- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
superber dan 147 lainnya memberi reputasi
148
210.1K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#766
001-M You Knew All Along
Spoiler for 001-M You Knew All Along:
Gua nggak terlalu memusingkan ‘omelan’ dan peringatan dari Tante Ana; Nyokapnya Fira. Karena menurut gua, saat nanti ia tau tentang cerita yang sebenarnya, gua yakin hatinya bakal lebih mudah luluh.
Yang jadi perhatian gua sekarang ini adalah bagaimana cara mendapatkan obat terapi pengganti untuk Fira. Karena merasa obat yang dikonsumsinya saat ini masih punya banyak efek samping yang sedikit merugikan. Hal lainnya adalah, memikirkan cara agar Tante Ana dan Fira mau mengganti dokternya ke Ncek. Tentu saja agar gua bisa dengan mudah mengontrol semua aktivitas terapinya.
Sabtu yang gua tunggu akhirnya tiba.
Pagi itu, setelah menjemput Fira, gua mengajaknya pergi ke rumah sakit. Rumah sakit tempat Ncek bekerja. Salah satu rumah sakit yang lokasinya berada di area komplek perumahan elit di Jakarta Selatan.
Nggak berselang lama, kami sudah tiba di area parkir rumah sakit. Fira yang duduk di kursi penumpang di sebelah gua menatap ke arah gedung sambil pasang ekspresi keheranan.
“Ke rumah sakit? Ngapain?”Tanyanya, masih seraya menatap berkeliling.
“Ya cerita aku dimulai dari sini…” Gua menjawab seraya mematikan mesin mobil.
“Ooh…” Responnya singkat.
Dari area parkir, gua lalu mengajaknya masuk ke gedung rumah sakit dan terus membawanya naik ke lantai dua, menyusuri lorong-lorong yang berbeda hingga akhirnya kami tiba di sebuah bangsal besar dengan papan informasi bertuliskan; ‘Poli Saraf’.
Langkahnya terhenti begitu kami berdua sudah berada di bangsal Poli Saraf.
“Kenapa?” Tanya gua sambil menoleh ke arahnya.
Fira nggak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya. Dari ekspresi wajahnya, gua bisa tau kalau ia tengah kebingungan.
Gua lantas meraih tangan dan menggenggamnya, kemudian melanjutkan langkah masuk ke bangsal. Ke ruangan besar yang mewah. Terlihat, Fira mulai menutupi mulut dan hidungnya dengan tangan.
“Kenapa, bau?” Tanya gua saat melihat ia terus menutupi hidung dengan tangan.
“Iya…”
Begitu mendengar jawabannya, gua dengan cepat pergi ke arah nurse station di bagian tengah bangsal. Lalu bicara ke salah satu perawat di sana dan kembali dengan masker. Tanpa bertanya lagi, gua mulai memasangkan masker untuk menutupi hidung dan mulutnya.
“Masih bau?” Tanya gua.
“Udah mendingan…” Jawabnya. Lalu mendongak dan menatap gua; “… Kita ngapain kesini?” Tanyanya mengulang pertanyaan yang sama dengan sebelumnya.
“Ketemu seseorang”
“Dokter?”
“Iya…”
“Oh…”
Kami berdua lalu duduk di sofa ruang tunggu bangsal, sambil berbincang dan sesekali ia menyandarkan kepalanya di bahu gua; bersikap manja. Nggak lama berselang, seorang perawat mendekat ke gua lalu berbisik pelan di dekat telinga. Memberi tahu kalau Ncek, sudah siap menerima kami.
Gua lalu berdiri, mengulurkan tangan ke Fira. Ia menggapainya, kami lalu berjalan menyusuri lorong yang lebih kecil dengan banyak pintu berlabel nama dokter di setiap sisinya. Tepat di depan sebuah pintu berlabel ‘dr. Ricky Saputra Sp.S (K), FIPP, CIPS’ Gua berhenti.
