- Beranda
- Stories from the Heart
A GIRL WITH SCARS (TRUE STORY) 18+
...
TS
yanagi92055
A GIRL WITH SCARS (TRUE STORY) 18+
Selamat Datang di Trit Ane Gan/Sis

Terima kasih banyak atas atensinya selama ini dalam mengikuti trit-trit ane sebelum ini. Semoga dapat menghibur Agan Sista semua yang masih setia di forum kita tercinta. Mudah-mudahan di cerita terbaru ini, Agan Sista juga bisa menikmati alurnya, dan bisa meramaikan trit ini pada khususnya, dan forum Kaskus ini pada umumnya. Mudah-mudahan forum kita tercinta ini bisa ramai kembali seperti dahulu kala. Walaupun sulit, setidaknya kita mencoba dulu yang terbaik. Ane juga akan mengusahakan update secepat mungkin yang ane bisa, biar pada nggak banyak menunggu, karena jujur saja, trit ini dibuat tidak seperti yang sebelumnya-selesai dulu baru di posting, melainkan trit ini dibuat simultan, setelah selesai ditulis, diusahakan langsung di posting. Jadi proses menulisnya pun dilakukan real time.
Ane masih setia untuk menulis disini, karena kenyamanannya, dan selalu seperti rumah sendiri untuk pulang. Ane sudah berkelana kemana-mana, mencoba banyak platform baru, baik untuk sekadar baca maupun menulis, namun akhirnya ane kembali lagi ke rumah, ke Kaskus tercinta. Semoga masih pada mau baca-baca ya, GanSis.
Sekali lagi, terima kasih banyak atas dukungannya selama ini, mohon maaf kalau masih ada salah-salah kata, typo, dan kesalahan-kesalahan lainnya yang mungkin menyebabkan kurang nyaman saat membaca cerita ini.
Ane masih setia untuk menulis disini, karena kenyamanannya, dan selalu seperti rumah sendiri untuk pulang. Ane sudah berkelana kemana-mana, mencoba banyak platform baru, baik untuk sekadar baca maupun menulis, namun akhirnya ane kembali lagi ke rumah, ke Kaskus tercinta. Semoga masih pada mau baca-baca ya, GanSis.
Sekali lagi, terima kasih banyak atas dukungannya selama ini, mohon maaf kalau masih ada salah-salah kata, typo, dan kesalahan-kesalahan lainnya yang mungkin menyebabkan kurang nyaman saat membaca cerita ini.
Thank you, and Happy Reading
Trit ane lainnya
Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):
Spoiler for AMOR & DOLOR (TAMAT POV 1):
Spoiler for Peraturan:
Quote:
Diubah oleh yanagi92055 19-02-2025 00:03
ezzasuke dan 19 lainnya memberi reputasi
20
13.4K
294
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#61
Adaptasi_Part 5
Lomba sains yang sudah kupersiapkan selama tiga bulan terakhir akhirnya akan kujalani. Selama itu pula aku semakin dekat dengan Sukma. Tetapi, sepanjang waktu itu pertanyaanku selalu sama, apa yang terjadi dengan Wisesa? Aku tetap ngobrol dengannya, tapi aku merasa sepertinya Wisesa semakin ingin menjauhiku. Kami tetap intens untuk berdiskusi masalah pelajaran, terutama yang akan dilombakan. Sukma dan Septi adalah orang-orang yang textbook, maka Wisesa adalah orang yang mengedepankan logika. Anak SMP kelas dua sudah pintar bermain logika. Anak cerdas, namun idealis. Sudah pasti, ia tetap menjadi teman diskusi favoritku. Otaknya bekerja seperti mesin logika yang tak pernah berhenti, Wisesa adalah sungai yang mengalir liar—penuh arus, tak bisa diprediksi. Hal itu pula yang membuatnya gagal mendapatkan beasiswa di caturwulan ke-2 ini. Beberapa tes dilewatinya dengan mulus, namun hasilnya tak baik.
“Kamu kenapa sih, ngalah dikit aja. Jangan nurutin pola pikir kamu terus.” Pintaku suatu siang setelah les bersama guru-guru serta Sukma dan Septi.
“Ilmu itu bukan tentang sebuah nilai yang harus didapetin, Ket. Ilmu itu adalah perangkat yang membuat manusia atau siapapun, termasuk mungkin binatang dan tumbuhan, naik derajatnya. Yang membedakan individu satu dengan lainnya itu ya kemampuannya dalam menerjemahkan ilmu menjadi sesuatu yang bermanfaat. Kalau aku bisanya cuma merjuangin nilai doang, apa yang bisa aku bikin buat itu nanti bermanfaat?” Jawabnya tenang, matanya menyipit layaknya orang yang melihat dunia melalui kaca yang berbeda.
“Emang kamu udah bisa bikin apa dari ilmu-ilmu yang udah kamu dapetin di sekolah ini?” tanyaku lagi.
“Banyak, kok. Bentuknya nggak harus jadi barang. Tapi otak juga. Buktinya, aku masih bisa berdiskusi bareng sama kamu yang notabene salah satu yang terbaik di sekolah ini, kan? Hehe.” Ia tersenyum, tapi senyum itu terlihat bagai cahaya lampu lalu lintas—menyala, tapi tak nyaman.
“....hhh, iya juga sih. Tapi tetap aja, kamu mestinya sedikit aja ngalah, biar kamu nggak nyusahin orang tua kamu.” Aku menghela napas, jari-jariku menggigit pensil dengan kasar.
“Aku? Nyusahin orang tua aku? Kenapa kamu bisa bilang begitu, Ket?”
“Soalnya kamu itu aslinya kan bisa dapat nilai bagus yang bisa ngeringanin beban keuangan orang tua kamu, Wis.” Aku menghujani argumennya, tapi ia tetap tenang.
