- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
superber dan 147 lainnya memberi reputasi
148
212.4K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#709
001-I Get Along
Spoiler for 001-I Get Along:
Malam itu, setelah menyelesaikan jadwal operasi dan mengecek kondisi pasien, dengan amplop putih berisi surat resign, gua naik ke lantai paling atas rumah sakit, lantai di mana ruangan direktur berada; Ruang Dokter Reynard. Seperti biasa, ia selalu membiarkan pintu ruangannya sedikit terbuka saat nggak sedang meeting ada ada tamu. Mengisyaratkan kalau ia memang benar-benar ‘terbuka’ untuk bicara dengan siapapun.
Gua mengetuk pintunya beberapa kali, mengintip ke dalam, mendapati Reynard tengah duduk di kursi kerjanya dengan kedua kaki ia naikkan ke atas meja. Sementara di tangannya ia menggenggam kaleng bir kesukaannya.
“Ah, To what do I owe this… foreboding visit?”Tanyanya begitu menyadari kehadiran gua, ia menurunkan kedua kakinya dari atas meja.
Gua masuk ke dalam ruangan, memandang sekeliling, ke deretan rak berisi buku dan jurnal medis yang tertata rapi, ke meja kecil dengan botol-botol berbentuk unik berisi wine dan wiski yang hampir semuanya tersisa setengah, interior yang masih nampak sama sejak kedatangan gua kesini bertahun-tahun yang lalu.
Tanpa menunggu dipersilakan, gua duduk di kursi; kini kami berdua saling berhadapan dengan meja kerjanya yang besar sebagai pemisahnya. Sambil meletakkan amplop putih berisi surat resign di atas meja, gua lalu bicara; “I’m resigning”
Reynard menegakkan tubuhnya, lalu menatap gua tajam. Ia bahkan nggak menyentuh amplop putih berisi surat resign gua; sepertinya nggak tertarik.
“Resigning?” Tanyanya, mencoba memastikan.
Gua mengangguk; “….”
“… No way? what happened?” Tambahnya.
“…”
“Look, Lian. You’re burnt out. It happens. Take a bloody break. A week. Two. Hell, take six if you want. Go sip cocktails in the Maldives, go find yourself in the Himalayas—whatever it takes. But don’t throw everything away over a feeling…”
Gua lalu mulai menjelaskan alasan yang gua punya.
“Just like that?” Tanyanya lagi begitu selesai mendengar penjelasan gua yang memang nggak masuk di akalnya.
“Ya, Just like that…” Jawab gua singkat.
“You’ve reached the top of the mountain, only to realise the view isn’t what you thought it’d be?” Ia menebak, seakan nggak percaya dengan penjelasan gua.
Gua mengangkat kedua bahu; “I kept fixing people. But there’s nothing there. No satisfaction, no fulfilment. Just… an empty seat in a theatre where the show’s long ended” Jawab gua.
“Lian, if you think walking away will suddenly hand you purpose on a silver platter, you’re mistaken”
Gua menghela nafas; “And if I stay? What then? Another ten years of cutting people open, of saving lives, while mine withers into nothing?”
Reynard kini berdiri dari kursinya, melempar kaleng bir yang kini kosong ke tempat sampah di ujung ruangan. Kemudian memposisikan dirinya dekat dengan gua; duduk di tepi meja kerja.
“You’re the best surgeon this hospital has ever seen. Hell, probably the best in the country. But fine, let’s say you walk out that door. What then? What’s next?”
Lagi, gua mengangkat kedua bahu; "I don’t know…”
Ia berdiri, melangkah menjauh dari gua, ke arah meja kecil dengan banyak botol wine dan wiski. Mengambil salah satu botol yang isinya paling banyak, menuangnya sedikit ke gelas kecil dari tempat yang sama dan menenggaknya hingga tak tersisa. Lalu berbalik dan menatap gua, kemudian bicara; “That’s the problem, isn’t it? You don’t know what you want, you just know what you don’t want…”
Gua terdiam begitu mendengar ucapannya barusan; Gua nggak benar-benar tahu apa yang gua mau, gua cuma tahu apa yang nggak gua mau.
“Maybe that’s enough…” Jawab gua; ragu.
“It’s not. You of all people should know, when performing surgery, hesitation is a death sentence. And right now, you’re about to operate on your own life with your eyes closed…”
“This isn’t hesitation. It’s a decision. The only thing that makes sense” Balas gua, kini dengan penuh keyakinan.
