- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
fakecrash dan 150 lainnya memberi reputasi
151
219.2K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#694
001-H No Way Home
Spoiler for 001-H No Way Home:
Sudah hampir setahun berselang sejak kejadian dengan salah satu menteri Jerman. Kabar yang gua dengar dari Reynard, si menteri sudah nggak lagi mengalami kejang perut; sudah sembuh dari penyakitnya.
Gegara kejadian itu pula, gua pada akhirnya terus dipercaya untuk menangangi pasien-pasien VIP. Mulai dari pejabat-pejabat tinggi pemerintah dalam dan luar negeri, hingga keluarga bagsawan kerajaan. Sekarang, alasan gua bepergian keluar negeri nggak lagi karena harus memberi kuliah atau menjadi pembicara di seminar-seminar, tetapi juga untuk memberikan perawatan atau sekedar konsultasi ke para VIP.
Bukannya mau berlagak, tapi jadi yang terbaik di bidang ini nyatanya sudah nggak seseru sebelumnya. Gua sudah nggak tau harus mencari apa lagi? pada akhirnya, gua malah terjerumus masuk ke bidang lain; Forensik. Merasa dengan mempelajari bidang yang baru, gua bisa mendapat keseruan dan tujuan baru.
“Hah, lo ngambil spesialis Forensik?”Tanya Ncek melalui sambungan telepon.
“Iya… Abis nggak tau harus ngapain lagi” Jawab gua santai.
“Hhh… Lo terlalu tenang untuk seseorang yang ngaku nggak tau arah dan nggak tau harus ngapain. Atau lo sebenernya bukan nggak tau harus mencari apa…”
“…”
“… Lo cuma mau menunjukkan kalau lo masih bisa pegang kendali atas apa pun yang tersisa” Tambahnya.
Untuk urusan financial, gua juga sama sekali nggak khawatir. Penghasilan sebagai dokter spesialis di rumah sakit dan fee sebagai narasumber atau dosen tamu di berbagai kampus tentu terbilang labih dari cukup; jauh lebih dari cukup. Sebagian besar uang yang gua dapat sengaja gua kirim untuk dikelola Ibu, entah itu untuk keperluan yayasan atau urusan pribadinya. Sisanya, gua investasikan dalam bentuk deposito dan asset berupa beberapa unit apartemen di pinggiran London, Oslo, Bern, Innsbruck dan satu unit rumah di Jakarta.
Nggak cuma itu, gua juga punya beberapa unit mobil yang tergolong mewah di sini, di London. Walaupun mobil tersebut sangat jarang dipakai, karena jarak dari apartemen ke Rumah Sakit yang terbilang dekat. Hanya terparkir di garasi basement apartemen. Kebanyakan, mobil-mobil tersebut merupakan hibah atau pemberian dari orang-orang penting super kaya yang sudah gua bantu perihal kesehatan.
Salah satu mobil paling gua sayangi adalah Nissan Skyline GTR R-34 Nur Spec pemberian Menteri dari Jerman yang dulu pernah mendapat perawatan dari gua. Gua begitu menyayangi mobil tersebut karena selain jumlahnya yang langka, juga karena mobil ini mengingatkan gua akan game yang dulu sering kami mainkan. Mobil yang sering gua pakai di dalam game, sama persis dengan mobil yang kini berada di garasi apartemen gua.
—
Hari itu, jumlah pasien terbilang cukup banyak. Bahkan lebih banyak dari hari-hari lainnya di tahun ini. Saking padatnya jadwal, Mathilda sampai harus menunda beberapa kunjungan pasien karena ada jadwal operasi yang nggak bisa menunggu.
Ditengah padatnya jadwal, gua sesekali mencuri waktu untuk beristirahat sejenak; merokok sambil bermain game di pintu belakang rumah sakit; tempat dimana orang-orang bakal kesulitan mencari gua. Tapi, nggak berlaki buat Dokter Reynard yang punya akses CCTV, ia bisa dengan mudah melacak dan menemukan gua.
Terdengar suara langkah kaki yang mendekat, tanpa menoleh gua sudah bisa tahu siapa yang datang; Reynard.
Ia menghela nafas sebentar sebelum buka suara; “Well, isn’t this a charming sight? The hospital’s finest neurosurgeon indulging in nicotine and digital warfare”
Gua nggak langsung merespon ucapannya, tetap melanjutkan game yang sedang intense.
“Fancy joining me? I’ve got another life left if you’re quick” Balas gua tanpa memalingkan pandangan dari layar ponsel.
Reynard mendekat, lalu duduk di kursi kosong di sebelah gua. Ia mengintip, melirik ke arah ponsel gua yang masih menampilkan game fighting.
“Tempting, but no. I’d rather keep my lungs intact and my reputation less... rebellious” Ucapnya.
Game berakhir, gua kalah. Masih dengan ponsel di tangan kanan, gua menghisap rokok di tangan kiri dan menghembuskannya ke arah lain. Kemudian menoleh ke arahnya; “What brings you here, then? Surely not to nag me about my vices”
Ia lalu bicara sambil menutup hidungnya dengan tangan kanan, sementara tangan satunya ia gunakan untuk mengibas asap rokok yang tersisa; “As much as I’d love to play the concerned boss, I’m here for something more pressing…”
“…”
“… You’ve been requested as a speaker for the medical symposium in…” Ia berhenti bicara, terdiam sejenak.
“…”
Setelah beberapa saat barulah ia menlanjutkan; “… Jakarta”
“No!” Gua memberi jawaban cepat.
“Please…” Pintanya.
