- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
superber dan 147 lainnya memberi reputasi
148
212K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#870
006-D Dancing Through the Past
Spoiler for 006-D Dancing Through the Past:
“Fir…”
Sambil memasang sabuk pengaman yang sudah nggak lagi sulit bagianya, ia menoleh; “Apa?”
“Mau langsung pulang apa makan dulu?”Tanya gua.
“Aku udah makan tadi…”
“Makan apa?”
“Batagor”
“Kapan?”
“Pas nunggu kamu lamaaaaaaa banget tadi…” Jawabnya, seraya memberi penebalan di kata ‘lama’. Sengaja ingin menyindir gua walau ia sudah tau alasan gua datang sedikit terlambat.
“Nggak mau makan lagi?” Tanya gua, sambil mencoba meraih tangannya.
Fira nggak menolak, dan membalas dengan menggenggam tangan gua. Namun, wajahnya kembali ia arahkan ke luar, ke arah jendela. “Mau…”
“Mau makan apa?” Tanya gua.
“Terserah…” Jawabnya singkat.
“Ok…” Gua yang sudah menebak jawaban darinya, lalu mulai menyalakan mesin dan pergi dari area parkir komplek ruko tempat Fira biasa berlatih.
Di awal perjalanan, Fira nggak banyak bicara. Ia lebih banyak diam sambil mencoba menyambungkan ponselnya ke sistem nirkabel audio mobil. Namun, setelah berkali-kali mencoba dan gagal, ia akhirnya menyerah. “Ck…” Gumamnya pelan, lalu kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas.
“Mana sini…” Gua menyodorkan tangan ke arahnya, meminta ponselnya.
Fira mengeluarkan ponsel dan menyerahkannya.
Setelah selesai menyambungkan ponselnya ke sistem audio mobil, gua mengembalikan ponsel ke padanya. Ia membuka aplikasi pemutar musik, mulai memilih playlist dan sesaat kemudian terdengar lantunan lagu dengan suara penyanyi berbahasa korea.
Begitu mendengar lantunan lagu, moodnya perlahan mulai berubah. Ia ikut berdendang sambil sesekali menggoyangkan tubuhnya.
Gua lantas mulai memberanikan diri bertanya. Pertanyaan tentang apa yang terjadi semalam, saat ia baru pulang ke rumah.
“Semalem gimana?” Tanya gua.
“Ya gitu deh…”
“Gitu deh, tuh gimana?”
“Mmmm….”
“Mamah tau aku yang nganter?” Tanya gua lagi.
“Tau, orang dia ngintip dari jendela ruang tamu…”
“Terus?”
Fira tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan, mungkin merasa ceritanya bakal terdengar lucu.
“Kenapa sih?” Tanya gua lagi, penasaran.
“Jadi gini… Pas aku baru masuk ke ruang keluarga gelap. Terus keliatan cahaya layar HP nyorot ke muka Mamah kan. Aku kaget dong…” Ceritanya.
“Terus?”
“Aku pikir hantu, abis serem gitu…”
“Terus… terus, lewatin aja bagian yang itu, aku mau denger langsung intinya aja” Gua mengajukan protes.
“Apaan sih. Aku yang cerita ya terserah aku. Kamu tinggal dengerin aja pake protes segala…”
Gua menghela napas, lalu mengangguk pelan; “Yaudah iya…”
“Astaga!! Aku teriak gitu kan…” Ia melanjutkan, memperagakan gerakan dan ekspresi wajah terkejutnya.
Melihatnya seperti itu tentu bikin gua langsung tersenyum.
Sadar kalau gua tersenyum sambil terus menatapnya, Fira kembali menjeda cerita; “Kenapa? kok malah senyum-senyum?”
“Gapapa… Kamu pas kaget aja masih keliatan cantik…” Balas gua, masih sambil terus menatapnya.
“Apaan sih…” Serunya seraya mencoba memukul gua, namun gagal.
“Terus, lanjut…”
“Iya, terus aku nyalain lampu. Dan Mamah langsung nyamperin dan ngasih unjuk rekaman video pas aku turun dari mobil kamu…”
“Wah bakat jadi detektif…” Gua menggumam pelan.
“Beuh Mamah sih kalo urusan kayak gitu nomor satu…”
“Lanjut…”
“Terus aku ngomong deh ke Mamah…”
“Gimana? Ngomong gimana?” Tanya gua, mulai nggak sabar. Merasa kalau ini adalah poin penting dari seluruh ceritanya. Sementara, hal-hal lain tadi hanya intermezo semata.
Fira lantas mulai bercerita tentang obrolan singkat antara Nyokapnya semalam. Tentu saja masih sambil menirukan gerakan dan ekspresi saat obrolan terjadi. Nggak hanya gerakan dan ekspresi, Ia bahkan menggunakan nada dan intonasi yang berbeda saat mengimpersonate Nyokapnya.
Menurut cerita Fira, ia mencoba bicara dari hati ke hati ke Nyokapnya. Memberi pengertian tentang hubungan kami yang ‘baru saja’ dimulai ini. ‘Ini jalan Fira, biar Fira coba jalanin dulu ya Mah’ kira-kira begitu kalimat yang disampaikannya. Ya walaupun Nyokapnya nggak langsung menerima permintaan Fira. Dan malah bilang kalau Fira berlaku seperti itu karena mendapat tekanan dari gua.