Reynard menghela nafas panjang, lalu menjatuhkan dirinya di atas sofa. Sofa yang biasa ia gunakan untuk menjamu tamu-tamu penting. Ia hanya terdiam seraya memijat dahi diantara kedua matanya.
Tanpa menatap ke arah gua, ia lalu bicara; “If I try to stop you, you’ll just walk out anyway, won’t you?”
“Ya…”
Reynard semakin menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, mengengadah, menatap kosong ke langit-langit ruangan; “Bloody hell…”
Merasa sudah mengatakan semuanya ke Reynard, gua berdiri dan bersiap keluar dari ruangannya.
“Thank you, Reynard. For everything…” Ucap gua seraya meraih gagang pintu.
“Spare me the sentiment, Lian. Just… whatever you do next, make damn sure it’s worth throwing all of this away…” Balasnya sesaat sebelum gua keluar.
Baru beberapa langkah gua berjalan menjauh, Reynard menyusul keluar. Ia kembali bicara; “if, when, you change your mind, the door’s open, always open. You don’t even need to knock…” Tambahnya.
“Thank you…” Ucap gua seraya mengangguk pelan.
—
Gua keluar dari ruang operasi untuk terakhir kalinya, melepas sarung tangan bedah yang sudah menjadi bagian dari hidup selama ini. Setelah, entah ratusan mungkin ribuan operasi, dengan deretan gelar yang mentereng, gua nggak lagi merasakan apa-apa. Hati terasa kosong, seperti ruang steril yang baru saja gua tinggalkan. Setiap operasi sukses, setiap nyawa yang terselamatkan, nggak lagi membawa makna. Gua seperti kehilangan tujuan.
Satu bulan lebih gua habiskan untuk melakukan hand-over semua tugas-tugas yang tersisa di Rumah Sakit dan menyelesaikan jadwal-jadwal mengajar atau memberi kuliah di beberapa tempat. Setelah semua beres, gua langsung beres-beres, packing; memasukkan pakaian asal-asalan ke dalam ransel, seraya menyiapkan dokumen-dokumen bepergian. Gua meninggalkan segalanya dan berencana berkeliling dunia, mencari sesuatu yang bisa mengisi kekosongan ini.
Gua tiba di Bern tepat di musim gugur, ketika daun-daun maple memenuhi sepanjang jalan yang terlihat seperti lautan merah dan emas. Kota ini kecil, namun undah. Semuanya terlihat hampir seperti lukisan, pohon-pohon, langit, jalanan berbatu berkelok di antara bangunan abad pertengahan yang dikelilingi pegunungan samar.
Apartemen gua di Kirchenfeld, sebuah flat kecil dan sederhana dengan jendela besar menghadap ke arah sungai Aare, menjadi tempat persinggahan pertama. Gua terlelap setelah menjalani penerbangan yang melelahkan. Lalu bangun pagi untuk jogging di sepanjang Kramgasse, melewati jam Zytglogge yang berdentang setiap jam, suaranya bergema di udara yang dingin.
Berbeda dengan di London, di mana semua terlihat sibuk. Di sini, orang-orang berjalan atau bersepeda dengan ritme yang tenang. Lelah berlari, gua duduk di kursi besi di tepi sungai. Menenggak air dari botol sambil menatap permukaan sungai yang kehijauan. Namun, di tengah keindahan dan tenangnya Bern, Gua masih merasa hampa.
Kota ini terlalu sempurna, terlalu teratur, yang justru bikin gua semakin gelisah.
Hari berikutnya gua habiskan dengan mengunjungi aneka tempat-tempat menarik. Museum Einsten, Mosesbrunnen, Freibad Marzili, hingga menaiki menara spiral di Katedral Münster hanya untuk memandangi atap-atap merah Bern dari ketinggian. Saat malam menjelang, gua akan duduk di kafe kecil di Altstadt, memesan kopi panas sambil mendengar percakapan dalam dialek Swiss-Jerman yang lembut. Tapi kekosongan itu tetap ada, seperti bayangan yang mengikuti setiap langkah.
Bern emang ngasih gua ketenangan, tapi bukan jawaban.
Innsbruck adalah pemberhentian berikutnya, kota kecil yang terjepit di antara pegunungan Alpen yang menjulang. Masih di musim semi yang sama, ketika lembah-lembah mulai menghijau dan bunga-bunga liar bermunculan di tepian sungai Inn. Gua berdiri di sisi jendela apartemen di Mariahilf, sebuah rumah tua dengan pintu kayu dan pemandangan langsung ke Nordkette, menjadi tempat pertama gua untuk mencoba memahami diri sendiri. Innsbruck terasa seperti perpaduan antara dongeng dan cerita kartun dengan jalanan sempit dengan rumah-rumah berwarna pastel. Sementara aroma roti pretzel yang khas selalu tercium dari setiap sudut.