Gua terdiam sebentar dan menatap ke arahnya. Tahu kalau nggak punya kemampuan untuk menolak permintaan tersebut. Permintaan yang datangnya dari pemilik kuasa yang nggak bisa dilawan. Gua menghela nafas lalu mengangguk pelan.
“When?” Tanya gua.
Ia mengeluarkan ponsel, mengecek kalender melalui layar ponsel, kemudian menoleh ke gua dan memberi jawaban; “Two days from now. And before you start, yes, I know it’s short notice”
Gua menggeser duduk sedikit menjauh, lalu pasang tampang kecewa sambil terus menatapnya. Sementara ia memandang gua dengan matanya yang penuh harap.
“Short notice? That’s putting it mildly. I’ve got patients, surgeries, a schedule packed tighter than your tie drawer” Ucap gua sambil menjatuhkan rokok ke lantai semen dan menginjaknya dengan ujung sepatu. Kemudian mengambil sebatang lagi dari bungkusan dan menyulutnya.
Reynard memungut beberapa sisa puntung rokok gua di lantai semen dan membuangnya ke tempat sampah.
“I don’t wear ties, Lian…” Responnya seraya menunjuk ke arah kerah kemejanya.
“…”
“… But this isn’t just any invitation. The Indonesian Minister of Health, your goverment specifically requested you. That’s not something you brush off” Tambahnya.
“Ck… Minister or not, my patients come first. I can’t just jet off to Jakarta and leave them hanging” Jawab gua.
“I get that, truly. But,Think of the impact you could make, not just for your career, but for the field” Reynard memberikan alasan.
Gua menyeringai, kemudian menjawab; “Impact, you say? Sounds more like a bureaucratic circus to me”
“Perhaps, but it’s a circus where your voice could actually matter. Look, I’ll personally see to it that your patients and surgeries are rescheduled. Nothing will fall through the cracks, I promise” Balasnya, kali tampangnya terlihat serius.
“You’d do that? Manage my chaos while I’m off hobnobbing in Jakarta?” Tanya gua memastikan kalau ia akan bertanggung jawab sepenuhnya untuk ‘mengatur’ jadwal kunjungan dan operasi dari pasien yang gua tangani.
“Absolutely. I wouldn’t be here begging if it weren’t important” Jawabnya, memohon.
Gua menghembuskan asap rokok ke udara, Reynard dengan cepat mengibaskan tangan membuat asap rokok langsung buyar seketika.
“Ck…You’re relentless, you know that?”
Ia menyeringai; “It’s part of my charm, hehe…”
Gua terdiam sebentar, menimbang untung dan ruginya. Beberapa saat berikutnya, barulah gua memberi jawaban; “Fine. I’ll go. But if my schedule’s a mess when I’m back, you’re scrubbing in for every single surgery”
Reynard tersenyum, lalu menyodorkan tangannya mengajak saling menjabat; “Deal…”
“…” Gua nggak menjawab, hanya menepis uluran tangannya.
“… And I’ll even clean the scalpels. Now, finish your game. You’ve got a flight to prepare for” Ia menambahkan.
“Bloody hell, Boss. Fine…” Jawab gua kemudian kembali melanjutkan bermain game. Sementara, Reynard berdiri dan bersiul sambil berjalan menjauh.
—
Di sisi lain, merespon rencana dadakan gua untuk pergi, Departemen Neurologi kalang kabut, chaos karena jadwal kunjungan dan operasi jadi berantakan. Bukan, bukan karena kami kekurangan dokter, tapi karena rencana operasi harus kembali di-adjust menyesuaikan dengan dokter bedah yang akan memimpin operasi menggantikan gua.
Biasanya tiap dokter bedah punya tim dan gayanya sendiri dalam menjalankan operasi. Ada yang lebih banyak memberikan kesempatan ke dokter pendamping untuk memberikan jam terbang, ada juga yang lebih memilih melakukan semuanya sendiri. Ada yang memilih menggunakan metode A, Metode B, Metode C dan seterusnya. Jadi, beda dokter bedah, beda pula pendekatannya.
Sesuai janjinya, Reynard langsung ikut turun tangan mengatur ulang jadwal dimana gua berada di dalamnya. Situasi langsung terkendali, semua aman teratur.
Lusa, gua sudah berada di pesawat paling awal yang membawa gua ke Jakarta.
Ini bukanlah pertama kalinya gua diminta untuk menjadi pembicara di seminar dengan pemberitahuan yang singkat dan mendadak. Beberapa minggu sebelumnya gua pergi ke Berlin dengan keperluan dan kondisi yang sama, yang bikin gua akhirnya harus rela me-review materi persentasi di atas pesawat.
Setelah hampir 21 jam berselang, gua tiba di Jakarta, dimana mobil dan staf kementrian sudah menunggu, kemudian langsung membawa gua ke hotel. Hotel yang sama yang digunakan para tamu-tamu lain menginap, hotel yang berada di daerah Senayan dekat dengan tempat acara diselenggarakan. Pun sudah beberapa kali menjadi pembicara di kalangan internasional, tapi kali ini terasa berbeda, karena untuk pertama kalinya, gua bicara di sini; di Indonesia.
—
Dokter Dias, orang yang sejak kedatangan gua selalu menemani, menyambut gua begitu turun dari panggung selesai gua memberikan kuliah. Gua membaca wajahnya, ia terlihat pucat.
“Dok… eee… Anu, pembahasan yang terakhir kayaknya nggak perlu deh…” Ucapnya terbata-bata.
“Kenapa emangnya?” Tanya gua, berlagak pilon.
“Eeee, anu, saya bingung nanti jelasin ke dokter-dokter lain…” Jawabnya.
