- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
kelinci.tosca dan 149 lainnya memberi reputasi
150
217.3K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#900
006-F More Than Just You (Cont)
Spoiler for 006-F More Than Just You (Cont):
“Ngapain?”Tanya gua, begitu kami tiba di konsulat.
“Ngurus Visa…” Jawabnya santai.
“Kan tadi udah…”
“Ya yang tadi kan ke Korea”
“Lah, emang mau kemana lagi?” Tanya gua, sambil pasang tampang penasaran.
Lian lalu menunjuk ke arah salah satu bendera kecil yang dipajang dekat dengan pintu masuk kantor, bendera berbentuk persegi berwarna merah dengan lambang tanda ‘plus’ di bagian tengahnya; bendera Swiss.
Gua menghentikan langkah.
“Hah?” Seru gua.
Sementara, Lian masih terus berjalan masuk ke dalam kantor, melewati pintu kaca otomatis berukuran besar. Begitu sudah di dalam, ia berbalik dan menatap gua yang masih kaget dalam diam.
Dengan menggunakan bahasa isyarat, ia ‘bicara’; ‘Ngapain diem aja, sini’
Perlahan gua mendekat, melewati pintu kaca otomatis dan terus ke arahnya.
“Apalagi rencana kamu kali ini?” Tanya gua seraya mendongak dan menatapnya lirih.
Alih-alih menjawab, Lian malah hanya tersenyum. Kemudian menggandeng gua dan masuk lebih jauh ke dalam.
“Nanti pas interview pake bahasa inggris, Mas?” Tanya gua ragu.
“Iya…”
“Nggak lancar, gapapa?”
“Gapapa…”
“Terus kalo ditanya tujuan ke sana, aku jawab apa?” Tanya gua, sekalian memenuhi rasa penasaran dengan alasan yang belum ia kemukakan.
“Jawab aja liburan…”
“Terus kalo ditanya liburan dari kapan sampai kapan, aku harus jawab apa?” Tanya gua lagi. Yang lantas diresponnya dengan menyebutkan tanggal sebelum keberangkatan gua ke Korea bersama The Lontongers.
Gua terdiam. Kali ini bukan kaget, tapi bingung harus bilang apa ke Nyokap. Kebingunan yang terus gua pendam hingga proses pengajuan visa yang ternyata cukup singkat. Hal yang bikin proses pengajuan menjadi jauh lebih singkat adalah karena adanya ‘surat sakti’ dengan kop surat berlogo burung hitam dengan stempel keemasan dan pengajuan dirinya sebagai sponsor.
Setelah semua selesai, kami berdua mampir sebentar ke salah satu mall yang berlokasi nggak begitu jauh dari tempat kami mengurus visa.
“Kenapa kok dari tadi diem aja?” Tanya Lian begitu kami tiba di resto.
Gua menggeleng pelan.
“Menggeleng tuh apa artinya?” Tanyanya lagi. Kini ia mulai tersenyum. Menggunakan teknik yang sama yang digunakan untuk meluluhkan hati ini.
“Gapapa, cuma bingung aja…” Gua menjawab lirih sambil menatap kosong ke arah lain.
“Bingung kenapa?”
Gua mengalihkan pandangan dan menatapnya tajam; “Bingung sama kamu…”
“Aku? Kenapa?” Tanyanya seraya menunjuk ke arah dirinya sendiri.
“Ya coba kamu pikir aja, tiba-tiba ngajak orang bikin visa untuk liburan entah ke mana. Seakan-akan, aku bisa bebas pergi gitu aja…” Gua memberi jawaban.
“Lho, emang kamu nggak mau?” Tanyanya.
“Maaauuuuu… Mau banget malahan. Tapi…” Gua berhenti bicara. Memikirkan meminta ijin ke Nyokap perihal ini saja udah bikin gua mules.
“Tapi, apa? Minta ijin ke Mamah?” Tanyanya lagi. Sementara, senyum di wajahnya masih terpasang seakan tengah mencoba meledek gua.
