- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
kelinci.tosca dan 149 lainnya memberi reputasi
150
215.3K
1.9K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#1093
007-E Dira
Di sekeliling gua, dalam ruangan yang sama, tampak beberapa pasien lain terpisah oleh dinding kaca transparan dan tirai biru pucat. Samar terdengar helaan napas berat dari arah kanan. Seorang pria tua, juga terhubung dengan ventilator. Dengung pelan dari alat pernapasannya bergema seperti suara mesin yang bernapas untuknya tabung transparan dan pompa yang naik-turun, monoton, seolah menandai waktu yang tak bergerak.
Seorang perawat datang menghampiri, memeriksa infus gua. Ia bicara pelan, seolah takut mengganggu.
“Kakak yang sabar ya... kita coba tingkatkan oksigennya.”
Tapi suaranya terdengar jauh, seperti datang dari balik dinding kaca tebal. Dunia terasa teredam. Keringat menetes dari dahi gua, tapi gua bahkan nggak sanggup mengangkat tangan. Kulit terasa lengket, rambut basah menempel di pelipis. Yang ada di pikiran cuma dua hal: bayangan kematian... dan wajah Lian.
Lalu dunia mulai goyah. Pandangan kabur, seperti layar TV yang kehilangan sinyal.
Dan kemudian... gelap.
—
Samar, suara-suara mengambang dalam kehampaan.
Tubuh gua seolah menghilang. Yang tersisa hanya kesadaran yang melayang di kegelapan. Rasanya seperti tenggelam, bukan di air, tapi di ruang tanpa ujung, tanpa dinding, tanpa suara, tanpa waktu. Gua nggak tahu ini mimpi, akhir, atau sesuatu di antara.
Entah sudah berapa lama gua terjebak di sini. Mungkin baru beberapa menit. Mungkin berhari-hari. Tapi waktu di sini nggak berlaku. Yang ada hanya diam.
Lalu... suara.
Samar, jauh, namun sangat familiar. Suara yang menggetarkan seluruh keberadaan gua.
“Ayo Fir… Kamu bisa… Kamu kan udah janji mau bikin dunia ngerti aku…”
Gua menoleh—atau mencoba. Nggak ada tubuh. Tapi gua tahu arah suara itu. Lian.
Dari kejauhan, gua melihat seberkas cahaya. Seperti matahari yang menembus air laut, berpendar, berdenyut lembut. Gua mencoba menggapainya. Tapi tangan ini tak ada. Gua cuma dorongan niat, dorongan rasa. Dan setiap kali gua mencoba mendekat, gua kembali tertarik mundur oleh kehampaan.
“Jangan pergi dulu, Fir. Duniaku masih berantakan tanpa kamu...”
“Kamu harus kuat…”
“Please… Bertahanlah...”
Suara-suara itu datang bergantian. Kadang pelan, kadang putus-putus. Tapi semuanya dari satu orang: Lian.
Gua berusaha lebih keras. Cahaya itu makin terang, makin nyata. Tapi semakin dekat gua, semakin kuat rasa sakit di dada. Seperti ada tali yang ditarik. Sakit… tapi juga menandakan bahwa gua masih hidup.
“Jangan tinggalin aku sekarang… bukan gini caranya…”
Tenggorokan gua tercekat. Rasanya ingin berteriak, ingin bilang kalau gua di sini. Tapi suara gua hilang. Hanya hati yang bergetar, hanya doa tanpa bentuk. ‘Lian…’
Cahaya itu akhirnya menyentuh gua.
Dan gua—setelah tenggelam sekian lama—mengambil napas pertama.
—
Mata gua terbuka.
Buram. Putih. Cahaya menyilaukan dari langit-langit rumah sakit. Tapi perlahan, fokus mulai kembali. Gua lihat sosok di depan gua. Diam. Tegap. Bahunya gemetar.
Lian.
