Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
A GIRL WITH SCARS (TRUE STORY) 18+
Selamat Datang di Trit Ane Gan/Sis


A GIRL WITH SCARS (TRUE STORY) 18+


Terima kasih banyak atas atensinya selama ini dalam mengikuti trit-trit ane sebelum ini. Semoga dapat menghibur Agan Sista semua yang masih setia di forum kita tercinta. Mudah-mudahan di cerita terbaru ini, Agan Sista juga bisa menikmati alurnya, dan bisa meramaikan trit ini pada khususnya, dan forum Kaskus ini pada umumnya. Mudah-mudahan forum kita tercinta ini bisa ramai kembali seperti dahulu kala. Walaupun sulit, setidaknya kita mencoba dulu yang terbaik. Ane juga akan mengusahakan update secepat mungkin yang ane bisa, biar pada nggak banyak menunggu, karena jujur saja, trit ini dibuat tidak seperti yang sebelumnya-selesai dulu baru di posting, melainkan trit ini dibuat simultan, setelah selesai ditulis, diusahakan langsung di posting. Jadi proses menulisnya pun dilakukan real time.

Ane masih setia untuk menulis disini, karena kenyamanannya, dan selalu seperti rumah sendiri untuk pulang. Ane sudah berkelana kemana-mana, mencoba banyak platform baru, baik untuk sekadar baca maupun menulis, namun akhirnya ane kembali lagi ke rumah, ke Kaskus tercinta. Semoga masih pada mau baca-baca ya, GanSis.

Sekali lagi, terima kasih banyak atas dukungannya selama ini, mohon maaf kalau masih ada salah-salah kata, typo, dan kesalahan-kesalahan lainnya yang mungkin menyebabkan kurang nyaman saat membaca cerita ini.


Thank you, and Happy Reading


Trit ane lainnya

Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):


Spoiler for AMOR & DOLOR (TAMAT POV 1):


Spoiler for Peraturan:




Quote:
Diubah oleh yanagi92055 19-02-2025 00:03
sc6rpi6Avatar border
santet72Avatar border
ezzasukeAvatar border
ezzasuke dan 19 lainnya memberi reputasi
20
13.3K
293
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.7KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#60
Adapatasi_Part 4
Waktu bergerak cepat, persiapan lomba semakin matang. Aku, Septi, dan Sukma terpilih mewakili sekolah dalam ajang sains tingkat Kabupaten. Jika berhasil memenangkan ini, kesempatan untuk naik ke tingkat Provinsi akan terbuka lebar. Meski awalnya enggan, aku memilih melanjutkan. Bukan karena gairah kompetisi, tapi sebagai upaya membuktikan bahwa prestasi bisa menjadi jembatan mengurangi tekanan fisik—terutama olok-olokan soal penampilanku yang tak pernah berhenti. Ya, banyak yang mengakui aku semakin cantik, manis, dan tentu saja berkembang di titik-titik tubuh tertentu.

Dua bulan latihan intensif tak hanya memperkuat pengetahuan sains, tapi juga hubunganku dengan Septi dan Sukma. Namun, di tengah semangat itu, bayangan Santi menggantung seperti kabut tebal. Persahabatan kami mulai mengalami kendala, tanpa kejelasan penyebabnya.

“Sekarang ini aku jadi ngerasa jauh banget dari Santi, Suk. Gimana ya?” tanyaku pada Sukma suatu sore, suaraku berat seperti batu.

“Aku juga nggak tau, Ket. Soalnya dia jarang cerita apa-apa sama aku,” jawabnya datar, tapi sorot matanya menyiratkan sesuatu.

“Terus harus gimana dong?”

“Hmm. Mau coba samperin ke rumahnya aja nggak? Kali aja kalau kita main ke sana, dia jadi senang lagi.”

Ide itu terdengar sederhana, tapi jadwal latihan lomba membuatnya hampir mustahil. “Bisa aja sih, Suk. Tapi kamu tau sendiri, kita aja buat persiapan gini bisa sampai sore les bareng guru-guru.”

“Makanya, kita harus usahain,” desaknya, senyumnya mengembang seperti biasa.