“Terus, terus?” Tagih gua, semakin penasaran.
“Ya terus aku bilang gini; ‘Mamah, please, please biarin aku bikin keputusan untuk diriku sendiri. Kali ini aja…’” Fira bicara, berlagak seakan Nyokapnya sekarang berada di sini.
“Terus apa katanya?”
“Awalnya, Mamah diem aja. Tapi, pas aku pergi dan mau naik ke atas, ke kamar, dia nanya gini; ‘Sekali? terus kalau nanti gagal gimana?’”
“Terus kamu jawab apa?”
“Ya Gapapa, gagal asal dari keputusan aku sendiri…” Fira kembali bicara dengan lagak seakan gua adalah Nyokapnya.
“…”
“… Terus aku naik, masuk ke kamar, ke jendela, ngeliat kamu deh… Hehehe…” Ia menambahkan.
Senyum gua semakin terkembang. Gadis yang dulu polos, kini berubah menjadi sosok yang dewasa. Ia menjelma menjadi sosok Fira yang bukan lagi gadis kecil, tapi seseorang yang mulai mengajarkan gua soal keberanian. Hal yang bikin gua malah merasa kecil.
“Hebat…” Gumam gua seraya mencoba bertepuk tangan sambil menyetir.
Sisa perjalanan, Fira menghabiskan waktu dengan kembali mendengarkan musik sambil berdendang dan sesekali bergoyang. Nggak seberapa lama, kami akhirnya tiba di area parkir deretan ruko di depan kompleks perumahan tempat tinggalnya.
“Makan mie?” Gumam Fira saat menyadari gua memarkir mobil tepat di depan kedai mie ayam bangka. Tempat kami dulu sempat makan di sini beberapa kali.
“Iya… Kenapa? nggak mau ya?” Tanya gua sebelum mematikan mesin mobil.
“Mmm… Gapapa sih” Jawabnya.
Walau ia setuju tapi nggak begitu dengan ekspresinya. Wajahnya nampak berubah, kini terlihat datar dan dingin. Dan ekspresinya terus seperti itu, saat kami berdua berjalan mendekat ke arah kedai.
Gua menghentikan langkah dan meraih tangannya. Fira ikut berhenti, lalu menoleh ke arah gua; “Kenapa?”
Alih-alih langsung menjawab, gua hanya terus menatap wajahnya. “Jangan makan di sini deh…”
Lalu menarik tangannya untuk kembali ke mobil.
Fira nggak bilang apapun. Ia hanya terdiam saat kami masuk ke mobil. Dan langsung bicara begitu sudah berada di dalam; “Kenapa nggak jadi?”
“Gapapa… kamu kayaknya nggak nyaman” Jawab gua.
Fira tersenyum sebentar; “Susah ya ‘bohong’ sama kamu…”
“Hahaha…. Mau cerita kenapa kamu nggak nyaman makan di sini?” Tanya gua.
“Nggak tau, rasanya nggak nyaman aja… Kayak ada aura-aura jahatnya gitu” Jawab Fira sambil bergidik.
“Hahaha… Nggak mungkin ada kaitannya dengan hal gaib dong”
“Nggak, nggak, bukan… Nggak tau deh, pokoknya nggak nyaman aja…”
“Yaudah gapapa… Kita cari tempat lain aja…”
“Maaf ya, padahal kamu lagi pengen makan mie ya?”
“Gapapa, makan mie kan di rumah juga bisa”
“Yaudah makan mie di rumah aja…”
“Yaah, mana mungkin Mamah kamu nerima kedatangan aku?”
“Ya di rumah kamu lah…” Serunya.
Gua terdiam sejenak, menimbang faktor-faktor yang bisa jadi resiko ke depannya.
Melihat gua yang hanya terdiam, Fira kembali angkat bicara; “Kenapa? Nggak boleh? Yaudah kalo nggak boleh gapapa…”
Gua menghela napas pelan, lalu tersenyum kecil; “Boleh, tapi seandainya Mamah tau kamu main ke rumah aku… Bisa gawat nggak sih?”
Kami berdua, khususnya Fira tengah mencoba meluluhkan hati Nyokapnya. Walau sampai saat ini belum tau caranya, tapi kalau ia sampai mendapati Fira mengunjungi gua di rumah, bisa dipastikan rencana meluluhkan hatinya langsung gagal sebelum dimulai.
“Gapapa, aku tadi bahkan udah bilang ke Mamah kok kalo aku bareng kamu,” jawabnya santai, sambil kembali membuka ponsel dan scrolling playlist lagu.
Ia menunjuk ke arah depan, berlagak seperti kapten bajak laut menunjuk lautan lepas, lalu berseru; “Let’s Go!”
Gua meliriknya sekilas, masih agak ragu. Tapi melihat Fira yang kelihatan santai dan penuh rasa percaya diri, gua akhirnya mengangguk dan menggumam pelan; “Ok…”
Sepanjang perjalanan yang super singkat menuju rumah gua, Fira kembali berdendang dengan lagu-lagu K-pop dari playlist-nya. Sesekali dia melirik ke arah gua dan menyodorkan genggaman tangan yang sejak tadi ia gunakan sebagai pengganti mic. Sementara gua cuma bisa geleng-geleng kepala sambil terus tersenyum, senyum yang kini mulai terbiasa gua rasakan.
