- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
superber dan 147 lainnya memberi reputasi
148
212.2K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#806
006-B Silent Signs of Love
Spoiler for 006-B Silent Signs of Love:
Kami berdua duduk di kursi beranda rumah ibu. Menatap ke arah halaman yang penuh dengan pepohonan; rindang. Angin sejuk menyelusup perlahan, membawa aroma tanah basah dan ketenangan yang sulit dijelaskan. Seolah waktu berhenti sejenak untuk kami. Tapi di dalam dada ini, ada debar yang nggak bisa gua redam, setiap kali gua melirik Fira yang duduk di sebelah, sibuk dengan gerakan tangannya.
Fira masih sibuk menghafal gerakan-gerakan bahasa isyarat yang baru saja gua ajarkan. Gerakan-gerakan dasar seperti penggunaan kata ganti orang; aku, kamu, kita, kami, mereka.
“Lagi, lagi…”pintanya sambil tertawa kecil yang membuat jantung sedikit tersendat . Ia tampak bersemangat, seperti anak kecil yang tak ingin pelajaran usai.
“Emang yang tadi udah hafal?” Tanya gua.
“Udah…”
“Coba mana liat” Pinta gua seraya melipat tangan.
“Nggak bisa… Kamu harus ajarin aku lanjutannya, kata kerja misalnya. Jadi bisa digabung…” Balasnya, kini wajahnya nampak serius.
“Ooh.. Ok” Gua lantas mulai memperagakan beberapa gerakan bahasa isyarat lain tentang emosi. Misalnya; Membuat pola lingkaran di depan dada yang artinya ‘senang’, menggoyangkan kedua telapak tangan yang terangkat yang artinya ‘gembira’ dan beberapa gerakan lainnya.
Sementara gua menjelaskan, Fira terus memperhatikan dengan seksama. Sesekali, ia mencoba mengikuti gerakan sambil mengulang-ulang penjelasan gua dengan gumaman lirih.
Nggak butuh waktu lama buat Fira mampu menguasai beberapa gerakan dasar bahasa isyarat. Ia lantas mulai mempraktekkannya ke gua.
‘Aku, bingung’ Ucapnya sambil menggerakkan tangan dengan telapak terbuka, membentuk gerakan melingkar di depan wajah.
Gua tersenyum.
“Jangan lupa ekspresinya, kasih ekspresi bingung…” Ucap gua.
“Oh iya, Sorry…” Balasnya, lalu kembali mengulang.
‘Aku bingung’ Ucapnya lagi dengan gerakan yang sama dengan sebelumnya. Namun, kali ini disertai dengan ekspresi bingung.
‘Bingung kenapa?’ gua balas bertanya.
Fira terdiam, bengong, melongo. Sepertinya bingung akan memberi jawaban apa.
Gua tersenyum, lantas berdiri dan masuk ke dalam rumah. Di ruang keluarga, di deretan buku-buku pada rak yang tinggi, gua mengambil salah satu buku. Buku yang nggak begitu tebal namun punya lembaran yang lebar. Buku panduan Bahasa isyarat Indonesia yang disertai dengan gambar-gambar instruksi.
“Nih…” Gua meletakkan buku tersebut di atas meja.
Fira nggak langsung merespon, ia hanya menatap ke arah buku tersebut, lalu kembali berpaling ke gua.
“Kenapa?” Tanya gua.
“Kamu nggak mau ngajarin aku, sampe-sampe harus ngasih buku buat aku belajar sendiri?” Tanyanya.
“Hahaha… Nggak, ini kamu simpen aja. Nanti kalau suatu saat ada yang bingung bisa liat di sini…” Balas gua.
Siang itu, kami berdua hanya menghabiskan waktu berlatih bahasa isyarat bersama. Sambil sesekali menyelipkan perbincangan dan cerita tentang masa lalu yang nggak diingatnya. Beberapa kali, Fira bahkan mencoba bertanya dengan bahasa isyarat yang baru dipelajari. Walau belum sempurna, tapi gua cukup mengerti.
“Apa dulu aku menyebalkan?” Tanyanya tiba-tiba.
Gua mengangguk pelan. “Waktu pertama ketemu, iya… Sangat menyebalkan”
“Terus? lama kelamaan? jadi jatuh hati? atau memang karena cuma aku yang bisa bikin kamu merasakan emosi?” Tanyanya lagi.
“Awalnya aku pikir, aku mengejar kamu cuma gara-gara alasan itu. Tapi, lama kelamaan, kok aku jadi khawatir sama kamu, lama kelamaan jadi…” Gua berhenti, tercekat, nggak sanggup melanjutkan.
“Jadi apa?” Tagihnya sambil menggoyangkan tubuh gua, nggak sabar ingin mendengar kata selanjutnya.
Gua menundukkan kepala, nggak berani menatapnya, lalu menjawab pelan; “Jadi rindu…”
“Ooowwwhh……. Maca cih?” Balasnya sambil terkekeh dan terus menatap gua. “Kalau aku nggak bikin kamu bisa membaca emosi, apa kamu akan tetap jatuh hati?” Tanyanya lagi. Tapi, kali ini ekspresi dan nada bicaranya berubah serius.
Gua terdiam sebentar, lalu mengangkat kedua bahu ke atas.
