Kaskus

Story

blank.codeAvatar border
TS
blank.code
Una In Perpetuum [ Kumpulan Cerita Pendek ]
Assalamualaikum...

Hallo, Gue Andra. Ijinkan gue kali ini untuk berbagi karya bertajuk "Una In Perpetuum" yaitu sebuah antologi cerita pendek karya gue yang sebelumnya belum pernah gue publish di media manapun. 

Nantinya, Cerpen di dalam antologi tersebut akan di update  setiap minggu. Bagi kengkawan kaskuser Sfth semua, gue akan sangat berbahagia jika nantinya di tiap tulisan gue tersebut disilakan untuk menuankan kritik, saran serta komentar apapun untuk gue terus meningkatkan kemampuan literasi gue khususnya dalam membuat karya Cerita Pendek.

Warm Regards

Andraemoticon-shakehand emoticon-coffee




Quote:
Diubah oleh blank.code 29-05-2025 00:41
S E N S O R3Avatar border
evywahyuniAvatar border
tiokyapcingAvatar border
tiokyapcing dan 5 lainnya memberi reputasi
4
3.9K
21
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
blank.codeAvatar border
TS
blank.code
#17
Pembunuh Bayangan

Zorka Milanović selalu membuat kopi pada pukul tiga sore. Ritual ini dimulai tepat tiga tahun, dua bulan, dan tujuh hari yang lalu—hari pertama ia pindah ke apartemen ini. Hari pertama ia mulai bermimpi tentang seorang pria berambut gelap yang wajahnya tidak pernah bisa ia ingat ketika bangun.

Hari ini, saat ia menuangkan air panas ke dalam cangkir keramik putih dengan retakan halus di bagian bibir, bayangan di dinding dapur bergerak dengan cara yang tidak seharusnya. Bayangan itu meniru gerakannya, tapi dengan delay dua detik. Seolah realitas membutuhkan waktu untuk mengejar dirinya.

"Aneh," gumam Zorka, sambil mengaduk kopinya searah jarum jam sebanyak tujuh kali. Selalu tujuh kali, tidak lebih, tidak kurang. Ia tidak tahu mengapa harus tujuh. Angka itu datang begitu saja, seperti lagu yang tiba-tiba terngiang tanpa alasan.

Telepon berdering tepat pada adukan ketujuh.

"Zorka?" Suara Dimitri terdengar berbeda. Lebih tua. Lebih lelah. "Aku perlu bicara denganmu. Tentang mimpi-mimpimu."

Zorka hampir menjatuhkan cangkirnya. Dimitri tidak pernah tahu tentang mimpi-mimpinya. Ia tidak pernah bercerita tentang mimpi itu kepada siapa pun.

"Mimpi apa?"

"Mimpi tentang aku. Tentang kita. Tentang hal-hal yang tidak pernah terjadi tapi terasa sangat nyata."

Jeda panjang. Zorka mendengar suara napas Dimitri yang tidak teratur.

"Datanglah ke apartemenku," katanya. "Sekarang. Ada yang perlu kutunjukkan padamu."

Apartemen Dimitri persis seperti dalam mimpi-mimpinya. Sofa kulit cokelat yang retak, meja kaca dengan noda kopi melingkar, dan foto hitam-putih seorang wanita tua di atas rak buku. Wanita yang dalam mimpinya selalu memanggil namanya dengan suara lembut.

"Siapa wanita itu?" tanya Zorka sambil menunjuk foto.

"Nenekku. Dia meninggal lima tahun lalu." Dimitri duduk di tepi sofa, tangannya bergetar saat mengambil rokok. "Atau setidaknya, itulah yang kuingat."

"Maksudmu?"

"Zorka, berapa lama kita kenal?"

"Tiga tahun."

"Dan bagaimana kita bertemu?"

"Di perpustakaan. Saat hujan."

Dimitri menghela napas panjang. "Itu yang kita berdua ingat. Tapi kemarin, aku menemukan ini."

