- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
superber dan 147 lainnya memberi reputasi
148
211K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#989
007-B Just Like Before the Rain
Spoiler for 007-B Just Like Before the Rain:
‘Makan’ Ucap ibu dengan bahasa isyarat, baru saja meletakkan piring berisi tempe goreng di atas meja.
Gua bergeming, dan hanya duduk sambil terus menatapnya.
‘Terima kasih ya, bu’ Balas gua, lalu menyendok nasi dan mulai makan.
Selesai makan, gua pindah ke depan rumah. Menyulut sebatang rokok kemudian meraih gulungan selang yang salah satu ujungnya terpasang di mulut kran. Gua memutar knop kran, terasa tekanan memenuhi selang, disusul semburan air pada ujung satunya. Sambil merokok, gua menyiram aneka tanaman yang berada di halaman.
Ibu yang sepertinya baru saja selesai membereskan meja makan lalu duduk di kursi rotan beranda rumah. Ia menikmati segelas teh tawar hangat favoritnya seraya menatap gua.
Sesekali, gua menoleh ke arahnya.
‘Siang-siang kok nyiram’
‘Emang nggak boleh ya, bu?’ Tanya gua dengan menggunakan bahasa isyarat.
‘Nyiram tanaman kan juga ada waktunya’
Gua berhenti menyiram dan mamatikan aliran air dari kran; ‘Kapan?’
‘Pagi dan sore’ jawabnya.
Ponsel gua bergetar. Susah payah, gua meraihnya dari saku celana, terlihat sebuah notifikasi pesan dari Fira yang memberi informasi tentang waktu kepulangannya.
Gua tersenyum, lalu membalas pesan darinya; ‘Mau dijemput?’
‘Mauuuu’ Balasnya cepat. ‘Kalo gk merepotkan’ tambahnya.
‘Nggak kok, share nomor penerbangannya ya nanti’ balas gua lagi. Tentu agar bisa melacak posisinya.
‘Iya’
Gua bergabung dengan ibu, duduk di kursi rotan di beranda rumah. Ia menatap gua dan tersenyum.
‘Siapa? Fira?’ Tanyanya. Yang lantas gua jawab dengan anggukan kepala.
‘Pantas. Ibu baru lihat kamu tersenyum saat membalas pesan’
Gua menggeser kursi agar lebih dekat, kemudian meraih dan menggenggam tangannya.
“Maaf ya bu” Ucap gua dengan perlahan agar ia bisa dengan mudah membaca gerak bibir gua.
‘Maaf untuk apa?’ Tanyanya.
“Karena aku nggak bisa benar-benar tersenyum untuk ibu” Jawab gua.
Ibu mengangguk pelan, kemudian memberi tepukan lembut di bahu gua.
‘Tidak apa, Nak. Ibu tidak butuh senyum atau ekspresi lain darimu’ ia bicara dengan gerakan tangan yang lugas. Sementara, kedua ujung matanya mulai terlihat basah.
‘Ibu hanya mau kamu bahagia. Bahagia yang bukan hanya nampak dari luar, tapi bahagia di sini’ tambahnya, masih dengan gerakan bahasa isyarat dan diakhiri dengan menunjuk ke arah dada gua.
‘Terima kasih, bu’ balas gua lantas bangkit dan memberi kecupan di pipinya.
—
Besoknya, setelah membantu ibu membereskan isi rumah. Gua bersiap kembali ke Jakarta. Sengaja membeli tiket pesawat on the spot agar bisa memilih penerbangan yang sesuai dengan waktu tiba Fira.
Beberapa jam berikutnya, gua sudah tiba di Soekarno Hatta. Duduk dan menunggu di smoking area terminal kedatangan domestik seraya menikmati segelas kopi yang rasanya nggak enak.
Sesekali, gua mengecek ponsel; menghitung waktu kedatangan Fira. Mengabaikan pesan dari Ncek yang sejak kemarin mengajak bertemu.
‘10 menit lagi…’ Batin gua. 10 menit lagi, barulah gua akan pergi dari sini untuk menuju ke terminal kedatangan internasional untuk menjemput Fira.
20 menit berikutnya, ponsel gua berdering. Layarnya menampilkan nama Fira lengkap dengan foto dirinya yang tengah berpose imut dan menggemaskan.
“Halo…”Sapa gua.
“Halo, aku lagi nunggu bagasi. Mas di mana?” Tanyanya.
Gua tersenyum dan nggak langsung menjawab. Hanya ingin mendengar dan meresapi suaranya untuk menghilangkan kerinduan.
“Halo?…” Ucapnya, merasa nggak mendengar jawaban dari gua.
“Yaaa…”
“Kok diem aja sih? Di mana?” Tanyanya.
“Ini di depan, nunggu kamu…”
“Ooh… yaudah tunggu ya”
“Iya…”
Sambil menggeret koper dengan tangan kiri, dan ransel tergantung di bahunya, Fira berlari sambil melambai ke arah gua. Sementara, di belakang berjalan santai dua sahabatnya; Fidel dan Liv.
Fira meninggalkan koper yang dibawanya, lalu menjatuhkan ransel dari punggungnya, langkahnya semakin cepat ke arah gua. Kemudian melompat dan memberikan pelukan.
“Kangen…” Bisiknya di telinga.
“Sama…” Balas gua lirih.
Belum sempat kami berdua melepas rindu, Fidel dan Liv sudah berdiri tepat di belakang kami berdua. Gua berusaha keluar dari pelukan Fira yang belum ada tanda-tanda akan melepasnya. Sementara, Liv sudah pasang tampang ‘jijik’ yang nggak bisa disembunyikan dan Fidel yang sejak tadi selalu berusaha menghindari tatapan gua.
Gua mencoba tersenyum dan menyapa keduanya; “Hai…”
“Hai…” Balas Liv sambil tersenyum, walau ekspresi jijiknya masih tersisa.
