- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
kelinci.tosca dan 149 lainnya memberi reputasi
150
214.7K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#1169
007-N A Vow Beyond the Vows
Spoiler for 007-N A Vow Beyond the Vows:
Satu per satu persiapan pernikahan kami beres. Ya, nggak banyak memang yang harus disiapkan karena prosesi hanya akan dilakukan di KUA. Nggak ada resepsi megah dengan tamu ratusan sampai ribuan orang. Nggak ada gegap-gempita lagu romantis yang dibawakan penyanyi khas pernikahan. Bahkan nggak ada rencana bulan madu, karena takut nggak bisa keluar dari Indonesia. Semuanya gara-gara pendemi sialan ini.
Kami bahkan nggak mencetak kartu undangan, saking sedikit jumlah orang yang mungkin akan datang. Paling hanya keluarga inti mempelai dan beberapa kerabat dekat yang jumlahnya mungkin nggak sampai 20 orang.
“Ih apaan sih Fir? Seorang Fira Masa nikah cuma di KUA doang?”Keluh Gaby saat kami berempat ngobrol santai melalui zoom.
“Ya abis gimana…” balas gua.
“Dari awal gue kan udah bilang better di undur aja nggak sih acaranya. Nunggu sampe pandemi selesai…” Ucapnya lagi, menggebu-gebu.
“Kapan selesainya?” Tanya Liv, nimbrung.
“…” Gaby terdiam, nggak punya jawaban. Begitu juga gua dan yang lain.
“Tapi, semua udah siap kan Fir?” Kali ini Fidel yang angkat bicara, bertanya tentang progres persiapan pernikahan gua.
“Mmm… Udah kayaknya…” Jawab gua, nggak yakin.
“Lah, kok kayaknya?” Tanya Fidel lagi.
“Ya gue kan emang cuma ngurus gaun doang. Yang lain Nyokap sama Lian yang urus”
Iya, Urusan seperti dokumen dan pendaftaran pernikahan di KUA pun sudah di urus oleh Nyokap dan Lian. Jadi, setelah selesai dengan gaun, gua cuma duduk manis sambil menunggu hari penting itu tiba.
Sementara, Bokap sudah nggak pernah datang lagi ke rumah sejak kejadian waktu itu. Sesekali, ia menanyakan kabar gua melalui pesan singkat.
‘Fir, Papah sudah transfer uang jajan buat kamu ya’ ucapnya melalui pesan. Disusul, sebuah notifikasi aplikasi banking yang menunjukkan uang masuk ke rekening.
Saat gua mengecek mutasinya, terlihat kalau uang yang masuk berasal dari rekening yang bukan atas namanya. Hal yang tentu saja bikin gua bertanya-tanya. Ya jaman sekarang, uang masuk dengan alasan salah transfer bisa saja jadi modus penipuan baru.
‘Makasih, Pah 😉😉😉 Btw nama yg tf kok bkan nama Papah?’ Tanya gua. Yang lantas diresponnya dengan balasan lain; ‘Iya, Papah numpang transfer. Papah nggak pakai bank transfer’
Usut punya usut, sejak kejadian ia ditipu karyawannya hingga bangkrut dulu. Bokap nggak lagi percaya dengan aplikasi atau internet perbankan. Ia bahkan nggak punya kartu ATM walau tetap punya rekening bank. Jadi, jika membutuhkan uang cash ia masih harus datang ke bank untuk melakukan penarikan.
Di sisi lain, setelah urusan dokumen pernikahan siap, Nyokap kembali terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Gua sengaja nggak mau mengungkit hal yang berhubungan dengan Bokap, takut kembali membuatnya bersedih. Lagian, gua sepertinya juga nggak ada niat untuk mendamaikan mereka berdua. Seandainya takdir berkata lain, biarlah Tuhan yang menentukan jalan mereka sendiri.
Sementara, Lian juga masih sibuk dengan urusan pekerjaannya. Ia bahkan sama sekali nggak mengajukan cuti hingga H-1 pernikahan.
“Lho, gimana sih? kenapa nggak cuti?” Tanya gua.
“Ya nanti aja cuti-nya setelah hari H, biar lebih panjang liburnya…” Jawabnya, santai.
“Ooh…”
“Kamu gimana?” Ia balik bertanya, tentu saja merujuk ke jadwal kuliah gua yang juga masih terus berjalan.
“Ya, aku sih santai, kan kuliah online. Seandainya, kalo bolos satu atau dua hari nggak begitu ngaruh…” Balas gua, ikutan bersikap santai.
“…”
“… Lagian, kan kita juga nggak ada rencana honey moon kan? jadi abis nikah bisa lanjut kuliah” Gua menambahkan.
“Iya sih…” Balasnya.
Masalah kecil lainnya datang. Rupanya KUA nggak mengijinkan mengadakan pernikahan di sana. Tentu saja dengan alasan yang sama dengan yang lain; Pembatasan karena pandemi. Jadi, semua mempelai yang berencana menikah harus melangsungkan akad di rumah.
Setelah melakukan perundingan, Gua dan Lian memutuskan untuk menggelar prosesi akad sederhana di rumah.
