- Beranda
- Stories from the Heart
Una In Perpetuum [ Kumpulan Cerita Pendek ]
...
TS
blank.code
Una In Perpetuum [ Kumpulan Cerita Pendek ]
Assalamualaikum...
Hallo, Gue Andra. Ijinkan gue kali ini untuk berbagi karya bertajuk "Una In Perpetuum" yaitu sebuah antologi cerita pendek karya gue yang sebelumnya belum pernah gue publish di media manapun.
Nantinya, Cerpen di dalam antologi tersebut akan di update setiap minggu. Bagi kengkawan kaskuser Sfth semua, gue akan sangat berbahagia jika nantinya di tiap tulisan gue tersebut disilakan untuk menuankan kritik, saran serta komentar apapun untuk gue terus meningkatkan kemampuan literasi gue khususnya dalam membuat karya Cerita Pendek.
Warm Regards
Andra


Quote:
Diubah oleh blank.code 29-05-2025 00:41
tiokyapcing dan 5 lainnya memberi reputasi
4
3.9K
21
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
blank.code
#14
Percakapan Ruang Tunggu
Bayangan bukanlah sekadar cahaya yang kita kenal—bukan sinar matahari yang membelah pagi atau lampu neon yang menandai malam. Bukan cahaya yang menembus jendela atau memantul dari permukaan logam. Melainkan cahaya yang tersembunyi di antara celah kesadaran, yang bergerak seperti aliran air yang membentuk rupa antara apa yang kita sebut "nyata" dan "mimpi".
Di ruang tunggu rumah sakit—di tempat di mana hidup dan mati bertemu dalam keheningan—dua bayangan akan menemukan satu sama lain. Bukan sekadar pertemuan, melainkan persilangan dua jalur kesadaran yang telah mengembara sepanjang waktu.
Namanya Naziel. Nama yang tersimpan dalam kenangan keluarga, dibawa oleh seorang anak laki-laki dari pinggiran kota, yang tumbuh di antara matematika ayahnya dan empati ibunya. Nama yang bermakna "cahaya" dalam bahasa Arab—ironis, mengingat perjalanan hidupnya yang selalu berada di antara bayang-bayang.
Dan Alinea. Nama yang tercipta dari kata "alinea"—sepenggal paragraf dalam narasi besar kehidupan. Seorang perempuan yang tumbuh di antara kanvas ayahnya dan gerakan kaki ibunya, yang selalu merasa dirinya adalah kalimat yang tak pernah selesai ditulis.
Mereka akan bertemu. Bukan karena kebetulan. Bukan pula karena takdir sederhana. Melainkan karena semesta memiliki cara tersendiri untuk menjalin ulang benang-benang kesadaran yang terputus.
Kota pinggiran memiliki bahasa sendiri. Bahasa yang tersusun dari gemerisik daun di halaman sekolah, dari detak jam di ruang guru, dari bisikan orangtua yang bermimpi anaknya akan menjadi sesuatu yang lebih besar dari mereka.
Ahmad Siddiq, ayah Naziel, adalah seorang guru matematika. Baginya, dunia adalah kumpulan persamaan yang dapat diselesaikan, di mana setiap variabel memiliki tempat dan setiap problema memiliki solusi. Ia percaya pada logika absolut—bahwa semesta dapat dipahami melalui angka dan rumus.
Mariani, ibunya, adalah seorang perawat. Bertolak belakang dengan Ahmad, ia melihat dunia sebagai kumpulan cerita—setiap pasien adalah narasi, setiap luka adalah kalimat yang ingin dimengerti. Di antara ketegangan ayahnya dan kelembutan ibunya, Naziel tumbuh.
"Matematika adalah bahasa semesta," selalu kata ayahnya. "Setiap problema memiliki jawaban. Setiap kesulitan dapat dipecahkan dengan logika yang tepat."
Tapi Naziel tumbuh dengan pertanyaan yang tak dapat dijawab oleh matematika: Mengapa orang menderita? Mengapa cinta bisa menyakitkan? Apa yang terjadi pada mimpi-mimpi yang tak pernah terwujud?
Di fakultas kedokteran, ia adalah mahasiswa yang cemerlang. Bukan sekadar karena kecerdasannya, melainkan karena empatinya. Ia tidak sekadar melihat penyakit, ia melihat manusia di balik gejala. Setiap pasien adalah sebuah misteri yang ingin ia pecahkan—bukan hanya dengan stetoskop dan tes darah, melainkan dengan pendengaran.
Keluarga Alinea adalah mozaik artistik. Ayahnya, Reza Permana, seorang pelukis terkenal yang karya-karyanya terpajang di galeri-galeri ternama. Ibunya, Siti Aisyah, seorang penari tradisional yang pernah memukau panggung-panggung nasional, namun kemudian memilih untuk tinggal di rumah, mengajar tari pada anak-anak di lingkungannya.