Kami saling menatap. Tanpa suara. Tapi semua yang perlu disampaikan ada di matanya, mata yang berkaca-kaca, penuh rindu, takut, dan syukur.
Ia menangis. Tapi nggak meledak. Tangisnya sunyi, tertahan di balik masker. Hanya bahunya yang bergetar, dan sepasang mata yang tidak bisa berbohong.
Gua terlalu lemah untuk bicara. Bahkan tersenyum pun sulit. Tapi gua paksakan. Senyum kecil, tipis, hanya untuk bilang: aku masih di sini.
Lian menunduk, lalu membisik, “I miss you…”
Dan dengan seluruh tenaga yang gua punya, gua mengangguk. Pelan.
Gua menatap ke arah matanya. Dunia masih berputar pelan, seperti baru bangun dari mimpi yang terlalu panjang. Suhu ruangan terasa dingin, tapi jantung gua mulai terasa nyata di dalam dada. Napas masih berat, masih dibantu selang. Tapi gua bisa merasakan sesuatu.
Dan itu cukup.
Mata gua menyusuri ruangan. Semuanya terasa asing. Terlalu putih. Terlalu bersih. Tapi wajah Lian, wajahnya seperti satu-satunya hal yang masih nyata. Dalam kabut ini, dia seperti satu jangkar yang menahan gua supaya nggak terbang terlalu jauh dari dunia.
“Kamu denger aku, kan?” bisiknya.
Gua berkedip. Pelan. Tapi ia menangkapnya.
Air matanya jatuh, satu tetes kecil yang mendarat di tangan gua yang terkulai lemah. Ia langsung menggenggamnya, hangat, seperti sedang memegang benda paling rapuh di dunia.
Gua ingin bicara. Ingin bilang bahwa suaranya adalah satu-satunya yang gua dengar di antara keheningan panjang itu. Tapi yang keluar hanya napas berat dari hidung. Mata gua kembali tertutup, kelelahan datang tiba-tiba seperti gelombang besar.
Tapi sebelum tenggelam lagi, gua masih bisa mendengar suara Lian. Tenang, hangat, seperti mantra yang membuat dunia ini terasa masuk akal lagi.
“Nggak apa-apa. Istirahat lagi. Aku di sini. Aku jagain kamu…”
Dan kali ini, kegelapan yang datang bukan kehampaan. Tapi lebih seperti pelukan. Aman. Karena gua tahu—ketika gua bangun lagi nanti, dia masih akan di sini.
Dan gua akan pulang. Pelan-pelan.
—
Beberapa hari berlalu sejak gua sadar di ICU. Rasanya seperti berjalan perlahan dari bawah laut ke permukaan. Pelan, tapi pasti. Sekarang gua sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Nafas masih terasa sesak, tapi selang oksigen sudah diganti dengan ukuran yang lebih kecil dan lebih ringan.
Semestinya gua bakal merasa bosan, tapi nyatanya nggak.
Lian duduk di kursi sebelah ranjang gua. Ia juga terinfeksi COVID. Kemungkinan besar terinfeksi dari gua atau mungkin dari pasien yang lain yang berada di bangsal. Ya gimana nggak tertular, lha wong dia nekad masuk ke dalam bangsal. Walaupun menggunakan seragam APD lengkap rupanya kemungkinan terpapar tetap ada.
Gua bisa saja mengomel panjang lebar; memarahinya karena bertindak nekad. Tapi gua tunda karena tenaga yang belum pulih benar.
‘Liat aja ntar…' Gumam gua dalam hati.
Tapi yang terpenting, kami selamat. Dan sekarang, kami ada di sini, bersama-sama. Di kamar isolasi kecil dengan jendela kecil yang sengaja dibuka agar udara segar bisa masuk ke dalam ruangan.
“Lucu ya,” gumamnya seraya menggenggam tangan gua, “Aku dokter dan kamu seorang pasien. Berada di ruang yang sama, tapi sama-sama sebagai pasien…”
Gua tersenyum, disusul batuk kecil, lalu meringis karena paru-paru masih belum sepenuhnya pulih; “Romantisnya sakit bareng, ya?”