“Saya yang ngomong kenapa Dokter yang malah bingung?” Tanya gua lagi.
“…” Ia terdiam. Sementara gua langsung pergi meninggalkan dirinya.
Setelah mengambil tas dari ruang tunggu, gua bergegas menuju ke aula auditorium. Banyak mata yang menatap begitu gua tiba di aula, beberapa bahkan berusaha mendekat dan mengajak bicara. Namun, gua dengan cepat menyelinap ke sudut terjauh ruangan.
Tepat setelah gua keluar dari pintu auditorium, tangan gua langsung ditarik oleh sosok seorang pria. Ia menarik gua menjauh hingga ke lobi belakang gedung tempat acara berlangsung.
“Gila lo!” Seru Ncek.
“Emang…” Jawab gua santai, lalu mulai mengambil sebatang rokok dan menyulutnya.
Ncek menggelengkan kepalanya, sementara matanya terus ia arahkan ke gua.
“Hhh… Lo sadar nggak sih, omongan tadi bisa bikin lo jadi public enemy dokter-dokter sini?”
“Nggak..”
“Kalo begini sih nggak mungkin sih lo bakal bisa dapet ijin kerja di sini…” Ucapnya.
“Gapapa… lagian nggak tau apa gue masih mau jadi dokter lagi apa nggak…”
“Hah!?”
“Nggak tau, gue bakal pulang ke sini lagi apa nggak”
“What!?”
“Nggak ada alasan lagi buat gue pulang ke sini. Indonesia udah nggak menawarkan apa-apa lagi buat gue” Gua menambahkan. Saat ini, gua merasa kembali ke sini sudah bukan lagi sebuah keharusan. Terlebih lagi, gua merasa saat berada di sini gua merasa menjadi sosok yang berbeda; sosok yang nggak punya kendali. Dan gua nggak suka saat menghadapi sesuatu yang nggak berada dalam kontrol gua.
“Ah, Gila…” Serunya, masih sambil menggelengkan kepalanya.
Ia merasa sepertinya speech gua tadi bikin banyak dokter merasa nggak nyaman, apalagi dokter-dokter yang berasal dari sini, dari Indonesia. Sejatinya, nggak ada yang salah dengan isi kuliah gua tadi, gua membahas salah satu hal yang menjadi materi penelitian gua beberapa tahun belakangan ini; Alexithymia. Ya walaupun memang di akhir kuliah gua sempat membahas tentang betapa bobroknya sistem pendidikan dokter di Indonesia.
“Pendidikan dan birokrasi yang buruk, bakal menghasilkan dokter yang buruk, Gila! Masa iya lo berani-beraninya ngomong gitu sih?” Ucap Ncek, menirukan ucapan gua sebelum turun dari panggung.
“Tapi, bener nggak omongan gue?”
Ncek terdiam sebentar, lalu menjawab pelan, sangat pelan; “Bener sih…”
“Yaudah… Kenapa lo merepet aja dari tadi?”
“Yaaa… tapi kan. Ah Gila… Ada Bu menteri lho tadi” Ucapnya, gemas.
“Justru ada beliau makanya gue ngomong begitu…” Jawab gua.
Sore itu, gua sengaja mematikan ponsel dan menghabiskan waktu berbincang dengan Ncek. Isi perbincangan kebanyakan berisi tentang cerita-cerita masa lalu dan beberapa hal yang nggak berhubungan dengan dunia kedokteran.
“Anterin gue, Ncek…” Gua bicara sambil memasukkan ponsel yang mati, dompet dan bungkusan rokok ke dalam tas.
“Ke hotel?”
“Nggak, ke rumah…”
“Oh.. Rumah baru lo?”
“Baru? Udah lama kok” Jawab gua, merasa rumah itu sudah cukup lama gua beli. Namun, sampai sekarang masih gua biarkan kosong tanpa penghuni.
“Iya, tapi nggak pernah lo tempatin kan?”
“Iya..”
“Bingung gue, lo beli rumah tapi nggak ada rencana pulang ke sini”
“Pas beli gue masih punya rencana untuk pulang….”
“…”
“… bahkan menikah” Gua menambahkan.
Setengah jam berikutnya kami berdua sudah memasuki area komplek rumah ‘baru’ gua. Sambil melepas sabuk pengaman, gua bicara ke Ncek; “Mau mampir nggak?”
“Mampir? ke rumah yang kosong? yang perabotannya juga belum ada? mau ngapain?” Ia balik bertanya.
“Mau apa nggak?” Tanya gua lagi.
“Nggak…”
“Nah yaudah jawab aja ‘nggak’, ribet” Balas gua.
Menit berikutnya, Ncek melambatkan laju mobil dan berhenti tepat di depan sebuah rumah besar yang nampak gelap.
“Lo sampe kapan di sini?” Tanya Ncek sebelum gua turun dari mobil.
“Nggak tau, mungkin besok atau lusa langsung ke Solo…”
“Oh. Abis itu langsung balik ke London?” Tanyanya lagi.
“Iya…”
“Yaudah kalo butuh apa-apa, call me..”
“Iyaaa…”
—
Gua berdiri tepat di depan teras rumah, mendongak dan menatap sekeliling. Kemudian mendekat ke arah pintu, mengangkat salah satu pot bungan, mengambil anak kunci dan membuka pintu.
Aroma pengap dan kegelapan menyambut gua. Tangan gua meraba-raba permukaan dinding, mencoba mencari saklar lampu.