"Seni adalah revolusi yang tak terlihat," selalu kata ayahnya. "Setiap garis, setiap warna adalah pernyataan tentang eksistensi."
Alinea tumbuh di antara kanvas ayahnya yang penuh warna dan gerakan tangan ibunya yang penuh makna. Ia belajar bahwa dunia tidak sekadar dilihat, melainkan dirasakan. Bahwa setiap momen adalah potongan komposisi yang menunggu untuk disusun.
Kuliah desain komunikasi visual adalah pilihan natural. Tapi impiannya lebih dalam—ia ingin menjadi fotografer dokumenter. Ingin mengabadikan momen-momen tersembunyi, cerita-cerita yang tak pernah terdengar.
"Fotografer sejati," kata ibunya suatu hari, "adalah mereka yang mampu melihat apa yang tidak terlihat oleh mata."
Kehidupan jarang berjalan sesuai persamaan matematika. Setelah lulus, Naziel menikah dengan Laila—seorang manajer marketing yang cerdas dan ambisius. Mereka terlihat sempurna dari luar—dua orang muda, karier cemerlang, masa depan terbentang luas.
Tapi kehidupan memiliki caranya sendiri untuk mengikis mimpi.
Jam kerjanya semakin panjang. Pasien semakin banyak. Rumah sakit adalah labirin di mana manusia kehilangan dirinya sendiri. Ia mulai kehilangan sentuhan awal yang membuatnya memilih kedokteran—empati murni untuk menyembuhkan.
Laila semakin sibuk dengan kariernya. Ponsel selalu ada di tangannya, rapat virtual memenuhi malamnya. Percakapan mereka menyusut menjadi catatan singkat, pesan teks, janji-janji yang tak pernah sepenuhnya terpenuhi.
Dan mimpi-mimpi? Tersimpan rapi di sudut-sudut memori, seperti buku-buku lama yang tak pernah dibuka kembali.
Alinea, ia masih mengambil foto-foto. Tapi tidak lagi untuk dokumentasi atau seni. Sekadar hobi di sela-sela pekerjaan kantoran sebagai desainer grafis. Kamera digital yang dulu ia impikan kini hanya menyimpan foto keluarga, momen-momen "normal" yang tak memiliki kedalaman.
Mimpi tentang menjelajah, mendokumentasikan kisah-kisah tersembunyi, perlahan terkubur di bawah tumpukan tagihan, rencana liburan, dan rutinitas yang membuat waktu terasa diam.
Pertemuan mereka dimulai dengan keheningan.
Cahaya sore merembes melalui jendela rumah sakit. Naziel duduk di kursi tunggu, jemarinya memainkan ujung jas putih. Alinea berdiri di ujung lorong, pandangannya menerawang.
Sesuatu terasa berbeda. Bukan sekadar pertemuan dua individu, melainkan persilangan dua kesadaran yang telah mengembara.
"Maaf mengganggu," kata Naziel.
Alinea tersenyum. Senyum yang tak sepenuhnya mencapai mata.
"Tidak apa-apa."
Alinea menggeser tubuhnya sedikit di kursi tunggu, memberikan ruang pada Naziel. Rambut sebahunya tergerai lembut, memantul cahaya sore yang redup. Matanya coklat, sipit, dan dalam—seperti sepasang jendela yang menyimpan ratusan cerita tak terucap. Setiap helai rambutnya bergerak seolah menceritakan sebuah rahasia yang tak pernah terungkapkan.
"Sudah lama menunggu?" Naziel bertanya, suaranya lembut namun sedikit gemetar. Ada getaran aneh di antara mereka, sesuatu yang melampaui percakapan biasa—sebuah resonansi yang tak dapat dijelaskan dengan logika sederhana.
Alinea tersenyum, "Sepertinya sudah selamanya."
Dan percakapan mereka mengalir—tidak sekadar berbagi kisah, melainkan membuka lapis-lapis eksistensi yang selama ini tersembunyi.
Mereka berbicara tentang ayah-ibu mereka. Ahmad Siddiq, ayah Naziel, dengan matematikanya yang absolut; Mariani, ibunya yang penuh empati. Reza Permana, ayah Alinea, dengan kanvas-kanvasnya yang penuh warna; Siti Aisyah, ibunya yang membawa gerak tari sebagai bahasa tubuh.
"Kita adalah produk dari kisah mereka," kata Naziel suatu hari. "Bukan sekadar keturunan, melainkan penerus narasi yang tak pernah selesai."
Alinea mengangguk. Ia teringat perkataan ibunya tentang seni—bahwa setiap momen adalah komposisi yang menunggu untuk disusun. Dan di sini, di ruang tunggu ini, mereka sedang menyusun sebuah komposisi yang tak terduga.