“Iya…” Gua menjawab lirih.
“Gampang, nanti aku temenin mintain ijin…” Jawabnya.
“Ah, Gila kali… Bisa digorok kita berdua… Ck”
“…”
“… Yaudah nanti aku pikirin deh…”
Sejak hari itu, otak gua mulai terus bekerja tanpa beristirahat. Mencoba mencari cara yang tepat untuk mengajukan ijin ke Nyokap. Atau harus rela berbohong. Tapi, kalaupun berbohong gua harus bisa menemukan kebohongan yang sempurna. Kebohongan yang nggak perlu melibatkan orang lain agar nggak ketahuan. Nggak mau mengajak Gaby, Liv atau Fidel berkonspirasi karena tau Nyokap bakal bisa dengan cepat mengendusnya.
Malam itu, kami berempat; Gua, Gaby, Liv dan Fidel berbincang seru sambil menyusun itinerary perjalanan di Korea nanti. Beberapa kali, kami sibuk berdebat perkara itinerary yang nggak kunjung disetujui. Alasannya adalah perbedaan penerbangan antara kami bertiga.
Liv yang bakal berangkat mepet karena masih ada urusan keluarga, Fidel yang bertolak langsung dari London, tempatnya berlibur bersama keluarganya dan gua dari Jakarta.
Menyadari hal ini, sebuah ide liar muncul di kepala. ‘Ah, kalau begini sih Nyokap pasti bakal mengerti’ Batin gua sambil menjentikkan jari.
Sementara yang lain masih sibuk berdebat seru masalah itinerary, gua membuka browser dan mencari-cari jadwal penerbangan lain. Rencananya gua akan bilang ke Nyokap untuk berangkat lebih awal dari rencana agar bisa berlibur ke tempat lain dahulu, barulah setelah itu gua akan menyusul yang lain ke Korea.
Setelah mengumpulkan keberanian, gua lalu meminta ijin ke Nyokap sesuati rencana yang sudah dibuat.
“Ngapain kamu sendirian ke Hongkong?” Tanya Nyokap begitu mendengar rencana gua untuk pergi ke Hongkong sebelum ke Korea.
“Disneyland…” Jawab gua.
“Mamah ikut, Mamah temenin” Balasnya.
‘Mampus dah gue!!’ Batin gua. Nggak memperkirakan kemungkinan ini.
Gua menghela napas sebentar lalu mengangguk pelan; “Yaudah…”
Rencana gua gagal.
Hal yang lalu gua sampaikan ke Lian. Saat itu, ia hanya tertawa begitu mendengar keluhan gua.
“Tuh kan, udah aku aja yang mintain ijin…” Responnya.
“Nggak jangan. Lagian, yaudah lah… Kalo emang nggak bisa, aku nanti sebentar aja di Korea nya. Abis itu nyusul kamu…” Ucap gua, menyerah.
“Yaudah… Gimana enaknya kami aja…”
Hari perjalanan semakin dekat. Kedua visa gua bahkan sudah terbit. Tapi, rencana cadangan perjalanan gua bahkan nggak ada sama sekali.
Hingga akhirnya gua mendapat kabar kalau Nyokap nggak bisa ikut karena harus menghadiri meeting penting di luar kota.
“Yess!!” Sorak gua di dalam kamar.
—
Gua nggak pernah menyangka akan duduk di kursi pesawat yang membawa gua ke negara antah berantah, ke negara yang nggak pernah terbayangkan akan gua datangi. Jangankan terbayang, mimpi pun gua nggak berani.
Namun, perjalanan ke Swiss dari Hongkong nggak semenarik yang gua bayangkan sebelumnya. Penerbangannya super duper lama, dengan dua kali transit di London dan Mallorca, kemudian lanjut ke Bern dengan pesawat yang jauh lebih kecil. Total penerbangan bahkan makan waktu yang sangat amat lama. Ya mungkin karena penerbangan yang gua pakai adalah yang paling murah.
