- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
kelinci.tosca dan 149 lainnya memberi reputasi
150
218.1K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#933
006-H You Forgot, But I Remember for Two
Spoiler for 006-H You Forgot, But I Remember for Two:
Gua merebahkan kepala di bahunya, lalu bicara; “Apa rasanya mengoperasi aku?”
“Tersiksa…”Jawabnya singkat.
“Tersiksa?” Tanya gua seraya mengangkat kepala dan menatapnya. Lian menatap ke arah lautan lepas, sementara senyum kecil tersungging di bibirnya.
“Iya…” Jawabnya lirih, “Siapa yang bisa bertahan melihat orang yang disayanginya kejang-kejang dan kehilangan kesadaran setiap beberapa menit sekali?” Tambahnya.
Ia lalu berpaling, kini menatap telapak tangannya yang terbuka, “Bukan hal yang gampang untuk bertahan; memberi sayatan di kulit kepalamu dan menggunakan bor untuk melubanginya…”
Seketika gua merasakan ngilu di bagian kepala bagian belakang. Dengan ujung jari, gua meraba bekas luka yang kini semakin sulit dirasakan. “Di bor?” Seru gua sambil bergidik.
Lian menatap gua, mengangguk lalu tersenyum; “Iya…”
Gua dengan cepat memukul bahunya beberapa kali. Walaupun hanya sebuah prosedur operasi, tapi mengebor tengkorak kepala kekasihnya sendiri rasa-rasanya masih terdengar nggak lumrah di telinga gua. Atau mungkin di telinga orang-orang normal lainnya.
“Bukan bor yang kayak biasa dipake sama tukang buat bangun rumah.. Bor khusus buat tengkorak...” Lian menambahkan.
“Tetep aja…” Gua berhenti bicara. Awalnya gua mau bilang ‘Kok tega?’, tapi nggak sanggup gua lanjutkan. Apalagi saat melihat tatapannya ke arah gua, tatapan sendu yang menggambarkan betapa ia begitu menderita.
Gua terus menatapnya, mencoba memposisikan diri sebagai dia. Sebagai orang yang harus 'tega' membelah dan mengebor kepala kekasihnya sendiri. Dan sekarang, di bawah langit biru yang bersih, dengan suara mesin feri yang meraung, gua menyadari satu hal: rasa cinta itu bisa menjelma dalam bentuk pengorbanan yang terdalam, sesakit apapun itu.
“Itulah yang bikin aku lebih tersiksa?” Gumamnya pelan. “Aku harus menyingkirkan rasa takutku, menyingkirkan emosiku, dan tetap menjalankan prosedur. Karena kalau aku goyah, nyawa kamu bisa jadi taruhannya...” Ia menambahkan, menjawab pertanyaannya sendiri.
Sementara Lian berdiri, beranjak dari kursi dan sedikit menjauh. Gua hanya terus menatapnya, memandangi gerak-geriknya, memperhatikan setiap hal kecil yang dilakukan. Caranya menyulut rokok, caranya menyandarkan tubuh, caranya berdiri dan memandang lautan lepas.
Gua berdiri dan menyusulnya ke dek kapal, berdiri, berpegangan pada besi reiling pengaman dan menatapnya. Gua meraih tangan dan menggenggamnya, kini jauh lebih erat, mencoba meresapi luka yang nggak terlihat itu. Mencoba merasakan ada sesuatu yang hilang darinya.
“Kamu tau Fir…” Ucapnya lirih seraya menatap kosong ke luasnya lautan.
“…”
“…Ada bagian dari kamu yang dulu sangat mencintaiku. Bagian yang kini lenyap begitu saja. Bukan karena waktu, bukan karena perpisahan. Tapi karena aku sendiri yang ‘membuangnya’…” Ia menambahkan.
“…” Walau bingung, tapi gua nggak berusaha menyela, hanya tetap diam.
“… Fokus epilepsi kamu ada di tempat yang namanya Lobus temporal medial kiri. Tempat ingatan emosional jangka pendek disimpan. Tempat semua momen tentang aku dan kamu, tentang kita, kemungkinan besar berada...” Kalimatnya terhenti sebentar. Sementara, ia masih terus menatap ke arah lautan luas.
“Cuma aku diantara semua orang yang ada di ruangan itu yang tau, kalau bagian itu diambil kamu bakal kehilanagn ingatan tentang kita. Sementara mereka hanya tau kalau nggak diangkat, kamu bakal terus kejang. Dan setiap kejang, kamu kehilangan sebagian lagi dari dirimu sendiri…” Ucapnya.
Gua mengerutkan kening. Sementara kedua mata mulai berkaca-kaca. Tapi gua mencoba bertahan, tetap diam. Mendengarkan.
“Waktu itu aku harus milih. Nyelametin kamu… atau nyelametin kenangan kita…” Ujarnya sambil mengusap wajahnya.
“Dan kamu milih aku” Gua menebak
Ia terdiam. Sunyi. Hanya suara mesin kapal yang terus berdengung. Sementara detak jantung ini malah terdengar lantang. Selama ini gua merasa kalau hidupnya sudah merana karena kondisi yang nggak bisa membaca dan menunjukkan emosi. Hal yang seharusnya bisa menghilang setelah bertemu dan menjalin hubungan dengan gua.