“Nggak tau… Mungkin iya, mungkin aja nggak…” Jawab gua, seraya mencoba memberanikan diri membalas tatapannya. “Tapi, bisa jadi hal itu hanya sebuah tanda. Tanda untuk aku memberanikan diri mengenalmu… lebih jauh” Gua menambahkan.
“Lalu…”
Gua kembali terdiam sebentar.
“Lalu, jatuh hati…”
Mendengar jawaban gua barusan, Fira tersenyum. Ia lalu memperagakan gerakan bahasa isyarat; ‘Terima kasih, sudah jatuh hati padaku’
‘Sama-sama’ Balas gua.
Ada dorongan yang kuat dari dalam hati untuk mengajukan pertanyaan tentang alasan sebenarnya ia bisa langsung menerima gua. Akan tetapi, rasa takut mendengar jawaban yang nggak sesuai harapan bikin gua mengurungkan niat tersebut.
Sementara Fira terus menatap gua, tatapan yang terasa berbeda. Ia kini terlihat seperti tengah mencoba membaca ekspresi.
“Kenapa? kamu mau ngomong apa?” Tanyanya.
Gua tentu kaget dengan pertanyaannya barusan. “Hah?” Gumam gua seraya mencoba meraba wajah sendiri.
Barulah gua sadari kalau saat sedang bersamanya, ekspresi gua pastilah terus berubah-ubah sesuai dengan emosi yang tengah gua rasakan.
“Gapapa….” Jawab gua tergagap.
“Jangan bohong…” Balasnya.
Gua lantas berusaha menampilkan ekspresi percaya diri yang sudah gua hafal. Yang sudah lama terlatih, yang sudah lama gua tunjukkan dan selalu berhasil memanipulasi orang.
Tapi, kali ini gagal. Fira tetap tau kalau gua menyembunyikan sesuatu. Tentu saja dengan cara membaca ekspresi gua.
Terbiasa dengan menunjukkan ekspresi yang nggak natural, ternyata membuat gua kesulitan mengontrol ekspresi yang benar-benar muncul dari emosi. Gua sama sekali nggak bisa menyembunyikannya.
Gua terdiam sesaat sebelum akhirnya bicara; “Aku tau, ada alasan-alasan yang nggak bisa kamu jelaskan tentang menerima aku…”
“…”
“… Tapi, aku yakin pasti ada sesuatu, ada hal yang bikin kamu benar-benar langsung yakin dan bisa menerima aku kembali” Ucap gua seraya menunduk.
“…”
“… Kalau kamu nggak mau jawab, gapapa… Karena jujur, aku takut mendengar jawabannya…” Gua menambahkan. Masih sambil menundukkan kepala, nggak berani membalas tatapannya.
“Oh itu… Hahaha… Bisa kok aku jawab..” Balasnya.
Namun, belum sempat Fira memberi jawaban. Terlihat dari kejauhan Ibu dan Anisa berjalan ke arah rumah.
‘Sudah pada makan belum?’ Tanya ibu.
Fira menoleh dan menatap gua sebentar, lalu kembali berpaling ke ibu dan memberi jawaban dengan bahasa isyarat; ‘Terima kasih, bu. Aku masih kenyang’
Ibu tersenyum, begitu pula dengan Anisa yang dari ekspresinya nampak kagum.
‘Wah, hebat. Sudah lancar. Yuk makan dulu’ Balas ibu, kemudian menoleh ke Anisa dan mengajaknya ikut masuk ke dalam untuk makan bersama. Namun, Anisa dengan sopan menolaknya. Ia hanya datang untuk mengantar ibu sekalian mengambil beberapa dokumen untuk keperluan yayasan.
Ibu memaksa. Akhirnya Anisa menyerah dan ikut makan bersama.
Kami berempat duduk di kursi meja makan, menghadap ke aneka lauk yang sepertinya dimasak ibu tadi pagi. Nggak ada perbincangan, hanya samar suara denting sendok dan garpu yang beradu; hening. Gua menatap Fira yang makan dengan cara yang jauh berbeda dengan Fira yang gua kenal dulu. Kini ia bak putri solo yang tetap anggun dan bersikap sopan walaupun tengah makan.
Selesai makan, Anisa lalu pamit. Ibu lantas memberi titah ke gua; ‘Mandi dulu sana’
Sementara, ia terlihat tengah ‘berbincang’ dengan Fira yang nampak gelagapan menanggapi ucapan-ucapan Ibu. Beberapa kali terlihat ia membalik lembaran buku pemberian gua. Mencoba memahami ibu.
Memahami Ibu. Kalimat paling indah yang pernah ada di dunia.
Selesai mandi, gua menuju ke kamar. Terlihat tas ransel milik Fira tergeletak di lantai, sementara buku catatan dua dulu berada di atas ranjang. Gua duduk dan mengambil buku tersebut, lantas mulai membalik lembaran demi lembaran. ‘Ia sudah membacanya…’ gumam gua pelan. Lalu, berbaring, merebahkan tubuh di atas ranjang, dan memejamkan mata. Rasa kantuk yang sejak tadi gua tahan, kini semakin menjadi. Gua lalu terlelap.
Saat terbangun, Fira sudah duduk di lantai kamar, sibuk membereskan tas ranselnya.
“Mau pulang?” Tanya gua.