“Aku tau, tapi aku nggak mau nyerah gitu aja, Ket. Banyak kok cara lainnya yang bikin aku bisa ngebantuin orang tua aku. Makanya aku selalu pulang duluan kan. Soalnya aku kan bantu Ibu dagang.”
“Iya aku tau, tapi paling nggak kamu bisa makin ngeringanin beban orang tua dengan dapet beasiswa kan?” Aku mencoba lagi, tapi ia hanya mengangkat bahu.
“Hmmm. Lihat nanti deh aku coba pikirin lagi. Udah yuk kita pulang.” Ia tutup percakapan, langkahnya cepat menuju pintu.
Aku termangu sesaat. Wisesa, anak SMP kelas dua yang bisa memecahkan teorema sebelum aku menyentuh penjelasannya, kini terasa seperti laut dalam—indah, tapi tak bisa dijangkau. Sementara Santi, yang dulu menggenggam tanganku, kini menjadi badai yang menghancurkan ketenangan.
Langkahku menuju gerbang sekolah terasa berat. Seperti kaki terhimpit pasir panas, setiap langkah melambat, seolah tubuh ini menolak untuk maju. Aku memandang ke arah koridor depan—dan hatiku segera tertusuk.
Santi ada di sana. Berdiri bersama Rendy. Tepat di tengah-tengah, diantara Rendy dan geng bodohnya itu. Bukan hanya berdiri. Mereka tertawa. Bercanda. Seperti dua orang yang saling mengenal selama bertahun-tahun. Padahal, dulu Santi pernah menyebut Rendy sebagai “orang najis”. Ia pernah mengatakan bahwa ia lebih baik mati duluan daripada harus tersenyum padanya. Sekarang? Dia malah tampil seperti sahabatnya sendiri. Aku merasakan sesuatu yang retak dalam diriku—seperti cermin yang tergores dari ujung ke ujung. Luka dalam hati ini sepertinya akan bertambah lagi.
Sejak insiden di kantin, suasana sekolah bukan lagi tempat aman bagiku. Dulu, aku bisa bernapas lega di antara teman-temanku. Sekarang, setiap sudut koridor terasa seperti jurang yang siap menelanku. Santi tidak hanya melemparkan kata-kata pedas dari belakang; ia datang langsung, membenturkan paku-paku emosi ke dada. Dan sekarang, ia semakin kuat dengan Rendy di sisinya—seseorang yang akrab dengan cara-cara keras, dengan intimidasi, dengan kebencian yang dikemas rapi dalam senyum palsu. Picik sekali.
Wisesa berjalan di sebelahku. Senyap. Namun, matanya tak pernah lepas dari kejadian itu. Ia tak berkata apa-apa, tapi aku tahu, pikiran kami sama: ini bukan hanya tentang persahabatan yang hancur. Ini tentang loyalitas yang direbut, tentang kepercayaan yang dibuang ke tong sampah. Wisesa tetap tenang, namun jelas saja, ia tak suka melihat hal ini. Tapi ia tahu, ini bukan saatnya untuk terlibat. Ia percaya pada prinsipnya: Jika kamu tidak bisa mengubah dunia, jangan biarkan dunia mengubahmu.
Aku masih menyebut Santi sebagai sahabatku. Tapi mungkin itu hanya sebuah harapan kosong yang kupertahankan karena ketidakmampuanku untuk melepaskan masa lalu. Aku bingung. Aku marah. Tapi yang lebih menyakitkan adalah rasa kecewa—kecewa pada diriku sendiri yang selama ini percaya bahwa segala sesuatu bisa diperbaiki, asal semua orang mau berusaha. Sebuah angan-angan yang jika telah dewasa nanti akan biasa disebut sebagai sesuatu yang naif.
Aku juga tak bisa mengabaikan fakta bahwa Santi kini bekerja sama dengan seseorang yang sudah terbukti memiliki jejak buruk—Rendy, pelaku bullying yang membuat hidupku seperti neraka mini di hampir tiap ruang yang ada di sekolah ini. Kini, mereka berdua duduk di sisi yang sama. Sebuah aliansi aneh, tapi nyata. Dan itu membuatku makin yakin: Santi bukan hanya sedih. Ia marah. Ia cemburu. Ia ingin balas dendam.
"Kamu nggak lihat ya, Ket?" Wisesa akhirnya berbicara, suaranya rendah tapi tajam. "Dia udah ngambil kubu lain. Udah pilih jalan yang berbeda."
"Aku tau," jawabku pendek. "Tapi aku belum siap buat ngerelain hubungan persahabatan ini. Aku masih percaya, kok, kalau dia bisa balik lagi kayak dulu."
"Ket... percaya itu indah. Tapi kadang, percaya itu juga bohong."
Aku diam. Tidak karena aku setuju, tapi karena aku tahu dia benar. Aku juga tahu, Wisesa bukan tipe orang yang suka berpihak. Dia hanya tahu mana yang benar, dan dia tak pernah takut menyampaikannya. Dia anak idealis, tapi dia juga realistis. Dia bisa bermimpi, tapi dia tahu batas mimpi itu.
"Apa salah aku, sih? Aku nggak pernah mencari perhatian. Aku nggak pernah sok. Aku cuma berusaha jadi versi terbaik dari diriku sendiri, kok." Aku menghela napas, mataku tak bisa lepas dari pemandangan itu. Santi dan Rendy. Dua nama yang dulu berlawanan, kini bergandengan tangan—dalam arti sebenarnya.
"Mungkin bukan salah kamu, Ket. Mungkin kamu cuma terlalu terang, terlalu bercahaya. Orang-orang yang gelap nggak suka disorot." Wisesa menjawab, dengan kalimat datar tapi menusuk.
Aku tersenyum getir. "Terlalu bercahaya? Atau terlalu sombong?"
"Bukan sombong. Cuma... beda. Kamu nggak seperti mereka. Dan itu bikin kamu kelihatan jadi beda."