Selama ini kiranya hanya gua yang merana karena kehilangan ingatan. Nggak ada sedikitpun gua memikirkan dirinya. Memikirkan betapa berat pilihan yang dihadapi.
“Jadi… bukan ingatan ‘kita’ yang kamu lindungi?” Bisik gua, pelan.
Lian menggelengkan kepala; “Bukan...”
“Kenapa?”
“Kenangan bisa hilang. Tapi kamu… cuma satu…”
“Walau itu artinya aku nggak bakal mengingatmu lagi?”
“Iya…”
Gua menarik napas panjang. Air mata mulai jatuh satu persatu lalu hilang ditelan angin laut yang kencang. Kemudian memeluknya, erat.
Dan saat itulah gua tersadar: mungkin, walaupun kenangannya tentang gua telah hilang, tapi entah bagaimana, masih terasa menyimpan sesuatu.
Gua melepas pelukan, kemudian mendongak dan menatap ke arahnya, Ke wajahnya yang terasa hangat di tengah dinginnya samudra atlantik.
—
Nggak lama berselang, Feri yang membawa kami tiba di dermaga kecil nan tenang. Lian menggandeng tangan gua dan menggenggamnya erat, mengajak gua menuruni tangga kecil menuju ke tepian dermaga berbatu.
Angin laut yang dingin dan menggigit menerpa wajah, bikin gua sedikit bergidik lalu mulai menaikkan hoodie jaket yang gua pakai. Sementara, Lian membiarkan rambutnya yang sebelumnya tertata rapi kini acak-acakan akibat angin yang terus menerjangnya sejak di Feri tadi.
“Tunggu sebentar ya…” Ucapnya lalu pergi ke arah bangunan besar dengan dinding kayu berwarna merah. Lalu, kembali nggak lama setelahnya. Kini sambil menenteng beberapa ekor ikan yang masih sesekali menggeliat.
“Ikan? Buat?”
“Makan…” Jawabnya singkat. Kemudian kembali meraih tangan gua dan menggenggamnya; “Jalan sedikit gapapa kan?” Tanyanya ke gua.
“Gapapa…” Gua mengangguk sambil tersenyum.
Jangankan sedikit, jalan kaki keliling dunia pun akan gua lakukan asal bersama dirinya.
Beberapa menit berselang.
Rasa pegal dan nyeri mulai terasa di kedua tumit. Gua melambatkan langkah dan melepas genggaman tangannya. Lalu membungkuk, dengan kedua tangan berada di lutut; menopang tubuh yang kelelahan.
“Katanya cuma jalan sedikit! Ini mah jauuuuh…” seru gua, protes.
Lian menoleh dan tersenyum kecil. Ia yang sudah beberapa langkah di depan lalu kembali dan menyodorkan sebotol air mineral ke arah gua.
“Sedikit lagi kok…” ucapnya.
Gua meraih botol air mineral dan menenggaknya sampai nyaris nggak tersisa.
“10 menit yang lalu, kamu juga bilang gitu…” balas gua seraya menatapnya.
“Mau digendong?”
“Nggak…” Balas gua lantas melanjutkan berjalan.
Sesaat gua tertegun, baru menyadari betapa indahnya pemandangan di sekitar. Karena gua terlalu sibuk dengan rasa lelah. Gua mendongak, menatap langit sore mulai berubah warna. Angin semakin dingin, menampar pipi dengan lembut tapi menusuk. Suara camar terdengar jauh di langit.
Kami terus melangkah, menyusuri jalan setapak dengan tumbuhan perdu di sisi sebelah kiri. Sementara, tebing landai berada di sebelah kanan dengan pemandangan laut lepas berada di kejauhan.
Jauh di belakang, dermaga tempat feri bersandar terlihat semakin lama semakin kecil, lalu menghilang. Siapa yang sangka, gua sanggup berjalan sejauh ini.
Jika di Jakarta, di tempat yang panas dan gerah, gua mungkin nggak bakal mampu melanjutkan perjalanan. Di sini, hembusan angin dan suhu yang dingin bikin keringat serasa berhenti.
Beberapa menit berselang, sebuah pemandangan indah menyambut kami. Di hadapan gua, fjord membentang seperti pelukan besar dari bumi untuk langit. Tenang dan misterius.
“Tuh dikit lagi kan…” Ucap Lian sambil menunjuk ke arah deretan bangunan kecil di dasar Fjord.
“Kita ke sana?” Tanya gua.
“Iya…”
Rasa lelah seakan terbayar tuntas dengan pemandangan indah yang gua dapati di sini. Berkali-kali gua mengambil swafoto dengan fjord dan gletser menjadi latarnya.