Fira yang menyadari gua baru saja bangun lantas menoleh dan tersenyum. Duh, lagi-lagi senyum yang meluluhkan hati.
“Iya…” Jawabnya, lalu berhenti membereskan tas dan beringsut mendekat. Kini wajahnya di posisikan di tepian ranjang dengan kedua tangan menjadi bantalannya.
“Tunggu.. Aku pamit Ibu dulu…” Jawab gua dan bersiap bangkit.
“Nggak usah, kamu istirahat aja. Nanti capek.. Aku pulang bareng Grace” Jawabnya.
“Grace?” Tanya gua.
“Iya temen kampus. Aku kesini bareng dia. Nggak enak kalau pulangnya nggak bareng” Fira menjelaskan.
Gua bangkit dari ranjang dan berdiri. “Gapapa, ayo aku yang ngomong sama Grace”
Fira nggak memberi jawaban ‘Iya’ atau ‘Tidak’ Ia hanya tersenyum.
Menit berikutnya Fira terlihat sudah bersiap. Ia tengah ‘berbincang’ bersama Ibu di teras depan. Sementara, gua masih mencoba menggulung lengan kemeja. Hal, yang sejak dulu sulit gua lakukan sendiri. Melihat gua kesulitan, ibu lantas mendekat dan mulai membantu gua melipat lengan baju hingga rapi.
Di sana, Fira menatap gua sambil tersenyum. Di tangannya terlihat ia memainkan sebuah pena. Pena dengan banyak tambalan. Pena milik gua, pena pemberian Ibu.
“Nih…” Ucap Fira sambil menyodorkan pena tesebut ke gua. “Punya kamu kan?” Tambahnya.
“Iya…” Jawab gua lantas menerima pena tersebut lalu memasangnya di saku kemeja.
Ibu masuk ke dalam, lalu kembali keluar menit berikutnya. Ia membawa sebuah pena yang sama persis; identik. Hanya saja pena ini terlihat masih bagus dan mulus.
‘Ini buat kamu’ Ucap Ibu dengan bahasa Isyarat, seraya menyerahkan pena miliknya ke Fira.
“Hah? buat aku?” Serunya. Lalu, meralat ucapannya dengan bahasa isyarat yang masih salah.
‘Iya, buat kamu. Biar jadi sepasang’ Jawab Ibu.
Fira lalu memperagakan gerakan bahasa isyarat untuk ‘Terima kasih’
‘Sama-sama, cantik’ Jawab Ibu sambil tersenyum.
Lalu, tiba-tiba Fira mengambil pena jelek milik gua dari saku kemeja dan menukarnya dengan pena pemberian ibu.
Sambil menyelipkan pena tersebut ke saku kemeja, ia bicara; “Kamu lebih butuh pena yang bagus daripada aku. Untuk menulis resep…”
Sebuah ucapan yang mirip dengan kalimat dari Ibu dulu sewaktu memberikan gua pena ini sebaga hadiah.
‘Terima Kasih’ Ucap gua ke Fira dengan bahasa isyarat.
Beberapa jam berikutnya, kami berdua sudah berada di mobil, menyusuri jalan bebas hambatan menuju ke Jakarta. Sepanjang perjalanan, Fira terus berdendang mengikuti lagu yang diputarnya. Sesekali, ia ikut bergoyang sesuai irama. Kadang juga ia menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata; terlelap.
“Whoaam…” Ia menguap, sambil berusaha menutupi mulutnya dengan telapak tangan. Lalu menatap gua; malu-malu. “Maaf ya…”
“Maaf untuk apa?” Tanya gua.
“Hehehe, karena tidur…” Jawabnya.
“Sejak kapan orang tidur jadi salah?” Tanya gua lagi.
“Hehehe…. Kalo laper perlu minta maaf nggak?”
“Kamu laper? bentar ya…”
Nggak lama berselang, gua melambatkan laju mobil, masuk ke rest area. Gua menurunkan Fira di salah satu resto cepat saji yang berada di sana, lalu kembali memutar untuk mengisi bahan bakar.
“Lama banget?” Tanya Fira saat gua baru selesai mengisi bahan bakar dan bergabung dengannya yang kini sudah duduk di kursi keda kopi.
“Iya, antre…” Jawab gua. “Udah makannya?” Tanya gua.
“Udah…” Fira menjawab singkat, lalu menyodorkan kemasan sandwich ke arah gua. Sandwich yang dibelinya dari resto cepat saji tadi.
Kami berdua duduk di beranda kedai kopi rest area jalan bebas hambatan menuju ke Jakarta. Memandangi mobil-mobil yang bergerak cepat tanpa halangan, menimbulkan suara getaran yang menggetarkan dada. Gua memindahkan kursi besi, menyeberangi meja bundar kecil yang memisahkan kami. Lalu duduk di sebelahnya.
Sambil sesekali menyeruput kopi, Fira mengambil tas ransel, mengeluarkan buku catatan lama milik gua.
“Tadi kamu nanya kan? tentang hal yang bikin aku benar-benar langsung yakin dan bisa menerima kamu kembali” Ucapnya.
“Iya…” Jawab gua singkat.
“Aku mau jawab sekarang boleh?” Tanyanya.
“Boleh…”
Ia lalu membolak-balik lembaran buku catatan, kemudian mengeluarkan lipatan kertas dari dalam buku.
