- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
kelinci.tosca dan 149 lainnya memberi reputasi
150
216.6K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#1135
007-L Half of My Sorry
Spoiler for 007-L Half of My Sorry:
Lalu hening, nggak ada kata yang terucap. Yang terdengar hanya samar dentuman besi dan mesin gerinda.
“Hah?”
“Dia anak Bapak. Ibunya bernama Ana. Dulu kalian... sempat bersama. Tapi lalu Bapak pergi…”
“Saya... saya pikir mereka udah nggak mau ketemu saya lagi…. Dia mau apa? saya nggak punya apa-apa…”
“Dia nggak minta apa-apa. Sebelumnya dia bahkan nggak yakin bisa ketemu sama Bapak. Dia cuma butuh wali, Pak…”Terdengar Lian menjelaskan.
Lalu kembali hening.
Sementara, gua hanya bisa duduk di dalam mobil seraya menatap kosong ke arah gerbang bengkel mobil yang terbuat dari panel besi berukuran raksasa. Nggak lama berselang, pintu pagar besar itu terbuka perlahan. Disusul munculnya sesosok pria lebih dari setengah baya berdiri di ambang pintu bengkel, menatap ke arah mobil, ke arah gua.
Matanya terlihat kosong, sementara dua tangannya bergetar. Salah satunya menggenggam handuk kecil yang ia jatuhkan. Menyadari kehadirannya, gua dengan cepat menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan air mata yang entah kenapa mulai menetes.
Lian menyusul keluar dari bengkel, berdiri tepat di sisi pria itu. Nggak lama, Lian melangkah mendekat ke arah mobil dan masuk.
“Udah siap?” Tanya Lian lirih.
Gua menggelengkan kepala; rasanya mental gua masih belum siap.
“Oh okay…” Balas Lian, lalu kembali keluar.
Lian dan Pria itu lalu kembali terlibat obrolan. Obrolan yang nggak lagi bisa gua dengar karena Lian sudah memutuskan panggilan telepon yang sebelumnya terus tersambung.
Pria itu memberi tepukan di bahu Lian sebelum ia masuk ke dalam bengkel dan Lian kembali ke mobil.
Nggak ada kata atau kalimat apapun yang terlontar dari mulut Lian. Ia hanya menggenggam tangan gua dan melajukan mobil, pergi dari bengkel tersebut. Membiarkan keheningan menyelimuti. Kadang, dengan diam kita bisa lebih memahami sesuatu lebih dari apapun.
Hingga kami tiba di rumah, kami berdua masih nggak saling bicara. Sepertinya Lian memang senagaja membiarkan gua tenggelam dalam diam agar bisa menimbang dan memikirkan langkah selanjutnya.
“Kalau kamu udah siap ketemu dia, bilang ya…” Ucap Lian sambil perlahan melepaskan genggamannya, saat gua bersiap keluar dari mobil.
“Iya…” Jawab gua pelan.
Tepat sebelum gua masuk ke dalam rumah. Lian menyusul gua dan memanggil nama gua; “Fir…”
Gua berbalik dan menatapnya.
Lian kembali menggenggam tangan gua dan berbisik pelan; “Inget ya, Fir… Apapun yang terjadi ada aku di sini…”
Langsung terasa kelegaan yang luar biasa di dalam hati. Ketakukan gua akan nggak diakui, sementara sirna. Gua tersenyum dan mengangguk pelan. Lalu berbalik dan masuk ke dalam rumah.
Butuh waktu dua hari untuk gua mempersiapkan mental bertemu dengan pria itu.
Lian berdiri, bersandar para body mobilnya di depan rumah. Sementara, gua masih berada di balik gerbang menatapnya menghabiskan rokok yang kemudian puntung dibuang sembarangan di dalam got.
“Siap?” Tanyanya sambil tersenyum.
Gua mengangguk penuh keyakinan.
Kurang lebih satu jam berikutnya, kami berdua sudah berada kembali di area depan bengkel pria itu. Seperti kemarin, Lian memarkir mobilnya tepat di sisi jalan di seberang pintu bengkel. Kali ini, ia langsung mematikan mesin mobilnya, takut suara mesin mengganggu warga sekitar.
“Mau aku yang masuk duluan?” Tanyanya seraya menunjuk ke arah bengkel.
“Iya…” Gua mengangguk pelan. Entah kenapa, begitu tiba di sini keberanian gua seakan kembali menciut.