Lian membawa gua ke sebuah kabin dengan dinding kayu bercat merah yang nampak sederhana. Begitu pula dengan bagian dalamnya yang nggak kalah sederhana. Gua melangkah pelan, masuk ke dalam ruangan seraya menatap sekeliling. Aroma kayu tua begitu terasa sementara hembusan angin dingin masih sedikit terasa. Terlihat sebuah ranjang dengan meja kecil di sisinya. Tepat di seberang ranjang terdapat tungku besi tua yang punya pipa menjulang, menembus atap. Di ujung ruangan, ada dapur kecil lengkap dengan aneka peralatan memasak, sink dan sebuah pintu kayu yang sepertinya mengarah ke kamar mandi.
Lian membawa koper masuk, beralih ke arah dapur dan meletakkan ikan-ikan yang tadi dibelinya di atas sink. Kemudian keluar dan kembali masuk sambil membawa beberapa potongan balok kayu kecil dalam pelukannya. Potongan kayu yang dengan hati-hati dimasukkan ke dalam tungku besi tua di seberang ranjang.
Setelah beberapa kali percobaan, ia akhirnya berhasil menyulut api di dalam tungku. Membiarkannya menyala sebentar kemudian menutup pintu kecilnya.
Sementara gua hanya duduk di atas ranjang sambil menatapnya melakukan itu semua.
“Udah anget belum?” Tanyanya seraya menoleh ke arah gua, “Sini deketan sini, biar anget…” ajaknya. Lalu meraih kursi kayu dan meletakkannya tepat di depan tungku.
Gua menahan napas. Seketika, ruangan kayu ini terasa lebih hangat. Nggak cuma karena bias besi panas pada tungku., tapi karena kehadirannya. Karena keberanian dan ketulusan yang terpancar dari dirinya. Gua terus menggeser kursi mendekat, kemudian melepas sarung tangan dan menggosok kedua telapak. Sementara, Lian beralih ke sink di dapur, ia membersihkan ikan dan membawanya ke depan; meletakkannya di atas tungku, tanpa wajan atau panci.
Lalu duduk di lantai kayu di sebelah gua.
“Udah anget?” Tanyanya lagi.
Gua mengangguk sambil tersenyum: “Udah”
“Yah nggak perlu pelukan dong?”
Masih sambil tersenyum, gua lantas memberikan pelukan kepadanya.
Langit mulai gelap. Kami berdua duduk kursi kayu panjang di beranda kabin, dibawah selimut yang sama, sama-sama menggenggam gelas kaleng berisi kopi pahit yang panas. Sama-sama menatap ke arah yang sama, ke arah ombak yang pecah perlahan di atas batu-batu hitam. Ke arah tepian teluk dengan deretan bangunan-bangunan kecil yang berkelap-kelip, indah.
Di depan kami, terhidang ikan panggang di atas piring kaleng. Ikan panggang yang sedikit hangus di beberapa permukaan. Sesekali, Lian mencuil potongan daging ikan dan menyodorkannya ke gua. Sesekali, juga menggeser tubuhnya terus mendekat lalu memberikan pelukan.
Langit semakin gelap saat perlahan-lahan berubah dengan munculnya garis-garis halus berwarna hijau keunguan.
Aurora.
Gua berdiri, sambil mendongak dan tangan berpegangan pada selasar beranda. Mata gua terus menatap, nggak bisa lepas dari langit. untuk pertama kalinya dalam hidup, gua melihat langsung liukan lembut lembaran hijau dan ungu yang seakan tengah menari, seolah menyapa malam dengan gerakannya yang anggun.
Lian ikut berdiri, menyelimuti tubuh ini dengan selimut dan peluknya. Gua menoleh ke arahnya, rambutnya yang sedikit berantakan oleh angin malam terlihat lembut di bawah cahaya samar dari lampu kabin. Seakan nggak tertarik dengan pandangan di langit, ia malah menatap gua. Kami begitu dekat, saking dekatnya gua bahkan bisa mendengar napasnya yang pelan.
Masih dalam pelukannya gua menunjuk ke atas, ke arah aurora yang menari; “Wah…”
“Kamu pernah liat ini sebelumnya?” Tanya gua ke Lian.
“Pernah…” Jawabnya.
“Pantesan udah nggak kagum lagi” Balas gua.
“Kagum? Buat apa aku mengaggumi sesuatu padahal ada yang jauh lebih indah dari itu” Responnya sambil menunjuk ke langit.
Gua mendongak, mengalihkan pandangan dari Aurora ke wajahnya. “Apa? Emang apa yang bisa lebih indah dari ini?”
Lian terdiam, lalu tersenyum. Dengan jarinya, ia menyentuh ujung hidung gua dan berbisik pelan; “Kamu…”
Gua tertegun.
Di sini, di atas beranda dari kabin yang sederhana, di sebuah pulai kecil di negara antah berantah. Gua jatuh cinta lagi kepadanya.
Auroa sudah lagi nggak gua pedulikan. Dengan susah payah, gua berjinjit, meraih bagian kepalanya agar ia bisa sedikit membungkuk, lalu mencium bibirnya.
—
Pagi itu gua bangun, sementara lantai di sisi ranjang sudah nggak lagi ada alas sleeping bag tempat Lian seharusnya berada. Gua menyibak, selimut namun gua urungkan saat udara dingin terasa menusuk kaki. “Brrr…”
Masih sambil berselimut, gua berkeliling seraya memanggil namanya. Namun, nggak ada jawaban. Gua buru-buru meraih jaket, memakai sepatu dan keluar dari kabin. Di luar, kabut tipis menyelimuti fjord. Udara pagi tajam dan segar menyambut, bikin gua dengan cepat masuk kembali ke dalam dan menutup pintu.