“Ini…” Ucapnya, seraya menyerahkan lipatan kertas ke gua.
Gua membuka lipatan kertas, terlihat tulisan tangan yang gua kenali. Tulisan tangan milik Ibu.
—
“Ini, yang bikin kamu yakin?”Tanya gua ke Fira sembari menunjukkan lipatan kertas berisi tulisan ibu yang baru selesai gua baca.
“Iya… dan menangis”
“Menangis?”
“Iya… Aneh kan? Padahal aku bahkan nggak mengenal kamu. Tapi entah kenapa ada getaran yang hebat di dalam dada saat membacanya. Ada semacam dorongan yang bikin aku yakin kalau dulu, aku benar-benar jatuh hati ke kamu…” Balasnya.
“…”
“… Dari situ juga aku bisa tau betapa beratnya menjadi dirimu..”
“Jadi aku?” Tanya gua sambil menunjuk ke diri sendiri dan menyeringai.
“… Kamu pasti lelah karena selama ini selalu mencoba mengerti dunia” Ucapnya seraya membelai pipi gua. “… belajar membaca ekspresi, mencoba memahami semuanya sendirian. Sementara, dunia ini sama sekali nggak mau mencoba mengerti kamu”
Gua tersenyum dan balas membelai pipinya.
Saat itu, semuanya terasa utuh. Pelan, tapi pasti. Seperti cinta yang dipelajari kembali dari awal. Lewat isyarat, tatapan, dan keheningan yang nggak perlu dijelaskan.
“Kalau kamu bisa mengerti aku, rasannya sudah cukup. Aku nggak perlu pengertian orang lain, pengertian dari dunia… Aku cuma butuh kamu…”
Fira tersenyum, matanya berkilau di bawah lampu rest area. Dia nggak menjawab, tapi mulai menggerakan tangannya, memberi bahasa isyarat; “senang”. Saat itu, di tengah deru mobil dan aroma kopi yang memudar gua kembali merasakan sensasi yang sudah lama hilang.
Dia.
—
Fira masih sibuk menghafal gerakan-gerakan bahasa isyarat yang baru saja gua ajarkan. Gerakan-gerakan dasar seperti penggunaan kata ganti orang; aku, kamu, kita, kami, mereka.
“Lagi, lagi…”pintanya sambil tertawa kecil yang membuat jantung sedikit tersendat . Ia tampak bersemangat, seperti anak kecil yang tak ingin pelajaran usai.
“Emang yang tadi udah hafal?” Tanya gua.
“Udah…”
“Coba mana liat” Pinta gua seraya melipat tangan.
“Nggak bisa… Kamu harus ajarin aku lanjutannya, kata kerja misalnya. Jadi bisa digabung…” Balasnya, kini wajahnya nampak serius.
“Ooh.. Ok” Gua lantas mulai memperagakan beberapa gerakan bahasa isyarat lain tentang emosi. Misalnya; Membuat pola lingkaran di depan dada yang artinya ‘senang’, menggoyangkan kedua telapak tangan yang terangkat yang artinya ‘gembira’ dan beberapa gerakan lainnya.
Sementara gua menjelaskan, Fira terus memperhatikan dengan seksama. Sesekali, ia mencoba mengikuti gerakan sambil mengulang-ulang penjelasan gua dengan gumaman lirih.
Nggak butuh waktu lama buat Fira mampu menguasai beberapa gerakan dasar bahasa isyarat. Ia lantas mulai mempraktekkannya ke gua.
‘Aku, bingung’ Ucapnya sambil menggerakkan tangan dengan telapak terbuka, membentuk gerakan melingkar di depan wajah.
Gua tersenyum.
“Jangan lupa ekspresinya, kasih ekspresi bingung…” Ucap gua.
“Oh iya, Sorry…” Balasnya, lalu kembali mengulang.
‘Aku bingung’ Ucapnya lagi dengan gerakan yang sama dengan sebelumnya. Namun, kali ini disertai dengan ekspresi bingung.
‘Bingung kenapa?’ gua balas bertanya.
Fira terdiam, bengong, melongo. Sepertinya bingung akan memberi jawaban apa.
Gua tersenyum, lantas berdiri dan masuk ke dalam rumah. Di ruang keluarga, di deretan buku-buku pada rak yang tinggi, gua mengambil salah satu buku. Buku yang nggak begitu tebal namun punya lembaran yang lebar. Buku panduan Bahasa isyarat Indonesia yang disertai dengan gambar-gambar instruksi.
“Nih…” Gua meletakkan buku tersebut di atas meja.
Fira nggak langsung merespon, ia hanya menatap ke arah buku tersebut, lalu kembali berpaling ke gua.
“Kenapa?” Tanya gua.
“Kamu nggak mau ngajarin aku, sampe-sampe harus ngasih buku buat aku belajar sendiri?” Tanyanya.
“Hahaha… Nggak, ini kamu simpen aja. Nanti kalau suatu saat ada yang bingung bisa liat di sini…” Balas gua.
Siang itu, kami berdua hanya menghabiskan waktu berlatih bahasa isyarat bersama. Sambil sesekali menyelipkan perbincangan dan cerita tentang masa lalu yang nggak diingatnya. Beberapa kali, Fira bahkan mencoba bertanya dengan bahasa isyarat yang baru dipelajari. Walau belum sempurna, tapi gua cukup mengerti.