Aku menghela napas. “Lihat nanti deh, Suk. Aku juga udah capek sama kondisi di sekolah. Tiap hari si Rendi itu ada aja kelakuannya ke aku.”

“Wisesa kemana sih?”

“Loh, kok jadi Wisesa? Kan dia punya urusannya sendiri, Suk.”

“Kalau gitu, aku bisa sih bantuin kamu juga di sekolah, biar nggak macam-macam itu si Rendi.”

Kata-katanya jujur, tapi aku tersenyum miris. “Haha. Kamu aja badannya lebih kecil dari dia, Suk. Emang kamu mau ngapain?”

“Ya namanya bantu ngelindungin teman yang mau dinakalin, kan nggak apa-apa juga, Ket.”

“Iya sih, tapi kayaknya udah deh, aku nggak mau ngelibatin lebih banyak orang lagi buat masuk ke masalah aku, Suk. Kamu aja sama Santi sekarang-sekarang ini sering banget berantem. Gimana kamu mau bantuin aku coba?”
Sukma terdiam sejenak, lalu tertawa ringan. “Orang kalau mau bantuin kan nggak perlu bilang-bilang dulu. Superman aja kalau bantuin orang kan tiba-tiba datangnya. Hehe.”

“Oh kamu mau jadi Superman nih ceritanya? Dalam rangka apaan emangnya? Hahaha.”

“Namanya juga usaha, Ket.”

“Usaha? Buat apaan?”

“Yaaa. Usaha aja. Hahaha.”

Obrolan itu selesai dengan tawa, tapi benakku penuh tanya. Mengapa Sukma begitu antusias menawarkan bantuan? Apakah ini sekadar rasa solidaritas teman, atau ada alasan lain yang ia sembunyikan? Sorot matanya ketika menyebut nama Santi tadi terasa berbeda—seolah menyimpan rahasia yang ingin ia ungkap, tapi belum saatnya.

---

Di kantin belakang sekolah, udara terasa berat. Santi duduk dengan postur tegak, matanya menghindari tatapan kami. Sukma membuka percakapan dengan suara pelan, seolah takut mengusik ketegangan yang sudah menebal seperti gelembung ketegangan.

"San, kamu kenapa sih?" Sukma bertanya, suaranya mencoba menembus dinding tak terlihat yang Santi bangun. Aku dan Sukma duduk di sisi meja yang sama, sedangkan Santi seperti berada di pulau terpisah, dan tentu saja tanpa Wisesa.

"Aku? Kenapa? Aku nggak kenapa-kenapa. Kalian nih lagian ngapain sih kesini? Kan lagi sibuk tuuu, urusan buat lombaaaa..." Jawaban Santi menusuk seperti jarum. Senyumnya mencibir, tapi matanya kosong—seperti langit malam tanpa bintang.

Aku mencoba melunak. "San, jangan kayak gitu dong. Aku sama Sukma kan emang lagi konsentrasi buat lomba. Kamu juga tau kalau aku setiap hari pulangnya selalu terlambat karena harus les dulu bareng guru matematika." Nada suaraku berubah jadi permohonan, tapi Santi hanya tertawa pendek.

"Ah aku juga banyak teman yang lain, kok. Nggak cuma kalian. Jadi ya kalau kalian sibuk, aku juga bisa sibuk dengan teman-teman lainnya. Hahaha." Katanya, suaranya penuh duri.

"Ya tapi kan kita sahabatan, San." Aku mencoba lagi, tapi Santi langsung menyambar.

"Sahabat mana ada yang lupa sama sahabatnya sendiri?? Hah?!" Suaranya meninggi, seperti angin ribut yang tak bisa dikendalikan.

"Mana ada sahabat lupa dengan sahabatnya sendiri sih, San." Sukma menimpali, tapi sorot mata Santi langsung menusuknya.

"Kamu mana tau soal beginian, Suk? Emang kamu pernah bener-bener merhatiin aku selama ini? Kalau aku tanya ini itu soal aku aja kamu jawabannya selalu lupa!"