Napas gua tersengal di tipisnya udara pegunungan, setelah selesai mendaki jalur kecil di pegunungan. Tapi pemandangan puncak bersalju yang berkilau di bawah matahari membuat setiap lelah terasa berarti. Di hari lain, gua menghabiskan waktu jogging di bawah Goldenes Dachl, sambil mengaggumi sebuah bangunan tinggi dengan kanopi emas yang berkilau di tengah Altstadt. Lalu duduk, beristirahat di kafe dengan sebotol air mineral dan seportsi apfelstrudel.
Orang-orang di sini ramah, walau nggak berkata-kata tapi mereka selalu menyapa dengan senyum. Namun tetap aja, gua merasa seperti orang asing yang salah tempat. Di malam hari, ketika lampu-lampu kota menyala dan bayangan Alpen menjulang di kejauhan, gua hanya duduk sambil membaca buku, sesekali merenung; mencoba mencari tahu apa yang hilang.
Innsbruck memberi gua rasa bebas, tapi nggak berhasil mengisi lubang di hati.
Dari Innsbruck, gua terbang ke Oslo, tiba di awal musim panas ketika salju sudah nggak lagi menyelimuti kota. Berbeda dengan di Innsbruck, Apartemen gua di Frogner, lebih modern dengan banyak jendela. Salah satu jendela berada di atap dan langsung menghadap ke ke langit-langit; yang jadi salah satu alasan gua membeli apartemen ini. Sementara, jendela lainnya menghadap ke taman Vigeland yang dipenuhi patung-patung batu.
Oslo terasa hidup, terasa lebih cair ketimbang Bern, namun tetap teratur. Udaranya juga terasa ringan dan bersih, hingga setiap tarikan napas terasa seperti membersihkan paru-paru.
Setiap pagi, gua jogging di sepanjang dermaga Aker Brygge. Merasakan angin laut yang dingin menyengat wajah. Lalu duduk di tepian dermaga, beristirahat sambil memandangi kapal-kapal kecil di fjord. Sementara langit kelabu yang seakan menyatu dengan permuakaan air terlihat berkilauan mirip seperti cermin.
Gua mengunjungi Opera House, bangunan putih futuristik yang menyerupai gunung es di tepi air. Bersama pengunjung-pengunjung lain, gua mencoba berjalan di atapnya yang miring, menatap kota yang terasa begitu jauh berbeda dari London, dari kehidupan gua yang dulu. Lalu, duduk di salah satu kafe di Grunerlokka, menikmati secangkir kopi hitam, sambil membaca dan sesekali mencuri dengar percakapan anak muda tentang seni dan politik.
Oslo punya energi yang lembut, tapi di balik itu, gua seperti merasa seperti terisolasi. Mungkin karena musim dingin yang gelap, atau mungkin karena hati ini yang masih belum menemukan pijakan. Di malam hari, gua kerap berdiri di balkon apartemen, menatap cahaya lampu berpendar dari jalan di bawah sana. Meresapi kekosongan yang tetap menyelimuti hati seperti salju yang nggak pernah mencair.
Setelah Oslo, gua melanjutkan perjalanan ke kota-kota lain yang nggak kalah mempesona. Berjalan di bawah kanopi bambu Arashiyama, sambil mendengar suara angin yang berbisik di antara batang-batang hijau di Kyoto. Tersesat di labirin souk di Marrakesh yang dikelilingi aroma rempah. Berdiri di puncak Table Mountain sambil menatap Samudra Atlantik yang berkilau di bawah sinar matahari di Cape Town. Setiap tempat, setiap kota punya keajaibannya sendiri, punya sesuatu yang selalu berhasil bikin gua takjub, tapi nggak cukup untuk menyembuhkan kekosongan.
Gua seperti burung yang terbang tanpa tahu arah, mencari sarang yang nggak pernah ada. Masih belum berhasil menemukan pengisi kekosongan di dalam hati, masih belum tahu apa tujuan hidup selanjutnya.