“Apa dulu aku menyebalkan?” Tanyanya tiba-tiba.
Gua mengangguk pelan. “Waktu pertama ketemu, iya… Sangat menyebalkan”
“Terus? lama kelamaan? jadi jatuh hati? atau memang karena cuma aku yang bisa bikin kamu merasakan emosi?” Tanyanya lagi.
“Awalnya aku pikir, aku mengejar kamu cuma gara-gara alasan itu. Tapi, lama kelamaan, kok aku jadi khawatir sama kamu, lama kelamaan jadi…” Gua berhenti, tercekat, nggak sanggup melanjutkan.
“Jadi apa?” Tagihnya sambil menggoyangkan tubuh gua, nggak sabar ingin mendengar kata selanjutnya.
Gua menundukkan kepala, nggak berani menatapnya, lalu menjawab pelan; “Jadi rindu…”
“Ooowwwhh……. Maca cih?” Balasnya sambil terkekeh dan terus menatap gua. “Kalau aku nggak bikin kamu bisa membaca emosi, apa kamu akan tetap jatuh hati?” Tanyanya lagi. Tapi, kali ini ekspresi dan nada bicaranya berubah serius.
Gua terdiam sebentar, lalu mengangkat kedua bahu ke atas.
“Nggak tau… Mungkin iya, mungkin aja nggak…” Jawab gua, seraya mencoba memberanikan diri membalas tatapannya. “Tapi, bisa jadi hal itu hanya sebuah tanda. Tanda untuk aku memberanikan diri mengenalmu… lebih jauh” Gua menambahkan.
“Lalu…”
Gua kembali terdiam sebentar.
“Lalu, jatuh hati…”
Mendengar jawaban gua barusan, Fira tersenyum. Ia lalu memperagakan gerakan bahasa isyarat; ‘Terima kasih, sudah jatuh hati padaku’
‘Sama-sama’ Balas gua.
Ada dorongan yang kuat dari dalam hati untuk mengajukan pertanyaan tentang alasan sebenarnya ia bisa langsung menerima gua. Akan tetapi, rasa takut mendengar jawaban yang nggak sesuai harapan bikin gua mengurungkan niat tersebut.
Sementara Fira terus menatap gua, tatapan yang terasa berbeda. Ia kini terlihat seperti tengah mencoba membaca ekspresi.
“Kenapa? kamu mau ngomong apa?” Tanyanya.
Gua tentu kaget dengan pertanyaannya barusan. “Hah?” Gumam gua seraya mencoba meraba wajah sendiri.
Barulah gua sadari kalau saat sedang bersamanya, ekspresi gua pastilah terus berubah-ubah sesuai dengan emosi yang tengah gua rasakan.
“Gapapa….” Jawab gua tergagap.
“Jangan bohong…” Balasnya.
Gua lantas berusaha menampilkan ekspresi percaya diri yang sudah gua hafal. Yang sudah lama terlatih, yang sudah lama gua tunjukkan dan selalu berhasil memanipulasi orang.
Tapi, kali ini gagal. Fira tetap tau kalau gua menyembunyikan sesuatu. Tentu saja dengan cara membaca ekspresi gua.
Terbiasa dengan menunjukkan ekspresi yang nggak natural, ternyata membuat gua kesulitan mengontrol ekspresi yang benar-benar muncul dari emosi. Gua sama sekali nggak bisa menyembunyikannya.
Gua terdiam sesaat sebelum akhirnya bicara; “Aku tau, ada alasan-alasan yang nggak bisa kamu jelaskan tentang menerima aku…”
“…”
“… Tapi, aku yakin pasti ada sesuatu, ada hal yang bikin kamu benar-benar langsung yakin dan bisa menerima aku kembali” Ucap gua seraya menunduk.
“…”
“… Kalau kamu nggak mau jawab, gapapa… Karena jujur, aku takut mendengar jawabannya…” Gua menambahkan. Masih sambil menundukkan kepala, nggak berani membalas tatapannya.
“Oh itu… Hahaha… Bisa kok aku jawab..” Balasnya.
Namun, belum sempat Fira memberi jawaban. Terlihat dari kejauhan Ibu dan Anisa berjalan ke arah rumah.
‘Sudah pada makan belum?’ Tanya ibu.
Fira menoleh dan menatap gua sebentar, lalu kembali berpaling ke ibu dan memberi jawaban dengan bahasa isyarat; ‘Terima kasih, bu. Aku masih kenyang’
Ibu tersenyum, begitu pula dengan Anisa yang dari ekspresinya nampak kagum.
‘Wah, hebat. Sudah lancar. Yuk makan dulu’ Balas ibu, kemudian menoleh ke Anisa dan mengajaknya ikut masuk ke dalam untuk makan bersama. Namun, Anisa dengan sopan menolaknya. Ia hanya datang untuk mengantar ibu sekalian mengambil beberapa dokumen untuk keperluan yayasan.
Ibu memaksa. Akhirnya Anisa menyerah dan ikut makan bersama.
