- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
superber dan 147 lainnya memberi reputasi
148
210.2K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#1025
007-D Breathless
Spoiler for 007-D Breathless:
Gua berbaring di atas ranjang, berpangku pada kedua tangan yang terlipat, menatap ke arah layar laptop. Layar laptop yang menampilkan profil Lian lengkap dengan fotonya yang tanpa ekspresi dan hampir semua pencapaian yang ia miliki.
Senyum ini sejak tadi nggak berhenti terkembang. Ada banyak rasa yang bergejolak di dalam dada; bangga, kagum, bahagia, nggak percaya dan jatuh cinta jadi satu.
Siapa sih yang sangka kalau gadis manja, bawel dan penderita epilepsi ini bisa punya kekasih dengan spesifikasi kayak dia.
Kami berdua ‘tumbuh’ bersama. Perlahan dan hati-hati. Dengan Lian yang selalu mencoba belajar bahwa ia memang layak dicintai. Dan, juga yang terus berusaha mencoba untuk memahami cinta. Yang bikin gadis manja dan bawel yang nggak percaya cinta ini pada akhirnya bisa jatuh hati.
Nggak ada lagi rintangan restu dari Nyokap Fira. Nggak ada lagi rahasia yang tersimpan di antara gua, Lian, Ncek, dan Natalie.
Masing-masing dari kami menjalani hidup seperti biasa. Lian bekerja sebagai dokter bedah saraf di salah satu rumah sakit terbaik di Singapura, sementara gua meneruskan kuliah gua di jurusan komunikasi di Tangerang. Sesekali, kalau nggak ada tugas atau deadline, gua menghabiskan waktu bareng Liv. Kadang cuma ngopi, kadang nongkrong di mall, kadang juga ngobrolin masa depan sambil nonton drama Korea di rumah.
Dan kami berdua... menjalani hubungan jarak jauh yang surprisinglymenyenangkan. Lian sering bolak-balik Jakarta–Singapura setiap kali ada waktu libur, bahkan pernah datang cuma dua hari doang karena kangen. Gua pun sesekali terbang ke Singapura, walau harus nabung berbulan-bulan dulu buat tiket dan penginapan. Tapi worth it. Selalu worth it.
Begini ternyata rasanya orang dewasa Jatuh cinta beneran.
“Ck…” Gua berdecak kesal. Entah sudah berapa kali panggilan video gua nggak direspon olehnya.
Hingga setelah percobaan ke tujuh atau ke delapan, barulah layar ponsel gua berubah. Menampilkan latar ruang kerjanya yang familiar.
“Kemana aja sih?!” Seru gua membuka percakapan. Sementara, di seberang sana layarnya masih menampilkan latar tembok putih dengan rak yang dipenuhi buku-buku.
Setelah beberapa saat, barulah ia muncul; “Hai…” Sapanya seakan nggak bersalah karena membiarkan gua menelponnya berulang-ulang.
Gua menatapnya. Ia sepertinya baru saja selesai melakukan operasi, terlihat dari warna seragam yang ia kenakan. Seragam yang setengah kusut, rambut yang berantakan dan masker wajah yang masih menjuntai di salah satu telinganya. Pun begitu, senyum di wajahnya tetap terpasang. Senyum yang entah bagaimana selalu berhasil bikin gua tetap deg-degan.
“Abis operasi ya?” Tanya gua, kini dengan suara dan nada bicara serendah mungkin.
“Iya… kamu baru pulang kampus?” Tanyanya.
“Udah dari tadi. Aku kan udah ngabarin tadi. Kamu nggak baca…” keluh gua.
“Maaf ya, baru pegang HP”
“Iya, gapapa… Uhuk, uhuk..” Gua beberapa kali terbatuk. Iya sejak kemarin tenggorokan rasanya gatal. Mungkin karena terlalu banyak minum Es dan bergadang.
“Kamu batuk?” Tanya Lian.
“Nggak, gapapa, keselek doang…” Jawab gua, berbohong, nggak mau membuatnya khawatir. Terakhir kali ia mendapati gua terserang flu, Lian langsung terbang kembali ke Jakarta hanya untuk mengecek kondisi gua.
“Bener?” Tanyanya seraya mendekatkan wajahnya ke arah kamera ponsel, berusaha melihat dengan seksama wajah gua.
“Bener…” Jawab gua.
“Oh iya, Fir… Aku belum bisa pulang minggu ini, ya. Pasien lagi banyak, nambah terus…” Lian memberikan informasi. Informasi yang nggak gua sukai. Artinya, minggu ini kami nggak bisa bertemu. Padahal minggu sebelumnya, kami juga nggak punya kesempatan bertemu karena ia yang harus terbang ke London untuk menghadiri seminar.
Gua mengangguk kecil, mencoba nggak menunjukkan kekecewaan. "Iya, Aku ngerti kok. Tapi…” Gua berhenti sejenak, lalu melanjutkan setelah menghela napas; “… Aku kangen"
Lian tersenyum.