‘Tek…’
Lampu di ruang depan berkedip sebentar lalu menyala terang. Gua mulai berkeliling dan menyalakan satu persatu lampu setiap ruangan. Setiap langkah kaki gua mengeluarkan suara yang memantul, menggema di ruangan kosong. Sejak pertama kali membelinya, gua sama sekali belum pernah masuk ke rumah ini lagi. Rumah yang seharusnya menjadi tempat gua pulang, rumah di mana seharusnya Natalie berada di sini, menunggu gua. Rumah yang dapurnya menjadi tempat Natalie mengasah kemampuan memasaknya yang nggak seberapa. Rumah yang seharusnya menjadi tempat untuk keluarga kecil kami.
Kini, ini hanya sebuah rumah. Kosong dan nggak punya arti apa-apa.
Setelah menyalakan semua lampu dan memeriksa ruangan demi ruangan, gua keluar dari rumah. Membiarkan pintunya terbuka dan berjalan kaki menuju keluar komplek.
Langkah gua terhenti tepat di depan sebuah toko penjual perabot yang hampir saja tutup. Gua masuk untuk membeli beberapa alat kebersihan. Setelah dari toko perabot, gua mampir ke mini market; membeli cairan pembersih dan beberapa kebutuhan lainnya.
“Mas Lian?” Seru seorang pria begitu gua keluar dari minimarket.
Gua berpaling dan menatap ke arah pria itu.
“Eh, Cay… Apa kabar?” Sapa gua.
Kucay menyodorkan tangannya, mengajak bersalaman. Namun, gua nggak bisa menyambut ajakan bersalamannya. Karena kedua tangan yang sibuk memegang barang-barang.
Kami lalu berbincang. Duduk di pelataran mini market sambil merokok. Kusnandar, atau biasa dipanggil Kucay adalah anak dari penjual koran yang dulu mangkal di depan gang dekat SMA gua. Usianya sedikit lebih muda dari gua, dan karena sering menjaga kios koran bapaknya, kami; para siswa SMA yang sering ‘nongkrong’ jadi cukup akrab dengannya.
Kini ia sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak.
“Terus kerja apa, Cay?” Tanya gua.
“Kalo malem gini saya markir…”
“Oh.. Kalo siang?”
“Kalo siang saya jaga toko burung” Jawabnya.
“Toko burung? di mana?”
“Itu di seberang…” Jawabnya sambil menunjuk ke arah kios yang kini tutup.
“Oooh… Cukup gajinya buat hidup?”
“Kalo nurutin kemauan ya nggak cukup. mas”
“…”
“… Kalo ngikutin kebutuhan; ya cukup. Di cukup-cukupin” Tambahnya.
“Hahaha… Hebat”
Setelah cukup lama berbincang dengan Kucay, gua lantas pamit dan kembali ke rumah.
Gua melepas kemeja, menyampirkannya di selasar tangga dan mulai mempersiapkan alat bersih-bersih yang beru saja dibeli. Kemudian mulai membersihkan setiap sudut rumah tanpa terkecuali. Kamar demi kamar, ruangan demi ruangan, hingga nggak ada yang terlewat.
Jam menunjukkan pukul 4 dini hari saat gua berhasil membersihkan seluruh bagian dalam rumah. Sementara, area garasi dan halaman yang penuh dengan rumput yang meninggi sama sekali belum tersenuth. Lagian, gua juga nggak punya alat untuk membersihkan rumput dan lumut di halaman.
Gua berbaring telentang di lantai kamar di lantai atas, kamar dengan ukuran paling besar yang ada di rumah ini. Kamar yang menjadi tempat terakhir yang selesai gua bersihkan. Sambil mencoba mengatur napas yang tersengal, gua menatap kosong ke arah lampu terang di langit-langit kamar. Membayangkan hidup gua yang kini terasa kosong.
Kosong, karena gua merasa nggak lagi punya gairah untuk melanjutkan kehidupan yang seperti ini. Kehidupan yang terus menerus mengingatkan gua akan masa lalu. Kehidupan yang nggak lagi seseru sebelumnya.
Gua lantas terlelap.
Besoknya, pagi-pagi sekali, setelah belari mengelilingi komplek perumahan, gua menyempatkan diri untuk mempir ke toko burung yang semalam sempat disebutkan oleh Kucay.
Terlihat Kucay tengah mengeluarkan sangkar-sangkar berisi burung dan menggantungnya di kanopi depan toko. Begitu melihat kedatangan gua, Kucay lantas tersenyum dan menghampiri.
“Wuih… Lari pagi?”
Gua nggak langsung menjawab, hanya menatap ke arah burung-burung yang berada di dalam sangkar.
“Ini berapa harganya, cay?” Tanya gua.
“Yang mana?” Ia balik bertanya.
“Emang beda-beda?”
“Beda lah…” Jawabnya, lantas mulai menyebutkan jenis-jenis burung sambil menunjukkannya ke gua.
“Dapet dari mana?” Tanya gua lagi, mulai penasaran.
“Ada yang beli, ada yang nangkep”
“Nangkep?”
“Iya, pake jebakan…”
“Jebakan?”
“Iya…” Jawabnya, kemudian mengambil salah satu sangkar dari bambu. Kandang ‘jebakan’, yang punya mekanisme agar pintunya langsung menutup begitu ada burung yang masuk karena terpikat makanan atau umpan di dalamnya.
“Yang dijebak yang mana aja?” Tanya gua.
“Itu, itu, itu…”
“Berapa semua?”
“Lo mau beli?”
“Iya…”
“Serius?”
“Iyaaa, Cay…”
Senyumnya terkembang. Dengan sigap dan cekatan ia mulai menyiapkan sangkar kecil dan beberapa buah kardus kosong.
“Nggak usah pake kandang, cay…”
“Hah, terus mau dibawa pake apa?”