Gua mengernyitkan dahi begitu turun dari pesawat. Bandara ini, terasa begitu sepi, jauh berbeda dengan bandara-bandara lain yang gua datangi. Selain gua dan rombongan dari penerbangan yang sama, terlihat segelintir penumpang lain yang juga baru saja tiba. Sepertinya mereka adalah turis yang sengaja datang untuk liburan akhir tahun.
Langkah kaki gua bergema pelan di lantai keramik yang mengkilap, bercampur dengan suara roda koper yang berderit dan gumaman petugas bandara yang berbicara dalam bahasa Jerman Swiss dengan nada cepat.
Dengan dinding putih dengan cahaya pantulan lampu neon terasa hangat dan aksen kayu dengan jendela-jendela berukuran besar, bikin bandara ini terasa sederhana. Jauh dari kata mewah.
Gua terus melangkah menuju ke terminal kedatangan, dimana sebuah pohon natal kecil berdiri tegak dengan bola-bola merah-emas dan lampu-lampu kecil yang berkedip lembut. Menciptakan suasana hangat di tengah udara dingin yang menyelinap masuk setiap kali pintu otomatis terbuka.
Papan pengumuman di atas kepala menampilkan jadwal penerbangan dengan tulisan berwarna hijau dan merah, beberapa di antaranya bertanda "delayed" karena salju tipis yang mulai menumpuk di landasan pacu. Sementara, bau kopi dari sebuah kedai kecil di dekat pintu keluar menguap samar, bercampur dengan aroma panggangan yang sepertinya roti, mengundah selera dan bikin perut gua keroncongan.
Sebelum keluar, gua membuka koper, mengambil jaket musim dingin yang sengaja gua siapkan sejak dari rumah dan memakainya. Udara dingin langsung menyapa wajah, membawa serta aroma musim dingin yang baru pertama kali gua rasakan.
Hembusan angin yang aromanya terasa segar macam bau karbol. Lapisan salju tipis menyelimuti jalan, memantulkan cahaya lampu yang berwarna kuning keemasan. Beberapa mobil taksi dengan asap putih menguap dari knalpot, berjejer di area penjemputan, menandakan mesin yang tetap menyala agar mesin tetap panas di tengah suhu yang terasa semakin lama semakin dingin.
Gua menarik retsleting jaket ke atas, lalu mulai memakai sarung tangan kulit pemberian Lian. Terlihat setiap hembusan napas gua membentuk uap kecil di udara. Nggak ada habisnya gua bolak-balik menghembuskan napas; kagum dengan uap yang terlihat jelas. Gua mendekat ke salah satu taksi dimana, si pengemudinya langsung sigap memberi sapaan berbahasa aneh yang nggak gua mengerti.
“Kirchenfeld…” Ucap gua sambil menunjukkan layar ponsel ke si pengemudi. Layar yang menampilkan peta lokasi yang sempat dikirim Lian.
“Ok, Ok” Gumamnya sambil mengangkat ibu jari ke atas. Lantas mulai membantu mengangkat koper gua dan memasukkannya ke dalam bagasi belakang.
Sepanjang perjalanan gua hanya melihat ladang yang luas dan samar dalam kegelapan. Sementara tangan gua terus menatap layar ponsel yang menampilkan arah perjalanan pada aplikasi Map. Takut si supir membawa gua ke lokasi lain.
Setelah kurang lebih 10 menit berada di jalan raya yang gelap, kami akhirnya tiba di area yang cukup ramai. Mulai dengan deretan rumah-rumah penduduk dengan penerangan yang minim, lalu semakin lama, pemandangan semakin berubah dengan rumah-rumah yang semakin mepet dan cahaya lampu jalan semakin benderang.
10 menit berikutnya, taksi yang membawa gua berhenti tepat di depan sebuah bangunan klasik dengan nampak serupa dengan bangunan-banguan di sebelahnya. Si pengemudi keluar dari pintu pengemudi, beralih ke belakang dan mengeluarkan koper gua dari bagasi. Sementara, gua memandangi layar kecil di dashboard mobil yang menunjukkan nominal ongkos yang harus gua bayar.