—
Hari itu datang. Di ruang keluarga rumah gua yang sudah disulap menjadi aula kecil dengan karpet lebar melapisi lantai. Sementara, sofa-sofa, meja dan furnitur lainnya dipindahkan sementara ke gudang belakang.
Dengan gaun putih sederhana pemberian Bokap, Gua duduk di kursi kayu sewaan dengan ukiran jepara. Menghadap ke arah meja kecil berlapis taplak putih berenda. Di seberang gua, duduk Bokap yang kini nampak necis dengan jas hitam yang dibelikan Lian. Di sebelahnya duduk Pak penghulu bermasker yang sibuk menulis di atas lembaran dokumen.
Sementara, Lian duduk tepat di sebelah gua. Nggak seperti orang-orang lain yang kini nampak berebeda, Lian terlihat sama seperti biasa. Duduk tanpa ekspresi dengan kemeja putih berlengan panjang dengan celana bahan bergaris samar.
Yang berbeda darinya hanya tatanan rambut yang kini terlihat tersisir rapi dan mengkilap. Juga parasnya yang entah kenapa kali ini nampak lebih tampan dari hari-hari biasanya.
Saat ini, ia adalah satu-satunya alasan gua nggak terlalu memusingkan acara pernikahan super sederhana ini. Satu-satunya hal yang bisa menekan emosi karena pandemi yang bikin semua berantakan.
Di sisi lain meja, duduk Dokter Deden yang juga mengenakan masker dan seorang ustad dari masjid di dekat rumah yang berperan sebagai saksi pernikahan. Sementara, beberapa tamu lain yang jumlahnya nggak seberapa terlihat duduk di kursi-kursi berderet mengelilingi meja.
Sejak pagi tadi, jantung gua terus berdetak nggak teratur. Rasanya campur aduk, antara gugup, takut, dan senang yang jadi satu. Telapak tangan mulai dingin dan berkeringat saat melihat kehadiran Pak Penghulu tadi. Keringat yang hingga saat ini masih terus membasahi telapak tangan.
Pak penghulu membaca doa sejenak sebelum memulai prosesi. Lalu menjelaskan dengan singkat tentang tahap-tahapnya.
Ia lalu menoleh ke arah Bokap dan mengajukan pertanyaan; “Bapak mau nikahin sendiri, atau diwakilkan ke saya?” Tanya si Pak Penghulu.
Bokap mengangguk; “Saya sendiri…”
Jawaban yang tentu saja bikin gua kaget. Ketakutan gua kini berganda. Awalnya gua cuma takut kalau Lian nanti salah mengucap kalimat akad hingga berkali-kali. Kini, ketakutan gua bertambah; ‘Gimana kalau Bokap jadi ikut salah ucap juga?’
Pak Penghulu lalu menyodorkan lembaran kertas berisi panduan akad ke Bokap; “Kalau begitu ini nanti dibaca aja ya pak…”
“Nggak perlu pak…” Jawab Bokap, mantap.
Beberapa menit berikutnya, prosesi akad dimulai.
Bokap dan Lian saling menjabat tangan. Bersilangan di atas meja dengan taplak putih yang berkilau. Sementara, gua hanya duduk sambil menatap ke arah Lian yang masih dengan ekspresi datarnya yang khas.
Lian berdehem pelan seraya membetulkan posisi duduknya, sementara Bokap sudah siap untuk bicara.
“Saya nikahkan dan kimpoikan anak kandung saya, Safira Gayatri, dengan engkau ananda Farid Berliansyah dengan mas kimpoi seperangkat alat shalat dan cincin emas 2 gram dibayar tunai….”
Lian menarik napas panjang lalu menyusul; “Saya terima nikah dan kimpoinya, Safira Gayatri binti Dimas Wahyu dengan mas kimpoi seperangkat alat shalat dan cincin emas 2 gram dibayar tunai..”
Pak Penghulu menoleh ke arah Dokter Deden dan Ustad; “Sah?” Tanyanya. Yang lantas dijawab kompak oleh keduanya; “Sah!”
Ucapan syukur menggema dari seantero ruangan. Di susul suara tangis yang pecah. Bukan, bukan dari gua, melainkan dari Nyokap.
Gua yakin, itu bukanlah tangis kesedihan. Tapi tangis penuh haru dan bahagia.
—
Prosesi akad selesai tanpa hambatan.
Dada gua langsung terasa plong. Rasa takut dan gugup perlahan menghilang. Berganti dengan kelegaan yang luar biasa.
Pak Penghulu menutup berkas, lalu berdiri sambil mengucapkan selamat dengan suara pelan. Beberapa tamu menyalami gua dan Lian, bergantian dengan ucapan doa. Nyokap memeluk gua erat sambil terus terisak. Sementara, Bokap hanya menatap dari jauh, namun senyum kecil di wajahnya cukup untuk bicara lebih dari seribu kata.
Gua membalas senyumnya, lalu bicara tanpa suara, berharap Bokap bisa mengerti; “Terima kasih ya, Pah…”
Di pagi yang lembab dan hangat itu, ditengah gempuran pandemi yang menyesakkan hati, gua resmi menjadi istrinya. Tapi gua sama sekali nggak sadar kalau hari bahagia ini belum benar-benar selesai.
Sama sekali belum.