Lian melepaskan genggaman tangannya, keluar dari mobil dan mulai menyeberangi jalan menuju ke arah pintu masuk bengkel. Sementara, gua memberanikan diri keluar walau hanya berdiri dan menunggu sambil bersandar di sisi mobil.
Nggak berselang lama, Lian kembali keluar. Kali ini bersama pria itu. Pria yang kini terlihat lebih rapi dari hari saat pertama gua melihatnya. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna biru muda dengan celana bahan dan sandal selop hitam yang mengkilat.
Seketika gua langsung kembali masuk ke dalam mobil. Sementara terlihat pria itu masih berbincang dengan Lian. Dan tiba-tiba ia datang.
Mobil terasa semakin sempit, gua menunduk, dari balik jendela gua melirik dan mendapati pria itu tengah melangkah pelan ke arah mobil terparkir. Detik berikutnya, kaca pintu mobil sisi pengemudi diketuk pelan.
Gua nggak langsung membukanya.
Jantung terasa seperti mau copot, tangan gua bergetar hebat. Gua lalu memejamkan kedua mata sejenak sambil berusaha mengatur napas.
Ketukan di jendela mobil kembali terdengar, namun kini ketukannya penuh keraguan.
Perlahan, Gua menurunkan kaca jendela.
Pria itu berdiri di sana. Wajahnya penuh dengan kerutan, ia terlihat lebih tua dari yang gua lihat sekilas kemarin. Lebih kurus, lebih gelap, tapi... matanya, entah kenapa terasa sangat familiar. Ia punya mata yang sama dengan gua.
“Fira...” Ia menyebut nama gua dengan suara serak namun lirih.
Suara yang bikin tenggorokan gua seperti tercekat. Gua menatap bokap; pria yang nggak pernah gua kenali tapi ternyata separuh wajah gua mirip dengannya.
“Aku... aku nggak tau harus ngomong apa…” Ucap gua, pelan dan lirih, nyaris berbisik, tanpa berani menatap wajahnya.
Ia menunduk; “Boleh saya masuk?” Tanyanya seraya menunjuk ke arah pintu mobil.
Gua mengangguk, pria itu membuka pintu mobil sisi pengemudi lalu masuk dan duduk. Sesaat ia memandangi interior mobil lalu menatap kosong ke depan.
“Saya juga nggak tahu harus mulai dari mana…” Ucapnya tanpa menatap ke arah gua. “…Tapi pertama-tama saya mau minta maaf. Karena saya pergi….” Kalimatnya terhenti.
Terlihat dari pantulan kaca spion, kalau kedua matanya mulai basah.
“… Maaf juga karena saya nggak buat kamu, nggak ada waktu kamu demam, nggak ada waktu kamu ulang tahun…”
“…”
“… Saya rasanya memang nggak pantas jadi ayah. Tapi, kalau Fira butuh wali, saya akan datang. Bukan, bukan karena kewajiban. Tapi, karena saya mau sekali aja dalam hidup ini berguna buat Fira…” Tambahnya.
Kini air mata sudah membasahi pipinya. Sementara, gua mencoba untuk terus bertahan; menguatkan diri. Gua meraih beberapa lembar tisu dan menyodorkannya.
Gua terdiam.
“Aku nggak pernah marah…” Ucap gua pelan. “Aku cuma... bingung. Kenapa orang yang harusnya sayang, justru pergi….”
Ia menutup matanya. Air mata jatuh. Kali ini ia langsung seka dengan menggunakan tisu.
“Saya bisa jelaskan, kalau Fira mau dengar…” Jawabnya.
Gua nggak langsung menjawab. Hanya menatap ke luar melalui jendela, melihat ke arah Lian yang tengah asik berdiri dan berbincang dengan salah satu pria yang sepertinya montir di bengkel sambil merokok.
“Dulu saya dan Mamah-mu punya kehidupan yang mapan. Kehidupan yang terjamin. Saya punya beberapa showroom dan bengkel mobil. Lalu, tiba-tiba semua berubah. Showroom dan bengkel bangkrut karena saya ditipu karyawan. Ana; Mamahmu jelas marah. Dan bodohnya... saya justru pergi. Saya pikir, dengan pergi, saya bisa menyelamatkan kalian dari hidup susah...”
“Tapi salah kan?” Tanya gua.
“Iya…”
Lalu hening sesaat.