“Lepas aja…”
“Hah!?”
“Lepas aja..”
“Lepas ke langit?”
“Iya…”
Gegara kejadian itu pula, gua pada akhirnya terus dipercaya untuk menangangi pasien-pasien VIP. Mulai dari pejabat-pejabat tinggi pemerintah dalam dan luar negeri, hingga keluarga bagsawan kerajaan. Sekarang, alasan gua bepergian keluar negeri nggak lagi karena harus memberi kuliah atau menjadi pembicara di seminar-seminar, tetapi juga untuk memberikan perawatan atau sekedar konsultasi ke para VIP.
Bukannya mau berlagak, tapi jadi yang terbaik di bidang ini nyatanya sudah nggak seseru sebelumnya. Gua sudah nggak tau harus mencari apa lagi? pada akhirnya, gua malah terjerumus masuk ke bidang lain; Forensik. Merasa dengan mempelajari bidang yang baru, gua bisa mendapat keseruan dan tujuan baru.
“Hah, lo ngambil spesialis Forensik?”Tanya Ncek melalui sambungan telepon.
“Iya… Abis nggak tau harus ngapain lagi” Jawab gua santai.
“Hhh… Lo terlalu tenang untuk seseorang yang ngaku nggak tau arah dan nggak tau harus ngapain. Atau lo sebenernya bukan nggak tau harus mencari apa…”
“…”
“… Lo cuma mau menunjukkan kalau lo masih bisa pegang kendali atas apa pun yang tersisa” Tambahnya.
Untuk urusan financial, gua juga sama sekali nggak khawatir. Penghasilan sebagai dokter spesialis di rumah sakit dan fee sebagai narasumber atau dosen tamu di berbagai kampus tentu terbilang labih dari cukup; jauh lebih dari cukup. Sebagian besar uang yang gua dapat sengaja gua kirim untuk dikelola Ibu, entah itu untuk keperluan yayasan atau urusan pribadinya. Sisanya, gua investasikan dalam bentuk deposito dan asset berupa beberapa unit apartemen di pinggiran London, Oslo, Bern, Innsbruck dan satu unit rumah di Jakarta.
Nggak cuma itu, gua juga punya beberapa unit mobil yang tergolong mewah di sini, di London. Walaupun mobil tersebut sangat jarang dipakai, karena jarak dari apartemen ke Rumah Sakit yang terbilang dekat. Hanya terparkir di garasi basement apartemen. Kebanyakan, mobil-mobil tersebut merupakan hibah atau pemberian dari orang-orang penting super kaya yang sudah gua bantu perihal kesehatan.
Salah satu mobil paling gua sayangi adalah Nissan Skyline GTR R-34 Nur Spec pemberian Menteri dari Jerman yang dulu pernah mendapat perawatan dari gua. Gua begitu menyayangi mobil tersebut karena selain jumlahnya yang langka, juga karena mobil ini mengingatkan gua akan game yang dulu sering kami mainkan. Mobil yang sering gua pakai di dalam game, sama persis dengan mobil yang kini berada di garasi apartemen gua.
—
Hari itu, jumlah pasien terbilang cukup banyak. Bahkan lebih banyak dari hari-hari lainnya di tahun ini. Saking padatnya jadwal, Mathilda sampai harus menunda beberapa kunjungan pasien karena ada jadwal operasi yang nggak bisa menunggu.
Ditengah padatnya jadwal, gua sesekali mencuri waktu untuk beristirahat sejenak; merokok sambil bermain game di pintu belakang rumah sakit; tempat dimana orang-orang bakal kesulitan mencari gua. Tapi, nggak berlaki buat Dokter Reynard yang punya akses CCTV, ia bisa dengan mudah melacak dan menemukan gua.
Terdengar suara langkah kaki yang mendekat, tanpa menoleh gua sudah bisa tahu siapa yang datang; Reynard.
Ia menghela nafas sebentar sebelum buka suara; “Well, isn’t this a charming sight? The hospital’s finest neurosurgeon indulging in nicotine and digital warfare”
Gua nggak langsung merespon ucapannya, tetap melanjutkan game yang sedang intense.
“Fancy joining me? I’ve got another life left if you’re quick” Balas gua tanpa memalingkan pandangan dari layar ponsel.
Reynard mendekat, lalu duduk di kursi kosong di sebelah gua. Ia mengintip, melirik ke arah ponsel gua yang masih menampilkan game fighting.
“Tempting, but no. I’d rather keep my lungs intact and my reputation less... rebellious” Ucapnya.
Game berakhir, gua kalah. Masih dengan ponsel di tangan kanan, gua menghisap rokok di tangan kiri dan menghembuskannya ke arah lain. Kemudian menoleh ke arahnya; “What brings you here, then? Surely not to nag me about my vices”
Ia lalu bicara sambil menutup hidungnya dengan tangan kanan, sementara tangan satunya ia gunakan untuk mengibas asap rokok yang tersisa; “As much as I’d love to play the concerned boss, I’m here for something more pressing…”
“…”
“… You’ve been requested as a speaker for the medical symposium in…” Ia berhenti bicara, terdiam sejenak.
“…”
Setelah beberapa saat barulah ia menlanjutkan; “… Jakarta”
“No!” Gua memberi jawaban cepat.
“Please…” Pintanya.
Gua terdiam sebentar dan menatap ke arahnya. Tahu kalau nggak punya kemampuan untuk menolak permintaan tersebut. Permintaan yang datangnya dari pemilik kuasa yang nggak bisa dilawan. Gua menghela nafas lalu mengangguk pelan.
“When?” Tanya gua.