Siang menjelang, tamu-tamu satu persatu pulang. Sementara, beberapa orang terlihat mulai membenahi ruangan dan mengangkut kursi-kursi sewaan ke mobil pick-up yang terparkir di depan. Ruangan kembali tenang, gua yang sudah berganti pakaian dengan baju kasual duduk di salah satu anak tangga. Melamun, membayangkan pernikahan gua yang ternyata cuma ‘begini doang’, persis seperti kata Gaby.
Sementara, Lian terlihat tengah berbincang dengan Nyokap. Perbincangan yang seperti sengaja di rahasiakan dari gua.
Nggak lama berselang, Nyokap mendekat ke arah tangga.
“Kamu ngapain duduk di situ sih, ngalangin orang jalan aja…” Ucapnya, lalu terus melangkah naik ke atas.
“Ck…” Gua hanya menggumam pelan, sambil menggeser duduk agar ia bisa lewat. menarik tangan gua ke kamar.
Beberapa menit berikutnya, Nyokap kembali. Kali ini sambil menyeret koper gua yang nggak begitu besar dan satu tas kecil, menuruni anak tangga.
Gua mengernyitkan dahi begitu melihatnya.
‘Gila, gue langsung disuru pergi dari rumah ini nih?’ Batin gua. Merasa sebelumnya, Nyokap pernah memohon agar gua nggak langsung pergi dari rumah ini begitu selesai menikah. Gua berdiri dan menyusulnya.
“Itu kan koper aku…” Ucap gua.
“Emang…” Jawab Nyokap.
“Mau Mamah bawa ke mana?” Tanya gua lagi.
“Bukan Mamah, tapi kamu…” Balasnya, seraya menunjuk gua.
“Hah…”
Lian datang mendekat, Ia lalu meraih koper dan membawanya keluar. Kemudian kembali, meraih tangan Nyokap dan menjabatnya; “Pamit ya, Tan.. Eh, Mah…”
“Iya, ati-ati ya…” Balas Nyokap. Ia lalu berpaling ke gua dan memberi kecupan di kedua pipi.
Lian menarik tangan gua dan membawa gua keluar. Nggak ada kalimat apapun yang terlontar, ia hanya terdiam sambil terus menarik lengan dan akhirnya menuntun gua masuk ke dalam mobil yang sudah siap di depan rumah.
"Kita mau ke mana?" Tanya gua, begitu kami sudah berada di dalam mobil.
Lian nggak menjawab, ia hanya tersenyum. Gua lantas beralih ke Kucay yang duduk di balik kemudi di depan; “Mau kemana, Cay?”
Setali tiga uang dengan Lian, Kucay juga nggak memberi jawaban. Ia hanya tersenyum sambil tetap fokus mengemudi.
Saat mengetahui kalau mobil yang membawa kami masuk ke tol arah bandara, Gua kembali berpaling ke Lian, lalu berbisik pelan; "Jangan bilang kamu bawa aku honeymoon dadakan ke Bali ya? Atau Singapore?"
Lian mengangkat bahu, masih bungkam.
Dua jam berikutnya, kami sudah duduk di kursi pesawat Emirates. Pesawat yang membawa kami ke Dubai. Gua tentu masih nggak mengerti dengan semua ini. Bingung? Tentu saja, tapi paling nggak gua yakin kalau saat ini ia bakal mengajak gua pergi berbulan madu.
Gua tersenyum sambil menggenggam tangannya.
Setelah hampir seharian berada di pesawat, kami tiba di Dubai. Kami beristirahat sebentar, menikmati segelas kopi susu dingin di lounge. Kemudian ia membawa gua berkeliling bandara. Bandara internasional yang lebih mirip mall super elit ketimbang disebut bandara.
Dari sini gua mulai yakin kalau Dubai bukanlah tujuan utama kami. Ini hanyalah persinggahan sementara sebelum ia mengajak gua kembali menaiki pesawat lainnya.
“Kita cuma transit doang kan?” Tanya gua ke Lian yang kini menggandeng tangan gua menuju ke hotel yang berada tepat di terminal 3 bandara. Hotel yang bisa digunakan untuk bersantai dan istirahat selama transit, terutama jika punya penerbangan yang panjang atau transit yang lama.
“Iya…” Jawabnya sambil membalas tatapan gua dan tersenyum.
“Terus kita sebenernya mau ke mana?” Tanya gua lagi.
“Nanti kamu juga tau…” Jawabnya, masih dengan gaya tengil yang sama.
Setelah berada di kamar hotel, gua kembali mencecarnya dengan pertanyaan yang sama. Namun, kali ini Lian menanggapi berbeda. Ia seakan tengah bermain dengan psikologis gua.
“Mau kemana sih sebenernya?” Tanya gua lagi.
“Kamu beneran mau tau?” Ia balik bertanya.
Gua mengangguk pelan; “Iya…”
Ia meraih tas, mengeluarkan sebuah pouch kecil dan menyerahkannya ke gua.“Nih, Paspor, Tiket, semua informasinya ada di tas ini… Liat aja sendiri”
Entah kenapa gua malah terdiam. Ada sensasi aneh yang langsung menjalar di dada begitu mendengar jawabannya barusan. Di satu sisi, gua penasaran mati-matian dengan tujuan kami. Tapi, di sisi lain, gua juga ingin terus menjaga elemen surprise yang sudah ia siapkan.
