- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
kelinci.tosca dan 149 lainnya memberi reputasi
150
214.7K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#1112
007-J Before You Knew
Spoiler for 007-J Before You Knew:
Gua baru saja pulang dari sanggar dan langsung menuju ke kamar, mandi lalu berganti pakaian. Saat tengah mengambil camilan di kulkas, tanpa sengaja mata gua tertuju ke arah sink di dapur. Terlihat beberapa cangkir kotor yang belum di cuci. Gua mengernyitkan dahi dan menggumam sendiri; “Abis ada tamu?”
Dengan ice cream di tangan, gua menuju ke arah kamar Nyokap dan langsung membuka pintunya. Terlihat Nyokap tengah duduk di tepian ranjang sambil menggenggam album foto. Entah ia terlalu fokus atau sama sekali nggak berkonsentrasi karena nggak menyadari kehadiran gua yang terus masuk lalu mendekat.
“Abis ada tamu ya, Mah?”Tanya gua, kemudian duduk di sebelahnya.
Nyokap menoleh dan terlihat cukup terkejut dengan kehadiran gua. “Eh, kamu baru pulang?” Tanyanya.
“Lah, udah dari tadi… Mamah lagi apa sih?” Tanya gua lalu melirik ke arah lembaran album foto di tangannya. Rupanya ia tengah melihat-lihat foto-foto gua saat masih kecil, foto yang terpampang di lembaran album.
“Tumben ngeliatin foto-foto aku, kangen ya?” Gua menambahkan.
Nyokap tersenyum lalu mengangguk pelan.
“Abis ada tamu ya, Mah?” Tanya gua lagi.
Nyokap mengernyitkan dahinya, seakan bingung dengan pertanyaan gua. Mungkin ia bingung dari mana gua bisa tau.
“Itu aku liat ada bekas cangkir-cangkir di tempat cucian piring” Gua bicara, memberi petunjuk. Merujuk ke cangkir atau gelas khusus yang hanya dikeluarkan dan dipakai Nyokap saat ada tamu. Di hari biasa, cangkir dan gelas tersebut biasanya hanya nangkring di lemari dapur.
“Oh… iya tadi ada temen Mamah…” Jawabnya.
Hingga di momen ini belum ada kecurigaan akan jawaban Nyokap barusan. Ya walaupun tingkah lakunya sedikit nggak biasa, tapi buat gua masih di dalam batas kewajaran.
Setelahnya, hari-hari gua berjalan seperti biasa.
Kebanyakan gua berkuliah secara daring dari rumah. Walau sesekali harus datang ke kampus saat ada keperluan yang nggak bisa dilakukan online. Jadwal menari juga sudah dimulai kembali walau dengan protokol kesehatan yang super ketat. Kami di wajibkan untuk menjalani Swab test sebelum datang ke sanggar.
Begitu pula dengan Nyokap yang kini lebih banyak bekerja dari rumah dan hanya sekali dalam satu minggu pergi ke kantor.
Dengan begitu, kami berdua kini punya lebih banyak waktu bersama. Ngobrol, belajar memasak, nonton serial drama Korea dan banyak hal lain yang dulu hampir nggak pernah kami lalukan bersama.
Seminggu terakhir ini, sejak kejadian dia duduk di kamarnya sambil memandangi album foto, Nyokap sedikit berubah. Setiap obrolan kami, Nyokap selalu bicara tentang masa depan, tentang ia yang bakal sendirian saat gua menikah nanti. Nggak hanya itu saja, ia juga kerap mengumbar rasa sayangnya secara berlebihan. Ya di hari-hari biasanya ia memang menyayangi gua, tapi seminggu terakhir ini, semuanya terasa berbeda; terasa berlebihan.
“Iya, Maaah… Fira bakal ada di sini terus kok…” Jawab gua untuk kesekian kalinya.
—
‘Mas, nitip seblak merepotkan gk? 🤪’ Gua mengirim pesan ke Lian saat ia bilang akan bersiap ke sini, ke rumah.
‘Belinya di mana?’ Balasnya.
‘Di tmpt yg wktu itu lho, yg dket mcd’
‘Oh. Ok’
‘Pedes y 🌶️🌶️🌶️’
‘Iya, satu aja kan?’
‘Y klo Mas mau, beli 2 ✌🏻’
Hubungan gua dan Lian juga berjalan mulus. Ia kini mulai bisa mengatur waktunya untuk memberi kabar, atau hanya sekedar membalas pesan singkat dari gua. Nggak cuma itu aja, kadang ia juga sengaja meluangkan waktunya untuk menemui gua di waktu kerjanya yang padat. Ya seperti sabtu ini.
Gua dan Nyokap tengah asik menonton serial drama korea bertema kerajaan yang lucu dan seru. Sesekali kali tertawa bersama saat adegan yang mengocok perut, sesekali juga Nyokap mengumpat pelan saat melihat karakter favoritnya berlaku nggak sesuai harapan.
Ditengah serunya tontonan, terdengar suara deru mesin mobil yang sangat familiar. Gua berdiri dan bersiap keluar.
“Mau ke mana?” Tanya Nyokap.
“Itu, Mas Lian dateng…” Jawab gua seraya menunjuk ke arah luar dan bergegas.
“Ooh…” Jawab Nyokap dengan ekspresi datar, seakan nggak punya ketertarikan akan kehadiran pacar anaknya ini.
Gua berlari keluar menuju ke teras. Lian baru saja turun dari mobilnya, lalu tanpa kesulitan lagi membuka slot pagar dan masuk. Di tangannya terlihat plastik transparan yang sepertinya berisi seblak pesanan gua.
“Pedes kan?” Tanya gua begitu menerima plastik yang ia sodorkan.
“Iya, kayaknya” Lian menjawab tanpa menatap gua. Pandangannya terus ia arahkan ke pintu rumah.
Gua mengernyitkan dahi, ia nggak seperti biasanya. Excited dan penuh semangat saat bertemu.
“Dih, kok kayaknya sih…” Balas gua lantas masuk ke dalam.