Ia mengeluarkan ponsel, mengecek kalender melalui layar ponsel, kemudian menoleh ke gua dan memberi jawaban; “Two days from now. And before you start, yes, I know it’s short notice”
Gua menggeser duduk sedikit menjauh, lalu pasang tampang kecewa sambil terus menatapnya. Sementara ia memandang gua dengan matanya yang penuh harap.
“Short notice? That’s putting it mildly. I’ve got patients, surgeries, a schedule packed tighter than your tie drawer” Ucap gua sambil menjatuhkan rokok ke lantai semen dan menginjaknya dengan ujung sepatu. Kemudian mengambil sebatang lagi dari bungkusan dan menyulutnya.
Reynard memungut beberapa sisa puntung rokok gua di lantai semen dan membuangnya ke tempat sampah.
“I don’t wear ties, Lian…” Responnya seraya menunjuk ke arah kerah kemejanya.
“…”
“… But this isn’t just any invitation. The Indonesian Minister of Health, your goverment specifically requested you. That’s not something you brush off” Tambahnya.
“Ck… Minister or not, my patients come first. I can’t just jet off to Jakarta and leave them hanging” Jawab gua.
“I get that, truly. But,Think of the impact you could make, not just for your career, but for the field” Reynard memberikan alasan.
Gua menyeringai, kemudian menjawab; “Impact, you say? Sounds more like a bureaucratic circus to me”
“Perhaps, but it’s a circus where your voice could actually matter. Look, I’ll personally see to it that your patients and surgeries are rescheduled. Nothing will fall through the cracks, I promise” Balasnya, kali tampangnya terlihat serius.
“You’d do that? Manage my chaos while I’m off hobnobbing in Jakarta?” Tanya gua memastikan kalau ia akan bertanggung jawab sepenuhnya untuk ‘mengatur’ jadwal kunjungan dan operasi dari pasien yang gua tangani.
“Absolutely. I wouldn’t be here begging if it weren’t important” Jawabnya, memohon.
Gua menghembuskan asap rokok ke udara, Reynard dengan cepat mengibaskan tangan membuat asap rokok langsung buyar seketika.
“Ck…You’re relentless, you know that?”
Ia menyeringai; “It’s part of my charm, hehe…”
Gua terdiam sebentar, menimbang untung dan ruginya. Beberapa saat berikutnya, barulah gua memberi jawaban; “Fine. I’ll go. But if my schedule’s a mess when I’m back, you’re scrubbing in for every single surgery”
Reynard tersenyum, lalu menyodorkan tangannya mengajak saling menjabat; “Deal…”
“…” Gua nggak menjawab, hanya menepis uluran tangannya.
“… And I’ll even clean the scalpels. Now, finish your game. You’ve got a flight to prepare for” Ia menambahkan.
“Bloody hell, Boss. Fine…” Jawab gua kemudian kembali melanjutkan bermain game. Sementara, Reynard berdiri dan bersiul sambil berjalan menjauh.
—
Di sisi lain, merespon rencana dadakan gua untuk pergi, Departemen Neurologi kalang kabut, chaos karena jadwal kunjungan dan operasi jadi berantakan. Bukan, bukan karena kami kekurangan dokter, tapi karena rencana operasi harus kembali di-adjust menyesuaikan dengan dokter bedah yang akan memimpin operasi menggantikan gua.
Biasanya tiap dokter bedah punya tim dan gayanya sendiri dalam menjalankan operasi. Ada yang lebih banyak memberikan kesempatan ke dokter pendamping untuk memberikan jam terbang, ada juga yang lebih memilih melakukan semuanya sendiri. Ada yang memilih menggunakan metode A, Metode B, Metode C dan seterusnya. Jadi, beda dokter bedah, beda pula pendekatannya.
Sesuai janjinya, Reynard langsung ikut turun tangan mengatur ulang jadwal dimana gua berada di dalamnya. Situasi langsung terkendali, semua aman teratur.
Lusa, gua sudah berada di pesawat paling awal yang membawa gua ke Jakarta.
Ini bukanlah pertama kalinya gua diminta untuk menjadi pembicara di seminar dengan pemberitahuan yang singkat dan mendadak. Beberapa minggu sebelumnya gua pergi ke Berlin dengan keperluan dan kondisi yang sama, yang bikin gua akhirnya harus rela me-review materi persentasi di atas pesawat.
Setelah hampir 21 jam berselang, gua tiba di Jakarta, dimana mobil dan staf kementrian sudah menunggu, kemudian langsung membawa gua ke hotel. Hotel yang sama yang digunakan para tamu-tamu lain menginap, hotel yang berada di daerah Senayan dekat dengan tempat acara diselenggarakan. Pun sudah beberapa kali menjadi pembicara di kalangan internasional, tapi kali ini terasa berbeda, karena untuk pertama kalinya, gua bicara di sini; di Indonesia.
—
Dokter Dias, orang yang sejak kedatangan gua selalu menemani, menyambut gua begitu turun dari panggung selesai gua memberikan kuliah. Gua membaca wajahnya, ia terlihat pucat.
“Dok… eee… Anu, pembahasan yang terakhir kayaknya nggak perlu deh…” Ucapnya terbata-bata.
“Kenapa emangnya?” Tanya gua, berlagak pilon.
“Eeee, anu, saya bingung nanti jelasin ke dokter-dokter lain…” Jawabnya.
“Saya yang ngomong kenapa Dokter yang malah bingung?” Tanya gua lagi.
“…” Ia terdiam. Sementara gua langsung pergi meninggalkan dirinya.