Kemudian ia melanjutkan bicara; “Kalau boleh... saya mau mulai lagi dari awal. Bukan, bukan sebagai suaminya Ana. Tapi, sebagai Papah kamu…”
“…”
“… Nggak, saya nggak akan berusaha memperbaiki masa lalu. Tapi mungkin... kalau Fira izinkan, saya bisa menemani kamu di masa depan…”
Gua menggeleng pelan.
“Aku udah terbiasa tanpa ayah. Aku punya dia…” Jawab gua seraya menunjuk ke luar ke arah Lian.
Ia mengangguk pelan. “Baiklah kalau begitu… Gapapa…” Jawabnya seraya bersiap keluar.
Namun dengan cepat gua meraih tangannya. Tangan yang nggak pernah ada untuk memberikan gua pelukan saat menangis dulu. Tangan yang nggak pernah menggenggam tangan gua untuk mengantar pergi ke sekolah dasar.
Tapi, nggak ada kata-kata yang terucap. Gua hanya terdiam.
Ia tersenyum dan menepuk pelan punggung tangan gua dan bicara; “Gapapa, Fira… Gapapa, Saya akan tetap datang untuk menjadi wali pernikahan kamu”
Begitu ia turun dari mobil, gua ikut menyusulnya lalu mendekat dan berdiri tepat di hadapannya.
Tak ada pelukan. Tak ada tangisan histeris.
Hanya dua orang asing yang ternyata punya darah yang sama, berdiri saling menatap, dan sama-sama tahu: mereka terlambat, tapi belum benar-benar selesai.
Gua terus menatap wajahnya dengan mata yang mulai basah.
“Maaf, Aku belum bisa panggil kamu 'Papah'…” Ucap gua lirih.
“Nggak apa-apa. Kamu bisa panggil saya Pak Wahyu atau mungkin Pak Dimas, Pilih aja mana yang kamu suka…” Jawabnya.
Gua mengangguk.
Dan untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, gua tahu seperti apa rasanya bicara dengan sosok seorang ayah.
—
Siang itu, hujan turun pelan. Nggak deras, tapi cukup untuk membuat suasana jalan Jakarta yang sudah cukup lengang karena PSBB jadi lebih sendu. Di dalam mobil, Lian hanya terdiam sambil fokus mengemudi. Sesekali, ia menoleh dan tersenyum seraya mencolek dagu gua.
“Laper nggak? Mau makan apa cantik?…”
Gua tersenyum, nggak tahan mendengar rayuannya.
“Apaan sih…”
“Mau makan apa?” Tanyanya lagi.
“Nasi goreng? boleh?” Gua meminta.
“Boleh…”
Beberapa saat berikutnya, kami sudah berada di salah satu resto yang berada di Mall. Menikmati porsi nasi goreng dengan ditemani suara riuh pelanggan lain dan samar lagu top fourty yang diputar pihak resto.
Gua menatap Lian yang baru saja selesai dengan porsi nasi goreng miliknya, mengecap bibirnya, terlihat gelisah karena nggak tahan hendak merokok. Gua meletakkan sendok dan garpu terbalik lalu berhenti makan.
“Udah yuk…” Balas gua kemudian menghabiskan air minum dalam botol kemasan.
“Lho kok nggak diabisin…”
“Gapapa, udah kenyang…” Jawab gua, berbohong.
Setelah Lian menyelesaikan pembayaran, gua sengaja mengajaknya ke salah satu kedai kopi yang punya lokasi outdoor agar ia bisa merokok.
Benar saja tebakan gua, begitu tiba di teras kedai kopi, Lian langsung mengeluarkan bungkusan rokok, mengambil sebatang dan mulai menyulutnya.
“Nggak enak ya kalo abis makan nggak ngerokok?” Tanya gua seraya menatap dan tersenyum.
“Iya… Hehehe…” Ia terkekeh. “… Gimana udah lega?” Taambahnya, merujuk ke momen pertemuan gua dengan Bokap tadi.
Gua mengangguk pelan; “Udah…”
“… Cuma masih belum bisa menerima aja….” Gua menambahkan. Ya coba bayangkan aja, puluhan tahun hidup tanpa sosok seorang ayah, lalu secara tiba-tiba jadi punya. Rasanya pasti aneh.
“Gapapa, santai aja… anggap aja dapet kerabat baru…” Balasnya.
Malam menjelang dengan cepat. Kini kami berdua sudah berada di depan rumah. Lian menghentikan mobilnya tanpa mematikan mesin.
“Lho, nggak mau mampir?” Tanyanya.