Aku mengangguk pelan. Aku tak bisa membantah. Aku memang berbeda. Aku memang punya prestasi. Aku memang populer. Tapi aku juga manusia. Aku juga butuh persahabatan. Aku juga butuh kepercayaan. Tapi sepertinya, di mata Santi, aku bukan lagi sosok yang pantas dipercaya. Aku justru menjadi penyebab dari semua kekecewaannya.
"Aku nggak minta maaf, Wis. Aku nggak salah." Aku mengucapkannya dengan mantap. Tapi rasanya seperti omong kosong. Karena meski aku tidak salah, aku tetap sakit. Dan meski aku tak bersalah, aku tetap terasing.
Wisesa mengangguk. Dia tidak menyuruhku berdamai. Dia tahu, ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan permintaan maaf atau janji manis. Ini lebih dari sekadar pertengkaran remaja. Ini soal identitas, soal nilai, soal harga diri. Soal apakah aku layak untuk dihargai, atau apakah aku hanya bayangan besar yang menghalangi cahaya bagi orang lain.
Dan mungkin, itulah intinya. Aku bukan pengejar popularitas. Aku bukan pencuri perhatian. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Tapi ternyata, menjadi diriku sendiri cukup untuk membuat beberapa orang—termasuk Santi—merasa terpinggirkan.
"Lanjut aja, Ket. Fokus ke lomba. Jangan biarin dia ngehancurin kamu."
Aku mengangguk pelan. Tapi hati ini tetap saja rapuh. Aku tahu, meski aku berjalan keluar dari sekolah hari ini, luka ini tak akan hilang begitu saja. Ini baru awal. Dan aku, mungkin, adalah kapal yang sedang goyah di tengah laut ganas.
"Hei, anak-anak aneh!!!"* Rendy menyambutku dan Wisesa dengan ledekan khasnya, disusul tawa palsu dari teman-temannya. Tapi kali ini berbeda—Santi ikut tertawa juga. Seperti biasa, tapi rasanya seperti bom sedang bersiap meledak.
"Sekarang Keti mah udah sibuk terus sama fans-fansnya. Sibuk sampe lupa hari, lupa tanggal, bahkan lupa sama temannya sendiri," timpal Santi dengan nada menyindir. Aura emosinya seperti lava panas di dalam gunung berapi—siap dimuntahkan kapan saja. Ada sesuatu yang ia tahan.
"San, dulu kamu suka ngata-ngatain orang bodoh ini, kok sekarang malah jadi ikut berteman sama dia? Nggak takut nanti ikutan bodoh juga?" Aku menjawab santai, meski hatiku sudah meradang. Wisesa mendelik kecil ke arahku, tersenyum tipis. Aku yakin hanya aku yang bisa melihat itu. Kalau sampai ketahuan oleh Rendy dan kawan-kawannya, bisa jadi malapetaka.
"HEH! Kalau ngomong dijaga ya, dasar bule kampung!!" Hardik salah satu anggota geng Rendy yang berdiri di belakangnya.
"Haha, kalau marah, berarti emang iya! Dan asal kamu tau, aku emang turunan bule, kenapa emangnya?" Jawabku dengan sentuhan ejekan. Anak itu mencoba maju, tapi ditahan oleh Rendy.
"Eh, cewek gampangan, kamu tuh harusnya banyakin ngaca, keluarga nggak bener aja, sok pakai kecakepan. Tebar pesona sana-sini mentang-mentang cakep." Santi menyerang lagi, kali ini menyentuh hal paling sensitif: keluargaku. Aku jadi sangat menyesal pernah menceritakan hampir seluruh cerita sedihku di rumah, hubungan burukku dengan kedua orang tuaku, tindakan-tindakan bodoh mereka, bahkan sampai kejadian aku menonton film dengan adegan dewasa di kamar Kak Sony. Hal ini bisa saja membuat Santi merasa tau segala keburukanku.
"Ngomong apa kamu, San?! Nggak usah bawa-bawa keluarga aku ya!" Aku langsung emosi. Ini sudah terlalu personal.
"Kamu itu keluarganya nggak bener, jadi nggak usah sok kecakepan tebar pesona sana-sini, sampai orang yang disukai sama sahabatnya sendiri juga diambil. Serakah banget nggak tuh, Ren?" Tanya Santi dan hanya dibalas anggukan dan seringai busuk darinya.
Aku tak sanggup lagi. Darah mendidih. “Apa kamu pikir aku suka siapa? Apa kamu pikir aku ngambil sahabat kamu?! Sahabat kamu kan sahabat aku juga!" Aku melangkah maju, mataku membara.
...dan, mulai.
Wisesa mencoba menahanku. Tangannya kuat menggenggam lenganku, suaranya berusaha tenang, penuh kepedulian. Tapi aku sudah tak bisa dikontrol. Darahku mendidih. Aku menerjang Santi saat itu juga. Aku seperti tak ingat bahwa dia adalah jagoan bela diri.
Tanganku mencekal lehernya, mencoba menahan geraknya. Dia menjerit, tapi tidak lama. Tangannya mencakar wajahku, menggores kulitku dengan kasar. Aku membalas dengan pukulan cepat ke pipinya, sementara Rendy dan teman-temannya ikut campur. Mereka tertawa, melompat-lompat, menyemangati, seolah ini bukan pertempuran antar sesama manusia, tapi hiburan murahan di bioskop hidup mereka.
"Pukul dia! Pukul terus!!" teriak Rendy, matanya bersinar dengan nafsu. Dia bukan lagi hanya pelaku bullying biasa. Dia menjadi penggerak dari semua ini. Dari mulai ejekan, sindiran, sampai kini, dia justru menjadi penonton paling gembira.