Sementara, di ujung ruangan Lian kini duduk di kursi menatap gua masih sambil tersenyum. Gua yakin di dalam hatinya ia tengah berteriak kegirangan karena berhasil memperdaya gua.
Kami menunggu sambil beristirahat. Setelah sekitar 12 jam, barulah penerbangan berikutnya tiba.
Saat hendak check-in, begitu melihat nomor pesawat dan mencocokkannya dengan display pada papan raksasa di atas ruang tunggu, gua bisa langsung tau kemana Lian akan membawa gua; Oslo!
“Lofoten!!!” Gua berseru kegirangan seraya mengepalkan tangan. Lalu dengan cepat menurunkannya dan bersikap biasa saja saat sadar kalau banyak mata menatap ke arah kami.
Lian menoleh ke arah gua dan mengangguk sambil tersenyum.
“Yes!!” Seru gua lagi, nggak lagi mempedulikan pandangan aneh orang-orang.
7 Jam penerbangan kami tempuh hingga akhirnya tiba di Oslo, Norwegia. Rasanya begitu berbeda dengan kunjungan pertama gua dulu. Karena kali ini kami berangkat dari negara yang jauh lebih hangat. Jadi sensasi pertama begitu tiba di Norwegia; Pusing. Karena tubuh yang tengah berusaha beradaptasi dengan suhu di sini.
Sementara, gua duduk untuk beristirahat sejenak. Lian mengeluarkan mantel dari koper, kemudian pergi untuk membeli segelas susu hangat untuk gua.
Setelah rasa pusing sedikit mereda, dan mantel terpasang menyelubungi tubuh. Kami berdua melanjutkan penerbangan. Kali ini kami pergi menuju ke Bode dengan menggunakan pesawat yang lebih kecil. Lalu, dilanjutkan dengan ferry menusu ke Lofoten. Iya, Lofoten.
Gua menatap jendela ferry yang basah oleh kabut asin laut Norwegia. Gua masih nggak percaya. Di tengah pandemi gila ini, Lian berhasil membawa gua ke tempat paling romantis dan paling bersejarah dalam hidup kami. Gua menoleh ke arahnya lalu berbisik; “Aku seneng deh…”
“Glad to know…” Balasnya, seraya mempererat dekapannya.
Beberapa jam berikutnya, kami akhirnya di dermaga Lofoten. Di sana, sebuah mobil sudah menunggu untuk menjemput kami.
“Kita nggak nginep di tempat waktu itu?” Tanya gua. Sejauh ingatan gua yang pendek ini, kabin tempat kami menginap dulu ditempuh dengan berjalan kaki menyusuri bukit dan ngarai.
“Nggak kok. Masih di tempat waktu itu…” Jawabnya, santai.
“Lho, tapi kok naik mobil?”
Lian nggak memberi jawaban, ia hanya tersenyum simpul lalu beralih ngobrol ke si supir yang merupakan warga lokal.
Nggak lama, mobil yang membawa kami berhenti tepat di depan sebuah jalan berbatu. Lian menuntun gua menyusuri jalan kecil berbatu yang sedikit menanjak. Menit berikutnya, pemandangan deretan kabin yang menghadap ke Fjord menyambut kami.
Kesal! Gua mengentakkan kaki dan melepas genggaman tangan Lian yang masih terus berjalan. Ia berbalik dan menatap gua sambil cengengesan; “Kenapa?”
“Jadi, dulu sebenernya kita bisa naik mobil?” Tanya gua setengah berteriak.
“Iya…”
“Terus, kenapa dulu kita harus jalan…” Gua menambahkan. Masih kesal karena merasa tertipu.
Lian mendekat dan meraih kembali tangan gua dan menggenggamnya. “Kan biar kamu bisa ngeliat pemandangan laut, sayang….” Bisiknya.
Hati gua tiba-tiba luluh. Bukan, bukan karena penjelasan darinya. Tapi karena kata ‘sayang’ di akhir kalimat.
Hanya butuh waktu nggak sampai lima menit untuk kami tiba di kabin kecil yang terletak di kaki bukit menghadap laut. Kabin kayu berwarna merah tua itu terlihat sama seperti dulu. Tapi ada yang berbeda kali ini.
Saat gua membuka pintu, aroma kayu dan udara dingin menyambut. Di dinding tergantung bunga kering. Di rak kecil ada beberapa frame foto gua dan Lian. Dan di kursi rotan, ada satu gaun putih sederhana yang tergantung rapi.
Gua tertegun begitu menatap ke arah gaun tersebut. Gaun putih yang sebelumnya sempat ingin gua pakai di acara pernikahan sebelum dibelikan oleh Bokap. Dengan cepat, gua mendekat ke arah kursi dan meraih gaun tersebut. Kemudian beralih ke Lian; “Kok ada di sini?”
Lian nggak menjawab, ia hanya tersenyum simpul.
—
Kami bahkan nggak mencetak kartu undangan, saking sedikit jumlah orang yang mungkin akan datang. Paling hanya keluarga inti mempelai dan beberapa kerabat dekat yang jumlahnya mungkin nggak sampai 20 orang.