Tanpa mengetuk, Gua langsung membuka pintu dan mengajaknya masuk ke dalam.
“Macet?” Tanya Ncek yang duduk di balik meja di sudut ruangan.
“Lumayan…” Jawab gua, lalu langsung duduk di kursi pasien tanpa menunggu dipersilakan. Sementara, Fira menyusul duduk di kursi kosong di sebelah gua.
Ncek terus menatap Fira, ia pasang senyum lantas mulai bicaral “Oh ini, Fira…”, lalu berdiri dan menyodorkan tangannya. Kemudian memperkenalkan diri ke Fira sambil menyebut namanya; “Ricky…”
Fira menyambut ajakan berkenalan Ncek dengan ikut berdiri, menyalaminya lalu kembali duduk.
“Ada obatnya?” Tanya gua ke Ncek. Merujuk ke obat generasi kedua yang bisa jadi alternatif pengganti obat milik Fira.
“Ada, tapi ya nggak bisa langsung di resepin. Harus ada laporan diagnosa…” Jawab Ncek.
“Yaudah…” Balas gua seraya menunjuk Fira, memberi kode agar Ncek segera melakukan pemeriksaan dan diagnosa yang dibutuhkan.
Ncek mengalihkan pandangannya ke Fira lalu bertanya; “Hi Fira, udah pernah di test EEG sebelumnya?”
Alih-alih memberi jawaban, Fira justru menoleh ke arah gua sambil pasang tampang sangat bingung. Ia pasti penasaran, dari mana Ncek tau tentang kondisinya?
“Aku tau kok…” Ucap gua ke Fira.
Terdengar Fira menggumam pelan; “Shit!”
“Sorry, apa?” Tanya Ncek ke Fira, sepertinya ia memang nggak mendengarnya.
“Ee.. nggak kok, gapapa…” Jawabnya ke Ncek.
“Dia bilang ‘Shit!’” Gua ikut menambahkan.
Mendengar ucapan gua ke Ncek barusan, Fira langsung melayangkan cubitan tepat di ujung lengan gua. Tentu saja tanpa sepengetahuan Ncek.
“Oh wow..” Seru Ncek, seraya berdiri. “Udah pernah tes EEG?” Tanyanya lagi.
“Oh, udah…” Jawab Fira sambil mengangguk.
"Sebelumnya udah pernah tes EEG berapa kali?” Tanyanya Ncek lagi.
"Kayaknya dua atau tiga kali... lupa.” Fira menjawab, ragu.
“Oke..” Gumam Ncek lalu mengeluarkan senter kecil berbentuk pulpen dari saku jas dan mendekat ke arah Fira. “Sorry ya, Fir…” Ucap Ncek lalu mulai memeriksa kedua pupil mata Fira. Setelah selesai memeriksa, Ncek berpaling dan menatap gua.
Hanya dari tatapannya saja, gua bisa tau kalau kondisi Fira nggak cukup baik. Bahkan untuk penderita epilepsi sekalipun. Biasanya, penderita epilepsi punya skala keparahan yang bisa diukur. Dokter mengukurnya dengan berbagai tes; mulai dari EEG hingga MRI. Tapi, kali ini Ncek langsung bisa tau kondisinya hanya melalui respon pupil mata Fira terhadap cahaya. Yang mana artinya kondisi epilepsi Fira sangat nggak baik.
Ncek lalu kembali berpaling ke Fira; “Mau tes EEG, kan?”
Alih-alih langsung menjawab pertanyaan, Fira malah berpaling dan menatap gua seakan meminta persetujuan. Gua lantas ‘menjawabnya’ dengan senyuman.
Fira beralih ke Ncek lalu mengangguk pelan.
“Ok, sebentar ya…” Jawab Ncek lalu pergi meninggalkan ruangan.