Sukma terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada sedikit getir. "Ya kan aku nggak harus bisa nginget semuanya, San. Emang nggak cukup aku setiap hari dampingin kamu kemana-mana?"

"Heh. Dampingin orang itu tidak sama dengan perhatian ke orangnya. Supir angkot juga tiap hari nganter orang kemana-mana, emang dia dianggap perhatian sama kamu dan orang-orang lain? Nggak kan?" Santi menggelegar, suaranya memecah keheningan seperti kaca yang pecah. "...dan emang kamu tau apa aja yang dialami sama Keti selama ini?"

"Aku nggak tau apa-apa memang. Kan kalian sering tidur bareng di rumah kamu, San. Disitu pasti kalian cerita-cerita, kan? Aku kan nggak mungkin ikutan nimbrung tidur bareng cuma buat tau cerita-cerita kalian." Sukma membela diri, wajahnya mulai memerah.

"Haha. Terus ngapain kamu hampir tiap saat kalo lagi sama aku, ngomonginnya soal Keti? Keti ini, Keti itu. Dan lainnya. Ngapain Suk?"
Percakapan itu terjeda sejenak. Di luar, langit mulai mendung. Aku memandang Sukma, lalu Santi, lalu kembali ke Sukma. Ada sesuatu yang tak terucap di antara mereka—seperti benang tak terlihat yang menautkan dua rahasia yang saling bertentangan.

Udara kantin terasa makin sesak. Santi menatap Sukma dengan mata tajam, sementara aku masih berusaha memahami maksud serangan-serangan mereka.

"Tunggu. Maksudnya ngomongin aku, ngomongin kayak gimana?" suaraku menggelegar, meski dalam hati sudah mulai retak oleh kecurigaan. Santi selama ini tahu segalanya—termasuk luka yang bahkan tak pernah kuceritakan pada siapa pun, seperti pelecehan Vader.

"Bukan aku yang ngomongin kamu. Tapi dia!" Santi langsung menuding Sukma yang kini menundukkan kepala, wajahnya pucat seperti kertas basah. Aku melihat tangannya gemetar, seolah memegang sesuatu yang tak bisa dilepaskan.

"Maksud kamu?!" desakku, tapi Santi sudah melanjutkan dengan suara serak.

"Dia selalu ngomongin apapun tentang kamu. Dari mulai kepintaran kamu pas les, kamu pulang naik apa, sampai seberapa besar rasa suka kamu ke Wisesa yang nggak jelas itu." Setiap kata Santi seperti batu yang dilemparkan satu per satu, menghancurkan dinding diam yang selama ini kukira utuh.

"Terus emang itu salah ya?" tanyaku, suaraku bergetar.

"MENURUT KAMU?!!" ledakannya menggema seperti guntur di udara kering.
Sukma mencoba menengahi dengan suara parau. "Udah. Udaaaah!!" Tapi aku tak bisa diam. Santi marah tanpa alasan jelas, sementara Sukma terus diam seperti gunung yang menyimpan magma.

"Aku tak merasa membuat kesalahan apapun," desisku. "Kalau Sukma memang suka ngomongin aku, itu bukan urusanku. Semua tergantung dia sendiri."

"…oke, San, aku ngaku salah. Maafin aku kalau selama ini secara nggak sadar, aku suka ngomongin Keti di depan kamu. Toh aku mikirnya kan kita semua ini berteman, apalagi kamu sama dia kan sahabatan. Dekat banget kalau aku lihat. Makanya aku mikirnya, ya nggak masalah kan?" Sukma akhirnya buka suara, suaranya pecah seperti kaca yang retak.

"Lagian kamu ngapain sih merhatiin aku banget? Santi ini lebih pantas diperhatiin daripada aku."

"Ya sama lah porsinya, Ket."

"Hah? Maksudnya sama porsinya?" tanyaku lagi, bingung.

Sukma menyalak, suaranya memecah ketegangan. "Kamu sama Santi itu sama, sama-sama temanku!" Seruan itu terasa seperti palu yang menghantam meja. Santi menatapnya tak percaya, matanya mulai berkaca-kaca sambil sesekali menggeleng kecil.

