- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
kelinci.tosca dan 149 lainnya memberi reputasi
150
215.1K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#1111
007-I But Stay Close
Spoiler for 007-I But Stay Close:
Gua berdiri. Melangkah pelan mendekat, lalu duduk tepat di sebelahnya, di bangku beton yang sama. Kali ini ia nggak menghindar, hanya terdiam. Gua mencoba bertahan untuk nggak langsung memegang tangannya, hanya bicara;
“Kalau dunia ini terlalu ramai, aku akan tetap mencari kamu. Bahkan di tengah bisingnya sirine rumah sakit dan deadline laporan harian, nama yang paling sering muncul di kepala ini… kamu”
Dia nggak pergi, hanya terdiam. Lalu, perlahan menyandarkan kepalanya di bahu dan mulai terisak, lirih.
Nggak ada kata dan kalimat yang terucap, kami hanya sama-sama terdiam dengan isaknya yang lirih sebagai pengisi rindu. Angin sore berhembus melambaikan sisa rambutnya yang keluar dari ikatan. Sama terdengar suara mahasiswa yang sepertinya baru saja keluar dari gedung fakultas.
Gua sedikit menoleh dan memberi kecupan tepat di ujung kepalanya; “Aku janji. Aku akan belajar membagi waktu. Aku akan berusaha bales chat kamu meski cuma pakai emoji…”
Di sela isaknya, ia tertawa kecil seraya berusaha mengusap air matanya dengan punggung tangan.
“Kamu udah ngerti pake emoji?”Tanyanya.
“Udah, aku udah pelajarin…” Jawab gua.
“Hahaha…” Kekehnya lalu menoleh dan menatap gua dengan pandangan yang serius; “Aku mau jadi prioritasmu. Aku mau selalu jadi yang pertama dalam segala perhitunganmu..”
Gua mengangguk pelan; “Kamu semuanya buat aku…”
Malamnya, gua mengajaknya untuk ikut ke rumah. Kita memasak bersama; Tempe goreng dan cah kangkung dadakan yang gua tumis dengan bumbu tebakan. Fira bilang rasanya “lumayan…”, walau gua tau kalau senyumnya berkata itu jauh dari kata lumayan.
Kita duduk di sofa, menonton serial dokumenter yang gak kunjung kelar, kerap dijeda karena kita malah beralih ngobrolin hal-hal remeh tentang sepatu menarinya yang jebol, teman di kampusnya yang suka pamer outfit dan kilas balik tentang kehidupan kita masing-masing belakangan ini.
Di sela obrolan itu, Fira tiba-tiba mengajukan pertanyaan; “Kalau seandainya aku kena covid lagi, kamu bakal ninggalin kerjaan kamu buat nemenin aku lagi nggak?”
Gua menatapnya dia. Serius. Lalu, dengan perlahan membelai rambutnya dan menjawab; “Ya… Aku bakal ninggalin dunia buat kamu…”
“Hehehe….”
“Tapi semoga dunia gak perlu aku tinggalkan. Karena kali ini aku mau mencoba belajar menghandle dua hal sekaligus: Dunia dan kamu…”
Sejak saat itu kualitas hubungan kami berdua semakin membaik. Gua mulai bisa ngatur waktu, meski kadang harus mencuri kesempatan di sela shift dan tugas lapangan. Membalas pesan darinya, memberi reaksi pada foto-foto random yang dikirimnya, bahkan untuk pertama kalinya dalam hidup gua mengirim sebuah emoji stiker kucing sambil bilang; ‘Ini pas aku kangen kamu’ Yang lantas diresponnya dengan deretan emoji tertawa. Melakukan hal cringe begitu tentu nggak gua banget. Tapi, demi dirinya, tetap gua lakukan.
Dari situ gua tahu, kalau Fira nggak mencari kesempurnaan, dia hanya ingin diusahakan.
—
Sore itu, langit Jakarta terlihat lebih muram dari biasanya. Awan stratus menggantung rendah seperti tengah berusaha keras menahan sesuatu yang nggak jadi tumpah. Hujan gerimis turun pelan, membasahi kaca jendela ruang tamu rumah Fira. Bau tanah basah dari taman kecil di depan rumahnya bercampur aroma teh melati yang baru diseduh membuat suasana jadi semakin syahdu. Dan, tegang.
Menit sebelumnya, Tante Ana terlihat cukup terkejut saat melihat gua kembali datang bersama Ibu. Tapi, raut wajahnya lalu berubah menjadi bertambah tegang karena sepertinya ia bisa menebak tujuan dari kedatangan kami berdua.
Mundur ke hari sebelumnya. Hari di mana gua baru saja selesai bekerja dengan ditemani Fira melalui panggilan video call yang terhubung walaupun gua sibuk berkaktivitas. Di akhir obrolan, ia sempat bicara; “Gimana ya Mas, kalau misalnya manusia di muka bumi ini punah karena pandemi?”
“Ya dunia mulai lagi tanpa kita…” Gua menjawab santai.
“Nanti di akhirat apa kita bakal bertemu?” Tanyanya.
“Hahaha… ya nggak tau, mungkin aja di sana nanti kamu nggak ingat aku sama sekali. Dan begitu juga aku…”
“Kamu nggak bakal berusaha mencari aku lagi?”