Gua menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya, lalu bersiap menghadapi suhu dingin yang nggak masuk akal. Gua kembali membuka pintu, dan kali ini mencoba bertahan lalu berteriak memanggil namanya.
Samar terdengar balasan Lian; “Disini Fir…”
Beberapa kali gua menoleh, mencari asal suara. Lalu berjalan menuruni beranda, memutari kabin dan mendapati Lian tengah berdiri di ujung bukit di belakang kabin. Ia melambaikan tangannya yang menggenggam alat semacam palu kecil.
“Ngapain??” Seru gua.
“Sini…” Balasnya.
Gua berlari, mencoba membakar kalori sekalian menghangatkan tubuh menuju ke arahnya.
Terlihat, sebuah alas kayu mirip panggung mini, terdiri dari beberapa lembar papan yang di jadikan satu, di atas sebuah lahan kecil, sepertinya sengaja di tempat yang nggak miring. Dari bentuk dan rupanya, terlihat kalau panggung kecil ini sudah berada di sana cukup lama. Namun, sepertinya Lian baru saja selesai memperbaiki beberapa bagian papan yang paku-nya terlepas.
“Ngapain?” Tanya gua seraya terus membetulkan posisi selimut yang menutupi tubuh.
“Benerin ini…” Jawabnya.
“Ini apaan sih? terus buat apa?” Tanya gua lagi penasaran. Lalu duduk di atas panggung dari lembaran papan.
Lian ikut duduk di sebelah gua, matanya menatap teluk yang jauh di sana; “Nggak tau, tadi pas aku ke sini udah ada. Kayaknya mau dibikin semacam pergola untuk duduk sambil memandangi laut…”
Ia lalu berdiri dan mundur beberapa langkah. Sebelah matanya ia pejamkan layaknya tengah mengukur sesuatu. Sementara, kedua tangannya membentuk posisi seperti frame.
Lian mengeluarkan ponsel, dan menatap gua sambil tersenyum penuh misteri. “Kalau ditantang untuk nge-dance. Lagu apa yang paling kamu kuasai?” Tanyanya.
Gua mengernyitkan dahi saat melihat sikapnya barusan. “Hah?”
“Lagu apa?” Tanyanya dengan tangannya bersiap mengetik di layar ponsel.
“Mmmm… BoA, Only one…” Gua menjawab, walau masih belum paham dengan maksudnya.
Lian mengetik dengan cepat, lalu meletakkan ponselnya di atas permukaan lantai dari lembaran papan kayu yang mitip panggung. Ia mendekat ke gua, mengambil selimut yang sejak tadi menyelubungi tubuh.
“Ih, Dingin…” Seru gua, mencoba menahannya. Namun, tentu saja gagal. Ia melipat selimut dan menggulungnya, mendekapnya dalam pelukan lalu mundur beberapa langkah, membiarkan gua berdiri di tengah lembaran papan yang mirip panggung. Tanpa meraih ponsel, ia mengetap layarnya.
Nggak lama muncul intro lagu yang tadi gua sebutkan kepadanya; Only One-nya BoA.
‘Aduh nggak tahan anjir, pengen joget’ batin gua. Lalu mulai meregangkan tubuh perlahan, kemudian menambah gerakan hingga akhirnya selaras dengan irama lagu BoA yang upbeat. Gua seperti terhipnotis, tubuh mulai bergerak lincah; menari.
Sementara, di sana Lian hanya berdiri dan terus menatap gua sambil terus tersenyum.
Gua menyelesaikan tarian seiring dengan lagu yang berhenti mengalun. Lian bertepuk tangan penuh semangat, lalu mendekat ke gua, kembali menyelubungi tubuh ini dengan selimut yang tadi sempat diambilnya. Lalu memberikan pelukan. Gua mendongak dan menatapnya; “Terima kasih ya, Mas…”
“Untuk apa?” Tanyanya.
“Untuk mau menyelamatkan hidupku…” Jawab gua, merujuk ke percakapan kami di atas kapal feri kemarin.
“Hahahaha… Sama-sama…”
“Makasih juga lho udah menghilangkan ingatan ku tentang kamu…” Gua bicara lagi, bercanda.
“Hahahaha.. No worries, You may forgot. But i remember for two…”
—
“Tersiksa…”Jawabnya singkat.
“Tersiksa?” Tanya gua seraya mengangkat kepala dan menatapnya. Lian menatap ke arah lautan lepas, sementara senyum kecil tersungging di bibirnya.
“Iya…” Jawabnya lirih, “Siapa yang bisa bertahan melihat orang yang disayanginya kejang-kejang dan kehilangan kesadaran setiap beberapa menit sekali?” Tambahnya.