Kami saling pandang, lalu tertawa pelan. Sejenak lupa bahwa tubuh kami masih dalam perjuangan melawan virus. Sejenak lupa bahwa dunia luar belum benar-benar aman.
Di kamar sebelah, terbaring seorang pria muda yang nampaknya juga masih dalam proses pemulihan. Rambutnya tebal berantakan, wajahnya tirus, dan nampak seperti penjahat, jika dilihat dari tatap matanya yang suram dan menyeramkan. Kami berdua kerap melihatnya tanpa sengaja, melalui celah pintu kamarnya yang sengaja dibiarkan terbuka. Saat tengah berjalan menyusuri lorong untuk melatih pernapasan.
“Serem… Kayak penjahat” Bisik gua ke Lian.
“Hush… Stereotyping…” Balas Lian.
Suatu ketika, kami tanpa sengaja berpapasan. Ia sepertinya baru saja selesai merokok di ujung koridor. Terasa dari aroma tembakau yang menyengat di pakaiannya saat kami bertemu.
‘Gila, orang macam apa yang baru sembuh covid terus merokok?’ Batin gua dalam hati. Sementara, Lian nggak memberi respon apapun. Ia malah terdorong untuk ikut-ikutan merokok. Terlihat dari gerak-geriknya yang aneh.
Beberapa kali kami berpapasan, lalu ia mengajak bicara; “Kalian pasangan ya?”
Lian mengangguk pelan.
Sementara, gua memberi jawaban; “Iya..”
Dia mengangguk pelan. “Ooh… Pantes…” Gumamnya, dingin.
Ada jeda. Sunyi yang aneh. Tapi bukan sunyi yang canggung, lebih ke sunyi yang hangat. Seperti ada semacam pemahaman yang nggak perlu penjelasan.
Ia lalu mengulurkan tangan dan menyebut namanya; “Dira…”
Gua nggak langsung menyambut uluran tangannya, takut. Tapi, Lian dengan cepat meraih dan menjabatnya; “Lian… Ini, Fira…”
“Salam kenal…” Sapanya.
Lian dan Gua mengangguk kompak.
“Kerja atau kuliah?” Tanya gua, penasaran.
“Kerja…” Jawabnya singkat.
“Kerja apa?” Tanya gua lagi.
Ia nggak langsung menjawab, hanya menyeringai dan menatap kami bergantian. Lalu bicara sambil berbisik; “Pembunuh…”
Begitu mendengar jawabannya barusan, gua langsung mundur beberapa langkah dan bersembunyi dibalik tubuh Lian.
Sementara, Dira langsung mengoreksi ekspresi seringai-nya lalu tersenyum; “Bercanda… Gue tukang service…”
“Service apa?” Tanya gua lagi, masih penasaran.
“Mostly, elektronik.. Laptop, Smartphone, apa aja…” Jawabnya.
“Ooh… Kirain pembunuh beneran?” Gumam gua yang lalu disusul tawanya yang ringan. Pelan, tapi jujur.
Kami tertawa kecil. Pelan. Tapi jujur.
Hari-hari berikutnya, kami bertiga jadi semacam geng kecil di dalam koridor sempit rumah sakit itu. Dira sering bercerita tentang pengalamannya menghadapi covid, tentang hidup yang berubah karena pandemi dan banyak hal remeh lainnya.
Kadang kami bertiga hanya duduk diam, mendengarkan suara hujan dari luar jendela rumah sakit. Kadang Lian menggoda Dira dengan membacakan puisi-puisi cheesy dari buku usang yang tergeletak di meja samping ranjangnya. Dan kadang gua cuma mengamati mereka, dan bersyukur bahwa di tengah masa terlemah gua, gua masih bisa mengenal manusia lain yang membuat dunia terasa nggak sepi-sepi amat.