Saat tengah mengambil mangkok di rak piring, gua berpaling ke arah kulkas yang pintunya memantulkan bayangan gua sendiri. Lalu, berpose. “Apa baju yang gue pake nggak menarik?” Gumam gua pelan. Menyesal karena nggak berganti pakaian dulu sesaat sebelum ia datang.
“Ah, bodo…” Gumam gua lagi dan kembali keluar.
Lian duduk di lantai teras rumah sambil menatap kosong ke arah lampu jalan di seberang rumah. Gua duduk di sebelahnya, lalu mulai membuka kemasan seblak, menuangnya ke mangkok yang baru gua ambil.
“Mamah ada kan?” Tiba-tiba ia bertanya seraya melirik ke arah carport di mana mobil sedan milik Nyokap terparkir.
“Ada…” Gua menjawab singkat. Lalu mulai mencoba porsi seblak yang dibelinya; Aaah… seger banget… Tapi, kurang pedes dikit…”
Gua mendongak dan menatapnya, sambil sesekali menyendok kuah seblak dan menyeruputnya.
“Ada apaan sih? tumben baru dateng udah nanyain Mamah?” Tanya gua.
Lian menggeleng pelan; “Gapapa, mau ngobrol aja…”
Gua kembali mengernyitkan dahi, penasaran. Nggak biasa-biasanya, ia punya niat untuk ngobrol sama Nyokap di saat baru saja bertemu dengan gua.
“Ngobrol apa?” Tanya gua.
“Mmm… Ya ngobrol santai aja…”
“Ooh… ada noh lagi nonton tv”
“Dia tau aku dateng?” Tanyanya lagi.
“Tau… siapa yang nggak tau sih? orang satu RT juga langsung tau kalo kamu dateng pake mobil berisik itu…” Jawab gua seraya menunjuk sedan biru miliknya yang terparkir tepat di depan rumah.
Tiba-tiba Lian berdiri dan bersiap masuk ke dalam rumah. Gua kembali mendongak dan menatapnya; bingung. ‘Pengen nyusul masuk ke dalam, tapi seblaknya nanggung’
Setelah beberapa suapan yang terburu-buru, gua lantas berdiri dan menyusulnya masuk ke dalam. Meninggalkan mangkok berisi porsi seblak milik gua di teras.
Di dalam ruang keluarga terlihat Lian sudah duduk di salah satu sofa. Posisinya berseberangan dengan Nyokap yang masih menggenggam remot televisi. Gua menatap mereka satu persatu; bergantian. Lalu bertanya; “Ngapain sih? serius banget?”
Nyokap menatap gua, kali ini pandangannya terlihat lebih serius ketimbang sebelumnya, lantas menepuk sisi sofa kosong di sebelah, memberikan kode agar gua duduk di sana. “Tunggu aku ambil seblak dulu…” Gumam gua, takut porsi seblak milik gua keburu disambar kucing. Namun, Nyokap dengan cepat menyebut nama gua; “Fira…” Dan kembail menepuk sisi sofa kosong di sebelah.
Gua yang masih pasang tampang bingung hanya bisa menuruti permintaan Nyokap; duduk di sofa di sebelahnya.
“Ada apaan sih?” Tanya gua ke Lian, tanpa suara, hanya menggerakkan mulut. Sesuatu yang kerap gua lakukan saat ada ucapan atau kalimat yang nggak perlu di dengar orang lain. Toh, Lian juga bisa membaca gerak bibir gua.
Lian nggak merespon. Gua beralih ke Nyokap; “Apaan sih?”
Alih-alih menjawab, Nyokap malah menatap ke arah Lian dan mengangguk pelan. Setelah beberapa saat barulah ia buka suara; “Lian mau…”
“Mau apa?” Tanya gua, memotong kalimatnya; Nggak sabar. Sambil terus memandang ke arah Nyokap dan Lian bergantian.
Lian menghela napas dalam-dalam lalu mulai buka suara. Ia lalu bercerita tentang kedatangannya minggu kemarin bersama Ibu. Tanpa sepengetahuan gua.
“Hah? Ngapain?” Tanya gua, semakin penasaran.
“Ngelamar kamu…” Lian menjawab cepat dengan ekspresi yang datar.
Kepala gua lalu mencoba memproses semuanya. Menyatukan semua informasi yang pernah gua lihat sebelumnya. Tentang Nyokap yang memandangi album foto gua, tentang pasangan cangkir kotor di tempat cucian piring dan beberapa hari terakhir di mana Nyokap terasa lebih dramatis.
Sesaat dunia terasa berhenti berputar dan hening. Yang terdengar hanya suara detak jam dinding dan deru pendingin kulkas. Rasanya campur aduk. Rasanya seperti mendapat hadiah ulang tahun yang kecepetan. Walau hadiahnya benar-benar gua inginkan, tapi entah kenapa gua tetap terkejut.
“What!?” Seru Gua lalu berdiri dan berpindah duduk ke sebelah Lian. “Serius Mas?” Tanya gua lagi, seraya memegang tangannya. Saat ini entah bagaimana ekspresi gua nampak di matanya. Wajah ini pasti memerah karena malu, senyum terkembang senang dan berkerut saking kagetnya.
Lian mengangguk, lalu menunjuk ke arah Nyokap; “Tapi, Mamah kamu masih belum bisa ngasih jawaban… Dan dia janji mau ngasih jawabannya minggu depan; sekarang”
‘Lho, yang mau dilamar kan aku, kenapa malah nanya Nyokap?’ batin gua.
“Tapi, kan…” Gua siap memprotes, namun Nyokapnya keburu memberikan kode dengan menempelkan telunjuknya di bibir seraya memandangi kami lama.
“Seperti yang sudah saya bilang minggu kemarin, Fira masih kuliah, Lian,” Nyokap bicara dengan nada suara yang sama sekali belum pernah gua dengar sebelumnya, pelan dan bergetar. “Masih banyak yang harus dia jalani. Hidup dia baru mulai. Kamu yakin kamu bisa menemani dia dengan itu semua?” Tambahnya.