"Ya kan memang kita teman bertiga, sama Wisesa berempat." tambahku, mencoba meredakan.

"T..Tapi.. emang kita...?" Santi terbata, air matanya mulai jatuh seperti hujan deras di tengah kemarau.

"Aku tuh ngejagain kalian berdua, Ket, San. Tapi kadang memang aku lebih banyak bareng sama kamu, San. Sementara Keti banyak banget dekat dengan cowok, dari mulai Sony, Wisesa, terus beberapa teman kelas 2 lainnya, terus anak-anak OSIS. Jadi ya aku akhirnya lebih banyak ngabisin waktu sama kamu, San." Sukma menjelaskan kembali, suaranya bergetar seperti daun yang digoyang angin.

"Jadi...kamu tuh sebenarnya nggak pernah sayang aku? Iya?" Air mata Santi mengalir deras, seperti sungai yang melebihi batas tanggul. Matanya merah, sorotnya tajam.

"............." Sukma diam, wajahnya pucat seperti kertas yang basah. Tangannya gemetar, seolah memegang sesuatu yang tak bisa dilepaskan.

"Sebentar, aku masih nggak ngerti nih dengan hubungan kalian berdua. Sebenarnya kalian itu pernah saling menyatakan nggak sih?" Aku mencoba sok tahu, meski otakku kosong seperti gua tanpa cahaya.

"Aku...aku..." Sukma ragu, suaranya hampir tak terdengar.

"Ya sudah, berarti benar, selama ini aku cuma kepedean aja kalo kamu perhatian sama aku tuh ya. Aku-nya aja yang udah kegeeran duluan sama sikap kamu, Suk." Santi menangis tanpa henti, air matanya jatuh seperti hujan deras di tengah kemarau. Aku mencoba memeluknya, tapi tanganku ditepis dengan keras.

"...ini semua gara-gara kamu, Ket! Gara-gara kamu!!!" Santi meledak, suaranya melonjak seperti api yang tiba-tiba menyala. Aku bingung, tak tahu apa yang salah. Apa salahku? Aku tak pernah mencari perhatian—bahkan ketika mereka semua memberinya, itu bukan kesalahanku. Apalagi sekarang ini, aku sedang menjadi pusat perhatian karena prestasi-prestasiku di akademik maupun non akademik. Apa ini malah menjadi biang kekesalan Santi padaku? Dan apa jangan-jangan di luar sana juga ada teman-temanku, khususnya yang perempuan, bersikap sama dengan Santi? Yang tahu-tahu membabi buta marah kepadaku dengan alasan yang bahkan aku sendiri tak tahu kenapa.

"Kok aku sih, San?! Kenapa emangnya sama aku?" Aku membela diri, suaraku parau. "Toh aku selama ini orang yang kurang pede, tak pandai bergaul. Sekarang aku bisa berubah karena kalian semua yang selalu menyemangati. Tapi kenapa sekarang malah jadi salah?" Aku mulai membela diri karena aku tak merasa ada yang salah dari segala pencapaianku selama ini. Aku betul-betul tak mengerti logika ini. Logika cewek puber.

"Ya karena kamu ngerebut semuanya dari aku. Perhatian teman-teman, prestasi, bahkan Sukma aja yang aku harapkan bisa sayang sama aku, malah jadi ngomongin kamu terus! Sama aja dia juga kamu rebut!" Santi berteriak, suaranya menusuk seperti duri.

"....dan lagi, aku nyesel banget kenapa sih dulu aku dukung kamu untuk berubah. Tau gini kan mendingan aku biarin aja kamu jadi kamu yang dulu; yang nggak punya teman, yang dijailin setiap hari sama cowok-cowok, diledekin gara-gara t*te kamu gede dan tinggi badan kamu yang nggak wajar, dibawa ke kamar mandi samping sama kakak kelas cuma buat dimarahin sama dijambakin rambutnya terus dipukul... biarin aja harusnya.”

"Kamu nyesel bantuin aku, San, selama ini?" Aku sakit hati, suaraku serak.

