- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
superber dan 147 lainnya memberi reputasi
148
209.2K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#677
001-G The Prodigy (Cont)
Spoiler for 001-G The Prodigy (Cont):
Tepat setelah si sekertaris selesai menjelaskan, tiba-tiba si menteri sadar dan terduduk di atas ranjang pasien. Ia terlihat kebingunan sambil menatap sekeliling. Si sekertaris lalu mulai memberi penjelasan dengan bahasa Jerman.
Si menteri lalu turun dari ranjang dan bersiap untuk pergi. Sementara gua buru-buru menahannya. Rupanya, beliau enggan dirawat karena merasa penyakitnya ini adalah penyakit kambuhan yang nggak bisa disembuhkan. Menurut pengakuannya, entah sudah berapa banyak dokter paling ahli di Jerman memeriksa penyakitnya ini. Namun, nggak ada satupun yang punya diagnosa tepat.
Si menteri tetap menolak, ia bersama sekertarisnya terus berjalan, bersiap keluar dari ruangan.
“Minister, I must insist you stop. Marching out of here won’t solve your problems—unless you’re want to intimidate your illness into submission”Ucap gua.
Si menteri berhenti melangkah, ia menoleh ke arah gua dan bicara; “Doctor, ich schätze Ihre Bemühungen. But this illness is beyond curing…”
Mendengar jawabannya barusan, gua langsung pasang seringai. Sambil melipat tangan di dada, gua kembali bicara; “Beyond curing, you say? Forgive me, but I wasn’t aware you had a medical degree to make such a call...”
Si menteri ikut menyeringai; “I’ve consulted with Germany’s finest. Die besten Spezialisten—professors, researchers, entire teams. And none of them could even agree on a diagnosis, let alone a treatment…”
Gua mendekat.
“Then perhaps it’s time to consult someone who thrives where others falter. You’ve been through their hands, Minister. Now, let’s see what i can do...” Respon gua.
Si menteri mengernyitkan dahinya; “You think you can succeed where the best minds in Europe have failed?”
“I don’t think, Minister—I’m certain” Ucap gua sambil pasang senyum.
“Sicher? Bold words, Doctor. What makes you so sure?” Tanyanya seraya mengangkat alisnya, seakan meragukan ucapan gua barusan.
“Because I don’t take cases unless I intend to win…” Jawab gua.
“Trust is a difficult thing to offer, Doctor. After years of false hope, why should I believe you’re any different?” Tanyanya, masih ragu dengan kemampuan gua.
“Because you’ve tried the others, and here you are, still sick. What have you got to lose?” Gua balik bertanya.
Si menteri terdiam sesaat, mungkin keraguannya mulai sedikit menghilang. Ia lalu menatap gua dalam-dalam, sambil melangkah mendekat ke gua; “Und wenn Sie scheitern?” Tanyanya, sebuah tantangan ‘bagaimana’ jika gua gagal?
“Then you can say you’ve tried everything. But failure isn’t in my vocabulary, Minister” Jawab gua penuh keyakinan.
Ia menatap gua lama, cukup lama. Sesaat berikutnya, ia tersenyum tipis lalu mengangguk. “I Like you…” Gumamnya pelan.
“…”
“…Na gut. I’ll give you this chance, Doctor. Let’s see if you’re as good as you claim” Tambahnya.
Si menteri lalu kembali melangkah ke arah ranjang pasien lalu duduk di atasnya.
“Oh, I’m better. Now, back in bed, Minister. Let’s get started” Balas gua, kemudian mulai mengajukan banyak pertanyaan seputar penyakitnya. Gua bahkan nggak sekalipun melakukan pemeriksaan fisik, hanya terus bertanya tentang semuanya, hingga hal terkecil sekalipun termasuk kebiasaannya sehari-hari.