Lian terlihat siap untuk memberi respon. Namun, lagi-lagi gua memotong pembicaraan mereka; “Mah, aku tahu aku belum selesai kuliah. Tapi aku juga tahu apa yang aku mau. Mas Lian nggak pernah nyuruh aku berhenti belajar. Justru dia yang terus dorong aku buat lanjut. Aku nggak akan berhenti kuliah, aku janji…”
“…”
“… Lagian kalian berdua juga aneh. Yang mau dilamar aku, yang mau jalanin kehidupan aku, kenapa kamu malah ngomong duluan ke Mamah?” Tanya gua ke Lian sambil pasang tampang galak.
Gua lalu beralih ke Nyokap; “… Mamah juga, kenapa sih nggak cerita. Paling nggak konsultasi lah ke Fira… Kan Fira yang bakal menjalani hidup kedepannya”
Lian mengangguk, lalu menggumam pelan; “Sorry…”
Kemudian ia mulai memberanikan diri menatap kedua mata Nyokap dan bicara; “Aku serius sama Fira, Tante. Bukan cuma karena aku cinta, tapi karena aku percaya sama dia. Aku mau jadi bagian dari perjalanan dia. Aku mau tumbuh bareng dia…”
Penasaran dengan respon balik Nyokap, gua menoleh dan menatapnya. Ia masih terdiam, lalu gua menyadari kalau ia mulai menangis.
“Mamah cuma takut kamu nyesel, Fir… Kamu masih muda. Banyak hal yang kamu belum lihat. Nanti kalau kamu mulai capek sama tanggung jawab, sama kompromi, sama hidup yang nggak gampang… Mamah takut kamu nyalahin keputusan ini….”
“…”
“… Kamu mungkin belum tau betapa repotnya saat punya anak nanti, mengurus suami, mengatur keuangan dan hal-hal yang selama ini belum kamu benar-benar kenali…” Tambahnya.
Seketika, dada ini rasanya seperti terjepit. Merasa terjebak dalam pilihan yang berbahaya. Tapi, gua yakin Nyokap pasti percaya ke Lian seperti dia yang mulai percaya ke gua.
“Aku nggak akan nyalahin siapa-siapa, Mah. Ini bukan jalan pintas, Aku udah melihat pengorbanannya buat aku. Emang Mamah nggak sadar? Aku tahu, kita bisa lewatin semuanya sama-sama. Pelan-pelan...” Gua memberi respon, kali ini dengan nada bicara serendah mungkin.
Nyokap nggak langsung membalas, ia menundukkan kepalanya seraya menutupi wajah dengan kedua tangan. Sementara, punggungnya bergerak naik turun dan samar suara isak terdengar bibirnya. Ia lalu mendongak dan menatap ke arah gua dan Lian bergantian.
“Kalau itu keputusan kalian… Tapi kalian harus janji… kalian nggak akan saling ninggalin...”
Melihat Nyokap menangis berurai air mata, gua jadi terpancing emosi dan ikut menangis. Gua berdiri dan kembali duduk di sebelahnya untuk memberikan pelukan.
“Iya, Mah… Fira janji…” Bisik gua di dekat telinganya.
Gua tentu sangat paham dengan concern dari Nyokap. Ia pasti khawatir dengan kehidupan setelah pernikahan. Apalagi berkaca dengan pernikahannya yang gagal. Nyokap pasti mau gua memikirkannya dahulu, atau setidaknya belajar tentang bagaimana cara membangung bahtera rumah tangga. Tapi, menurut gua rumah tangga bukan sesuatu yang bisa dipelajari. Itu dimulai saja lalu berjalan sambil belajar.
Di saat kami berdua sibuk tangis-tangisan, Lian malah menghilang dari pandangan.
“Kemana tuh orang?” Gumam gua pelan, masih sambil terisak.
“Beli kopi kali? lagi kamu, dari tadi nggak dikasih minum…” Respon Nyokap yang juga masih terbata-bata akibat tangisan, “… Udah sana cari dulu”
Gua berdiri dan melangkah keluar. Di teras, porsi seblak milik gua masih setia menunggu. Tapi, sudah nggak punya selera lagi untuk melanjutkan. Gua mengambil mangkok tersebut dan memindahkannya ke meja ruang tamu, lalu kembali keluar.
Biasanya, paling jauh ia hanya berdiri tepat di depan pagar rumah untuk sekedar merokok. Kali ini, ia nggak ada di sana. Sementara, mobilnya masih terparkir manis di depan rumah. Gua menoleh ke kiri dan kanan; mencarinya.
Lian terlihat di sisi jalan di seberang rumah. Ia tengah merokok sambil mendongak menatap ke arah lantai dua rumah. Sambil menyeka sisa air mata di pipi gua berlari ke arahnya.
“Ngapain?” Tanya gua begitu sudah di dekatnya.
Lian mengangkat batang rokok di tangannya, tersenyum sebentar lalu menjawab; “Ngerokok…”
“Jauh banget, biasanya juga cuma di depan pager…” Balas gua dan menunjuk ke arah pagar depan rumah gua.
“Gapapa sekalian nostalgia…” Jawab Lian, kemudian mengangkat salah satu tangannya, menunjuk ke arah jendela kamar gua di lantai dua; “Dulu, kamu pertama notice kehadiranku dari sana, dari jendela kamarmu…”
Gua ikutan mendongak dan menatap ke arah yang sama; ke arah jendela kamar gua lalu tersenyum; “Dan kamu berdiri di sini, seperti sekarang?”
Lian mengangguk pelan; “Iya…”
—
Nggak ada yang menyangka, bahkan gua sendiri masih nggak percaya. Rasanya baru kemarin gua lulus sekolah, rasanya baru kemarin kami saling mengenal, lalu tiba-tiba kini gua dan Lian mulai sibuk mengurus rencana pernikahan.