“Ih apaan sih Fir? Seorang Fira Masa nikah cuma di KUA doang?”Keluh Gaby saat kami berempat ngobrol santai melalui zoom.
“Ya abis gimana…” balas gua.
“Dari awal gue kan udah bilang better di undur aja nggak sih acaranya. Nunggu sampe pandemi selesai…” Ucapnya lagi, menggebu-gebu.
“Kapan selesainya?” Tanya Liv, nimbrung.
“…” Gaby terdiam, nggak punya jawaban. Begitu juga gua dan yang lain.
“Tapi, semua udah siap kan Fir?” Kali ini Fidel yang angkat bicara, bertanya tentang progres persiapan pernikahan gua.
“Mmm… Udah kayaknya…” Jawab gua, nggak yakin.
“Lah, kok kayaknya?” Tanya Fidel lagi.
“Ya gue kan emang cuma ngurus gaun doang. Yang lain Nyokap sama Lian yang urus”
Iya, Urusan seperti dokumen dan pendaftaran pernikahan di KUA pun sudah di urus oleh Nyokap dan Lian. Jadi, setelah selesai dengan gaun, gua cuma duduk manis sambil menunggu hari penting itu tiba.
Sementara, Bokap sudah nggak pernah datang lagi ke rumah sejak kejadian waktu itu. Sesekali, ia menanyakan kabar gua melalui pesan singkat.
‘Fir, Papah sudah transfer uang jajan buat kamu ya’ ucapnya melalui pesan. Disusul, sebuah notifikasi aplikasi banking yang menunjukkan uang masuk ke rekening.
Saat gua mengecek mutasinya, terlihat kalau uang yang masuk berasal dari rekening yang bukan atas namanya. Hal yang tentu saja bikin gua bertanya-tanya. Ya jaman sekarang, uang masuk dengan alasan salah transfer bisa saja jadi modus penipuan baru.
‘Makasih, Pah 😉😉😉 Btw nama yg tf kok bkan nama Papah?’ Tanya gua. Yang lantas diresponnya dengan balasan lain; ‘Iya, Papah numpang transfer. Papah nggak pakai bank transfer’
Usut punya usut, sejak kejadian ia ditipu karyawannya hingga bangkrut dulu. Bokap nggak lagi percaya dengan aplikasi atau internet perbankan. Ia bahkan nggak punya kartu ATM walau tetap punya rekening bank. Jadi, jika membutuhkan uang cash ia masih harus datang ke bank untuk melakukan penarikan.
Di sisi lain, setelah urusan dokumen pernikahan siap, Nyokap kembali terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Gua sengaja nggak mau mengungkit hal yang berhubungan dengan Bokap, takut kembali membuatnya bersedih. Lagian, gua sepertinya juga nggak ada niat untuk mendamaikan mereka berdua. Seandainya takdir berkata lain, biarlah Tuhan yang menentukan jalan mereka sendiri.
Sementara, Lian juga masih sibuk dengan urusan pekerjaannya. Ia bahkan sama sekali nggak mengajukan cuti hingga H-1 pernikahan.
“Lho, gimana sih? kenapa nggak cuti?” Tanya gua.
“Ya nanti aja cuti-nya setelah hari H, biar lebih panjang liburnya…” Jawabnya, santai.
“Ooh…”
“Kamu gimana?” Ia balik bertanya, tentu saja merujuk ke jadwal kuliah gua yang juga masih terus berjalan.
“Ya, aku sih santai, kan kuliah online. Seandainya, kalo bolos satu atau dua hari nggak begitu ngaruh…” Balas gua, ikutan bersikap santai.
“…”
“… Lagian, kan kita juga nggak ada rencana honey moon kan? jadi abis nikah bisa lanjut kuliah” Gua menambahkan.
“Iya sih…” Balasnya.
Masalah kecil lainnya datang. Rupanya KUA nggak mengijinkan mengadakan pernikahan di sana. Tentu saja dengan alasan yang sama dengan yang lain; Pembatasan karena pandemi. Jadi, semua mempelai yang berencana menikah harus melangsungkan akad di rumah.
Setelah melakukan perundingan, Gua dan Lian memutuskan untuk menggelar prosesi akad sederhana di rumah.
—
Hari itu datang. Di ruang keluarga rumah gua yang sudah disulap menjadi aula kecil dengan karpet lebar melapisi lantai. Sementara, sofa-sofa, meja dan furnitur lainnya dipindahkan sementara ke gudang belakang.
Dengan gaun putih sederhana pemberian Bokap, Gua duduk di kursi kayu sewaan dengan ukiran jepara. Menghadap ke arah meja kecil berlapis taplak putih berenda. Di seberang gua, duduk Bokap yang kini nampak necis dengan jas hitam yang dibelikan Lian. Di sebelahnya duduk Pak penghulu bermasker yang sibuk menulis di atas lembaran dokumen.
Sementara, Lian duduk tepat di sebelah gua. Nggak seperti orang-orang lain yang kini nampak berebeda, Lian terlihat sama seperti biasa. Duduk tanpa ekspresi dengan kemeja putih berlengan panjang dengan celana bahan bergaris samar.