Setelah setahun berkelana, gua mulai merasa lelah. Bukan, bukan lelah secara fiski. Tapi mental dan jiwa. Rasanya seperti tengah mencoba berbagai jenis resep makanan namun nggak kunjung berhasil. Gua merindukan sesuatu yang nggak bisa gua temukan di kota-kota asing itu; mungkin suara adzan yang menggema di pagi hari, atau aroma nasi goreng dari warung pinggir jalan. Gua akhirnya memutuskan untuk pulang ke Indonesia, ke Jakarta, kota yang dulu gua tinggalkan .
Pesawat mendarat di Soekarno-Hatta saat fajar, langit jingga terlihat berkilau; menyambut gua seperti pelukan lama yang hangat.
Gua berdiri di pelataran bandara, menatap mobil-mobil lalu lalang, menjemput penumpang. Nggak lama berselang, taksi yang gua pesan akhirnya datang. Menit berikutnya, gua sudah bergabung dengan ratusan pengemudi lain; terjebak di jalan Jakarta.
Suara klakson, trotoar yang penuh pedagang, bau asap knalpot yang menembus masuk ke dalam kabin kursi penumpang belakang. Jakarta memang berisik, kacau, tapi terasa hidup, sama seperti hati gua yang entah kenapa, perlahan mulai berdenyut lagi.
—
Taksi yang membawa gua tiba di depan rumah. Kucay terlihat berdiri dan menunggu di depan gerbang. Ia langsung berpindah ke bagian belakang taksi begitu gua turun, bersiap mengambil koper yang nggak pernah ada.
“Ngapain, Cay?” Tanya gua.
“Koper?” Ia balik bertanya sambil menunjuk ke arah bagasi belakang taksi yang nggak lama kemudian pergi.
“Nggak ada…”
“Ooh…” Gumamnya, lalu bergegas membuka pintu pagar.
Di dalam garasi terlihat sebuah mobil yang terbungkus penutup mobil abu-abu. Alih-alih langsung masuk ke dalam rumah, gua justru mendekat ke garasi dan mulai menyibak selubung yang menutupi mobil. Terlihat sedan biru yang baru beberapa bulan lalu tiba di sini setelah menempuh perjalanan panjang menyeberangi samudera Atlantik, laut mediterania, hingga samudera hindia, hingga akhirnya tiba di sini.
Ujung jari gua meraba permukaan bodi mobil sambil mengamati apakah ada yang lecet akibat pengiriman.
“Nggak ada yang lecet, Mas. Udah saya cek…” Ucap Kucay yang sejak tadi terus mengikuti gua.
“Ooh… Aki dan yang lain sudah di pasang lagi?”
“Udah mas. Udah coba di panasin juga sama yang anter”
“Ok…” Gua lantas beralih ke mobil lain di depan.
“Nah, kalo yang ini ada lecetnya dikit di bemper depan… Tapi, kata yang nganter, di dokumen pengiriman lecetnya udah ada sebelumnya” Ujar Kucay yang menyusul gua lantas menunjuk ke arah bemper depan.
“Iya, emang lecet pas gua pake di sana…” Jawab gua seraya membungkuk dan menatap bekas goresan di bemper depan.
“Nah, kalo mobil yang itu masih mulus banget. Kayak baru…” Ucap Kucay sambil menunjuk ke arah SUV hitam yang berada di baris terdepan.
“Ya itu, emang baru…” Jawab gua.
“Sesuai pesan Mas; yang dua itu saya panasin seminggu dua kali. Kalo yang biru ini, nggak saya apa-apain. Cuma dipoles aja…” Kucay memberi keterangan.
“Ok.. Kuncinya mana, Cay?” Pinta gua.
Kucay lalu bergegas masuk ke dalam rumah dan kembali sambil membawa kunci mobil dan sebuah amplop besar berwarna coklat. Amplop yang berisi surat-surat kendaraan.
Gua meraih kunci, mengabaikan amplop coklat dari Kucay dan masuk ke dalam sedan biru. Gua duduk di balik kemudi, memasang kunci dan memutarnya. Deru suara mesin menggema di garasi, suara yang terdengar megah hingga bikin dada ikut bergetar. Kucay membuka pintu garasi hingga maksimal, lantas beralih ke pagar depan kemudian mendorongnya.
Menit berikutnya, gua sudah kembali ke jalan. Kini dengan mobil bersuara bising yang terus menjadi pusat perhatian orang-orang. Sebelum jauh, gua mampir ke toko burung Bang Jek, membeli beberapa ekor dan membawanya dengan kardus.