Begitu pula dengan Lian yang sempat gua interogasi perihal rencana melamar yang berhasil ia sembunyikan.
“Kenapa sih kamu nggak cerita-cerita ke aku?” Tanya gua, merujuk ke acara lamaran di mana gua nggak dilibatkan.
“…”
“… Sejak kapan bikin rencananya?” Tanyanya lagi.
Lian menatap ke atas dengan wajahnya yang datar dan tanpa ekspresi; seperti tengah mencoba mengingat. Ia lalu menoleh ke arah gua dan tersenyum.
“Nyengir! Jawab!” Seru gua, kesal dengan tingkahnya.
Lian meraih potongan ranting yang tergeletak di atas beton pembatas antara hutan kota dengan tepian danau. “Nggak tau…” Jawabnya, lalu melempar ranting ke arah permukaan danau.
“Apaan sih! aneh banget, masa nggak tau…” Balas gua, nggak terima dengan jawabannya.
Ia kembali meraih sesuatu, kali ini kerikil kecil dari tempat yang sama, lalu melemparkannya ke arah permukaan danau.
“Nggak tau, waktu itu Ibu pas dateng ke sini, ke Jakarta… Terus, pas ngeliat Ibu tiba-tiba aja kepikiran buat ngelamar kamu…” Jawabnya sambil menatap gua dan tersenyum.
“Hah! Gila… Kamu ngelamar aku nggak pake mikir?”
“Ya mikir pas di jalan…”
“Ck… Gimana kalo aku nggak nerima lamaran kamu!?” Tanya gua, kali ini sambil pasang tampang cemberut.
Ekspresi wajahnya berubah, kini ia terlihat mengernyitkan dahinya seakan nggak percaya dengan ucapan gua barusan; “Really? Kalo mau mundur masih bisa kok…”
“Ya jangan lah…” Balas gua, seraya mendekat dan memeluk lengan sebelah kirinya.
Kami berdua sudah memutuskan untuk melangsungkan pernikahan secepatnya. Nggak mau menunggu momen pandemi berakhir yang entah kapan. Sementara, gua yang masih kuliah juga nggak punya waktu bebas karena harus mengikuti liburan semester. Jadi, Kami berdua memutuskan untuk melangsungkan pernikahan di momen liburan kuliah semester ini.
Hari berikutnya, persiapan-persiapan untuk pernikahan dimulai. Ya nggak banyak sih yang harus disiapkan karena rencananya kami hanya akan melakukan prosesi akad nikah di KUA. Sementara, untuk acara resepsi masih mustahil diadakan karena terkendala pembatasan covid.
“Kamu gapapa, cuma nikah di KUA?” Tanya Lian, saat kami berdua baru saja kembali dari KUA untuk mengurus dokumen-dokumen.
Gua terdiam sebentar sambil mencengkeram ponsel. Teringat akan aplikasi media sosial visual yang penuh dengan foto gaun pengantin, dekorasi bunga, dan undangan berdesain elegan yang sudah gua kumpulkan sejak Lian melamar. Gadis mana sih yang nggak mendambakan pernikaha megah, sebuah pesta di ballroom hotel bintang lima, dengan ratusan tamu, gaun putih berenda yang berkilau di bawah lampu kristal, dengan samar suara penyanyi membawakan lagu romantis.
Dan semua itu kayaknya nggak mungkin terjadi.
Tapi, gua nggak mau berkecil hati. Yang penting bukan acaranya, tapi dengan siapa gua bersama. Nggak ada pesta pun nggak apa-apa asal bareng dia.
“Gapapa…” Jawab gua seraya menggeleng dan menatap kosong ke arah luar melalui jendela depan sisi penumpang.
Lian meraih tangan gua dan menggenggamnya. Seakan tau apa yang gua pikirkan, ia lalu bicara lirih; “Walau cuma di KUA, kamu kan tetep bisa pake gaun yang bagus…”
Gua menoleh dan menatapnya sambil tersenyum. Senang punya pacar yang supportif.
“Ah, tapi sia-sia ya kalo yang ngeliat cuma 5 orang” Tambahnya.
Dengan cepat gua melayangkan pukulan tepat di bahunya; “Reseh!”
Pun begitu, Lian tetap mengantar gua ke salah satu butik kondang. Untuk membuat gaun pernikahan gua.
Gua tersenyum menatap gaun simpel, berwarna putih gading dengan bahu terbuka. Memang nggak terlihat terlalu wah jika dibandingkan dengan gaun-gaun lain yang ada di butik ini. Tapi, entah kenapa gua menyukainya.
“Yang ini?” Tanya Lian sambil menunjuk ke arah manekin.
Gua mengangguk cepat; “Iya…”
“Emang pas?” Tanyanya lagi.
Gua lantas mencoba gaun tersebut yang ternyata sedikit kebesaran buat gua. Nggak mau melihat gua kecewa, Lian lantas meminta pihak butik untuk membuatkan gaun yang sama namun dengan ukuran yang sesuai tubuh gua.
“Serius, bisa?” Tanya Fira ke pihak Butik.
“Bisa kak…”
“Yes!!”
—
Urusan persiapan pernikahan selesai satu persatu. Tapi, ada satu masalah yang lalu muncul gara-gara gua yang sok penasaran.
Malam itu, gua dan Nyokap tengah duduk di sofa sambil menonton seria drama korea. Tepat saat ada momen di mana si karakter utama menikah, tiba-tiba Nyokap nyeletuk; “Itu orang nikah nggak ngasih tau orang tuanya deh, Gimana sih…”
“Ya kalo di sana normal kali begitu. Kalo di sini, di Indonesia kan harus pake wali, Mah…” Jawab gua.
Lalu hening.
Detik berikutnya, gua dan Nyokap saling menatap.
---
Dengan ice cream di tangan, gua menuju ke arah kamar Nyokap dan langsung membuka pintunya. Terlihat Nyokap tengah duduk di tepian ranjang sambil menggenggam album foto. Entah ia terlalu fokus atau sama sekali nggak berkonsentrasi karena nggak menyadari kehadiran gua yang terus masuk lalu mendekat.