Lian menggeleng, lalu tersenyum.
“Kenapa?” Tanya gua lagi.
“Gapapa, biar kamu punya waktu sendiri…” Jawabnya. Ia lalu mengambil bungkusan plastik hitam yang sejak tadi berada di kursi penumpang bagian belakang. Dan menyerahkannya ke gua.
“Apaan nih?” Tanya gua begitu menerima bungkusan plastik hitam yang sedikit kotor dan penuh sisa oli.
“Surat. Kalau kamu siap, bacalah. Nggak sekarang juga nggak apa-apa…” Jawabnya dengan lemah lembut, yang lantas gua respon dengan anggukan kepala.
Ia memberikan kecupan lembut di dahi sebelum gua turun dari mobil lalu pergi.
Begitu berada di dalam kamar, gue berdiri di depan meja belajar. Lampu kamar redup, dan suara dengan AC yang menderu karena baru saja dinyalakan. Gua langsung membuka bungkusan plastik dan menuang isinya di atas meja belajar. Terlihat bundel surat yang diikat rapi dengan tali rafia tipis yang warnanya telah pudar. Kertasnya menguning, beberapa sudutnya sobek, ada noda seperti bekas kopi di salah satu amplop.
Gua meraih salah satu amplop dan membukanya perlahan. Seketika terasa seolah waktu berjalan mundur saat gua melihat di sisi kanan lembaran tertulis tanggal dengan tinta yang mulai memudar.
Gua meraih asal amplop lain, membuka dan membacanya;
Lalu beralih ke amplop lainnya;
Tanpa terasa air mata mulai jatuh membasahi kertas usang yang mengunging. Gua terduduk di lantai di sisi ranjang, nggak lagi sanggup melanjutkan membaca surat-surat tersebut lalu menangis keras-keras.
Gua meraih ponsel dan menghubungi Lian. Tanpa bicara, hanya terisak.
“Menangislah sayang… Menangislah”Ucapnya lirih.
Tangisan gua semakin keras begitu mendengar ucapan Lian barusan.
Malam itu, gua akhirnya sadar, gua memang belum punya seorang ayah seperti yang gua impikan waktu kecil. Tapi gua juga tahu, mulai hari itu, luka lama nggak harus dibiarkan terus berdarah. Ada pilihan untuk mengobatinya. Pelan-pelan. Bareng orang-orang yang nggak pernah pergi.
—
“Hah?”
“Dia anak Bapak. Ibunya bernama Ana. Dulu kalian... sempat bersama. Tapi lalu Bapak pergi…”
“Saya... saya pikir mereka udah nggak mau ketemu saya lagi…. Dia mau apa? saya nggak punya apa-apa…”
“Dia nggak minta apa-apa. Sebelumnya dia bahkan nggak yakin bisa ketemu sama Bapak. Dia cuma butuh wali, Pak…”Terdengar Lian menjelaskan.
Lalu kembali hening.
Sementara, gua hanya bisa duduk di dalam mobil seraya menatap kosong ke arah gerbang bengkel mobil yang terbuat dari panel besi berukuran raksasa. Nggak lama berselang, pintu pagar besar itu terbuka perlahan. Disusul munculnya sesosok pria lebih dari setengah baya berdiri di ambang pintu bengkel, menatap ke arah mobil, ke arah gua.
Matanya terlihat kosong, sementara dua tangannya bergetar. Salah satunya menggenggam handuk kecil yang ia jatuhkan. Menyadari kehadirannya, gua dengan cepat menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan air mata yang entah kenapa mulai menetes.
Lian menyusul keluar dari bengkel, berdiri tepat di sisi pria itu. Nggak lama, Lian melangkah mendekat ke arah mobil dan masuk.
“Udah siap?” Tanya Lian lirih.
Gua menggelengkan kepala; rasanya mental gua masih belum siap.
“Oh okay…” Balas Lian, lalu kembali keluar.
Lian dan Pria itu lalu kembali terlibat obrolan. Obrolan yang nggak lagi bisa gua dengar karena Lian sudah memutuskan panggilan telepon yang sebelumnya terus tersambung.
Pria itu memberi tepukan di bahu Lian sebelum ia masuk ke dalam bengkel dan Lian kembali ke mobil.
Nggak ada kata atau kalimat apapun yang terlontar dari mulut Lian. Ia hanya menggenggam tangan gua dan melajukan mobil, pergi dari bengkel tersebut. Membiarkan keheningan menyelimuti. Kadang, dengan diam kita bisa lebih memahami sesuatu lebih dari apapun.