"Aku juga, Fir. Tunggu ya, mudah-mudahan minggu depan aku bisa balik. Terus, kamu jangan begadang dulu, ya… Itu udah mulai batuk-batuk" Ucapnya.
Gua mengalihkan pandangan. "Iya Iya... Batuk cuma sedikit kok. Paling karena kecapekan aja"
“Minum vitamin yang aku kasih kemarin ya…” Tambahnya, yang lantas gua respon dengan anggukan kepala sambil terus tersipu.
“Iya, aku minum terus kok…”
Lian lantas mengambil lembaran koran dari atas meja kerjanya dan menunjukkan halaman pertama ke arah gua. Halaman berbahasa inggris yang menampilkan tajuk utama tentang kasus virus corona.
“Nih… Makanya jaga kesehatan ya…” Ucapnya sambil menunjuk ke arah lembaran koran.
Gua mendengus pelan; "Iya aku juga udah liat di youtube. Ngeri banget deh…”
Lian mengangguk pelan; "Aku udah dikasih brief dari rumah sakit soal itu. Katanya sih belum masuk ke Asia Tenggara. Tapi kamu tetep harus jaga-jaga, ya. Jangan ke tempat rame atau ke rumah sakit dulu..."
Mendengar ucapannya barusan, gua langsung mencibirnya; "Lah, kamu apa kabar, kamu sendiri ada di rumah sakit…”
Lian terkekeh; “Ya aku kan pake masker terus, kadang malah pake APD. Tapi serius, Fir. Kalo sampe virus ini menyebar ke Indonesia, bisa gawat sih…”
“Gawat kenapa?”
“Ya karena Indonesia penduduknya banyak, mobilitasnya tinggi, sanitasinya buruk dan yang paling penting infrastruktur kesehatannya jelek…” Lian menjelaskan.
“Ooh…”
“Dan, satu lagi… Nantinya aku jadi nggak bisa bolak-balik kayak sebelumnya”
—
Dan benar aja.
Beberapa minggu setelah percakapan video call kami berdua, berita di TV nasional sudah dipenuhi dengan liputan tentang virus corona. Pemerintah mengumumkan kasus pertama.
Gua yang baru saja pulang dari kampus berdiri di ujung selasar tangga, menatap ke arah layar televisi yang menampilkan berita tersebut. Sementara, Nyokap terlihat duduk tegak menyimaknya dengan seksama.
“Dua warga Depok, seorang ibu dan anak, dinyatakan positif COVID-19 setelah kontak dengan warga negara Jepang. Ini menjadi kasus pertama di Indonesia…” Terdengar potongan berita yang muncul di televisi.
Malam itu, gua langsung menghubungi Lian.
"Mas... kamu udah liat berita?" Tanya gua, lupa kalau Lian sama sekali nggak pernah menonton acara televisi.
“Berita? Berita apa?” Ia balik bertanya.
“Virus Corona udah masuk Indo…” Seru gua.
“…” Lian nggak langsung merespon. Sepertinya ia mencoba mengkonfirmasi ucapan gua.
“… Iya lagi…” Tambahnya.
“Kaan…”
“Kamu di mana sekarang?” Tanyanya, nada bicaranya berubah serius.
“Di rumah, di kamar, baru aja sampe…” Jawab gua.
“Dengerin aku…” Ucapannya terhenti sesaat, kemudian melanjutkan; “… Mandi, ganti semua baju, terus jangan keluar kemana-mana”
“Sekarang?”
“Iya… Nanti aku kirimin masker sama hand sanitizer dan vitamin…”
“Iya, tapi…”
“…”
“… Aku jadi takut”
“Nggak, nggak usah takut, yang penting jaga kebersihan dan jangan keluar-keluar dulu…”
“Bukan, bukan itu… aku takut kamu nggak bisa pulang…”
“Iya, gimana… For now, kayaknya aku bakal ketahan disini. Aku yakin besok juga penerbangan mulai di perketat…”
“Yaah…”
"Tapi kita masih bisa video call tiap hari? Jangan stres ya…"
“Iya…”
Kehidupan mulai berubah. Gelombang ketidak pastian menyelimuti hari-hari gua selanjutnya. Desas-desus tentang virus corona yang sangat berbahaya, tentang betapa kebalnya manusia-manusia di Indonesia, tentang banyaknya penangkal yang bikin orang kita sulit terpapar virus.
Banyak orang yang akhirnya malah terjerumus karena desas-desus yang nggak jelas. Apalagi kalau sudah menghubungkan virus tersebut dengan teori konspirasi. Bikin sebagian besar rakyat Indonesia jadi semakin nggak peduli.
Yang bikin gua semakin nggak nyaman adalah karena banyak kegiatan yang terganggu. Hari-hari menjalani masa kuliah yang penuh dengan tugas kelompok, nongkrong di mall, dan latihan tari di sanggar jadi hilang karena adanya pembatasan.