“Hmmm… Pertanyaan yang menarik. Tapi sepertinya terlalu jauh…”
“Nggak ya berarti?”
“Hahaha, tenang Fir. Aku bakal berusaha cari kamu kok…”
“Katanya kalau pasangan suami istri akan dipertemukan kembali di akhirat kelak. Mereka akan saling mengenal dan bersama-sama di surga…” Ucapnya, menirukan gaya ustad yang tengah berceramah.
“Kamu abis denger kajian?”
“Nggak, kemarin nggak sengaja ngeliat di youtube…” Jawabnya singkat.
“Oh…”
“Kalau kita menikah, berarti kan kamu nggak perlu repot-repot nyari aku. Dan aku nggak perlu capek-capek mengingat kamu…”
“Hahahaha…. Iya juga sih. Tapi, menikah kan bukan hal gampang. Emang kamu mau kita cepet-cepet nikah?” Tanya gua.
“Hehehehe… mau sih, tapi…” Ucapannya terhenti. Ia lalu menghela napas dalam-dalam dan melanjutkan sesaat berikutnya; “… Kamu emang yakin mau nikah sama aku?”
“Hmmm… Mungkin mau”
“Mungkin?” Tanyanya.
Gua nggak menjawab karena tiba-tiba ada panggilan darurat. Salah satu tenaga kesehatan di rumah sakit tempat gua bertugas saat ini, kolaps.
“Bentar, Fir ada yang gawat. Nanti aku telepon lagi..”
—
Gua duduk di sebelah Ibu, mencoba menenangkan napas. Sambil terus mencoba merasakan betapa kencangnya jantung ini berdetak. Di hadapan kami duduk Tante Ana, ibunya Fira. Perempuan yang selama ini menjaga anaknya sebaik mungkin. Perempuan yang mungkin saja belum sepenuhnya percaya sama gua.
Obrolan-obrolan nggak penting khas orang yang bingung karena nggak punya topik pembicaraan terus terjadi. Tentang jalan yang macet apa nggak, tentang cuaca yang mendung sepanjang hari, acara televisi yang itu-itu saja, hingga harga-harga kebutuhan yang terus naik tanpa kemungkinan turun.
Gua menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Lalu mulai bicara; "Tante, maksud kedatangan kami hari ini... “ Kalimat gua terhenti, rasanya tercekat.
Berdiri di depan ratusan dokter dengan skill mumpuni, berbicara dan memberikan kuliah tentang saraf dan otak sudah biasa gua lakukan. Tapi, entah kenapa tiba-tiba kemampuan bicara gua seolah hilang; seakan kehilangan keberanian.
Gua berdehem sebentar lalu mencoba kembali mengulang kalimat; Tante, maksud kedatangan kami hari ini...kami ingin melamar Fira…"
Lalu hening.
1 menit.
3 menit.
5 menit, yang ada hanya keheningan. Gua memberanikan diri menatap ke arah Tante Ana yang tengah menatap kosong ke atas, ke arah langit-langit sambil memainkan ujung jarinya seolah sedang berperang dengan pikirannya sendiri. Matanya memang nggak menatap gua, tapi juga nggak benar-benar melihat langit-langit. Hanya… kosong. Lama. Gua bisa mendengar detak jantung gua sendiri, rasanya seperti digantung di ujung tebing.
“Tapi kan kamu tau kalau Fira masih kuliah…” suaranya akhirnya keluar, nyaris berbisik.
“…”
“…Masih banyak yang harus dia jalani, masa depan dia masih panjang”
Gua kembali berdehem sebentar, kemudian sedikit memajukan duduk, mencari posisi yang nyaman; "Saya janji bakal jaga dia, Tan... Dan, nggak bakal mengganggu kuliahnya. Saya juga bakal bantu kalau dia butuh…"
Tante Ana nggak langsung merespon, ia kembali terdiam. Sementara, Ibu mulai ikut ‘bicara’, ia menggerakan kedua tangannya, membuat bahasa isyarat yang lantas gua terjemahkan.
“Ibu bilang kalau tante nggak perlu terburu-buru menjawab, dipikirkan lagi matang-matang”
Tante Ana lalu mengangguk pelan.
Obrolan kembali beralih ke hal lain. Hingga akhirnya gua memutuskan untuk pamit sebelum Fira kembali dari sanggar tari. Iya, gua memang sengaja nggak memberitahunya tentang rencana melamar dirinya. Gua mau Tante Ana yang tau lebih dulu, setelah itu, barulah gua akan bicara dengannya.
Sebelum pulang, Gua meminta kepastian kepadanya; ke Tante Ana tentang kapan ia akan memberikan jawaban. Ia lantas menjawab singkat; “Minggu depan…”
“Minggu depan…” Gumam gua pelan seraya melangkah keluar dengan perasaan yang masih menggantung. Kayak awan Jakarta sore menjelang malam ini; mendung dan hanya gerimis. Dari semua keputusan yang pernah gua tunggu, ini adalah yang paling bikin jantung berasa nggak karuan.
Hari berikutnya, gua menjalani hari-hari seperti biasa. Begitu juga Fira yang sepertinya masih belum diberitahu oleh Nyokapnya perihal lamaran gua kemarin. Jadi, gua nggak perlu repot-repot terus menjaga rahasia.
