- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
glanter2 dan 145 lainnya memberi reputasi
146
207.9K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#1156
007-M A Dress for Forgiveness
Spoiler for 007-M A Dress for Forgiveness:
Ada keraguan di dalam hati untuk bercerita tentang pertemuan dengan sosok yang seharunya gua panggil ‘Papah’ ke Nyokap. Alasannya adalah gua masih merasa takut cerita gua nantinya mungkin menyakiti hatinya.
Tapi, seandainya gua nggak bercerita dan tiba-tiba ‘orang itu’ datang di momen pernihakan gua, bisa jadi Nyokap malah merasa nggak nyaman.
Jadi, mau nggak mau gua tetap harus bercerita.
“Mah….”Panggil gua saat melihatnya nggak terlalu sibuk di depan laptop.
“Hmmm…” Responnya, tanpa menatap gua. Hanya memandangi layar ponselnya sambil duduk di sofa ruang keluarga.
Gua menggeser duduk agar lebih dekat dengannya. Kini nggak hanya dekat, gua bahkan bersandar di bahunya. Namun, Nyokap dengan cepat membalik ponselnya mungkin agar gua nggak bisa melihat isinya. Ia meletakkan ponsel di atas meja, lalu menatap gua; “Kenapa sayang?”
“Mmmm…” Gua terdiam sejenak, mencoba merangkai kata yang tepat. Lalu melanjutkan bicara; “… Aku kemarin abis ketemu sama… Papah” Spontan bibir ini mengucap kata ‘Papah’.
Awalnya gua pikir Nyokap bakal terkejut. Namun, ia terlihat tetap tenang, tetap santai seakan nggak ada yang mengganggu pikirannya.
“Oh… Terus?” Tanyanya dengan ekspresi wajah datar.
Gua lantas menceritakan kejadian kemarin, kejadian saat gua dan Bokap saling bertemu. Dengan Lian yang terus setia menemani.
Nyokap nggak langsung memberi respon. Ia hanya terdiam sambil menatap ke arah layar televisi yang mati, layar yang hanya memantulkan bayangan kami berdua.
“Ya bagus deh…” Gumamnya lirih.
“Bagus? Maksudnya?” Tanya gua.
“Ya akhirnya kamu jadi punya wali nikah kan?” Tambahnya.
“Iya sih… Tapi, Mamah gapapa kan?”
Mendengar pertanyaan gua barusan, ia menoleh dan menatap gua; bingung. “Gapapa gimana? ya gapapa aja… Toh dia kan cuma datang untuk jadi wali kamu…”
Pertanyaan-pertanyaan menumpuk di kepala, tentang apa ada kemungkinan Nyokap menerima kembali bokap. Tentang alasan kepergian Bokap dari sudut pandangnya. Tentang adakah sedikit kerinduan di dalam hati Nyokap. Pertanyaan yang urung gua ajukan. Sama seperti gua, rasa-rasanya ia masih butuh waktu untuk menerima ini semua. Hal yang datang terlalu cepat, kadang memang terasa membolak-balik dunia.
Gua terus mendekat, merangsek ke dalam peluknya. Terasa kehangat yang sudah lama nggak memenuhi diri ini.
“Maafin Fira ya, Mah…” Ucap gua lirih. Seandainya bukan karena keharusan syariat, Nyokap mungkin nggak perlu memikirkan semua ini. Nggak perlu mengingat kembali masa lalu yang selama ini selalu berusaha dilupakannya.
Nyokap nggak memberi jawaban. Ia hanya tersenyum kecil sambil mengangguk pelan.
Beberapa hari setelah obrolan singkat gua dan Nyokap di ruang keluarga. “Ada tamu?” Lian menggumam pelan. Gumaman yang nggak yakin sebuah pertanyaan atau pernyataan. Ia menunjuk ke arah sebuah sepeda motor yang terparkir tepat di depan pagar rumah.
Gua yang sibuk dengan ponsel langsung mengarahkan pandangan ke depan pagar rumah. “Tamu Mamah kali…” Jawab gua menebak, lalu berpaling ke Lian yang duduk di balik kemudi; “… Kamu mau mampir dulu apa langsung?”
“Mau… Mau minta bikinin kopi boleh?” Pintanya.
“Iyaaa…” Balas gua berlagak manja.
Sore itu kami baru saja kembali dari sanggar. Lian sengaja menyempatkan waktunya menjemput gua ditengah kesibukannya. Setelah mengantar gua, ia bakal kembali ke rumah sakit.
Yang nggak kami duga adalah sosok tamu pemilik sepeda motor di depan gerbang.
Langkah gua terhenti saat melihat sosok pria setengah baya, duduk dalam diam sambil memeluk helm di lantai teras rumah. Nggak sadar kalau gua berhenti tiba-tiba, Lian menabrak gua. Baru saja ia hendak protes, namun bibirnya kembali tertutup saat melihat sosok yang duduk di lantai teras. Lian mendahului gua dan mendekat.
“Eh, Pak… Udah lama?” Tanya Lian, ramah.
Bokap membalas senyum, berdiri dan menjawab; “Ah, nggak baru aja sampe kok…”
Gua berpaling ke pintu depan rumah yang masih tertutup.
“Lho kenapa nggak masuk?” Kini gantian gua yang bertanya.
“…” Ia nggak menjawab, hanya tersenyum tipis.
Gua tentu tau jawabannya. Nyokap pasti sengaja menghindar dan nggak mau menemuinya. Gua bergegas masuk ke dalam, melangkah cepat menuju ke meja makan di mana Nyokap terlihat duduk sambil memegangi kepalanya.