Di sebelahnya, Fidel nggak memberi tanggapan. Ia hanya terus terdiam, menundukkan kepalanya seraya memainkan kedua ujung jari.
“Bareng aja yuk…” Ajak Fira kepada kedua sahabatnya itu.
“Yah, gue dijemput, Fir…” Jawab Liv seraya mengecek layar ponsel.
Fira lalu berpaling ke Fidel. “Lo, Del? Mau bareng nggak?” Tanyanya, menawarkan tumpangan. Namun, ia dengan cepat menggeleng.
“Gue naik taksi online aja…” Jawabnya.
“Iya, kita juga naik taksi. Makanya bareng aja…” Balas Fira, seraya menarik Fidel mendekat dan merangkul bahunya.
Kami lalu sama-sama berdiri di pelataran bandara, menemani Liv menunggu keluarganya datang menjemput. Setelahnya, kami bertiga; Gua, Fira dan Fidel berjalan ke area jemput yang dipenuhi dengan deretan taksi.
Gua duduk di kursi penumpang depan, sementara Fira dan Fidel duduk di kursi belakang taksi yang kemudian membawa kami keluar dari area bandara. Masuk ke jalan bebas hambatan menuju ke Jakarta.
“Mau makan dulu?” Tanya gua ke Fira seraya menoleh ke bekalang.
Fira nggak langsung menjawab, ia menoleh ke arah Fidel dan menyenggol lengannya seakan tengah memberi kode. Fidel nggak langsung merespon, ia hanya menatap keluar melalui jendela taksi sambil menggigit ujung kukunya. Setelah beberapa kali Fira menyenggol lengannya, barulah Fidel mengangguk; setuju.
Setengah jam berikutnya, kami tiba di sebuah mall. Mall yang dulu biasa gua dan Fira kunjungi. Juga Mall yang sama tempat mereka; The Lontongers sering menghabiskan waktu.
Gua sengaja memilih salah satu resto paling dekat dengan lobi agar nggak repot karena barang bawaan Fidel yang terbilang cukup banyak.
—
Resto kecil di lobi mall terasa terlalu terang buat kami bertiga yang terus tenggelam dalam diam. Lampu gantung bundar dari rotan menyebarkan cahaya hangat ke meja kayu yang licin, tempat tiga piring berisi porsi nasi goreng yang sama karena Fidel dan Fira yang malas memilih menu. Porsi nasi goreng yang belum tersentuh sejak tiba beberapa menit yang lalu.
Di luar resto, terlihat hujan turun. Kaca-kaca resto yang menghadap ke luar mulai basah oleh rintik.
Fira duduk di tengah, di antara gua dan Fidel. Yang sejak awal, sejak dari bandara nggak pernah sekalipun gua mendengar ia bicara. Jangankan bicara, sejak tadi ia sama sekali nggak ‘berani’ menatap ke arah gua.
Gua menyeruput kopi hitam yang mulai dingin, sambil sesekali melirik ke arah Fidel yang kini sibuk mengaduk es lemon tea pesanannya. Minuman yang sepertinya dipesan tanpa ada niat untuk diminum. Ekspresinya terlihat tertekan, sementara tangannya berkali-kali menggaruk hidungnya. Gua tau kalau saat ini ia tengah berpikir keras buat mulai bicara.
Fira, yang sudah nyaris menghabiskan porsi nasi goreng miliknya, angkat bicara. Ia yang sejak tadi merasakan ‘ketegangan’ diantara gua dan Fidel berusaha mencairkan suasana. “Eh, Del. Itu nasgornya dingin lho…” ucapnya seraya menggeser piring porsi nasi goreng milik Fidel lebih dekat.
Fidel tersenyum kecil, tapi jelas ia nggak menggubris ucapan Fira. Tangan kanannya meraih sendok, namun alih-alih mulai makan, ia justru menarik napas dalam-dalam lalu akhirnya menatap gua dan mulai buka suara.
“Aku…” suaranya serak, seakan belum pernah digunakan buat ngomong seharian. Fidel berdehem sekali, lalu lanjut bicara; “… Aku minta maaf… Mas. Aku minta maaf udah salah menilai mas selama ini…”
Fidel masih menunduk, tapi gua bisa lihat dari cara dia mengatupkan bibir dan meremas ujung bajunya, kalau dia sedang menahan sesuatu yang lebih dari sekadar rasa bersalah. Mungkin juga rasa malu. Atau kecewa pada dirinya sendiri. Gua nggak tau.
Gua menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Bukan karena marah, tapi karena tiba-tiba ada suara dalam kepala yang bilang, ‘Akhirnya, lo tau juga’
Fira ikut tenggelam dalam diam. Suasana resto makin tenggelam dalam gemericik hujan yang mengguyur kaca bagian depan resto. Pelayan dan pengunjung lalu-lalang, tapi rasanya seperti kami bertiga berada di ruang kecil yang kedap suara, cuma ada kata-kata Fidel tadi yang bergema.
Gua menatapnya sambil mencoba menyunggingkan senyum tipis. Tentu saja nggak ada rasa marah kepadanya. Tapi, di sisi lain ada sedikit ganjalan yang bikin gua nggak bisa menerima permintaan maafnya. Iya, jelas aja karena dia; Fidel nggak benar-benar salah.
“Kamu nggak salah kok, Del. Kamu cuma dapet cerita yang salah aja kok…” Jawab gua. Kalaupun Fidel salah, kesalahannya hanyalah menelan mentah-mentah informasi dari Natalie, dari Kakaknya.
Dia ngangguk, menunduk, lalu berbisik pelan, “Iya. Tapi aku tetap minta maaf. Atas nama Kak Natalie juga...”
Gua menyandarkan tubuh ke sandaran kursi, meletakkan sendok dan garpu kembali di atas meja; kehilangan selera makan.