Ya tentu saja selain karena nggak bisa bertemu dengan Lian tanpa kepastian.
Sementara, walau komunikasi kami hampir nggak ada kendala sama sekali. Tapi, kekhawatiran tetap ada. Apalagi saat tau kalau virus corona juga mulai masuk ke Singapura dan nggak sedikit penderitanya dirawat di rumah sakit tempat Lian bekerja.
Hampir setiap hari Lian menghubungi gua hanya untuk sekedar mengingatkan untuk selalu menjaga kebersihan dan kesehatan.
“Jangan kemana-mana dulu ya, Fir… Kalau emang terpaksa, pake masker.. double” Ucapnya.
“Iyaaa… Kamu juga, pake APD kalo perlu pake helm…” Balas gua yang lantas diresponnya dengan tawa. Tawa dan senyum yang selalu gua rindukan.
Hari demi hari, penyebaran virus semakin menjadi. Makin banyak informasi gua terima tentang orang-orang terdekat yang mulai terjangkit virus.
Buat orang ekstrovert kayak gua, tentu bukan perkara gampang untuk menghadapi ini. Hidup semakin berubah drastis. Kuliah yang biasanya ramai di kelas beralih ke daring melalui Zoom, dan gua juga harus beradaptasi dengan duduk diam di kamar, terkurung di dalam rumah.
Di tengah usaha gua mencoba beradaptasi, Lian selalu memberikan dukungan. Dukungan yang mungkin terdengar sederhana dan sepele, tapi buat gua hal itu banyak berarti. Lian, yang tahu kebiasaan gua suka menunda tugas, selalu mengirim chat berisi jadwal belajar sederhana, lengkap dengan tips seperti “istirahat 5 menit setiap satu jam” dan “minum banyak air putih”
Darinya juga gua belajar banyak tentang pentingnya mencuci tangan selama 40 detik, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan, sesuatu yang sulit diterima warga Jakarta walaupun himbauannya sudah tersebar di mana-mana.
Nggak sekali Lian bilang ke gua agar nggak menyentuh wajah; “Jangan sentuh muka, Fir, virusnya bisa masuk lewat mata atau mulut…” yang tentu saja dengan setia gua ikuti. Nggak hanya itu, gua bahkan membuat catatan di ponsel tentang semua informasi dari Lian.
Informasi yang sama juga gua jelaskan ke Nyokap. Meski Nyokap awalnya skeptis seperti kebanyakan warga Jakarta lainnya. Tapi dengan bantuan dari Lian, kami berdua berhasil meyakinkan Nyokap untuk tetap patuh pada protokol. Hal yang bikin gua dan Nyokap berhasil menjaga diri dari serangan virus selama masa awal pandemi.
Walau kadang gua tetap aja cemas setiap kali mendengar sirene ambulans di luar jendela kamar. Hidup gua yang dulu penuh aktivitas kini lebih tenang, tapi juga penuh kesadaran akan pentingnya kesehatan. Perubahan yang meski berat, membuatnya tumbuh lebih matang.
Lian juga kerap mengirimkan paket yang entah dikirimnya dari mana, paket berisi masker N95, hand sanitizer, dan multivitamin yang bikin gua dan Nyokap merasa sangat terbantu. Gaya makan gua pun perlahan berubah; Nyokap yang juga bekerja dari rumah mulai sering masak sendiri di dapur, mencoba resep sederhana yang sebelumnya hanya pernah dibaca, karena takut makan di luar.
Saat malam tiba, gua akan menghabiskan waktu dengan melakukan panggilan dengan Lian. Pun kadang, ponselnya hanya disimpan di saku celananya dengan posisi terhubung saat ia menjalani operasi. Bikin gua bisa mendengar ucapan dan perintah di dalam ruang operasi. Hal yang sebetulnya nggak boleh ia lakukan, tapi tetap dilakukannya demi gua. Dan karenanya juga, gua jadi semakin sadar akan risiko akan virus corona. Bikin gua dan Nyokap menjaga diri lebih ketat.
—
Hingga hari itu akhirnya tiba.
Pagi biasa di hari yang biasa, gua terbangun dengan rasa sakit yang menyengat di tenggorokan. Sementara, tubuh terasa panas dan gua kehilangan indera penciuman. Entah sudah berapa jenis parfum dan balsem gua hirup tapi nggak tercium apa-apa.
Gua teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu, saat dengan sangat terpaksa keluar rumah untuk membeli keperluan pribadi di minimarket depan komplek. Gua yang sudah siap dengan masker double harus mengernyitkan dahi saat melihat banyak orang lalu lalang tanpa masker, seakan nggak peduli dengan virus.
Beberapa kali, gua berpapasan dengan orang-orang nggak pedulian itu. Walau selalu menghindar, namun gua yakin kalau akhirnya gua terpapar saat momen itu.
“Hah!? Isolasi, Fir… Sekarang!!” Seru Lian saat gua memberitahu kondisi gua melalui sambungan telepon.