Begitu Ncek sudah nggak berada di ruangan, Fira langsung menggeser kursi mendekat ke Gua. Kemudian meraih pergelangan tangan gua dan menggenggamnya erat. “Kamu janjinya mau cerita. Kenapa malah ngajak aku periksa?” Tanyanya sambil pasang ekspresi penuh ancaman.
“… Terus darimana kamu bisa tau?” Tambahnya, tentu saja merujuk ke kondisinya yang sudah lama gua ketahui.
Gua mendekat ke arahnya, berniat untuk mulai menceritakan semua. Namun, belum sempat bicara, pintu ruangan terbuka. Disusul seorang perawat perempuan masuk sambil membawa form di tangannya. Ia memberi sapaan ke gua dan Fira, kemudian mulai melakukan sedikit interview ke Fira guna persiapan tes.
“Mbak, rambutku nggak diperiksa?” Tanya Fira begitu selesai interview.
“Oh, nggak perlu kak…” Jawab si perawat ramah.
Gua tau, mungkin di rumah sakit sebelumnya, ia disarankan untuk mencuci dan membilas rambutnya terlebih dahulu sebelum menjalani tes. Artinya, di rumah sakit sebelumnya, ia melakukan tes EEG dengan alat yang nggak begitu canggih.
“Di sini mungkin lebih canggih daripada rumah sakit kamu sebelumnya. Jadi, alatnya lebih gampang nempel ke kulit kepala…” Gua ikutan bicara, mencoba menjelaskan ke Fira.
“Ohh, gitu…” Balas Fira sambil mengangguk, walau ekspresi bingung di wajahnya masih terpasang.
Setelahnya, si perawat melanjutkan pemeriksaan dasar seperti mengukur denyut jantung, tekanan darah, hingga suhu tubuh Fira. Kemudian meminta kami untuk menunggu sebentar, sementara si perawat dan tim menyiapkan ruang tes.
Selama menunggu, gua mulai bercerita tentang hal-hal yang bikin gua tau tentang kondisinya. Tentang kuitansi pembayaran rumah sakit, dan pil-pil yang tergeletak di meja makan rumahnya waktu itu.
“Kamu bisa tau cuma karena itu?” Tanyanya, penasaran.
“Iya…” Gua menjawab singkat dan percaya diri.
Belum lengkap cerita gua kepadanya, si perawat kembali datang. Kali ini ia mengajak kami untuk keluar dari ruang dokter, lalu menyusuri koridor kecil rumah sakit hingga ke depan sebuah pintu besar dengan logo radioaktif.
“Boleh, Ponsel, jam dan perangkat elektronik lainnya dititip dulu kak” Ucap si perawat.
Fira lantas mulai melepas jam digital dari pergelangan tangannya, mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menyerahkannya ke gua, bersama dengan tas yang dipakainya. “Titip ya…”
“Iya…” Jawab gua singkat, lalu menatap Fira yang memasuki ruang tes bersama si perawat.
Sambil memeluk tas dan barang-barang milik Fira, gua duduk di sofa ruang tunggu nggak jauh dari tempat tes EEG dilakukan. Sambil memandang pasien dan perawat yang lalu lalang, pikiran gua mulai kembali melayang. Membayangkan, ternyata begini rasanya jadi pasien, begini rasanya jadi kerabat pasien. Rasanya; ‘Deg-deg-an dan gelisah’.
Terlihat Ncek datang dan mendekat, lalu duduk di sofa tepat di sebelah gua. Ia mengeluarkan ponselnya lalu mengajak bicara tanpa menatap. “So..”
“…”
“…Levetiracetam, Topiramate or Lamotrigine?”
“Lo nanya gue?” Tanya gua.
“Iya…” Jawabnya, masih sambil sibuk dengan ponsel.
“Kalo nanya gue, madep sini. Gue nggak bisa baca ekspresi lo”
“Hhh….” Ncek menghela napasnya lalu berpaling menatap gua; “Jadi, Levetiracetam or Lamotrigine nih Bos?”
Gua terdiam sebentar.