Hingga kami tiba di rumah, kami berdua masih nggak saling bicara. Sepertinya Lian memang senagaja membiarkan gua tenggelam dalam diam agar bisa menimbang dan memikirkan langkah selanjutnya.
“Kalau kamu udah siap ketemu dia, bilang ya…” Ucap Lian sambil perlahan melepaskan genggamannya, saat gua bersiap keluar dari mobil.
“Iya…” Jawab gua pelan.
Tepat sebelum gua masuk ke dalam rumah. Lian menyusul gua dan memanggil nama gua; “Fir…”
Gua berbalik dan menatapnya.
Lian kembali menggenggam tangan gua dan berbisik pelan; “Inget ya, Fir… Apapun yang terjadi ada aku di sini…”
Langsung terasa kelegaan yang luar biasa di dalam hati. Ketakukan gua akan nggak diakui, sementara sirna. Gua tersenyum dan mengangguk pelan. Lalu berbalik dan masuk ke dalam rumah.
Butuh waktu dua hari untuk gua mempersiapkan mental bertemu dengan pria itu.
Lian berdiri, bersandar para body mobilnya di depan rumah. Sementara, gua masih berada di balik gerbang menatapnya menghabiskan rokok yang kemudian puntung dibuang sembarangan di dalam got.
“Siap?” Tanyanya sambil tersenyum.
Gua mengangguk penuh keyakinan.
Kurang lebih satu jam berikutnya, kami berdua sudah berada kembali di area depan bengkel pria itu. Seperti kemarin, Lian memarkir mobilnya tepat di sisi jalan di seberang pintu bengkel. Kali ini, ia langsung mematikan mesin mobilnya, takut suara mesin mengganggu warga sekitar.
“Mau aku yang masuk duluan?” Tanyanya seraya menunjuk ke arah bengkel.
“Iya…” Gua mengangguk pelan. Entah kenapa, begitu tiba di sini keberanian gua seakan kembali menciut.
Lian melepaskan genggaman tangannya, keluar dari mobil dan mulai menyeberangi jalan menuju ke arah pintu masuk bengkel. Sementara, gua memberanikan diri keluar walau hanya berdiri dan menunggu sambil bersandar di sisi mobil.
Nggak berselang lama, Lian kembali keluar. Kali ini bersama pria itu. Pria yang kini terlihat lebih rapi dari hari saat pertama gua melihatnya. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna biru muda dengan celana bahan dan sandal selop hitam yang mengkilat.
Seketika gua langsung kembali masuk ke dalam mobil. Sementara terlihat pria itu masih berbincang dengan Lian. Dan tiba-tiba ia datang.
Mobil terasa semakin sempit, gua menunduk, dari balik jendela gua melirik dan mendapati pria itu tengah melangkah pelan ke arah mobil terparkir. Detik berikutnya, kaca pintu mobil sisi pengemudi diketuk pelan.
Gua nggak langsung membukanya.
Jantung terasa seperti mau copot, tangan gua bergetar hebat. Gua lalu memejamkan kedua mata sejenak sambil berusaha mengatur napas.
Ketukan di jendela mobil kembali terdengar, namun kini ketukannya penuh keraguan.
Perlahan, Gua menurunkan kaca jendela.
Pria itu berdiri di sana. Wajahnya penuh dengan kerutan, ia terlihat lebih tua dari yang gua lihat sekilas kemarin. Lebih kurus, lebih gelap, tapi... matanya, entah kenapa terasa sangat familiar. Ia punya mata yang sama dengan gua.
“Fira...” Ia menyebut nama gua dengan suara serak namun lirih.
Suara yang bikin tenggorokan gua seperti tercekat. Gua menatap bokap; pria yang nggak pernah gua kenali tapi ternyata separuh wajah gua mirip dengannya.
“Aku... aku nggak tau harus ngomong apa…” Ucap gua, pelan dan lirih, nyaris berbisik, tanpa berani menatap wajahnya.
Ia menunduk; “Boleh saya masuk?” Tanyanya seraya menunjuk ke arah pintu mobil.
Gua mengangguk, pria itu membuka pintu mobil sisi pengemudi lalu masuk dan duduk. Sesaat ia memandangi interior mobil lalu menatap kosong ke depan.
