- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
glanter2 dan 145 lainnya memberi reputasi
146
207.8K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#1216
Spoiler for Epilog (Cont):
Siang itu, matahari bersinar lebih terik dari biasanya. Gua baru saja kembali dari makan siang di belakang kantor bersama dengan beberapa rekan. Ponsel gua berdering, layarnya menampilkan nama seorang sepupu yang tinggal nggak jauh dari rumah Nyokap.
“Kenape?”Tanya gua, membuka percakapan.
“Cuy… Dokternya Ines siapa namanya dah, rumah sakitnya di mana?” Ia balik bertanya.
Gua lantas memberi jawaban; memberi nama dokter langganan Ines beserta rumah sakit tempatnya praktek. Lalu, disusul pertanyaan lain; “Kenape emang?”
“Ini si Aftar kejang… udah dua kali” Jawabnya. Menyebut nama anak bungsunya; keponakan gua. Dari nada bicaranya terasa kepanikan yang coba ia tahan.
“Hah, serius? yaudah bawa aja ke sana. Dia praktek Selasa sama Sabtu…” Gua memberi informasi.
Beberapa hari berikutnya, gua kembali mendapat informasi kalau Dokter Eko sudah nggak lagi praktek di rumah sakit tersebut. Sementara kejang keponakan gua semakin parah. Di sisi lain, Si sepupu gua ini juga nggak mau menyerah. Ia tetap berkonsultasi ke dokter saraf lain walau belum terlihat hasilnya.
Berniat membantu, gua dan Ines sibuk mencari tau tentang keberadaan dokter Eko. Namun, setelah bertanya ke sana kemari Dokter Eko rupanya baru saja pensiun. Beliau lantas menyarankan untuk ke seorang dokter spesialis saraf lain yang konon katanya lebih baik ketimbang dirinya, lebih baik dari seluruh dokter saraf di Indonesia. Bukan, di dunia.
‘Alah, lebay… Batin gua, merasa Dokter Eko pastilah berlebihan atau mungkin hanya bercanda.
Gua, Ines dan sepupu lantas mengunjungi rumah sakit tempat dokter itu bekerja.
Ruang tunggu poli saraf penuh bukan main. Saking penuhnya, hampir nggak ada tempat duduk yang tersisa. Beberapa pasien bahkan terpaksa menggunakan kursi plastik yang disediakan para perawat.
“Lama ya, Sus?” Tanya gua ke salah seorang perawat.
“Iya, kak… Sabar ya…” Balasnya sambil tersenyum.
Bosan menunggu, gua keluar dari rumah sakit. Berniat untuk membeli kopi dan merokok sambil menghabiskan waktu. Seperti kebanyakan rumah sakit pada umumnya, di bagian luar entah di depan, di sisi kiri, di sisi kanan, atau bahkan di belakang gedung pasti tersedia banyak pedagang. Menyediakan berbagai makanan untuk penunggu pasien yang kelaparan atau para karyawan yang bukan dokter.
Seorang dokter rasa-rasanya mustahil mau makan di emperan gedung kayak gini.
Gua menyusuri jalan kecil di sisi rumah sakit. Jalan kecil yang dipadati oleh banyak sekali pedagang yang menggelar gerobak dengan tenda dari terpal. Gua berhenti di salah satu penjaja minuman, duduk di kursi kayu beratap terpal biru usang, lalu memesan kopi sachet. “Indocafe satu kang…”
Di sebelah gua, duduk seorang pria yang sibuk dengan ponselnya. Sementara, jemarinya mengapit batangan rokok filter yang abunya memanjang nyaris terbuang. Tepat di hadapannya terdapat kursi plastik tempat ia meletakkan bungkusan rokok dan gelas berisi kopi yang tersisa setengah.
Dari suara ponselnya, gua tau kalau ia pasti tengah bermain game.
“Boleh pinjem korek, Bang…” Tanya gua ramah.
“Oh, boleh…” Jawabnya tanpa berpaling dari layar ponsel dan menyerahkan pemantik miliknya ke gua.
Setelahnya kami sama-sama terdiam. Gua merokok, dan ia tetap sibuk dengan ponselnya.
Beberapa menit berikutnya, ia berhenti. Ponselnya di simpan di saku celananya, lalu mengambil bungkusan rokok, mengambil sebatang dan menyulutnya.