Belum sempat gua mengeluarkan dompet, terdengar suara ketukan di jendela pintu penumpang. Di luar terlihat Lian sudah berdiri dan menatap gua.
“Ih, bukannya jemput….” Seru gua begitu keluar dari taksi yang ongkosnya baru saja dibayar olehnya.
Lian nggak menjawab, ia hanya tersenyum dan memberi pelukan.
“Capek?” Tanyanya.
Gua mengangguk pelan.
“Laper nggak?” Tanyanya lagi.
“Banget…” Jawab gua.
“Mau makan apa?”
“Apa aja…”
“Istirahat dulu sebentar gapapa kan?”
“Iya gapapa, yuk buruan aku dingin banget niiih….” Balas gua.
Lian meraih koper gua dan menuntun gua masuk ke dalam bangunan. Sebuah gedung apartemen klasik yang nampak sederhana dari luar namun terasa mewah begitu masuk ke dalam. Ia mengajak gua terus naik ke lantai tiga, menyusuri koridor kecil yang menimbulkan derap suara langkah menggema hingga ke ujung koridor. Di mana sebuah pintu berwarna putih berbahan kayu seakan menunggu kami.
Ia memutar handle dan membuka pintu. Seketika, semua terasa hangat.
Gua menghela napas lalu berlari masuk dan menjatuhkan diri di atas ranjang. Sementara, Lian menyusul sambil membawa koper.
“Anget di sini…” Gumam gua, seraya berguling-guling di atas ranjang. Sementara, Lian hanya berdiri dan menatap gua sambil bersandar pada sisi jendela yang menghadap ke balkon.
Gua berdiri, bangkit dari ranjang dan mendekat ke arahnya. Kemudian memberikan pelukan.
“Mau mandi dulu? apa langsung makan?” Tanyanya sambil membelai kepala gua.
“Hah, mandi? gila apa? sedingin ini?” Seru gua seraya menggeleng.
“Lho tadi katanya anget di sini…”
“Iya, angetnya di sini aja tetep dingin, Maaas….” Balas gua dan terus menenggelamkan kepala dalam pelukannya.
Setelah beristirahat sebentar, Lian lantas membawa gua keluar dari bangunan apartemen. Kami berdua berjalan sambil bergandengan tangan dengan butiran salju tipis yang terus turun dan menerpa kepala. Jauh di sana terluhat siluet pegunungan Alpen yang nampak samar, diselimuti kabut tipis yang bikin kesan sedikit menakutkan.
Gua mendongak dan menatap Lian.
“Mau makan di mana?” Tanya gua.
“Ada, restoran kecil tapi makanannya enak…”
“Jauh…”
“Enggak.. tuh di sana…” Jawabnya seraya menunjuk bangunan yang berada tepat di sisi sungai.
“Oh…”
Menit berikutnya, kami tiba di restoran kecil tersebut. Pintu besar berwarna hijau tua berbentuk arch yang bikin kesan kolosal semakin kuat menyambut kami. Lian mendorong pintu, membuat suara denting dari lonceng kecil yang terpasang di bagian atas pintu. Seorang pelayan berbaju putih menyambut kami dengan senyuman lalu menunjukkan gestur mempersilakan.
Lian menggandeng tangan gua, menyusuri meja-meja yang penuh pengunjung hingga ke area paling ujung. Dimana dua pasang mata sudah menatap gua sambil tersenyum.
Gua melepaskan genggaman tangannya lalu menghentikan langkah. Kaget saat melihat sosok yang kini berada di depan kami.
“Mamah…”
—
“Ngurus Visa…” Jawabnya santai.
“Kan tadi udah…”
“Ya yang tadi kan ke Korea”
“Lah, emang mau kemana lagi?” Tanya gua, sambil pasang tampang penasaran.