Setelah seminggu berlalu tanpa ada kecurigaan dari Fira. Gua kembali datang ke rumahnya, kali ini tanpa kehadiran Ibu yang menemani. Ya, karena di pertemuan kedua ini sepertinya hanya mendengarkan keputusan dari Tante Ana; Iya dan Tidak.
Kali ini Fira berada di rumah. Ia masih belum juga menunjukkan kecurigaannya. Ekspresi wajahnya masih lugu dan bersemangat saat melihat kedatangan gua di rumahnya. Buat Fira, ini mungkin hanya malam minggu biasa. Malam minggu lain di mana kekasih ngapel ke pacarnya. Akan tetapi, buat gua malam ini rasanya berbeda; deg-degan nggak menentu. Gua bahkan sudah dua hari terakhir ini nggak bisa tidur. Bukan, bukan karena banyaknya pekerjaan. Tapi, karena gelisah menunggu datangnya hari ini.
“Pedes kan?” Tanya Fira saat menerima plastik kemasan transparan berisi seblak pesanannya.
“Iya… Kayaknya” Jawab gua asal, sudah nggak memikirkan pedas dan nggaknya pesanan seblak Fira.
“Dih, kok kayaknya sih…” Responnya seraya meraih plastik dan masuk ke dalam.
Nggak lama berselang, ia kembali ke teras rumahnya dengan mangkok besar lengkap dengan sendok dan sebotol air mineral. Fira duduk di lantai, tangannya yang cekatan langsung membuka bungkusan, menuang porsi seblak yang uapnya masih mengepul ke dalam mangkok. Sementara, gua hanya menatapnya nanar.
“Mamah ada kan?” Tanya gua seraya melirik ke arah carport di mana mobil sedan milik Tante Ana terparkir.
“Ada…” Jawabnya singkat, lalu mulai mencicipi porsi seblak. “Aaah… seger banget… Tapi, kurang pedes dikit…”
“Ada apaan sih? tumben baru dateng udah nanyain Mamah?” Tambahnya.
Gue menggeleng pelan; “Gapapa, mau ngobrol aja…”
“Ngobrol apa?” Tanyanya lagi, mulai penasaran.
“Mmm… Ya ngobrol santai aja…”
“Ooh… ada noh lagi nonton tv”
“Dia tau aku dateng?”
“Tau… siapa yang nggak tau sih? orang satu RT juga langsung tau kalo kamu dateng pake mobil berisik itu…” Jawabnya sambil menunjuk sedan biru gua yang kini terparkir tepat di depan rumahnya.
Gua berdiri, bersiap untuk masuk ke dalam untuk menemui Tante Ana. Fira yang masih sibuk dengan porsi seblaknya hanya menatap gua bingung.
“Malam, Tan…” Sapa gua begitu masuk ke ruang keluarga rumahnya, di mana Tante Ana terlihat tengah duduk di sofa seraya menatap ke arah tv berukuran raksasa. Samar, terdengar dialog berbahasa korea yang lucu.
Tante Ana terlihat tenang saat menatap ke arah gua. Dari ekspresi wajahnya yang terlihat cukup penuh percaya diri, gua yakin kalau dia sudah punya jawabannya. Jawaban yang gua tunggu-tunggu.
“Malam…” Balasnya, “Baru pulang?” dengan nada yang datar dan tetap tenang.
“Iya, Tan” Jawab gua singkat.
“Duduk…”
Gua lalu duduk di salah satu sofa kecil yang kosong, sofa yang berada tepat di seberangnya. “Terima Kasih, Tan…”
“Udah di bikinin kopi sama Fira?” Tanyanya lagi.
Gua menggeleng pelan; “Belum, Tan… Nanti saja. Nggak ketelen kalo sekarang”
Tante Ana lalu mematikan televisi dengan menggunakan remot. Seakan ingin fokus dengan obrolan.
Dan saat ia baru saja bersiap untuk bicara, tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat; Fira. Ia menatap kami berdua bergantian; bingung; “Ngapain sih? serius banget?” Tanyanya dengan mulut belum berhenti mengunyah.
Tante Ana lantas menepuk sisi sofa kosong di sebelahnya, memberikan kode ke Fira agar duduk di sana. “Tunggu aku ambil seblak dulu…” Gumamnya lalu bersiap pergi. Namun, Tante Ana dengan cepat memanggil namanya; “Fira…” Dan kembail menepuk sisi sofa kosong di sebelahnya.
Fira menurut, lalu melangkah pelan mendekat ke arah Nyokapnya. Ia sempat melirik ke arah gua, lalu bicara dengan gerakan mulut tanpa suara; “Apaan sih?”
Pertanyaan yang nggak bisa gua jawab.
“Apaan sih?” Tanya Fira ke Nyokapnya, karena nggak berhasil mendapat jawaban dari gua. Tante Ana menatap gua dan mengangguk pelan, lalu bicara; “Lian mau…”
“Mau apa?” Tanyanya lagi, nggak sabar.
Gua menghela napas dalam-dalam lalu mulai buka suara. Menceritakan ke Fira tentang peristiwa minggu kemarin di mana gua dan Ibu datang ke sini tanpa sepengetahuannya.