“Tergantung… Tergantung hasil EEG nanti” Jawab gua.
“Lo mau baca sendiri hasilnya?” Tanya Ncek.
“Iya…”
Ncek menarik napas dalam-dalam, lalu berdiri. “Yaudah kalo gitu, gue masih ada pasien. Tinggal dulu ya…” Ucapnya, lalu pergi.
Gua kembali duduk sendirian, menatap ke arah pintu ruang tes, menunggu; gelisah.
Setelah hampir setengah jam lebih, pintu ruang tes terbuka. Fira keluar dari dalam dan berdiri sambil menatap gua. Dengan cepat, gua ikut berdiri dan mendekat ke arahnya, mengembalikan tas, ponsel kemudian memakaikan jam tangan di pergelangan tangannya.
“Udah? gimana? nyaman?” Tanya gua.
“Ngantuk…” Jawabnya sambil menguap.
“…”
“… Harus balik lagi ke Dokter Ricky kan?” Fira kembali bicara, menebak.
“Nggak usah, tunggu di sini aja…” Gua menjawab, lalu mengajaknya duduk kembali di sofa ruang tunggu.
Nggak lama berselang, Ncek kembali datang mendekat. Kali ini ia membawa beberapa lembar kertas di tangannya. Ia duduk di sebelah gua, lalu bicara sambil berbisik; mungkin takut Fira mendengar penjelasannya. Padahal, kalaupun ia mendengar, toh nggak mungkin bisa langsung mengerti dengan jenis dan nama obat yang gua sarankan. Ncek memberi informasi kalau saat ini hanya tersedia satu jenis obat untuk Fira; Levetiracetam.
Ditengah-tengah Ncek bicara, ponsel gua berdering. Layarnya menampilkan deretan angka yang gua kenali sebagai milik Reynard.
“Bentar, Ncek..” Bisik gua lantas berdiri dan sedikit menjauh untuk menjawab panggilan.
Melalui telepon, Reynard bertanya tentang kabar gua lalu memberi penawaran untuk yang kesekian kalinya agar gua mau kembali ke London. Gua nggak langsung memberi jawaban yang pasti, hanya terus beretorika.
Selesai menelpon gua kembali ke Fira dan Ncek yang terlihat tengah berbincang sambil duduk di sofa ruang tunggu. Saat gua mendekat, telihat ekspresi wajah Fira yang nampak sangat berbeda dari sebelumnya. Begitu pula dengan Ncek yang hanya bisa tersenyum simpul dan menatap gua.
Gua mengambil lembaran hasil tes EEG milik Fira dari tangan Ncek.
“Obatnya mana…” Pinta gua ke Ncek, menagih obat kepadanya.
Ncek lalu merogoh saku jubah dokternya, menyerahkan plastik kecil transparan berisi beberapa pil ke gua.
“Yaudah, gue cabut ya…” Pamit Ncek begitu selesai menyerahkan pil ke gua. Sebelum benar-benar pergi, Ncek sempat berpaling ke Fira lalu berbisik; “Bye Fira… Sehat selalu ya…”
“Bye Dok…” Balas Fira seraya memberi lambaian tangan ke arah Ncek. Ia lantas berpaling menatap gua, dan pasang tampang penuh curiga.
Gua mengabaikan tatapan Fira, lalu duduk di sofa dan mulai membaca hasil tes miliknya. Dari hasil tes tersebut gua bisa langsung tau kalau Levetiracetam sejatinya cukup cocok dengan kriteria kondisi Fira, hanya saja masih belum tepat. Untuk itu, sepertinya Fira harus menjalani beberapa rangkaian tes lainnya.
Sementara, Fira yang duduk di sebelah gua hanya terdiam sambil terus menatap. Tatapan yang kini rasanya berbeda.
Gua berpaling dari lembaran kertas; “Makan dulu yuk…”
Fira nggak menjawab, ia hanya diam sambil terus menatap. Sementara gua mulai berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar bangsal.