Ia memberikan sebuah foto kepada Zorka. Foto mereka berdua, duduk di kafe yang tidak pernah ia ingat kunjungi. Dalam foto itu, mereka berdua terlihat lebih muda, dan Zorka memakai cincin di jari manisnya.

"Aku tidak pernah punya cincin," kata Zorka pelan.

"Dan aku tidak pernah pergi ke kafe ini. Tapi foto ini ada di dalam buku yang kubeli kemarin. Buku tentang gangguan memori."

Zorka membalik foto itu. Di belakangnya tertulis dengan tinta biru: *"Elena & Alexei - Hari terakhir kita sebagai diri kita sendiri - 15 Maret 2019"*

"Elena," bisik Zorka. "Kenapa nama itu terasa familiar?"

"Karena itu namamu. Nama aslimu."

Dimitri berdiri dan berjalan ke jendela. Di luar, hujan mulai turun seperti tiga tahun lalu. Seperti dalam mimpi-mimpi mereka.

"Aku bukan Dimitri Novak," katanya tanpa menoleh. "Aku Alexei Petrov. Dan kamu bukan Zorka Milanović. Kamu Elena Vasquez."

"Bagaimana kamu tahu?"

"Karena kemarin, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku bermimpi tentang masa lalu. Tentang siapa kita sebenarnya."

Lima tahun lalu, di sebuah klinik psikiatri di pinggiran kota, dua orang duduk di ruang tunggu. Pria berusia tiga puluh tahun dengan mata kosong dan wanita berusia dua puluh delapan dengan luka sayatan di pergelangan tangannya.

"Pasien nomor 47 dan 23," panggil seorang suster. "Dokter siap menemui kalian."

Di dalam ruangan putih steril, Dr. Kazimir—pria tua dengan kacamata tebal—menatap mereka berdua dengan senyum yang tidak mencapai mata.*

"Kalian berdua mengalami trauma berat," katanya sambil membuka berkas. "Elena, kamu kehilangan seluruh keluargamu dalam kecelakaan yang kamu sebabkan. Alexei, kamu menyaksikan kematian istri dan anakmu karena kelalaianmu."

Elena menatap lantai. Alexei menatap tangan-tangannya yang berdarah.

"Aku menawarkan kalian pilihan," lanjut Dr. Kazimir. "Hidup dengan rasa bersalah yang akan menghancurkan kalian, atau... mulai hidup sebagai orang lain. Orang yang tidak pernah melakukan kesalahan itu."

"Maksud Anda?"

"Terapi eksperimental. Kami akan menghapus ingatan traumatis kalian dan memberikan identitas baru. Kalian akan hidup sebagai pasangan yang saling mencintai, dalam realitas yang kami ciptakan khusus untuk kalian."

Elena mengangkat wajahnya. "Berapa lama?"

"Selama yang kalian inginkan. Mungkin selamanya."

"Dan jika kami ingin kembali?"

Dr. Kazimir tersenyum. "Kalian tidak akan pernah ingin kembali. Siapa yang mau kembali ke kehidupan yang penuh penyesalan ketika bisa hidup dalam kebahagiaan, meski palsu?"

"Itu hanya mimpi," kata Zorka, tapi suaranya tidak yakin.

"Benarkah?" Dimitri—Alexei—mengeluarkan sebuah surat dari sakunya. "Ini tagihan listrik. Atas nama Elena Vasquez. Alamat apartemen ini."

Zorka merebut surat itu. Tangannya bergetar. "Ini tidak mungkin."

"Dan ini." Alexei menunjukkan sebuah kunci. "Kunci apartemenmu. Yang selalu ada di sakuku, meski aku tidak pernah ingat kapan kamu memberikannya."

Zorka merasa dunia berputar. "Jadi... kita bukan pasangan sungguhan?"

"Kita pasangan dalam simulasi. Dalam terapi yang dirancang untuk membuat kita lupa tentang siapa kita sebenarnya."