Sementara, Nyokap sejak tadi mengetuk pintu kamar gua. Memaksa untuk masuk.
“Jangan Mah…” Seru gua.
Beruntung, Lian langsung menghubungi Nyokap dan memberi tahu protokol lengkap untuk kondisi seperti gua. Nyokap walapun khawatir melakukan semua langkah perawatan sesuai dengan instruksi Lian.
Gua duduk lemas di sofa kamar, selimut masih menutupi tubuh "Aku takut deh Mas…” Gumam gua pelan ke Lian.
"Gapapa jangan takut, sayang. Aku temenin kamu lewat video call… Setiap hari, setiap jam kalau perlu.. Tapi kamu harus dengerin dan jujur sama aku, oke?"
Hari keempat isolasi, gua nyaris menyerah. Kondisi semakin payah, napas gua pendek. Dada rasanya berat dan sesak banget. Dan gua memberitahu semuanya ke Lian yang langsung mengirim ambulans dan rumah sakit rujukan.
Gua dibawa ke rumah sakit tanpa tau nama rumah sakitnya. Kondisi gua lemas, bahkan nyaris kehilangan kesadaran. Yang ada di ingatan gua hanya semua orang mondar-mandir dengan APD lengkap kayak yang sering gua lihat di film-film distopia.
Lalu semua gelap.
Gua kembali terbangun dengan rasa sesak yang mencekik, kayak ada tangan ngga terlihat yang meremas dada gua dari dalam. Setiap kali gua mencoba untuk menghela napas dalam-dalam, batuk kering yang menyakitkan mengguncang tubuh. Batuk yang terasa seperti pisau mengiris tenggorokan, disusul rasa nyeri di dada, kayak tulang-tulang rusuk seakan bakal akan patah.
Sementara, paru-paru gua terasa penuh dengan cairan, seperti spons cuci piring basah yang ditekan-tekan. Dan setiap kali gua mencoba menggerakkan tangan selalu gagal, karena gemetar hebat. Jari-jari terasa kaku dan dingin.
Terdengar samar suara berbisik di sudut ruangan yang nggak bisa gua lihat, suara percakapan tentang kemungkinan intubasi jika kondisi gua memburuk lagi, dan kata-kata itu membuat jantung ini berdegup lebih kencang, ketakutan mulai merayap di pikiran.
Nggak hanya itu, percakapan samar mulai beralih ke topik tentang kematian dan pemakaman. Suara-suara yang bikin tubuh ini terasa semakin berat, seperti ditindih batu besar, dengan setiap tarikan napas terasa seperti menarik udara melalui sedotan kecil yang tersumbat. Selang oksigen di hidung berdengung pelan, tapi rasanya nggak cukup. Semua oksigen yang mengalir kayak angin tipis yang nggak bisa memuaskan rongga dada yang terasa terbakar.
Ruangan semakin dingin, cahaya lampu neon putih di atas terasa terlalu terang, menyilaukan mata gua yang lelah, dan suara bip-bip mesin monitor jantung di samping ranjang terdengar seperti tengah menghitung detik-detik hidup gua. Di lengan kiri gua, jarum infus menusuk kulit, terhubung ke kantong cairan yang menggantung di tiang besi; cairan infus. Cairan yang terasa dingin saat masuk ke pembuluh darah, bikin gua kedinginan meski tubuh dan area disekitar mata terasa panas.
Di sekitar gua, di dalam ruangan yang sama, terlihat beberapa pasien lain, terpisah oleh dinding kaca transparan dan tirai biru muda. Samar terdengar helaan napas berat dari pasien di sebelah, seorang pria tua, yang juga terhubung dengan ventilator. Sebuah alat yang mengeluarkan dengung mengerikan, dengan tabung transparan dan pompa yang naik-turun, seolah tengah bernapas untuknya.
Seorang perawat mendekat untuk memeriksa infus gua. Dia menyapa dengan suara lembut, “Kaka yang sabar ya, kita coba tingkatkan oksigennya…” tapi suaranya terdengar jauh, seolah gua mendengarnya dari balik kaca tebal.
Keringat menetes di dahi, tapi gua terlalu lemah untuk mengelapnya. Kulit terasa lengket, dan rambut yang mulai basah; menempel di kepala. Yang ada diikiran gua saat ini hanya bayangan gelap tentang kematian dan Lian.
Lalu, pandangan mulai kabur, kayak layar TV yang penuh gangguan. Dan gelap…
—
Senyum ini sejak tadi nggak berhenti terkembang. Ada banyak rasa yang bergejolak di dalam dada; bangga, kagum, bahagia, nggak percaya dan jatuh cinta jadi satu.
Siapa sih yang sangka kalau gadis manja, bawel dan penderita epilepsi ini bisa punya kekasih dengan spesifikasi kayak dia.