Mereka berbicara tentang pernikahan mereka—bukan dengan kepahitan, melainkan dengan kesadaran mendalam.
Laila, istri Naziel, seorang manajer marketing yang hidupnya terbagi dalam rapat dan presentasi. Setiap email adalah sebuah pertempuran, setiap target adalah mitos keberhasilan yang ia kejar. Naziel menceritakannya bukan dengan kemarahan, melainkan pemahaman—bahwa setiap manusia memiliki caranya sendiri untuk melarikan diri dari ketidakberdayaan.
Dani, suami Alinea, seorang arsitek yang lebih dekat dengan blueprint-nya daripada istrinya. Setiap garis yang ia tarik adalah upaya untuk membentukdunia, untuk menciptakan ketertiban di tengah ketidakpastian. Alinea menceritakannya dengan kelembutan—bahwa cinta kadang datang dalam bentuk yang tak terduga, bahkan dalam keheningan.
"Kita tidak gagal," kata Naziel pada hari kelima pertemuan mereka. "Kita hanya salah memahami konsep keberhasilan."
Alinea tersenyum. Dia mulai menceritakan tentang musik eksperimental Jepang, tentang band-band yang menciptakan melodi di luar batas konvensional.
"Kau pernah mendengar Fishmans?" tanya Alinea tiba-tiba.
Naziel menggeleng. "Tidak. Ceritakan."
Sambil tersenyum, Alinea mulai menjelaskan tentang band indie Jepang tersebut, tentang musik mereka yang seperti mimpi, mengambang di antara realitas dan khayalan. Dia menjelaskan dengan antusias, seolah berbicara tentang rahasia tersembunyi di balik melodi.
Hari demi hari berlalu. Mereka bertemu di ruang tunggu yang sama, berbicara tentang segalanya.
"Kami sudah menikah enam tahun," kata Alinea sambil memainkan ujung lengan bajunya. "Tapi terasa seperti dua orang asing yang tinggal di bawah atap yang sama."
Naziel mendengarkan. Pengalamannya serupa.
"Istriku," ujarnya pelan, "lebih sibuk dengan kariernya daripada denganku. Kami bahkan lupa kapan terakhir kali berbicara sungguh-sungguh."
Mereka mulai membongkar kompleksitas hubungan masing-masing. Alinea menceritakan suaminya yang selalu pulang larut, fokus pada proyek tanpa akhir. Naziel berbagi tentang istrinya yang selalu sibuk dengan gawai dan drama koreanya.
"Kita kehilangan sesuatu," bisik Alinea. "Sesuatu yang tak bisa kita definisikan."
Alinea tersenyum. Ia mengambil kamera digitalnya—benda yang dulu adalah mimpi, kini sekadar alat dokumentasi kehidupan yang membosankan—dan memotret Naziel. Bukan secara harfiah, melainkan dengan pandangan yang menembus ke langit-langit ruangan.
Mereka berbicara tentang mimpi-mimpi yang terkubur. Naziel yang ingin benar-benar menyembuhkan, bukan sekadar menangani gejala. Alinea yang ingin menjelajah, mendokumentasikan kisah-kisah tersembunyi dari sudut dunia yang tak tersentuh.
"Mimpi tidak pernah mati," kata Alinea. "Mimpi hanya tertidur, menunggu momen untuk terbangun."
Di hari ketujuh, sesuatu terasa berbeda. Cahaya di ruang tunggu berubah—sedikit kabur, sedikit tidak nyata. Naziel dan Alinea saling pandang, dan untuk pertama kalinya, mereka menyadari sesuatu yang aneh.
Cahaya di sekelilingnya bergetar, membentuk pola-pola yang tak dapat dipahami oleh logika biasa. Mereka melihat diri mereka sendiri—namun sekaligus tidak.
"Kita... siapa sebenarnya?" bisik Alinea.
Naziel tidak menjawab. Hanya memandang tangannya yang tampak transparan, bergetar. Seolah mereka adalah benang-benang kesadaran yang terjalin, namun tak dapat digenggam.
Ketika mereka terbangun di dunia nyata—Naziel di ranjang rumah sakit dan Alinea di ruangan yang berbeda—keduanya samar dan asing. Seolah mimpi tujuh hari itu hanyalah bayangan, sebuah pertemuan yang tak pernah terjadi.
Tapi mereka tahu—sesuatu telah berubah.
Mereka baru saja menyadari bahwa selama ini, mereka hanyalah dua roh yang saling berbicara di ruang tunggu antara kehidupan dan kematian. Dua kesadaran yang bertemu di titik di mana batas antara nyata dan mimpi menjadi sangat tipis.
Dan dalam keheningan itu, tercipta sebuah kisah yang tak dapat dipahami, namun terasa begitu nyata.
.
tiokyapcing memberi reputasi
1