"Tapi perasaan ini... perasaan cinta ini..."

"Juga bagian dari terapi. Dr. Kazimir menciptakan skenario di mana kita saling mencintai, sehingga kita tidak akan mempertanyakan kehidupan palsu ini."

Alexei duduk di sebelah Zorka. "Tapi ada yang salah dengan sistem mereka. Mimpi-mimpi tentang masa lalu mulai muncul. Ingatan asli mulai bocor."

"Lalu apa yang harus kita lakukan?"

"Kita harus memilih. Tetap hidup dalam kebohongan yang nyaman, atau kembali ke kenyataan yang menyakitkan."

Zorka menatap foto di meja. Foto nenek Alexei yang mungkin tidak pernah ada. "Bagaimana jika... bagaimana jika kehidupan yang kita jalani sekarang juga nyata? Bagaimana jika cinta yang kita rasakan tidak peduli apakah dimulai dari terapi atau tidak?"

"Maksudmu?"

"Tiga tahun terakhir ini... kita memang hidup. Kita memang merasakan kebahagiaan. Kita memang saling mencintai. Apakah itu tidak cukup?"

Alexei terdiam panjang. "Tapi kita tidak tahu siapa diri kita yang sebenarnya."

"Siapa yang peduli dengan siapa kita dahulu? Yang penting adalah siapa kita sekarang."

Tiba-tiba, pintu apartemen terbuka. Dr. Kazimir masuk dengan dua orang berjas putih di belakangnya.

"Sesi terapi kalian berakhir," katanya dengan suara dingin yang sangat berbeda dari mimpi mereka. "Kalian sudah mulai mengingat. Itu berbahaya."

"Berbahaya untuk siapa?" tanya Elena.

"Untuk kalian. Dan untuk kami."

Salah satu pria berjas putih mengeluarkan jarum suntik. "Ini akan membuat kalian tidur. Ketika bangun, kalian akan menjadi pasien baru lagi. Dengan identitas baru lagi."

"Berapa kali kalian sudah melakukan ini?" tanya Alexei.

Dr. Kazimir tersenyum. "Ini yang ketiga kalinya untuk kalian berdua. Sebelumnya kalian adalah Maria dan Viktor, lalu Anna dan Pavel. Setiap kali kalian mulai mengingat, kami reset ulang."

Elena merasa mual. "Jadi... selama ini..."

"Selama ini kalian adalah kelinci percobaan untuk terapi penghapusan memori. Kalian tidak pernah keluar dari klinik ini."

"Tapi apartemen kami..."

"Bagian dari simulasi. Seperti perpustakaan tempat kalian 'pertama bertemu'. Seperti taman di belakang gedung. Seperti seluruh dunia yang kalian anggap nyata."

Alexei berdiri perlahan. "Lalu bagaimana kami bisa sadar?"

"Karena cinta sejati tidak bisa dihapus sepenuhnya," kata Dr. Kazimir. "Betapa pun kami coba, ada sesuatu di dalam jiwa manusia yang selalu ingat siapa yang benar-benar mereka cintai."

Elena menatap Alexei. "Jadi... kita benar-benar saling mencintai? Sejak awal?"

"Kalian saling mencintai bahkan sebelum trauma itu terjadi. Kalian adalah pasangan sejati yang memilih masuk ke program ini bersama-sama, berharap bisa melupakan rasa bersalah kalian."

"Lalu mengapa kalian tidak membiarkan kami hidup bahagia?"

"Karena kebahagiaan palsu tidak menguntungkan secara komersial. Tapi trauma berulang yang membutuhkan terapi terus-menerus... itu yang menghasilkan uang."

Pria berjas putih semakin mendekat dengan jarum suntiknya.

"Tunggu," kata Elena. "Aku ingin tahu satu hal. Apa yang sebenarnya terjadi pada kami? Trauma apa yang membuat kami memilih menghapus ingatan?"

