Kaskus

News

nadaramadhan20Avatar border
TS
nadaramadhan20
Gencatan senjata AS-Houthi, akankah jamin perdamaian di Laut Merah?
Akankah gencatan senjata AS-Houthi jamin perdamaian di Laut Merah?

Gencatan senjata AS-Houthi, akankah jamin perdamaian di Laut Merah?
Bandara Internasional Sanaa yang rusak terlihat setelah serangan udara di Sanaa, Yaman, pada 7 Mei 2025. ANTARA/Xinhua

Amerika Serikat (AS) mengakhiri aksi pengebomannya yang sudah berlangsung selama hampir dua bulan terhadap Houthi Yaman usai mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan kelompok itu pada Selasa (6/5), menandai perubahan dinamika regional di sepanjang koridor Laut Merah yang strategis.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan penghentian serangan secara segera menyusul tercapainya kesepakatan gencatan senjata itu. Trump mengatakan kelompok tersebut tidak ingin berperang lagi.

Perkembangan ini terjadi usai pasukan AS melakukan sejumlah operasi militer terhadap sekitar 800 target di Yaman, yang menyebabkan jatuhnya ratusan korban Houthi sejak Maret, demikian menurut data Komando Sentral AS.

Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr bin Hamad bin Hamood Albusaidi mengonfirmasi peran mediasi Oman dalam memfasilitasi gencatan senjata tersebut.

"Di masa mendatang, kedua pihak tidak akan menyerang satu sama lain, termasuk kapal Amerika, di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab, sehingga memastikan kebebasan navigasi dan kelancaran arus pelayaran komersial internasional," ujar sang menteri dalam pernyataan yang mengumumkan kesepakatan AS-Houthi itu pada Selasa.

Sementara Oman mengatakan bahwa perjanjian itu akan memfasilitasi penyelesaian isu-isu regional yang lebih luas, Houthi memberikan interpretasi yang berbeda

Abdul Malik Al-Ajri, seorang pejabat senior Houthi, menekankan bahwa perjanjian dengan AS tersebut hanya bersifat bilateral dan tidak ada hubungannya dengan musuh yaitu Israel atau pun dukungan terhadap Gaza.

Dalam sebuah unggahan di platform media sosial X, Mohammed Ali al-Houthi, ketua Komite Revolusi Houthi, menuturkan bahwa operasi kelompok itu masih dan tetap mendukung Gaza untuk menghentikan agresi Israel dan memungkinkan aliran bantuan masuk ke Gaza. Pernyataan ini menunjukkan gencatan senjata dengan AS tidak mencakup penghentian serangan kelompok tersebut terhadap Israel.

Sementara itu, Ketua Dewan Politik Tertinggi Houthi Mahdi al-Mashat mengatakan dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dilansir oleh al-Masirah TV, bahwa tidak akan ada kata mundur dalam mendukung Gaza, apa pun risikonya. Apa yang terjadi membuktikan bahwa serangan kami menyakitkan dan akan terus berlanjut.

Mohammed Abdul-Salam, juru bicara kelompok Houthi Yaman sekaligus kepala delegasi perundingan nasional Yaman, menyampaikan bahwa operasi-operasi Houthi dalam mendukung rakyat Palestina di Gaza akan berlanjut.

Dalam sebuah sesi wawancara dengan al-Masirah TV pada Rabu (7/5), Abdul-Salam menyatakan sikap Houthi saat ini diambil sebagai tanggapan atas permintaan AS, dan kelompok Houthi belum mengajukan permintaan apa pun kepada AS.

Kalangan analis Yaman mengindikasikan bahwa Houthi dan AS dapat melihat adanya manfaat strategis apabila ketegangan mereda.

Menurut Ali bin Hadi, seorang pensiunan pakar militer yang berbasis di Aden, gencatan senjata itu berpotensi mengubah sikap Houthi di dunia internasional.

"Perjanjian itu mengubah kelompok tersebut dari ranah 'milisi pemberontak yang terisolasi', yang tidak diakui secara internasional dan ditetapkan sebagai kelompok teroris oleh AS, menjadi kelompok yang mampu bernegosiasi dengan negara-negara adidaya," ujar bin Hadi kepada Xinhua.

Kendati demikian, kalangan analis Yaman masih berbeda pendapat terkait berapa lama kesepakatan gencatan senjata itu akan bertahan. Muqbel Naji, seorang analis politik yang berbasis di Aden, menggambarkan kesepakatan itu bersifat sementara. Dia mengatakan berhentinya Houthi menargetkan kapal-kapal AS disebabkan oleh kerusakan ekstensif pada kemampuan militer kelompok tersebut dan menunjukkan upaya mereka untuk memulihkan semangat tempur.

Bin Hadi meyakini perjanjian itu terutama dirancang agar bertahan lama, bukan untuk periode yang singkat, khususnya mengingat kesepakatan itu difasilitasi dan dijamin oleh Oman. Dia menggambarkan kesepakatan itu bersifat seri, sembari menyatakan,

"Tidak ada pihak yang menang, baik Amerika maupun Houthi."

Sumber: Antaranews

Quote:


Wah Trump salam-salaman dengan Houthi tanpa sepengetahuan Netanyahu enih, ada apakah gerangan?emoticon-Big Grin
0
476
13
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita Luar Negeri
Berita Luar Negeri
KASKUS Official
82KThread20.4KAnggota
Tampilkan semua post
TheTickAvatar border
TheTick
#3
Mmmm.... let's see. Well in my stupid mind:
1. Houthi's truce will soften Iran and Russia.
2. If Russia pampered, then Ukraine can be discussed.
3. If Russia pampered, then India will take a breather.
4. Bibi will be boiled up, but Israel had enough of war.
5. If Bibi uppen tempo, he will be alone. And gaza will be up for grab.
6. To refrain China enter Yemen again, so Yemen must be soften.
7. Yemen is needed by US, to control Red Sea energy traffic and checking on Chinese port at Mossawa (Eritrea).
8. US (camp Lemonnier) needs to shake Djibouti, from Chinese PLAN Djibouti base at Doraleh.
9. US will ghosting Pakistan and side-closer to India.

Houthi, is needed by US as a black horse.
Hence, Jinping visited Russia. Because Russia in support of India and China support Pakis to battle India.
For India can not be no.2 Economically and militarily in Chinese point of view.

Kok jadi banyak PR ya? emoticon-Smilie
Any thoughts?
Diubah oleh TheTick 12-05-2025 23:05
0
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.