“Berobat?” Tanyanya seraya menghembuskan asap rokok ke udara.
“Oh, nggak… Nganter sodara” Jawab gua, “Abang, nganter juga apa berobat?” Gua balik bertanya.
“Kerja…” Jawabnya seraya menunjuk ke arah gedung rumah sakit.
Gua mengernyitkan dahi, penasaran. “Di rumah sakit?”
“Ooh…” Gumam gua pelan. Nggak mau terlalu banyak menggali latar belakang orang asing.
Ia lalu menoleh dan menatap gua, seakan tengah memindai dari atas ke bawah. Kemudian kembali bertanya; “Pernah tinggal di UK?”
Lagi-lagi, gua mengernyitkan dahi, kali ini bingung. Bagaimana bisa ia tau?
Gua mengangguk pelan; “Kok tau?” Tanya gua.
Ia nggak menjawab, hanya menyeringai kecil.
Setelahnya kami saling memperkenalkan diri. Lian, namanya. Dengan kopi dan rokok sebagai teman, kami berdua lantas berbincang. Perbincangan kasual khas bapak-bapak muda tentang cuaca hari ini, tentang kondisi ekonomi negara dan banyak hal remeh lainnya.
Di tengah perbincangan, ponsel gua berdering; sebuah panggilan dari Ines.
“Halo…” Sapa gua.
“Kamu di mana?” Tanyanya,
“Di samping RS, ngopi... Kenapa?”
“Ish… ini dokternya lama banget, belum dateng…” Keluhnya.
“Sabar, coba tanya lagi ke susternya…” Gua memberi saran, nggak tau juga harus berbuat apa.
Setelah gua selesai melakukan panggilan, kini gantian Lian yang menerima panggilan. Dengan santai ia meraih ponsel dan bicara; “Iya, bentar lagi, tanggung…”
Lian berdiri, lalu menghabiskan sisa kopi di gelas plastik dan menghisap rokok dalam-dalam. Kemudian melempar puntung rokoknya ke selokan kecil di seberang gang.
“Duluan ya…” Ucapnya, pamit.
“Oh oke, oke…” Balas gua. Lalu pergi menyusulnya, kembali masuk ke area rumah sakit.
Begitu tiba di ruang tunggu poli saraf, gua langsung menerima keluaghan dari Ines dan sepupu perihal dokter yang datang terlambat. Gua lalu berinisiatif bertanya ke salah satu suster yang berada di nurse station tentang alasan keterlambatan si dokter.
“Oh, emang biasa kayak gitu kak…” Jawab si suster ramah.
Beruntung, nggak lama berselang, satu persatu pasien mulai dipanggil masuk ke dalam. Hingga akhirnya tiba giliran kami.
Kami berempat, termasuk keponakan dan orang tuanya masuk ke dalam ruangan. Salah satu perawat lantas memberi peringatan. “Maaf kak, kalo bisa jangan masuk semuanya…” Ucapnya ramah.
Gua dan Ines berniat kembali keluar, namun terdengar suara dari dalam ruang dokter; “Gapapa, masuk aja…”
Sontak kami kembali berbalik dan masuk ke dalam ruangan dokter. Di sana, di sudut terjauh ruangan, di balik meja besar dengan beberapa monitor besar di depannya, duduk seorang pria. Pria berkemeja putih berlengan panjang yang kini menatap gua sambil memainkan pena di jemarinya.
Ia mengangguk ke arah gua seakan memberi sapaan. Sementara, gua hanya bisa tertegun menatapnya nggak percaya. ‘Bagaimana mungkin orang yang tadi abis ngobrol panjang lebar sama gua sambil merokok adalah seorang dokter?’
Itulah awal pertemuan kami berdua, pertemuan gua dengan Lian.
Ia yang kemudian bisa langsung tau kondisi Ines, yang sudah pulih dari penyakitnya hanya melalui tatapan mata. Ia yang seringkali menghubungi gua hanya sekedar untuk minta ditemani bermain game sambil ngobrol dan merokok.
Suatu ketika, gua mengajukan pertanyaan yang selama ini terlupakan.
“Dulu lo kok bisa tau kalo gue pernah tinggal di UK?” Tanya gua.
“Gampang, dari wallpaper HP lo..” Jawabnya singkat.