Setelah 10 menit berkendara, saat kami hampir tiba. Fira mulai mematikan musik dan melepas sabuk pengaman. Tubuhnya ditegakkan, seakan siap untuk turun dari mobil.
“Kamu udah tau rumah aku?” Tanya gua begitu melihat gerak-geriknya barusan.
“Tau lah… Sebelum ke Solo kan aku nyari kamu ke sini dulu”
“Terus?”
“Nggak ada orang….” Gumamnya.
Gua melambatkan laju mobil, lalu berhenti tepat di depan pagar. Butuh dua kali klakson untuk Kucay akhirnya muncul. Ia membuka pagar, lantas mendorongnya, memberi ruang agar mobil bisa masuk hingga ke carport.
Fira langsung keluar begitu mobil berhenti. Sambil memakai tas di punggungnya, matanya menatap sekeliling, seakan tengah memindai area yang baru dikenalnya. Ia mengumbar senyum ke Kucay yang tengah mendekat ke arah mobil.
“Halo…” Sapa Fira super ramah.
“Halo, mbak, eh kak… eh, apa ya…”
“Fira aja…”
“Ah, nggak sopan… Kak aja deh…”
Kucay beralih ke gua; “Mau langsung dimasukkin apa gimana Mas?” Tanyanya, merujuk ke mobil sedan biru yang baru gua pakai.
“Nggak usah, biarin aja..”
“Ok Mas” Balasnya lalu pergi masuk ke dalam.
Mendengar ucapan Kucay ke gua, Fira langsung tertawa. Tawa yang tertahan karena ia dengan cepat menutup mulutnya dengan tangan.
“Kenapa?” Tanya gua, kemudian mendekat, meraih tangannya dan mengajaknya masuk ke dalam.
“Gapapa, aneh aja denger kamu dipanggil ‘Mas’…” Jawabnya, masih terkekeh.
“Terus cocoknya dipanggil apa?” Tanya gua lagi.
Fira mengangkat kedua bahunya; “Nggak tau, ‘Mas’ sih sebenernya bagus. Tapi, mungkin aku baru denger aja kali, jadi aneh…”
Fira melepaskan genggaman tangannya begitu kami masuk ke dalam rumah. Sama seperti tadi, matanya menatap sekeliling, dan ekspresinya menunjukkan kekaguman yang bercampur rasa bingung.
“Kamu baru pindah? enggak kan?” Tanyanya, masih sambil menatap sekeliling.
“Nggak…”
“Terus kenapa kosong banget?” Tanyanya lagi, kali ini seraya terus masuk semakin jauh ke dalam, ke arah ruang tengah yang hampir kosong. Hanya sebuah sofa kecil dengan alas karpet tebal melingkar dan sebuah televisi besar di depannya.
Fira membentangkan tangan, lalu memutar tubuhnya. Sesekali ia berseru; “Woy…” yang menghasilkan suara gema saking kosongnya ruangan.
“Kenapa nggak diisi barang-barang?” Tanyanya seraya menoleh ke arah gua.
“Barang-barang apa?” Gua balik bertanya.
“Ya apa kek, sofa, pajangan, meja…”
“Buat?” Tanya gua lagi.
Fira lantas terdiam. Matanya menatap ke atas seakan tengah mencoba mencari jawaban; “Buat apa kek…” Jawabnya asal. Kemudian duduk di satu-satunya sofa di ruangan itu, sambil memeluk bantal kecil yang terlihat nyaman.
“Ya aku kan jarang pulang ke sini…”
Ia mendongak dan menatap gua; “Sekarang, mulai sekarang jadi sering pulang nggak?”
“Iya…” Gua mengangguk pelan. Lalu berjalan menuju ke arah dapur.
“Mau ke mana?” Serunya.
“Masak mie, Kamu mau nggak?” Tanya gua.
“Mau….” Serunya, lantas melompat dari sofa dan berlari ke arah gua. Di saat-saat seperti inilah kekanak-kanakanya muncul. Sesuatu yang selalu sukses bikin jantung gua berdebar nggak karuan.
“Ada mie rasa apa aja?” Tanyanya sambil terus mendekat. Sementara, gua terus mencari apa ada stok mie instan dengan membuka satu persatu laci dan lemari di dapur; yang ternyata kosong.
“Nggak ada” Gumam gua seraya melirik ke arahnya.
“Gimana dah…”
Akhirnya rencana masak dan makan mie instan di rumah batal. Gua akhirnya memesan makanan melalu aplikasi ojek online. “Nah, udah nggak ribet kan?” Ucap Fira.
“Iya…”
Kami makan sambil nonton TV, suasananya terasa begitu santai. Fira makan perlahan, sambil sesekali nyanyi kecil sambil goyang-goyang kepala mengikuti irama lagu yang diputar di layar televisi. Gua cuma bisa geleng-geleng kepala, gemes liat tingkahnya.
Tiba-tiba, di tengah makan, Kucay menghampiri. Di tangannya terlihat ia membawa plastik berisi porsi makanan miliknya. “Mas, pulang ya….” Ucapnya lirih.
