- Beranda
- Stories from the Heart
TEMBANG LARUNG MAYIT (HORROR, MISTERI)
...
TS
LiongMelfin
TEMBANG LARUNG MAYIT (HORROR, MISTERI)
Di dusun Tegalranti, tembang Jawa kuno terdengar setiap malam Jumat Kliwon dari dasar sendang yang disucikan. Tak ada yang berani mendengarkannya sampai habis—konon, bait terakhir membangkitkan mereka yang telah ditenggelamkan: mayat-mayat penari yang dikutuk tak bisa mati.
Arsad, seorang mahasiswa antropologi, datang untuk meneliti ritual larung mayit dan tembang kematian yang telah dilupakan. Tapi kedatangannya justru membuka segel kutukan yang selama ini dikunci oleh darah dan tembang.
Saat realitas mulai retak, dan suara-suara dari dalam air memanggil namanya, Arsad dihadapkan pada satu pilihan: berhenti menulis… atau ikut dituliskan dalam bait terakhir.
Tembang Larung Mayitadalah kisah horor gothic yang membaurkan budaya Jawa, mitos lokal, dan teror psikologis dalam narasi mencekam yang menghantui bahkan setelah cerita berakhir.
1. BAYANGAN YANG MENULIS DIRINYA SENDIRI
2. BAIT YANG DILUPAKAN
3. BAYANG YANG TERTINGGAL
4. BAYANG YANG TERTINGGAL (LANJUTAN)
5. BAYANG-BAYANG YANG TAK BISA LARUNGTEMBANG YANG TAK BISA DI DENGAR
6. PENCURI SUARA YANG MENGUNCI DUNIA
7. WARISAN YANG BERDENYUT
8. BAIT BISU YANG DIPILIH
9. LURAH, LONTAR, DAN LUKA YANG DISIMPAN
10. Gending yang Dilupakan, Tubuh yang Dikorbankan
11. Tunjung Ayu, Penari Istana yang Dilarung oleh Cahaya
12. Mereka yang Datang Tanpa Mendengar
13. Bait-bait Yang Di Gugat
14. Gending yang Menyebrang Batas

Arsad, seorang mahasiswa antropologi, datang untuk meneliti ritual larung mayit dan tembang kematian yang telah dilupakan. Tapi kedatangannya justru membuka segel kutukan yang selama ini dikunci oleh darah dan tembang.
Saat realitas mulai retak, dan suara-suara dari dalam air memanggil namanya, Arsad dihadapkan pada satu pilihan: berhenti menulis… atau ikut dituliskan dalam bait terakhir.
Tembang Larung Mayitadalah kisah horor gothic yang membaurkan budaya Jawa, mitos lokal, dan teror psikologis dalam narasi mencekam yang menghantui bahkan setelah cerita berakhir.
1. BAYANGAN YANG MENULIS DIRINYA SENDIRI
2. BAIT YANG DILUPAKAN
3. BAYANG YANG TERTINGGAL
4. BAYANG YANG TERTINGGAL (LANJUTAN)
5. BAYANG-BAYANG YANG TAK BISA LARUNGTEMBANG YANG TAK BISA DI DENGAR
6. PENCURI SUARA YANG MENGUNCI DUNIA
7. WARISAN YANG BERDENYUT
8. BAIT BISU YANG DIPILIH
9. LURAH, LONTAR, DAN LUKA YANG DISIMPAN
10. Gending yang Dilupakan, Tubuh yang Dikorbankan
11. Tunjung Ayu, Penari Istana yang Dilarung oleh Cahaya
12. Mereka yang Datang Tanpa Mendengar
13. Bait-bait Yang Di Gugat
14. Gending yang Menyebrang Batas

TEMBANG LARUNG MAYIT BY AMELIONG @OWNERLIEBI
Diubah oleh LiongMelfin 03-07-2025 22:34
bukhorigan dan 7 lainnya memberi reputasi
8
2.2K
45
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
LiongMelfin
#1
Perkenalan Penulis
Namaku adalah bayangan yang menjelma kata,
menyelinap dari balik celah waktu dan trauma.
Di dunia nyata aku mungkin hening—
tapi di antara huruf dan luka, aku bersuara.
Aku adalah Ameliong, penulis yang hidup berdampingan dengan kegelapan, bukan untuk memenangkannya, tapi untuk menjadikannya bahasa. Gaya kepenulisanku berakar dari dark gothic, di mana rasa takut, mitos leluhur, dan jiwa manusia yang rapuh bersatu dalam halaman-halaman pekat.
Aku mengidap BPD (Borderline Personality Disorder)—sebuah badai dalam pikiran yang tak terlihat, tapi merobek tenang dengan ketidakpastian, keterikatan yang menyakitkan, dan emosi yang tak bisa ditebak. Tapi dari pusaran itulah aku menulis. Dari luka, aku menciptakan cerita.
