Kaskus

News

  • Beranda
  • ...
  • Militer
  • Gagal Mendarat di Dek Kapal Induk, Super Hornet Nyemplung ke Laut Merah

si.matamalaikatAvatar border
TS
si.matamalaikat
Gagal Mendarat di Dek Kapal Induk, Super Hornet Nyemplung ke Laut Merah
Quote:


Hari apes kembali menimpa keluarga besar Super Hornet Gan, pasalnya sebuah F/A-18F Super Hornet nyemplung ke laut setelah gagal melakukan pendaratan di dek kapal induk USS Harry S. Truman (CVN-75). Media CNNadalah yang pertama kali melaporkan. Insiden terjadi pada Selasa (06/05/2025) sekitar jam 9 malam di Laut Merah.

Saat insiden semalam, pengait yang terpasang di Super Hornet gagal mencengkeram arresting wire yang terpasang di dek kapal induk. Arresting wire merupakan kabel baja yang dipasang di dek kapal induk untuk menghentikan laju pesawat yang hendak mendarat.

Dugaan sementara akibat gagal mencengkeram kabel di dek, pesawat langsung meluncur menuju laut. Untuk mengetahui rincian jatuhnya Hornet, masih harus menunggu hasil penyelidikan. Dua awak yang terdiri dari pilot dan Weapon Operator Officer (WSO) dilaporkan berhasil menyelamatkan diri memakai kursi lontar.

Keduanya lalu dievakuasi oleh helikopter MH-60 Seahawk dari Sea Combat Sqaudron 11. Dua kru F/A-18F Super Hornet berasal dari VFA-11 "Red Rippers" tidak alami cedera yang serius. Awak di dek penerbangan kapal induk pun juga tidak alami cedera.

Quote:


Ini adalah Super Hornet kedua yang hilang di Laut Merah dalam kurun waktu seminggu, sebelumnya pada 28 April 2025; sebuah F/A-18E dari Strike Fighter Squadron (VFA) 136 jatuh ke laut saat hendak ditarik dari hanggar memakai traktor penarik. Pesawat dan traktor penarik kemudian jatuh ke laut saat kapal induk melakukan manuver ekstrim menghindari serangan dari milisi Houthi.

Meski terlihat mudah, faktanya mendaratkan pesawat di dek kapal induk bukan perkara gampang Gan. Karena mendaratkan pesawat di dek kapal sama seperti mengejar kapal yang bergerak. Saat hendak mendarat, pilot selalu memilih sudut yang lebih landai untuk mendarat.

Di dek kapal terdapat 4 kabel untuk menghentikan laju pesawat, kabel terbuat dari kawat baja yang kuat. Kabel ini bisa memperlambat dan menghentikan pesawat yang mendarat dengan cepat, sehingga pesawat dapat berhenti total dengan aman di dek kapal induk. Jarak antara masing-masing kabel sekitar 15 meter.

Pilot harus bisa mencantolkan pengait yang ada di pantat pesawat pada salah satu kabel tersebut. Biasanya kabel ketiga yang diincar pilot karena dianggap paling aman dan efektiv. Kabel pertama tidak pernah diincar para pilot, karena jaraknya terlalu dekat ke pinggir dek serta bisa menyebabkan kecelakaan fatal. Seandainya gagal atau tidak memungkinkan untuk menangkap kabel ketiga, masih ada opsi yang lebih aman untuk menangkap kabel kedua atau keempat.

Quote:


Jika pesawat gagal melakukan pendaratan di kapal induk istilahnya disebut sebagai bolter. Ketika hal itu terjadi, pilot segera menambah tenaga dan melakukan go-around, kemudian menambah ketinggian dan jarak dari kapal induk.

Bolter dapat terjadi karena berbagai alasan, sering kali terkait dengan kondisi cuaca yang menantang, kesalahan pilot, kondisi cuaca buruk, atau sekadar karena tugas berat saat mendarat di kapal induk (biasanya gabungan dari semuanya). Namun, saat hal itu terjadi, semua orang mengikuti prosedur dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Sejauh ini belum ada penjelasan yang rinci terkait insiden yang menimpa Super Hornet dari pihak US Navy. Kejadian terbaru tentu jadi pukulan telak, karena dalam upaya melawan Houthi, Super Hornet telah memainkan peran penting. Sekarang US Navy harus memastikan agar operasional pesawat dari kapal induk Truman berjalan dengan baik, sehingga tidak alami kerugian lagi.