“Saya juga nggak tahu harus mulai dari mana…” Ucapnya tanpa menatap ke arah gua. “…Tapi pertama-tama saya mau minta maaf. Karena saya pergi….” Kalimatnya terhenti.
Terlihat dari pantulan kaca spion, kalau kedua matanya mulai basah.
“… Maaf juga karena saya nggak buat kamu, nggak ada waktu kamu demam, nggak ada waktu kamu ulang tahun…”
“…”
“… Saya rasanya memang nggak pantas jadi ayah. Tapi, kalau Fira butuh wali, saya akan datang. Bukan, bukan karena kewajiban. Tapi, karena saya mau sekali aja dalam hidup ini berguna buat Fira…” Tambahnya.
Kini air mata sudah membasahi pipinya. Sementara, gua mencoba untuk terus bertahan; menguatkan diri. Gua meraih beberapa lembar tisu dan menyodorkannya.
Gua terdiam.
“Aku nggak pernah marah…” Ucap gua pelan. “Aku cuma... bingung. Kenapa orang yang harusnya sayang, justru pergi….”
Ia menutup matanya. Air mata jatuh. Kali ini ia langsung seka dengan menggunakan tisu.
“Saya bisa jelaskan, kalau Fira mau dengar…” Jawabnya.
Gua nggak langsung menjawab. Hanya menatap ke luar melalui jendela, melihat ke arah Lian yang tengah asik berdiri dan berbincang dengan salah satu pria yang sepertinya montir di bengkel sambil merokok.
“Dulu saya dan Mamah-mu punya kehidupan yang mapan. Kehidupan yang terjamin. Saya punya beberapa showroom dan bengkel mobil. Lalu, tiba-tiba semua berubah. Showroom dan bengkel bangkrut karena saya ditipu karyawan. Ana; Mamahmu jelas marah. Dan bodohnya... saya justru pergi. Saya pikir, dengan pergi, saya bisa menyelamatkan kalian dari hidup susah...”
“Tapi salah kan?” Tanya gua.
“Iya…”
Lalu hening sesaat.
Kemudian ia melanjutkan bicara; “Kalau boleh... saya mau mulai lagi dari awal. Bukan, bukan sebagai suaminya Ana. Tapi, sebagai Papah kamu…”
“…”
“… Nggak, saya nggak akan berusaha memperbaiki masa lalu. Tapi mungkin... kalau Fira izinkan, saya bisa menemani kamu di masa depan…”
Gua menggeleng pelan.
“Aku udah terbiasa tanpa ayah. Aku punya dia…” Jawab gua seraya menunjuk ke luar ke arah Lian.
Ia mengangguk pelan. “Baiklah kalau begitu… Gapapa…” Jawabnya seraya bersiap keluar.
Namun dengan cepat gua meraih tangannya. Tangan yang nggak pernah ada untuk memberikan gua pelukan saat menangis dulu. Tangan yang nggak pernah menggenggam tangan gua untuk mengantar pergi ke sekolah dasar.
Tapi, nggak ada kata-kata yang terucap. Gua hanya terdiam.
Ia tersenyum dan menepuk pelan punggung tangan gua dan bicara; “Gapapa, Fira… Gapapa, Saya akan tetap datang untuk menjadi wali pernikahan kamu”
Begitu ia turun dari mobil, gua ikut menyusulnya lalu mendekat dan berdiri tepat di hadapannya.
Tak ada pelukan. Tak ada tangisan histeris.
Hanya dua orang asing yang ternyata punya darah yang sama, berdiri saling menatap, dan sama-sama tahu: mereka terlambat, tapi belum benar-benar selesai.
Gua terus menatap wajahnya dengan mata yang mulai basah.
“Maaf, Aku belum bisa panggil kamu 'Papah'…” Ucap gua lirih.
“Nggak apa-apa. Kamu bisa panggil saya Pak Wahyu atau mungkin Pak Dimas, Pilih aja mana yang kamu suka…” Jawabnya.
Gua mengangguk.
Dan untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, gua tahu seperti apa rasanya bicara dengan sosok seorang ayah.
—
Siang itu, hujan turun pelan. Nggak deras, tapi cukup untuk membuat suasana jalan Jakarta yang sudah cukup lengang karena PSBB jadi lebih sendu. Di dalam mobil, Lian hanya terdiam sambil fokus mengemudi. Sesekali, ia menoleh dan tersenyum seraya mencolek dagu gua.
“Laper nggak? Mau makan apa cantik?…”
Gua tersenyum, nggak tahan mendengar rayuannya.