“Abis ada tamu ya, Mah?”Tanya gua, kemudian duduk di sebelahnya.
Nyokap menoleh dan terlihat cukup terkejut dengan kehadiran gua. “Eh, kamu baru pulang?” Tanyanya.
“Lah, udah dari tadi… Mamah lagi apa sih?” Tanya gua lalu melirik ke arah lembaran album foto di tangannya. Rupanya ia tengah melihat-lihat foto-foto gua saat masih kecil, foto yang terpampang di lembaran album.
“Tumben ngeliatin foto-foto aku, kangen ya?” Gua menambahkan.
Nyokap tersenyum lalu mengangguk pelan.
“Abis ada tamu ya, Mah?” Tanya gua lagi.
Nyokap mengernyitkan dahinya, seakan bingung dengan pertanyaan gua. Mungkin ia bingung dari mana gua bisa tau.
“Itu aku liat ada bekas cangkir-cangkir di tempat cucian piring” Gua bicara, memberi petunjuk. Merujuk ke cangkir atau gelas khusus yang hanya dikeluarkan dan dipakai Nyokap saat ada tamu. Di hari biasa, cangkir dan gelas tersebut biasanya hanya nangkring di lemari dapur.
“Oh… iya tadi ada temen Mamah…” Jawabnya.
Hingga di momen ini belum ada kecurigaan akan jawaban Nyokap barusan. Ya walaupun tingkah lakunya sedikit nggak biasa, tapi buat gua masih di dalam batas kewajaran.
Setelahnya, hari-hari gua berjalan seperti biasa.
Kebanyakan gua berkuliah secara daring dari rumah. Walau sesekali harus datang ke kampus saat ada keperluan yang nggak bisa dilakukan online. Jadwal menari juga sudah dimulai kembali walau dengan protokol kesehatan yang super ketat. Kami di wajibkan untuk menjalani Swab test sebelum datang ke sanggar.
Begitu pula dengan Nyokap yang kini lebih banyak bekerja dari rumah dan hanya sekali dalam satu minggu pergi ke kantor.
Dengan begitu, kami berdua kini punya lebih banyak waktu bersama. Ngobrol, belajar memasak, nonton serial drama Korea dan banyak hal lain yang dulu hampir nggak pernah kami lalukan bersama.
Seminggu terakhir ini, sejak kejadian dia duduk di kamarnya sambil memandangi album foto, Nyokap sedikit berubah. Setiap obrolan kami, Nyokap selalu bicara tentang masa depan, tentang ia yang bakal sendirian saat gua menikah nanti. Nggak hanya itu saja, ia juga kerap mengumbar rasa sayangnya secara berlebihan. Ya di hari-hari biasanya ia memang menyayangi gua, tapi seminggu terakhir ini, semuanya terasa berbeda; terasa berlebihan.
“Iya, Maaah… Fira bakal ada di sini terus kok…” Jawab gua untuk kesekian kalinya.
—
‘Mas, nitip seblak merepotkan gk? 🤪’ Gua mengirim pesan ke Lian saat ia bilang akan bersiap ke sini, ke rumah.
‘Belinya di mana?’ Balasnya.
‘Di tmpt yg wktu itu lho, yg dket mcd’
‘Oh. Ok’
‘Pedes y 🌶️🌶️🌶️’
‘Iya, satu aja kan?’
‘Y klo Mas mau, beli 2 ✌🏻’
Hubungan gua dan Lian juga berjalan mulus. Ia kini mulai bisa mengatur waktunya untuk memberi kabar, atau hanya sekedar membalas pesan singkat dari gua. Nggak cuma itu aja, kadang ia juga sengaja meluangkan waktunya untuk menemui gua di waktu kerjanya yang padat. Ya seperti sabtu ini.
Gua dan Nyokap tengah asik menonton serial drama korea bertema kerajaan yang lucu dan seru. Sesekali kali tertawa bersama saat adegan yang mengocok perut, sesekali juga Nyokap mengumpat pelan saat melihat karakter favoritnya berlaku nggak sesuai harapan.
Ditengah serunya tontonan, terdengar suara deru mesin mobil yang sangat familiar. Gua berdiri dan bersiap keluar.
“Mau ke mana?” Tanya Nyokap.
“Itu, Mas Lian dateng…” Jawab gua seraya menunjuk ke arah luar dan bergegas.
“Ooh…” Jawab Nyokap dengan ekspresi datar, seakan nggak punya ketertarikan akan kehadiran pacar anaknya ini.
Gua berlari keluar menuju ke teras. Lian baru saja turun dari mobilnya, lalu tanpa kesulitan lagi membuka slot pagar dan masuk. Di tangannya terlihat plastik transparan yang sepertinya berisi seblak pesanan gua.
“Pedes kan?” Tanya gua begitu menerima plastik yang ia sodorkan.
“Iya, kayaknya” Lian menjawab tanpa menatap gua. Pandangannya terus ia arahkan ke pintu rumah.
Gua mengernyitkan dahi, ia nggak seperti biasanya. Excited dan penuh semangat saat bertemu.
“Dih, kok kayaknya sih…” Balas gua lantas masuk ke dalam.
Saat tengah mengambil mangkok di rak piring, gua berpaling ke arah kulkas yang pintunya memantulkan bayangan gua sendiri. Lalu, berpose. “Apa baju yang gue pake nggak menarik?” Gumam gua pelan. Menyesal karena nggak berganti pakaian dulu sesaat sebelum ia datang.
“Ah, bodo…” Gumam gua lagi dan kembali keluar.
Lian duduk di lantai teras rumah sambil menatap kosong ke arah lampu jalan di seberang rumah. Gua duduk di sebelahnya, lalu mulai membuka kemasan seblak, menuangnya ke mangkok yang baru gua ambil.
“Mamah ada kan?” Tiba-tiba ia bertanya seraya melirik ke arah carport di mana mobil sedan milik Nyokap terparkir.