Dr. Kazimir ragu sejenak. "Kalian... kalian kehilangan anak kalian. Seorang putri kecil berusia lima tahun. Dalam kecelakaan mobil yang kalian sebabkan karena bertengkar di dalam mobil."

Elena dan Alexei saling menatap. Tiba-tiba, semua potongan puzzle jatuh ke tempatnya. Ritual kopi jam tiga sore—jam pulang sekolah putri mereka. Menghitung tujuh kali saat mengaduk—umur putri mereka seharusnya sekarang. Mimpi tentang seorang pria berambut gelap—Alexei yang berduka.

"Mira," bisik Elena. "Namanya Mira."

"Dia suka kue cokelat," tambah Alexei dengan suara bergetar. "Dan boneka beruang kuning."

"Kalian mulai mengingat," kata Dr. Kazimir gelisah. "Ini saatnya untuk reset."

Tapi Elena dan Alexei sudah saling bergandengan tangan.

"Tidak," kata Elena. "Kami tidak akan lari lagi."

"Rasa sakit itu akan menghancurkan kalian."

"Mungkin. Tapi rasa sakit itu juga bagian dari cinta kami kepada Mira. Jika kami melupakan rasa sakit, kami juga melupakan dia."

Alexei mengangguk. "Kami ingin keluar. Kami ingin mengingat putri kami. Kami ingin hidup dengan ingatan lengkap, baik yang indah maupun yang menyakitkan."

Dr. Kazimir menggelengkan kepala. "Kalian tidak mengerti. Di luar sana, kalian adalah pembunuh. Kalian membunuh anak kalian sendiri."

"Tapi kami tidak berniat membunuhnya," kata Elena. "Itu kecelakaan."

"Masyarakat tidak akan memaafkan."

"Maka kami akan hidup dengan tidak dimaafkan. Tapi kami akan hidup sebagai diri kami sendiri."

Pria berjas putih maju dengan jarum suntik, tapi Elena bergerak lebih cepat. Dengan gerakan yang tidak ia sadari ia kuasai, ia melucuti jarum suntik itu dan mematahkan leher pria tersebut.

"Muscle memory," gumam Dr. Kazimir. "Kalian memang mantan tentara. Itu sebabnya kalian bertahan hidup saat kecelakaan itu."

Elena menatap tangannya sendiri dengan horor. "Aku... aku membunuh lagi."

"Untuk melindungi kita," kata Alexei. "Untuk melindungi hak kita mengingat putri kita."

Dr. Kazimir mundur ke sudut ruangan. "Kalian tidak bisa keluar. Sistem keamanan akan menghentikan kalian."

"Maka kami akan melawan sistem itu."

Elena dan Alexei berjalan menuju pintu. Tapi saat mereka membuka pintu, yang mereka temukan bukanlah koridor klinik.

Yang mereka temukan adalah apartemen Zorka.

"Ini tidak mungkin," bisik Alexei.

"Kecuali..." Elena menatap Dr. Kazimir. "Kecuali ini juga bagian dari terapi. Kecuali percakapan ini juga direncanakan untuk membuat kami memilih tetap di sini."

Dr. Kazimir tersenyum. "Pintar sekali, Elena. Atau haruskah aku memanggil mu Zorka?"

"Jadi tidak ada yang nyata?"

"Oh, ada. Cinta kalian nyata. Rasa bersalah kalian nyata. Dan pilihan kalian untuk tetap di sini atau keluar ke dunia nyata... itu juga nyata."

"Lalu bagaimana kami tahu mana yang nyata dan mana yang palsu?"

"Kalian tidak akan pernah tahu. Itulah intinya."

Elena menatap cangkir kopi yang masih setengah penuh di atas meja. Kopi yang ia buat di apartemen yang mungkin nyata, mungkin palsu, dalam kehidupan yang mungkin nyata, mungkin simulasi.

"Alexei," katanya pelan.

"Ya?"

"Apakah kamu masih mencintaiku, tidak peduli apakah cinta ini nyata atau hasil rekayasa?"