“Mau dilepas lagi mas?” Tanya Bang Jek, yang masih ingat dengan kelakukuan gua sebelumnya.
“Iya…”
“Lepas di sini aja”
“Ogah ah, ntar lo tangkep, lo jual lagi…” Balas gua, lantas pergi.
Gua mengetuk pintunya beberapa kali, mengintip ke dalam, mendapati Reynard tengah duduk di kursi kerjanya dengan kedua kaki ia naikkan ke atas meja. Sementara di tangannya ia menggenggam kaleng bir kesukaannya.
“Ah, To what do I owe this… foreboding visit?”Tanyanya begitu menyadari kehadiran gua, ia menurunkan kedua kakinya dari atas meja.
Gua masuk ke dalam ruangan, memandang sekeliling, ke deretan rak berisi buku dan jurnal medis yang tertata rapi, ke meja kecil dengan botol-botol berbentuk unik berisi wine dan wiski yang hampir semuanya tersisa setengah, interior yang masih nampak sama sejak kedatangan gua kesini bertahun-tahun yang lalu.
Tanpa menunggu dipersilakan, gua duduk di kursi; kini kami berdua saling berhadapan dengan meja kerjanya yang besar sebagai pemisahnya. Sambil meletakkan amplop putih berisi surat resign di atas meja, gua lalu bicara; “I’m resigning”
Reynard menegakkan tubuhnya, lalu menatap gua tajam. Ia bahkan nggak menyentuh amplop putih berisi surat resign gua; sepertinya nggak tertarik.
“Resigning?” Tanyanya, mencoba memastikan.
Gua mengangguk; “….”
“… No way? what happened?” Tambahnya.
“…”
“Look, Lian. You’re burnt out. It happens. Take a bloody break. A week. Two. Hell, take six if you want. Go sip cocktails in the Maldives, go find yourself in the Himalayas—whatever it takes. But don’t throw everything away over a feeling…”
Gua lalu mulai menjelaskan alasan yang gua punya.
“Just like that?” Tanyanya lagi begitu selesai mendengar penjelasan gua yang memang nggak masuk di akalnya.
“Ya, Just like that…” Jawab gua singkat.
“You’ve reached the top of the mountain, only to realise the view isn’t what you thought it’d be?” Ia menebak, seakan nggak percaya dengan penjelasan gua.
Gua mengangkat kedua bahu; “I kept fixing people. But there’s nothing there. No satisfaction, no fulfilment. Just… an empty seat in a theatre where the show’s long ended” Jawab gua.
“Lian, if you think walking away will suddenly hand you purpose on a silver platter, you’re mistaken”
Gua menghela nafas; “And if I stay? What then? Another ten years of cutting people open, of saving lives, while mine withers into nothing?”
Reynard kini berdiri dari kursinya, melempar kaleng bir yang kini kosong ke tempat sampah di ujung ruangan. Kemudian memposisikan dirinya dekat dengan gua; duduk di tepi meja kerja.
“You’re the best surgeon this hospital has ever seen. Hell, probably the best in the country. But fine, let’s say you walk out that door. What then? What’s next?”
Lagi, gua mengangkat kedua bahu; "I don’t know…”
Ia berdiri, melangkah menjauh dari gua, ke arah meja kecil dengan banyak botol wine dan wiski. Mengambil salah satu botol yang isinya paling banyak, menuangnya sedikit ke gelas kecil dari tempat yang sama dan menenggaknya hingga tak tersisa. Lalu berbalik dan menatap gua, kemudian bicara; “That’s the problem, isn’t it? You don’t know what you want, you just know what you don’t want…”
Gua terdiam begitu mendengar ucapannya barusan; Gua nggak benar-benar tahu apa yang gua mau, gua cuma tahu apa yang nggak gua mau.
“Maybe that’s enough…” Jawab gua; ragu.
“It’s not. You of all people should know, when performing surgery, hesitation is a death sentence. And right now, you’re about to operate on your own life with your eyes closed…”
“This isn’t hesitation. It’s a decision. The only thing that makes sense” Balas gua, kini dengan penuh keyakinan.
Reynard menghela nafas panjang, lalu menjatuhkan dirinya di atas sofa. Sofa yang biasa ia gunakan untuk menjamu tamu-tamu penting. Ia hanya terdiam seraya memijat dahi diantara kedua matanya.
Tanpa menatap ke arah gua, ia lalu bicara; “If I try to stop you, you’ll just walk out anyway, won’t you?”