“Ada…” Gua menjawab singkat. Lalu mulai mencoba porsi seblak yang dibelinya; Aaah… seger banget… Tapi, kurang pedes dikit…”
Gua mendongak dan menatapnya, sambil sesekali menyendok kuah seblak dan menyeruputnya.
“Ada apaan sih? tumben baru dateng udah nanyain Mamah?” Tanya gua.
Lian menggeleng pelan; “Gapapa, mau ngobrol aja…”
Gua kembali mengernyitkan dahi, penasaran. Nggak biasa-biasanya, ia punya niat untuk ngobrol sama Nyokap di saat baru saja bertemu dengan gua.
“Ngobrol apa?” Tanya gua.
“Mmm… Ya ngobrol santai aja…”
“Ooh… ada noh lagi nonton tv”
“Dia tau aku dateng?” Tanyanya lagi.
“Tau… siapa yang nggak tau sih? orang satu RT juga langsung tau kalo kamu dateng pake mobil berisik itu…” Jawab gua seraya menunjuk sedan biru miliknya yang terparkir tepat di depan rumah.
Tiba-tiba Lian berdiri dan bersiap masuk ke dalam rumah. Gua kembali mendongak dan menatapnya; bingung. ‘Pengen nyusul masuk ke dalam, tapi seblaknya nanggung’
Setelah beberapa suapan yang terburu-buru, gua lantas berdiri dan menyusulnya masuk ke dalam. Meninggalkan mangkok berisi porsi seblak milik gua di teras.
Di dalam ruang keluarga terlihat Lian sudah duduk di salah satu sofa. Posisinya berseberangan dengan Nyokap yang masih menggenggam remot televisi. Gua menatap mereka satu persatu; bergantian. Lalu bertanya; “Ngapain sih? serius banget?”
Nyokap menatap gua, kali ini pandangannya terlihat lebih serius ketimbang sebelumnya, lantas menepuk sisi sofa kosong di sebelah, memberikan kode agar gua duduk di sana. “Tunggu aku ambil seblak dulu…” Gumam gua, takut porsi seblak milik gua keburu disambar kucing. Namun, Nyokap dengan cepat menyebut nama gua; “Fira…” Dan kembail menepuk sisi sofa kosong di sebelah.
Gua yang masih pasang tampang bingung hanya bisa menuruti permintaan Nyokap; duduk di sofa di sebelahnya.
“Ada apaan sih?” Tanya gua ke Lian, tanpa suara, hanya menggerakkan mulut. Sesuatu yang kerap gua lakukan saat ada ucapan atau kalimat yang nggak perlu di dengar orang lain. Toh, Lian juga bisa membaca gerak bibir gua.
Lian nggak merespon. Gua beralih ke Nyokap; “Apaan sih?”
Alih-alih menjawab, Nyokap malah menatap ke arah Lian dan mengangguk pelan. Setelah beberapa saat barulah ia buka suara; “Lian mau…”
“Mau apa?” Tanya gua, memotong kalimatnya; Nggak sabar. Sambil terus memandang ke arah Nyokap dan Lian bergantian.
Lian menghela napas dalam-dalam lalu mulai buka suara. Ia lalu bercerita tentang kedatangannya minggu kemarin bersama Ibu. Tanpa sepengetahuan gua.
“Hah? Ngapain?” Tanya gua, semakin penasaran.
“Ngelamar kamu…” Lian menjawab cepat dengan ekspresi yang datar.
Kepala gua lalu mencoba memproses semuanya. Menyatukan semua informasi yang pernah gua lihat sebelumnya. Tentang Nyokap yang memandangi album foto gua, tentang pasangan cangkir kotor di tempat cucian piring dan beberapa hari terakhir di mana Nyokap terasa lebih dramatis.
Sesaat dunia terasa berhenti berputar dan hening. Yang terdengar hanya suara detak jam dinding dan deru pendingin kulkas. Rasanya campur aduk. Rasanya seperti mendapat hadiah ulang tahun yang kecepetan. Walau hadiahnya benar-benar gua inginkan, tapi entah kenapa gua tetap terkejut.
“What!?” Seru Gua lalu berdiri dan berpindah duduk ke sebelah Lian. “Serius Mas?” Tanya gua lagi, seraya memegang tangannya. Saat ini entah bagaimana ekspresi gua nampak di matanya. Wajah ini pasti memerah karena malu, senyum terkembang senang dan berkerut saking kagetnya.
Lian mengangguk, lalu menunjuk ke arah Nyokap; “Tapi, Mamah kamu masih belum bisa ngasih jawaban… Dan dia janji mau ngasih jawabannya minggu depan; sekarang”
‘Lho, yang mau dilamar kan aku, kenapa malah nanya Nyokap?’ batin gua.
“Tapi, kan…” Gua siap memprotes, namun Nyokapnya keburu memberikan kode dengan menempelkan telunjuknya di bibir seraya memandangi kami lama.
“Seperti yang sudah saya bilang minggu kemarin, Fira masih kuliah, Lian,” Nyokap bicara dengan nada suara yang sama sekali belum pernah gua dengar sebelumnya, pelan dan bergetar. “Masih banyak yang harus dia jalani. Hidup dia baru mulai. Kamu yakin kamu bisa menemani dia dengan itu semua?” Tambahnya.
Lian terlihat siap untuk memberi respon. Namun, lagi-lagi gua memotong pembicaraan mereka; “Mah, aku tahu aku belum selesai kuliah. Tapi aku juga tahu apa yang aku mau. Mas Lian nggak pernah nyuruh aku berhenti belajar. Justru dia yang terus dorong aku buat lanjut. Aku nggak akan berhenti kuliah, aku janji…”
“…”
“… Lagian kalian berdua juga aneh. Yang mau dilamar aku, yang mau jalanin kehidupan aku, kenapa kamu malah ngomong duluan ke Mamah?” Tanya gua ke Lian sambil pasang tampang galak.