"Ya."

"Apakah kamu ingin mengingat Mira, meski itu akan menyakiti kita selamanya?"

"Ya."

Elena mengambil cangkir kopi itu dan meminumnya hingga habis. Kopi dingin dengan rasa pahit yang menusuk.

"Maka kita akan memilih mengingat. Memilih merasa sakit. Memilih hidup dengan konsekuensi."

Dunia di sekitar mereka mulai bergetar. Dinding-dinding apartemen mulai retak. Suara sirine terdengar dari jauh.

"Sistem akan reset dalam sepuluh detik," kata suara mekanik dari langit-langit.

Elena dan Alexei saling bergandengan tangan.

"Apapun yang terjadi," kata Elena, "aku akan mencarimu di kehidupan berikutnya."

"Dan aku akan mengenalimu," jawab Alexei. "Dengan atau tanpa ingatan."

Hitungan mundur dimulai.

Sepuluh.

"Aku mencintaimu, Elena."

Sembilan.

"Aku mencintaimu, Alexei."

Delapan.

"Maafkan aku, Mira."

Tujuh.

Dunia menjadi putih.

Zorka Milanović bangun di tempat tidurnya dengan keringat dingin. Jam di meja nakas menunjukkan pukul 02:47. Ia bermimpi aneh lagi. Mimpi tentang seorang pria bernama Alexei dan seorang anak perempuan bernama Mira.

Tapi siapa mereka?

Ia bangkit dan berjalan ke dapur. Tanpa sadar, ia mulai membuat kopi meski masih dini hari. Saat mengaduk kopi, ia menghitung: satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh.

Kenapa selalu tujuh?

Di dinding dapur, bayangannya bergerak dengan delay dua detik. Seolah realitas membutuhkan waktu untuk mengejar dirinya.

Atau seolah ia sedang mengejar realitas yang terus menghindar.

Telepon berdering.

"Zorka?" Suara yang familiar tapi asing. "Aku bermimpi tentangmu lagi."

"Siapa ini?"

"Aku... aku tidak tahu. Tapi aku merasa kita pernah kenal. Sangat kenal."

Zorka merasakan air mata mengalir di pipinya tanpa alasan. "Aku... aku juga merasa begitu."

"Bisakah kita bertemu?"

"Di mana?"

"Di perpustakaan. Saat hujan."

Zorka melihat ke luar jendela. Langit mulai mendung.

"Baiklah," katanya. "Aku akan ke sana."

Ia mematikan telepon dan menatap cangkir kopinya. Kopi yang pahit, tanpa gula, seperti hidup yang penuh dengan pertanyaan tanpa jawaban.

Tapi mungkin, pikirnya sambil memakai jaket, ada beberapa pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Ada beberapa kebenaran yang cukup dirasakan.

Di luar, hujan mulai turun.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Zorka tersenyum.

Di sebuah klinik psikiatri di pinggiran kota, Dr. Kazimir menatap dua monitor yang menampilkan gelombang otak pasien nomor 47 dan 23. Gelombang yang menunjukkan mereka sedang bermimpi.

Mimpi yang sama.

Mimpi tentang bertemu lagi.

"Berapa lama lagi?" tanya asistennya.

"Selama mereka mau," jawab Dr. Kazimir sambil tersenyum. "Cinta sejati adalah lingkaran tanpa akhir. Mereka akan terus mencari satu sama lain, dalam setiap simulasi, dalam setiap kehidupan, dalam setiap mimpi."

"Dan kita akan terus mengamati?"

"Kita akan terus belajar. Tentang cinta. Tentang memori. Tentang batas tipis antara kenyataan dan ilusi."

Di monitor, dua garis gelombang otak mulai sinkron.

Mereka bertemu lagi.

Dan lagi.

Dan lagi.

Selamanya.
Diubah oleh blank.code 29-05-2025 00:38
tiokyapcing
wintersldierz
wintersldierz dan tiokyapcing memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.