“Hah? Ngapain?”
“Ngelamar kamu…”
“What!?” Seru Fira lalu berdiri dan berpindah duduk di sebelah gua. “Serius Mas?” Tanyanya. Kini ekspresi wajahnya terlihat berbunga-bunga.
Gua mengangguk; “Tapi, Mamah kamu masih belum bisa ngasih jawaban… Dan dia janji mau ngasih jawabannya minggu depan; sekarang” Jawab gua.
“Tapi, kan…” Fira bersiap mengajukan protes, namun Nyokapnya keburu memberikan kode dengan menempelkan telunjuknya di bibir seraya memandangi kami lama. Mata beliau menggelap, rahangnya mengeras.
“Seperti yang sudah saya bilang minggu kemarin, Fira masih kuliah, Lian,” suaranya pelan tapi mengandung tekanan. “Masih banyak yang harus dia jalani. Hidup dia baru mulai. Kamu yakin kamu bisa menemani dia dengan itu semua?”
Belum sempat gua menjawab, Fira keburu memotong, ia buru-buru bicara, suaranya bergetar tapi tegas. “Mah, aku tahu aku belum selesai kuliah. Tapi aku juga tahu apa yang aku mau. Mas Lian nggak pernah nyuruh aku berhenti belajar. Justru dia yang terus dorong aku buat lanjut. Aku nggak akan berhenti kuliah, aku janji…” Ucapnya seraya mengangkat dua jari ke atas.
Gua mengangguk, menambahkan, “Aku serius sama Fira, Tante. Bukan cuma karena aku cinta, tapi karena aku percaya sama dia. Aku mau jadi bagian dari perjalanan dia. Aku mau tumbuh bareng dia…”
Tante Ana masih terdiam. Tapi gua melihat ada sesuatu yang mulai pecah pelan di matanya. Air mata tipis mulai menggenang. Ia lantas menatap Fira lekat; “Mamah cuma takut kamu nyesel, Fir… Kamu masih muda. Banyak hal yang kamu belum lihat. Nanti kalau kamu mulai capek sama tanggung jawab, sama kompromi, sama hidup yang nggak gampang… Mamah takut kamu nyalahin keputusan ini….”
“…”
“… Kamu mungkin belum tau betapa repotnya saat punya anak nanti, mengurus suami, mengatur keuangan dan hal-hal yang selama ini belum kamu benar-benar kenali…” Ia menambahkan.
Seketika ruangan terasa seperti mengecil. Gua merasa semua oksigen tertarik keluar dari paru-paru gua.
“Aku nggak akan nyalahin siapa-siapa, Mah. Ini bukan jalan pintas, Aku udah melihat pengorbanannya buat aku. Emang Mamah nggak sadar? Aku tahu, kita bisa lewatin semuanya sama-sama. Pelan-pelan...”
Lalu hening cukup lama.
Sampai akhirnya Tante Ana menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Saat ia mengangkat wajahnya lagi, matanya basah.
“Kalau itu keputusan kalian… Tapi kalian harus janji… kalian nggak akan saling ninggalin...”
Fira mengangguk sambil menangis. Gua pun ikut mengangguk, dengan suara tercekat, “Iya, Tan, saya janji…”
Setelahnya, gua membiarkan Fira dan Nyokapnya saling berpelukan sambil bertukar tangisan haru. Sementara, gua diam-diam pergi ke luar dari rumahnya. Melangkah pelan menyusuri jalan dan berhenti tepat di bawah lampu yang berpendar terang, lampu jalan yang kini sudah berfungsi normal.
Gua mengambil sebatang rokok dan menyulutnya, menghembuskan asapnya ke udara seraya menatap ke arah jendela kamar Fira yang terlihat terang. Lampu jalan ini dan jendela kamar itu pernah menjadi saksi hubungan kami berdua yang kompleks dan penuh duri.
Dari posisi gua berdiri terlihat Fira keluar dari gerbang rumahnya, kepalanya menoleh ke kiri dan kanan mencari-cari sesuatu. Ekspresinya nampak bingung saat melihat gua berdiri di sini, di bawah lampu jalan. Tanpa alas kaki, ia berlari ke arah gua.
“Ngapain?” Tanyanya.
Gua mengangkat batang rokok; “Ngerokok…”
“Jauh banget, biasanya juga cuma di depan pager…”
“Gapapa sekalian nostalgia…” Jawab gua, lantas membuang putung rokok asal-asalan ke sisi selokan. Lalu meraih tangannya agar mendekat.
Gua mengangkat tangan, menunjuk ke arah jendela kamarnya di lantai dua; “Dulu, kamu pertama notice kehadiranku dari sana, dari jendela kamarmu…”
Fira tersenyum simpul, “Dan kamu berdiri di sini, seperti sekarang?”
Gua mengangguk pelan; “Iya…”
---
“Kalau dunia ini terlalu ramai, aku akan tetap mencari kamu. Bahkan di tengah bisingnya sirine rumah sakit dan deadline laporan harian, nama yang paling sering muncul di kepala ini… kamu”
Dia nggak pergi, hanya terdiam. Lalu, perlahan menyandarkan kepalanya di bahu dan mulai terisak, lirih.