"IYA! BANGET MALAHAN!" Santi menjawab ketus, suaranya seperti batu yang dilemparkan ke dada.

“Oh, oke kalau begitu...” ujarku datar, tanpa ekspresi, dan jangan tanya lagi bagaimana perasaanku. Hancur lebur tak bersisa. Satu-satunya teman cewek yang paling dekat denganku ternyata selama ini tak pernah menyajikan ketulusan. Selama ini memang dia tak pernah menuntut untuk diperlakukan baik atau pamrih lainnya. Tapi ternyata itu tidak cukup. Dia ingin aku tidak lebih baik darinya, tak lebih bersinar darinya. Padahal dengan segala atribut yang telah kupunya dari hasil yang kucapai, sudah sewajarnya aku lebih baik darinya. Dia sendiri sebetulnya juga bukan orang yang kurang. Dia amat cantik dan banyak pula yang mendekat. Secara akademis pun dia tidak jelek, karena terbukti ketika seleksi awal untuk lomba matematika mewakili sekolah, dia sempat masuk lima besar sebelum akhirnya tersisa aku, Septi dan Sukma. Padahal, dia tak menyukai pelajaran ini.

“KAMU BAKAL NGGAK TENANG, KET! INGAT ITU!!!” Santi semakin menyalak, suaranya memecah keheningan kantin.

“Udah dong!!” Sukma menengahi tetapi sepertinya tak ada gunanya. Sukma mencoba menengahi, tapi emosiku meluap. Aku melotot ke arah Santi, siap menjambak rambutnya yang tergerai indah dan selalu membuatku iri. Namun, Sukma menahanku.

"Tuh, kan. Kamu malah ngelindungin dia, Suk!!!" Santi menuding, suaranya tajam. Aku menatapnya dari balik punggung Sukma, sorot mataku menusuk.

"Aku nggak ngebelain siapa-siapa. Stop dong, ini kan sekolah. Kita ini teman, San." Sukma mencoba bijak, tangannya terentang melindungiiku.

"Teman mana ada yang sikapnya sok kecakepan, centil, sok lebih pintar, sok pemimpin dan egois kayak dia, Suk? Coba jawab, mana ada contohnya?!" Santi terus menyerang, suaranya menggelegar seperti badai yang tak pernah reda.

"Udah, San. Kamu kenapa sih? Keti itu nggak salah apa-apa loh, San. Dia cuma melakukan apa yang dia bisa, kayak dulu yang sering aku bilang ke kamu." Sukma berusaha menenangkan, suaranya seperti air mengalir pelan di tengah badai.

"Nah kan, kamu itu emang lebih tau dan lebih perhatian ke dia. Aku aja yang dari dulu nggak sadar!" Santi menangis, suaranya retak seperti kaca yang hampir pecah.

"...Heeeiii. Ada apa sih ini?" Tiba-tiba Wisesa muncul dari belakang, wajahnya tegang.

"Wis, bantuin aku dong. Ini si Keti sama Santi berantem nggak jelas gini." Sukma meminta tolong, tangannya gemetar.

"San, udah dong. Kasian kan Keti. Dia nggak salah apa-apa, loh." Wisesa berbicara tenang, seolah mencoba menenangkan ombak yang tak kunjung reda.

"Kamu juga belain dia, Wis? Gila banget semua cowok disini jangan-jangan emang pingin cari kesempatan sama si Keti ini ya. Keti juga selama ini ternyata tebar pesona aja sih! Haha. Murahan banget!" Santi melontarkan hinaan, suaranya tajam seperti pisau. Aku ingin membalas, tapi Wisesa menahanku dengan pegangan lembut di lengan. Kata "murahan" itu seperti jarum yang menusuk hati—apalagi datang dari Santi, yang selama ini kupercaya.

“Aku nggak bela siapa-siapa. Aku udah tau kok, kalau kamu sebenarnya suka sama Sukma. Tapi Sukma selalu menganggap kita ini bersahabat, San. Aku nggak mau ngomong ke kamu, takutnya kamu kecewa.”