Menurut gua, sebagai dokter ‘senjata’ kami bukan hanya dari peralatan dan pengetahuan tentang kesehatan yang kami miliki. Penting juga untuk mengetahui tentang latar belakang dan gaya hidupnya. Yang punya faktor signifikan jadi penyebab atau mungkin pemicu penyakitnya terjadi.
Dari proses ‘wawancara’ dengan si menteri, gua mengetahui kalau beliau sudah menjalani aneka tes seperti; CT dan MRI pada perut, tes darah dan urin, USG Abdomen dan bahgan evaluasi dengan endoskopi. Tapi, masih belum mendapat diagnosa yang tegak. Dari ‘wawancara’ itu juga gua mendapatkan hipotesa kalau penyakitnya memang bukan disebabkan masalah pada pencernaan. Itulah kenapa banyak dokter yang gagal mendiagnosanya, karena kemungkinan besar mereka salah ‘lokasi’ diagnosa.
Setelahnya, gua meminta si menteri untuk melakukan test EEG. Saran yang kemudian di pertanyakan oleh Reynard dan hampir semua Dokter lain yang berada di rumah sakit. Kenapa? Karena test EEG atau test Electroencephalography adalah test untuk mendeteksi aktivitas saraf di otak. Jauh dari perut kan?
Tapi gua bergeming dan melanjutkan prosedur.
Satu jam berlalu, tes EEG selesai dilakukan dan gua langsung membaca hasilnya. Terlihat kalau memang ada ‘disruptions in the brain’s electrical rhythms’ atau bahasa awamnya, ada semacam lonjakan arus listrik yang mempengaruhi salah satu organ tubuhnya. Untuk mengetahui lebih detail tentu butuh pemeriksaan lanjutan. Tapi, dari sini saja gua sudah bisa menebak organ mana yang kena imbas dari lonjakan larus listrik di otak.
Iya; Epilepsi perut. Bahasa medisnya; abdominal epilepsy.
Abdominal epilepsy merupakan penyakit yang sangat langka. Makanya sangat jarang ahli yang membuat analisa, jurnal atau penelitian tentang hal ini. Hal yang bikin banyak orang jadi salah diagnosa, akhirnya salah penanganan, yang jadi malah berakibat fatal.
Gua meminta Mathilda menyiapkan resep obat anti kejang untuk penderita epilepsi, kemudian menyerahkannya ke si menteri.
“You’re saying you can cure it with these pills?” Tanyanya saat menerima tabung kecil berisi kumpulan pil dari gua.
“Your condition called abdominal epilepsy…” Ucap gua.
Ia mengernyitkan dahinya, merasa nggak percaya dengan apa yang didengar; “Epilepsie... im Bauch? I didn’t even know such a thing existed…”
Gua mengangkat bahu.
“It’s rare, but very real. The symptoms you’ve described—sudden abdominal pain, nausea, the lack of explanation from previous doctors—it all fits. Your nervous system is triggering these episodes, and it’s treatable” Jawab gua penuh percaya diri.
“Only with these?” Tanyanya seraya mengangkat tabung kecil transparan berisi pil dari gua.
Gua mengangguk; “Yes! Take the prescribed dose regularly”
“Doctor, mit allem Respekt, Are you serious?” Tanyanya, masih ragu.
“I understand your hesitation. But this isn’t guesswork, Minister. The medication directly addresses the root cause—no more speculation, no more endless tests” Jawab gua.
“Und das ist alles? Just these pills?” Tanyanya lagi.
Gua tertawa, lalu kembali bicara; “Simple, isn’t it? Sometimes, the solutions are far less complicated than the problem makes them seem”
Si menteri menarik nafas dalam-dalam.
“And you believe this will wirklich funktionieren?” Tanyanya.
“Yes!” Gua menjawab yakin.
“Ok….” Ia menjawab singkat, lalu memberikan tabung kecil transparan berisi pil ke sekertarisnya yang sejak tadi sibuk mencatat.
Sebelum berpisah, gua sempat memberikan informasi ke si sekertaris agar salah satu dokternya nanti menghubungi kami untuk rekam medis guna perawatan selanjutnya di Jerman.