Samar terdengar keluhan Fira; “Pembohong”
—
Yang jadi perhatian gua sekarang ini adalah bagaimana cara mendapatkan obat terapi pengganti untuk Fira. Karena merasa obat yang dikonsumsinya saat ini masih punya banyak efek samping yang sedikit merugikan. Hal lainnya adalah, memikirkan cara agar Tante Ana dan Fira mau mengganti dokternya ke Ncek. Tentu saja agar gua bisa dengan mudah mengontrol semua aktivitas terapinya.
Sabtu yang gua tunggu akhirnya tiba.
Pagi itu, setelah menjemput Fira, gua mengajaknya pergi ke rumah sakit. Rumah sakit tempat Ncek bekerja. Salah satu rumah sakit yang lokasinya berada di area komplek perumahan elit di Jakarta Selatan.
Nggak berselang lama, kami sudah tiba di area parkir rumah sakit. Fira yang duduk di kursi penumpang di sebelah gua menatap ke arah gedung sambil pasang ekspresi keheranan.
“Ke rumah sakit? Ngapain?”Tanyanya, masih seraya menatap berkeliling.
“Ya cerita aku dimulai dari sini…” Gua menjawab seraya mematikan mesin mobil.
“Ooh…” Responnya singkat.
Dari area parkir, gua lalu mengajaknya masuk ke gedung rumah sakit dan terus membawanya naik ke lantai dua, menyusuri lorong-lorong yang berbeda hingga akhirnya kami tiba di sebuah bangsal besar dengan papan informasi bertuliskan; ‘Poli Saraf’.
Langkahnya terhenti begitu kami berdua sudah berada di bangsal Poli Saraf.
“Kenapa?” Tanya gua sambil menoleh ke arahnya.
Fira nggak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya. Dari ekspresi wajahnya, gua bisa tau kalau ia tengah kebingungan.
Gua lantas meraih tangan dan menggenggamnya, kemudian melanjutkan langkah masuk ke bangsal. Ke ruangan besar yang mewah. Terlihat, Fira mulai menutupi mulut dan hidungnya dengan tangan.
“Kenapa, bau?” Tanya gua saat melihat ia terus menutupi hidung dengan tangan.
“Iya…”
Begitu mendengar jawabannya, gua dengan cepat pergi ke arah nurse station di bagian tengah bangsal. Lalu bicara ke salah satu perawat di sana dan kembali dengan masker. Tanpa bertanya lagi, gua mulai memasangkan masker untuk menutupi hidung dan mulutnya.
“Masih bau?” Tanya gua.
“Udah mendingan…” Jawabnya. Lalu mendongak dan menatap gua; “… Kita ngapain kesini?” Tanyanya mengulang pertanyaan yang sama dengan sebelumnya.
“Ketemu seseorang”
“Dokter?”
“Iya…”
“Oh…”
Kami berdua lalu duduk di sofa ruang tunggu bangsal, sambil berbincang dan sesekali ia menyandarkan kepalanya di bahu gua; bersikap manja. Nggak lama berselang, seorang perawat mendekat ke gua lalu berbisik pelan di dekat telinga. Memberi tahu kalau Ncek, sudah siap menerima kami.
Gua lalu berdiri, mengulurkan tangan ke Fira. Ia menggapainya, kami lalu berjalan menyusuri lorong yang lebih kecil dengan banyak pintu berlabel nama dokter di setiap sisinya. Tepat di depan sebuah pintu berlabel ‘dr. Ricky Saputra Sp.S (K), FIPP, CIPS’ Gua berhenti.
Tanpa mengetuk, Gua langsung membuka pintu dan mengajaknya masuk ke dalam.
“Macet?” Tanya Ncek yang duduk di balik meja di sudut ruangan.
“Lumayan…” Jawab gua, lalu langsung duduk di kursi pasien tanpa menunggu dipersilakan. Sementara, Fira menyusul duduk di kursi kosong di sebelah gua.