Lian lalu menunjuk ke arah salah satu bendera kecil yang dipajang dekat dengan pintu masuk kantor, bendera berbentuk persegi berwarna merah dengan lambang tanda ‘plus’ di bagian tengahnya; bendera Swiss.
Gua menghentikan langkah.
“Hah?” Seru gua.
Sementara, Lian masih terus berjalan masuk ke dalam kantor, melewati pintu kaca otomatis berukuran besar. Begitu sudah di dalam, ia berbalik dan menatap gua yang masih kaget dalam diam.
Dengan menggunakan bahasa isyarat, ia ‘bicara’; ‘Ngapain diem aja, sini’
Perlahan gua mendekat, melewati pintu kaca otomatis dan terus ke arahnya.
“Apalagi rencana kamu kali ini?” Tanya gua seraya mendongak dan menatapnya lirih.
Alih-alih menjawab, Lian malah hanya tersenyum. Kemudian menggandeng gua dan masuk lebih jauh ke dalam.
“Nanti pas interview pake bahasa inggris, Mas?” Tanya gua ragu.
“Iya…”
“Nggak lancar, gapapa?”
“Gapapa…”
“Terus kalo ditanya tujuan ke sana, aku jawab apa?” Tanya gua, sekalian memenuhi rasa penasaran dengan alasan yang belum ia kemukakan.
“Jawab aja liburan…”
“Terus kalo ditanya liburan dari kapan sampai kapan, aku harus jawab apa?” Tanya gua lagi. Yang lantas diresponnya dengan menyebutkan tanggal sebelum keberangkatan gua ke Korea bersama The Lontongers.
Gua terdiam. Kali ini bukan kaget, tapi bingung harus bilang apa ke Nyokap. Kebingunan yang terus gua pendam hingga proses pengajuan visa yang ternyata cukup singkat. Hal yang bikin proses pengajuan menjadi jauh lebih singkat adalah karena adanya ‘surat sakti’ dengan kop surat berlogo burung hitam dengan stempel keemasan dan pengajuan dirinya sebagai sponsor.
Setelah semua selesai, kami berdua mampir sebentar ke salah satu mall yang berlokasi nggak begitu jauh dari tempat kami mengurus visa.
“Kenapa kok dari tadi diem aja?” Tanya Lian begitu kami tiba di resto.
Gua menggeleng pelan.
“Menggeleng tuh apa artinya?” Tanyanya lagi. Kini ia mulai tersenyum. Menggunakan teknik yang sama yang digunakan untuk meluluhkan hati ini.
“Gapapa, cuma bingung aja…” Gua menjawab lirih sambil menatap kosong ke arah lain.
“Bingung kenapa?”
Gua mengalihkan pandangan dan menatapnya tajam; “Bingung sama kamu…”
“Aku? Kenapa?” Tanyanya seraya menunjuk ke arah dirinya sendiri.
“Ya coba kamu pikir aja, tiba-tiba ngajak orang bikin visa untuk liburan entah ke mana. Seakan-akan, aku bisa bebas pergi gitu aja…” Gua memberi jawaban.
“Lho, emang kamu nggak mau?” Tanyanya.
“Maaauuuuu… Mau banget malahan. Tapi…” Gua berhenti bicara. Memikirkan meminta ijin ke Nyokap perihal ini saja udah bikin gua mules.
“Tapi, apa? Minta ijin ke Mamah?” Tanyanya lagi. Sementara, senyum di wajahnya masih terpasang seakan tengah mencoba meledek gua.
“Iya…” Gua menjawab lirih.
“Gampang, nanti aku temenin mintain ijin…” Jawabnya.
“Ah, Gila kali… Bisa digorok kita berdua… Ck”
“…”
“… Yaudah nanti aku pikirin deh…”
Sejak hari itu, otak gua mulai terus bekerja tanpa beristirahat. Mencoba mencari cara yang tepat untuk mengajukan ijin ke Nyokap. Atau harus rela berbohong. Tapi, kalaupun berbohong gua harus bisa menemukan kebohongan yang sempurna. Kebohongan yang nggak perlu melibatkan orang lain agar nggak ketahuan. Nggak mau mengajak Gaby, Liv atau Fidel berkonspirasi karena tau Nyokap bakal bisa dengan cepat mengendusnya.