“Apaan sih…”
“Mau makan apa?” Tanyanya lagi.
“Nasi goreng? boleh?” Gua meminta.
“Boleh…”
Beberapa saat berikutnya, kami sudah berada di salah satu resto yang berada di Mall. Menikmati porsi nasi goreng dengan ditemani suara riuh pelanggan lain dan samar lagu top fourty yang diputar pihak resto.
Gua menatap Lian yang baru saja selesai dengan porsi nasi goreng miliknya, mengecap bibirnya, terlihat gelisah karena nggak tahan hendak merokok. Gua meletakkan sendok dan garpu terbalik lalu berhenti makan.
“Udah yuk…” Balas gua kemudian menghabiskan air minum dalam botol kemasan.
“Lho kok nggak diabisin…”
“Gapapa, udah kenyang…” Jawab gua, berbohong.
Setelah Lian menyelesaikan pembayaran, gua sengaja mengajaknya ke salah satu kedai kopi yang punya lokasi outdoor agar ia bisa merokok.
Benar saja tebakan gua, begitu tiba di teras kedai kopi, Lian langsung mengeluarkan bungkusan rokok, mengambil sebatang dan mulai menyulutnya.
“Nggak enak ya kalo abis makan nggak ngerokok?” Tanya gua seraya menatap dan tersenyum.
“Iya… Hehehe…” Ia terkekeh. “… Gimana udah lega?” Taambahnya, merujuk ke momen pertemuan gua dengan Bokap tadi.
Gua mengangguk pelan; “Udah…”
“… Cuma masih belum bisa menerima aja….” Gua menambahkan. Ya coba bayangkan aja, puluhan tahun hidup tanpa sosok seorang ayah, lalu secara tiba-tiba jadi punya. Rasanya pasti aneh.
“Gapapa, santai aja… anggap aja dapet kerabat baru…” Balasnya.
Malam menjelang dengan cepat. Kini kami berdua sudah berada di depan rumah. Lian menghentikan mobilnya tanpa mematikan mesin.
“Lho, nggak mau mampir?” Tanyanya.
Lian menggeleng, lalu tersenyum.
“Kenapa?” Tanya gua lagi.
“Gapapa, biar kamu punya waktu sendiri…” Jawabnya. Ia lalu mengambil bungkusan plastik hitam yang sejak tadi berada di kursi penumpang bagian belakang. Dan menyerahkannya ke gua.
“Apaan nih?” Tanya gua begitu menerima bungkusan plastik hitam yang sedikit kotor dan penuh sisa oli.
“Surat. Kalau kamu siap, bacalah. Nggak sekarang juga nggak apa-apa…” Jawabnya dengan lemah lembut, yang lantas gua respon dengan anggukan kepala.
Ia memberikan kecupan lembut di dahi sebelum gua turun dari mobil lalu pergi.
Begitu berada di dalam kamar, gue berdiri di depan meja belajar. Lampu kamar redup, dan suara dengan AC yang menderu karena baru saja dinyalakan. Gua langsung membuka bungkusan plastik dan menuang isinya di atas meja belajar. Terlihat bundel surat yang diikat rapi dengan tali rafia tipis yang warnanya telah pudar. Kertasnya menguning, beberapa sudutnya sobek, ada noda seperti bekas kopi di salah satu amplop.
Gua meraih salah satu amplop dan membukanya perlahan. Seketika terasa seolah waktu berjalan mundur saat gua melihat di sisi kanan lembaran tertulis tanggal dengan tinta yang mulai memudar.
Quote:
Nak, hari ini kamu ulang tahun ke-6. Papah nggak tahu kamu tiup lilin pakai kue rasa apa, atau kamu pakai baju warna apa hari ini. Tapi Papah tahu, kamu pasti cantik, dan senyummu pasti bikin siapa pun yang lihat jadi bahagia.
Papah minta maaf nggak bisa ada di sana. Papah… gagal. Papah takut kamu dan mamah susah karena papah. Jadi papah pergi. Tapi papah mikirin kamu setiap hari, Nak. Kamu selalu ada di hati Papah. Selamat Ulang tahun Firaku sayang…
Papah minta maaf nggak bisa ada di sana. Papah… gagal. Papah takut kamu dan mamah susah karena papah. Jadi papah pergi. Tapi papah mikirin kamu setiap hari, Nak. Kamu selalu ada di hati Papah. Selamat Ulang tahun Firaku sayang…
Gua meraih asal amplop lain, membuka dan membacanya;
Quote:
Selamat Ulang Tahun Firaku sayang…
Hari ini kamu ulang tahun ke-12. Papah nggak tahu kamu suka apa sekarang. Apakah kamu masih suka menari? atau sekarang suka menggambar? Musik? Matematika Atau kamu malah jadi anak yang pendiam?