Nggak ada kata dan kalimat yang terucap, kami hanya sama-sama terdiam dengan isaknya yang lirih sebagai pengisi rindu. Angin sore berhembus melambaikan sisa rambutnya yang keluar dari ikatan. Sama terdengar suara mahasiswa yang sepertinya baru saja keluar dari gedung fakultas.
Gua sedikit menoleh dan memberi kecupan tepat di ujung kepalanya; “Aku janji. Aku akan belajar membagi waktu. Aku akan berusaha bales chat kamu meski cuma pakai emoji…”
Di sela isaknya, ia tertawa kecil seraya berusaha mengusap air matanya dengan punggung tangan.
“Kamu udah ngerti pake emoji?”Tanyanya.
“Udah, aku udah pelajarin…” Jawab gua.
“Hahaha…” Kekehnya lalu menoleh dan menatap gua dengan pandangan yang serius; “Aku mau jadi prioritasmu. Aku mau selalu jadi yang pertama dalam segala perhitunganmu..”
Gua mengangguk pelan; “Kamu semuanya buat aku…”
Malamnya, gua mengajaknya untuk ikut ke rumah. Kita memasak bersama; Tempe goreng dan cah kangkung dadakan yang gua tumis dengan bumbu tebakan. Fira bilang rasanya “lumayan…”, walau gua tau kalau senyumnya berkata itu jauh dari kata lumayan.
Kita duduk di sofa, menonton serial dokumenter yang gak kunjung kelar, kerap dijeda karena kita malah beralih ngobrolin hal-hal remeh tentang sepatu menarinya yang jebol, teman di kampusnya yang suka pamer outfit dan kilas balik tentang kehidupan kita masing-masing belakangan ini.
Di sela obrolan itu, Fira tiba-tiba mengajukan pertanyaan; “Kalau seandainya aku kena covid lagi, kamu bakal ninggalin kerjaan kamu buat nemenin aku lagi nggak?”
Gua menatapnya dia. Serius. Lalu, dengan perlahan membelai rambutnya dan menjawab; “Ya… Aku bakal ninggalin dunia buat kamu…”
“Hehehe….”
“Tapi semoga dunia gak perlu aku tinggalkan. Karena kali ini aku mau mencoba belajar menghandle dua hal sekaligus: Dunia dan kamu…”
Sejak saat itu kualitas hubungan kami berdua semakin membaik. Gua mulai bisa ngatur waktu, meski kadang harus mencuri kesempatan di sela shift dan tugas lapangan. Membalas pesan darinya, memberi reaksi pada foto-foto random yang dikirimnya, bahkan untuk pertama kalinya dalam hidup gua mengirim sebuah emoji stiker kucing sambil bilang; ‘Ini pas aku kangen kamu’ Yang lantas diresponnya dengan deretan emoji tertawa. Melakukan hal cringe begitu tentu nggak gua banget. Tapi, demi dirinya, tetap gua lakukan.
Dari situ gua tahu, kalau Fira nggak mencari kesempurnaan, dia hanya ingin diusahakan.
—
Sore itu, langit Jakarta terlihat lebih muram dari biasanya. Awan stratus menggantung rendah seperti tengah berusaha keras menahan sesuatu yang nggak jadi tumpah. Hujan gerimis turun pelan, membasahi kaca jendela ruang tamu rumah Fira. Bau tanah basah dari taman kecil di depan rumahnya bercampur aroma teh melati yang baru diseduh membuat suasana jadi semakin syahdu. Dan, tegang.
Menit sebelumnya, Tante Ana terlihat cukup terkejut saat melihat gua kembali datang bersama Ibu. Tapi, raut wajahnya lalu berubah menjadi bertambah tegang karena sepertinya ia bisa menebak tujuan dari kedatangan kami berdua.
Mundur ke hari sebelumnya. Hari di mana gua baru saja selesai bekerja dengan ditemani Fira melalui panggilan video call yang terhubung walaupun gua sibuk berkaktivitas. Di akhir obrolan, ia sempat bicara; “Gimana ya Mas, kalau misalnya manusia di muka bumi ini punah karena pandemi?”
“Ya dunia mulai lagi tanpa kita…” Gua menjawab santai.
“Nanti di akhirat apa kita bakal bertemu?” Tanyanya.
“Hahaha… ya nggak tau, mungkin aja di sana nanti kamu nggak ingat aku sama sekali. Dan begitu juga aku…”
“Kamu nggak bakal berusaha mencari aku lagi?”
“Hmmm… Pertanyaan yang menarik. Tapi sepertinya terlalu jauh…”
“Nggak ya berarti?”
“Hahaha, tenang Fir. Aku bakal berusaha cari kamu kok…”
“Katanya kalau pasangan suami istri akan dipertemukan kembali di akhirat kelak. Mereka akan saling mengenal dan bersama-sama di surga…” Ucapnya, menirukan gaya ustad yang tengah berceramah.
“Kamu abis denger kajian?”
“Nggak, kemarin nggak sengaja ngeliat di youtube…” Jawabnya singkat.
“Oh…”
“Kalau kita menikah, berarti kan kamu nggak perlu repot-repot nyari aku. Dan aku nggak perlu capek-capek mengingat kamu…”
“Hahahaha…. Iya juga sih. Tapi, menikah kan bukan hal gampang. Emang kamu mau kita cepet-cepet nikah?” Tanya gua.