“Aku udah maafin dia, Del. Dari lama. Dia nggak sepenuhnya salah juga. Aku ngerti sih, kadang orang bereaksi aneh kalau ketemu hal yang nggak biasa. Ngelihat orang yang tuna rungu, mungkin mereka ngerasa canggung atau… takut salah ngomong. Tapi aku juga nggak bisa membenarkan cara dia waktu itu. Menurutku itu keterlaluan...” Balas gua, seraya terus menatap Fidel yang masih menundukkan kepalanya.
Mendengar jawaban gua atas permintaan maaf Fidel untuk kakaknya, Fira langsung merespon. Ia mengangkat kepalanya dan bicara menggebu-gebu
“Nggak sepenuhnya salah gimana? Salah ya salah. Buktinya aku bisa kok nerima ibu. Aku nggak ngetawain, nggak ngerasa aneh. Kenapa dia dulu nggak bisa?” Nada suaranya meninggi. Bukan marah, tapi terdengar kecewa. Fira memang nggak berada di sana waktu itu, tapi entah kenapa hari ini ia seakan bisa merasakan sendiri perihnya luka gua dan ibu waktu itu.
Fidel hanya bisa terdiam. Kedua tangannya sekarang saling menggenggam erat di pangkuannya. Matanya nggak berani menatap. Ada rasa bersalah di sana, gua bisa melihatnya dengan jelas.
Sementara, Fira terlihat mulai menenangkan diri. Ia mencoba mengatur napasnya lalu dengan perlahan menyentuh tangan Fidal dan bicara lirih; “Sorry ya, Del… Gue nggak bermaksud bikin lu terus bersalah. Lu nggak salah. Lu cuma tau cerita dari satu sisi. Lu nggak tau apa-apa waktu itu…”
Gua membetulkan posisi duduk, lalu menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum kembali bicara; “Udah, Gapapa. Nggak usah diperpanjang. Nggak usah diinget-inget juga… Yang penting sekarang kita udah sama-sama tau dan sama-sama ngerti…”
Lalu beralih ke Fidel; “Dan kamu, Del. Nggak usah bahas ini lagi ke Natalie. Apalagi ke keluarga kalian…” Gua menambahkan. Takut, takut merusak keluarga kecil Natalie dan juga keluarga besarnya yang mungkin tengah baik-baik saja.
Fidel mengangguk pelan. Kemudian, suasana kembali hening.
Sesaat berikutnya, Fira kembali angkat bicara; “Nggak bisa. Mereka harus tetep minta maaf ke Ibu…”
Gua meraih tangan Fira dan menggenggamnya, lalu menggeleng pelan; “Buat apa? Buat ngebalikin waktu? Buat bikin aku lega? aku udah nggak butuh itu, Ibu juga nggak. Kita jalani aja hidup kayak biasa. Yang udah, ya udah…”
Fira nggak merespon. Ia hanya terdiam dan terus menatap ke arah gua.
Sementara di luar hujan turun lebih deras. Suara ketukan air di kaca bagian depan resto terdengar semakin nyaring, seakan menelan semua ucapan dan kalimat-kalimat kami barusan.
Fira lalu mengangguk pelan, setuju dengan ucapan gua.
Mungkin memang begitu cara kita sembuh. Nggak semua luka harus diobati dengan permintaan maaf. Kadang, waktu dan diam yang mengurusnya untuk kita.
—
Hujan belum reda waktu kami akhirnya keluar dari resto. Fira berjalan bersisian dengan Fidel sambil saling menggenggam tangan. Sementara, gua berjalan di belakang seraya membawa dua koper milik mereka.
Dari sini, Fidel katanya akan pulang sendiri dengan menggunakan taksi. Gua menjawab tangannya yang masih sedikit gemetar. Entah karena cuaca yang dingin atau karena percakapan barusan.
“Maaf ya, Del…” Bisik gua kepadanya. Takut terdengar Fira kalau gua malah meminta maaf. Iya, gua memang meminta maaf tapi bukan karena masa lalu, tapi karena membuatnya merasa bersalah.
Fidel tersenyum lalu mengangguk pelan; “Ia, Mas.. sama-sama, aku juga minta maaf, Lagi…” Balasnya. Kemudian beralih ke Fira, keduanya lalu berpelukan sebelum Fidel akhirnya masuk ke dalam taksi yang sudah menunggu di lobi.
Setelah Fidel pergi, gua dan Fira kini berdua. Berbaur bersama para pengunjung mall lain yang bernasib sama; menunggu taksi atau jemputan di lobi mall.
Gua merangkul bahu dan memeluknya, meresapi aroma shampo yang menempel di rambutnya. Ia lalu mendongak dan menatap gua manja; “Sekarang bisa anter sampe rumah kan?” Bisiknya.
“Bisa…” Balas gua sambil tersenyum.
Beberapa saat berikutnya, kami sudah berada di kursi belakang taksi yang membawa kami pulang. Fira bersandar di bahu gua, terlelap karena mungkin kelelahan. Sementara, suara gerimis masih terdengar samar, diiringi lagu nggak jelas dari radio yang diputar supir taksi. Gua melirik kaca jendela yang dipenuhi tetesan hujan. Dalam ‘keheningan’ itu, ada semacam rasa lega. Bukan karena semua luka udah sembuh, tapi karena setidaknya sekarang nggak ada lagi yang disembunyikan.
Ibu pernah bilang, bahagia itu bukan soal tampak luar, tapi soal rasa di dalam dada.
Saat ini, walau sederhana, gua bisa ngerasain itu. Sedikit aja. Tapi cukup buat bikin gua percaya, kalau mungkin… gua masih bisa belajar bahagia lagi.
—
Gua duduk di tepian ranjang di dalam kamar, menatap layar ponsel berisi balasan pesan ke Fira kalau gua sudah sampai di rumah.
Perlahan, gua menggulir layar ke histori pesan dari Ncek yang lama terabaikan. Kemudian mulai mengetik balasan tentang waktu dan tempat pertemuan kami nantinya.