Santi juga tak mau kalah. Ia merayap ke belakangku, mencubit punggungku, mencakar bahu, bahkan menusukkan jarinya ke celah-celah rambutku. Aku menendangnya mundur, tanganku menghantam dadanya, membuatnya terjatuh ke lantai. Namun dia bangkit lagi. Dia masih ingin membuktikan bahwa dirinya lebih kuat, lebih tegas, lebih pantas untuk tetap ada di sini, mungkin karena keterampilan bela dirinya itu, dia menjadi gengsi jika kalah.
Lalu... seragamku robek.
Satu tarikan tangan dari Santi, dan baju seragam putihku pun terbuka. Setengah kancing dari atas sampai dekat ulu hati terlepas semua. Rok biruku yang bermodel sepan pun tertarik karena kakiku yang mendadak melebar dan akhirnya sobek diantara kedua paha, menampakkan bagian tubuh yang tidak seharusnya terlihat. Untung saja saat ini aku memakai celana ketat, sesuatu yang sekali kukenakan karena merasa kurang leluasa bergerak. Kulitku terpapar dingin, tapi aku tak merasa apa-apa. Aku tak peduli. Aku hanya ingin merasa sakit, ingin merasa hancur, agar rasanya setara dengan apa yang telah dia lakukan padaku.
Santi juga tak luput. Seragamnya kutarik dan akhirnya juga robek di bagian dada, robekan besar membentang dari atas ke bawah, menunjukkan bra warna polos yang terlalu ketat. Aku kaget karena Santi tak memakai tanktop yang biasa dia kenakan. Kami seringkali janjian untuk membeli tanktop berwarna putih atau krem di pasar karena ingin memakainya bersamaan. Apa ini adalah bagian dari perubahan karena kekecewaannya padaku? Rambutnya berantakan, wajahnya penuh goresan dan air mata. Tapi dia masih berdiri. Masih melawan. Dia bukan lagi sahabatku. Dia adalah musuhku. Dia adalah bayangan buruk yang mengganggu mimpi indahku. Sebuah pikiran yang sama sekali tak pernah terbesit sedikitpun sebelum ini dalam benakku.
Aku terus menarik seragamnya hingga lebih besar lagi sobekannya. Diapun menarik rambutku. Aku marasakan pedih sekali di kulit kepalaku. Posisiku saat ini adalah sedikit tertunduk tepat di depan dadanya yang terbuka. Aku masih merasakan wangi cologne yang sama dengan yang kupakai saat ini. itu karena kami memang selalu janjian untuk memakai cologne yang sama dengannya ketika sekolah. Ketika nanti habis, kami biasanya akan janjian untuk pergi ke pasar bersama dan membeli cologne baru. Keadaan ini menguntungkanku karena aku langsung menarik bra Santi dengan tangan kiriku yang tak terkawal dan terbukalah dada kanan Santi. Pemandangan yang tentunya bagi siswa cowok adalah rejeki nomplok luar biasa. Bagaimana tidak? Dada Santi juga sama berkembangnya denganku. Walaupun tak sebesar aku, tapi perkembangannya cukup signifikan. Itulah alasan mengapa beberapa bulan lalu dia memintaku menemaninya ke kota untuk mencari bra yang pas dengan ukuran dadanya sekarang. Itu wajar menurutku. Namanya juga pertumbuhan. Tapi yang tak kuduga adalah, ukurannya lebih besar dari perkiraan.
Santi langsung melepas tangan kanannya yang menggenggam rambutku. Dia segera menutupi bagian dadanya yang terbuka dengan seragamnya yang sudah lusuh dan banyak robekan. Aku merasa menang walau ini belum seberapa. Paling miris adalah ketika aku mengedarkan pandangan, tak ada satupun yang berusaha untuk melerai. Hanya Wisesa yang berusaha, tapi itupun sepertinya masih ragu-ragu untuk dia lakukan. Aku sedikit lengah dan dengan ancang-ancang yang cepat, Santi bisa meraih seragamku bagian depan yang sobek. Dia melakukan hal yang sama, memaksa menarik braku. Tapi karena aku memakai tanktop dan ukuran dadaku lebih penuh, maka dia sedikit kesulitan untuk menariknya. Pada akhirnya aku bisa menepis tangannya dengan sisa tenagaku. Dadaku selamat dari usaha untuk diperlihatkan di depan umum.
Semua orang berdiri di sekeliling kami. Ada yang tertawa, ada yang menghela napas, ada pula yang berekspresi datar saja walaupun tetap memperhatikan. Suara tepuk tangan dan candaan mereka seperti senjata tajam lain yang menusuk hatiku. "Lihat itu, si Keti seragamnya sobek semua. Haha. Seru nih kulitnya putih banget dan keliatan lebih banyak!", "Ini cewek angkuh akhirnya kena karma!", "Santi juga nggak kalah ganas! Mana sobek-sobek juga. T*ketnya gede juga ternyata. Hahaha. Nggak nyangka ya, anak pintar-pintar gini pada bagus bodinya. Biasanya kan kebalikannya, yang pintar bodinya pada nggak banget." Kalimat-kalimat yang tentu saja melecehkan kami berdua pun tak terelakkan terucap dari mereka yang menyaksikan. Namun aku dan Santi seperti tak peduli.
Aku menatap mereka. Tidak ada satu orang pun yang menolong. Tidak ada yang bicara. Semua hanya menonton.
"Ini pertama kali aku lihat kamu berubah, Ket," bisik Wisesa ketika berada di sampingku, suaranya parau. Matanya kosong, seperti melihat dunia yang hancur. Dia mencoba memisahkan kami, tapi tak ada yang mau mendengarnya. Bahkan Rendy dan kawanan anak-anak songong itu menertawakannya. "Dasar cowok culun, nggak punya nyali! Mau misahin aja cuma bisa ngomong doang, bukannya dipegang itu si Keti. T*lol!!"