“Hehehehe… mau sih, tapi…” Ucapannya terhenti. Ia lalu menghela napas dalam-dalam dan melanjutkan sesaat berikutnya; “… Kamu emang yakin mau nikah sama aku?”
“Hmmm… Mungkin mau”
“Mungkin?” Tanyanya.
Gua nggak menjawab karena tiba-tiba ada panggilan darurat. Salah satu tenaga kesehatan di rumah sakit tempat gua bertugas saat ini, kolaps.
“Bentar, Fir ada yang gawat. Nanti aku telepon lagi..”
—
Gua duduk di sebelah Ibu, mencoba menenangkan napas. Sambil terus mencoba merasakan betapa kencangnya jantung ini berdetak. Di hadapan kami duduk Tante Ana, ibunya Fira. Perempuan yang selama ini menjaga anaknya sebaik mungkin. Perempuan yang mungkin saja belum sepenuhnya percaya sama gua.
Obrolan-obrolan nggak penting khas orang yang bingung karena nggak punya topik pembicaraan terus terjadi. Tentang jalan yang macet apa nggak, tentang cuaca yang mendung sepanjang hari, acara televisi yang itu-itu saja, hingga harga-harga kebutuhan yang terus naik tanpa kemungkinan turun.
Gua menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Lalu mulai bicara; "Tante, maksud kedatangan kami hari ini... “ Kalimat gua terhenti, rasanya tercekat.
Berdiri di depan ratusan dokter dengan skill mumpuni, berbicara dan memberikan kuliah tentang saraf dan otak sudah biasa gua lakukan. Tapi, entah kenapa tiba-tiba kemampuan bicara gua seolah hilang; seakan kehilangan keberanian.
Gua berdehem sebentar lalu mencoba kembali mengulang kalimat; Tante, maksud kedatangan kami hari ini...kami ingin melamar Fira…"
Lalu hening.
1 menit.
3 menit.
5 menit, yang ada hanya keheningan. Gua memberanikan diri menatap ke arah Tante Ana yang tengah menatap kosong ke atas, ke arah langit-langit sambil memainkan ujung jarinya seolah sedang berperang dengan pikirannya sendiri. Matanya memang nggak menatap gua, tapi juga nggak benar-benar melihat langit-langit. Hanya… kosong. Lama. Gua bisa mendengar detak jantung gua sendiri, rasanya seperti digantung di ujung tebing.
“Tapi kan kamu tau kalau Fira masih kuliah…” suaranya akhirnya keluar, nyaris berbisik.
“…”
“…Masih banyak yang harus dia jalani, masa depan dia masih panjang”
Gua kembali berdehem sebentar, kemudian sedikit memajukan duduk, mencari posisi yang nyaman; "Saya janji bakal jaga dia, Tan... Dan, nggak bakal mengganggu kuliahnya. Saya juga bakal bantu kalau dia butuh…"
Tante Ana nggak langsung merespon, ia kembali terdiam. Sementara, Ibu mulai ikut ‘bicara’, ia menggerakan kedua tangannya, membuat bahasa isyarat yang lantas gua terjemahkan.
“Ibu bilang kalau tante nggak perlu terburu-buru menjawab, dipikirkan lagi matang-matang”
Tante Ana lalu mengangguk pelan.
Obrolan kembali beralih ke hal lain. Hingga akhirnya gua memutuskan untuk pamit sebelum Fira kembali dari sanggar tari. Iya, gua memang sengaja nggak memberitahunya tentang rencana melamar dirinya. Gua mau Tante Ana yang tau lebih dulu, setelah itu, barulah gua akan bicara dengannya.
Sebelum pulang, Gua meminta kepastian kepadanya; ke Tante Ana tentang kapan ia akan memberikan jawaban. Ia lantas menjawab singkat; “Minggu depan…”
“Minggu depan…” Gumam gua pelan seraya melangkah keluar dengan perasaan yang masih menggantung. Kayak awan Jakarta sore menjelang malam ini; mendung dan hanya gerimis. Dari semua keputusan yang pernah gua tunggu, ini adalah yang paling bikin jantung berasa nggak karuan.
Hari berikutnya, gua menjalani hari-hari seperti biasa. Begitu juga Fira yang sepertinya masih belum diberitahu oleh Nyokapnya perihal lamaran gua kemarin. Jadi, gua nggak perlu repot-repot terus menjaga rahasia.
Setelah seminggu berlalu tanpa ada kecurigaan dari Fira. Gua kembali datang ke rumahnya, kali ini tanpa kehadiran Ibu yang menemani. Ya, karena di pertemuan kedua ini sepertinya hanya mendengarkan keputusan dari Tante Ana; Iya dan Tidak.
Kali ini Fira berada di rumah. Ia masih belum juga menunjukkan kecurigaannya. Ekspresi wajahnya masih lugu dan bersemangat saat melihat kedatangan gua di rumahnya. Buat Fira, ini mungkin hanya malam minggu biasa. Malam minggu lain di mana kekasih ngapel ke pacarnya. Akan tetapi, buat gua malam ini rasanya berbeda; deg-degan nggak menentu. Gua bahkan sudah dua hari terakhir ini nggak bisa tidur. Bukan, bukan karena banyaknya pekerjaan. Tapi, karena gelisah menunggu datangnya hari ini.