‘Ok’ Ncek membalas cepat.
Gua beralih ke menu panggilan, lalu menekan deretan angka yang gua hafal diluar kepala. Nomor yang dulu bahkan deret belakangnya selalu menjadi PIN ATM gua.
Nada sambung terdengar beberapa kali, lalu suaranya yang renyah menyambut gua; “Halo…”
“…” Gua terdiam, nggak menjawab sapaannya. Begitu pula dengan dirinya yang nggak berkata apa-apa lagi. Yang terdengar hanya tarikan napasnya; ringan dan teratur.
Setelah cukup lama sama-sama terdiam, ia kembali buka suara; “Mau diem aja sampe kapan?” Tanyanya, mengakhiri kesunyian.
“Gue tutup aja kalo nggak mau ngomong…” Tambahnya.
“Sehat, Nat?” Tanya gua.
“Nah gitu dong. Sehat kok. Lo?”
“Sehat, as always…” Gua menjawab singkat.
“Good to know, eh, lo abis ngomong apa ke Fira dan Fidel. Kenapa tiba-tiba dia nanya tentang hubungan kita dulu?” Tanyanya. Kini nada bicaranya terdengar serius.
“Gue? Gue nggak ngomong apa-apa. Nggak tau deh kalo Fira” Balas gua.
“Hhh… Nambah masalah aja lo” Gumamnya pelan.
“…”
“… Kenapa lo tiba-tiba nelpon?”
“Gapapa, gue cuma mau ngajak lo ketemuan, ngobrol…”
“Berdua?” Tanyanya.
“Nggak, sama Ncek dan…”
“Fira?” Natalie menebak.
“Iya…”
“Buat apa?”
“Biar semua jelas aja…”
“Apanya yang jelas? Biar lo bisa nelanjangin gue dengan kesalahan dulu? kesalahan dimana gue udah berkali-kali minta maaf?”
“Nggak, bukan gitu. Gue… Eh, Kita, kita semua kayaknye perlu meluruskan semuanya; sama-sama…”
“Ck…”
“Nggak mau?” Tanya gua.
“Hhh, kapan?” Ia balik bertanya, yang lantas gua jawab dengan menyebutkan waktu dan tempat untuk bertemu.
“Bisa?” Tanya gua lagi.
“Yaudah iya…” Ia menjawab singkat, lalu mengakhiri panggilan saat terdengar rengekan anak bungsunya.
Gua lalu menjatuhkan diri di atas ranjang, kemudian menghela napas dalam-dalam seraya menatap kosong ke arah langit-langit hingga rasa kantuk menyerang, hingga akhirnya gua terlelap.
Selain gua yang masih harus bolak-balik Jakarta-Singapore dan Fira yang kembali sibuk menjalani berkuliah, hari-hari kami terasa begitu berbeda. Ada kelegaan yang luar biasa saat tau kalau Tante Ana sudah memberi restunya walau belum 100% dan Fidel yang akhirnya tau tentang hal yang sebenarnya.
Sejatinya gua nggak terlalu memusingkan perkara Fidel seandainya ia bukan sahabat Fira. Cuma nggak mau, hubungan Fira dan sahabatnya jadi rusak gara-gara masa lalu gua.
Kini yang mengganjal hanyalah perkara Ncek yang rupanya ‘berkhianat’ dibelakang gua. Bukan, bukan hal yang krusial, bukan pula hal yang bisa merusak hubungan persahabatn kami yang terjalin lama. Gua hanya ingin tau apa alasan ia melakukan hal itu. Melakukan hal yang sebelumnya disampaikan Natalie saat kami nggak sengaja bertemu di pesawat beberapa waktu yang lalu.
Gua juga sudah bilang ke Fira dan mengajaknya untuk bertemu dengan Ncek nanti. Biar dia bisa tau semuanya secara langsung tanpa ada yang ditutup-tutupi.
“Apa perlu aku ikut?” Tanya Fira saat gua bilang ingin mengajaknya.
“Perlu…” Jawab gua.
“Tapi, aku kan nggak enak sama Dokter Ricky” Balasnya.
“Kenapa harus merasa nggak enak? Lha wong dia yang bohong”
“Emang dia bohong apa sih?” Tanyanya penasaran.
“Nanti aja, biar dia yang jelasin…” Jawab gua.
Hingga akhirnya hari itu tiba. Hari janji temu kami, Gua, Fira dan Ncek. Tentu saja, Fira dan Ncek belumlah tau kalau gua juga mengajak Natalie untuk ikut hadir.
—
Gua dan Fira duduk bersisian di salah satu kedai kopi yang terletak nggak jauh dari hutan kota tempat danau biasa kami menghabiskan waktu.
Nggak lama berselang, pintu kaca kedai kopi terbuka. Seorang perempuan masuk ke dalam. Dengan langkah yang elegan, ia terus mendekat ke arah kami berdua.
Fira yang menyadari kehadiran Natalie, langsung menatap gua dan menepuk bahu beberapa kali; “Dokter Natalie” Serunya.
“Iya, aku tau. Aku yang ngajak dia…”
“Hah!?” Seru Fira sambil melongo.
Natalie menarik salah satu kursi di meja yang sama dengan kami. Ia duduk, menyilangkan satu kakinya, melepas kacamata hitam yang sejak tadi dipakainya dan menatap Fira sambil tersenyum; “Hai. Fir… Sehat?” Tanyanya.
Fira nggak merespon. Ia hanya terus menatap Natalie dengan ekspresi marah.
---
Gua bergeming, dan hanya duduk sambil terus menatapnya.
‘Terima kasih ya, bu’ Balas gua, lalu menyendok nasi dan mulai makan.
Selesai makan, gua pindah ke depan rumah. Menyulut sebatang rokok kemudian meraih gulungan selang yang salah satu ujungnya terpasang di mulut kran. Gua memutar knop kran, terasa tekanan memenuhi selang, disusul semburan air pada ujung satunya. Sambil merokok, gua menyiram aneka tanaman yang berada di halaman.