Kami berdua ‘tumbuh’ bersama. Perlahan dan hati-hati. Dengan Lian yang selalu mencoba belajar bahwa ia memang layak dicintai. Dan, juga yang terus berusaha mencoba untuk memahami cinta. Yang bikin gadis manja dan bawel yang nggak percaya cinta ini pada akhirnya bisa jatuh hati.
Nggak ada lagi rintangan restu dari Nyokap Fira. Nggak ada lagi rahasia yang tersimpan di antara gua, Lian, Ncek, dan Natalie.
Masing-masing dari kami menjalani hidup seperti biasa. Lian bekerja sebagai dokter bedah saraf di salah satu rumah sakit terbaik di Singapura, sementara gua meneruskan kuliah gua di jurusan komunikasi di Tangerang. Sesekali, kalau nggak ada tugas atau deadline, gua menghabiskan waktu bareng Liv. Kadang cuma ngopi, kadang nongkrong di mall, kadang juga ngobrolin masa depan sambil nonton drama Korea di rumah.
Dan kami berdua... menjalani hubungan jarak jauh yang surprisinglymenyenangkan. Lian sering bolak-balik Jakarta–Singapura setiap kali ada waktu libur, bahkan pernah datang cuma dua hari doang karena kangen. Gua pun sesekali terbang ke Singapura, walau harus nabung berbulan-bulan dulu buat tiket dan penginapan. Tapi worth it. Selalu worth it.
Begini ternyata rasanya orang dewasa Jatuh cinta beneran.
“Ck…” Gua berdecak kesal. Entah sudah berapa kali panggilan video gua nggak direspon olehnya.
Hingga setelah percobaan ke tujuh atau ke delapan, barulah layar ponsel gua berubah. Menampilkan latar ruang kerjanya yang familiar.
“Kemana aja sih?!” Seru gua membuka percakapan. Sementara, di seberang sana layarnya masih menampilkan latar tembok putih dengan rak yang dipenuhi buku-buku.
Setelah beberapa saat, barulah ia muncul; “Hai…” Sapanya seakan nggak bersalah karena membiarkan gua menelponnya berulang-ulang.
Gua menatapnya. Ia sepertinya baru saja selesai melakukan operasi, terlihat dari warna seragam yang ia kenakan. Seragam yang setengah kusut, rambut yang berantakan dan masker wajah yang masih menjuntai di salah satu telinganya. Pun begitu, senyum di wajahnya tetap terpasang. Senyum yang entah bagaimana selalu berhasil bikin gua tetap deg-degan.
“Abis operasi ya?” Tanya gua, kini dengan suara dan nada bicara serendah mungkin.
“Iya… kamu baru pulang kampus?” Tanyanya.
“Udah dari tadi. Aku kan udah ngabarin tadi. Kamu nggak baca…” keluh gua.
“Maaf ya, baru pegang HP”
“Iya, gapapa… Uhuk, uhuk..” Gua beberapa kali terbatuk. Iya sejak kemarin tenggorokan rasanya gatal. Mungkin karena terlalu banyak minum Es dan bergadang.
“Kamu batuk?” Tanya Lian.
“Nggak, gapapa, keselek doang…” Jawab gua, berbohong, nggak mau membuatnya khawatir. Terakhir kali ia mendapati gua terserang flu, Lian langsung terbang kembali ke Jakarta hanya untuk mengecek kondisi gua.
“Bener?” Tanyanya seraya mendekatkan wajahnya ke arah kamera ponsel, berusaha melihat dengan seksama wajah gua.
“Bener…” Jawab gua.
“Oh iya, Fir… Aku belum bisa pulang minggu ini, ya. Pasien lagi banyak, nambah terus…” Lian memberikan informasi. Informasi yang nggak gua sukai. Artinya, minggu ini kami nggak bisa bertemu. Padahal minggu sebelumnya, kami juga nggak punya kesempatan bertemu karena ia yang harus terbang ke London untuk menghadiri seminar.
Gua mengangguk kecil, mencoba nggak menunjukkan kekecewaan. "Iya, Aku ngerti kok. Tapi…” Gua berhenti sejenak, lalu melanjutkan setelah menghela napas; “… Aku kangen"
Lian tersenyum.
"Aku juga, Fir. Tunggu ya, mudah-mudahan minggu depan aku bisa balik. Terus, kamu jangan begadang dulu, ya… Itu udah mulai batuk-batuk" Ucapnya.
Gua mengalihkan pandangan. "Iya Iya... Batuk cuma sedikit kok. Paling karena kecapekan aja"
“Minum vitamin yang aku kasih kemarin ya…” Tambahnya, yang lantas gua respon dengan anggukan kepala sambil terus tersipu.
“Iya, aku minum terus kok…”
Lian lantas mengambil lembaran koran dari atas meja kerjanya dan menunjukkan halaman pertama ke arah gua. Halaman berbahasa inggris yang menampilkan tajuk utama tentang kasus virus corona.
“Nih… Makanya jaga kesehatan ya…” Ucapnya sambil menunjuk ke arah lembaran koran.