Gua menghela napas, nggak percaya kalau jawabannya sesederhana itu.
“Tapi kan wallpaper HP gue cuma foto Ines sama anak gue di depan Elland Road… Bisa aja kita lagi liburan, bukan tinggal di sana?” Tanya gua lagi.
“Orang Indonesia mana sih yang mau pergi liburan ke Leeds?”
“…”
“… Lagian, kalaupun berlibur yang dijadikan wallpaper biasanya kan pas foto di Big Ben…” Tambahnya.
“…”
“… Lo pasti pernah tinggal di sana, di UK. Hingga Big Ben udah nggak lagi jadi daya tarik buat lo. Ya kan?”
“Iya lagi…” Jawab gua sambil mengangguk, kagum dengan daya analisanya yang sederhana namun mendalam.
—
Kekaguman lain yang gua dapatkan darinya selain caranya berpikir yang sederhana adalah kemampuannya membaca ekspresi manusia. Ia bisa dengan mudah ‘menebak’ isi hati seseorang hanya melalui ekspresi wajah lawan bicara.
Awalnya, gua pikir itu hanyalah tebakan belaka. Nyatanya Lian memang mampu melakukan hal itu dengan mempelajari emosi dan ekspresi manusia sejak kecil. Ia menunjukkan buku-buku lawas berisi potongan kliping dari tabloid, majalah atau koran. Potongan gambar ekspresi manusia lengkap dengan keterangan di bagian bawahnya.
Hal yang bikin siapapun yang melihatnya jadi bingung, termasuk gua.
‘Kok bisa-bisanya orang mempelajari hal ini, buat apa?’
Iya, gua tau memang ada bidang studi yang khusus mempelajari ekspresi dan emosi manusia. Bahkan ada beberapa pakar di bidang tersebut yang sering diundang ke acara televisi untuk membaca ekspresi orang. Tapi, kenapa ia melakukannya sejak kecil?
Usut punya usut, setelah cukup lama ia berusaha menyembunyikannya dari gua. Lian akhirnya buka suara; “Ya lo pada enak bisa ‘baca’ ekspresi…”
“Lah, emang ada yang nggak bisa?” Tanya gua.
“Ada. Gue…” Jawabnya singkat sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Hah?!” Seru gua nggak percaya.
Gua lantas sengaja menunjukkan ekspresi sedih ke arahnya; “Nih ekspresi apa?”
“Ya sekarang mah gue udah apal kali, Bon…” Jawabnya.
Gua terdiam sesaat, mencoba memahami semuanya.
“Berarti lo selama ini, literali beneran ‘baca’ ekspresi?”
“Iya. Dari alis, mata, bibir, tulang rahang dan gestur-gesturnya. Setiap ekspresi punya detail yang berbeda dan gua apalin satu persatu…”
“Kalo ada ekspresi yang belum ada di ‘database’ lo?” Tanya gua, penasaran.
“Ya gue pasti bingung. Tapi, abis itu gue cari tau sendiri, ekspresi apa itu.. terus apalin, masukkin ke dalam sini…” Jawabnya sambil menunjuk kepala.
Gua menggelengkan kepala, nggak habis pikir dengan semua penjelasannya. Jadi, selama ini; selama hidupnya Lian terus berusaha membaca ekspresi manusia. Tentu bukan hal yang gampang. Bayangkan saja bagaimana otaknya terus bekerja tanpa henti karena harus mencoba membaca ekspresi manusia.
Setelah mengetahui hal tersebut. Pandangan gua terhadapnya menjadi berbeda. Gua berusaha bicara sejelas mungkin tanpa menyembunyikan ekspresi. Agar ia bisa dengan mudah membacanya.
Dulu gua pikir dia kuat.
Sempurna.
Cerdas.
Presisi.
Dingin kalau harus, penuh empati kalau waktunya bicara ke pasien.
Tapi sejak saat itu gua melihatnya sebagai manusia biasa. Anak kecil yang tumbuh tanpa kemampuan dasar yang dimiliki orang lain; memahami emosi. Anak kecil yang akhirnya memutuskan belajar sendiri dengan cara yang rumit dan melelahkan: menghafal manusia, satu wajah demi satu wajah, satu emosi demi satu emosi.
Dan betapa kerasnya dia mencoba menyatu dengan dunia, padahal dunia sendiri tidak pernah berhenti menuntutnya.