Ibu yang sepertinya baru saja selesai membereskan meja makan lalu duduk di kursi rotan beranda rumah. Ia menikmati segelas teh tawar hangat favoritnya seraya menatap gua.
Sesekali, gua menoleh ke arahnya.
‘Siang-siang kok nyiram’
‘Emang nggak boleh ya, bu?’ Tanya gua dengan menggunakan bahasa isyarat.
‘Nyiram tanaman kan juga ada waktunya’
Gua berhenti menyiram dan mamatikan aliran air dari kran; ‘Kapan?’
‘Pagi dan sore’ jawabnya.
Ponsel gua bergetar. Susah payah, gua meraihnya dari saku celana, terlihat sebuah notifikasi pesan dari Fira yang memberi informasi tentang waktu kepulangannya.
Gua tersenyum, lalu membalas pesan darinya; ‘Mau dijemput?’
‘Mauuuu’ Balasnya cepat. ‘Kalo gk merepotkan’ tambahnya.
‘Nggak kok, share nomor penerbangannya ya nanti’ balas gua lagi. Tentu agar bisa melacak posisinya.
‘Iya’
Gua bergabung dengan ibu, duduk di kursi rotan di beranda rumah. Ia menatap gua dan tersenyum.
‘Siapa? Fira?’ Tanyanya. Yang lantas gua jawab dengan anggukan kepala.
‘Pantas. Ibu baru lihat kamu tersenyum saat membalas pesan’
Gua menggeser kursi agar lebih dekat, kemudian meraih dan menggenggam tangannya.
“Maaf ya bu” Ucap gua dengan perlahan agar ia bisa dengan mudah membaca gerak bibir gua.
‘Maaf untuk apa?’ Tanyanya.
“Karena aku nggak bisa benar-benar tersenyum untuk ibu” Jawab gua.
Ibu mengangguk pelan, kemudian memberi tepukan lembut di bahu gua.
‘Tidak apa, Nak. Ibu tidak butuh senyum atau ekspresi lain darimu’ ia bicara dengan gerakan tangan yang lugas. Sementara, kedua ujung matanya mulai terlihat basah.
‘Ibu hanya mau kamu bahagia. Bahagia yang bukan hanya nampak dari luar, tapi bahagia di sini’ tambahnya, masih dengan gerakan bahasa isyarat dan diakhiri dengan menunjuk ke arah dada gua.
‘Terima kasih, bu’ balas gua lantas bangkit dan memberi kecupan di pipinya.
—
Besoknya, setelah membantu ibu membereskan isi rumah. Gua bersiap kembali ke Jakarta. Sengaja membeli tiket pesawat on the spot agar bisa memilih penerbangan yang sesuai dengan waktu tiba Fira.
Beberapa jam berikutnya, gua sudah tiba di Soekarno Hatta. Duduk dan menunggu di smoking area terminal kedatangan domestik seraya menikmati segelas kopi yang rasanya nggak enak.
Sesekali, gua mengecek ponsel; menghitung waktu kedatangan Fira. Mengabaikan pesan dari Ncek yang sejak kemarin mengajak bertemu.
‘10 menit lagi…’ Batin gua. 10 menit lagi, barulah gua akan pergi dari sini untuk menuju ke terminal kedatangan internasional untuk menjemput Fira.
20 menit berikutnya, ponsel gua berdering. Layarnya menampilkan nama Fira lengkap dengan foto dirinya yang tengah berpose imut dan menggemaskan.
“Halo…”Sapa gua.
“Halo, aku lagi nunggu bagasi. Mas di mana?” Tanyanya.
Gua tersenyum dan nggak langsung menjawab. Hanya ingin mendengar dan meresapi suaranya untuk menghilangkan kerinduan.
“Halo?…” Ucapnya, merasa nggak mendengar jawaban dari gua.
“Yaaa…”
“Kok diem aja sih? Di mana?” Tanyanya.
“Ini di depan, nunggu kamu…”
“Ooh… yaudah tunggu ya”
“Iya…”
Sambil menggeret koper dengan tangan kiri, dan ransel tergantung di bahunya, Fira berlari sambil melambai ke arah gua. Sementara, di belakang berjalan santai dua sahabatnya; Fidel dan Liv.
Fira meninggalkan koper yang dibawanya, lalu menjatuhkan ransel dari punggungnya, langkahnya semakin cepat ke arah gua. Kemudian melompat dan memberikan pelukan.
“Kangen…” Bisiknya di telinga.
“Sama…” Balas gua lirih.
Belum sempat kami berdua melepas rindu, Fidel dan Liv sudah berdiri tepat di belakang kami berdua. Gua berusaha keluar dari pelukan Fira yang belum ada tanda-tanda akan melepasnya. Sementara, Liv sudah pasang tampang ‘jijik’ yang nggak bisa disembunyikan dan Fidel yang sejak tadi selalu berusaha menghindari tatapan gua.
Gua mencoba tersenyum dan menyapa keduanya; “Hai…”
“Hai…” Balas Liv sambil tersenyum, walau ekspresi jijiknya masih tersisa.
Di sebelahnya, Fidel nggak memberi tanggapan. Ia hanya terus terdiam, menundukkan kepalanya seraya memainkan kedua ujung jari.
“Bareng aja yuk…” Ajak Fira kepada kedua sahabatnya itu.
“Yah, gue dijemput, Fir…” Jawab Liv seraya mengecek layar ponsel.
Fira lalu berpaling ke Fidel. “Lo, Del? Mau bareng nggak?” Tanyanya, menawarkan tumpangan. Namun, ia dengan cepat menggeleng.
“Gue naik taksi online aja…” Jawabnya.
“Iya, kita juga naik taksi. Makanya bareng aja…” Balas Fira, seraya menarik Fidel mendekat dan merangkul bahunya.