Ncek terus menatap Fira, ia pasang senyum lantas mulai bicaral “Oh ini, Fira…”, lalu berdiri dan menyodorkan tangannya. Kemudian memperkenalkan diri ke Fira sambil menyebut namanya; “Ricky…”
Fira menyambut ajakan berkenalan Ncek dengan ikut berdiri, menyalaminya lalu kembali duduk.
“Ada obatnya?” Tanya gua ke Ncek. Merujuk ke obat generasi kedua yang bisa jadi alternatif pengganti obat milik Fira.
“Ada, tapi ya nggak bisa langsung di resepin. Harus ada laporan diagnosa…” Jawab Ncek.
“Yaudah…” Balas gua seraya menunjuk Fira, memberi kode agar Ncek segera melakukan pemeriksaan dan diagnosa yang dibutuhkan.
Ncek mengalihkan pandangannya ke Fira lalu bertanya; “Hi Fira, udah pernah di test EEG sebelumnya?”
Alih-alih memberi jawaban, Fira justru menoleh ke arah gua sambil pasang tampang sangat bingung. Ia pasti penasaran, dari mana Ncek tau tentang kondisinya?
“Aku tau kok…” Ucap gua ke Fira.
Terdengar Fira menggumam pelan; “Shit!”
“Sorry, apa?” Tanya Ncek ke Fira, sepertinya ia memang nggak mendengarnya.
“Ee.. nggak kok, gapapa…” Jawabnya ke Ncek.
“Dia bilang ‘Shit!’” Gua ikut menambahkan.
Mendengar ucapan gua ke Ncek barusan, Fira langsung melayangkan cubitan tepat di ujung lengan gua. Tentu saja tanpa sepengetahuan Ncek.
“Oh wow..” Seru Ncek, seraya berdiri. “Udah pernah tes EEG?” Tanyanya lagi.
“Oh, udah…” Jawab Fira sambil mengangguk.
"Sebelumnya udah pernah tes EEG berapa kali?” Tanyanya Ncek lagi.
"Kayaknya dua atau tiga kali... lupa.” Fira menjawab, ragu.
“Oke..” Gumam Ncek lalu mengeluarkan senter kecil berbentuk pulpen dari saku jas dan mendekat ke arah Fira. “Sorry ya, Fir…” Ucap Ncek lalu mulai memeriksa kedua pupil mata Fira. Setelah selesai memeriksa, Ncek berpaling dan menatap gua.
Hanya dari tatapannya saja, gua bisa tau kalau kondisi Fira nggak cukup baik. Bahkan untuk penderita epilepsi sekalipun. Biasanya, penderita epilepsi punya skala keparahan yang bisa diukur. Dokter mengukurnya dengan berbagai tes; mulai dari EEG hingga MRI. Tapi, kali ini Ncek langsung bisa tau kondisinya hanya melalui respon pupil mata Fira terhadap cahaya. Yang mana artinya kondisi epilepsi Fira sangat nggak baik.
Ncek lalu kembali berpaling ke Fira; “Mau tes EEG, kan?”
Alih-alih langsung menjawab pertanyaan, Fira malah berpaling dan menatap gua seakan meminta persetujuan. Gua lantas ‘menjawabnya’ dengan senyuman.
Fira beralih ke Ncek lalu mengangguk pelan.
“Ok, sebentar ya…” Jawab Ncek lalu pergi meninggalkan ruangan.
Begitu Ncek sudah nggak berada di ruangan, Fira langsung menggeser kursi mendekat ke Gua. Kemudian meraih pergelangan tangan gua dan menggenggamnya erat. “Kamu janjinya mau cerita. Kenapa malah ngajak aku periksa?” Tanyanya sambil pasang ekspresi penuh ancaman.
“… Terus darimana kamu bisa tau?” Tambahnya, tentu saja merujuk ke kondisinya yang sudah lama gua ketahui.