Gua lalu beralih ke Nyokap; “… Mamah juga, kenapa sih nggak cerita. Paling nggak konsultasi lah ke Fira… Kan Fira yang bakal menjalani hidup kedepannya”
Lian mengangguk, lalu menggumam pelan; “Sorry…”
Kemudian ia mulai memberanikan diri menatap kedua mata Nyokap dan bicara; “Aku serius sama Fira, Tante. Bukan cuma karena aku cinta, tapi karena aku percaya sama dia. Aku mau jadi bagian dari perjalanan dia. Aku mau tumbuh bareng dia…”
Penasaran dengan respon balik Nyokap, gua menoleh dan menatapnya. Ia masih terdiam, lalu gua menyadari kalau ia mulai menangis.
“Mamah cuma takut kamu nyesel, Fir… Kamu masih muda. Banyak hal yang kamu belum lihat. Nanti kalau kamu mulai capek sama tanggung jawab, sama kompromi, sama hidup yang nggak gampang… Mamah takut kamu nyalahin keputusan ini….”
“…”
“… Kamu mungkin belum tau betapa repotnya saat punya anak nanti, mengurus suami, mengatur keuangan dan hal-hal yang selama ini belum kamu benar-benar kenali…” Tambahnya.
Seketika, dada ini rasanya seperti terjepit. Merasa terjebak dalam pilihan yang berbahaya. Tapi, gua yakin Nyokap pasti percaya ke Lian seperti dia yang mulai percaya ke gua.
“Aku nggak akan nyalahin siapa-siapa, Mah. Ini bukan jalan pintas, Aku udah melihat pengorbanannya buat aku. Emang Mamah nggak sadar? Aku tahu, kita bisa lewatin semuanya sama-sama. Pelan-pelan...” Gua memberi respon, kali ini dengan nada bicara serendah mungkin.
Nyokap nggak langsung membalas, ia menundukkan kepalanya seraya menutupi wajah dengan kedua tangan. Sementara, punggungnya bergerak naik turun dan samar suara isak terdengar bibirnya. Ia lalu mendongak dan menatap ke arah gua dan Lian bergantian.
“Kalau itu keputusan kalian… Tapi kalian harus janji… kalian nggak akan saling ninggalin...”
Melihat Nyokap menangis berurai air mata, gua jadi terpancing emosi dan ikut menangis. Gua berdiri dan kembali duduk di sebelahnya untuk memberikan pelukan.
“Iya, Mah… Fira janji…” Bisik gua di dekat telinganya.
Gua tentu sangat paham dengan concern dari Nyokap. Ia pasti khawatir dengan kehidupan setelah pernikahan. Apalagi berkaca dengan pernikahannya yang gagal. Nyokap pasti mau gua memikirkannya dahulu, atau setidaknya belajar tentang bagaimana cara membangung bahtera rumah tangga. Tapi, menurut gua rumah tangga bukan sesuatu yang bisa dipelajari. Itu dimulai saja lalu berjalan sambil belajar.
Di saat kami berdua sibuk tangis-tangisan, Lian malah menghilang dari pandangan.
“Kemana tuh orang?” Gumam gua pelan, masih sambil terisak.
“Beli kopi kali? lagi kamu, dari tadi nggak dikasih minum…” Respon Nyokap yang juga masih terbata-bata akibat tangisan, “… Udah sana cari dulu”
Gua berdiri dan melangkah keluar. Di teras, porsi seblak milik gua masih setia menunggu. Tapi, sudah nggak punya selera lagi untuk melanjutkan. Gua mengambil mangkok tersebut dan memindahkannya ke meja ruang tamu, lalu kembali keluar.
Biasanya, paling jauh ia hanya berdiri tepat di depan pagar rumah untuk sekedar merokok. Kali ini, ia nggak ada di sana. Sementara, mobilnya masih terparkir manis di depan rumah. Gua menoleh ke kiri dan kanan; mencarinya.
Lian terlihat di sisi jalan di seberang rumah. Ia tengah merokok sambil mendongak menatap ke arah lantai dua rumah. Sambil menyeka sisa air mata di pipi gua berlari ke arahnya.
“Ngapain?” Tanya gua begitu sudah di dekatnya.
Lian mengangkat batang rokok di tangannya, tersenyum sebentar lalu menjawab; “Ngerokok…”
“Jauh banget, biasanya juga cuma di depan pager…” Balas gua dan menunjuk ke arah pagar depan rumah gua.
“Gapapa sekalian nostalgia…” Jawab Lian, kemudian mengangkat salah satu tangannya, menunjuk ke arah jendela kamar gua di lantai dua; “Dulu, kamu pertama notice kehadiranku dari sana, dari jendela kamarmu…”
Gua ikutan mendongak dan menatap ke arah yang sama; ke arah jendela kamar gua lalu tersenyum; “Dan kamu berdiri di sini, seperti sekarang?”
Lian mengangguk pelan; “Iya…”
—
Nggak ada yang menyangka, bahkan gua sendiri masih nggak percaya. Rasanya baru kemarin gua lulus sekolah, rasanya baru kemarin kami saling mengenal, lalu tiba-tiba kini gua dan Lian mulai sibuk mengurus rencana pernikahan.
Begitu pula dengan Lian yang sempat gua interogasi perihal rencana melamar yang berhasil ia sembunyikan.
“Kenapa sih kamu nggak cerita-cerita ke aku?” Tanya gua, merujuk ke acara lamaran di mana gua nggak dilibatkan.
“…”
“… Sejak kapan bikin rencananya?” Tanyanya lagi.
Lian menatap ke atas dengan wajahnya yang datar dan tanpa ekspresi; seperti tengah mencoba mengingat. Ia lalu menoleh ke arah gua dan tersenyum.
“Nyengir! Jawab!” Seru gua, kesal dengan tingkahnya.
Lian meraih potongan ranting yang tergeletak di atas beton pembatas antara hutan kota dengan tepian danau. “Nggak tau…” Jawabnya, lalu melempar ranting ke arah permukaan danau.
“Apaan sih! aneh banget, masa nggak tau…” Balas gua, nggak terima dengan jawabannya.