“Mah… Mamah tau kan kalo ada…” Belum sempat gua menyelesaikan kalimat, Nyokap langsung membalas; “Tau… Mamah tau”
Terlihat ekspresi Nyokap yang sedikit ketakutan, sementara kedua matanya basah; hampir menangis. Seketika itu juga gua tersadar, sadar kalau ia pasti merasa tertekan. Bayangkan saja, berada di posisinya. Orang yang selama ini pergi meninggalkan kita, tiba-tiba datang ke rumah. Tanpa kabar, tanpa berita.
Gua menghela napas lalu memberikannya pelukan.
“Yaudah, Mamah tunggu di kamar aja…” Ucap gua seraya mengelus punggungnya.
Nyokap mengangguk pelan. Lalu keluar dari pelukan dan melangkah pelan menuju ke dalam kamar. Begitu, Nyokap sudah masuk, barulah gua kembali ke luar.
Di teras rumah, terlihat Lian dan Bokap tengah berbincang. Keduanya sama-sama mengapit sebatang rokok di jemarinya. Begitu menyadari kehadiran gua, mereka kompak menyembunyikan jari dengan batangan rokok ke balik badan.
Menit berikutnya, kami bertiga sudah tenggelam dalam obrolan ringan seputar acara pernikahan. Rupanya Bokap sengaja datang untuk bertanya tentang detail acara pernikahan yang memang belum di dapatnya. Saat itu, gua memang lupa meminta nomor ponselnya. Sementara, Lian yang memang hapal dengan nomor ponsel miliknya berencana memberinya beberapa hari lagi.
“Ya kamu gimana sih, nggok nggak ngasih tau aku?” Protes gua ke Lian. Yang hanya diresponnya dengan menggaruk kepala.
“Gapapa, Fir… Yang penting sekarang saya udah tau…” Sambar Bokap, “… Oiya, nanti saya harus pakai baju apa?” Tambahnya seraya menatap gua.
“Mmm… Nggak usah Om. Nanti janjian sama saya aja buat ukur baju…” Lian mewakili gua memberi jawaban.
“Oh gitu… Terus ada lagi yang harus saya siapkan?” Tanyanya lagi, kali ini sambil menoleh ke gua dan Lian bergantian.
“Nggak ada Om. Udah itu aja, paling siapkan waktu aja…” Lagi, Lian mewakili gua memberi jawaban.
“Oh baik kalau begitu…” Ucapnya, lalu berdiri seperti bersiap untuk pergi.
“Terima kasih, ya…” Balas gua lirih, tanpa berani menatapnya.
“Iya sama-sama… Oiya, bisa saya bicara sama kamu, Fir?” Tanyanya, sambil tersenyum.
“Oh, bisa, bisa…” Jawab gua ragu, jali ini seraya menatap ke arah Lian, memberi kode dengan tatapan tentang apa jawaban gua barusan tepat. Lian merespon dengan anggukan. Ia lalu pergi menuju ke arah pagar depan dan menunggu kami di sana.
Masih berdiri sambil memeluk helm, Bokap lantas merogoh saku celananya dengan tangannya yang bebas. Ia mengeluarkan amplop coklat yang terlipat dan menyerahkannya ke gua; “Ini buat Fira…”
Alih-alih langsung meraih amplop pemberiannya, gua malah kembali menatap ke arah Lian yang lantas memberi anggukan.
Gua menerima amplop coklat yang lecek dan lusuh. Amplop yang cukup tebal dengan kondisi terlipat dan diikat dengan menggunakan karet. Perlahan, gua melepas ikatan dan membuka amplop kemudian mengintip isinya. Terlihat tumpukan lembaran uang dengan pecahan yang bervariasi.
“Maaf ya Fira kalau cuma sedikit… kayaknya nggak bisa buat membayar semua biaya pernikahan Fira. Tapi, paling nggak lewat uang ini saya mau memberikan sesuatu sebagai bentuk tanggung jawab… Mohon diterima ya…” Ucapnya, sambil terus tersenyum dan menatap gua dengan kedua matanya yang nampak lelah.
Seketika, kedua lutut gua seperti kehilangan tenaga. Bukan, bukan karena capek setelah latihan menari di sanggar. Tapi, mungkin karena tekanan di dada yang terasa berat. Ada sesuatu yang terusik, ada rasa yang nggak bisa digambarkan. Gua terduduk di lantai, masih sambil menggenggam amplop pemberian darinya.
Gua tau, seberapa banyak pun uang yang ia berikan, nggak bakal mampu menggantikan sosoknya yang sempat menghilang. Namun, tatapan matanya berkata sebaliknya. Ada niat yang tulus yang terasa menembus ke dalam hati.
Gua mengangguk, lalu bicara pelan; “Iya… terima kasih”
“Nggak perlu berterima kasih, Fir… Saya pamit ya…” Ucapnya, lalu berbalik dan pergi. Sementara, gua masih terduduk di lantai teras, menatap punggungnya yang pergi menjauh. Sosoknya perlahan menjadi samar. Samar karena mata yang mulai basah dengan air mata.
Lian mendekat, duduk tepat di sebelah gua, lalu dengan tenang dan perlahan mulai memberikan pelukan. Pelukan yang terasa hangat dan nyaman. “Gapapa, Fir… Normal kok kalau kamu mau menangis…” Bisiknya, lirih. Begitu mendengar ucapannya, seketika tangis gua pecah. Tangis yang membiru, tersedu-sedu.
Di dalam kamar, gua duduk di kursi meja belajar. Menatap kosong ke arah amplop cokelat usang di atas meja. Gua kembali membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isinya. Lembaran uang dengan pecahan bervariasi tumpah di atas meja. Hampir semuanya rapi walau masih banyak terlihat lecek dan kumal. Tanda kalau setiap lembar uang ini sengaja dirapikan dengan tangan. Beberapa diantaranya terdapat percikan noda oli dan tulisan-tulisan tinta sisa vandalisme.