Kami lalu sama-sama berdiri di pelataran bandara, menemani Liv menunggu keluarganya datang menjemput. Setelahnya, kami bertiga; Gua, Fira dan Fidel berjalan ke area jemput yang dipenuhi dengan deretan taksi.
Gua duduk di kursi penumpang depan, sementara Fira dan Fidel duduk di kursi belakang taksi yang kemudian membawa kami keluar dari area bandara. Masuk ke jalan bebas hambatan menuju ke Jakarta.
“Mau makan dulu?” Tanya gua ke Fira seraya menoleh ke bekalang.
Fira nggak langsung menjawab, ia menoleh ke arah Fidel dan menyenggol lengannya seakan tengah memberi kode. Fidel nggak langsung merespon, ia hanya menatap keluar melalui jendela taksi sambil menggigit ujung kukunya. Setelah beberapa kali Fira menyenggol lengannya, barulah Fidel mengangguk; setuju.
Setengah jam berikutnya, kami tiba di sebuah mall. Mall yang dulu biasa gua dan Fira kunjungi. Juga Mall yang sama tempat mereka; The Lontongers sering menghabiskan waktu.
Gua sengaja memilih salah satu resto paling dekat dengan lobi agar nggak repot karena barang bawaan Fidel yang terbilang cukup banyak.
—
Resto kecil di lobi mall terasa terlalu terang buat kami bertiga yang terus tenggelam dalam diam. Lampu gantung bundar dari rotan menyebarkan cahaya hangat ke meja kayu yang licin, tempat tiga piring berisi porsi nasi goreng yang sama karena Fidel dan Fira yang malas memilih menu. Porsi nasi goreng yang belum tersentuh sejak tiba beberapa menit yang lalu.
Di luar resto, terlihat hujan turun. Kaca-kaca resto yang menghadap ke luar mulai basah oleh rintik.
Fira duduk di tengah, di antara gua dan Fidel. Yang sejak awal, sejak dari bandara nggak pernah sekalipun gua mendengar ia bicara. Jangankan bicara, sejak tadi ia sama sekali nggak ‘berani’ menatap ke arah gua.
Gua menyeruput kopi hitam yang mulai dingin, sambil sesekali melirik ke arah Fidel yang kini sibuk mengaduk es lemon tea pesanannya. Minuman yang sepertinya dipesan tanpa ada niat untuk diminum. Ekspresinya terlihat tertekan, sementara tangannya berkali-kali menggaruk hidungnya. Gua tau kalau saat ini ia tengah berpikir keras buat mulai bicara.
Fira, yang sudah nyaris menghabiskan porsi nasi goreng miliknya, angkat bicara. Ia yang sejak tadi merasakan ‘ketegangan’ diantara gua dan Fidel berusaha mencairkan suasana. “Eh, Del. Itu nasgornya dingin lho…” ucapnya seraya menggeser piring porsi nasi goreng milik Fidel lebih dekat.
Fidel tersenyum kecil, tapi jelas ia nggak menggubris ucapan Fira. Tangan kanannya meraih sendok, namun alih-alih mulai makan, ia justru menarik napas dalam-dalam lalu akhirnya menatap gua dan mulai buka suara.
“Aku…” suaranya serak, seakan belum pernah digunakan buat ngomong seharian. Fidel berdehem sekali, lalu lanjut bicara; “… Aku minta maaf… Mas. Aku minta maaf udah salah menilai mas selama ini…”
Fidel masih menunduk, tapi gua bisa lihat dari cara dia mengatupkan bibir dan meremas ujung bajunya, kalau dia sedang menahan sesuatu yang lebih dari sekadar rasa bersalah. Mungkin juga rasa malu. Atau kecewa pada dirinya sendiri. Gua nggak tau.
Gua menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Bukan karena marah, tapi karena tiba-tiba ada suara dalam kepala yang bilang, ‘Akhirnya, lo tau juga’
Fira ikut tenggelam dalam diam. Suasana resto makin tenggelam dalam gemericik hujan yang mengguyur kaca bagian depan resto. Pelayan dan pengunjung lalu-lalang, tapi rasanya seperti kami bertiga berada di ruang kecil yang kedap suara, cuma ada kata-kata Fidel tadi yang bergema.
Gua menatapnya sambil mencoba menyunggingkan senyum tipis. Tentu saja nggak ada rasa marah kepadanya. Tapi, di sisi lain ada sedikit ganjalan yang bikin gua nggak bisa menerima permintaan maafnya. Iya, jelas aja karena dia; Fidel nggak benar-benar salah.
“Kamu nggak salah kok, Del. Kamu cuma dapet cerita yang salah aja kok…” Jawab gua. Kalaupun Fidel salah, kesalahannya hanyalah menelan mentah-mentah informasi dari Natalie, dari Kakaknya.
Dia ngangguk, menunduk, lalu berbisik pelan, “Iya. Tapi aku tetap minta maaf. Atas nama Kak Natalie juga...”
Gua menyandarkan tubuh ke sandaran kursi, meletakkan sendok dan garpu kembali di atas meja; kehilangan selera makan.
“Aku udah maafin dia, Del. Dari lama. Dia nggak sepenuhnya salah juga. Aku ngerti sih, kadang orang bereaksi aneh kalau ketemu hal yang nggak biasa. Ngelihat orang yang tuna rungu, mungkin mereka ngerasa canggung atau… takut salah ngomong. Tapi aku juga nggak bisa membenarkan cara dia waktu itu. Menurutku itu keterlaluan...” Balas gua, seraya terus menatap Fidel yang masih menundukkan kepalanya.
Mendengar jawaban gua atas permintaan maaf Fidel untuk kakaknya, Fira langsung merespon. Ia mengangkat kepalanya dan bicara menggebu-gebu
“Nggak sepenuhnya salah gimana? Salah ya salah. Buktinya aku bisa kok nerima ibu. Aku nggak ngetawain, nggak ngerasa aneh. Kenapa dia dulu nggak bisa?” Nada suaranya meninggi. Bukan marah, tapi terdengar kecewa. Fira memang nggak berada di sana waktu itu, tapi entah kenapa hari ini ia seakan bisa merasakan sendiri perihnya luka gua dan ibu waktu itu.