Buat Lian, dunia ini bukan cuma suara dan kata, tapi juga peta visual yang harus dia baca setiap detiknya.
--
“Kenape?”Tanya gua, membuka percakapan.
“Cuy… Dokternya Ines siapa namanya dah, rumah sakitnya di mana?” Ia balik bertanya.
Gua lantas memberi jawaban; memberi nama dokter langganan Ines beserta rumah sakit tempatnya praktek. Lalu, disusul pertanyaan lain; “Kenape emang?”
“Ini si Aftar kejang… udah dua kali” Jawabnya. Menyebut nama anak bungsunya; keponakan gua. Dari nada bicaranya terasa kepanikan yang coba ia tahan.
“Hah, serius? yaudah bawa aja ke sana. Dia praktek Selasa sama Sabtu…” Gua memberi informasi.
Beberapa hari berikutnya, gua kembali mendapat informasi kalau Dokter Eko sudah nggak lagi praktek di rumah sakit tersebut. Sementara kejang keponakan gua semakin parah. Di sisi lain, Si sepupu gua ini juga nggak mau menyerah. Ia tetap berkonsultasi ke dokter saraf lain walau belum terlihat hasilnya.
Berniat membantu, gua dan Ines sibuk mencari tau tentang keberadaan dokter Eko. Namun, setelah bertanya ke sana kemari Dokter Eko rupanya baru saja pensiun. Beliau lantas menyarankan untuk ke seorang dokter spesialis saraf lain yang konon katanya lebih baik ketimbang dirinya, lebih baik dari seluruh dokter saraf di Indonesia. Bukan, di dunia.
‘Alah, lebay… Batin gua, merasa Dokter Eko pastilah berlebihan atau mungkin hanya bercanda.
Gua, Ines dan sepupu lantas mengunjungi rumah sakit tempat dokter itu bekerja.
Ruang tunggu poli saraf penuh bukan main. Saking penuhnya, hampir nggak ada tempat duduk yang tersisa. Beberapa pasien bahkan terpaksa menggunakan kursi plastik yang disediakan para perawat.
“Lama ya, Sus?” Tanya gua ke salah seorang perawat.
“Iya, kak… Sabar ya…” Balasnya sambil tersenyum.
Bosan menunggu, gua keluar dari rumah sakit. Berniat untuk membeli kopi dan merokok sambil menghabiskan waktu. Seperti kebanyakan rumah sakit pada umumnya, di bagian luar entah di depan, di sisi kiri, di sisi kanan, atau bahkan di belakang gedung pasti tersedia banyak pedagang. Menyediakan berbagai makanan untuk penunggu pasien yang kelaparan atau para karyawan yang bukan dokter.
Seorang dokter rasa-rasanya mustahil mau makan di emperan gedung kayak gini.
Gua menyusuri jalan kecil di sisi rumah sakit. Jalan kecil yang dipadati oleh banyak sekali pedagang yang menggelar gerobak dengan tenda dari terpal. Gua berhenti di salah satu penjaja minuman, duduk di kursi kayu beratap terpal biru usang, lalu memesan kopi sachet. “Indocafe satu kang…”
Di sebelah gua, duduk seorang pria yang sibuk dengan ponselnya. Sementara, jemarinya mengapit batangan rokok filter yang abunya memanjang nyaris terbuang. Tepat di hadapannya terdapat kursi plastik tempat ia meletakkan bungkusan rokok dan gelas berisi kopi yang tersisa setengah.
Dari suara ponselnya, gua tau kalau ia pasti tengah bermain game.
“Boleh pinjem korek, Bang…” Tanya gua ramah.
“Oh, boleh…” Jawabnya tanpa berpaling dari layar ponsel dan menyerahkan pemantik miliknya ke gua.
Setelahnya kami sama-sama terdiam. Gua merokok, dan ia tetap sibuk dengan ponselnya.
Beberapa menit berikutnya, ia berhenti. Ponselnya di simpan di saku celananya, lalu mengambil bungkusan rokok, mengambil sebatang dan menyulutnya.
“Berobat?” Tanyanya seraya menghembuskan asap rokok ke udara.
“Oh, nggak… Nganter sodara” Jawab gua, “Abang, nganter juga apa berobat?” Gua balik bertanya.
