Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Setelah tiga hari di London, kami kembali ke Jakarta. Kota yang seperti biasa; padat, gaduh, dan hangat. Bedanya, sekarang gua nggak lagi sendiri. Gua menyambut Jakarta dengan pemandangan yang sama, tapi dengan rasa yang jauh berbeda.
Kami memutuskan tinggal di rumah Lian, walau Nyokap terlihat cukup berat melepas kepergian gua.
“Ya, kan cuma deket, Maah… Jalan kaki juga sampe…”Ucap gua, mencoba menghiburnya.
“Capek, Fir kalo jalan…” Balasnya.
“Naik ojek online paling juga 15 ribu…” Ucap gua lagi.
“10 ribu kalo ada promo…” Lian menambahkan.
Sementara, Lian kembali melanjutkan pekerjaannya. Tapi, kali ini ia sudah nggak lagi tergabung ke gugus tugas covid. Ia kini bekerja di rumah sakit pemerintah, rumah sakit yang sama dengan tempat Dokter Deden bertugas. Namun, bukan sebagai dokter spesialis bedah saraf. Melainkan sebagai Dokter spesialis forensik. Kali ini alasannya bukan karena proses pengajuan ijin yang ribet dan berbelit. Tapi, karena memang pihak pemerintah masih membutuhkan keahliannya di bidang itu. Tentu saja untuk menganalisa covid dan penyebarannya.
Begitu juga dengan gua yang masih berkutat dengan urusan kuliah. Awalnya memang terasa aneh. Bayangin aja, orang yang sudah menikah tapi masih harus berurusan dengan dunia perkuliahan. Masih harus berinteraksi dengan sesama mahasiswa lain yang belum menikah.
Beruntung, Lian nggak terlalu memusingkan urusan ‘sepele’ tentang rumah. Semua kami serahkan ke Kucay dan istrinya; Mpok Inung yang kini sama-sama bekerja di rumah untuk membantu kami. Jadi, praktis gua sama sekali nggak mengerjakan urusan rumah seperti bersih-bersih, bahkan memasak. Rasanya sama saja saat masih tinggal bersama Nyokap, hanya saja kali ini di tempat yang berbeda.
“Capek?” Tanya gua saat melihat Lian baru saja keluar dari kamar mandi sambil memijat pergelangan tangannya sendiri.
“Nggak…” Jawabnya singkat.
“Sini…” Ucap gua seraya menepuk tepian ranjang di sebelah gua.
Gua meraih tangannya, lalu memberikan pijatan lembut tepat di pergelangan.
“Tadi abis dari Makam…” Ia bicara.
“Makam?” Tanya gua.
“Iya, nganterin orang nyari makam…”
“Kenapa harus kamu, emang nggak ada orang lain?” Tanya gua, penasaran. Kenapa orang sehebat suami gua ini harus rela turun tangan mengantar orang.
“Di suruh sama yang mulia…” Balasnya, lalu tersenyum.
Gua mengangguk. Tentu saja paham dengan siapa yang dimaksud dengan ‘yang mulia’; Dokter Deden.
Terkadang Lian juga masih acap kali bolak-balik ke Singapore untuk melakukan Operasi bedah saraf. Ia sama sekali nggak kesulitan walau masih ada pembatasan untuk penerbangan keluar dan masuk karena statusnya sebagai seorang dokter yang aktif bertugas.
Malam itu, gua tanpa sengaja mendengar percakapannya dengan orang yang sepertinya pasien melalui sambungan telepon. Dari obrolan tersebut gua mengetahui kalau pasiennya tersebut punya kondisi yang sama dengan gua sebelumnya; Epilepsi.
“Siapa, Mas?” Tanya gua ke Lian begitu ia selesai mengakhiri panggilan. Tentu saja gua nggak berharap tau siapa pasiennya saat ia menyebut nama. Gua hanya ingin mendengar cerita tentang kondisi pasiennya tersebut.
“Orang tua pasien…” Jawabnya.
“Ooh… Sakit apa?” Tanya gua, berlagak nggak tau.
Ia menoleh ke arah gua, setelah menyelesaikan mengetik di ponselnya. “Sama kayak kamu dulu…” Jawabnya.
