh dari tembang itu. Ia harus tahu, siapa yang menyembunyikan bait terakhir untuk dirinya sendiri.
Sebuah batu besar berdiri di tepi sendang. Arsad mendekat. Di atasnya tertulis ukiran lama: “Pangandika Kang Kawurung – Suara yang Dikhianati.” Tepat di bawahnya, ada bekas tangan mencakar batu. Bekas itu bukan pahat, melainkan goresan manusia yang mencoba meninggalkan pesan terakhir. Dalam sorot bulan merah yang perlahan terbit, ia membaca ukiran itu lebih jelas: “Bait ketujuh ditelan oleh cinta yang berkhianat.” Arsad terdiam. Ia teringat kembali kisah Tunjung Sekar yang dilarung sebelum baitnya selesai. Tapi siapa yang mencuri bait itu?
itkgid dan 3 lainnya memberi reputasi
4