Mungkin begitu ya, hidup. Nggak selalu soal sembuh atau sakit. Tapi soal siapa yang hadir di sebelah ranjang waktu lo nggak yakin bakal bangun lagi besok pagi.
--
Seorang perawat datang menghampiri, memeriksa infus gua. Ia bicara pelan, seolah takut mengganggu.
“Kakak yang sabar ya... kita coba tingkatkan oksigennya.”
Tapi suaranya terdengar jauh, seperti datang dari balik dinding kaca tebal. Dunia terasa teredam. Keringat menetes dari dahi gua, tapi gua bahkan nggak sanggup mengangkat tangan. Kulit terasa lengket, rambut basah menempel di pelipis. Yang ada di pikiran cuma dua hal: bayangan kematian... dan wajah Lian.
Lalu dunia mulai goyah. Pandangan kabur, seperti layar TV yang kehilangan sinyal.
Dan kemudian... gelap.
—
Samar, suara-suara mengambang dalam kehampaan.
Tubuh gua seolah menghilang. Yang tersisa hanya kesadaran yang melayang di kegelapan. Rasanya seperti tenggelam, bukan di air, tapi di ruang tanpa ujung, tanpa dinding, tanpa suara, tanpa waktu. Gua nggak tahu ini mimpi, akhir, atau sesuatu di antara.
Entah sudah berapa lama gua terjebak di sini. Mungkin baru beberapa menit. Mungkin berhari-hari. Tapi waktu di sini nggak berlaku. Yang ada hanya diam.
Lalu... suara.
Samar, jauh, namun sangat familiar. Suara yang menggetarkan seluruh keberadaan gua.
“Ayo Fir… Kamu bisa… Kamu kan udah janji mau bikin dunia ngerti aku…”
Gua menoleh—atau mencoba. Nggak ada tubuh. Tapi gua tahu arah suara itu. Lian.
Dari kejauhan, gua melihat seberkas cahaya. Seperti matahari yang menembus air laut, berpendar, berdenyut lembut. Gua mencoba menggapainya. Tapi tangan ini tak ada. Gua cuma dorongan niat, dorongan rasa. Dan setiap kali gua mencoba mendekat, gua kembali tertarik mundur oleh kehampaan.
“Jangan pergi dulu, Fir. Duniaku masih berantakan tanpa kamu...”
“Kamu harus kuat…”
“Please… Bertahanlah...”
Suara-suara itu datang bergantian. Kadang pelan, kadang putus-putus. Tapi semuanya dari satu orang: Lian.
Gua berusaha lebih keras. Cahaya itu makin terang, makin nyata. Tapi semakin dekat gua, semakin kuat rasa sakit di dada. Seperti ada tali yang ditarik. Sakit… tapi juga menandakan bahwa gua masih hidup.
“Jangan tinggalin aku sekarang… bukan gini caranya…”
Tenggorokan gua tercekat. Rasanya ingin berteriak, ingin bilang kalau gua di sini. Tapi suara gua hilang. Hanya hati yang bergetar, hanya doa tanpa bentuk. ‘Lian…’
Cahaya itu akhirnya menyentuh gua.
Dan gua—setelah tenggelam sekian lama—mengambil napas pertama.
—
Mata gua terbuka.
Buram. Putih. Cahaya menyilaukan dari langit-langit rumah sakit. Tapi perlahan, fokus mulai kembali. Gua lihat sosok di depan gua. Diam. Tegap. Bahunya gemetar.
Lian.
Kami saling menatap. Tanpa suara. Tapi semua yang perlu disampaikan ada di matanya, mata yang berkaca-kaca, penuh rindu, takut, dan syukur.
Ia menangis. Tapi nggak meledak. Tangisnya sunyi, tertahan di balik masker. Hanya bahunya yang bergetar, dan sepasang mata yang tidak bisa berbohong.