Fidel hanya bisa terdiam. Kedua tangannya sekarang saling menggenggam erat di pangkuannya. Matanya nggak berani menatap. Ada rasa bersalah di sana, gua bisa melihatnya dengan jelas.
Sementara, Fira terlihat mulai menenangkan diri. Ia mencoba mengatur napasnya lalu dengan perlahan menyentuh tangan Fidal dan bicara lirih; “Sorry ya, Del… Gue nggak bermaksud bikin lu terus bersalah. Lu nggak salah. Lu cuma tau cerita dari satu sisi. Lu nggak tau apa-apa waktu itu…”
Gua membetulkan posisi duduk, lalu menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum kembali bicara; “Udah, Gapapa. Nggak usah diperpanjang. Nggak usah diinget-inget juga… Yang penting sekarang kita udah sama-sama tau dan sama-sama ngerti…”
Lalu beralih ke Fidel; “Dan kamu, Del. Nggak usah bahas ini lagi ke Natalie. Apalagi ke keluarga kalian…” Gua menambahkan. Takut, takut merusak keluarga kecil Natalie dan juga keluarga besarnya yang mungkin tengah baik-baik saja.
Fidel mengangguk pelan. Kemudian, suasana kembali hening.
Sesaat berikutnya, Fira kembali angkat bicara; “Nggak bisa. Mereka harus tetep minta maaf ke Ibu…”
Gua meraih tangan Fira dan menggenggamnya, lalu menggeleng pelan; “Buat apa? Buat ngebalikin waktu? Buat bikin aku lega? aku udah nggak butuh itu, Ibu juga nggak. Kita jalani aja hidup kayak biasa. Yang udah, ya udah…”
Fira nggak merespon. Ia hanya terdiam dan terus menatap ke arah gua.
Sementara di luar hujan turun lebih deras. Suara ketukan air di kaca bagian depan resto terdengar semakin nyaring, seakan menelan semua ucapan dan kalimat-kalimat kami barusan.
Fira lalu mengangguk pelan, setuju dengan ucapan gua.
Mungkin memang begitu cara kita sembuh. Nggak semua luka harus diobati dengan permintaan maaf. Kadang, waktu dan diam yang mengurusnya untuk kita.
—
Hujan belum reda waktu kami akhirnya keluar dari resto. Fira berjalan bersisian dengan Fidel sambil saling menggenggam tangan. Sementara, gua berjalan di belakang seraya membawa dua koper milik mereka.
Dari sini, Fidel katanya akan pulang sendiri dengan menggunakan taksi. Gua menjawab tangannya yang masih sedikit gemetar. Entah karena cuaca yang dingin atau karena percakapan barusan.
“Maaf ya, Del…” Bisik gua kepadanya. Takut terdengar Fira kalau gua malah meminta maaf. Iya, gua memang meminta maaf tapi bukan karena masa lalu, tapi karena membuatnya merasa bersalah.
Fidel tersenyum lalu mengangguk pelan; “Ia, Mas.. sama-sama, aku juga minta maaf, Lagi…” Balasnya. Kemudian beralih ke Fira, keduanya lalu berpelukan sebelum Fidel akhirnya masuk ke dalam taksi yang sudah menunggu di lobi.
Setelah Fidel pergi, gua dan Fira kini berdua. Berbaur bersama para pengunjung mall lain yang bernasib sama; menunggu taksi atau jemputan di lobi mall.
Gua merangkul bahu dan memeluknya, meresapi aroma shampo yang menempel di rambutnya. Ia lalu mendongak dan menatap gua manja; “Sekarang bisa anter sampe rumah kan?” Bisiknya.
“Bisa…” Balas gua sambil tersenyum.
Beberapa saat berikutnya, kami sudah berada di kursi belakang taksi yang membawa kami pulang. Fira bersandar di bahu gua, terlelap karena mungkin kelelahan. Sementara, suara gerimis masih terdengar samar, diiringi lagu nggak jelas dari radio yang diputar supir taksi. Gua melirik kaca jendela yang dipenuhi tetesan hujan. Dalam ‘keheningan’ itu, ada semacam rasa lega. Bukan karena semua luka udah sembuh, tapi karena setidaknya sekarang nggak ada lagi yang disembunyikan.
Ibu pernah bilang, bahagia itu bukan soal tampak luar, tapi soal rasa di dalam dada.
Saat ini, walau sederhana, gua bisa ngerasain itu. Sedikit aja. Tapi cukup buat bikin gua percaya, kalau mungkin… gua masih bisa belajar bahagia lagi.
—
Gua duduk di tepian ranjang di dalam kamar, menatap layar ponsel berisi balasan pesan ke Fira kalau gua sudah sampai di rumah.
Perlahan, gua menggulir layar ke histori pesan dari Ncek yang lama terabaikan. Kemudian mulai mengetik balasan tentang waktu dan tempat pertemuan kami nantinya.
‘Ok’ Ncek membalas cepat.
Gua beralih ke menu panggilan, lalu menekan deretan angka yang gua hafal diluar kepala. Nomor yang dulu bahkan deret belakangnya selalu menjadi PIN ATM gua.
Nada sambung terdengar beberapa kali, lalu suaranya yang renyah menyambut gua; “Halo…”
“…” Gua terdiam, nggak menjawab sapaannya. Begitu pula dengan dirinya yang nggak berkata apa-apa lagi. Yang terdengar hanya tarikan napasnya; ringan dan teratur.
Setelah cukup lama sama-sama terdiam, ia kembali buka suara; “Mau diem aja sampe kapan?” Tanyanya, mengakhiri kesunyian.
“Gue tutup aja kalo nggak mau ngomong…” Tambahnya.