Sambil berlinang air mata, gua mencoba menghitungnya.
Seratus,
Dua ratus,
Liam ratus,
Satu juta,
Dua juta,
Tiga juta,
Lima juta.
Lima juta rupiah uang pemberian darinya.
Gua meraih ponsel dan mulai menghubungi Lian.
Nada sambung terdengar beberapa kali, hingga suaranya menyambut gua.
“Halo…” Sapanya, dari latar suara terdengar kalau ia sepertinya baru saja tiba di rumah sakit.
“Berapa biaya untuk gaun penganti yang kemarin, Mas?” Tanya gua.
“Mmmm…. sekitar, 12 jutaan kalo nggak salah…” Jawab Lian, “… Kenapa emang?” Tambahnya.
“Gapapa… Aku nggak mau pake gaun itu…” Jawab gua.
“Lho kenapa? bukannya kamu yang milih sendiri?” Tanyanya lagi.
Walau ia nggak melihatnya, gua tetap menggelengkan kepala. Lalu, memberikan jawaban; “Aku mau cari gaun yang lima juta aja…”
Lian terdiam, nggak langsung menjawab. Setelah beberapa saat, barulah ia kembali bicara; “Yaudah… Kapan mau cari gaunnya. Nanti biar aku temenin?”
“Nggak usah, aku cari sendiri aja…” Jawab gua.
“Oh, yaudah… Tetep kabarin aku ya…” Balasnya.
“Iyaa…”
—
Siang itu, sinar matahari terasa begitu menyengat. Gua duduk di balik kemudi mobil, memandang ke luar melalui jendela sambil mengernyitkan dahi. Terlihat samar uap panas mengambang dari permukaan aspal jalan raya di depan pasar Mayestik. Sesekali gua menatap ke arah layar ponsel, menunggu pesan setelah semalam membuat janji bertemu di sini.
Semalam gua mengirim pesan ke Bokap. Mengajaknya bertemu di sini untuk menemani gua membeli gaun dengan menggunakan uang pemberiannya. Walaupun nggak banyak, tapi gua mau menghormatinya.
10 menit berikutnya, ponsel gua bergetar, disusul sebuah notifikasi pesan yang muncul di layar.
‘Fira, sy sudah di depan toko’ Isi pesan tersebut.
‘Ok 👍🏻’ Gua membalas singkat, lalu bersiap keluar dari mobil.
Gua memasang masker dan menutup hodie sweater lalu keluar. Dari area parkir mobil, gua terus menyusuri pelataran toko yang di dominasi butik dan toko yang menjual aneka bahan dan kain. Langkah gua sedikit melambat saat melihat sosok Bokap berdiri tepat di depan sebuah toko. Ia sibuk menatap layar ponselnya sambil sesekali menyeka keringat di dahinya.
“Fira…” Serunya saat melihat gua dari kejauhan. Tangannya terangkat ke atas, melambai ke arah gua.
Gua nggak memberi respon, hanya terdiam sambil terus melangkah, mendekat ke arahnya.
“Udah lama?” Tanyanya, begitu gua sampai di depan butik tempat kami berjanji. Sebuah butik yang merupakan referensi dari Liv. Butik langganan keluarganya sejak dulu. Butik yang dikenal karena kualitasnya yang terjamin namun punya harga yang bersaing.
“Ya 10 menitan lah…” Jawab gua seraya menatapnya. Terlihat raut kelelahan dari wajahnya, namun dibalik itu ada pancaran rasa bahagia yang nggak bisa digambarkan di kedua matanya.
Masih sambil tersenyum, ia lalu kembali bertanya; “Fira laper nggak? mau makan dulu?”
Gua terdiam; ragu. Kali ini nggak ada Lian yang bisa gua mintai pendapat.
“Nggak usah, makasih…” Jawab gua, sambil tersenyum kecil, mencoba bersikap ramah. Lalu mengajaknya masuk ke dalam butik; “… Yuk”
Sejuk langsung terasa menyelimuti tubuh begitu gua masuk ke dalam. Bokap menyusul dan terus mengikuti gua menyusuri lorong-lorong butik. Sesekali terdengar ia menggumam pelan; “Ck.. Ck.. Bagus-bagus…”.
Sesekali juga gua menoleh dan melirik ke arahnya. Ke Bokap yang hanya berdiri sambil menatap deretan manekin bergaun yang dipajang, tanpa punya keberanian menyentuhnya.
Gua berhenti di salah satu manekin dengan gaun berwarna putih. Gaun yang nampak sederhana, tanpa ada renda-renda dan hal dekoratif semacamnya, gaun yang membuat gua langsung jatuh cinta. Seorang pegawai butik mendekat dan bicara; “Mau coba yang ini kak?”
“Boleh…” Jawab gua, kemudian mencobanya.
Siapa yang sangka, gaun ini sangat pas dengan gua.
Gua tersenyum, memutar tubuh sambil menatap ke arah cermin di ruang ganti.
Selesai mencoba, gua kembali melepas gaun dan menyerahkannya ke si mbak pegawai butik; “Ini berapa?”
Ia lantas menjawab dengan menyebut harga. Harga yang jauh lebih mahal dari budget pemberian bokap. Gua beralih ke deretan gaun yang lain. Mencoba mencari yang harganya lebih masuk akal dan sesuai dengan budget.