Gua terlalu lemah untuk bicara. Bahkan tersenyum pun sulit. Tapi gua paksakan. Senyum kecil, tipis, hanya untuk bilang: aku masih di sini.
Lian menunduk, lalu membisik, “I miss you…”
Dan dengan seluruh tenaga yang gua punya, gua mengangguk. Pelan.
Gua menatap ke arah matanya. Dunia masih berputar pelan, seperti baru bangun dari mimpi yang terlalu panjang. Suhu ruangan terasa dingin, tapi jantung gua mulai terasa nyata di dalam dada. Napas masih berat, masih dibantu selang. Tapi gua bisa merasakan sesuatu.
Dan itu cukup.
Mata gua menyusuri ruangan. Semuanya terasa asing. Terlalu putih. Terlalu bersih. Tapi wajah Lian, wajahnya seperti satu-satunya hal yang masih nyata. Dalam kabut ini, dia seperti satu jangkar yang menahan gua supaya nggak terbang terlalu jauh dari dunia.
“Kamu denger aku, kan?” bisiknya.
Gua berkedip. Pelan. Tapi ia menangkapnya.
Air matanya jatuh, satu tetes kecil yang mendarat di tangan gua yang terkulai lemah. Ia langsung menggenggamnya, hangat, seperti sedang memegang benda paling rapuh di dunia.
Gua ingin bicara. Ingin bilang bahwa suaranya adalah satu-satunya yang gua dengar di antara keheningan panjang itu. Tapi yang keluar hanya napas berat dari hidung. Mata gua kembali tertutup, kelelahan datang tiba-tiba seperti gelombang besar.
Tapi sebelum tenggelam lagi, gua masih bisa mendengar suara Lian. Tenang, hangat, seperti mantra yang membuat dunia ini terasa masuk akal lagi.
“Nggak apa-apa. Istirahat lagi. Aku di sini. Aku jagain kamu…”
Dan kali ini, kegelapan yang datang bukan kehampaan. Tapi lebih seperti pelukan. Aman. Karena gua tahu—ketika gua bangun lagi nanti, dia masih akan di sini.
Dan gua akan pulang. Pelan-pelan.
—
Beberapa hari berlalu sejak gua sadar di ICU. Rasanya seperti berjalan perlahan dari bawah laut ke permukaan. Pelan, tapi pasti. Sekarang gua sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Nafas masih terasa sesak, tapi selang oksigen sudah diganti dengan ukuran yang lebih kecil dan lebih ringan.
Semestinya gua bakal merasa bosan, tapi nyatanya nggak.
Lian duduk di kursi sebelah ranjang gua. Ia juga terinfeksi COVID. Kemungkinan besar terinfeksi dari gua atau mungkin dari pasien yang lain yang berada di bangsal. Ya gimana nggak tertular, lha wong dia nekad masuk ke dalam bangsal. Walaupun menggunakan seragam APD lengkap rupanya kemungkinan terpapar tetap ada.
Gua bisa saja mengomel panjang lebar; memarahinya karena bertindak nekad. Tapi gua tunda karena tenaga yang belum pulih benar.
‘Liat aja ntar…' Gumam gua dalam hati.
Tapi yang terpenting, kami selamat. Dan sekarang, kami ada di sini, bersama-sama. Di kamar isolasi kecil dengan jendela kecil yang sengaja dibuka agar udara segar bisa masuk ke dalam ruangan.
“Lucu ya,” gumamnya seraya menggenggam tangan gua, “Aku dokter dan kamu seorang pasien. Berada di ruang yang sama, tapi sama-sama sebagai pasien…”
Gua tersenyum, disusul batuk kecil, lalu meringis karena paru-paru masih belum sepenuhnya pulih; “Romantisnya sakit bareng, ya?”
Kami saling pandang, lalu tertawa pelan. Sejenak lupa bahwa tubuh kami masih dalam perjuangan melawan virus. Sejenak lupa bahwa dunia luar belum benar-benar aman.