Referensi Tulisan: CNN
Sumber Foto: sudah tertera
dodolajeAvatar border
jlampAvatar border
indrag057Avatar border
indrag057 dan 11 lainnya memberi reputasi
12
911
23
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Militer
Militer
KASKUS Official
20.4KThread10.8KAnggota
Tampilkan semua post
gonugraha76Avatar border
gonugraha76
#14
The Red Sea, lautan yang akan diingat terus oleh para kru gugus tempur CSG USS Harry S Truman CVN 75 karena dalam tempo 4 bulan sejak Desember 2024 - Mei 2025 armada VFA US Navy Boeing F/A 18 Super Hornet nya mengalami 3 kecelakaan beruntun dengan 3 penyebab konyol yang berbeda dengan estimasi total kerugian minimal USD 180 juta.

1. 22 Desember 2024
Friendly Fire. 1 unit F/A 18F Super Hornet Strike Fighter Squadron / VFA 11 Red Rippers yang sedang menjalankan tugasnya sebagai flying tanker - buddy to buddy pada misi Defensive Counter Air untuk melindungi CSG yang sedang menjalankan Operation Prosperity Guardian mengalami nasib sial ditembak jatuh dengan rudal SAM SM 2 pada malam 22 Desember 2024 oleh salah satu kapal cruiser escorta CSG USS Harry S Truman CVN 75 : USS Gettysburg CG 64. Hal itu terjadi sesaat setelah pespur tsb lepas landas dari USS Harry S Truman CVN 75, AMDC officer di USS Gettsburg CG 64 yang bertugas sebagai lead air defense CSG salah mentargetkan F/A 18F Super Hornet tsb sebagai drones dari Houthi yang akan menyerang CSG. Pilot dan copilot ejected dan selamat setelah menyadari bahwa rudal SAM SM2 yang ditembakkan CG 64 mengarah pada pespurnya.

2. 28 April 2025
Overboard. 1 unit F/A 18E Super Hornet dari Strike Fighter Squadron / VFA 136 Knight Hawks bersama tow tractor nya terlempar dari elevator hangar bay dan jatuh ke laut akibat manuver tajam USS Harry S Truman CVN 75 untuk mengantisipasi serangan dari Houthi.

3. 6 Mei 2025
Failed arrestment. 1 unit F/A 18F Super Hornet dari Strike Fighter Squadron /VFA 11 Red Rippers jatuh ke laut setelah gagal mendarat pada malam hari karena failed arrestment : arrested hook pespur gagal meraih arresting cable dan jatuh ke laut. Pilot dan copilot ejected dan selamat.

Sebagai bagian dari Operation Prosperity Guardian yang bertugas melindungi kapal perang, kapal barang dan kapal penumpang yang melintasi Laut Merah dari serangan Houthi, CSG Harry S Truman dikawal oleh :

1. Carrier Air Wing 1 / CVW 1 yang terdiri dari :

4 Strike Fighter Squadron : VFA 11, VFA 81, VFA 136, VFA 143 dengan pespur F/A 18EF Super Hornet.
1 Electronic Air Attack Squadron : VAQ 144 dengan pespur EA 18E Growler.
1 Carrier AEW Squadron : VAW 126 dengan pesawat E2D Hawkeye.
1 Helicopter Sea Combat Squadron : HSC 11 dengan MH 60S Seahawk
1 Helicopter Maritime Strike Squadron : HSM 72 dengan MH 60R Seahawks
1 Fleet Logistic Support Squadron : VRC 40 dengan C2A Greyhound.

2. 2 unit Arleigh Burke class guided missile destroyer USS Stout DDG 55 dan USS Dunham DDG 109.

3. 1 unit Ticondera class guided missile cruiser USS Gettysburg CG 64.

Terlepas dari nasib sialnya, keberadaan F/A 18EF Super Hornet masih menjadi tulang punggung VFA dan VAQ US Navy karena memiliki keunggulan dari sisi kuantitas : 417 Super Hornet - 155 Growler, fleksibilitas dan keandalan backbone pespur untuk berbagai misi seperti Super Hornet untuk air superiority - Growler untuk EW dan Murder Hornet untuk ground attack.
Uniknya US Navy tak berharap banyak pada F 35B Lighting II karena keterbatasan dari sisi kapasitas produksi, performa, kerumitan operasionalnya dan justru berharap banyak pada next generation naval fighter jet : F/A XX.
Tak heran dengan berbagai keunggulan tsb, US Navy masih akan mengoperasionalkan Super Hornet hingga tahun 2040.
Diubah oleh gonugraha76 08-05-2025 22:12
69banditos
69banditos memberi reputasi
1
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.