Aku akhirnya mundur, bernapas berat, menatap Santi yang terduduk di lantai, menangis, tapi tetap melawan. Dia bukan lagi Santi yang pernah memberiku harapan. Dia bukan lagi sahabat yang dulu selalu menemani. Dia hanya sisa kenangan buruk yang harus kubiarkan pergi. Aku berhasil menjatuhkannya karena badanku yang lebih besar darinya.
"Aku nggak akan biarin kamu ngancurin aku, ngancurin cita-cita aku dengan cara murahan kayak gini," kataku dalam hati, suaraku sendiri terdengar keras di telingaku. Aku melangkah menjauh, meninggalkan lapangan dekat gerbang yang kotor, meninggalkan kerumunan yang jahat, meninggalkan seragam yang sobek, meninggalkan Santi yang tak pernah benar-benar mengerti aku.
Tapi di balik kemarahan dan kekecewaan, ada hal lain yang mulai tumbuh: kebencian. Kebencian yang tak pernah kubayangkan bisa ada dalam diriku. Dia seperti virus yang masuk ke dalam darah, menggerogoti jiwa, membuatku semakin gelap, semakin jauh dari sosok Kathy yang dulu rendah hati, baik, dan percaya pada persahabatan.
Sementara itu, Rendy terus tertawa. Ia menepuk pundak Santi dengan kasar. "Cepat bangun, San. Jangan pura-pura lemas." Dia menatapku dengan pandangan dingin, seperti ular yang menunggu kesempatan. Dia tahu, ini baru permulaan. Dan aku? Aku tahu, aku tidak akan pernah sama lagi.
Persahabatan yang pernah kucintai, kini hancur—seperti seragamku, seperti diriku. Sobek, rusak, dan (mungkin) tak bisa diperbaiki. Sungguh memalukan apa yang kulakukan hari ini. Tetapi aku merasa aku harus melakukannya supaya dia tak banyak cingcong lagi.
Apa mungkin sebetulnya ini hanya akan menambah keburukan-keburukan lainnya?
“Kamu kenapa sih, ngalah dikit aja. Jangan nurutin pola pikir kamu terus.” Pintaku suatu siang setelah les bersama guru-guru serta Sukma dan Septi.
“Ilmu itu bukan tentang sebuah nilai yang harus didapetin, Ket. Ilmu itu adalah perangkat yang membuat manusia atau siapapun, termasuk mungkin binatang dan tumbuhan, naik derajatnya. Yang membedakan individu satu dengan lainnya itu ya kemampuannya dalam menerjemahkan ilmu menjadi sesuatu yang bermanfaat. Kalau aku bisanya cuma merjuangin nilai doang, apa yang bisa aku bikin buat itu nanti bermanfaat?” Jawabnya tenang, matanya menyipit layaknya orang yang melihat dunia melalui kaca yang berbeda.
“Emang kamu udah bisa bikin apa dari ilmu-ilmu yang udah kamu dapetin di sekolah ini?” tanyaku lagi.
“Banyak, kok. Bentuknya nggak harus jadi barang. Tapi otak juga. Buktinya, aku masih bisa berdiskusi bareng sama kamu yang notabene salah satu yang terbaik di sekolah ini, kan? Hehe.” Ia tersenyum, tapi senyum itu terlihat bagai cahaya lampu lalu lintas—menyala, tapi tak nyaman.
“....hhh, iya juga sih. Tapi tetap aja, kamu mestinya sedikit aja ngalah, biar kamu nggak nyusahin orang tua kamu.” Aku menghela napas, jari-jariku menggigit pensil dengan kasar.
“Aku? Nyusahin orang tua aku? Kenapa kamu bisa bilang begitu, Ket?”
“Soalnya kamu itu aslinya kan bisa dapat nilai bagus yang bisa ngeringanin beban keuangan orang tua kamu, Wis.” Aku menghujani argumennya, tapi ia tetap tenang.
“Aku tau, tapi aku nggak mau nyerah gitu aja, Ket. Banyak kok cara lainnya yang bikin aku bisa ngebantuin orang tua aku. Makanya aku selalu pulang duluan kan. Soalnya aku kan bantu Ibu dagang.”
“Iya aku tau, tapi paling nggak kamu bisa makin ngeringanin beban orang tua dengan dapet beasiswa kan?” Aku mencoba lagi, tapi ia hanya mengangkat bahu.
“Hmmm. Lihat nanti deh aku coba pikirin lagi. Udah yuk kita pulang.” Ia tutup percakapan, langkahnya cepat menuju pintu.
Aku termangu sesaat. Wisesa, anak SMP kelas dua yang bisa memecahkan teorema sebelum aku menyentuh penjelasannya, kini terasa seperti laut dalam—indah, tapi tak bisa dijangkau. Sementara Santi, yang dulu menggenggam tanganku, kini menjadi badai yang menghancurkan ketenangan.
Langkahku menuju gerbang sekolah terasa berat. Seperti kaki terhimpit pasir panas, setiap langkah melambat, seolah tubuh ini menolak untuk maju. Aku memandang ke arah koridor depan—dan hatiku segera tertusuk.
Santi ada di sana. Berdiri bersama Rendy. Tepat di tengah-tengah, diantara Rendy dan geng bodohnya itu. Bukan hanya berdiri. Mereka tertawa. Bercanda. Seperti dua orang yang saling mengenal selama bertahun-tahun. Padahal, dulu Santi pernah menyebut Rendy sebagai “orang najis”. Ia pernah mengatakan bahwa ia lebih baik mati duluan daripada harus tersenyum padanya. Sekarang? Dia malah tampil seperti sahabatnya sendiri. Aku merasakan sesuatu yang retak dalam diriku—seperti cermin yang tergores dari ujung ke ujung. Luka dalam hati ini sepertinya akan bertambah lagi.