Di kamar sebelah, terbaring seorang pria muda yang nampaknya juga masih dalam proses pemulihan. Rambutnya tebal berantakan, wajahnya tirus, dan nampak seperti penjahat, jika dilihat dari tatap matanya yang suram dan menyeramkan. Kami berdua kerap melihatnya tanpa sengaja, melalui celah pintu kamarnya yang sengaja dibiarkan terbuka. Saat tengah berjalan menyusuri lorong untuk melatih pernapasan.
“Serem… Kayak penjahat” Bisik gua ke Lian.
“Hush… Stereotyping…” Balas Lian.
Suatu ketika, kami tanpa sengaja berpapasan. Ia sepertinya baru saja selesai merokok di ujung koridor. Terasa dari aroma tembakau yang menyengat di pakaiannya saat kami bertemu.
‘Gila, orang macam apa yang baru sembuh covid terus merokok?’ Batin gua dalam hati. Sementara, Lian nggak memberi respon apapun. Ia malah terdorong untuk ikut-ikutan merokok. Terlihat dari gerak-geriknya yang aneh.
Beberapa kali kami berpapasan, lalu ia mengajak bicara; “Kalian pasangan ya?”
Lian mengangguk pelan.
Sementara, gua memberi jawaban; “Iya..”
Dia mengangguk pelan. “Ooh… Pantes…” Gumamnya, dingin.
Ada jeda. Sunyi yang aneh. Tapi bukan sunyi yang canggung, lebih ke sunyi yang hangat. Seperti ada semacam pemahaman yang nggak perlu penjelasan.
Ia lalu mengulurkan tangan dan menyebut namanya; “Dira…”
Gua nggak langsung menyambut uluran tangannya, takut. Tapi, Lian dengan cepat meraih dan menjabatnya; “Lian… Ini, Fira…”
“Salam kenal…” Sapanya.
Lian dan Gua mengangguk kompak.
“Kerja atau kuliah?” Tanya gua, penasaran.
“Kerja…” Jawabnya singkat.
“Kerja apa?” Tanya gua lagi.
Ia nggak langsung menjawab, hanya menyeringai dan menatap kami bergantian. Lalu bicara sambil berbisik; “Pembunuh…”
Begitu mendengar jawabannya barusan, gua langsung mundur beberapa langkah dan bersembunyi dibalik tubuh Lian.
Sementara, Dira langsung mengoreksi ekspresi seringai-nya lalu tersenyum; “Bercanda… Gue tukang service…”
“Service apa?” Tanya gua lagi, masih penasaran.
“Mostly, elektronik.. Laptop, Smartphone, apa aja…” Jawabnya.
“Ooh… Kirain pembunuh beneran?” Gumam gua yang lalu disusul tawanya yang ringan. Pelan, tapi jujur.
Kami tertawa kecil. Pelan. Tapi jujur.
Hari-hari berikutnya, kami bertiga jadi semacam geng kecil di dalam koridor sempit rumah sakit itu. Dira sering bercerita tentang pengalamannya menghadapi covid, tentang hidup yang berubah karena pandemi dan banyak hal remeh lainnya.
Kadang kami bertiga hanya duduk diam, mendengarkan suara hujan dari luar jendela rumah sakit. Kadang Lian menggoda Dira dengan membacakan puisi-puisi cheesy dari buku usang yang tergeletak di meja samping ranjangnya. Dan kadang gua cuma mengamati mereka, dan bersyukur bahwa di tengah masa terlemah gua, gua masih bisa mengenal manusia lain yang membuat dunia terasa nggak sepi-sepi amat.
Mungkin begitu ya, hidup. Nggak selalu soal sembuh atau sakit. Tapi soal siapa yang hadir di sebelah ranjang waktu lo nggak yakin bakal bangun lagi besok pagi.
--
Diubah oleh robotpintar 09-06-2025 20:47
delet3 dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Tutup