Gua mendekat ke arahnya, berniat untuk mulai menceritakan semua. Namun, belum sempat bicara, pintu ruangan terbuka. Disusul seorang perawat perempuan masuk sambil membawa form di tangannya. Ia memberi sapaan ke gua dan Fira, kemudian mulai melakukan sedikit interview ke Fira guna persiapan tes.
“Mbak, rambutku nggak diperiksa?” Tanya Fira begitu selesai interview.
“Oh, nggak perlu kak…” Jawab si perawat ramah.
Gua tau, mungkin di rumah sakit sebelumnya, ia disarankan untuk mencuci dan membilas rambutnya terlebih dahulu sebelum menjalani tes. Artinya, di rumah sakit sebelumnya, ia melakukan tes EEG dengan alat yang nggak begitu canggih.
“Di sini mungkin lebih canggih daripada rumah sakit kamu sebelumnya. Jadi, alatnya lebih gampang nempel ke kulit kepala…” Gua ikutan bicara, mencoba menjelaskan ke Fira.
“Ohh, gitu…” Balas Fira sambil mengangguk, walau ekspresi bingung di wajahnya masih terpasang.
Setelahnya, si perawat melanjutkan pemeriksaan dasar seperti mengukur denyut jantung, tekanan darah, hingga suhu tubuh Fira. Kemudian meminta kami untuk menunggu sebentar, sementara si perawat dan tim menyiapkan ruang tes.
Selama menunggu, gua mulai bercerita tentang hal-hal yang bikin gua tau tentang kondisinya. Tentang kuitansi pembayaran rumah sakit, dan pil-pil yang tergeletak di meja makan rumahnya waktu itu.
“Kamu bisa tau cuma karena itu?” Tanyanya, penasaran.
“Iya…” Gua menjawab singkat dan percaya diri.
Belum lengkap cerita gua kepadanya, si perawat kembali datang. Kali ini ia mengajak kami untuk keluar dari ruang dokter, lalu menyusuri koridor kecil rumah sakit hingga ke depan sebuah pintu besar dengan logo radioaktif.
“Boleh, Ponsel, jam dan perangkat elektronik lainnya dititip dulu kak” Ucap si perawat.
Fira lantas mulai melepas jam digital dari pergelangan tangannya, mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menyerahkannya ke gua, bersama dengan tas yang dipakainya. “Titip ya…”
“Iya…” Jawab gua singkat, lalu menatap Fira yang memasuki ruang tes bersama si perawat.
Sambil memeluk tas dan barang-barang milik Fira, gua duduk di sofa ruang tunggu nggak jauh dari tempat tes EEG dilakukan. Sambil memandang pasien dan perawat yang lalu lalang, pikiran gua mulai kembali melayang. Membayangkan, ternyata begini rasanya jadi pasien, begini rasanya jadi kerabat pasien. Rasanya; ‘Deg-deg-an dan gelisah’.
Terlihat Ncek datang dan mendekat, lalu duduk di sofa tepat di sebelah gua. Ia mengeluarkan ponselnya lalu mengajak bicara tanpa menatap. “So..”
“…”
“…Levetiracetam, Topiramate or Lamotrigine?”
“Lo nanya gue?” Tanya gua.
“Iya…” Jawabnya, masih sambil sibuk dengan ponsel.
“Kalo nanya gue, madep sini. Gue nggak bisa baca ekspresi lo”
“Hhh….” Ncek menghela napasnya lalu berpaling menatap gua; “Jadi, Levetiracetam or Lamotrigine nih Bos?”
Gua terdiam sebentar.
“Tergantung… Tergantung hasil EEG nanti” Jawab gua.
“Lo mau baca sendiri hasilnya?” Tanya Ncek.
“Iya…”
Ncek menarik napas dalam-dalam, lalu berdiri. “Yaudah kalo gitu, gue masih ada pasien. Tinggal dulu ya…” Ucapnya, lalu pergi.