Ia kembali meraih sesuatu, kali ini kerikil kecil dari tempat yang sama, lalu melemparkannya ke arah permukaan danau.
“Nggak tau, waktu itu Ibu pas dateng ke sini, ke Jakarta… Terus, pas ngeliat Ibu tiba-tiba aja kepikiran buat ngelamar kamu…” Jawabnya sambil menatap gua dan tersenyum.
“Hah! Gila… Kamu ngelamar aku nggak pake mikir?”
“Ya mikir pas di jalan…”
“Ck… Gimana kalo aku nggak nerima lamaran kamu!?” Tanya gua, kali ini sambil pasang tampang cemberut.
Ekspresi wajahnya berubah, kini ia terlihat mengernyitkan dahinya seakan nggak percaya dengan ucapan gua barusan; “Really? Kalo mau mundur masih bisa kok…”
“Ya jangan lah…” Balas gua, seraya mendekat dan memeluk lengan sebelah kirinya.
Kami berdua sudah memutuskan untuk melangsungkan pernikahan secepatnya. Nggak mau menunggu momen pandemi berakhir yang entah kapan. Sementara, gua yang masih kuliah juga nggak punya waktu bebas karena harus mengikuti liburan semester. Jadi, Kami berdua memutuskan untuk melangsungkan pernikahan di momen liburan kuliah semester ini.
Hari berikutnya, persiapan-persiapan untuk pernikahan dimulai. Ya nggak banyak sih yang harus disiapkan karena rencananya kami hanya akan melakukan prosesi akad nikah di KUA. Sementara, untuk acara resepsi masih mustahil diadakan karena terkendala pembatasan covid.
“Kamu gapapa, cuma nikah di KUA?” Tanya Lian, saat kami berdua baru saja kembali dari KUA untuk mengurus dokumen-dokumen.
Gua terdiam sebentar sambil mencengkeram ponsel. Teringat akan aplikasi media sosial visual yang penuh dengan foto gaun pengantin, dekorasi bunga, dan undangan berdesain elegan yang sudah gua kumpulkan sejak Lian melamar. Gadis mana sih yang nggak mendambakan pernikaha megah, sebuah pesta di ballroom hotel bintang lima, dengan ratusan tamu, gaun putih berenda yang berkilau di bawah lampu kristal, dengan samar suara penyanyi membawakan lagu romantis.
Dan semua itu kayaknya nggak mungkin terjadi.
Tapi, gua nggak mau berkecil hati. Yang penting bukan acaranya, tapi dengan siapa gua bersama. Nggak ada pesta pun nggak apa-apa asal bareng dia.
“Gapapa…” Jawab gua seraya menggeleng dan menatap kosong ke arah luar melalui jendela depan sisi penumpang.
Lian meraih tangan gua dan menggenggamnya. Seakan tau apa yang gua pikirkan, ia lalu bicara lirih; “Walau cuma di KUA, kamu kan tetep bisa pake gaun yang bagus…”
Gua menoleh dan menatapnya sambil tersenyum. Senang punya pacar yang supportif.
“Ah, tapi sia-sia ya kalo yang ngeliat cuma 5 orang” Tambahnya.
Dengan cepat gua melayangkan pukulan tepat di bahunya; “Reseh!”
Pun begitu, Lian tetap mengantar gua ke salah satu butik kondang. Untuk membuat gaun pernikahan gua.
Gua tersenyum menatap gaun simpel, berwarna putih gading dengan bahu terbuka. Memang nggak terlihat terlalu wah jika dibandingkan dengan gaun-gaun lain yang ada di butik ini. Tapi, entah kenapa gua menyukainya.
“Yang ini?” Tanya Lian sambil menunjuk ke arah manekin.
Gua mengangguk cepat; “Iya…”
“Emang pas?” Tanyanya lagi.
Gua lantas mencoba gaun tersebut yang ternyata sedikit kebesaran buat gua. Nggak mau melihat gua kecewa, Lian lantas meminta pihak butik untuk membuatkan gaun yang sama namun dengan ukuran yang sesuai tubuh gua.
“Serius, bisa?” Tanya Fira ke pihak Butik.
“Bisa kak…”
“Yes!!”
—
Urusan persiapan pernikahan selesai satu persatu. Tapi, ada satu masalah yang lalu muncul gara-gara gua yang sok penasaran.
Malam itu, gua dan Nyokap tengah duduk di sofa sambil menonton seria drama korea. Tepat saat ada momen di mana si karakter utama menikah, tiba-tiba Nyokap nyeletuk; “Itu orang nikah nggak ngasih tau orang tuanya deh, Gimana sih…”
“Ya kalo di sana normal kali begitu. Kalo di sini, di Indonesia kan harus pake wali, Mah…” Jawab gua.
Lalu hening.
Detik berikutnya, gua dan Nyokap saling menatap.
---
Fatur & Nadila - Kulakukan Semua Untukmu
Hanya denganmu aku berbagi
Hanya dirimu paling mengerti
Kegelisahan dalam hatiku
Yang selama ini tak menentu
Tak ada ragu dalam hatiku
Pastikan aku jadi cintamu
Seiring waktu yang tlah berlalu
Mungkin kau yang terakhir untukku
Akan kulakukan semua untukmu
Akan kuberikan seluruh cintaku
Janganlah engkau berubah
Dalam menyayangi dan memahamiku
Hmm.ow.ow...
Pegang tanganku, genggam jariku
Rasakan semua hangat diriku
Mengalir tulus untuk cintamu
Tak ada yang lain di hatiku
Akan kulakukan semua untukmu
Akan kuberikan seluruh cintaku
Janganlah engkau berubah
Dalam menyayangi dan memahamiku
Akan kulakukan semua untukmu
Akan kuberikan seluruh cintaku
Janganlah engkau berubah
Dalam menyayangi dan memahamiku
Hmm.ow.ow...
delet3 dan 40 lainnya memberi reputasi
41
Kutip
Balas
Tutup