Tapi, sejauh apapun gua berjalan, mencari gaun yang lain, mata gua selalu kembali ke gaun putih pertama. Bokap sepertinya tau akan hal itu; tau kalau gua sudah jatuh hati pada gaun pertama tadi.
“Fir… Fira…” Panggilnya.
“Mmm…” Respon gua tanpa menatapnya, sibuk melihat-lihat deretan gaun lain.
“Kamu suka gaun yang itu?” Tanyanya sambil menunjuk ke arah gaun putih sederhana di bagian depan.
“Nggak…” Jawab gua, berbohong.
Tiba-tiba, Bokap berbalik dan kembali ke arah gaun tersebut. Gaun putih sederhana yang menarik hati. Ia lantas bicara dengan salah satu pegawai butik yang lantas mempersiapkan gaun tersebut.
Gua menyusul ke arah bokap. “Jangan, jangan yang itu, uangnya kurang…” Bisik gua, takut terdengar si pegawai butik; malu.
Bokap tersenyum sambil menggeleng; “Gapapa, nanti saya bayar kurangnya…” Balasnya, juga sambil berbisik. Ia lantas mengambil dompetnya dari saku belakang celana bahan yang dikenakan. Mengeluarkan semua lembaran uang yang berada di dalam dompet dan meletakkannya di atas meja kasir. Menggabungkannya dengan uang di amplop pemberiannya.
Dompet kosong tersebut, lalu ia masukkan kembali ke saku celananya.
Setelah kasih menghitung total lembaran uang. Ternyata, jumlahnya masih kurang sedikit. Gua berniat mengambil dompet dari dalam tas kecil. Namun, bokap dengan cepat mencegahnya.
“Kurang berapa tadi mbak?” Tanyanya, masih sambil tersenyum.
Gua mengernyitkan dahi; ‘uang dari mana? dompetnya saja sudah kosong’ Batin gua.
“120 ribu, pak…” Jawab kasir.
Bokap merogoh setiap saku celananya, mengeluarkan semua uang kucel dan kusut yang ia punya dan meletakkannya di meja kasir. Petugas kasir tersenyum, seakan menertawakan hal tersebut, kemudian mulai menghitungnya.
Gua tentu saja merasa malu.
Rasa malu yang muncul karena sikapnya yang semena-mena. Tindakannya yang mau menang sendiri dan nggak mengindahkan kata-kata orang. Gua benci!
Gua mendengus dan bergegas keluar dari butik.
Beberapa saat berikutnya, bokap menyusul keluar dari butik. Kini dengan paper bag coklat mewah berisi gaun di tangannya. Ia mendekat ke gua yang sejak tadi berdiri dan bersandar pada dinding di depan butik. Ia menyodorkan paper bag tersebut ke arah gua. Namun, gua bergeming.
“Kamu malu ya, Fir?” Gumamnya pelan, “… Maaf, ya…” Tambahnya, lalu meletakkan paper bag di depan gua. Kemudian ia pergi, meninggalkan gua sendirian.
Nggak lama setelah ia pergi, gua mulai menghubungi Lian dan menceritakan semuanya.
Dan respon Lian setelah mendengar keluh-kesah gua, bikin hati ini mencelos.
“Ooh yaudah… Kamu pulang aja. Biar nanti aku yang nyusul ke sana. Di pasar mayestik kan?” Tanyanya.
“Iya, lho kamu nyuruh aku pulang, terus ngapain nyusul?” Tanya gua bingung.
“Ya aku nyusul bukan buat kamu. Tapi buat ‘dia’, takut dia nggak pegang duit lagi. Takut dia nggak ada ongkos, takut kalo ada apa-apa nantinya. Kata kamu, duitnya udah di buat bayar gaun semua…”
Gua tertegun.
Nggak lagi merespon ucapan Lian dan mengakhiri panggilan. Gua meraih paper bag yang sejak tadi tergeletak lalu berlari ke arah Bokap pergi. Mengabaikan rasa sesak karena sulit bernapas dengan kondisi tetutup masker, mengabaikan panas matahari yang menyengat, gua terus berlari.
Di kejauhan, di dekat plang besi hijau bertuliskan ‘parkir sepeda motor’, terlihat sosoknya yang berjalan gontai. Gua berhenti berlari, memandangi bahunya yang lelah.
Setelah menurunkan masker di wajah, gua berteriak sekuat tenaga. Mengeluarkan kata yang selama ini hanya bisa gua impikan untuk diucap.
“Papaaaaah….”
Mendengar teriakan gua, Bokap seketika menghentikan langkahnya lalu berbalik. Gua kembali berlari, menuju ke arahnya.
Detik berikutnya, gua sudah berada dalam pelukan bokap; terisak sambil menggumam nggak jelas. Sementara, tangannya yang keras dan kapalan memberi tepukan di bahu. Seakan memberi penghiburan yang selama ini nggak pernah gua dapatkan.
Dengan berlinang air mata, gua mendongak dan menatapnya; “Makasih ya, Paaah… udah beliin gaun untuk Fira…”
Hari itu, gua nggak hanya mendapatkan gaun. Tapi sesuatu yang baru.
Bukan, bukan karena akhirnya kami memaafkan. Tapi karena kami memilih untuk tetap melangkah, meski luka belum sepenuhnya sembuh.
—
Tapi, seandainya gua nggak bercerita dan tiba-tiba ‘orang itu’ datang di momen pernihakan gua, bisa jadi Nyokap malah merasa nggak nyaman.
Jadi, mau nggak mau gua tetap harus bercerita.
“Mah….”Panggil gua saat melihatnya nggak terlalu sibuk di depan laptop.
“Hmmm…” Responnya, tanpa menatap gua. Hanya memandangi layar ponselnya sambil duduk di sofa ruang keluarga.