Sejak insiden di kantin, suasana sekolah bukan lagi tempat aman bagiku. Dulu, aku bisa bernapas lega di antara teman-temanku. Sekarang, setiap sudut koridor terasa seperti jurang yang siap menelanku. Santi tidak hanya melemparkan kata-kata pedas dari belakang; ia datang langsung, membenturkan paku-paku emosi ke dada. Dan sekarang, ia semakin kuat dengan Rendy di sisinya—seseorang yang akrab dengan cara-cara keras, dengan intimidasi, dengan kebencian yang dikemas rapi dalam senyum palsu. Picik sekali.
Wisesa berjalan di sebelahku. Senyap. Namun, matanya tak pernah lepas dari kejadian itu. Ia tak berkata apa-apa, tapi aku tahu, pikiran kami sama: ini bukan hanya tentang persahabatan yang hancur. Ini tentang loyalitas yang direbut, tentang kepercayaan yang dibuang ke tong sampah. Wisesa tetap tenang, namun jelas saja, ia tak suka melihat hal ini. Tapi ia tahu, ini bukan saatnya untuk terlibat. Ia percaya pada prinsipnya: Jika kamu tidak bisa mengubah dunia, jangan biarkan dunia mengubahmu.
Aku masih menyebut Santi sebagai sahabatku. Tapi mungkin itu hanya sebuah harapan kosong yang kupertahankan karena ketidakmampuanku untuk melepaskan masa lalu. Aku bingung. Aku marah. Tapi yang lebih menyakitkan adalah rasa kecewa—kecewa pada diriku sendiri yang selama ini percaya bahwa segala sesuatu bisa diperbaiki, asal semua orang mau berusaha. Sebuah angan-angan yang jika telah dewasa nanti akan biasa disebut sebagai sesuatu yang naif.
Aku juga tak bisa mengabaikan fakta bahwa Santi kini bekerja sama dengan seseorang yang sudah terbukti memiliki jejak buruk—Rendy, pelaku bullying yang membuat hidupku seperti neraka mini di hampir tiap ruang yang ada di sekolah ini. Kini, mereka berdua duduk di sisi yang sama. Sebuah aliansi aneh, tapi nyata. Dan itu membuatku makin yakin: Santi bukan hanya sedih. Ia marah. Ia cemburu. Ia ingin balas dendam.
"Kamu nggak lihat ya, Ket?" Wisesa akhirnya berbicara, suaranya rendah tapi tajam. "Dia udah ngambil kubu lain. Udah pilih jalan yang berbeda."
"Aku tau," jawabku pendek. "Tapi aku belum siap buat ngerelain hubungan persahabatan ini. Aku masih percaya, kok, kalau dia bisa balik lagi kayak dulu."
"Ket... percaya itu indah. Tapi kadang, percaya itu juga bohong."
Aku diam. Tidak karena aku setuju, tapi karena aku tahu dia benar. Aku juga tahu, Wisesa bukan tipe orang yang suka berpihak. Dia hanya tahu mana yang benar, dan dia tak pernah takut menyampaikannya. Dia anak idealis, tapi dia juga realistis. Dia bisa bermimpi, tapi dia tahu batas mimpi itu.
"Apa salah aku, sih? Aku nggak pernah mencari perhatian. Aku nggak pernah sok. Aku cuma berusaha jadi versi terbaik dari diriku sendiri, kok." Aku menghela napas, mataku tak bisa lepas dari pemandangan itu. Santi dan Rendy. Dua nama yang dulu berlawanan, kini bergandengan tangan—dalam arti sebenarnya.
"Mungkin bukan salah kamu, Ket. Mungkin kamu cuma terlalu terang, terlalu bercahaya. Orang-orang yang gelap nggak suka disorot." Wisesa menjawab, dengan kalimat datar tapi menusuk.
Aku tersenyum getir. "Terlalu bercahaya? Atau terlalu sombong?"
"Bukan sombong. Cuma... beda. Kamu nggak seperti mereka. Dan itu bikin kamu kelihatan jadi beda."
Aku mengangguk pelan. Aku tak bisa membantah. Aku memang berbeda. Aku memang punya prestasi. Aku memang populer. Tapi aku juga manusia. Aku juga butuh persahabatan. Aku juga butuh kepercayaan. Tapi sepertinya, di mata Santi, aku bukan lagi sosok yang pantas dipercaya. Aku justru menjadi penyebab dari semua kekecewaannya.
"Aku nggak minta maaf, Wis. Aku nggak salah." Aku mengucapkannya dengan mantap. Tapi rasanya seperti omong kosong. Karena meski aku tidak salah, aku tetap sakit. Dan meski aku tak bersalah, aku tetap terasing.
Wisesa mengangguk. Dia tidak menyuruhku berdamai. Dia tahu, ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan permintaan maaf atau janji manis. Ini lebih dari sekadar pertengkaran remaja. Ini soal identitas, soal nilai, soal harga diri. Soal apakah aku layak untuk dihargai, atau apakah aku hanya bayangan besar yang menghalangi cahaya bagi orang lain.
Dan mungkin, itulah intinya. Aku bukan pengejar popularitas. Aku bukan pencuri perhatian. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Tapi ternyata, menjadi diriku sendiri cukup untuk membuat beberapa orang—termasuk Santi—merasa terpinggirkan.
"Lanjut aja, Ket. Fokus ke lomba. Jangan biarin dia ngehancurin kamu."
Aku mengangguk pelan. Tapi hati ini tetap saja rapuh. Aku tahu, meski aku berjalan keluar dari sekolah hari ini, luka ini tak akan hilang begitu saja. Ini baru awal. Dan aku, mungkin, adalah kapal yang sedang goyah di tengah laut ganas.
"Hei, anak-anak aneh!!!"* Rendy menyambutku dan Wisesa dengan ledekan khasnya, disusul tawa palsu dari teman-temannya. Tapi kali ini berbeda—Santi ikut tertawa juga. Seperti biasa, tapi rasanya seperti bom sedang bersiap meledak.