Gua kembali duduk sendirian, menatap ke arah pintu ruang tes, menunggu; gelisah.
Setelah hampir setengah jam lebih, pintu ruang tes terbuka. Fira keluar dari dalam dan berdiri sambil menatap gua. Dengan cepat, gua ikut berdiri dan mendekat ke arahnya, mengembalikan tas, ponsel kemudian memakaikan jam tangan di pergelangan tangannya.
“Udah? gimana? nyaman?” Tanya gua.
“Ngantuk…” Jawabnya sambil menguap.
“…”
“… Harus balik lagi ke Dokter Ricky kan?” Fira kembali bicara, menebak.
“Nggak usah, tunggu di sini aja…” Gua menjawab, lalu mengajaknya duduk kembali di sofa ruang tunggu.
Nggak lama berselang, Ncek kembali datang mendekat. Kali ini ia membawa beberapa lembar kertas di tangannya. Ia duduk di sebelah gua, lalu bicara sambil berbisik; mungkin takut Fira mendengar penjelasannya. Padahal, kalaupun ia mendengar, toh nggak mungkin bisa langsung mengerti dengan jenis dan nama obat yang gua sarankan. Ncek memberi informasi kalau saat ini hanya tersedia satu jenis obat untuk Fira; Levetiracetam.
Ditengah-tengah Ncek bicara, ponsel gua berdering. Layarnya menampilkan deretan angka yang gua kenali sebagai milik Reynard.
“Bentar, Ncek..” Bisik gua lantas berdiri dan sedikit menjauh untuk menjawab panggilan.
Melalui telepon, Reynard bertanya tentang kabar gua lalu memberi penawaran untuk yang kesekian kalinya agar gua mau kembali ke London. Gua nggak langsung memberi jawaban yang pasti, hanya terus beretorika.
Selesai menelpon gua kembali ke Fira dan Ncek yang terlihat tengah berbincang sambil duduk di sofa ruang tunggu. Saat gua mendekat, telihat ekspresi wajah Fira yang nampak sangat berbeda dari sebelumnya. Begitu pula dengan Ncek yang hanya bisa tersenyum simpul dan menatap gua.
Gua mengambil lembaran hasil tes EEG milik Fira dari tangan Ncek.
“Obatnya mana…” Pinta gua ke Ncek, menagih obat kepadanya.
Ncek lalu merogoh saku jubah dokternya, menyerahkan plastik kecil transparan berisi beberapa pil ke gua.
“Yaudah, gue cabut ya…” Pamit Ncek begitu selesai menyerahkan pil ke gua. Sebelum benar-benar pergi, Ncek sempat berpaling ke Fira lalu berbisik; “Bye Fira… Sehat selalu ya…”
“Bye Dok…” Balas Fira seraya memberi lambaian tangan ke arah Ncek. Ia lantas berpaling menatap gua, dan pasang tampang penuh curiga.
Gua mengabaikan tatapan Fira, lalu duduk di sofa dan mulai membaca hasil tes miliknya. Dari hasil tes tersebut gua bisa langsung tau kalau Levetiracetam sejatinya cukup cocok dengan kriteria kondisi Fira, hanya saja masih belum tepat. Untuk itu, sepertinya Fira harus menjalani beberapa rangkaian tes lainnya.
Sementara, Fira yang duduk di sebelah gua hanya terdiam sambil terus menatap. Tatapan yang kini rasanya berbeda.
Gua berpaling dari lembaran kertas; “Makan dulu yuk…”
Fira nggak menjawab, ia hanya diam sambil terus menatap. Sementara gua mulai berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar bangsal.
Samar terdengar keluhan Fira; “Pembohong”
—
Lanjut ke bawah
Diubah oleh robotpintar 24-04-2025 20:39
delet3 dan 36 lainnya memberi reputasi
37
Kutip
Balas
Tutup