Setiap hari Papah menyesel. Papah simpan foto kamu waktu umur lima tahun di dompet. Wajah kamu mungkin sudah berubah, tapi di kepala Papah kamu selalu anak kecil yang rambutnya diikat dua dan tertawa sambil menari di ruang tamu.
Maaf, ya, Nak. Papah belum bisa pulang. Papah belum punya cukup keberanian.
Hari ini kamu ulang tahun ke-12. Papah nggak tahu kamu suka apa sekarang. Apakah kamu masih suka menari? atau sekarang suka menggambar? Musik? Matematika Atau kamu malah jadi anak yang pendiam?
Setiap hari Papah menyesel. Papah simpan foto kamu waktu umur lima tahun di dompet. Wajah kamu mungkin sudah berubah, tapi di kepala Papah kamu selalu anak kecil yang rambutnya diikat dua dan tertawa sambil menari di ruang tamu.
Maaf, ya, Nak. Papah belum bisa pulang. Papah belum punya cukup keberanian.
Lalu beralih ke amplop lainnya;
Quote:
Hari ini kamu resmi jadi dewasa. Kamu mungkin sudah lupa wajah Papah. Dan kamu pasti benci Papah. Tak apa, Papah pantas dibenci.
Tapi Papah tetap mau bilang: Selamat ulang tahun, Firaku sayang…
Kamu tahu, kamu adalah alasan Papah terus hidup, terus kerja, walau sendirian dan nggak punya siapa-siapa. Karena setiap ulang tahunmu, Papah selalu nulis surat, walaupun nggak pernah berani ngirim.
Tapi Papah tetap mau bilang: Selamat ulang tahun, Firaku sayang…
Kamu tahu, kamu adalah alasan Papah terus hidup, terus kerja, walau sendirian dan nggak punya siapa-siapa. Karena setiap ulang tahunmu, Papah selalu nulis surat, walaupun nggak pernah berani ngirim.
Tanpa terasa air mata mulai jatuh membasahi kertas usang yang mengunging. Gua terduduk di lantai di sisi ranjang, nggak lagi sanggup melanjutkan membaca surat-surat tersebut lalu menangis keras-keras.
Gua meraih ponsel dan menghubungi Lian. Tanpa bicara, hanya terisak.
“Menangislah sayang… Menangislah”Ucapnya lirih.
Tangisan gua semakin keras begitu mendengar ucapan Lian barusan.
Malam itu, gua akhirnya sadar, gua memang belum punya seorang ayah seperti yang gua impikan waktu kecil. Tapi gua juga tahu, mulai hari itu, luka lama nggak harus dibiarkan terus berdarah. Ada pilihan untuk mengobatinya. Pelan-pelan. Bareng orang-orang yang nggak pernah pergi.
—
The Corrs - All The Love In The World
I'm not looking for someone to talk to
I've got my friend, I'm more than O.K.
I've got more than a girl could wish for
I live my dreams but it's not all they say
Still I believe (I'm missing) I'm missing something real
I need someone who really sees me...
(Don't wanna wake...) Don't wanna wake up alone anymore
Still believing you'll walk through my door
All I need is to know it's for sure
Then I'll give... all the love in the world
I've often wondered if love's an illusion
Just to get you through the loneliest days
I can't criticize it
I have no hesitation
My imagination just stole me away
(Still...) Still I believe
(I'm missing) I'm missing something real
I need someone who really sees me...
(Don't wanna wake...) Don't wanna wake up alone anymore
Still believing you'll walk through my door
All I need is to know it's for sure
Then I'll give... all the love in the world
Love's for a lifetime not for a moment
So how could I throw it away
Yeah I'm only human
And nights grow colder
With no-one to love me that way
Yeah I need someone who really sees me...
(Don't wanna wake...) And i won't wake up alone anymore
Still believing you'll walk through my door
You'll reach for me and I'll know it's for sure
Then I'll give all the love in the world
(Don't wanna wake up alone anymore...)
delet3 dan 47 lainnya memberi reputasi
48
Kutip
Balas
Tutup