"Sekarang Keti mah udah sibuk terus sama fans-fansnya. Sibuk sampe lupa hari, lupa tanggal, bahkan lupa sama temannya sendiri," timpal Santi dengan nada menyindir. Aura emosinya seperti lava panas di dalam gunung berapi—siap dimuntahkan kapan saja. Ada sesuatu yang ia tahan.
"San, dulu kamu suka ngata-ngatain orang bodoh ini, kok sekarang malah jadi ikut berteman sama dia? Nggak takut nanti ikutan bodoh juga?" Aku menjawab santai, meski hatiku sudah meradang. Wisesa mendelik kecil ke arahku, tersenyum tipis. Aku yakin hanya aku yang bisa melihat itu. Kalau sampai ketahuan oleh Rendy dan kawan-kawannya, bisa jadi malapetaka.
"HEH! Kalau ngomong dijaga ya, dasar bule kampung!!" Hardik salah satu anggota geng Rendy yang berdiri di belakangnya.
"Haha, kalau marah, berarti emang iya! Dan asal kamu tau, aku emang turunan bule, kenapa emangnya?" Jawabku dengan sentuhan ejekan. Anak itu mencoba maju, tapi ditahan oleh Rendy.
"Eh, cewek gampangan, kamu tuh harusnya banyakin ngaca, keluarga nggak bener aja, sok pakai kecakepan. Tebar pesona sana-sini mentang-mentang cakep." Santi menyerang lagi, kali ini menyentuh hal paling sensitif: keluargaku. Aku jadi sangat menyesal pernah menceritakan hampir seluruh cerita sedihku di rumah, hubungan burukku dengan kedua orang tuaku, tindakan-tindakan bodoh mereka, bahkan sampai kejadian aku menonton film dengan adegan dewasa di kamar Kak Sony. Hal ini bisa saja membuat Santi merasa tau segala keburukanku.
"Ngomong apa kamu, San?! Nggak usah bawa-bawa keluarga aku ya!" Aku langsung emosi. Ini sudah terlalu personal.
"Kamu itu keluarganya nggak bener, jadi nggak usah sok kecakepan tebar pesona sana-sini, sampai orang yang disukai sama sahabatnya sendiri juga diambil. Serakah banget nggak tuh, Ren?" Tanya Santi dan hanya dibalas anggukan dan seringai busuk darinya.
Aku tak sanggup lagi. Darah mendidih. “Apa kamu pikir aku suka siapa? Apa kamu pikir aku ngambil sahabat kamu?! Sahabat kamu kan sahabat aku juga!" Aku melangkah maju, mataku membara.
...dan, mulai.
Wisesa mencoba menahanku. Tangannya kuat menggenggam lenganku, suaranya berusaha tenang, penuh kepedulian. Tapi aku sudah tak bisa dikontrol. Darahku mendidih. Aku menerjang Santi saat itu juga. Aku seperti tak ingat bahwa dia adalah jagoan bela diri.
Tanganku mencekal lehernya, mencoba menahan geraknya. Dia menjerit, tapi tidak lama. Tangannya mencakar wajahku, menggores kulitku dengan kasar. Aku membalas dengan pukulan cepat ke pipinya, sementara Rendy dan teman-temannya ikut campur. Mereka tertawa, melompat-lompat, menyemangati, seolah ini bukan pertempuran antar sesama manusia, tapi hiburan murahan di bioskop hidup mereka.
"Pukul dia! Pukul terus!!" teriak Rendy, matanya bersinar dengan nafsu. Dia bukan lagi hanya pelaku bullying biasa. Dia menjadi penggerak dari semua ini. Dari mulai ejekan, sindiran, sampai kini, dia justru menjadi penonton paling gembira.
Santi juga tak mau kalah. Ia merayap ke belakangku, mencubit punggungku, mencakar bahu, bahkan menusukkan jarinya ke celah-celah rambutku. Aku menendangnya mundur, tanganku menghantam dadanya, membuatnya terjatuh ke lantai. Namun dia bangkit lagi. Dia masih ingin membuktikan bahwa dirinya lebih kuat, lebih tegas, lebih pantas untuk tetap ada di sini, mungkin karena keterampilan bela dirinya itu, dia menjadi gengsi jika kalah.
Lalu... seragamku robek.
Satu tarikan tangan dari Santi, dan baju seragam putihku pun terbuka. Setengah kancing dari atas sampai dekat ulu hati terlepas semua. Rok biruku yang bermodel sepan pun tertarik karena kakiku yang mendadak melebar dan akhirnya sobek diantara kedua paha, menampakkan bagian tubuh yang tidak seharusnya terlihat. Untung saja saat ini aku memakai celana ketat, sesuatu yang sekali kukenakan karena merasa kurang leluasa bergerak. Kulitku terpapar dingin, tapi aku tak merasa apa-apa. Aku tak peduli. Aku hanya ingin merasa sakit, ingin merasa hancur, agar rasanya setara dengan apa yang telah dia lakukan padaku.
Santi juga tak luput. Seragamnya kutarik dan akhirnya juga robek di bagian dada, robekan besar membentang dari atas ke bawah, menunjukkan bra warna polos yang terlalu ketat. Aku kaget karena Santi tak memakai tanktop yang biasa dia kenakan. Kami seringkali janjian untuk membeli tanktop berwarna putih atau krem di pasar karena ingin memakainya bersamaan. Apa ini adalah bagian dari perubahan karena kekecewaannya padaku? Rambutnya berantakan, wajahnya penuh goresan dan air mata. Tapi dia masih berdiri. Masih melawan. Dia bukan lagi sahabatku. Dia adalah musuhku. Dia adalah bayangan buruk yang mengganggu mimpi indahku. Sebuah pikiran yang sama sekali tak pernah terbesit sedikitpun sebelum ini dalam benakku.