“Ya…”
Reynard semakin menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, mengengadah, menatap kosong ke langit-langit ruangan; “Bloody hell…”
Merasa sudah mengatakan semuanya ke Reynard, gua berdiri dan bersiap keluar dari ruangannya.
“Thank you, Reynard. For everything…” Ucap gua seraya meraih gagang pintu.
“Spare me the sentiment, Lian. Just… whatever you do next, make damn sure it’s worth throwing all of this away…” Balasnya sesaat sebelum gua keluar.
Baru beberapa langkah gua berjalan menjauh, Reynard menyusul keluar. Ia kembali bicara; “if, when, you change your mind, the door’s open, always open. You don’t even need to knock…” Tambahnya.
“Thank you…” Ucap gua seraya mengangguk pelan.
—
Gua keluar dari ruang operasi untuk terakhir kalinya, melepas sarung tangan bedah yang sudah menjadi bagian dari hidup selama ini. Setelah, entah ratusan mungkin ribuan operasi, dengan deretan gelar yang mentereng, gua nggak lagi merasakan apa-apa. Hati terasa kosong, seperti ruang steril yang baru saja gua tinggalkan. Setiap operasi sukses, setiap nyawa yang terselamatkan, nggak lagi membawa makna. Gua seperti kehilangan tujuan.
Satu bulan lebih gua habiskan untuk melakukan hand-over semua tugas-tugas yang tersisa di Rumah Sakit dan menyelesaikan jadwal-jadwal mengajar atau memberi kuliah di beberapa tempat. Setelah semua beres, gua langsung beres-beres, packing; memasukkan pakaian asal-asalan ke dalam ransel, seraya menyiapkan dokumen-dokumen bepergian. Gua meninggalkan segalanya dan berencana berkeliling dunia, mencari sesuatu yang bisa mengisi kekosongan ini.
Gua tiba di Bern tepat di musim gugur, ketika daun-daun maple memenuhi sepanjang jalan yang terlihat seperti lautan merah dan emas. Kota ini kecil, namun undah. Semuanya terlihat hampir seperti lukisan, pohon-pohon, langit, jalanan berbatu berkelok di antara bangunan abad pertengahan yang dikelilingi pegunungan samar.
Apartemen gua di Kirchenfeld, sebuah flat kecil dan sederhana dengan jendela besar menghadap ke arah sungai Aare, menjadi tempat persinggahan pertama. Gua terlelap setelah menjalani penerbangan yang melelahkan. Lalu bangun pagi untuk jogging di sepanjang Kramgasse, melewati jam Zytglogge yang berdentang setiap jam, suaranya bergema di udara yang dingin.
Berbeda dengan di London, di mana semua terlihat sibuk. Di sini, orang-orang berjalan atau bersepeda dengan ritme yang tenang. Lelah berlari, gua duduk di kursi besi di tepi sungai. Menenggak air dari botol sambil menatap permukaan sungai yang kehijauan. Namun, di tengah keindahan dan tenangnya Bern, Gua masih merasa hampa.
Kota ini terlalu sempurna, terlalu teratur, yang justru bikin gua semakin gelisah.
Hari berikutnya gua habiskan dengan mengunjungi aneka tempat-tempat menarik. Museum Einsten, Mosesbrunnen, Freibad Marzili, hingga menaiki menara spiral di Katedral Münster hanya untuk memandangi atap-atap merah Bern dari ketinggian. Saat malam menjelang, gua akan duduk di kafe kecil di Altstadt, memesan kopi panas sambil mendengar percakapan dalam dialek Swiss-Jerman yang lembut. Tapi kekosongan itu tetap ada, seperti bayangan yang mengikuti setiap langkah.
Bern emang ngasih gua ketenangan, tapi bukan jawaban.
Innsbruck adalah pemberhentian berikutnya, kota kecil yang terjepit di antara pegunungan Alpen yang menjulang. Masih di musim semi yang sama, ketika lembah-lembah mulai menghijau dan bunga-bunga liar bermunculan di tepian sungai Inn. Gua berdiri di sisi jendela apartemen di Mariahilf, sebuah rumah tua dengan pintu kayu dan pemandangan langsung ke Nordkette, menjadi tempat pertama gua untuk mencoba memahami diri sendiri. Innsbruck terasa seperti perpaduan antara dongeng dan cerita kartun dengan jalanan sempit dengan rumah-rumah berwarna pastel. Sementara aroma roti pretzel yang khas selalu tercium dari setiap sudut.