Gua menggeser duduk agar lebih dekat dengannya. Kini nggak hanya dekat, gua bahkan bersandar di bahunya. Namun, Nyokap dengan cepat membalik ponselnya mungkin agar gua nggak bisa melihat isinya. Ia meletakkan ponsel di atas meja, lalu menatap gua; “Kenapa sayang?”
“Mmmm…” Gua terdiam sejenak, mencoba merangkai kata yang tepat. Lalu melanjutkan bicara; “… Aku kemarin abis ketemu sama… Papah” Spontan bibir ini mengucap kata ‘Papah’.
Awalnya gua pikir Nyokap bakal terkejut. Namun, ia terlihat tetap tenang, tetap santai seakan nggak ada yang mengganggu pikirannya.
“Oh… Terus?” Tanyanya dengan ekspresi wajah datar.
Gua lantas menceritakan kejadian kemarin, kejadian saat gua dan Bokap saling bertemu. Dengan Lian yang terus setia menemani.
Nyokap nggak langsung memberi respon. Ia hanya terdiam sambil menatap ke arah layar televisi yang mati, layar yang hanya memantulkan bayangan kami berdua.
“Ya bagus deh…” Gumamnya lirih.
“Bagus? Maksudnya?” Tanya gua.
“Ya akhirnya kamu jadi punya wali nikah kan?” Tambahnya.
“Iya sih… Tapi, Mamah gapapa kan?”
Mendengar pertanyaan gua barusan, ia menoleh dan menatap gua; bingung. “Gapapa gimana? ya gapapa aja… Toh dia kan cuma datang untuk jadi wali kamu…”
Pertanyaan-pertanyaan menumpuk di kepala, tentang apa ada kemungkinan Nyokap menerima kembali bokap. Tentang alasan kepergian Bokap dari sudut pandangnya. Tentang adakah sedikit kerinduan di dalam hati Nyokap. Pertanyaan yang urung gua ajukan. Sama seperti gua, rasa-rasanya ia masih butuh waktu untuk menerima ini semua. Hal yang datang terlalu cepat, kadang memang terasa membolak-balik dunia.
Gua terus mendekat, merangsek ke dalam peluknya. Terasa kehangat yang sudah lama nggak memenuhi diri ini.
“Maafin Fira ya, Mah…” Ucap gua lirih. Seandainya bukan karena keharusan syariat, Nyokap mungkin nggak perlu memikirkan semua ini. Nggak perlu mengingat kembali masa lalu yang selama ini selalu berusaha dilupakannya.
Nyokap nggak memberi jawaban. Ia hanya tersenyum kecil sambil mengangguk pelan.
Beberapa hari setelah obrolan singkat gua dan Nyokap di ruang keluarga. “Ada tamu?” Lian menggumam pelan. Gumaman yang nggak yakin sebuah pertanyaan atau pernyataan. Ia menunjuk ke arah sebuah sepeda motor yang terparkir tepat di depan pagar rumah.
Gua yang sibuk dengan ponsel langsung mengarahkan pandangan ke depan pagar rumah. “Tamu Mamah kali…” Jawab gua menebak, lalu berpaling ke Lian yang duduk di balik kemudi; “… Kamu mau mampir dulu apa langsung?”
“Mau… Mau minta bikinin kopi boleh?” Pintanya.
“Iyaaa…” Balas gua berlagak manja.
Sore itu kami baru saja kembali dari sanggar. Lian sengaja menyempatkan waktunya menjemput gua ditengah kesibukannya. Setelah mengantar gua, ia bakal kembali ke rumah sakit.
Yang nggak kami duga adalah sosok tamu pemilik sepeda motor di depan gerbang.
Langkah gua terhenti saat melihat sosok pria setengah baya, duduk dalam diam sambil memeluk helm di lantai teras rumah. Nggak sadar kalau gua berhenti tiba-tiba, Lian menabrak gua. Baru saja ia hendak protes, namun bibirnya kembali tertutup saat melihat sosok yang duduk di lantai teras. Lian mendahului gua dan mendekat.
“Eh, Pak… Udah lama?” Tanya Lian, ramah.
Bokap membalas senyum, berdiri dan menjawab; “Ah, nggak baru aja sampe kok…”
Gua berpaling ke pintu depan rumah yang masih tertutup.
“Lho kenapa nggak masuk?” Kini gantian gua yang bertanya.
“…” Ia nggak menjawab, hanya tersenyum tipis.
Gua tentu tau jawabannya. Nyokap pasti sengaja menghindar dan nggak mau menemuinya. Gua bergegas masuk ke dalam, melangkah cepat menuju ke meja makan di mana Nyokap terlihat duduk sambil memegangi kepalanya.
“Mah… Mamah tau kan kalo ada…” Belum sempat gua menyelesaikan kalimat, Nyokap langsung membalas; “Tau… Mamah tau”
Terlihat ekspresi Nyokap yang sedikit ketakutan, sementara kedua matanya basah; hampir menangis. Seketika itu juga gua tersadar, sadar kalau ia pasti merasa tertekan. Bayangkan saja, berada di posisinya. Orang yang selama ini pergi meninggalkan kita, tiba-tiba datang ke rumah. Tanpa kabar, tanpa berita.
Gua menghela napas lalu memberikannya pelukan.
“Yaudah, Mamah tunggu di kamar aja…” Ucap gua seraya mengelus punggungnya.
Nyokap mengangguk pelan. Lalu keluar dari pelukan dan melangkah pelan menuju ke dalam kamar. Begitu, Nyokap sudah masuk, barulah gua kembali ke luar.