“Iya, makasih ya cay…”
“Sama-sama Mas….” Jawab Kucay, lalu beralih ke Fira dan mengangguk sambil tersenyum; “Mari kak…”
“Mari…” Balas Fira, lalu tertawa saat Kucay sudah nggak lagi terlihat.
Gua melirik ke arahnya; “Kenapa? Masih lucu denger aku dipanggil ‘Mas’…” Tanya gua. Masih mencoba menahan tawa, Fira mengangguk.
Fira berhenti makan, ia meletakkan piring berisi porsi makan miliknya lalu menatap gua sambil tersenyum; “Aku boleh nggak panggil kamu ‘Mas’?”
“Kenapa nggak” Jawab gua, merasa panggilan apapun nggak masalah.
“Mas….” Ucapnya, menggoda. “Mas…” Ia mengulanginya, “… Kok nggak jawab?”
“Iyaaa…” Jawab gua singkat.
“Nah gitu dong…”
Selesai makan, gua mencuci piring sementara Fira meminta ijin untuk berkeliling rumah.
Beberapa menit berselang, di saat yang sama begitu gua selesai mencuci piring, Fira terlihat berjalan pelan menuruni anak tangga dari lantai dua; dari kamar gua. Ia menggenggam sebuah lukisan kanvas kecil, lalu mengangkatnya ke atas; “Ini siapa?” Tanyanya.
“Apanya?” Gua balik bertanya.
“Yang ada di lukisan…”
Gua menatap ke arah lukisan kanvas kecil buatan Elin yang ia berikan saat gua ‘kabur’ ke Lofoten dulu. Lukisan yang berisi soluet seorang gadis tengah menari di atas bukit dengan latar bangunan cottage dan laut yang membiru. Dedaunan kering terlihat terbang di sekeliling si gadis dalam lukisan, seakan mengiringi tariannya.
“Kamu…” Jawab gua singkat.
“Siapa yang bikin?” Tanyanya lagi.
Gua mengambil lukisan kecil itu dan membalik nya, terlihat sebuah goresan kuas yang tertulis; Fira, by Elin.
“Elin…” Gumamnya pelan, “… Siapa dia?”
“Teman…”
“Kenapa dia bisa mengenal aku?”
“Aku menceritakan tentang kamu, ke Elin…”
“Kamu cerita tentang aku ke siapa aja?” Tanyanya lagi, kali sambil terus mendekat.
“Banyak, Aku cerita tentang kamu ke angin, ke pelepah kayu, ke tanah yang basah, ke batu-batu, ke dunia….”
“Apa jawaban mereka?” Tanyanya lagi, kini mulai merebahkan kepalanya di dada gua, masuk ke dalam pelukan.
“Nggak ada, mereka hanya diam…” Gumam gua pelan dan mulai memeluknya.
Saat situasi tengah dalam momen yang begitu romantis. Terdengar suara pagar depan bergeser. Disusul, suara deru mesin mobil yang masuk ke dalam. Fira langsung celingak-celinguk, sementara gua sudah bisa menebak siapa yang datang.
“Siapa?” Tanya Fira sambil berbisik.
“Ncek, Ricky….” Jawab gua.
“Oh… kebetulan, aku mau nanya-nanya ke dia”
“Iya aku juga…” Jawab gua lagi. Merasa Ncek berhutang banyak penjelasan buat gua. Nggak, nggak, gua nggak butuh penjelasan darinya. Gua hanya ingin mendengar alasannya.
Pintu depan terbuka, Ncek muncul dan langsung tersenyum begitu menyadari kehadiran Fira di rumah gua. “Eh ada tamu….” Serunya.
“Apa kabar Fir, Sehat kan?” Tanyanya seraya mendekat dan mengjulurkan tangan ke arah Fira.
“Baik dok…” Jawab Fira dan membalas salamnya.
Ncek beralih ke gua, ia menyodorkan sebuah plastik putih berlogo minimarket yang sepertinya berisi minuman kaleng.
Gua bergeming dan hanya terus menatapnya tajam. Di sisi lain, Ncek pasang tampang bingung.
“Gua tadi ketemu Natalie. Dia udah cerita ke gua semuanya; semua yang dia tau….”
“Terus lo percaya?” Tanya Ncek.
Gue menggeleng sambil terus menatapnya. “Tapi gue juga jadi nggak percaya sama lo…”
Sementara, Fira yang sejak tadi berdiri di antara kami berdua hanya terus menatap gua. Ekspresinya menunjukkan kalau ia bingung dan penasaran.
“Apaan sih?” Bisiknya ke arah gua.
“Ini tentang asumsi dan prasangka yang aku bahas waktu itu. Dan kayaknya kita mulai bisa tau siapa orang yang harus dibenci…” Gua menjawab pertanyaan Fira tanpa mengalihkan pandangan dari Ncek.
“Dokter Ricky?” Tanya Fira, kali ini sambil menunjuk ke arah Ncek yang masih berdiri di depan gua.
“Gue bisa jelasin. Semua, semuanya….” Balas Ncek.
Tapi, gua dengan cepat menggeleng; “Sekarang, gue nggak mau denger apa-apa dari lo….”
“Jelasin ke aku aja!!” Seru Fira sambil mengangkat tangannya ke atas.