Napas gua tersengal di tipisnya udara pegunungan, setelah selesai mendaki jalur kecil di pegunungan. Tapi pemandangan puncak bersalju yang berkilau di bawah matahari membuat setiap lelah terasa berarti. Di hari lain, gua menghabiskan waktu jogging di bawah Goldenes Dachl, sambil mengaggumi sebuah bangunan tinggi dengan kanopi emas yang berkilau di tengah Altstadt. Lalu duduk, beristirahat di kafe dengan sebotol air mineral dan seportsi apfelstrudel.
Orang-orang di sini ramah, walau nggak berkata-kata tapi mereka selalu menyapa dengan senyum. Namun tetap aja, gua merasa seperti orang asing yang salah tempat. Di malam hari, ketika lampu-lampu kota menyala dan bayangan Alpen menjulang di kejauhan, gua hanya duduk sambil membaca buku, sesekali merenung; mencoba mencari tahu apa yang hilang.
Innsbruck memberi gua rasa bebas, tapi nggak berhasil mengisi lubang di hati.
Dari Innsbruck, gua terbang ke Oslo, tiba di awal musim panas ketika salju sudah nggak lagi menyelimuti kota. Berbeda dengan di Innsbruck, Apartemen gua di Frogner, lebih modern dengan banyak jendela. Salah satu jendela berada di atap dan langsung menghadap ke ke langit-langit; yang jadi salah satu alasan gua membeli apartemen ini. Sementara, jendela lainnya menghadap ke taman Vigeland yang dipenuhi patung-patung batu.
Oslo terasa hidup, terasa lebih cair ketimbang Bern, namun tetap teratur. Udaranya juga terasa ringan dan bersih, hingga setiap tarikan napas terasa seperti membersihkan paru-paru.
Setiap pagi, gua jogging di sepanjang dermaga Aker Brygge. Merasakan angin laut yang dingin menyengat wajah. Lalu duduk di tepian dermaga, beristirahat sambil memandangi kapal-kapal kecil di fjord. Sementara langit kelabu yang seakan menyatu dengan permuakaan air terlihat berkilauan mirip seperti cermin.
Gua mengunjungi Opera House, bangunan putih futuristik yang menyerupai gunung es di tepi air. Bersama pengunjung-pengunjung lain, gua mencoba berjalan di atapnya yang miring, menatap kota yang terasa begitu jauh berbeda dari London, dari kehidupan gua yang dulu. Lalu, duduk di salah satu kafe di Grunerlokka, menikmati secangkir kopi hitam, sambil membaca dan sesekali mencuri dengar percakapan anak muda tentang seni dan politik.
Oslo punya energi yang lembut, tapi di balik itu, gua seperti merasa seperti terisolasi. Mungkin karena musim dingin yang gelap, atau mungkin karena hati ini yang masih belum menemukan pijakan. Di malam hari, gua kerap berdiri di balkon apartemen, menatap cahaya lampu berpendar dari jalan di bawah sana. Meresapi kekosongan yang tetap menyelimuti hati seperti salju yang nggak pernah mencair.
Setelah Oslo, gua melanjutkan perjalanan ke kota-kota lain yang nggak kalah mempesona. Berjalan di bawah kanopi bambu Arashiyama, sambil mendengar suara angin yang berbisik di antara batang-batang hijau di Kyoto. Tersesat di labirin souk di Marrakesh yang dikelilingi aroma rempah. Berdiri di puncak Table Mountain sambil menatap Samudra Atlantik yang berkilau di bawah sinar matahari di Cape Town. Setiap tempat, setiap kota punya keajaibannya sendiri, punya sesuatu yang selalu berhasil bikin gua takjub, tapi nggak cukup untuk menyembuhkan kekosongan.
Gua seperti burung yang terbang tanpa tahu arah, mencari sarang yang nggak pernah ada. Masih belum berhasil menemukan pengisi kekosongan di dalam hati, masih belum tahu apa tujuan hidup selanjutnya.
Setelah setahun berkelana, gua mulai merasa lelah. Bukan, bukan lelah secara fiski. Tapi mental dan jiwa. Rasanya seperti tengah mencoba berbagai jenis resep makanan namun nggak kunjung berhasil. Gua merindukan sesuatu yang nggak bisa gua temukan di kota-kota asing itu; mungkin suara adzan yang menggema di pagi hari, atau aroma nasi goreng dari warung pinggir jalan. Gua akhirnya memutuskan untuk pulang ke Indonesia, ke Jakarta, kota yang dulu gua tinggalkan .