Di teras rumah, terlihat Lian dan Bokap tengah berbincang. Keduanya sama-sama mengapit sebatang rokok di jemarinya. Begitu menyadari kehadiran gua, mereka kompak menyembunyikan jari dengan batangan rokok ke balik badan.
Menit berikutnya, kami bertiga sudah tenggelam dalam obrolan ringan seputar acara pernikahan. Rupanya Bokap sengaja datang untuk bertanya tentang detail acara pernikahan yang memang belum di dapatnya. Saat itu, gua memang lupa meminta nomor ponselnya. Sementara, Lian yang memang hapal dengan nomor ponsel miliknya berencana memberinya beberapa hari lagi.
“Ya kamu gimana sih, nggok nggak ngasih tau aku?” Protes gua ke Lian. Yang hanya diresponnya dengan menggaruk kepala.
“Gapapa, Fir… Yang penting sekarang saya udah tau…” Sambar Bokap, “… Oiya, nanti saya harus pakai baju apa?” Tambahnya seraya menatap gua.
“Mmm… Nggak usah Om. Nanti janjian sama saya aja buat ukur baju…” Lian mewakili gua memberi jawaban.
“Oh gitu… Terus ada lagi yang harus saya siapkan?” Tanyanya lagi, kali ini sambil menoleh ke gua dan Lian bergantian.
“Nggak ada Om. Udah itu aja, paling siapkan waktu aja…” Lagi, Lian mewakili gua memberi jawaban.
“Oh baik kalau begitu…” Ucapnya, lalu berdiri seperti bersiap untuk pergi.
“Terima kasih, ya…” Balas gua lirih, tanpa berani menatapnya.
“Iya sama-sama… Oiya, bisa saya bicara sama kamu, Fir?” Tanyanya, sambil tersenyum.
“Oh, bisa, bisa…” Jawab gua ragu, jali ini seraya menatap ke arah Lian, memberi kode dengan tatapan tentang apa jawaban gua barusan tepat. Lian merespon dengan anggukan. Ia lalu pergi menuju ke arah pagar depan dan menunggu kami di sana.
Masih berdiri sambil memeluk helm, Bokap lantas merogoh saku celananya dengan tangannya yang bebas. Ia mengeluarkan amplop coklat yang terlipat dan menyerahkannya ke gua; “Ini buat Fira…”
Alih-alih langsung meraih amplop pemberiannya, gua malah kembali menatap ke arah Lian yang lantas memberi anggukan.
Gua menerima amplop coklat yang lecek dan lusuh. Amplop yang cukup tebal dengan kondisi terlipat dan diikat dengan menggunakan karet. Perlahan, gua melepas ikatan dan membuka amplop kemudian mengintip isinya. Terlihat tumpukan lembaran uang dengan pecahan yang bervariasi.
“Maaf ya Fira kalau cuma sedikit… kayaknya nggak bisa buat membayar semua biaya pernikahan Fira. Tapi, paling nggak lewat uang ini saya mau memberikan sesuatu sebagai bentuk tanggung jawab… Mohon diterima ya…” Ucapnya, sambil terus tersenyum dan menatap gua dengan kedua matanya yang nampak lelah.
Seketika, kedua lutut gua seperti kehilangan tenaga. Bukan, bukan karena capek setelah latihan menari di sanggar. Tapi, mungkin karena tekanan di dada yang terasa berat. Ada sesuatu yang terusik, ada rasa yang nggak bisa digambarkan. Gua terduduk di lantai, masih sambil menggenggam amplop pemberian darinya.
Gua tau, seberapa banyak pun uang yang ia berikan, nggak bakal mampu menggantikan sosoknya yang sempat menghilang. Namun, tatapan matanya berkata sebaliknya. Ada niat yang tulus yang terasa menembus ke dalam hati.
Gua mengangguk, lalu bicara pelan; “Iya… terima kasih”
“Nggak perlu berterima kasih, Fir… Saya pamit ya…” Ucapnya, lalu berbalik dan pergi. Sementara, gua masih terduduk di lantai teras, menatap punggungnya yang pergi menjauh. Sosoknya perlahan menjadi samar. Samar karena mata yang mulai basah dengan air mata.
Lian mendekat, duduk tepat di sebelah gua, lalu dengan tenang dan perlahan mulai memberikan pelukan. Pelukan yang terasa hangat dan nyaman. “Gapapa, Fir… Normal kok kalau kamu mau menangis…” Bisiknya, lirih. Begitu mendengar ucapannya, seketika tangis gua pecah. Tangis yang membiru, tersedu-sedu.
Di dalam kamar, gua duduk di kursi meja belajar. Menatap kosong ke arah amplop cokelat usang di atas meja. Gua kembali membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isinya. Lembaran uang dengan pecahan bervariasi tumpah di atas meja. Hampir semuanya rapi walau masih banyak terlihat lecek dan kumal. Tanda kalau setiap lembar uang ini sengaja dirapikan dengan tangan. Beberapa diantaranya terdapat percikan noda oli dan tulisan-tulisan tinta sisa vandalisme.
Sambil berlinang air mata, gua mencoba menghitungnya.
Seratus,
Dua ratus,
Liam ratus,
Satu juta,
Dua juta,
Tiga juta,
Lima juta.
Lima juta rupiah uang pemberian darinya.
Gua meraih ponsel dan mulai menghubungi Lian.
Nada sambung terdengar beberapa kali, hingga suaranya menyambut gua.
“Halo…” Sapanya, dari latar suara terdengar kalau ia sepertinya baru saja tiba di rumah sakit.
“Berapa biaya untuk gaun penganti yang kemarin, Mas?” Tanya gua.
“Mmmm…. sekitar, 12 jutaan kalo nggak salah…” Jawab Lian, “… Kenapa emang?” Tambahnya.