Kami berempat duduk di kursi meja makan, menghadap ke aneka lauk yang sepertinya dimasak ibu tadi pagi. Nggak ada perbincangan, hanya samar suara denting sendok dan garpu yang beradu; hening. Gua menatap Fira yang makan dengan cara yang jauh berbeda dengan Fira yang gua kenal dulu. Kini ia bak putri solo yang tetap anggun dan bersikap sopan walaupun tengah makan.
Selesai makan, Anisa lalu pamit. Ibu lantas memberi titah ke gua; ‘Mandi dulu sana’
Sementara, ia terlihat tengah ‘berbincang’ dengan Fira yang nampak gelagapan menanggapi ucapan-ucapan Ibu. Beberapa kali terlihat ia membalik lembaran buku pemberian gua. Mencoba memahami ibu.
Memahami Ibu. Kalimat paling indah yang pernah ada di dunia.
Selesai mandi, gua menuju ke kamar. Terlihat tas ransel milik Fira tergeletak di lantai, sementara buku catatan dua dulu berada di atas ranjang. Gua duduk dan mengambil buku tersebut, lantas mulai membalik lembaran demi lembaran. ‘Ia sudah membacanya…’ gumam gua pelan. Lalu, berbaring, merebahkan tubuh di atas ranjang, dan memejamkan mata. Rasa kantuk yang sejak tadi gua tahan, kini semakin menjadi. Gua lalu terlelap.
Saat terbangun, Fira sudah duduk di lantai kamar, sibuk membereskan tas ranselnya.
“Mau pulang?” Tanya gua.
Fira yang menyadari gua baru saja bangun lantas menoleh dan tersenyum. Duh, lagi-lagi senyum yang meluluhkan hati.
“Iya…” Jawabnya, lalu berhenti membereskan tas dan beringsut mendekat. Kini wajahnya di posisikan di tepian ranjang dengan kedua tangan menjadi bantalannya.
“Tunggu.. Aku pamit Ibu dulu…” Jawab gua dan bersiap bangkit.
“Nggak usah, kamu istirahat aja. Nanti capek.. Aku pulang bareng Grace” Jawabnya.
“Grace?” Tanya gua.
“Iya temen kampus. Aku kesini bareng dia. Nggak enak kalau pulangnya nggak bareng” Fira menjelaskan.
Gua bangkit dari ranjang dan berdiri. “Gapapa, ayo aku yang ngomong sama Grace”
Fira nggak memberi jawaban ‘Iya’ atau ‘Tidak’ Ia hanya tersenyum.
Menit berikutnya Fira terlihat sudah bersiap. Ia tengah ‘berbincang’ bersama Ibu di teras depan. Sementara, gua masih mencoba menggulung lengan kemeja. Hal, yang sejak dulu sulit gua lakukan sendiri. Melihat gua kesulitan, ibu lantas mendekat dan mulai membantu gua melipat lengan baju hingga rapi.
Di sana, Fira menatap gua sambil tersenyum. Di tangannya terlihat ia memainkan sebuah pena. Pena dengan banyak tambalan. Pena milik gua, pena pemberian Ibu.
“Nih…” Ucap Fira sambil menyodorkan pena tesebut ke gua. “Punya kamu kan?” Tambahnya.
“Iya…” Jawab gua lantas menerima pena tersebut lalu memasangnya di saku kemeja.
Ibu masuk ke dalam, lalu kembali keluar menit berikutnya. Ia membawa sebuah pena yang sama persis; identik. Hanya saja pena ini terlihat masih bagus dan mulus.
‘Ini buat kamu’ Ucap Ibu dengan bahasa Isyarat, seraya menyerahkan pena miliknya ke Fira.
“Hah? buat aku?” Serunya. Lalu, meralat ucapannya dengan bahasa isyarat yang masih salah.
‘Iya, buat kamu. Biar jadi sepasang’ Jawab Ibu.
Fira lalu memperagakan gerakan bahasa isyarat untuk ‘Terima kasih’
‘Sama-sama, cantik’ Jawab Ibu sambil tersenyum.
Lalu, tiba-tiba Fira mengambil pena jelek milik gua dari saku kemeja dan menukarnya dengan pena pemberian ibu.
Sambil menyelipkan pena tersebut ke saku kemeja, ia bicara; “Kamu lebih butuh pena yang bagus daripada aku. Untuk menulis resep…”
Sebuah ucapan yang mirip dengan kalimat dari Ibu dulu sewaktu memberikan gua pena ini sebaga hadiah.
‘Terima Kasih’ Ucap gua ke Fira dengan bahasa isyarat.
Beberapa jam berikutnya, kami berdua sudah berada di mobil, menyusuri jalan bebas hambatan menuju ke Jakarta. Sepanjang perjalanan, Fira terus berdendang mengikuti lagu yang diputarnya. Sesekali, ia ikut bergoyang sesuai irama. Kadang juga ia menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata; terlelap.
“Whoaam…” Ia menguap, sambil berusaha menutupi mulutnya dengan telapak tangan. Lalu menatap gua; malu-malu. “Maaf ya…”
“Maaf untuk apa?” Tanya gua.
“Hehehe, karena tidur…” Jawabnya.
“Sejak kapan orang tidur jadi salah?” Tanya gua lagi.
“Hehehe…. Kalo laper perlu minta maaf nggak?”
“Kamu laper? bentar ya…”
Nggak lama berselang, gua melambatkan laju mobil, masuk ke rest area. Gua menurunkan Fira di salah satu resto cepat saji yang berada di sana, lalu kembali memutar untuk mengisi bahan bakar.