Ia lalu berpaling, kini menatap telapak tangannya yang terbuka, “Bukan hal yang gampang untuk bertahan; memberi sayatan di kulit kepalamu dan menggunakan bor untuk melubanginya…”
Seketika gua merasakan ngilu di bagian kepala bagian belakang. Dengan ujung jari, gua meraba bekas luka yang kini semakin sulit dirasakan. “Di bor?” Seru gua sambil bergidik.
Lian menatap gua, mengangguk lalu tersenyum; “Iya…”
Gua dengan cepat memukul bahunya beberapa kali. Walaupun hanya sebuah prosedur operasi, tapi mengebor tengkorak kepala kekasihnya sendiri rasa-rasanya masih terdengar nggak lumrah di telinga gua. Atau mungkin di telinga orang-orang normal lainnya.
“Bukan bor yang kayak biasa dipake sama tukang buat bangun rumah.. Bor khusus buat tengkorak...” Lian menambahkan.
“Tetep aja…” Gua berhenti bicara. Awalnya gua mau bilang ‘Kok tega?’, tapi nggak sanggup gua lanjutkan. Apalagi saat melihat tatapannya ke arah gua, tatapan sendu yang menggambarkan betapa ia begitu menderita.
Gua terus menatapnya, mencoba memposisikan diri sebagai dia. Sebagai orang yang harus 'tega' membelah dan mengebor kepala kekasihnya sendiri. Dan sekarang, di bawah langit biru yang bersih, dengan suara mesin feri yang meraung, gua menyadari satu hal: rasa cinta itu bisa menjelma dalam bentuk pengorbanan yang terdalam, sesakit apapun itu.
“Itulah yang bikin aku lebih tersiksa?” Gumamnya pelan. “Aku harus menyingkirkan rasa takutku, menyingkirkan emosiku, dan tetap menjalankan prosedur. Karena kalau aku goyah, nyawa kamu bisa jadi taruhannya...” Ia menambahkan, menjawab pertanyaannya sendiri.
Sementara Lian berdiri, beranjak dari kursi dan sedikit menjauh. Gua hanya terus menatapnya, memandangi gerak-geriknya, memperhatikan setiap hal kecil yang dilakukan. Caranya menyulut rokok, caranya menyandarkan tubuh, caranya berdiri dan memandang lautan lepas.
Gua berdiri dan menyusulnya ke dek kapal, berdiri, berpegangan pada besi reiling pengaman dan menatapnya. Gua meraih tangan dan menggenggamnya, kini jauh lebih erat, mencoba meresapi luka yang nggak terlihat itu. Mencoba merasakan ada sesuatu yang hilang darinya.
“Kamu tau Fir…” Ucapnya lirih seraya menatap kosong ke luasnya lautan.
“…”
“…Ada bagian dari kamu yang dulu sangat mencintaiku. Bagian yang kini lenyap begitu saja. Bukan karena waktu, bukan karena perpisahan. Tapi karena aku sendiri yang ‘membuangnya’…” Ia menambahkan.
“…” Walau bingung, tapi gua nggak berusaha menyela, hanya tetap diam.
“… Fokus epilepsi kamu ada di tempat yang namanya Lobus temporal medial kiri. Tempat ingatan emosional jangka pendek disimpan. Tempat semua momen tentang aku dan kamu, tentang kita, kemungkinan besar berada...” Kalimatnya terhenti sebentar. Sementara, ia masih terus menatap ke arah lautan luas.
“Cuma aku diantara semua orang yang ada di ruangan itu yang tau, kalau bagian itu diambil kamu bakal kehilanagn ingatan tentang kita. Sementara mereka hanya tau kalau nggak diangkat, kamu bakal terus kejang. Dan setiap kejang, kamu kehilangan sebagian lagi dari dirimu sendiri…” Ucapnya.
Gua mengerutkan kening. Sementara kedua mata mulai berkaca-kaca. Tapi gua mencoba bertahan, tetap diam. Mendengarkan.
“Waktu itu aku harus milih. Nyelametin kamu… atau nyelametin kenangan kita…” Ujarnya sambil mengusap wajahnya.
“Dan kamu milih aku” Gua menebak
Ia terdiam. Sunyi. Hanya suara mesin kapal yang terus berdengung. Sementara detak jantung ini malah terdengar lantang. Selama ini gua merasa kalau hidupnya sudah merana karena kondisi yang nggak bisa membaca dan menunjukkan emosi. Hal yang seharusnya bisa menghilang setelah bertemu dan menjalin hubungan dengan gua.
Selama ini kiranya hanya gua yang merana karena kehilangan ingatan. Nggak ada sedikitpun gua memikirkan dirinya. Memikirkan betapa berat pilihan yang dihadapi.
“Jadi… bukan ingatan ‘kita’ yang kamu lindungi?” Bisik gua, pelan.
Lian menggelengkan kepala; “Bukan...”
“Kenapa?”
“Kenangan bisa hilang. Tapi kamu… cuma satu…”
“Walau itu artinya aku nggak bakal mengingatmu lagi?”
“Iya…”
Gua menarik napas panjang. Air mata mulai jatuh satu persatu lalu hilang ditelan angin laut yang kencang. Kemudian memeluknya, erat.
Dan saat itulah gua tersadar: mungkin, walaupun kenangannya tentang gua telah hilang, tapi entah bagaimana, masih terasa menyimpan sesuatu.