“Gapapa… Aku nggak mau pake gaun itu…” Jawab gua.
“Lho kenapa? bukannya kamu yang milih sendiri?” Tanyanya lagi.
Walau ia nggak melihatnya, gua tetap menggelengkan kepala. Lalu, memberikan jawaban; “Aku mau cari gaun yang lima juta aja…”
Lian terdiam, nggak langsung menjawab. Setelah beberapa saat, barulah ia kembali bicara; “Yaudah… Kapan mau cari gaunnya. Nanti biar aku temenin?”
“Nggak usah, aku cari sendiri aja…” Jawab gua.
“Oh, yaudah… Tetep kabarin aku ya…” Balasnya.
“Iyaa…”
—
Siang itu, sinar matahari terasa begitu menyengat. Gua duduk di balik kemudi mobil, memandang ke luar melalui jendela sambil mengernyitkan dahi. Terlihat samar uap panas mengambang dari permukaan aspal jalan raya di depan pasar Mayestik. Sesekali gua menatap ke arah layar ponsel, menunggu pesan setelah semalam membuat janji bertemu di sini.
Semalam gua mengirim pesan ke Bokap. Mengajaknya bertemu di sini untuk menemani gua membeli gaun dengan menggunakan uang pemberiannya. Walaupun nggak banyak, tapi gua mau menghormatinya.
10 menit berikutnya, ponsel gua bergetar, disusul sebuah notifikasi pesan yang muncul di layar.
‘Fira, sy sudah di depan toko’ Isi pesan tersebut.
‘Ok 👍🏻’ Gua membalas singkat, lalu bersiap keluar dari mobil.
Gua memasang masker dan menutup hodie sweater lalu keluar. Dari area parkir mobil, gua terus menyusuri pelataran toko yang di dominasi butik dan toko yang menjual aneka bahan dan kain. Langkah gua sedikit melambat saat melihat sosok Bokap berdiri tepat di depan sebuah toko. Ia sibuk menatap layar ponselnya sambil sesekali menyeka keringat di dahinya.
“Fira…” Serunya saat melihat gua dari kejauhan. Tangannya terangkat ke atas, melambai ke arah gua.
Gua nggak memberi respon, hanya terdiam sambil terus melangkah, mendekat ke arahnya.
“Udah lama?” Tanyanya, begitu gua sampai di depan butik tempat kami berjanji. Sebuah butik yang merupakan referensi dari Liv. Butik langganan keluarganya sejak dulu. Butik yang dikenal karena kualitasnya yang terjamin namun punya harga yang bersaing.
“Ya 10 menitan lah…” Jawab gua seraya menatapnya. Terlihat raut kelelahan dari wajahnya, namun dibalik itu ada pancaran rasa bahagia yang nggak bisa digambarkan di kedua matanya.
Masih sambil tersenyum, ia lalu kembali bertanya; “Fira laper nggak? mau makan dulu?”
Gua terdiam; ragu. Kali ini nggak ada Lian yang bisa gua mintai pendapat.
“Nggak usah, makasih…” Jawab gua, sambil tersenyum kecil, mencoba bersikap ramah. Lalu mengajaknya masuk ke dalam butik; “… Yuk”
Sejuk langsung terasa menyelimuti tubuh begitu gua masuk ke dalam. Bokap menyusul dan terus mengikuti gua menyusuri lorong-lorong butik. Sesekali terdengar ia menggumam pelan; “Ck.. Ck.. Bagus-bagus…”.
Sesekali juga gua menoleh dan melirik ke arahnya. Ke Bokap yang hanya berdiri sambil menatap deretan manekin bergaun yang dipajang, tanpa punya keberanian menyentuhnya.
Gua berhenti di salah satu manekin dengan gaun berwarna putih. Gaun yang nampak sederhana, tanpa ada renda-renda dan hal dekoratif semacamnya, gaun yang membuat gua langsung jatuh cinta. Seorang pegawai butik mendekat dan bicara; “Mau coba yang ini kak?”
“Boleh…” Jawab gua, kemudian mencobanya.
Siapa yang sangka, gaun ini sangat pas dengan gua.
Gua tersenyum, memutar tubuh sambil menatap ke arah cermin di ruang ganti.
Selesai mencoba, gua kembali melepas gaun dan menyerahkannya ke si mbak pegawai butik; “Ini berapa?”
Ia lantas menjawab dengan menyebut harga. Harga yang jauh lebih mahal dari budget pemberian bokap. Gua beralih ke deretan gaun yang lain. Mencoba mencari yang harganya lebih masuk akal dan sesuai dengan budget.
Tapi, sejauh apapun gua berjalan, mencari gaun yang lain, mata gua selalu kembali ke gaun putih pertama. Bokap sepertinya tau akan hal itu; tau kalau gua sudah jatuh hati pada gaun pertama tadi.
“Fir… Fira…” Panggilnya.
“Mmm…” Respon gua tanpa menatapnya, sibuk melihat-lihat deretan gaun lain.
“Kamu suka gaun yang itu?” Tanyanya sambil menunjuk ke arah gaun putih sederhana di bagian depan.
“Nggak…” Jawab gua, berbohong.
Tiba-tiba, Bokap berbalik dan kembali ke arah gaun tersebut. Gaun putih sederhana yang menarik hati. Ia lantas bicara dengan salah satu pegawai butik yang lantas mempersiapkan gaun tersebut.
Gua menyusul ke arah bokap. “Jangan, jangan yang itu, uangnya kurang…” Bisik gua, takut terdengar si pegawai butik; malu.