“Kerja…” Jawabnya seraya menunjuk ke arah gedung rumah sakit.
Gua mengernyitkan dahi, penasaran. “Di rumah sakit?”
“Ooh…” Gumam gua pelan. Nggak mau terlalu banyak menggali latar belakang orang asing.
Ia lalu menoleh dan menatap gua, seakan tengah memindai dari atas ke bawah. Kemudian kembali bertanya; “Pernah tinggal di UK?”
Lagi-lagi, gua mengernyitkan dahi, kali ini bingung. Bagaimana bisa ia tau?
Gua mengangguk pelan; “Kok tau?” Tanya gua.
Ia nggak menjawab, hanya menyeringai kecil.
Setelahnya kami saling memperkenalkan diri. Lian, namanya. Dengan kopi dan rokok sebagai teman, kami berdua lantas berbincang. Perbincangan kasual khas bapak-bapak muda tentang cuaca hari ini, tentang kondisi ekonomi negara dan banyak hal remeh lainnya.
Di tengah perbincangan, ponsel gua berdering; sebuah panggilan dari Ines.
“Halo…” Sapa gua.
“Kamu di mana?” Tanyanya,
“Di samping RS, ngopi... Kenapa?”
“Ish… ini dokternya lama banget, belum dateng…” Keluhnya.
“Sabar, coba tanya lagi ke susternya…” Gua memberi saran, nggak tau juga harus berbuat apa.
Setelah gua selesai melakukan panggilan, kini gantian Lian yang menerima panggilan. Dengan santai ia meraih ponsel dan bicara; “Iya, bentar lagi, tanggung…”
Lian berdiri, lalu menghabiskan sisa kopi di gelas plastik dan menghisap rokok dalam-dalam. Kemudian melempar puntung rokoknya ke selokan kecil di seberang gang.
“Duluan ya…” Ucapnya, pamit.
“Oh oke, oke…” Balas gua. Lalu pergi menyusulnya, kembali masuk ke area rumah sakit.
Begitu tiba di ruang tunggu poli saraf, gua langsung menerima keluaghan dari Ines dan sepupu perihal dokter yang datang terlambat. Gua lalu berinisiatif bertanya ke salah satu suster yang berada di nurse station tentang alasan keterlambatan si dokter.
“Oh, emang biasa kayak gitu kak…” Jawab si suster ramah.
Beruntung, nggak lama berselang, satu persatu pasien mulai dipanggil masuk ke dalam. Hingga akhirnya tiba giliran kami.
Kami berempat, termasuk keponakan dan orang tuanya masuk ke dalam ruangan. Salah satu perawat lantas memberi peringatan. “Maaf kak, kalo bisa jangan masuk semuanya…” Ucapnya ramah.
Gua dan Ines berniat kembali keluar, namun terdengar suara dari dalam ruang dokter; “Gapapa, masuk aja…”
Sontak kami kembali berbalik dan masuk ke dalam ruangan dokter. Di sana, di sudut terjauh ruangan, di balik meja besar dengan beberapa monitor besar di depannya, duduk seorang pria. Pria berkemeja putih berlengan panjang yang kini menatap gua sambil memainkan pena di jemarinya.
Ia mengangguk ke arah gua seakan memberi sapaan. Sementara, gua hanya bisa tertegun menatapnya nggak percaya. ‘Bagaimana mungkin orang yang tadi abis ngobrol panjang lebar sama gua sambil merokok adalah seorang dokter?’
Itulah awal pertemuan kami berdua, pertemuan gua dengan Lian.
Ia yang kemudian bisa langsung tau kondisi Ines, yang sudah pulih dari penyakitnya hanya melalui tatapan mata. Ia yang seringkali menghubungi gua hanya sekedar untuk minta ditemani bermain game sambil ngobrol dan merokok.
Suatu ketika, gua mengajukan pertanyaan yang selama ini terlupakan.
“Dulu lo kok bisa tau kalo gue pernah tinggal di UK?” Tanya gua.
“Gampang, dari wallpaper HP lo..” Jawabnya singkat.
Gua menghela napas, nggak percaya kalau jawabannya sesederhana itu.
“Tapi kan wallpaper HP gue cuma foto Ines sama anak gue di depan Elland Road… Bisa aja kita lagi liburan, bukan tinggal di sana?” Tanya gua lagi.