Yang berbeda darinya hanya tatanan rambut yang kini terlihat tersisir rapi dan mengkilap. Juga parasnya yang entah kenapa kali ini nampak lebih tampan dari hari-hari biasanya.
Saat ini, ia adalah satu-satunya alasan gua nggak terlalu memusingkan acara pernikahan super sederhana ini. Satu-satunya hal yang bisa menekan emosi karena pandemi yang bikin semua berantakan.
Di sisi lain meja, duduk Dokter Deden yang juga mengenakan masker dan seorang ustad dari masjid di dekat rumah yang berperan sebagai saksi pernikahan. Sementara, beberapa tamu lain yang jumlahnya nggak seberapa terlihat duduk di kursi-kursi berderet mengelilingi meja.
Sejak pagi tadi, jantung gua terus berdetak nggak teratur. Rasanya campur aduk, antara gugup, takut, dan senang yang jadi satu. Telapak tangan mulai dingin dan berkeringat saat melihat kehadiran Pak Penghulu tadi. Keringat yang hingga saat ini masih terus membasahi telapak tangan.
Pak penghulu membaca doa sejenak sebelum memulai prosesi. Lalu menjelaskan dengan singkat tentang tahap-tahapnya.
Ia lalu menoleh ke arah Bokap dan mengajukan pertanyaan; “Bapak mau nikahin sendiri, atau diwakilkan ke saya?” Tanya si Pak Penghulu.
Bokap mengangguk; “Saya sendiri…”
Jawaban yang tentu saja bikin gua kaget. Ketakutan gua kini berganda. Awalnya gua cuma takut kalau Lian nanti salah mengucap kalimat akad hingga berkali-kali. Kini, ketakutan gua bertambah; ‘Gimana kalau Bokap jadi ikut salah ucap juga?’
Pak Penghulu lalu menyodorkan lembaran kertas berisi panduan akad ke Bokap; “Kalau begitu ini nanti dibaca aja ya pak…”
“Nggak perlu pak…” Jawab Bokap, mantap.
Beberapa menit berikutnya, prosesi akad dimulai.
Bokap dan Lian saling menjabat tangan. Bersilangan di atas meja dengan taplak putih yang berkilau. Sementara, gua hanya duduk sambil menatap ke arah Lian yang masih dengan ekspresi datarnya yang khas.
Lian berdehem pelan seraya membetulkan posisi duduknya, sementara Bokap sudah siap untuk bicara.
“Saya nikahkan dan kimpoikan anak kandung saya, Safira Gayatri, dengan engkau ananda Farid Berliansyah dengan mas kimpoi seperangkat alat shalat dan cincin emas 2 gram dibayar tunai….”
Lian menarik napas panjang lalu menyusul; “Saya terima nikah dan kimpoinya, Safira Gayatri binti Dimas Wahyu dengan mas kimpoi seperangkat alat shalat dan cincin emas 2 gram dibayar tunai..”
Pak Penghulu menoleh ke arah Dokter Deden dan Ustad; “Sah?” Tanyanya. Yang lantas dijawab kompak oleh keduanya; “Sah!”
Ucapan syukur menggema dari seantero ruangan. Di susul suara tangis yang pecah. Bukan, bukan dari gua, melainkan dari Nyokap.
Gua yakin, itu bukanlah tangis kesedihan. Tapi tangis penuh haru dan bahagia.
—
Prosesi akad selesai tanpa hambatan.
Dada gua langsung terasa plong. Rasa takut dan gugup perlahan menghilang. Berganti dengan kelegaan yang luar biasa.
Pak Penghulu menutup berkas, lalu berdiri sambil mengucapkan selamat dengan suara pelan. Beberapa tamu menyalami gua dan Lian, bergantian dengan ucapan doa. Nyokap memeluk gua erat sambil terus terisak. Sementara, Bokap hanya menatap dari jauh, namun senyum kecil di wajahnya cukup untuk bicara lebih dari seribu kata.
Gua membalas senyumnya, lalu bicara tanpa suara, berharap Bokap bisa mengerti; “Terima kasih ya, Pah…”
Di pagi yang lembab dan hangat itu, ditengah gempuran pandemi yang menyesakkan hati, gua resmi menjadi istrinya. Tapi gua sama sekali nggak sadar kalau hari bahagia ini belum benar-benar selesai.
Sama sekali belum.
Siang menjelang, tamu-tamu satu persatu pulang. Sementara, beberapa orang terlihat mulai membenahi ruangan dan mengangkut kursi-kursi sewaan ke mobil pick-up yang terparkir di depan. Ruangan kembali tenang, gua yang sudah berganti pakaian dengan baju kasual duduk di salah satu anak tangga. Melamun, membayangkan pernikahan gua yang ternyata cuma ‘begini doang’, persis seperti kata Gaby.
Sementara, Lian terlihat tengah berbincang dengan Nyokap. Perbincangan yang seperti sengaja di rahasiakan dari gua.
Nggak lama berselang, Nyokap mendekat ke arah tangga.
“Kamu ngapain duduk di situ sih, ngalangin orang jalan aja…” Ucapnya, lalu terus melangkah naik ke atas.