Setelah mengambil tas dari ruang tunggu, gua bergegas menuju ke aula auditorium. Banyak mata yang menatap begitu gua tiba di aula, beberapa bahkan berusaha mendekat dan mengajak bicara. Namun, gua dengan cepat menyelinap ke sudut terjauh ruangan.
Tepat setelah gua keluar dari pintu auditorium, tangan gua langsung ditarik oleh sosok seorang pria. Ia menarik gua menjauh hingga ke lobi belakang gedung tempat acara berlangsung.
“Gila lo!” Seru Ncek.
“Emang…” Jawab gua santai, lalu mulai mengambil sebatang rokok dan menyulutnya.
Ncek menggelengkan kepalanya, sementara matanya terus ia arahkan ke gua.
“Hhh… Lo sadar nggak sih, omongan tadi bisa bikin lo jadi public enemy dokter-dokter sini?”
“Nggak..”
“Kalo begini sih nggak mungkin sih lo bakal bisa dapet ijin kerja di sini…” Ucapnya.
“Gapapa… lagian nggak tau apa gue masih mau jadi dokter lagi apa nggak…”
“Hah!?”
“Nggak tau, gue bakal pulang ke sini lagi apa nggak”
“What!?”
“Nggak ada alasan lagi buat gue pulang ke sini. Indonesia udah nggak menawarkan apa-apa lagi buat gue” Gua menambahkan. Saat ini, gua merasa kembali ke sini sudah bukan lagi sebuah keharusan. Terlebih lagi, gua merasa saat berada di sini gua merasa menjadi sosok yang berbeda; sosok yang nggak punya kendali. Dan gua nggak suka saat menghadapi sesuatu yang nggak berada dalam kontrol gua.
“Ah, Gila…” Serunya, masih sambil menggelengkan kepalanya.
Ia merasa sepertinya speech gua tadi bikin banyak dokter merasa nggak nyaman, apalagi dokter-dokter yang berasal dari sini, dari Indonesia. Sejatinya, nggak ada yang salah dengan isi kuliah gua tadi, gua membahas salah satu hal yang menjadi materi penelitian gua beberapa tahun belakangan ini; Alexithymia. Ya walaupun memang di akhir kuliah gua sempat membahas tentang betapa bobroknya sistem pendidikan dokter di Indonesia.
“Pendidikan dan birokrasi yang buruk, bakal menghasilkan dokter yang buruk, Gila! Masa iya lo berani-beraninya ngomong gitu sih?” Ucap Ncek, menirukan ucapan gua sebelum turun dari panggung.
“Tapi, bener nggak omongan gue?”
Ncek terdiam sebentar, lalu menjawab pelan, sangat pelan; “Bener sih…”
“Yaudah… Kenapa lo merepet aja dari tadi?”
“Yaaa… tapi kan. Ah Gila… Ada Bu menteri lho tadi” Ucapnya, gemas.
“Justru ada beliau makanya gue ngomong begitu…” Jawab gua.
Sore itu, gua sengaja mematikan ponsel dan menghabiskan waktu berbincang dengan Ncek. Isi perbincangan kebanyakan berisi tentang cerita-cerita masa lalu dan beberapa hal yang nggak berhubungan dengan dunia kedokteran.
“Anterin gue, Ncek…” Gua bicara sambil memasukkan ponsel yang mati, dompet dan bungkusan rokok ke dalam tas.
“Ke hotel?”
“Nggak, ke rumah…”
“Oh.. Rumah baru lo?”
“Baru? Udah lama kok” Jawab gua, merasa rumah itu sudah cukup lama gua beli. Namun, sampai sekarang masih gua biarkan kosong tanpa penghuni.
“Iya, tapi nggak pernah lo tempatin kan?”
“Iya..”
“Bingung gue, lo beli rumah tapi nggak ada rencana pulang ke sini”
“Pas beli gue masih punya rencana untuk pulang….”
“…”
“… bahkan menikah” Gua menambahkan.
Setengah jam berikutnya kami berdua sudah memasuki area komplek rumah ‘baru’ gua. Sambil melepas sabuk pengaman, gua bicara ke Ncek; “Mau mampir nggak?”
“Mampir? ke rumah yang kosong? yang perabotannya juga belum ada? mau ngapain?” Ia balik bertanya.
“Mau apa nggak?” Tanya gua lagi.
“Nggak…”
“Nah yaudah jawab aja ‘nggak’, ribet” Balas gua.
Menit berikutnya, Ncek melambatkan laju mobil dan berhenti tepat di depan sebuah rumah besar yang nampak gelap.
“Lo sampe kapan di sini?” Tanya Ncek sebelum gua turun dari mobil.
“Nggak tau, mungkin besok atau lusa langsung ke Solo…”
“Oh. Abis itu langsung balik ke London?” Tanyanya lagi.
“Iya…”
“Yaudah kalo butuh apa-apa, call me..”
“Iyaaa…”
—
Gua berdiri tepat di depan teras rumah, mendongak dan menatap sekeliling. Kemudian mendekat ke arah pintu, mengangkat salah satu pot bungan, mengambil anak kunci dan membuka pintu.
Aroma pengap dan kegelapan menyambut gua. Tangan gua meraba-raba permukaan dinding, mencoba mencari saklar lampu.
‘Tek…’
Lampu di ruang depan berkedip sebentar lalu menyala terang. Gua mulai berkeliling dan menyalakan satu persatu lampu setiap ruangan. Setiap langkah kaki gua mengeluarkan suara yang memantul, menggema di ruangan kosong. Sejak pertama kali membelinya, gua sama sekali belum pernah masuk ke rumah ini lagi. Rumah yang seharusnya menjadi tempat gua pulang, rumah di mana seharusnya Natalie berada di sini, menunggu gua. Rumah yang dapurnya menjadi tempat Natalie mengasah kemampuan memasaknya yang nggak seberapa. Rumah yang seharusnya menjadi tempat untuk keluarga kecil kami.