Gua melepas pelukan, kemudian mendongak dan menatap ke arahnya, Ke wajahnya yang terasa hangat di tengah dinginnya samudra atlantik.
—
Nggak lama berselang, Feri yang membawa kami tiba di dermaga kecil nan tenang. Lian menggandeng tangan gua dan menggenggamnya erat, mengajak gua menuruni tangga kecil menuju ke tepian dermaga berbatu.
Angin laut yang dingin dan menggigit menerpa wajah, bikin gua sedikit bergidik lalu mulai menaikkan hoodie jaket yang gua pakai. Sementara, Lian membiarkan rambutnya yang sebelumnya tertata rapi kini acak-acakan akibat angin yang terus menerjangnya sejak di Feri tadi.
“Tunggu sebentar ya…” Ucapnya lalu pergi ke arah bangunan besar dengan dinding kayu berwarna merah. Lalu, kembali nggak lama setelahnya. Kini sambil menenteng beberapa ekor ikan yang masih sesekali menggeliat.
“Ikan? Buat?”
“Makan…” Jawabnya singkat. Kemudian kembali meraih tangan gua dan menggenggamnya; “Jalan sedikit gapapa kan?” Tanyanya ke gua.
“Gapapa…” Gua mengangguk sambil tersenyum.
Jangankan sedikit, jalan kaki keliling dunia pun akan gua lakukan asal bersama dirinya.
Beberapa menit berselang.
Rasa pegal dan nyeri mulai terasa di kedua tumit. Gua melambatkan langkah dan melepas genggaman tangannya. Lalu membungkuk, dengan kedua tangan berada di lutut; menopang tubuh yang kelelahan.
“Katanya cuma jalan sedikit! Ini mah jauuuuh…” seru gua, protes.
Lian menoleh dan tersenyum kecil. Ia yang sudah beberapa langkah di depan lalu kembali dan menyodorkan sebotol air mineral ke arah gua.
“Sedikit lagi kok…” ucapnya.
Gua meraih botol air mineral dan menenggaknya sampai nyaris nggak tersisa.
“10 menit yang lalu, kamu juga bilang gitu…” balas gua seraya menatapnya.
“Mau digendong?”
“Nggak…” Balas gua lantas melanjutkan berjalan.
Sesaat gua tertegun, baru menyadari betapa indahnya pemandangan di sekitar. Karena gua terlalu sibuk dengan rasa lelah. Gua mendongak, menatap langit sore mulai berubah warna. Angin semakin dingin, menampar pipi dengan lembut tapi menusuk. Suara camar terdengar jauh di langit.
Kami terus melangkah, menyusuri jalan setapak dengan tumbuhan perdu di sisi sebelah kiri. Sementara, tebing landai berada di sebelah kanan dengan pemandangan laut lepas berada di kejauhan.
Jauh di belakang, dermaga tempat feri bersandar terlihat semakin lama semakin kecil, lalu menghilang. Siapa yang sangka, gua sanggup berjalan sejauh ini.
Jika di Jakarta, di tempat yang panas dan gerah, gua mungkin nggak bakal mampu melanjutkan perjalanan. Di sini, hembusan angin dan suhu yang dingin bikin keringat serasa berhenti.
Beberapa menit berselang, sebuah pemandangan indah menyambut kami. Di hadapan gua, fjord membentang seperti pelukan besar dari bumi untuk langit. Tenang dan misterius.
“Tuh dikit lagi kan…” Ucap Lian sambil menunjuk ke arah deretan bangunan kecil di dasar Fjord.
“Kita ke sana?” Tanya gua.
“Iya…”
Rasa lelah seakan terbayar tuntas dengan pemandangan indah yang gua dapati di sini. Berkali-kali gua mengambil swafoto dengan fjord dan gletser menjadi latarnya.
Lian membawa gua ke sebuah kabin dengan dinding kayu bercat merah yang nampak sederhana. Begitu pula dengan bagian dalamnya yang nggak kalah sederhana. Gua melangkah pelan, masuk ke dalam ruangan seraya menatap sekeliling. Aroma kayu tua begitu terasa sementara hembusan angin dingin masih sedikit terasa. Terlihat sebuah ranjang dengan meja kecil di sisinya. Tepat di seberang ranjang terdapat tungku besi tua yang punya pipa menjulang, menembus atap. Di ujung ruangan, ada dapur kecil lengkap dengan aneka peralatan memasak, sink dan sebuah pintu kayu yang sepertinya mengarah ke kamar mandi.
Lian membawa koper masuk, beralih ke arah dapur dan meletakkan ikan-ikan yang tadi dibelinya di atas sink. Kemudian keluar dan kembali masuk sambil membawa beberapa potongan balok kayu kecil dalam pelukannya. Potongan kayu yang dengan hati-hati dimasukkan ke dalam tungku besi tua di seberang ranjang.
Setelah beberapa kali percobaan, ia akhirnya berhasil menyulut api di dalam tungku. Membiarkannya menyala sebentar kemudian menutup pintu kecilnya.
Sementara gua hanya duduk di atas ranjang sambil menatapnya melakukan itu semua.