“Ck…” Gua hanya menggumam pelan, sambil menggeser duduk agar ia bisa lewat. menarik tangan gua ke kamar.
Beberapa menit berikutnya, Nyokap kembali. Kali ini sambil menyeret koper gua yang nggak begitu besar dan satu tas kecil, menuruni anak tangga.
Gua mengernyitkan dahi begitu melihatnya.
‘Gila, gue langsung disuru pergi dari rumah ini nih?’ Batin gua. Merasa sebelumnya, Nyokap pernah memohon agar gua nggak langsung pergi dari rumah ini begitu selesai menikah. Gua berdiri dan menyusulnya.
“Itu kan koper aku…” Ucap gua.
“Emang…” Jawab Nyokap.
“Mau Mamah bawa ke mana?” Tanya gua lagi.
“Bukan Mamah, tapi kamu…” Balasnya, seraya menunjuk gua.
“Hah…”
Lian datang mendekat, Ia lalu meraih koper dan membawanya keluar. Kemudian kembali, meraih tangan Nyokap dan menjabatnya; “Pamit ya, Tan.. Eh, Mah…”
“Iya, ati-ati ya…” Balas Nyokap. Ia lalu berpaling ke gua dan memberi kecupan di kedua pipi.
Lian menarik tangan gua dan membawa gua keluar. Nggak ada kalimat apapun yang terlontar, ia hanya terdiam sambil terus menarik lengan dan akhirnya menuntun gua masuk ke dalam mobil yang sudah siap di depan rumah.
"Kita mau ke mana?" Tanya gua, begitu kami sudah berada di dalam mobil.
Lian nggak menjawab, ia hanya tersenyum. Gua lantas beralih ke Kucay yang duduk di balik kemudi di depan; “Mau kemana, Cay?”
Setali tiga uang dengan Lian, Kucay juga nggak memberi jawaban. Ia hanya tersenyum sambil tetap fokus mengemudi.
Saat mengetahui kalau mobil yang membawa kami masuk ke tol arah bandara, Gua kembali berpaling ke Lian, lalu berbisik pelan; "Jangan bilang kamu bawa aku honeymoon dadakan ke Bali ya? Atau Singapore?"
Lian mengangkat bahu, masih bungkam.
Dua jam berikutnya, kami sudah duduk di kursi pesawat Emirates. Pesawat yang membawa kami ke Dubai. Gua tentu masih nggak mengerti dengan semua ini. Bingung? Tentu saja, tapi paling nggak gua yakin kalau saat ini ia bakal mengajak gua pergi berbulan madu.
Gua tersenyum sambil menggenggam tangannya.
Setelah hampir seharian berada di pesawat, kami tiba di Dubai. Kami beristirahat sebentar, menikmati segelas kopi susu dingin di lounge. Kemudian ia membawa gua berkeliling bandara. Bandara internasional yang lebih mirip mall super elit ketimbang disebut bandara.
Dari sini gua mulai yakin kalau Dubai bukanlah tujuan utama kami. Ini hanyalah persinggahan sementara sebelum ia mengajak gua kembali menaiki pesawat lainnya.
“Kita cuma transit doang kan?” Tanya gua ke Lian yang kini menggandeng tangan gua menuju ke hotel yang berada tepat di terminal 3 bandara. Hotel yang bisa digunakan untuk bersantai dan istirahat selama transit, terutama jika punya penerbangan yang panjang atau transit yang lama.
“Iya…” Jawabnya sambil membalas tatapan gua dan tersenyum.
“Terus kita sebenernya mau ke mana?” Tanya gua lagi.
“Nanti kamu juga tau…” Jawabnya, masih dengan gaya tengil yang sama.
Setelah berada di kamar hotel, gua kembali mencecarnya dengan pertanyaan yang sama. Namun, kali ini Lian menanggapi berbeda. Ia seakan tengah bermain dengan psikologis gua.
“Mau kemana sih sebenernya?” Tanya gua lagi.
“Kamu beneran mau tau?” Ia balik bertanya.
Gua mengangguk pelan; “Iya…”
Ia meraih tas, mengeluarkan sebuah pouch kecil dan menyerahkannya ke gua.“Nih, Paspor, Tiket, semua informasinya ada di tas ini… Liat aja sendiri”
Entah kenapa gua malah terdiam. Ada sensasi aneh yang langsung menjalar di dada begitu mendengar jawabannya barusan. Di satu sisi, gua penasaran mati-matian dengan tujuan kami. Tapi, di sisi lain, gua juga ingin terus menjaga elemen surprise yang sudah ia siapkan.
Sementara, di ujung ruangan Lian kini duduk di kursi menatap gua masih sambil tersenyum. Gua yakin di dalam hatinya ia tengah berteriak kegirangan karena berhasil memperdaya gua.
Kami menunggu sambil beristirahat. Setelah sekitar 12 jam, barulah penerbangan berikutnya tiba.
Saat hendak check-in, begitu melihat nomor pesawat dan mencocokkannya dengan display pada papan raksasa di atas ruang tunggu, gua bisa langsung tau kemana Lian akan membawa gua; Oslo!
“Lofoten!!!” Gua berseru kegirangan seraya mengepalkan tangan. Lalu dengan cepat menurunkannya dan bersikap biasa saja saat sadar kalau banyak mata menatap ke arah kami.
