Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Pun kami berjalan bersisian sejak dari bangsal hingga ke area parkir, nggak ada satupun kata yang terucap. Kami berdua hanya berjalan sambil terdiam. Barulah saat gua tengah membuka pintu mobil, tiba-tiba Fira melayangkan pukulan ke arah punggung gua. “Aku benci sama kamu…”Serunya.
Gua nggak berusaha menghindar, ataupun berbalik dan mencegahnya. Hanya berdiri dan menerima setiap pukulan darinya. Gua tau apa yang membuatnya kesal; Sedikit banyak, Ncek pasti sudah bercerita tentang gua. Dan ceritanya pasti membuatnya mengira gua seorang pembohong.
Setelah beberapa pukulan, barulah gua berbalik dan menangkap tangannya yang hampir mendarat di tubuh gua. “Kenapa?” Tanyanya sambil tersenyum.
“Kamu dokter kan?” Tanyanya, setengah berteriak.
Belum sempat gua menjawab, ia sudah kembali bicara; “.. Kenapa nggak pernah cerita sebelumnya…”
“Kenapa nggak pernah bilang dari awal kalo kamu dokter?” Tanyanya, masih sambil menundukkan kepala dan menghindari tatapan gua.
“Mmm.. nggak lah.. Apa serunya?”
“Hah, jadi ini cuma seru-seruan buat kamu?” Tanyanya lagi.
“Iya… Awalnya” Jawab gua; bercanda.
“…”
“… Mau aku jelasin hasil tes-nya di sini aja apa gimana?”
“Terserah…” Jawabnya lirih.
“Sambil makan, mau?” Gua memberikan penawaran. Yang lantas diresponnya dengan anggukan kepala.
Di mobil, dalam perjalanan ke sebuah Mall tempat yang kami tuju untuk makan siang sambil membahas tentang hasil tes. Fira hany terdiam sambil terus menatap gua. Nggak hanya terus menatap, sesekali ia juga mencondongkan tubuhnya, lantas menyentuh ujung hidung gua. Menyentuh dahi, dagu dan telinga. Seakan tengah memeriksa kalau gua adalah mahluk yang nyata.
“Boleh aku liat KTP kamu?” Tiba-tiba ia meminta sambil menyodorkan tangan.
“Buat apa?” Tanya gua, ragu.
“Proses untuk mengenalmu lebih dalam…” Jawabnya.
Gua nggak protes, lalu mengeluarkan dompet dari saku belakang celana, mengambil Driver License milik gua dan menyerahkannya ke Fira. Ia dengan cepat meraih SIM gua dan mulai menatapnya.
Ia tersenyum. Kemudian mengembalikan kartu tersebut ke gua.
Sementara gua terus menyetir, Fira kini sibuk dengan ponsel miliknya. Terlihat ia sesekali tersenyum saat menatap layar ponsel dan menatap gua.
“Bagaimana bisa, seorang dokter seperti kamu berada disini, bersama gadis SMA tingkat dua yang bahkan pernah dapet nilai 5 di pelajaran matematika?” Gumamnya lirih, masih sambil terus menatap ponselnya.
Gua langsung tersenyum begitu mendengar gumaman darinya. Lalu memberi respon; “Bagaiman mungkin, dari milyaran gadis di dunia. Cuma satu, cuma satu yang bisa bikin aku tersenyum… Kamu”
“Gombalan kamu dari dulu cuma itu doang perasaan…” Responnya.
“Hahaha….”
Hanya butuh waktu kurang lebih 10 menit hingga akhirnya kami tiba di salah satu mall mewah di daerah Jakarta Selatan. Dan 10 menit lainnya untuk kami bisa berada di salah satu resto keluarga. Sambil menunggu pesanan datang, Gua mulai menggelar lembaran kertas hasil tes miliknya di atas meja. Mata gua berkeliling, mencoba mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menulis, Mata gua lalu tertuju ke arah meja kasir. Gua berdiri, menuju ke meja kasir lalu kembali dengan sebuah pulpen yang gua pinjam.
“Eh, kayaknya pulpen kamu masih ada sama aku deh…” Ucap Fira, saat tau gua mengambil pulpen dari meja kasir.
“Oh, pantesan aku cari-cari… Ada sama kamu?”
“Iya…”
“Tolong simpan baik-baik ya”
“Oh, ok. Padahal udah sempet aku mau buang lho..”
“Jangan” Gua menjawab cepat.
Gua lalu kembali berpaling ke lembaran kertas hasil tes milik Fira dan mulai memberi penjelasan. Sengaja menggunakan bahasa yang sederhana agar ia bisa dengan mudah mengerti.
“Oh, berarti…” Fira mulai meniti garis bergelombang yang gua buat diatas diagram. “… selama aku tes tadi, ada kemungkinan kejang di sini, di sini dan di sini?” Tambahnya.
“Yes! Pinter…” Balas gua.
“Hehehe…”
“Nah, sekarang pertanyaannya. Kenapa kamu nggak kejang?” Gua mengajukan pertanyaan.