Pesawat mendarat di Soekarno-Hatta saat fajar, langit jingga terlihat berkilau; menyambut gua seperti pelukan lama yang hangat.
Gua berdiri di pelataran bandara, menatap mobil-mobil lalu lalang, menjemput penumpang. Nggak lama berselang, taksi yang gua pesan akhirnya datang. Menit berikutnya, gua sudah bergabung dengan ratusan pengemudi lain; terjebak di jalan Jakarta.
Suara klakson, trotoar yang penuh pedagang, bau asap knalpot yang menembus masuk ke dalam kabin kursi penumpang belakang. Jakarta memang berisik, kacau, tapi terasa hidup, sama seperti hati gua yang entah kenapa, perlahan mulai berdenyut lagi.
—
Taksi yang membawa gua tiba di depan rumah. Kucay terlihat berdiri dan menunggu di depan gerbang. Ia langsung berpindah ke bagian belakang taksi begitu gua turun, bersiap mengambil koper yang nggak pernah ada.
“Ngapain, Cay?” Tanya gua.
“Koper?” Ia balik bertanya sambil menunjuk ke arah bagasi belakang taksi yang nggak lama kemudian pergi.
“Nggak ada…”
“Ooh…” Gumamnya, lalu bergegas membuka pintu pagar.
Di dalam garasi terlihat sebuah mobil yang terbungkus penutup mobil abu-abu. Alih-alih langsung masuk ke dalam rumah, gua justru mendekat ke garasi dan mulai menyibak selubung yang menutupi mobil. Terlihat sedan biru yang baru beberapa bulan lalu tiba di sini setelah menempuh perjalanan panjang menyeberangi samudera Atlantik, laut mediterania, hingga samudera hindia, hingga akhirnya tiba di sini.
Ujung jari gua meraba permukaan bodi mobil sambil mengamati apakah ada yang lecet akibat pengiriman.
“Nggak ada yang lecet, Mas. Udah saya cek…” Ucap Kucay yang sejak tadi terus mengikuti gua.
“Ooh… Aki dan yang lain sudah di pasang lagi?”
“Udah mas. Udah coba di panasin juga sama yang anter”
“Ok…” Gua lantas beralih ke mobil lain di depan.
“Nah, kalo yang ini ada lecetnya dikit di bemper depan… Tapi, kata yang nganter, di dokumen pengiriman lecetnya udah ada sebelumnya” Ujar Kucay yang menyusul gua lantas menunjuk ke arah bemper depan.
“Iya, emang lecet pas gua pake di sana…” Jawab gua seraya membungkuk dan menatap bekas goresan di bemper depan.
“Nah, kalo mobil yang itu masih mulus banget. Kayak baru…” Ucap Kucay sambil menunjuk ke arah SUV hitam yang berada di baris terdepan.
“Ya itu, emang baru…” Jawab gua.
“Sesuai pesan Mas; yang dua itu saya panasin seminggu dua kali. Kalo yang biru ini, nggak saya apa-apain. Cuma dipoles aja…” Kucay memberi keterangan.
“Ok.. Kuncinya mana, Cay?” Pinta gua.
Kucay lalu bergegas masuk ke dalam rumah dan kembali sambil membawa kunci mobil dan sebuah amplop besar berwarna coklat. Amplop yang berisi surat-surat kendaraan.
Gua meraih kunci, mengabaikan amplop coklat dari Kucay dan masuk ke dalam sedan biru. Gua duduk di balik kemudi, memasang kunci dan memutarnya. Deru suara mesin menggema di garasi, suara yang terdengar megah hingga bikin dada ikut bergetar. Kucay membuka pintu garasi hingga maksimal, lantas beralih ke pagar depan kemudian mendorongnya.
Menit berikutnya, gua sudah kembali ke jalan. Kini dengan mobil bersuara bising yang terus menjadi pusat perhatian orang-orang. Sebelum jauh, gua mampir ke toko burung Bang Jek, membeli beberapa ekor dan membawanya dengan kardus.
“Mau dilepas lagi mas?” Tanya Bang Jek, yang masih ingat dengan kelakukuan gua sebelumnya.
“Iya…”
“Lepas di sini aja”
“Ogah ah, ntar lo tangkep, lo jual lagi…” Balas gua, lantas pergi.
Lanjut ke bawah
Diubah oleh robotpintar 18-04-2025 22:05
delet3 dan 33 lainnya memberi reputasi
34
Kutip
Balas
Tutup