Kini, ini hanya sebuah rumah. Kosong dan nggak punya arti apa-apa.
Setelah menyalakan semua lampu dan memeriksa ruangan demi ruangan, gua keluar dari rumah. Membiarkan pintunya terbuka dan berjalan kaki menuju keluar komplek.
Langkah gua terhenti tepat di depan sebuah toko penjual perabot yang hampir saja tutup. Gua masuk untuk membeli beberapa alat kebersihan. Setelah dari toko perabot, gua mampir ke mini market; membeli cairan pembersih dan beberapa kebutuhan lainnya.
“Mas Lian?” Seru seorang pria begitu gua keluar dari minimarket.
Gua berpaling dan menatap ke arah pria itu.
“Eh, Cay… Apa kabar?” Sapa gua.
Kucay menyodorkan tangannya, mengajak bersalaman. Namun, gua nggak bisa menyambut ajakan bersalamannya. Karena kedua tangan yang sibuk memegang barang-barang.
Kami lalu berbincang. Duduk di pelataran mini market sambil merokok. Kusnandar, atau biasa dipanggil Kucay adalah anak dari penjual koran yang dulu mangkal di depan gang dekat SMA gua. Usianya sedikit lebih muda dari gua, dan karena sering menjaga kios koran bapaknya, kami; para siswa SMA yang sering ‘nongkrong’ jadi cukup akrab dengannya.
Kini ia sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak.
“Terus kerja apa, Cay?” Tanya gua.
“Kalo malem gini saya markir…”
“Oh.. Kalo siang?”
“Kalo siang saya jaga toko burung” Jawabnya.
“Toko burung? di mana?”
“Itu di seberang…” Jawabnya sambil menunjuk ke arah kios yang kini tutup.
“Oooh… Cukup gajinya buat hidup?”
“Kalo nurutin kemauan ya nggak cukup. mas”
“…”
“… Kalo ngikutin kebutuhan; ya cukup. Di cukup-cukupin” Tambahnya.
“Hahaha… Hebat”
Setelah cukup lama berbincang dengan Kucay, gua lantas pamit dan kembali ke rumah.
Gua melepas kemeja, menyampirkannya di selasar tangga dan mulai mempersiapkan alat bersih-bersih yang beru saja dibeli. Kemudian mulai membersihkan setiap sudut rumah tanpa terkecuali. Kamar demi kamar, ruangan demi ruangan, hingga nggak ada yang terlewat.
Jam menunjukkan pukul 4 dini hari saat gua berhasil membersihkan seluruh bagian dalam rumah. Sementara, area garasi dan halaman yang penuh dengan rumput yang meninggi sama sekali belum tersenuth. Lagian, gua juga nggak punya alat untuk membersihkan rumput dan lumut di halaman.
Gua berbaring telentang di lantai kamar di lantai atas, kamar dengan ukuran paling besar yang ada di rumah ini. Kamar yang menjadi tempat terakhir yang selesai gua bersihkan. Sambil mencoba mengatur napas yang tersengal, gua menatap kosong ke arah lampu terang di langit-langit kamar. Membayangkan hidup gua yang kini terasa kosong.
Kosong, karena gua merasa nggak lagi punya gairah untuk melanjutkan kehidupan yang seperti ini. Kehidupan yang terus menerus mengingatkan gua akan masa lalu. Kehidupan yang nggak lagi seseru sebelumnya.
Gua lantas terlelap.
Besoknya, pagi-pagi sekali, setelah belari mengelilingi komplek perumahan, gua menyempatkan diri untuk mempir ke toko burung yang semalam sempat disebutkan oleh Kucay.
Terlihat Kucay tengah mengeluarkan sangkar-sangkar berisi burung dan menggantungnya di kanopi depan toko. Begitu melihat kedatangan gua, Kucay lantas tersenyum dan menghampiri.
“Wuih… Lari pagi?”
Gua nggak langsung menjawab, hanya menatap ke arah burung-burung yang berada di dalam sangkar.
“Ini berapa harganya, cay?” Tanya gua.
“Yang mana?” Ia balik bertanya.
“Emang beda-beda?”
“Beda lah…” Jawabnya, lantas mulai menyebutkan jenis-jenis burung sambil menunjukkannya ke gua.
“Dapet dari mana?” Tanya gua lagi, mulai penasaran.
“Ada yang beli, ada yang nangkep”
“Nangkep?”
“Iya, pake jebakan…”
“Jebakan?”
“Iya…” Jawabnya, kemudian mengambil salah satu sangkar dari bambu. Kandang ‘jebakan’, yang punya mekanisme agar pintunya langsung menutup begitu ada burung yang masuk karena terpikat makanan atau umpan di dalamnya.
“Yang dijebak yang mana aja?” Tanya gua.
“Itu, itu, itu…”
“Berapa semua?”
“Lo mau beli?”
“Iya…”
“Serius?”
“Iyaaa, Cay…”
Senyumnya terkembang. Dengan sigap dan cekatan ia mulai menyiapkan sangkar kecil dan beberapa buah kardus kosong.
“Nggak usah pake kandang, cay…”
“Hah, terus mau dibawa pake apa?”
“Lepas aja…”
“Hah!?”
“Lepas aja..”
“Lepas ke langit?”
“Iya…”
Lanjut ke bawah
Diubah oleh robotpintar 17-04-2025 22:58
njek.leh dan 30 lainnya memberi reputasi
31
Kutip
Balas
Tutup