---
Sambil memasang sabuk pengaman yang sudah nggak lagi sulit bagianya, ia menoleh; “Apa?”
“Mau langsung pulang apa makan dulu?”Tanya gua.
“Aku udah makan tadi…”
“Makan apa?”
“Batagor”
“Kapan?”
“Pas nunggu kamu lamaaaaaaa banget tadi…” Jawabnya, seraya memberi penebalan di kata ‘lama’. Sengaja ingin menyindir gua walau ia sudah tau alasan gua datang sedikit terlambat.
“Nggak mau makan lagi?” Tanya gua, sambil mencoba meraih tangannya.
Fira nggak menolak, dan membalas dengan menggenggam tangan gua. Namun, wajahnya kembali ia arahkan ke luar, ke arah jendela. “Mau…”
“Mau makan apa?” Tanya gua.
“Terserah…” Jawabnya singkat.
“Ok…” Gua yang sudah menebak jawaban darinya, lalu mulai menyalakan mesin dan pergi dari area parkir komplek ruko tempat Fira biasa berlatih.
Di awal perjalanan, Fira nggak banyak bicara. Ia lebih banyak diam sambil mencoba menyambungkan ponselnya ke sistem nirkabel audio mobil. Namun, setelah berkali-kali mencoba dan gagal, ia akhirnya menyerah. “Ck…” Gumamnya pelan, lalu kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas.
“Mana sini…” Gua menyodorkan tangan ke arahnya, meminta ponselnya.
Fira mengeluarkan ponsel dan menyerahkannya.
Setelah selesai menyambungkan ponselnya ke sistem audio mobil, gua mengembalikan ponsel ke padanya. Ia membuka aplikasi pemutar musik, mulai memilih playlist dan sesaat kemudian terdengar lantunan lagu dengan suara penyanyi berbahasa korea.
Begitu mendengar lantunan lagu, moodnya perlahan mulai berubah. Ia ikut berdendang sambil sesekali menggoyangkan tubuhnya.
Gua lantas mulai memberanikan diri bertanya. Pertanyaan tentang apa yang terjadi semalam, saat ia baru pulang ke rumah.
“Semalem gimana?” Tanya gua.
“Ya gitu deh…”
“Gitu deh, tuh gimana?”
“Mmmm….”
“Mamah tau aku yang nganter?” Tanya gua lagi.
“Tau, orang dia ngintip dari jendela ruang tamu…”
“Terus?”
Fira tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan, mungkin merasa ceritanya bakal terdengar lucu.
“Kenapa sih?” Tanya gua lagi, penasaran.
“Jadi gini… Pas aku baru masuk ke ruang keluarga gelap. Terus keliatan cahaya layar HP nyorot ke muka Mamah kan. Aku kaget dong…” Ceritanya.
“Terus?”
“Aku pikir hantu, abis serem gitu…”
“Terus… terus, lewatin aja bagian yang itu, aku mau denger langsung intinya aja” Gua mengajukan protes.
“Apaan sih. Aku yang cerita ya terserah aku. Kamu tinggal dengerin aja pake protes segala…”
Gua menghela napas, lalu mengangguk pelan; “Yaudah iya…”
“Astaga!! Aku teriak gitu kan…” Ia melanjutkan, memperagakan gerakan dan ekspresi wajah terkejutnya.
Melihatnya seperti itu tentu bikin gua langsung tersenyum.
Sadar kalau gua tersenyum sambil terus menatapnya, Fira kembali menjeda cerita; “Kenapa? kok malah senyum-senyum?”
“Gapapa… Kamu pas kaget aja masih keliatan cantik…” Balas gua, masih sambil terus menatapnya.
“Apaan sih…” Serunya seraya mencoba memukul gua, namun gagal.
“Terus, lanjut…”
“Iya, terus aku nyalain lampu. Dan Mamah langsung nyamperin dan ngasih unjuk rekaman video pas aku turun dari mobil kamu…”
“Wah bakat jadi detektif…” Gua menggumam pelan.
“Beuh Mamah sih kalo urusan kayak gitu nomor satu…”
“Lanjut…”
“Terus aku ngomong deh ke Mamah…”
“Gimana? Ngomong gimana?” Tanya gua, mulai nggak sabar. Merasa kalau ini adalah poin penting dari seluruh ceritanya. Sementara, hal-hal lain tadi hanya intermezo semata.
Fira lantas mulai bercerita tentang obrolan singkat antara Nyokapnya semalam. Tentu saja masih sambil menirukan gerakan dan ekspresi saat obrolan terjadi. Nggak hanya gerakan dan ekspresi, Ia bahkan menggunakan nada dan intonasi yang berbeda saat mengimpersonate Nyokapnya.
Menurut cerita Fira, ia mencoba bicara dari hati ke hati ke Nyokapnya. Memberi pengertian tentang hubungan kami yang ‘baru saja’ dimulai ini. ‘Ini jalan Fira, biar Fira coba jalanin dulu ya Mah’ kira-kira begitu kalimat yang disampaikannya. Ya walaupun Nyokapnya nggak langsung menerima permintaan Fira. Dan malah bilang kalau Fira berlaku seperti itu karena mendapat tekanan dari gua.
“Terus, terus?” Tagih gua, semakin penasaran.