Lian menoleh ke arah gua dan mengangguk sambil tersenyum.
“Yes!!” Seru gua lagi, nggak lagi mempedulikan pandangan aneh orang-orang.
7 Jam penerbangan kami tempuh hingga akhirnya tiba di Oslo, Norwegia. Rasanya begitu berbeda dengan kunjungan pertama gua dulu. Karena kali ini kami berangkat dari negara yang jauh lebih hangat. Jadi sensasi pertama begitu tiba di Norwegia; Pusing. Karena tubuh yang tengah berusaha beradaptasi dengan suhu di sini.
Sementara, gua duduk untuk beristirahat sejenak. Lian mengeluarkan mantel dari koper, kemudian pergi untuk membeli segelas susu hangat untuk gua.
Setelah rasa pusing sedikit mereda, dan mantel terpasang menyelubungi tubuh. Kami berdua melanjutkan penerbangan. Kali ini kami pergi menuju ke Bode dengan menggunakan pesawat yang lebih kecil. Lalu, dilanjutkan dengan ferry menusu ke Lofoten. Iya, Lofoten.
Gua menatap jendela ferry yang basah oleh kabut asin laut Norwegia. Gua masih nggak percaya. Di tengah pandemi gila ini, Lian berhasil membawa gua ke tempat paling romantis dan paling bersejarah dalam hidup kami. Gua menoleh ke arahnya lalu berbisik; “Aku seneng deh…”
“Glad to know…” Balasnya, seraya mempererat dekapannya.
Beberapa jam berikutnya, kami akhirnya di dermaga Lofoten. Di sana, sebuah mobil sudah menunggu untuk menjemput kami.
“Kita nggak nginep di tempat waktu itu?” Tanya gua. Sejauh ingatan gua yang pendek ini, kabin tempat kami menginap dulu ditempuh dengan berjalan kaki menyusuri bukit dan ngarai.
“Nggak kok. Masih di tempat waktu itu…” Jawabnya, santai.
“Lho, tapi kok naik mobil?”
Lian nggak memberi jawaban, ia hanya tersenyum simpul lalu beralih ngobrol ke si supir yang merupakan warga lokal.
Nggak lama, mobil yang membawa kami berhenti tepat di depan sebuah jalan berbatu. Lian menuntun gua menyusuri jalan kecil berbatu yang sedikit menanjak. Menit berikutnya, pemandangan deretan kabin yang menghadap ke Fjord menyambut kami.
Kesal! Gua mengentakkan kaki dan melepas genggaman tangan Lian yang masih terus berjalan. Ia berbalik dan menatap gua sambil cengengesan; “Kenapa?”
“Jadi, dulu sebenernya kita bisa naik mobil?” Tanya gua setengah berteriak.
“Iya…”
“Terus, kenapa dulu kita harus jalan…” Gua menambahkan. Masih kesal karena merasa tertipu.
Lian mendekat dan meraih kembali tangan gua dan menggenggamnya. “Kan biar kamu bisa ngeliat pemandangan laut, sayang….” Bisiknya.
Hati gua tiba-tiba luluh. Bukan, bukan karena penjelasan darinya. Tapi karena kata ‘sayang’ di akhir kalimat.
Hanya butuh waktu nggak sampai lima menit untuk kami tiba di kabin kecil yang terletak di kaki bukit menghadap laut. Kabin kayu berwarna merah tua itu terlihat sama seperti dulu. Tapi ada yang berbeda kali ini.
Saat gua membuka pintu, aroma kayu dan udara dingin menyambut. Di dinding tergantung bunga kering. Di rak kecil ada beberapa frame foto gua dan Lian. Dan di kursi rotan, ada satu gaun putih sederhana yang tergantung rapi.
Gua tertegun begitu menatap ke arah gaun tersebut. Gaun putih yang sebelumnya sempat ingin gua pakai di acara pernikahan sebelum dibelikan oleh Bokap. Dengan cepat, gua mendekat ke arah kursi dan meraih gaun tersebut. Kemudian beralih ke Lian; “Kok ada di sini?”
Lian nggak menjawab, ia hanya tersenyum simpul.
—
The Air That I Breath - The Hollies
If I could make a wish
I think I'd pass
Can't think of anything I need
No cigarettes, no sleep, no light, no sound
Nothing to eat, no books to read
Making love with you
Has left me peaceful, warm, and tired
What more could I ask
There's nothing left to be desired
Peace came upon me and it leaves me weak
So sleep, silent angel, go to sleep
Sometimes, all I need is the air that I breathe
And to love you
All I need is the air that I breathe
Yes to love you
All I need is the air that I breathe
Peace came upon me and it leaves me weak
So sleep, silent angel, go to sleep
Sometimes, all I need is the air that I breathe
And to love you
All I need is the air that I breathe
Yes to love you
All I need is the air that I breathe
Sometimes, all I need is the air that I breathe
And to love you
All I need is the air that I breathe
Yes to love you
All I need is the air that I breathe
And to love you
All I need is the air that I breathe
Yes to love you
delet3 dan 40 lainnya memberi reputasi
41
Kutip
Balas
Tutup