“Hah, ya nggak tau…”
“Ya Coba tebak…”
Fira mendongak, menatap ke atas, ke langit-langit resto. Sepertinya tengah mencoba berpikir.
“Aha… Karena aku udah minum obat…” Fira menebak.
“Good!…” Seru gua, sambil mengacungkan ibu jari. Kemudian melanjutkan penjelasan sambil menggambar di atas lembaran tes EEG miliknya; “… Jadi, gini. Garis gelombang ini adalah aktifitas arus listrik di saraf otak kamu. Kalau, gelombangnya meruncing, tandanya aktifitas listrik melonjak. Lonjakan arus inilah yang ‘menyenggol’ saraf lain di otak yang mengontrol gerakan; Jadilah kejang…”
“…”
“… Di kasus epilepsi lain, ada juga yang nggak kejang. Misalnya langsung pingsan atau… Halusinasi. Kenapa? karena lonjakan listrik di otak ‘menyenggol’ saraf yang ngatur sensasi atau kesadaran…”
“…”
“… Nah, di kasus ini biasanya orang nggak sadar. Dan cuma nebak-nebak aja kalau daya tahan mereka lemah atau bahkan ada yang bilang kalau tipe seperti ini adalah orang indigo. Orang yang punya kemampuan melihat hantu. Padahal ya cuma epilepsi yang bikin halusinasi…”
“Oh, gitu…”
“Kamu terapi obat kan?”
“Iya…”
“Obat yang minum itu fungsinya untuk menekan saraf agar nggak bereaksi sama lonjakan listrik yang liar…”
“Terus?”
“Semakin lama, reaksinya semakin ringan. Artinya, kalau kamu minum teratur sesuai anjuran dokter. Saraf yang ditekan bakal terbiasa… Jadi, dari awalnya kamu minum misal; 3 kali sehari, bulan berikutnya jadi 2 kali, bulan berikutnya jadi 1 kali and so on…”
“…”
“… Tapi, begitu kamu berhenti, pembatas itu bisa aja langsung ilang dan kemungkinan kejang jadi balik lagi”
“Hah? berarti aku harus minum obat itu terus?” Tanyanya.
“…” Gua nggak menjawab, hanya mengangguk pelan.
“… Selamanya”
“…” Gua kembali mengangguk.
“Tapi…”
“…”
“… Tenang aja. Lama kelamaan kalau terapinya berhasil. Interval minum obatnya juga semakin panjang. Bisa aja, nanti kamu cuma minum obat 3 bulan sekali. Atau bahkan 6 bulan sekali” Gua menambahkan.
“Terus kapan aku bisa mulai nge-dance lagi?”
Merespon pertanyaannya, gua kembali beralih ke lembaran hasil tes. Lalu memberi tanda, seperti pembatas pada garis gelombang yang meruncing. “Kalau ujung gelombang paling tinggi di hasil tes tes kamu berikutnya ada di level ini” Jawab gua.
“Caranya?”
“Ya ikutin saran dokter. Minum obat yang terartur; jangan sampai lupa dan jaga kesehatan…”
“Jaman kan udah canggih, emang bener-bener nggak bisa disembuhin, bisa ilang sama sekali?”
“Bisa…”
“Gimana?”
“Dioperasi…”
“Hah?”
“Iya dioperasi… Dokter bakal nyari bagian otak yang menyebabkan epilepsi, terus diambil dan dibuang…”
“Gitu doang?”
“Iya. Tapi emang nggak gampang. Apalagi kalo bagian otak yang menyebabkan epilepsi punya ada di posisi yang sulit dan punya peran penting kayak ingatan dan keseimbangan…”
“Oh… Mahal operasinya?”
“Ya mahal…” Jawab gua singkat.
Begitu mendengar jawaban gua, Fira langsung terdiam. Gua tau kalau ia pasti tertekan dengan jawaban dan penjelasan-penjelasan gua. Reaksinya begitu lumrah. Gua tersenyum, lalu menyeka keringat di pelipisnya dengan tisu. Kemudian mulai menggenggam tangannya. Mencoba memberinya semangat.
“Kamu tau Elton John? penyanyi?”
“Pernah denger…”
“Hahaha… Dia juga epilepsi. Dan fine-fine aja hidupnya…”
“Masa?”
“Iya… Aku bahkan pernah punya pasien pilot pesawat terbang yang menderita epilepsi. Sampai sekarang masih bertugas…”
“…”
“… Nanti, di pertemuan dokter berikutnya. Minta untuk tes MRI ya. Biar lebih jelas kondisinya. Kondisi yang jelas bikin diagnosa tegak sempurna. Diagnosa yang tegak bikin treatment-nya jadi tepat. Treatment yang tepat bikin kemungkinan sembuh semakin besar…”
“Siap, Dok!!” Serunya.
Perbincangan kami sempat terinterupsi dengan pesanan makanan yang datang. Gua berhenti menjelaskan, melipat lembaran kertas hasil tes EEG dan menyimpannya. Kemudian mulai makan.