“Ya terus aku bilang gini; ‘Mamah, please, please biarin aku bikin keputusan untuk diriku sendiri. Kali ini aja…’” Fira bicara, berlagak seakan Nyokapnya sekarang berada di sini.
“Terus apa katanya?”
“Awalnya, Mamah diem aja. Tapi, pas aku pergi dan mau naik ke atas, ke kamar, dia nanya gini; ‘Sekali? terus kalau nanti gagal gimana?’”
“Terus kamu jawab apa?”
“Ya Gapapa, gagal asal dari keputusan aku sendiri…” Fira kembali bicara dengan lagak seakan gua adalah Nyokapnya.
“…”
“… Terus aku naik, masuk ke kamar, ke jendela, ngeliat kamu deh… Hehehe…” Ia menambahkan.
Senyum gua semakin terkembang. Gadis yang dulu polos, kini berubah menjadi sosok yang dewasa. Ia menjelma menjadi sosok Fira yang bukan lagi gadis kecil, tapi seseorang yang mulai mengajarkan gua soal keberanian. Hal yang bikin gua malah merasa kecil.
“Hebat…” Gumam gua seraya mencoba bertepuk tangan sambil menyetir.
Sisa perjalanan, Fira menghabiskan waktu dengan kembali mendengarkan musik sambil berdendang dan sesekali bergoyang. Nggak seberapa lama, kami akhirnya tiba di area parkir deretan ruko di depan kompleks perumahan tempat tinggalnya.
“Makan mie?” Gumam Fira saat menyadari gua memarkir mobil tepat di depan kedai mie ayam bangka. Tempat kami dulu sempat makan di sini beberapa kali.
“Iya… Kenapa? nggak mau ya?” Tanya gua sebelum mematikan mesin mobil.
“Mmm… Gapapa sih” Jawabnya.
Walau ia setuju tapi nggak begitu dengan ekspresinya. Wajahnya nampak berubah, kini terlihat datar dan dingin. Dan ekspresinya terus seperti itu, saat kami berdua berjalan mendekat ke arah kedai.
Gua menghentikan langkah dan meraih tangannya. Fira ikut berhenti, lalu menoleh ke arah gua; “Kenapa?”
Alih-alih langsung menjawab, gua hanya terus menatap wajahnya. “Jangan makan di sini deh…”
Lalu menarik tangannya untuk kembali ke mobil.
Fira nggak bilang apapun. Ia hanya terdiam saat kami masuk ke mobil. Dan langsung bicara begitu sudah berada di dalam; “Kenapa nggak jadi?”
“Gapapa… kamu kayaknya nggak nyaman” Jawab gua.
Fira tersenyum sebentar; “Susah ya ‘bohong’ sama kamu…”
“Hahaha…. Mau cerita kenapa kamu nggak nyaman makan di sini?” Tanya gua.
“Nggak tau, rasanya nggak nyaman aja… Kayak ada aura-aura jahatnya gitu” Jawab Fira sambil bergidik.
“Hahaha… Nggak mungkin ada kaitannya dengan hal gaib dong”
“Nggak, nggak, bukan… Nggak tau deh, pokoknya nggak nyaman aja…”
“Yaudah gapapa… Kita cari tempat lain aja…”
“Maaf ya, padahal kamu lagi pengen makan mie ya?”
“Gapapa, makan mie kan di rumah juga bisa”
“Yaudah makan mie di rumah aja…”
“Yaah, mana mungkin Mamah kamu nerima kedatangan aku?”
“Ya di rumah kamu lah…” Serunya.
Gua terdiam sejenak, menimbang faktor-faktor yang bisa jadi resiko ke depannya.
Melihat gua yang hanya terdiam, Fira kembali angkat bicara; “Kenapa? Nggak boleh? Yaudah kalo nggak boleh gapapa…”
Gua menghela napas pelan, lalu tersenyum kecil; “Boleh, tapi seandainya Mamah tau kamu main ke rumah aku… Bisa gawat nggak sih?”
Kami berdua, khususnya Fira tengah mencoba meluluhkan hati Nyokapnya. Walau sampai saat ini belum tau caranya, tapi kalau ia sampai mendapati Fira mengunjungi gua di rumah, bisa dipastikan rencana meluluhkan hatinya langsung gagal sebelum dimulai.
“Gapapa, aku tadi bahkan udah bilang ke Mamah kok kalo aku bareng kamu,” jawabnya santai, sambil kembali membuka ponsel dan scrolling playlist lagu.
Ia menunjuk ke arah depan, berlagak seperti kapten bajak laut menunjuk lautan lepas, lalu berseru; “Let’s Go!”
Gua meliriknya sekilas, masih agak ragu. Tapi melihat Fira yang kelihatan santai dan penuh rasa percaya diri, gua akhirnya mengangguk dan menggumam pelan; “Ok…”
Sepanjang perjalanan yang super singkat menuju rumah gua, Fira kembali berdendang dengan lagu-lagu K-pop dari playlist-nya. Sesekali dia melirik ke arah gua dan menyodorkan genggaman tangan yang sejak tadi ia gunakan sebagai pengganti mic. Sementara gua cuma bisa geleng-geleng kepala sambil terus tersenyum, senyum yang kini mulai terbiasa gua rasakan.