Aku terus menarik seragamnya hingga lebih besar lagi sobekannya. Diapun menarik rambutku. Aku marasakan pedih sekali di kulit kepalaku. Posisiku saat ini adalah sedikit tertunduk tepat di depan dadanya yang terbuka. Aku masih merasakan wangi cologne yang sama dengan yang kupakai saat ini. itu karena kami memang selalu janjian untuk memakai cologne yang sama dengannya ketika sekolah. Ketika nanti habis, kami biasanya akan janjian untuk pergi ke pasar bersama dan membeli cologne baru. Keadaan ini menguntungkanku karena aku langsung menarik bra Santi dengan tangan kiriku yang tak terkawal dan terbukalah dada kanan Santi. Pemandangan yang tentunya bagi siswa cowok adalah rejeki nomplok luar biasa. Bagaimana tidak? Dada Santi juga sama berkembangnya denganku. Walaupun tak sebesar aku, tapi perkembangannya cukup signifikan. Itulah alasan mengapa beberapa bulan lalu dia memintaku menemaninya ke kota untuk mencari bra yang pas dengan ukuran dadanya sekarang. Itu wajar menurutku. Namanya juga pertumbuhan. Tapi yang tak kuduga adalah, ukurannya lebih besar dari perkiraan.
Santi langsung melepas tangan kanannya yang menggenggam rambutku. Dia segera menutupi bagian dadanya yang terbuka dengan seragamnya yang sudah lusuh dan banyak robekan. Aku merasa menang walau ini belum seberapa. Paling miris adalah ketika aku mengedarkan pandangan, tak ada satupun yang berusaha untuk melerai. Hanya Wisesa yang berusaha, tapi itupun sepertinya masih ragu-ragu untuk dia lakukan. Aku sedikit lengah dan dengan ancang-ancang yang cepat, Santi bisa meraih seragamku bagian depan yang sobek. Dia melakukan hal yang sama, memaksa menarik braku. Tapi karena aku memakai tanktop dan ukuran dadaku lebih penuh, maka dia sedikit kesulitan untuk menariknya. Pada akhirnya aku bisa menepis tangannya dengan sisa tenagaku. Dadaku selamat dari usaha untuk diperlihatkan di depan umum.
Semua orang berdiri di sekeliling kami. Ada yang tertawa, ada yang menghela napas, ada pula yang berekspresi datar saja walaupun tetap memperhatikan. Suara tepuk tangan dan candaan mereka seperti senjata tajam lain yang menusuk hatiku. "Lihat itu, si Keti seragamnya sobek semua. Haha. Seru nih kulitnya putih banget dan keliatan lebih banyak!", "Ini cewek angkuh akhirnya kena karma!", "Santi juga nggak kalah ganas! Mana sobek-sobek juga. T*ketnya gede juga ternyata. Hahaha. Nggak nyangka ya, anak pintar-pintar gini pada bagus bodinya. Biasanya kan kebalikannya, yang pintar bodinya pada nggak banget." Kalimat-kalimat yang tentu saja melecehkan kami berdua pun tak terelakkan terucap dari mereka yang menyaksikan. Namun aku dan Santi seperti tak peduli.
Aku menatap mereka. Tidak ada satu orang pun yang menolong. Tidak ada yang bicara. Semua hanya menonton.
"Ini pertama kali aku lihat kamu berubah, Ket," bisik Wisesa ketika berada di sampingku, suaranya parau. Matanya kosong, seperti melihat dunia yang hancur. Dia mencoba memisahkan kami, tapi tak ada yang mau mendengarnya. Bahkan Rendy dan kawanan anak-anak songong itu menertawakannya. "Dasar cowok culun, nggak punya nyali! Mau misahin aja cuma bisa ngomong doang, bukannya dipegang itu si Keti. T*lol!!"
Aku akhirnya mundur, bernapas berat, menatap Santi yang terduduk di lantai, menangis, tapi tetap melawan. Dia bukan lagi Santi yang pernah memberiku harapan. Dia bukan lagi sahabat yang dulu selalu menemani. Dia hanya sisa kenangan buruk yang harus kubiarkan pergi. Aku berhasil menjatuhkannya karena badanku yang lebih besar darinya.
"Aku nggak akan biarin kamu ngancurin aku, ngancurin cita-cita aku dengan cara murahan kayak gini," kataku dalam hati, suaraku sendiri terdengar keras di telingaku. Aku melangkah menjauh, meninggalkan lapangan dekat gerbang yang kotor, meninggalkan kerumunan yang jahat, meninggalkan seragam yang sobek, meninggalkan Santi yang tak pernah benar-benar mengerti aku.
Tapi di balik kemarahan dan kekecewaan, ada hal lain yang mulai tumbuh: kebencian. Kebencian yang tak pernah kubayangkan bisa ada dalam diriku. Dia seperti virus yang masuk ke dalam darah, menggerogoti jiwa, membuatku semakin gelap, semakin jauh dari sosok Kathy yang dulu rendah hati, baik, dan percaya pada persahabatan.
Sementara itu, Rendy terus tertawa. Ia menepuk pundak Santi dengan kasar. "Cepat bangun, San. Jangan pura-pura lemas." Dia menatapku dengan pandangan dingin, seperti ular yang menunggu kesempatan. Dia tahu, ini baru permulaan. Dan aku? Aku tahu, aku tidak akan pernah sama lagi.
Persahabatan yang pernah kucintai, kini hancur—seperti seragamku, seperti diriku. Sobek, rusak, dan (mungkin) tak bisa diperbaiki. Sungguh memalukan apa yang kulakukan hari ini. Tetapi aku merasa aku harus melakukannya supaya dia tak banyak cingcong lagi.
Apa mungkin sebetulnya ini hanya akan menambah keburukan-keburukan lainnya?
Diubah oleh yanagi92055 30-05-2025 20:28
adityakp9 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Tutup
serta apresiasi cendol