“Sehat, Nat?” Tanya gua.
“Nah gitu dong. Sehat kok. Lo?”
“Sehat, as always…” Gua menjawab singkat.
“Good to know, eh, lo abis ngomong apa ke Fira dan Fidel. Kenapa tiba-tiba dia nanya tentang hubungan kita dulu?” Tanyanya. Kini nada bicaranya terdengar serius.
“Gue? Gue nggak ngomong apa-apa. Nggak tau deh kalo Fira” Balas gua.
“Hhh… Nambah masalah aja lo” Gumamnya pelan.
“…”
“… Kenapa lo tiba-tiba nelpon?”
“Gapapa, gue cuma mau ngajak lo ketemuan, ngobrol…”
“Berdua?” Tanyanya.
“Nggak, sama Ncek dan…”
“Fira?” Natalie menebak.
“Iya…”
“Buat apa?”
“Biar semua jelas aja…”
“Apanya yang jelas? Biar lo bisa nelanjangin gue dengan kesalahan dulu? kesalahan dimana gue udah berkali-kali minta maaf?”
“Nggak, bukan gitu. Gue… Eh, Kita, kita semua kayaknye perlu meluruskan semuanya; sama-sama…”
“Ck…”
“Nggak mau?” Tanya gua.
“Hhh, kapan?” Ia balik bertanya, yang lantas gua jawab dengan menyebutkan waktu dan tempat untuk bertemu.
“Bisa?” Tanya gua lagi.
“Yaudah iya…” Ia menjawab singkat, lalu mengakhiri panggilan saat terdengar rengekan anak bungsunya.
Gua lalu menjatuhkan diri di atas ranjang, kemudian menghela napas dalam-dalam seraya menatap kosong ke arah langit-langit hingga rasa kantuk menyerang, hingga akhirnya gua terlelap.
Selain gua yang masih harus bolak-balik Jakarta-Singapore dan Fira yang kembali sibuk menjalani berkuliah, hari-hari kami terasa begitu berbeda. Ada kelegaan yang luar biasa saat tau kalau Tante Ana sudah memberi restunya walau belum 100% dan Fidel yang akhirnya tau tentang hal yang sebenarnya.
Sejatinya gua nggak terlalu memusingkan perkara Fidel seandainya ia bukan sahabat Fira. Cuma nggak mau, hubungan Fira dan sahabatnya jadi rusak gara-gara masa lalu gua.
Kini yang mengganjal hanyalah perkara Ncek yang rupanya ‘berkhianat’ dibelakang gua. Bukan, bukan hal yang krusial, bukan pula hal yang bisa merusak hubungan persahabatn kami yang terjalin lama. Gua hanya ingin tau apa alasan ia melakukan hal itu. Melakukan hal yang sebelumnya disampaikan Natalie saat kami nggak sengaja bertemu di pesawat beberapa waktu yang lalu.
Gua juga sudah bilang ke Fira dan mengajaknya untuk bertemu dengan Ncek nanti. Biar dia bisa tau semuanya secara langsung tanpa ada yang ditutup-tutupi.
“Apa perlu aku ikut?” Tanya Fira saat gua bilang ingin mengajaknya.
“Perlu…” Jawab gua.
“Tapi, aku kan nggak enak sama Dokter Ricky” Balasnya.
“Kenapa harus merasa nggak enak? Lha wong dia yang bohong”
“Emang dia bohong apa sih?” Tanyanya penasaran.
“Nanti aja, biar dia yang jelasin…” Jawab gua.
Hingga akhirnya hari itu tiba. Hari janji temu kami, Gua, Fira dan Ncek. Tentu saja, Fira dan Ncek belumlah tau kalau gua juga mengajak Natalie untuk ikut hadir.
—
Gua dan Fira duduk bersisian di salah satu kedai kopi yang terletak nggak jauh dari hutan kota tempat danau biasa kami menghabiskan waktu.
Nggak lama berselang, pintu kaca kedai kopi terbuka. Seorang perempuan masuk ke dalam. Dengan langkah yang elegan, ia terus mendekat ke arah kami berdua.
Fira yang menyadari kehadiran Natalie, langsung menatap gua dan menepuk bahu beberapa kali; “Dokter Natalie” Serunya.
“Iya, aku tau. Aku yang ngajak dia…”
“Hah!?” Seru Fira sambil melongo.
Natalie menarik salah satu kursi di meja yang sama dengan kami. Ia duduk, menyilangkan satu kakinya, melepas kacamata hitam yang sejak tadi dipakainya dan menatap Fira sambil tersenyum; “Hai. Fir… Sehat?” Tanyanya.
Fira nggak merespon. Ia hanya terus menatap Natalie dengan ekspresi marah.
---
The All-American Rejects - Dirty Little Secret
Let me know that I've done wrong
When I've known this all along
I go around a time or two
Just to waste my time with you
Tell me all that you've thrown away
Find out games you don't wanna play
You are the only one
That needs to know
I'll keep you my dirty little secret (Dirty little secret)
Don't tell anyone or you'll be just another regret
(Just another regret, hope that you can keep it)
My dirty little secret, who has to know?
When we live such fragile lives
It's the best way we survive
I go around a time or two
Just to waste my time with you
Tell me all that you've thrown away
Find out games you don't wanna play
You are the only one
That needs to know
I'll keep you my dirty little secret (Dirty little secret)
Don't tell anyone or you'll be just another regret
(Just another regret, hope that you can keep it)
My dirty little secret, who has to know?
The way she feels inside (Inside)
Those thoughts I can't deny (Deny)
These sleeping dogs won't lie (Won't lie)
And all I've tried to hide
It's eating me apart
Trace this line back
I'll keep you my dirty little secret (Dirty little secret)
Don't tell anyone or you'll be just another regret
(Just another regret)
delet3 dan 44 lainnya memberi reputasi
45
Kutip
Balas
Tutup