Bokap tersenyum sambil menggeleng; “Gapapa, nanti saya bayar kurangnya…” Balasnya, juga sambil berbisik. Ia lantas mengambil dompetnya dari saku belakang celana bahan yang dikenakan. Mengeluarkan semua lembaran uang yang berada di dalam dompet dan meletakkannya di atas meja kasir. Menggabungkannya dengan uang di amplop pemberiannya.
Dompet kosong tersebut, lalu ia masukkan kembali ke saku celananya.
Setelah kasih menghitung total lembaran uang. Ternyata, jumlahnya masih kurang sedikit. Gua berniat mengambil dompet dari dalam tas kecil. Namun, bokap dengan cepat mencegahnya.
“Kurang berapa tadi mbak?” Tanyanya, masih sambil tersenyum.
Gua mengernyitkan dahi; ‘uang dari mana? dompetnya saja sudah kosong’ Batin gua.
“120 ribu, pak…” Jawab kasir.
Bokap merogoh setiap saku celananya, mengeluarkan semua uang kucel dan kusut yang ia punya dan meletakkannya di meja kasir. Petugas kasir tersenyum, seakan menertawakan hal tersebut, kemudian mulai menghitungnya.
Gua tentu saja merasa malu.
Rasa malu yang muncul karena sikapnya yang semena-mena. Tindakannya yang mau menang sendiri dan nggak mengindahkan kata-kata orang. Gua benci!
Gua mendengus dan bergegas keluar dari butik.
Beberapa saat berikutnya, bokap menyusul keluar dari butik. Kini dengan paper bag coklat mewah berisi gaun di tangannya. Ia mendekat ke gua yang sejak tadi berdiri dan bersandar pada dinding di depan butik. Ia menyodorkan paper bag tersebut ke arah gua. Namun, gua bergeming.
“Kamu malu ya, Fir?” Gumamnya pelan, “… Maaf, ya…” Tambahnya, lalu meletakkan paper bag di depan gua. Kemudian ia pergi, meninggalkan gua sendirian.
Nggak lama setelah ia pergi, gua mulai menghubungi Lian dan menceritakan semuanya.
Dan respon Lian setelah mendengar keluh-kesah gua, bikin hati ini mencelos.
“Ooh yaudah… Kamu pulang aja. Biar nanti aku yang nyusul ke sana. Di pasar mayestik kan?” Tanyanya.
“Iya, lho kamu nyuruh aku pulang, terus ngapain nyusul?” Tanya gua bingung.
“Ya aku nyusul bukan buat kamu. Tapi buat ‘dia’, takut dia nggak pegang duit lagi. Takut dia nggak ada ongkos, takut kalo ada apa-apa nantinya. Kata kamu, duitnya udah di buat bayar gaun semua…”
Gua tertegun.
Nggak lagi merespon ucapan Lian dan mengakhiri panggilan. Gua meraih paper bag yang sejak tadi tergeletak lalu berlari ke arah Bokap pergi. Mengabaikan rasa sesak karena sulit bernapas dengan kondisi tetutup masker, mengabaikan panas matahari yang menyengat, gua terus berlari.
Di kejauhan, di dekat plang besi hijau bertuliskan ‘parkir sepeda motor’, terlihat sosoknya yang berjalan gontai. Gua berhenti berlari, memandangi bahunya yang lelah.
Setelah menurunkan masker di wajah, gua berteriak sekuat tenaga. Mengeluarkan kata yang selama ini hanya bisa gua impikan untuk diucap.
“Papaaaaah….”
Mendengar teriakan gua, Bokap seketika menghentikan langkahnya lalu berbalik. Gua kembali berlari, menuju ke arahnya.
Detik berikutnya, gua sudah berada dalam pelukan bokap; terisak sambil menggumam nggak jelas. Sementara, tangannya yang keras dan kapalan memberi tepukan di bahu. Seakan memberi penghiburan yang selama ini nggak pernah gua dapatkan.
Dengan berlinang air mata, gua mendongak dan menatapnya; “Makasih ya, Paaah… udah beliin gaun untuk Fira…”
Hari itu, gua nggak hanya mendapatkan gaun. Tapi sesuatu yang baru.
Bukan, bukan karena akhirnya kami memaafkan. Tapi karena kami memilih untuk tetap melangkah, meski luka belum sepenuhnya sembuh.
—
Puddle Of Mudd - Blurry
Everything's so blurry
And everyone's so fake
And everybody's empty
And everything is so messed up
Preoccupied without you
I cannot live at all
My whole world surrounds you
I stumble then I crawl
You could be my someone
You could be my scene
You know that I'll protect you
From all of the obscene
I wonder what you're doing
Imagine where you are
There's oceans in between us
But that's not very far
Can you take it all away?
Can you take it all away?
Well you shoved it in my face
This pain you gave to me
Can you take it all away?
Can you take it all away?
Well you shoved it in my face
Everyone is changing
There's no one left that's real
So make up your own ending
And let me know just how you feel
Cause I am lost without you
I cannot live at all
My whole world surrounds you
I stumble then I crawl
And you could be my someone
You could be my scene
You know that I will save you
From all of the unclean
I wonder what you're doing
I wonder where you are
There's oceans in between us
But that's not very far
Can you take it all away?
Can you take it all away?
Well you shoved it in my face
This pain you gave to me
Can you take it all away?
Can you take it all away?
Well you shoved it in my face
This pain you gave to me
Nobody told me what you thought
Nobody told me what to say
Everyone showed you where to turn
Told you when to run away
Nobody told you where to hide
Nobody told you what to say
Everyone showed you where to turn
Showed you when to run away
percyjackson321 dan 43 lainnya memberi reputasi
44
Kutip
Balas
Tutup