Malam itu, kami berempat; Gua, Gaby, Liv dan Fidel berbincang seru sambil menyusun itinerary perjalanan di Korea nanti. Beberapa kali, kami sibuk berdebat perkara itinerary yang nggak kunjung disetujui. Alasannya adalah perbedaan penerbangan antara kami bertiga.
Liv yang bakal berangkat mepet karena masih ada urusan keluarga, Fidel yang bertolak langsung dari London, tempatnya berlibur bersama keluarganya dan gua dari Jakarta.
Menyadari hal ini, sebuah ide liar muncul di kepala. ‘Ah, kalau begini sih Nyokap pasti bakal mengerti’ Batin gua sambil menjentikkan jari.
Sementara yang lain masih sibuk berdebat seru masalah itinerary, gua membuka browser dan mencari-cari jadwal penerbangan lain. Rencananya gua akan bilang ke Nyokap untuk berangkat lebih awal dari rencana agar bisa berlibur ke tempat lain dahulu, barulah setelah itu gua akan menyusul yang lain ke Korea.
Setelah mengumpulkan keberanian, gua lalu meminta ijin ke Nyokap sesuati rencana yang sudah dibuat.
“Ngapain kamu sendirian ke Hongkong?” Tanya Nyokap begitu mendengar rencana gua untuk pergi ke Hongkong sebelum ke Korea.
“Disneyland…” Jawab gua.
“Mamah ikut, Mamah temenin” Balasnya.
‘Mampus dah gue!!’ Batin gua. Nggak memperkirakan kemungkinan ini.
Gua menghela napas sebentar lalu mengangguk pelan; “Yaudah…”
Rencana gua gagal.
Hal yang lalu gua sampaikan ke Lian. Saat itu, ia hanya tertawa begitu mendengar keluhan gua.
“Tuh kan, udah aku aja yang mintain ijin…” Responnya.
“Nggak jangan. Lagian, yaudah lah… Kalo emang nggak bisa, aku nanti sebentar aja di Korea nya. Abis itu nyusul kamu…” Ucap gua, menyerah.
“Yaudah… Gimana enaknya kami aja…”
Hari perjalanan semakin dekat. Kedua visa gua bahkan sudah terbit. Tapi, rencana cadangan perjalanan gua bahkan nggak ada sama sekali.
Hingga akhirnya gua mendapat kabar kalau Nyokap nggak bisa ikut karena harus menghadiri meeting penting di luar kota.
“Yess!!” Sorak gua di dalam kamar.
—
Gua nggak pernah menyangka akan duduk di kursi pesawat yang membawa gua ke negara antah berantah, ke negara yang nggak pernah terbayangkan akan gua datangi. Jangankan terbayang, mimpi pun gua nggak berani.
Namun, perjalanan ke Swiss dari Hongkong nggak semenarik yang gua bayangkan sebelumnya. Penerbangannya super duper lama, dengan dua kali transit di London dan Mallorca, kemudian lanjut ke Bern dengan pesawat yang jauh lebih kecil. Total penerbangan bahkan makan waktu yang sangat amat lama. Ya mungkin karena penerbangan yang gua pakai adalah yang paling murah.
Gua mengernyitkan dahi begitu turun dari pesawat. Bandara ini, terasa begitu sepi, jauh berbeda dengan bandara-bandara lain yang gua datangi. Selain gua dan rombongan dari penerbangan yang sama, terlihat segelintir penumpang lain yang juga baru saja tiba. Sepertinya mereka adalah turis yang sengaja datang untuk liburan akhir tahun.
Langkah kaki gua bergema pelan di lantai keramik yang mengkilap, bercampur dengan suara roda koper yang berderit dan gumaman petugas bandara yang berbicara dalam bahasa Jerman Swiss dengan nada cepat.