“Udah anget belum?” Tanyanya seraya menoleh ke arah gua, “Sini deketan sini, biar anget…” ajaknya. Lalu meraih kursi kayu dan meletakkannya tepat di depan tungku.
Gua menahan napas. Seketika, ruangan kayu ini terasa lebih hangat. Nggak cuma karena bias besi panas pada tungku., tapi karena kehadirannya. Karena keberanian dan ketulusan yang terpancar dari dirinya. Gua terus menggeser kursi mendekat, kemudian melepas sarung tangan dan menggosok kedua telapak. Sementara, Lian beralih ke sink di dapur, ia membersihkan ikan dan membawanya ke depan; meletakkannya di atas tungku, tanpa wajan atau panci.
Lalu duduk di lantai kayu di sebelah gua.
“Udah anget?” Tanyanya lagi.
Gua mengangguk sambil tersenyum: “Udah”
“Yah nggak perlu pelukan dong?”
Masih sambil tersenyum, gua lantas memberikan pelukan kepadanya.
Langit mulai gelap. Kami berdua duduk kursi kayu panjang di beranda kabin, dibawah selimut yang sama, sama-sama menggenggam gelas kaleng berisi kopi pahit yang panas. Sama-sama menatap ke arah yang sama, ke arah ombak yang pecah perlahan di atas batu-batu hitam. Ke arah tepian teluk dengan deretan bangunan-bangunan kecil yang berkelap-kelip, indah.
Di depan kami, terhidang ikan panggang di atas piring kaleng. Ikan panggang yang sedikit hangus di beberapa permukaan. Sesekali, Lian mencuil potongan daging ikan dan menyodorkannya ke gua. Sesekali, juga menggeser tubuhnya terus mendekat lalu memberikan pelukan.
Langit semakin gelap saat perlahan-lahan berubah dengan munculnya garis-garis halus berwarna hijau keunguan.
Aurora.
Gua berdiri, sambil mendongak dan tangan berpegangan pada selasar beranda. Mata gua terus menatap, nggak bisa lepas dari langit. untuk pertama kalinya dalam hidup, gua melihat langsung liukan lembut lembaran hijau dan ungu yang seakan tengah menari, seolah menyapa malam dengan gerakannya yang anggun.
Lian ikut berdiri, menyelimuti tubuh ini dengan selimut dan peluknya. Gua menoleh ke arahnya, rambutnya yang sedikit berantakan oleh angin malam terlihat lembut di bawah cahaya samar dari lampu kabin. Seakan nggak tertarik dengan pandangan di langit, ia malah menatap gua. Kami begitu dekat, saking dekatnya gua bahkan bisa mendengar napasnya yang pelan.
Masih dalam pelukannya gua menunjuk ke atas, ke arah aurora yang menari; “Wah…”
“Kamu pernah liat ini sebelumnya?” Tanya gua ke Lian.
“Pernah…” Jawabnya.
“Pantesan udah nggak kagum lagi” Balas gua.
“Kagum? Buat apa aku mengaggumi sesuatu padahal ada yang jauh lebih indah dari itu” Responnya sambil menunjuk ke langit.
Gua mendongak, mengalihkan pandangan dari Aurora ke wajahnya. “Apa? Emang apa yang bisa lebih indah dari ini?”
Lian terdiam, lalu tersenyum. Dengan jarinya, ia menyentuh ujung hidung gua dan berbisik pelan; “Kamu…”
Gua tertegun.
Di sini, di atas beranda dari kabin yang sederhana, di sebuah pulai kecil di negara antah berantah. Gua jatuh cinta lagi kepadanya.
Auroa sudah lagi nggak gua pedulikan. Dengan susah payah, gua berjinjit, meraih bagian kepalanya agar ia bisa sedikit membungkuk, lalu mencium bibirnya.
—
Pagi itu gua bangun, sementara lantai di sisi ranjang sudah nggak lagi ada alas sleeping bag tempat Lian seharusnya berada. Gua menyibak, selimut namun gua urungkan saat udara dingin terasa menusuk kaki. “Brrr…”
Masih sambil berselimut, gua berkeliling seraya memanggil namanya. Namun, nggak ada jawaban. Gua buru-buru meraih jaket, memakai sepatu dan keluar dari kabin. Di luar, kabut tipis menyelimuti fjord. Udara pagi tajam dan segar menyambut, bikin gua dengan cepat masuk kembali ke dalam dan menutup pintu.
Gua menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya, lalu bersiap menghadapi suhu dingin yang nggak masuk akal. Gua kembali membuka pintu, dan kali ini mencoba bertahan lalu berteriak memanggil namanya.
Samar terdengar balasan Lian; “Disini Fir…”
Beberapa kali gua menoleh, mencari asal suara. Lalu berjalan menuruni beranda, memutari kabin dan mendapati Lian tengah berdiri di ujung bukit di belakang kabin. Ia melambaikan tangannya yang menggenggam alat semacam palu kecil.
“Ngapain??” Seru gua.
“Sini…” Balasnya.
Gua berlari, mencoba membakar kalori sekalian menghangatkan tubuh menuju ke arahnya.