Setelah 10 menit berkendara, saat kami hampir tiba. Fira mulai mematikan musik dan melepas sabuk pengaman. Tubuhnya ditegakkan, seakan siap untuk turun dari mobil.
“Kamu udah tau rumah aku?” Tanya gua begitu melihat gerak-geriknya barusan.
“Tau lah… Sebelum ke Solo kan aku nyari kamu ke sini dulu”
“Terus?”
“Nggak ada orang….” Gumamnya.
Gua melambatkan laju mobil, lalu berhenti tepat di depan pagar. Butuh dua kali klakson untuk Kucay akhirnya muncul. Ia membuka pagar, lantas mendorongnya, memberi ruang agar mobil bisa masuk hingga ke carport.
Fira langsung keluar begitu mobil berhenti. Sambil memakai tas di punggungnya, matanya menatap sekeliling, seakan tengah memindai area yang baru dikenalnya. Ia mengumbar senyum ke Kucay yang tengah mendekat ke arah mobil.
“Halo…” Sapa Fira super ramah.
“Halo, mbak, eh kak… eh, apa ya…”
“Fira aja…”
“Ah, nggak sopan… Kak aja deh…”
Kucay beralih ke gua; “Mau langsung dimasukkin apa gimana Mas?” Tanyanya, merujuk ke mobil sedan biru yang baru gua pakai.
“Nggak usah, biarin aja..”
“Ok Mas” Balasnya lalu pergi masuk ke dalam.
Mendengar ucapan Kucay ke gua, Fira langsung tertawa. Tawa yang tertahan karena ia dengan cepat menutup mulutnya dengan tangan.
“Kenapa?” Tanya gua, kemudian mendekat, meraih tangannya dan mengajaknya masuk ke dalam.
“Gapapa, aneh aja denger kamu dipanggil ‘Mas’…” Jawabnya, masih terkekeh.
“Terus cocoknya dipanggil apa?” Tanya gua lagi.
Fira mengangkat kedua bahunya; “Nggak tau, ‘Mas’ sih sebenernya bagus. Tapi, mungkin aku baru denger aja kali, jadi aneh…”
Fira melepaskan genggaman tangannya begitu kami masuk ke dalam rumah. Sama seperti tadi, matanya menatap sekeliling, dan ekspresinya menunjukkan kekaguman yang bercampur rasa bingung.
“Kamu baru pindah? enggak kan?” Tanyanya, masih sambil menatap sekeliling.
“Nggak…”
“Terus kenapa kosong banget?” Tanyanya lagi, kali ini seraya terus masuk semakin jauh ke dalam, ke arah ruang tengah yang hampir kosong. Hanya sebuah sofa kecil dengan alas karpet tebal melingkar dan sebuah televisi besar di depannya.
Fira membentangkan tangan, lalu memutar tubuhnya. Sesekali ia berseru; “Woy…” yang menghasilkan suara gema saking kosongnya ruangan.
“Kenapa nggak diisi barang-barang?” Tanyanya seraya menoleh ke arah gua.
“Barang-barang apa?” Gua balik bertanya.
“Ya apa kek, sofa, pajangan, meja…”
“Buat?” Tanya gua lagi.
Fira lantas terdiam. Matanya menatap ke atas seakan tengah mencoba mencari jawaban; “Buat apa kek…” Jawabnya asal. Kemudian duduk di satu-satunya sofa di ruangan itu, sambil memeluk bantal kecil yang terlihat nyaman.
“Ya aku kan jarang pulang ke sini…”
Ia mendongak dan menatap gua; “Sekarang, mulai sekarang jadi sering pulang nggak?”
“Iya…” Gua mengangguk pelan. Lalu berjalan menuju ke arah dapur.
“Mau ke mana?” Serunya.
“Masak mie, Kamu mau nggak?” Tanya gua.
“Mau….” Serunya, lantas melompat dari sofa dan berlari ke arah gua. Di saat-saat seperti inilah kekanak-kanakanya muncul. Sesuatu yang selalu sukses bikin jantung gua berdebar nggak karuan.
“Ada mie rasa apa aja?” Tanyanya sambil terus mendekat. Sementara, gua terus mencari apa ada stok mie instan dengan membuka satu persatu laci dan lemari di dapur; yang ternyata kosong.
“Nggak ada” Gumam gua seraya melirik ke arahnya.
“Gimana dah…”
Akhirnya rencana masak dan makan mie instan di rumah batal. Gua akhirnya memesan makanan melalu aplikasi ojek online. “Nah, udah nggak ribet kan?” Ucap Fira.
“Iya…”
Kami makan sambil nonton TV, suasananya terasa begitu santai. Fira makan perlahan, sambil sesekali nyanyi kecil sambil goyang-goyang kepala mengikuti irama lagu yang diputar di layar televisi. Gua cuma bisa geleng-geleng kepala, gemes liat tingkahnya.
Tiba-tiba, di tengah makan, Kucay menghampiri. Di tangannya terlihat ia membawa plastik berisi porsi makanan miliknya. “Mas, pulang ya….” Ucapnya lirih.
“Iya, makasih ya cay…”
“Sama-sama Mas….” Jawab Kucay, lalu beralih ke Fira dan mengangguk sambil tersenyum; “Mari kak…”
“Mari…” Balas Fira, lalu tertawa saat Kucay sudah nggak lagi terlihat.