Dengan dinding putih dengan cahaya pantulan lampu neon terasa hangat dan aksen kayu dengan jendela-jendela berukuran besar, bikin bandara ini terasa sederhana. Jauh dari kata mewah.
Gua terus melangkah menuju ke terminal kedatangan, dimana sebuah pohon natal kecil berdiri tegak dengan bola-bola merah-emas dan lampu-lampu kecil yang berkedip lembut. Menciptakan suasana hangat di tengah udara dingin yang menyelinap masuk setiap kali pintu otomatis terbuka.
Papan pengumuman di atas kepala menampilkan jadwal penerbangan dengan tulisan berwarna hijau dan merah, beberapa di antaranya bertanda "delayed" karena salju tipis yang mulai menumpuk di landasan pacu. Sementara, bau kopi dari sebuah kedai kecil di dekat pintu keluar menguap samar, bercampur dengan aroma panggangan yang sepertinya roti, mengundah selera dan bikin perut gua keroncongan.
Sebelum keluar, gua membuka koper, mengambil jaket musim dingin yang sengaja gua siapkan sejak dari rumah dan memakainya. Udara dingin langsung menyapa wajah, membawa serta aroma musim dingin yang baru pertama kali gua rasakan.
Hembusan angin yang aromanya terasa segar macam bau karbol. Lapisan salju tipis menyelimuti jalan, memantulkan cahaya lampu yang berwarna kuning keemasan. Beberapa mobil taksi dengan asap putih menguap dari knalpot, berjejer di area penjemputan, menandakan mesin yang tetap menyala agar mesin tetap panas di tengah suhu yang terasa semakin lama semakin dingin.
Gua menarik retsleting jaket ke atas, lalu mulai memakai sarung tangan kulit pemberian Lian. Terlihat setiap hembusan napas gua membentuk uap kecil di udara. Nggak ada habisnya gua bolak-balik menghembuskan napas; kagum dengan uap yang terlihat jelas. Gua mendekat ke salah satu taksi dimana, si pengemudinya langsung sigap memberi sapaan berbahasa aneh yang nggak gua mengerti.
“Kirchenfeld…” Ucap gua sambil menunjukkan layar ponsel ke si pengemudi. Layar yang menampilkan peta lokasi yang sempat dikirim Lian.
“Ok, Ok” Gumamnya sambil mengangkat ibu jari ke atas. Lantas mulai membantu mengangkat koper gua dan memasukkannya ke dalam bagasi belakang.
Sepanjang perjalanan gua hanya melihat ladang yang luas dan samar dalam kegelapan. Sementara tangan gua terus menatap layar ponsel yang menampilkan arah perjalanan pada aplikasi Map. Takut si supir membawa gua ke lokasi lain.
Setelah kurang lebih 10 menit berada di jalan raya yang gelap, kami akhirnya tiba di area yang cukup ramai. Mulai dengan deretan rumah-rumah penduduk dengan penerangan yang minim, lalu semakin lama, pemandangan semakin berubah dengan rumah-rumah yang semakin mepet dan cahaya lampu jalan semakin benderang.
10 menit berikutnya, taksi yang membawa gua berhenti tepat di depan sebuah bangunan klasik dengan nampak serupa dengan bangunan-banguan di sebelahnya. Si pengemudi keluar dari pintu pengemudi, beralih ke belakang dan mengeluarkan koper gua dari bagasi. Sementara, gua memandangi layar kecil di dashboard mobil yang menunjukkan nominal ongkos yang harus gua bayar.
Belum sempat gua mengeluarkan dompet, terdengar suara ketukan di jendela pintu penumpang. Di luar terlihat Lian sudah berdiri dan menatap gua.
“Ih, bukannya jemput….” Seru gua begitu keluar dari taksi yang ongkosnya baru saja dibayar olehnya.
Lian nggak menjawab, ia hanya tersenyum dan memberi pelukan.
“Capek?” Tanyanya.
Gua mengangguk pelan.
“Laper nggak?” Tanyanya lagi.
“Banget…” Jawab gua.