“Lama banget?” Tanya Fira saat gua baru selesai mengisi bahan bakar dan bergabung dengannya yang kini sudah duduk di kursi keda kopi.
“Iya, antre…” Jawab gua. “Udah makannya?” Tanya gua.
“Udah…” Fira menjawab singkat, lalu menyodorkan kemasan sandwich ke arah gua. Sandwich yang dibelinya dari resto cepat saji tadi.
Kami berdua duduk di beranda kedai kopi rest area jalan bebas hambatan menuju ke Jakarta. Memandangi mobil-mobil yang bergerak cepat tanpa halangan, menimbulkan suara getaran yang menggetarkan dada. Gua memindahkan kursi besi, menyeberangi meja bundar kecil yang memisahkan kami. Lalu duduk di sebelahnya.
Sambil sesekali menyeruput kopi, Fira mengambil tas ransel, mengeluarkan buku catatan lama milik gua.
“Tadi kamu nanya kan? tentang hal yang bikin aku benar-benar langsung yakin dan bisa menerima kamu kembali” Ucapnya.
“Iya…” Jawab gua singkat.
“Aku mau jawab sekarang boleh?” Tanyanya.
“Boleh…”
Ia lalu membolak-balik lembaran buku catatan, kemudian mengeluarkan lipatan kertas dari dalam buku.
“Ini…” Ucapnya, seraya menyerahkan lipatan kertas ke gua.
Gua membuka lipatan kertas, terlihat tulisan tangan yang gua kenali. Tulisan tangan milik Ibu.
—
Quote:
Maafkan ibu ya, Fira, karena harus menulis panjang lebar. Ini satu-satunya cara Ibu bisa berbicara kepadamu. Maafkan juga, karena dulu Ibu, pernah menjadi bagian dari luka yang memisahkan kalian.
Ibu tahu kamu tidak mengingatnya, Nak. Tapi, saat kamu mencari tahu tentang dia, menelusuri jejaknya hingga sampai ke sini, Ibu merasa seperti melihat keberanian yang sama seperti miliknya, sama seperti dia; seperti Lian.
Ketika pertama kali mendengar tentangmu, tentang kamu yang mau menerima Lian apa adanya. Ibu langsung merasa kamu adalah anugerah yang tidak pernah Ibu bisa bayangkan akan datang ke hidupnya.
Terima kasih dari lubuk hati Ibu yang paling dalam, karena pernah mencintainya, meski dunia, tidak selalu mengerti.
Lian pria yang luar biasa.
Tapi, Fira, dia tidak pernah punya kemampuan yang kita anggap sederhana: memahami emosi, dan ekspresi orang lain. Ini bukan salahnya. Sejak kecil, dia tumbuh dan berusaha sendirian. Ibu bahkan nggak bisa mendengarnya memanggil, ibu bahkan nggak bisa menemaninya belajar, Ibu bahkan nggak pernah mengambil rapot nya di sekolah. Yang ibu bisa hanya menatap matanya, mencoba menebak apa yang dia rasakan.
Sejak dulu, Lian belajar hidup di dunia yang sunyi, berusaha memahami tawa, air mata, dan kemarahan orang lain. Dia seperti burung yang terbang tanpa tahu arah angin.
Hidupnya tidak mudah. Tidak pernah mudah. Karenanya, dia selalu merasa harus menjadi yang terbaik, bukan untuk dirinya, tapi untuk meyakinkan orang-orang kalau dia layak. Tapi di balik semua itu, hatinya rapuh. Dia takut menjalin hubungan. Dia takut nggak cukup baik untuk orang lain, dia takut orang lain nggak memahami aku; ibunya. Dia takut nggak bisa mencintai dengan benar.
Dan kemudian, kamu datang.
Kamu, Fira, adalah keajaiban baginya. Kamu menerimanya. Kamu mengajarinya bagaimana tersenyum bukan karena kewajiban, tapi karena kebahagiaan.
Sekarang, Lian bukan lagi seperti dulu. Setelah kehilangan kamu, dia berubah. Dia masih dokter, tapi ada kekosongan di hatinya, ia kehilangan tujuan hidup, seperti langit tanpa bintang. Dia tidak pernah bilang, tapi Ibu tahu, dia merindukanmu setiap hari.
Fira, ibu tidak tahu apakah ini akan mengembalikan apa yang hilang. Mungkin kamu tidak akan pernah mengingat Lian seperti dulu. Tapi jika ada sedikit saja getaran di hatimu saat membaca ini, jika kamu merasa ada sesuatu yang memanggilmu, dengarkan itu.
Lian memang bukan pria sempurna, tapi dia pria yang akan memberikan segalanya untuk orang yang dia cintai. Dia pernah, dan masih mencintaimu dengan cara yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.
Sekali lagi Terima kasih, Fira, karena pernah menjadi bagian dari hidupnya. Maafkan Ibu atas kesalahan ibu.
Terima kasih.
—
Ibu tahu kamu tidak mengingatnya, Nak. Tapi, saat kamu mencari tahu tentang dia, menelusuri jejaknya hingga sampai ke sini, Ibu merasa seperti melihat keberanian yang sama seperti miliknya, sama seperti dia; seperti Lian.