“T..Tapi dengan kayak gini aku jauh lebih kecewa, Wis!” Santi meraung dengan iringan tangis yang tak lagi tertutupi. Teman-teman sekolah sudah mulai memperhatikan, ada pula yang sudah mulai berbisik-bisik. Aku hanya menurut saja apa kata Wisesa.

“San, aku pernah bilang kan dulu, kita belum saatnya suka-sukaan. Nanti kalau mulai, takutnya berakhir nggak baik.” Kata Wisesa lagi, yang langsung kutanggap dengan heran. Kapan Wisesa ngobrol empat mata dengan Santi? Kenapa aku tak pernah tahu? Atau mereka ngobrol seru ketika aku sedang sibuk-sibuknya di organisasi?

“Tapi kamu aja juga perhatian sama Keti, Wis.”

“...karena kita semua teman. Sahabat, San. Masa gitu aja kamu nggak ngerti?” tutup Wisesa tenang.

Aku tercekat. Jadi selama ini, ia hanya menganggapku teman? Begitu juga dengan Santi? Lagi-lagi aku tak bisa berpikir jernih. Santi yang cemburu karena kelebihan fisikku dan sikapku yang populer, Wisesa yang tak pernah melihat sisi positifku. Apakah mereka benar-benar tak punya perasaan? Atau ada rahasia lain yang menyembunyikan kebenaran?

Kejadian ini berakhir dengan Sukma membawaku ke dalam kelasku, sementara Wisesa membawa Santi ke dalam kelas mereka. Kebetulan di kelas dua ini mereka satu kelas. Sementara aku tak sekelas dengan satu diantara sahabat-sahabatku ini.

Mungkin saat ini, aku baru saja menyadari ada kekeliruan dalam penyikapanku terhadap teman-temanku. Aku terlalu sering sendiri. Aku terlalu sibuk dengan duniaku dan dengan peran baruku sebagai orang yang lebih terbuka kepada siapapun. Sepertinya aku juga telah membuat beberapa kesalahan langkah yang menyebabkan Santi bersikap begitu bengis saat ini terhadapku.
Pertanyaan selanjutnya adalah, apa ada kemungkinan untuk aku bisa akur kembali dengan Santi setelah unek-uneknya yang menyakiti hati itu begitu terasa menusuk di tubuh ini?

“Ket, tolong maafin Santi ya.” Ucap Sukma ketika suasana di kelasku sudah kondusif.

“..............” aku hanya diam seribu bahasa dan berusaha sekuat tenaga untuk mencegah air mata turun dari mataku.

“Ket...” Sukma memegang lembut tangan kiriku, lalu kutepis cepat. Aku tak ingin terlihat ‘murahan’ seperti kata Santi. Sukma yang mendapatkan penolakan seperti itu tentu saja menjadi kikuk tak karuan, karena ada banyak teman sekelasku di kelas saat ini. Aku bahkan mendengar suara ledekan kecil dari anak-anak cewek yang tak sengaja melihat kejadian tadi.

“Kamu balik aja ke kelas kamu, Suk. Konsentrasi aja buat lomba.” Ucapku datar, dan ditanggapi dengan sebuah anggukan tanda setuju dari Sukma. Dia lalu beranjak dari kursi di depan mejaku yang ia balik untuk bisa menghadap ke arah tempat dudukku. Hanya seulas senyum kecil darinya ketika meninggalkan kelasku dan tak kubalas sama sekali.

Aku lebih memikirkan bagaimana caranya untuk menghilangkan rasa malu ini di depan teman-teman sekelasku sekarang? Seorang yang berprestasi secara akademis dan non akademis di sekolah, populer, dan banyak dipuji guru-guru, ternyata harus ribut tidak penting karena urusan cowok, dengan sahabatnya pula. Bodoh sekali. Efek ribut di kantin tadi juga memungkinkan untuk tersebar seantero sekolah mengingat seorang Kathy mudah sekali dikenali dari fisiknya, ditambah sekarang dengan predikat-predikatnya.

“Aku mau pergi aja dari sekolah ini...” ujarku dalam hati sembari teringat seseorang yang tak lagi berada di dekatku saat ini.
regmekujo
aibicidicion
suryos
suryos dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.