“Pedes kan?” Tanya Fira saat menerima plastik kemasan transparan berisi seblak pesanannya.
“Iya… Kayaknya” Jawab gua asal, sudah nggak memikirkan pedas dan nggaknya pesanan seblak Fira.
“Dih, kok kayaknya sih…” Responnya seraya meraih plastik dan masuk ke dalam.
Nggak lama berselang, ia kembali ke teras rumahnya dengan mangkok besar lengkap dengan sendok dan sebotol air mineral. Fira duduk di lantai, tangannya yang cekatan langsung membuka bungkusan, menuang porsi seblak yang uapnya masih mengepul ke dalam mangkok. Sementara, gua hanya menatapnya nanar.
“Mamah ada kan?” Tanya gua seraya melirik ke arah carport di mana mobil sedan milik Tante Ana terparkir.
“Ada…” Jawabnya singkat, lalu mulai mencicipi porsi seblak. “Aaah… seger banget… Tapi, kurang pedes dikit…”
“Ada apaan sih? tumben baru dateng udah nanyain Mamah?” Tambahnya.
Gue menggeleng pelan; “Gapapa, mau ngobrol aja…”
“Ngobrol apa?” Tanyanya lagi, mulai penasaran.
“Mmm… Ya ngobrol santai aja…”
“Ooh… ada noh lagi nonton tv”
“Dia tau aku dateng?”
“Tau… siapa yang nggak tau sih? orang satu RT juga langsung tau kalo kamu dateng pake mobil berisik itu…” Jawabnya sambil menunjuk sedan biru gua yang kini terparkir tepat di depan rumahnya.
Gua berdiri, bersiap untuk masuk ke dalam untuk menemui Tante Ana. Fira yang masih sibuk dengan porsi seblaknya hanya menatap gua bingung.
“Malam, Tan…” Sapa gua begitu masuk ke ruang keluarga rumahnya, di mana Tante Ana terlihat tengah duduk di sofa seraya menatap ke arah tv berukuran raksasa. Samar, terdengar dialog berbahasa korea yang lucu.
Tante Ana terlihat tenang saat menatap ke arah gua. Dari ekspresi wajahnya yang terlihat cukup penuh percaya diri, gua yakin kalau dia sudah punya jawabannya. Jawaban yang gua tunggu-tunggu.
“Malam…” Balasnya, “Baru pulang?” dengan nada yang datar dan tetap tenang.
“Iya, Tan” Jawab gua singkat.
“Duduk…”
Gua lalu duduk di salah satu sofa kecil yang kosong, sofa yang berada tepat di seberangnya. “Terima Kasih, Tan…”
“Udah di bikinin kopi sama Fira?” Tanyanya lagi.
Gua menggeleng pelan; “Belum, Tan… Nanti saja. Nggak ketelen kalo sekarang”
Tante Ana lalu mematikan televisi dengan menggunakan remot. Seakan ingin fokus dengan obrolan.
Dan saat ia baru saja bersiap untuk bicara, tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat; Fira. Ia menatap kami berdua bergantian; bingung; “Ngapain sih? serius banget?” Tanyanya dengan mulut belum berhenti mengunyah.
Tante Ana lantas menepuk sisi sofa kosong di sebelahnya, memberikan kode ke Fira agar duduk di sana. “Tunggu aku ambil seblak dulu…” Gumamnya lalu bersiap pergi. Namun, Tante Ana dengan cepat memanggil namanya; “Fira…” Dan kembail menepuk sisi sofa kosong di sebelahnya.
Fira menurut, lalu melangkah pelan mendekat ke arah Nyokapnya. Ia sempat melirik ke arah gua, lalu bicara dengan gerakan mulut tanpa suara; “Apaan sih?”
Pertanyaan yang nggak bisa gua jawab.
“Apaan sih?” Tanya Fira ke Nyokapnya, karena nggak berhasil mendapat jawaban dari gua. Tante Ana menatap gua dan mengangguk pelan, lalu bicara; “Lian mau…”
“Mau apa?” Tanyanya lagi, nggak sabar.
Gua menghela napas dalam-dalam lalu mulai buka suara. Menceritakan ke Fira tentang peristiwa minggu kemarin di mana gua dan Ibu datang ke sini tanpa sepengetahuannya.
“Hah? Ngapain?”
“Ngelamar kamu…”
“What!?” Seru Fira lalu berdiri dan berpindah duduk di sebelah gua. “Serius Mas?” Tanyanya. Kini ekspresi wajahnya terlihat berbunga-bunga.
Gua mengangguk; “Tapi, Mamah kamu masih belum bisa ngasih jawaban… Dan dia janji mau ngasih jawabannya minggu depan; sekarang” Jawab gua.
“Tapi, kan…” Fira bersiap mengajukan protes, namun Nyokapnya keburu memberikan kode dengan menempelkan telunjuknya di bibir seraya memandangi kami lama. Mata beliau menggelap, rahangnya mengeras.