Selesai makan, kami sempat berkeliling mall sebentar. Menemaninya ‘nge-dance’ di atas sebuah alat di arena permainan.
Gua mendekat ke arahnya yang sudah bersiap untuk kembali menari di arena. Tapi, gua dengan cepat meraih tangannya; “Udah ya…” Ucap gua sambil meraih tangan dan menuntunnya turun dari mesin game.
“Yah, baru mulai seru padahal…” keluhnya lirih.
“Kalo memang mau nge-dance beneran ya jangan di sini…” Balas gua seraya mengajaknya terus menjauh dari arena game.
“Terus di mana?” Tanyanya.
“Kamu biasanya latihan di mana?”
“Di sanggar…”
“Ya udah ayo ke sanggar”
“Hah, ke sanggar aku?” Tanyanya, bingung.
“Iya…”
Dari Mall, Gua lalu mengantarnya pergi ke sanggar tempat biasa ia berlatih. Lalu, membiarkannya menikmati hobinya yang selama ini sempat terganggu. Sementara, gua hanya duduk dan menunggu di sekitar lokasi sanggar sambil meroko dan menikmati kopi dari penjual bersepeda.
Selesai dari sanggar, gua mengantarnya pulang.
Hal yang gua takutkan lantas terjadi.
Belum jauh setelah gua menurunkan Fira di depan rumahnya, ponsel gua berdering. Layarnya menampilkan nama Fira. Gua menjawab panggilan; “Halo…”
Namun, yang menjawab bukanlah Fira. Tapi, Tante Ane; Nyokapnya.
“Lian…” Ucapnya lirih, sangat lirih.
“…” Gua nggak menjawab, hanya terdiam.
Sementara, dari ujung sana mulai terdengar isak tangis yang nggak kalah lirih. Setelah cukup lama yang terdengar hanya tangisan, Tante Ana mulai bicara; “Saya mohon banget, Lian. Please Jauhin Fira… Please…”
“…” Gua masih nggak menjawab.
Di sisa panggilan, yang terdengar hanya permohonan darinya. Permohonan untuk gua meninggalkan anaknya; meninggalkan Fira.
Sama seperti sebelumnya, Gua terus bergeming dan berusaha menyodorkan berbagai alasan kepadanya. Yang tentu saja nggak diterima.
Hingga akhirnya, keesokan hari, gua mendapat panggilan video dari Ibu.
‘Hai, Bu. Ibu Sehat?’ Tanya gua ke Ibu dengan menggunakan bahasa isyarat, menghadap ke arah layar kamera ponsel.
Di seberang sana, Ibu tersenyum lalu menjawab dengan gerakan; ‘Sehat, Nak’
Obrolan tanpa suara berlangsung cukup lama, dari mulai bertanya kabar hingga bercanda tentang kondisi rumah Solo yang berniat dipugar.
Tiba-tiba, ekspresi wajah ibu berubah. Kini ia terlihat serius.
‘Ibu semalam dapat pesan, dari Ibu Ana’
Gua tertegun begitu melihat isyarat darinya. Berharap Ibu nggak melarang gua untuk terus berhubungan dengan Fira. Jika itu terjadi, gua nggak bisa berbuat apa-apa.
‘Sebagai sesama Ibu. Ibu paham dengan apa yang dirasakan’
Gua menghela napas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan.
‘Besok, jangan bertemu lagi sama anaknya ya Nak…’ Pintanya.
Gua terdiam.
Cukup lama gua terdiam, lalu mengangguk perlahan.
‘Iya bu’
—
Bon Jovi - Livin' On A Prayer
Once upon a time, not so long ago
Tommy used to work on the docks
Union's been on strike, he's down on his luck
It's tough
So tough
Gina works the diner all day
Working for her man, she brings home her pay
For love
Mm, for love
She says, "We've gotta hold on to what we've got
It doesn't make a difference if we make it or not
We've got each other and that's a lot for love
We'll give it a shot"
Whoa, we're halfway there
Whoa-oh, living on a prayer
Take my hand, we'll make it, I swear
Whoa-oh, living on a prayer
Tommy's got his six-string in hock
Now he's holding in, when he used to make it talk
So tough
Ooh, it's tough
Gina dreams of running away
When she cries in the night, Tommy whispers
"Baby, it's okay
Someday"
We've gotta hold on to what we've got
It doesn't make a difference if we make it or not
We've got each other and that's a lot for love
We'll give it a shot
Whoa, we're halfway there
Whoa-oh, living on a prayer
Take my hand, we'll make it I swear
Whoa-oh, living on a prayer, living on a prayer
Ooh, we gotta hold on, ready or not
You live for the fight when that's all that you've got
Whoa, we're halfway there
Whoa-oh, living on a prayer
Take my hand and we'll make it, I swear
Whoa-oh, living on a prayer
Whoa, we're halfway there
Whoa-oh, living on a prayer
Take my hand and we'll make it, I swear
Whoa-oh, living on a prayer
Whoa, we're halfway there
Whoa-oh, living on a prayer
Take my hand and we'll make it, I swear
Whoa-oh, living on a prayer