Terlihat, sebuah alas kayu mirip panggung mini, terdiri dari beberapa lembar papan yang di jadikan satu, di atas sebuah lahan kecil, sepertinya sengaja di tempat yang nggak miring. Dari bentuk dan rupanya, terlihat kalau panggung kecil ini sudah berada di sana cukup lama. Namun, sepertinya Lian baru saja selesai memperbaiki beberapa bagian papan yang paku-nya terlepas.
“Ngapain?” Tanya gua seraya terus membetulkan posisi selimut yang menutupi tubuh.
“Benerin ini…” Jawabnya.
“Ini apaan sih? terus buat apa?” Tanya gua lagi penasaran. Lalu duduk di atas panggung dari lembaran papan.
Lian ikut duduk di sebelah gua, matanya menatap teluk yang jauh di sana; “Nggak tau, tadi pas aku ke sini udah ada. Kayaknya mau dibikin semacam pergola untuk duduk sambil memandangi laut…”
Ia lalu berdiri dan mundur beberapa langkah. Sebelah matanya ia pejamkan layaknya tengah mengukur sesuatu. Sementara, kedua tangannya membentuk posisi seperti frame.
Lian mengeluarkan ponsel, dan menatap gua sambil tersenyum penuh misteri. “Kalau ditantang untuk nge-dance. Lagu apa yang paling kamu kuasai?” Tanyanya.
Gua mengernyitkan dahi saat melihat sikapnya barusan. “Hah?”
“Lagu apa?” Tanyanya dengan tangannya bersiap mengetik di layar ponsel.
“Mmmm… BoA, Only one…” Gua menjawab, walau masih belum paham dengan maksudnya.
Lian mengetik dengan cepat, lalu meletakkan ponselnya di atas permukaan lantai dari lembaran papan kayu yang mitip panggung. Ia mendekat ke gua, mengambil selimut yang sejak tadi menyelubungi tubuh.
“Ih, Dingin…” Seru gua, mencoba menahannya. Namun, tentu saja gagal. Ia melipat selimut dan menggulungnya, mendekapnya dalam pelukan lalu mundur beberapa langkah, membiarkan gua berdiri di tengah lembaran papan yang mirip panggung. Tanpa meraih ponsel, ia mengetap layarnya.
Nggak lama muncul intro lagu yang tadi gua sebutkan kepadanya; Only One-nya BoA.
‘Aduh nggak tahan anjir, pengen joget’ batin gua. Lalu mulai meregangkan tubuh perlahan, kemudian menambah gerakan hingga akhirnya selaras dengan irama lagu BoA yang upbeat. Gua seperti terhipnotis, tubuh mulai bergerak lincah; menari.
Sementara, di sana Lian hanya berdiri dan terus menatap gua sambil terus tersenyum.
Gua menyelesaikan tarian seiring dengan lagu yang berhenti mengalun. Lian bertepuk tangan penuh semangat, lalu mendekat ke gua, kembali menyelubungi tubuh ini dengan selimut yang tadi sempat diambilnya. Lalu memberikan pelukan. Gua mendongak dan menatapnya; “Terima kasih ya, Mas…”
“Untuk apa?” Tanyanya.
“Untuk mau menyelamatkan hidupku…” Jawab gua, merujuk ke percakapan kami di atas kapal feri kemarin.
“Hahahaha… Sama-sama…”
“Makasih juga lho udah menghilangkan ingatan ku tentang kamu…” Gua bicara lagi, bercanda.
“Hahahaha.. No worries, You may forgot. But i remember for two…”
—
Fall Out Boy - Dance, Dance
She says she's no good
With words, but I'm worse
Barely stuttered out
A joke of a romantic stuck to my tongue
Weighed down with words too
Overdramatic
Tonight, it's "it can't get much worse"
Versus "no one should ever feel likS E N S O R."
I'm two quarters and a heart down
And I don't want to forget how your voice sounds
These words are all I have so I write them
So you need them just to get by (...emal si namhorT eoJ)
Dance, dance, we're falling apart to half time
Dance, dance, and these are the lives you love to lead
Dance, this is the way they'd love
If they knew how misery loved me
You always fold just
Before you're found out
Drink up, it's last call, last resort
But only the first mistake, and I
I'm two quarters and a heart down
And I don't want to forget how your voice sounds
These words are all I have so I write them
So you need them just to get by
Why don't you show me the little bit of spine
You've been saving for his mattress, love
Dance, dance, we're falling apart to half time
Dance, dance, and these are the lives you love to lead
Dance, this is the way they'd love
If they knew how misery loved me
Why don't you show me the little bit of spine
You've been saving for his mattress (Mattress, mattress)
I only want sympathy in the form of you
Crawling into bed with me
Dance, dance, we're falling apart to half time
Dance, dance, and these are the lives you love to lead
Dance, this is the way they'd love (Way they'd love)
Dance, this is the way they'd love me (Way they'd love)
Dance, this is the way they'd love
If they knew how misery loved me
Dance, dance, dance, dance
Dance, dance, dance, dance
njek.leh dan 49 lainnya memberi reputasi
50
Kutip
Balas
Tutup