“Seperti yang sudah saya bilang minggu kemarin, Fira masih kuliah, Lian,” suaranya pelan tapi mengandung tekanan. “Masih banyak yang harus dia jalani. Hidup dia baru mulai. Kamu yakin kamu bisa menemani dia dengan itu semua?”
Belum sempat gua menjawab, Fira keburu memotong, ia buru-buru bicara, suaranya bergetar tapi tegas. “Mah, aku tahu aku belum selesai kuliah. Tapi aku juga tahu apa yang aku mau. Mas Lian nggak pernah nyuruh aku berhenti belajar. Justru dia yang terus dorong aku buat lanjut. Aku nggak akan berhenti kuliah, aku janji…” Ucapnya seraya mengangkat dua jari ke atas.
Gua mengangguk, menambahkan, “Aku serius sama Fira, Tante. Bukan cuma karena aku cinta, tapi karena aku percaya sama dia. Aku mau jadi bagian dari perjalanan dia. Aku mau tumbuh bareng dia…”
Tante Ana masih terdiam. Tapi gua melihat ada sesuatu yang mulai pecah pelan di matanya. Air mata tipis mulai menggenang. Ia lantas menatap Fira lekat; “Mamah cuma takut kamu nyesel, Fir… Kamu masih muda. Banyak hal yang kamu belum lihat. Nanti kalau kamu mulai capek sama tanggung jawab, sama kompromi, sama hidup yang nggak gampang… Mamah takut kamu nyalahin keputusan ini….”
“…”
“… Kamu mungkin belum tau betapa repotnya saat punya anak nanti, mengurus suami, mengatur keuangan dan hal-hal yang selama ini belum kamu benar-benar kenali…” Ia menambahkan.
Seketika ruangan terasa seperti mengecil. Gua merasa semua oksigen tertarik keluar dari paru-paru gua.
“Aku nggak akan nyalahin siapa-siapa, Mah. Ini bukan jalan pintas, Aku udah melihat pengorbanannya buat aku. Emang Mamah nggak sadar? Aku tahu, kita bisa lewatin semuanya sama-sama. Pelan-pelan...”
Lalu hening cukup lama.
Sampai akhirnya Tante Ana menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Saat ia mengangkat wajahnya lagi, matanya basah.
“Kalau itu keputusan kalian… Tapi kalian harus janji… kalian nggak akan saling ninggalin...”
Fira mengangguk sambil menangis. Gua pun ikut mengangguk, dengan suara tercekat, “Iya, Tan, saya janji…”
Setelahnya, gua membiarkan Fira dan Nyokapnya saling berpelukan sambil bertukar tangisan haru. Sementara, gua diam-diam pergi ke luar dari rumahnya. Melangkah pelan menyusuri jalan dan berhenti tepat di bawah lampu yang berpendar terang, lampu jalan yang kini sudah berfungsi normal.
Gua mengambil sebatang rokok dan menyulutnya, menghembuskan asapnya ke udara seraya menatap ke arah jendela kamar Fira yang terlihat terang. Lampu jalan ini dan jendela kamar itu pernah menjadi saksi hubungan kami berdua yang kompleks dan penuh duri.
Dari posisi gua berdiri terlihat Fira keluar dari gerbang rumahnya, kepalanya menoleh ke kiri dan kanan mencari-cari sesuatu. Ekspresinya nampak bingung saat melihat gua berdiri di sini, di bawah lampu jalan. Tanpa alas kaki, ia berlari ke arah gua.
“Ngapain?” Tanyanya.
Gua mengangkat batang rokok; “Ngerokok…”
“Jauh banget, biasanya juga cuma di depan pager…”
“Gapapa sekalian nostalgia…” Jawab gua, lantas membuang putung rokok asal-asalan ke sisi selokan. Lalu meraih tangannya agar mendekat.
Gua mengangkat tangan, menunjuk ke arah jendela kamarnya di lantai dua; “Dulu, kamu pertama notice kehadiranku dari sana, dari jendela kamarmu…”
Fira tersenyum simpul, “Dan kamu berdiri di sini, seperti sekarang?”
Gua mengangguk pelan; “Iya…”
---
MALIQ & D'Essentials - Dia
Temukan apa arti dibalik cerita
Hati ini terasa berbunga-bunga
Membuat seakan aku melayang
Terbuai asmara
Adakah satu arti dibalik tatapan
Tersipu malu akan sebuah senyuman
Membuat suasana menjadi nyata
Begitu indahnya
Dia seperti apa yang selalu ku nantikan aku inginkan
Dia melihatku apa adanya seakan kusempurna
Tanpa buah kata kau curi hatiku
Dia tunjukkan dengan tulus cintanya
Terasa berbeda saat bersamanya
Aku jatuh cinta
Dia bukakan pintu hatiku yang lama tak bisa kupercayakan cinta
Hingga dia disini memberi cintaku harapan
dia seperti apa yang ku nantikan aku inginkan
dia melhatku apa adanya seakan kusempurna
Give me your love 2x
Now so come on and love me2x
Give me your love 2x
Now so come on and love me 2x
Nothing in this world could come baby love to me
I would tell the world when you give your love to me
Give me your love 2x
Now so come on and love me2x
Give me your love 2x
Now so come on and love me 2x
delet3 dan 36 lainnya memberi reputasi
37
Kutip
Balas
Tutup