Gua mendengus pelan; "Iya aku juga udah liat di youtube. Ngeri banget deh…”
Lian mengangguk pelan; "Aku udah dikasih brief dari rumah sakit soal itu. Katanya sih belum masuk ke Asia Tenggara. Tapi kamu tetep harus jaga-jaga, ya. Jangan ke tempat rame atau ke rumah sakit dulu..."
Mendengar ucapannya barusan, gua langsung mencibirnya; "Lah, kamu apa kabar, kamu sendiri ada di rumah sakit…”
Lian terkekeh; “Ya aku kan pake masker terus, kadang malah pake APD. Tapi serius, Fir. Kalo sampe virus ini menyebar ke Indonesia, bisa gawat sih…”
“Gawat kenapa?”
“Ya karena Indonesia penduduknya banyak, mobilitasnya tinggi, sanitasinya buruk dan yang paling penting infrastruktur kesehatannya jelek…” Lian menjelaskan.
“Ooh…”
“Dan, satu lagi… Nantinya aku jadi nggak bisa bolak-balik kayak sebelumnya”
—
Dan benar aja.
Beberapa minggu setelah percakapan video call kami berdua, berita di TV nasional sudah dipenuhi dengan liputan tentang virus corona. Pemerintah mengumumkan kasus pertama.
Gua yang baru saja pulang dari kampus berdiri di ujung selasar tangga, menatap ke arah layar televisi yang menampilkan berita tersebut. Sementara, Nyokap terlihat duduk tegak menyimaknya dengan seksama.
“Dua warga Depok, seorang ibu dan anak, dinyatakan positif COVID-19 setelah kontak dengan warga negara Jepang. Ini menjadi kasus pertama di Indonesia…” Terdengar potongan berita yang muncul di televisi.
Malam itu, gua langsung menghubungi Lian.
"Mas... kamu udah liat berita?" Tanya gua, lupa kalau Lian sama sekali nggak pernah menonton acara televisi.
“Berita? Berita apa?” Ia balik bertanya.
“Virus Corona udah masuk Indo…” Seru gua.
“…” Lian nggak langsung merespon. Sepertinya ia mencoba mengkonfirmasi ucapan gua.
“… Iya lagi…” Tambahnya.
“Kaan…”
“Kamu di mana sekarang?” Tanyanya, nada bicaranya berubah serius.
“Di rumah, di kamar, baru aja sampe…” Jawab gua.
“Dengerin aku…” Ucapannya terhenti sesaat, kemudian melanjutkan; “… Mandi, ganti semua baju, terus jangan keluar kemana-mana”
“Sekarang?”
“Iya… Nanti aku kirimin masker sama hand sanitizer dan vitamin…”
“Iya, tapi…”
“…”
“… Aku jadi takut”
“Nggak, nggak usah takut, yang penting jaga kebersihan dan jangan keluar-keluar dulu…”
“Bukan, bukan itu… aku takut kamu nggak bisa pulang…”
“Iya, gimana… For now, kayaknya aku bakal ketahan disini. Aku yakin besok juga penerbangan mulai di perketat…”
“Yaah…”
"Tapi kita masih bisa video call tiap hari? Jangan stres ya…"
“Iya…”
Kehidupan mulai berubah. Gelombang ketidak pastian menyelimuti hari-hari gua selanjutnya. Desas-desus tentang virus corona yang sangat berbahaya, tentang betapa kebalnya manusia-manusia di Indonesia, tentang banyaknya penangkal yang bikin orang kita sulit terpapar virus.
Banyak orang yang akhirnya malah terjerumus karena desas-desus yang nggak jelas. Apalagi kalau sudah menghubungkan virus tersebut dengan teori konspirasi. Bikin sebagian besar rakyat Indonesia jadi semakin nggak peduli.
Yang bikin gua semakin nggak nyaman adalah karena banyak kegiatan yang terganggu. Hari-hari menjalani masa kuliah yang penuh dengan tugas kelompok, nongkrong di mall, dan latihan tari di sanggar jadi hilang karena adanya pembatasan.
Ya tentu saja selain karena nggak bisa bertemu dengan Lian tanpa kepastian.
Sementara, walau komunikasi kami hampir nggak ada kendala sama sekali. Tapi, kekhawatiran tetap ada. Apalagi saat tau kalau virus corona juga mulai masuk ke Singapura dan nggak sedikit penderitanya dirawat di rumah sakit tempat Lian bekerja.
Hampir setiap hari Lian menghubungi gua hanya untuk sekedar mengingatkan untuk selalu menjaga kebersihan dan kesehatan.
“Jangan kemana-mana dulu ya, Fir… Kalau emang terpaksa, pake masker.. double” Ucapnya.
“Iyaaa… Kamu juga, pake APD kalo perlu pake helm…” Balas gua yang lantas diresponnya dengan tawa. Tawa dan senyum yang selalu gua rindukan.