Gua melirik ke arahnya; “Kenapa? Masih lucu denger aku dipanggil ‘Mas’…” Tanya gua. Masih mencoba menahan tawa, Fira mengangguk.
Fira berhenti makan, ia meletakkan piring berisi porsi makan miliknya lalu menatap gua sambil tersenyum; “Aku boleh nggak panggil kamu ‘Mas’?”
“Kenapa nggak” Jawab gua, merasa panggilan apapun nggak masalah.
“Mas….” Ucapnya, menggoda. “Mas…” Ia mengulanginya, “… Kok nggak jawab?”
“Iyaaa…” Jawab gua singkat.
“Nah gitu dong…”
Selesai makan, gua mencuci piring sementara Fira meminta ijin untuk berkeliling rumah.
Beberapa menit berselang, di saat yang sama begitu gua selesai mencuci piring, Fira terlihat berjalan pelan menuruni anak tangga dari lantai dua; dari kamar gua. Ia menggenggam sebuah lukisan kanvas kecil, lalu mengangkatnya ke atas; “Ini siapa?” Tanyanya.
“Apanya?” Gua balik bertanya.
“Yang ada di lukisan…”
Gua menatap ke arah lukisan kanvas kecil buatan Elin yang ia berikan saat gua ‘kabur’ ke Lofoten dulu. Lukisan yang berisi soluet seorang gadis tengah menari di atas bukit dengan latar bangunan cottage dan laut yang membiru. Dedaunan kering terlihat terbang di sekeliling si gadis dalam lukisan, seakan mengiringi tariannya.
“Kamu…” Jawab gua singkat.
“Siapa yang bikin?” Tanyanya lagi.
Gua mengambil lukisan kecil itu dan membalik nya, terlihat sebuah goresan kuas yang tertulis; Fira, by Elin.
“Elin…” Gumamnya pelan, “… Siapa dia?”
“Teman…”
“Kenapa dia bisa mengenal aku?”
“Aku menceritakan tentang kamu, ke Elin…”
“Kamu cerita tentang aku ke siapa aja?” Tanyanya lagi, kali sambil terus mendekat.
“Banyak, Aku cerita tentang kamu ke angin, ke pelepah kayu, ke tanah yang basah, ke batu-batu, ke dunia….”
“Apa jawaban mereka?” Tanyanya lagi, kini mulai merebahkan kepalanya di dada gua, masuk ke dalam pelukan.
“Nggak ada, mereka hanya diam…” Gumam gua pelan dan mulai memeluknya.
Saat situasi tengah dalam momen yang begitu romantis. Terdengar suara pagar depan bergeser. Disusul, suara deru mesin mobil yang masuk ke dalam. Fira langsung celingak-celinguk, sementara gua sudah bisa menebak siapa yang datang.
“Siapa?” Tanya Fira sambil berbisik.
“Ncek, Ricky….” Jawab gua.
“Oh… kebetulan, aku mau nanya-nanya ke dia”
“Iya aku juga…” Jawab gua lagi. Merasa Ncek berhutang banyak penjelasan buat gua. Nggak, nggak, gua nggak butuh penjelasan darinya. Gua hanya ingin mendengar alasannya.
Pintu depan terbuka, Ncek muncul dan langsung tersenyum begitu menyadari kehadiran Fira di rumah gua. “Eh ada tamu….” Serunya.
“Apa kabar Fir, Sehat kan?” Tanyanya seraya mendekat dan mengjulurkan tangan ke arah Fira.
“Baik dok…” Jawab Fira dan membalas salamnya.
Ncek beralih ke gua, ia menyodorkan sebuah plastik putih berlogo minimarket yang sepertinya berisi minuman kaleng.
Gua bergeming dan hanya terus menatapnya tajam. Di sisi lain, Ncek pasang tampang bingung.
“Gua tadi ketemu Natalie. Dia udah cerita ke gua semuanya; semua yang dia tau….”
“Terus lo percaya?” Tanya Ncek.
Gue menggeleng sambil terus menatapnya. “Tapi gue juga jadi nggak percaya sama lo…”
Sementara, Fira yang sejak tadi berdiri di antara kami berdua hanya terus menatap gua. Ekspresinya menunjukkan kalau ia bingung dan penasaran.
“Apaan sih?” Bisiknya ke arah gua.
“Ini tentang asumsi dan prasangka yang aku bahas waktu itu. Dan kayaknya kita mulai bisa tau siapa orang yang harus dibenci…” Gua menjawab pertanyaan Fira tanpa mengalihkan pandangan dari Ncek.
“Dokter Ricky?” Tanya Fira, kali ini sambil menunjuk ke arah Ncek yang masih berdiri di depan gua.
“Gue bisa jelasin. Semua, semuanya….” Balas Ncek.
Tapi, gua dengan cepat menggeleng; “Sekarang, gue nggak mau denger apa-apa dari lo….”
“Jelasin ke aku aja!!” Seru Fira sambil mengangkat tangannya ke atas.
---
Lanjut ke bawah
Diubah oleh robotpintar 03-05-2025 19:39
delet3 dan 33 lainnya memberi reputasi
34
Kutip
Balas
Tutup