Ketika pertama kali mendengar tentangmu, tentang kamu yang mau menerima Lian apa adanya. Ibu langsung merasa kamu adalah anugerah yang tidak pernah Ibu bisa bayangkan akan datang ke hidupnya.
Terima kasih dari lubuk hati Ibu yang paling dalam, karena pernah mencintainya, meski dunia, tidak selalu mengerti.
Lian pria yang luar biasa.
Tapi, Fira, dia tidak pernah punya kemampuan yang kita anggap sederhana: memahami emosi, dan ekspresi orang lain. Ini bukan salahnya. Sejak kecil, dia tumbuh dan berusaha sendirian. Ibu bahkan nggak bisa mendengarnya memanggil, ibu bahkan nggak bisa menemaninya belajar, Ibu bahkan nggak pernah mengambil rapot nya di sekolah. Yang ibu bisa hanya menatap matanya, mencoba menebak apa yang dia rasakan.
Sejak dulu, Lian belajar hidup di dunia yang sunyi, berusaha memahami tawa, air mata, dan kemarahan orang lain. Dia seperti burung yang terbang tanpa tahu arah angin.
Hidupnya tidak mudah. Tidak pernah mudah. Karenanya, dia selalu merasa harus menjadi yang terbaik, bukan untuk dirinya, tapi untuk meyakinkan orang-orang kalau dia layak. Tapi di balik semua itu, hatinya rapuh. Dia takut menjalin hubungan. Dia takut nggak cukup baik untuk orang lain, dia takut orang lain nggak memahami aku; ibunya. Dia takut nggak bisa mencintai dengan benar.
Dan kemudian, kamu datang.
Kamu, Fira, adalah keajaiban baginya. Kamu menerimanya. Kamu mengajarinya bagaimana tersenyum bukan karena kewajiban, tapi karena kebahagiaan.
Sekarang, Lian bukan lagi seperti dulu. Setelah kehilangan kamu, dia berubah. Dia masih dokter, tapi ada kekosongan di hatinya, ia kehilangan tujuan hidup, seperti langit tanpa bintang. Dia tidak pernah bilang, tapi Ibu tahu, dia merindukanmu setiap hari.
Fira, ibu tidak tahu apakah ini akan mengembalikan apa yang hilang. Mungkin kamu tidak akan pernah mengingat Lian seperti dulu. Tapi jika ada sedikit saja getaran di hatimu saat membaca ini, jika kamu merasa ada sesuatu yang memanggilmu, dengarkan itu.
Lian memang bukan pria sempurna, tapi dia pria yang akan memberikan segalanya untuk orang yang dia cintai. Dia pernah, dan masih mencintaimu dengan cara yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.
Sekali lagi Terima kasih, Fira, karena pernah menjadi bagian dari hidupnya. Maafkan Ibu atas kesalahan ibu.
Terima kasih.
—
“Ini, yang bikin kamu yakin?”Tanya gua ke Fira sembari menunjukkan lipatan kertas berisi tulisan ibu yang baru selesai gua baca.
“Iya… dan menangis”
“Menangis?”
“Iya… Aneh kan? Padahal aku bahkan nggak mengenal kamu. Tapi entah kenapa ada getaran yang hebat di dalam dada saat membacanya. Ada semacam dorongan yang bikin aku yakin kalau dulu, aku benar-benar jatuh hati ke kamu…” Balasnya.
“…”
“… Dari situ juga aku bisa tau betapa beratnya menjadi dirimu..”
“Jadi aku?” Tanya gua sambil menunjuk ke diri sendiri dan menyeringai.
“… Kamu pasti lelah karena selama ini selalu mencoba mengerti dunia” Ucapnya seraya membelai pipi gua. “… belajar membaca ekspresi, mencoba memahami semuanya sendirian. Sementara, dunia ini sama sekali nggak mau mencoba mengerti kamu”
Gua tersenyum dan balas membelai pipinya.
Saat itu, semuanya terasa utuh. Pelan, tapi pasti. Seperti cinta yang dipelajari kembali dari awal. Lewat isyarat, tatapan, dan keheningan yang nggak perlu dijelaskan.
“Kalau kamu bisa mengerti aku, rasannya sudah cukup. Aku nggak perlu pengertian orang lain, pengertian dari dunia… Aku cuma butuh kamu…”
Fira tersenyum, matanya berkilau di bawah lampu rest area. Dia nggak menjawab, tapi mulai menggerakan tangannya, memberi bahasa isyarat; “senang”. Saat itu, di tengah deru mobil dan aroma kopi yang memudar gua kembali merasakan sensasi yang sudah lama hilang.
Dia.
—
Christina Perri - A Thousand Years
Heart beats fast
Colours and promises
How to be brave?
How can I love when I'm afraid to fall?
But watching you stand alone
All of my doubt
Suddenly goes away somehow
One step closer
I have died every day waiting for you
Darling, don't be afraid
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
Time stands still
Beauty in all she is
I will be brave
I will not let anything take away
What's standing in front of me
Every breath
Every hour has come to this
One step closer
I have died every day waiting for you
Darling, don't be afraid
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
One step closer
One step closer
I have died every day waiting for you
Darling, don't be afraid
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
delet3 dan 54 lainnya memberi reputasi
55
Kutip
Balas
Tutup