“Orang Indonesia mana sih yang mau pergi liburan ke Leeds?”
“…”
“… Lagian, kalaupun berlibur yang dijadikan wallpaper biasanya kan pas foto di Big Ben…” Tambahnya.
“…”
“… Lo pasti pernah tinggal di sana, di UK. Hingga Big Ben udah nggak lagi jadi daya tarik buat lo. Ya kan?”
“Iya lagi…” Jawab gua sambil mengangguk, kagum dengan daya analisanya yang sederhana namun mendalam.
—
Kekaguman lain yang gua dapatkan darinya selain caranya berpikir yang sederhana adalah kemampuannya membaca ekspresi manusia. Ia bisa dengan mudah ‘menebak’ isi hati seseorang hanya melalui ekspresi wajah lawan bicara.
Awalnya, gua pikir itu hanyalah tebakan belaka. Nyatanya Lian memang mampu melakukan hal itu dengan mempelajari emosi dan ekspresi manusia sejak kecil. Ia menunjukkan buku-buku lawas berisi potongan kliping dari tabloid, majalah atau koran. Potongan gambar ekspresi manusia lengkap dengan keterangan di bagian bawahnya.
Hal yang bikin siapapun yang melihatnya jadi bingung, termasuk gua.
‘Kok bisa-bisanya orang mempelajari hal ini, buat apa?’
Iya, gua tau memang ada bidang studi yang khusus mempelajari ekspresi dan emosi manusia. Bahkan ada beberapa pakar di bidang tersebut yang sering diundang ke acara televisi untuk membaca ekspresi orang. Tapi, kenapa ia melakukannya sejak kecil?
Usut punya usut, setelah cukup lama ia berusaha menyembunyikannya dari gua. Lian akhirnya buka suara; “Ya lo pada enak bisa ‘baca’ ekspresi…”
“Lah, emang ada yang nggak bisa?” Tanya gua.
“Ada. Gue…” Jawabnya singkat sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Hah?!” Seru gua nggak percaya.
Gua lantas sengaja menunjukkan ekspresi sedih ke arahnya; “Nih ekspresi apa?”
“Ya sekarang mah gue udah apal kali, Bon…” Jawabnya.
Gua terdiam sesaat, mencoba memahami semuanya.
“Berarti lo selama ini, literali beneran ‘baca’ ekspresi?”
“Iya. Dari alis, mata, bibir, tulang rahang dan gestur-gesturnya. Setiap ekspresi punya detail yang berbeda dan gua apalin satu persatu…”
“Kalo ada ekspresi yang belum ada di ‘database’ lo?” Tanya gua, penasaran.
“Ya gue pasti bingung. Tapi, abis itu gue cari tau sendiri, ekspresi apa itu.. terus apalin, masukkin ke dalam sini…” Jawabnya sambil menunjuk kepala.
Gua menggelengkan kepala, nggak habis pikir dengan semua penjelasannya. Jadi, selama ini; selama hidupnya Lian terus berusaha membaca ekspresi manusia. Tentu bukan hal yang gampang. Bayangkan saja bagaimana otaknya terus bekerja tanpa henti karena harus mencoba membaca ekspresi manusia.
Setelah mengetahui hal tersebut. Pandangan gua terhadapnya menjadi berbeda. Gua berusaha bicara sejelas mungkin tanpa menyembunyikan ekspresi. Agar ia bisa dengan mudah membacanya.
Dulu gua pikir dia kuat.
Sempurna.
Cerdas.
Presisi.
Dingin kalau harus, penuh empati kalau waktunya bicara ke pasien.
Tapi sejak saat itu gua melihatnya sebagai manusia biasa. Anak kecil yang tumbuh tanpa kemampuan dasar yang dimiliki orang lain; memahami emosi. Anak kecil yang akhirnya memutuskan belajar sendiri dengan cara yang rumit dan melelahkan: menghafal manusia, satu wajah demi satu wajah, satu emosi demi satu emosi.
Dan betapa kerasnya dia mencoba menyatu dengan dunia, padahal dunia sendiri tidak pernah berhenti menuntutnya.
Buat Lian, dunia ini bukan cuma suara dan kata, tapi juga peta visual yang harus dia baca setiap detiknya.
--
percyjackson321 dan 45 lainnya memberi reputasi
46
Kutip
Balas
Tutup