Hari demi hari, penyebaran virus semakin menjadi. Makin banyak informasi gua terima tentang orang-orang terdekat yang mulai terjangkit virus.
Buat orang ekstrovert kayak gua, tentu bukan perkara gampang untuk menghadapi ini. Hidup semakin berubah drastis. Kuliah yang biasanya ramai di kelas beralih ke daring melalui Zoom, dan gua juga harus beradaptasi dengan duduk diam di kamar, terkurung di dalam rumah.
Di tengah usaha gua mencoba beradaptasi, Lian selalu memberikan dukungan. Dukungan yang mungkin terdengar sederhana dan sepele, tapi buat gua hal itu banyak berarti. Lian, yang tahu kebiasaan gua suka menunda tugas, selalu mengirim chat berisi jadwal belajar sederhana, lengkap dengan tips seperti “istirahat 5 menit setiap satu jam” dan “minum banyak air putih”
Darinya juga gua belajar banyak tentang pentingnya mencuci tangan selama 40 detik, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan, sesuatu yang sulit diterima warga Jakarta walaupun himbauannya sudah tersebar di mana-mana.
Nggak sekali Lian bilang ke gua agar nggak menyentuh wajah; “Jangan sentuh muka, Fir, virusnya bisa masuk lewat mata atau mulut…” yang tentu saja dengan setia gua ikuti. Nggak hanya itu, gua bahkan membuat catatan di ponsel tentang semua informasi dari Lian.
Informasi yang sama juga gua jelaskan ke Nyokap. Meski Nyokap awalnya skeptis seperti kebanyakan warga Jakarta lainnya. Tapi dengan bantuan dari Lian, kami berdua berhasil meyakinkan Nyokap untuk tetap patuh pada protokol. Hal yang bikin gua dan Nyokap berhasil menjaga diri dari serangan virus selama masa awal pandemi.
Walau kadang gua tetap aja cemas setiap kali mendengar sirene ambulans di luar jendela kamar. Hidup gua yang dulu penuh aktivitas kini lebih tenang, tapi juga penuh kesadaran akan pentingnya kesehatan. Perubahan yang meski berat, membuatnya tumbuh lebih matang.
Lian juga kerap mengirimkan paket yang entah dikirimnya dari mana, paket berisi masker N95, hand sanitizer, dan multivitamin yang bikin gua dan Nyokap merasa sangat terbantu. Gaya makan gua pun perlahan berubah; Nyokap yang juga bekerja dari rumah mulai sering masak sendiri di dapur, mencoba resep sederhana yang sebelumnya hanya pernah dibaca, karena takut makan di luar.
Saat malam tiba, gua akan menghabiskan waktu dengan melakukan panggilan dengan Lian. Pun kadang, ponselnya hanya disimpan di saku celananya dengan posisi terhubung saat ia menjalani operasi. Bikin gua bisa mendengar ucapan dan perintah di dalam ruang operasi. Hal yang sebetulnya nggak boleh ia lakukan, tapi tetap dilakukannya demi gua. Dan karenanya juga, gua jadi semakin sadar akan risiko akan virus corona. Bikin gua dan Nyokap menjaga diri lebih ketat.
—
Hingga hari itu akhirnya tiba.
Pagi biasa di hari yang biasa, gua terbangun dengan rasa sakit yang menyengat di tenggorokan. Sementara, tubuh terasa panas dan gua kehilangan indera penciuman. Entah sudah berapa jenis parfum dan balsem gua hirup tapi nggak tercium apa-apa.
Gua teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu, saat dengan sangat terpaksa keluar rumah untuk membeli keperluan pribadi di minimarket depan komplek. Gua yang sudah siap dengan masker double harus mengernyitkan dahi saat melihat banyak orang lalu lalang tanpa masker, seakan nggak peduli dengan virus.
Beberapa kali, gua berpapasan dengan orang-orang nggak pedulian itu. Walau selalu menghindar, namun gua yakin kalau akhirnya gua terpapar saat momen itu.
“Hah!? Isolasi, Fir… Sekarang!!” Seru Lian saat gua memberitahu kondisi gua melalui sambungan telepon.
Sementara, Nyokap sejak tadi mengetuk pintu kamar gua. Memaksa untuk masuk.
“Jangan Mah…” Seru gua.
Beruntung, Lian langsung menghubungi Nyokap dan memberi tahu protokol lengkap untuk kondisi seperti gua. Nyokap walapun khawatir melakukan semua langkah perawatan sesuai dengan instruksi Lian.
Gua duduk lemas di sofa kamar, selimut masih menutupi tubuh "Aku takut deh Mas…” Gumam gua pelan ke Lian.
"Gapapa jangan takut, sayang. Aku temenin kamu lewat video call… Setiap hari, setiap jam kalau perlu.. Tapi kamu harus dengerin dan jujur sama aku, oke?"