“Yah, susah doong…” Gumam gua pelan. Merasakan sedikit empati pada si pasien.
“Kata siapa?” Balasnya.
“Hah?”
“Kalau cepet ditangani dan dengan penanganan yang tepat, gampang kok…” Jawabnya, lalu mulai menjelaskan tentang si pasien yang rupanya masih balita dengan kondisi mirip dengan gua dulu; Kejang-kejang dengan interval yang semakin lama, semakin pendek.
“Di bawa ke SG?” Tanya gua lagi.
“Iya…”
“Aku ikut boleh?” Pinta gua.
Lian tersenyum lalu mengangguk pelan; “Boleh kalau skripsi kamu udah selesai…”
Hari berganti hari, Covid sudah mulai mereda. Jalanan nggak lagi terasa lengang, tapi juga belum sepenuhnya kembali normal. Orang-orang mulai beraktivitas, walau masih wajib menggunakan masker. Di kampus, perkuliahan tatap muka mulai diadakan lebih sering. Jakarta, seperti semua orang, sedang belajar untuk sembuh perlahan-lahan.
Gua sendiri kini resmi menjadi mahasiswa akhir. Skripsi gua akhirnya mulai masuk bab yang serius. Tema yang gua angkat: “Komunikasi Interpersonal dan Representasi Emosi pada Komunitas Tuna Rungu”
Gua mengambil topik itu bukan tanpa alasan. Tentu saja karena terpesona dengan bagimana mereka menyampaikan emosi tanpa suara. Untuk urusan sumber, gua nggak perlu pusing karena ada Ibu dan teman-teman di yayasan yang dengan senang hati membantu gua. Penuh cinta walau tanpa kata.
Jujur saja, Gua belajar banyak dari mereka. Tentang bahasa tubuh, tatapan, dan cara orang bisa saling mengerti tanpa harus bersuara. Gua juga banyak membaca buku-buku berisi teori-teori komunikasi mulai dari pragmatik, semiotika, sampai teori kebutuhan Maslow dari sisi afeksi. Semua gua susun pelan-pelan sambil sesekali curhat kepadanya.
Komunikasi itu nggak melulu tentang ‘bicara’. Dari Lian gua belajar kalau terkadang diam juga bisa menjadi bahasa yang paling lantang. Dari dia juga gua sadar kalau hidup nggak pernah mudah buat sebagian orang. Deritanya, tangisnya yang nggak pernah terlihat, sedih dan sendunya, semua yang selama ini hanya bisa disembunyikan. Bukan, bukan karena inginnya. Tapi karena ia memang nggak mampu.
Kini, ia berekspresi. Walau hanya bisa dilakukannya di depan gua. Sesuatu yang sampai saat ini masih misteri. Jangankan gua yang nggak ngerti apa-apa soal dunia kesehatan. Lian yang sepandai itu saja, masih bingung dibuatnya.
Hai sayang…
Sekarang kamu bisa menangis dipelukanku. Kamu bisa menemaniku tertawa. Kamu bahkan bisa meringis saat aku mencubit lenganmu.
“Nggak apa-apa.. Aku nggak peduli dan nggak mau membaca atau memahami ekspresi orang lain. Aku hanya butuh agar terus bisa membaca dan memahami ekspresimu…” Ucapnya seraya mengecup kening gua.
—
Barry Manilow - Can't Smile Without You
You know I can't smile without you
I can't smile without you
I can't laugh and I can't sing
I'm finding it hard to do anything
You see I feel sad when you're sad
I feel glad when you're glad
If you only knew what I'm going through
I just can't smile without you
You came along just like a song
And brightened my day
Who would have believed that you were part of a dream
Now it all seems light years away
And now you know I can't smile without you
I can't smile without you
I can't laugh and I can't sing
I'm finding it hard to do anything
You see I feel sad when you're sad
I feel glad when you're glad
If you only knew what I'm going through
I just can't smile
Now some people say happiness takes so very long to find
Well, I'm finding it hard leaving your love behind me
And you see I can't smile without you
I can't smile without you
I can't laugh and I can't sing
I'm finding it hard to do anything
You see I feel glad when you're glad
I feel sad when you're sad
If you only knew what I'm going through
I just can't smile without you