“Mau makan apa?”
“Apa aja…”
“Istirahat dulu sebentar gapapa kan?”
“Iya gapapa, yuk buruan aku dingin banget niiih….” Balas gua.
Lian meraih koper gua dan menuntun gua masuk ke dalam bangunan. Sebuah gedung apartemen klasik yang nampak sederhana dari luar namun terasa mewah begitu masuk ke dalam. Ia mengajak gua terus naik ke lantai tiga, menyusuri koridor kecil yang menimbulkan derap suara langkah menggema hingga ke ujung koridor. Di mana sebuah pintu berwarna putih berbahan kayu seakan menunggu kami.
Ia memutar handle dan membuka pintu. Seketika, semua terasa hangat.
Gua menghela napas lalu berlari masuk dan menjatuhkan diri di atas ranjang. Sementara, Lian menyusul sambil membawa koper.
“Anget di sini…” Gumam gua, seraya berguling-guling di atas ranjang. Sementara, Lian hanya berdiri dan menatap gua sambil bersandar pada sisi jendela yang menghadap ke balkon.
Gua berdiri, bangkit dari ranjang dan mendekat ke arahnya. Kemudian memberikan pelukan.
“Mau mandi dulu? apa langsung makan?” Tanyanya sambil membelai kepala gua.
“Hah, mandi? gila apa? sedingin ini?” Seru gua seraya menggeleng.
“Lho tadi katanya anget di sini…”
“Iya, angetnya di sini aja tetep dingin, Maaas….” Balas gua dan terus menenggelamkan kepala dalam pelukannya.
Setelah beristirahat sebentar, Lian lantas membawa gua keluar dari bangunan apartemen. Kami berdua berjalan sambil bergandengan tangan dengan butiran salju tipis yang terus turun dan menerpa kepala. Jauh di sana terluhat siluet pegunungan Alpen yang nampak samar, diselimuti kabut tipis yang bikin kesan sedikit menakutkan.
Gua mendongak dan menatap Lian.
“Mau makan di mana?” Tanya gua.
“Ada, restoran kecil tapi makanannya enak…”
“Jauh…”
“Enggak.. tuh di sana…” Jawabnya seraya menunjuk bangunan yang berada tepat di sisi sungai.
“Oh…”
Menit berikutnya, kami tiba di restoran kecil tersebut. Pintu besar berwarna hijau tua berbentuk arch yang bikin kesan kolosal semakin kuat menyambut kami. Lian mendorong pintu, membuat suara denting dari lonceng kecil yang terpasang di bagian atas pintu. Seorang pelayan berbaju putih menyambut kami dengan senyuman lalu menunjukkan gestur mempersilakan.
Lian menggandeng tangan gua, menyusuri meja-meja yang penuh pengunjung hingga ke area paling ujung. Dimana dua pasang mata sudah menatap gua sambil tersenyum.
Gua melepaskan genggaman tangannya lalu menghentikan langkah. Kaget saat melihat sosok yang kini berada di depan kami.
“Mamah…”
—
Kings And Queens - Thirty Seconds To Mars
Into the night
Desperate and broken
The sound of a fight
Father has spoken.
We were the kings and queens of promise
We were the victims of ourselves
Maybe the children of a lesser God
Between Heaven and Hell,
Heaven and Hell.
Into your eyes
Hopeless and taken
We stole our new lives
Through blood and name
In defense of our dreams
In defense of our dreams
We were the kings and queens of promise
We were the victims of ourselves
Maybe the children of a lesser God
Between Heaven and Hell,
Heaven and Hell.
The age of man is over
A darkness comes at dawn
These lessons that we've learned here
Have only just begun
We were the kings and queens of promise
We were the victims of ourselves
Maybe the children of a lesser God
Between Heaven and Hell.
We are the kings
We are the queens
We are the kings
We are the queens
Diubah oleh robotpintar 07-05-2025 21:13
njek.leh dan 41 lainnya memberi reputasi
42
Kutip
Balas
Tutup