Naskahku berjudul Misteri Hotel 1888 pernah hidup—seperti arwah penasaran yang menghuni lorong-lorong hotel tua dalam kisah itu. Namun jalan tak selalu lurus. Banyak gangguan, kehilangan data, kehilangan semangat, bahkan kehilangan keyakinan. Sampai akhirnya, aku memilih untuk menulis ulang semuanya dari awal, dari ruang paling kelam dalam diriku, dan menanamkannya kembali ke dunia melalui platform Fizzo.
Setiap huruf dalam Misteri Hotel 1888 bukan sekadar fiksi, melainkan mantra.
Setiap bab bukan sekadar narasi, tapi ritual.
Dan setiap tokoh yang bangkit di dalamnya adalah cermin—mungkin milikmu, mungkin milikku.
Jika kau membaca kisah-kisahku, ketahuilah:
aku menulis bukan karena aku tak takut pada kegelapan.
Aku menulis karena aku tinggal di dalamnya.
Lalu, datanglah Tembang Larung Mayit.
Cerita ini kutulis bukan hanya sebagai fiksi.
Tapi sebagai pantulan luka-luka yang telah lama tenggelam.
Aku terobsesi pada tembang, pada larung, pada kisah-kisah yang sengaja dibisukan oleh waktu. Aku menulis tentang sendang berkabut, penari mayat, dan tembang yang tak boleh selesai, karena aku tahu rasanya menjadi sesuatu yang ditinggalkan. Yang dikurung dalam bait yang tak pernah rampung.
Tembang Larung Mayit lahir dari ketakutanku sendiri—takut akan kehilangan kendali, takut didengar namun tak dipahami, takut hidup hanya sebagai gema dari suara orang lain. Dalam cerita ini, aku menyanyikan tembang yang tak sempat selesai dalam hidupku sendiri.
Karena beberapa bait harus dituliskan agar kita bisa tenang.
Dan beberapa ketakutan harus dinyanyikan… agar tak membusuk diam-diam.
Namaku adalah bayangan yang menjelma kata,
menyelinap dari balik celah waktu dan trauma.
Di dunia nyata aku mungkin hening—
tapi di antara huruf dan luka, aku bersuara.
Aku adalah Ameliong, penulis yang hidup berdampingan dengan kegelapan, bukan untuk memenangkannya, tapi untuk menjadikannya bahasa. Gaya kepenulisanku berakar dari dark gothic, di mana rasa takut, mitos leluhur, dan jiwa manusia yang rapuh bersatu dalam halaman-halaman pekat.
Aku mengidap BPD (Borderline Personality Disorder)—sebuah badai dalam pikiran yang tak terlihat, tapi merobek tenang dengan ketidakpastian, keterikatan yang menyakitkan, dan emosi yang tak bisa ditebak. Tapi dari pusaran itulah aku menulis. Dari luka, aku menciptakan cerita.
Naskahku berjudul Misteri Hotel 1888 pernah hidup—seperti arwah penasaran yang menghuni lorong-lorong hotel tua dalam kisah itu. Namun jalan tak selalu lurus. Banyak gangguan, kehilangan data, kehilangan semangat, bahkan kehilangan keyakinan. Sampai akhirnya, aku memilih untuk menulis ulang semuanya dari awal, dari ruang paling kelam dalam diriku, dan menanamkannya kembali ke dunia melalui platform Fizzo.
Setiap huruf dalam Misteri Hotel 1888 bukan sekadar fiksi, melainkan mantra.
Setiap bab bukan sekadar narasi, tapi ritual.
Dan setiap tokoh yang bangkit di dalamnya adalah cermin—mungkin milikmu, mungkin milikku.
Jika kau membaca kisah-kisahku, ketahuilah:
aku menulis bukan karena aku tak takut pada kegelapan.
Aku menulis karena aku tinggal di dalamnya.
Lalu, datanglah Tembang Larung Mayit.
Cerita ini kutulis bukan hanya sebagai fiksi.
Tapi sebagai pantulan luka-luka yang telah lama tenggelam.
Aku terobsesi pada tembang, pada larung, pada kisah-kisah yang sengaja dibisukan oleh waktu. Aku menulis tentang sendang berkabut, penari mayat, dan tembang yang tak boleh selesai, karena aku tahu rasanya menjadi sesuatu yang ditinggalkan. Yang dikurung dalam bait yang tak pernah rampung.
Tembang Larung Mayit lahir dari ketakutanku sendiri—takut akan kehilangan kendali, takut didengar namun tak dipahami, takut hidup hanya sebagai gema dari suara orang lain. Dalam cerita ini, aku menyanyikan tembang yang tak sempat selesai dalam hidupku sendiri.
Karena beberapa bait harus dituliskan agar kita bisa tenang.
Dan beberapa ketakutan harus dinyanyikan… agar tak membusuk diam-diam.
itkgid dan rbrataatmadja memberi reputasi
2