Hari keempat isolasi, gua nyaris menyerah. Kondisi semakin payah, napas gua pendek. Dada rasanya berat dan sesak banget. Dan gua memberitahu semuanya ke Lian yang langsung mengirim ambulans dan rumah sakit rujukan.
Gua dibawa ke rumah sakit tanpa tau nama rumah sakitnya. Kondisi gua lemas, bahkan nyaris kehilangan kesadaran. Yang ada di ingatan gua hanya semua orang mondar-mandir dengan APD lengkap kayak yang sering gua lihat di film-film distopia.
Lalu semua gelap.
Gua kembali terbangun dengan rasa sesak yang mencekik, kayak ada tangan ngga terlihat yang meremas dada gua dari dalam. Setiap kali gua mencoba untuk menghela napas dalam-dalam, batuk kering yang menyakitkan mengguncang tubuh. Batuk yang terasa seperti pisau mengiris tenggorokan, disusul rasa nyeri di dada, kayak tulang-tulang rusuk seakan bakal akan patah.
Sementara, paru-paru gua terasa penuh dengan cairan, seperti spons cuci piring basah yang ditekan-tekan. Dan setiap kali gua mencoba menggerakkan tangan selalu gagal, karena gemetar hebat. Jari-jari terasa kaku dan dingin.
Terdengar samar suara berbisik di sudut ruangan yang nggak bisa gua lihat, suara percakapan tentang kemungkinan intubasi jika kondisi gua memburuk lagi, dan kata-kata itu membuat jantung ini berdegup lebih kencang, ketakutan mulai merayap di pikiran.
Nggak hanya itu, percakapan samar mulai beralih ke topik tentang kematian dan pemakaman. Suara-suara yang bikin tubuh ini terasa semakin berat, seperti ditindih batu besar, dengan setiap tarikan napas terasa seperti menarik udara melalui sedotan kecil yang tersumbat. Selang oksigen di hidung berdengung pelan, tapi rasanya nggak cukup. Semua oksigen yang mengalir kayak angin tipis yang nggak bisa memuaskan rongga dada yang terasa terbakar.
Ruangan semakin dingin, cahaya lampu neon putih di atas terasa terlalu terang, menyilaukan mata gua yang lelah, dan suara bip-bip mesin monitor jantung di samping ranjang terdengar seperti tengah menghitung detik-detik hidup gua. Di lengan kiri gua, jarum infus menusuk kulit, terhubung ke kantong cairan yang menggantung di tiang besi; cairan infus. Cairan yang terasa dingin saat masuk ke pembuluh darah, bikin gua kedinginan meski tubuh dan area disekitar mata terasa panas.
Di sekitar gua, di dalam ruangan yang sama, terlihat beberapa pasien lain, terpisah oleh dinding kaca transparan dan tirai biru muda. Samar terdengar helaan napas berat dari pasien di sebelah, seorang pria tua, yang juga terhubung dengan ventilator. Sebuah alat yang mengeluarkan dengung mengerikan, dengan tabung transparan dan pompa yang naik-turun, seolah tengah bernapas untuknya.
Seorang perawat mendekat untuk memeriksa infus gua. Dia menyapa dengan suara lembut, “Kaka yang sabar ya, kita coba tingkatkan oksigennya…” tapi suaranya terdengar jauh, seolah gua mendengarnya dari balik kaca tebal.
Keringat menetes di dahi, tapi gua terlalu lemah untuk mengelapnya. Kulit terasa lengket, dan rambut yang mulai basah; menempel di kepala. Yang ada diikiran gua saat ini hanya bayangan gelap tentang kematian dan Lian.
Lalu, pandangan mulai kabur, kayak layar TV yang penuh gangguan. Dan gelap…
—
Bunga Terakhir - Baby Romeo
Kaulah yang pertama
Menjadi cinta tinggallah kenangan
Berakhir lewat bunga seluruh cintaku untuknya
Bunga terakhir
Ku persembahkan kepada yang terindah
Sebagai satu tanda cinta untuknya
Bunga terakhir
Menjadi satu kenangan yang tersimpan
Takkan pernah hilang 'tuk selamanya
Ohh
Betapa cinta ini
Sungguh berarti tetaplah terjaga
Selamat tinggal kasih 'ku telah pergi selamanya
Bunga terakhir
Ku persembahkan kepada yang terindah
Sebagai suatu tanda cinta untuknya
Bunga terakhir
Menjadi satu kenangan yang tersimpan
Takkan pernah hilang 'tuk selamanya
Kaulah yang pertama
Menjadi cinta tinggallah kenangan
Berakhir lewat bunga seluruh cintaku untuknya
Ohh-uwo
Bunga terakhir
Ku persembahkan kepada yang terindah
Sebagai satu tanda cinta untuknya
Bunga terakhir
Menjadi satu kenangan yang tersimpan
Takkan pernah hilang 'tuk selamanya
Diubah oleh robotpintar 20-05-2025 15:19
delet3 dan 46 lainnya memberi reputasi
47
Kutip
Balas
Tutup