“Thank you, Doc….” Ucap Si Menteri.
“No worries. In no time, you’ll wonder how you ever doubted me” Jawab gua, seraya melepas kepergiannya.
—
Si menteri lalu turun dari ranjang dan bersiap untuk pergi. Sementara gua buru-buru menahannya. Rupanya, beliau enggan dirawat karena merasa penyakitnya ini adalah penyakit kambuhan yang nggak bisa disembuhkan. Menurut pengakuannya, entah sudah berapa banyak dokter paling ahli di Jerman memeriksa penyakitnya ini. Namun, nggak ada satupun yang punya diagnosa tepat.
Si menteri tetap menolak, ia bersama sekertarisnya terus berjalan, bersiap keluar dari ruangan.
“Minister, I must insist you stop. Marching out of here won’t solve your problems—unless you’re want to intimidate your illness into submission”Ucap gua.
Si menteri berhenti melangkah, ia menoleh ke arah gua dan bicara; “Doctor, ich schätze Ihre Bemühungen. But this illness is beyond curing…”
Mendengar jawabannya barusan, gua langsung pasang seringai. Sambil melipat tangan di dada, gua kembali bicara; “Beyond curing, you say? Forgive me, but I wasn’t aware you had a medical degree to make such a call...”
Si menteri ikut menyeringai; “I’ve consulted with Germany’s finest. Die besten Spezialisten—professors, researchers, entire teams. And none of them could even agree on a diagnosis, let alone a treatment…”
Gua mendekat.
“Then perhaps it’s time to consult someone who thrives where others falter. You’ve been through their hands, Minister. Now, let’s see what i can do...” Respon gua.
Si menteri mengernyitkan dahinya; “You think you can succeed where the best minds in Europe have failed?”
“I don’t think, Minister—I’m certain” Ucap gua sambil pasang senyum.
“Sicher? Bold words, Doctor. What makes you so sure?” Tanyanya seraya mengangkat alisnya, seakan meragukan ucapan gua barusan.
“Because I don’t take cases unless I intend to win…” Jawab gua.
“Trust is a difficult thing to offer, Doctor. After years of false hope, why should I believe you’re any different?” Tanyanya, masih ragu dengan kemampuan gua.
“Because you’ve tried the others, and here you are, still sick. What have you got to lose?” Gua balik bertanya.
Si menteri terdiam sesaat, mungkin keraguannya mulai sedikit menghilang. Ia lalu menatap gua dalam-dalam, sambil melangkah mendekat ke gua; “Und wenn Sie scheitern?” Tanyanya, sebuah tantangan ‘bagaimana’ jika gua gagal?
“Then you can say you’ve tried everything. But failure isn’t in my vocabulary, Minister” Jawab gua penuh keyakinan.
Ia menatap gua lama, cukup lama. Sesaat berikutnya, ia tersenyum tipis lalu mengangguk. “I Like you…” Gumamnya pelan.
“…”
“…Na gut. I’ll give you this chance, Doctor. Let’s see if you’re as good as you claim” Tambahnya.
Si menteri lalu kembali melangkah ke arah ranjang pasien lalu duduk di atasnya.
“Oh, I’m better. Now, back in bed, Minister. Let’s get started” Balas gua, kemudian mulai mengajukan banyak pertanyaan seputar penyakitnya. Gua bahkan nggak sekalipun melakukan pemeriksaan fisik, hanya terus bertanya tentang semuanya, hingga hal terkecil sekalipun termasuk kebiasaannya sehari-hari.
Menurut gua, sebagai dokter ‘senjata’ kami bukan hanya dari peralatan dan pengetahuan tentang kesehatan yang kami miliki. Penting juga untuk mengetahui tentang latar belakang dan gaya hidupnya. Yang punya faktor signifikan jadi penyebab atau mungkin pemicu penyakitnya terjadi.
Dari proses ‘wawancara’ dengan si menteri, gua mengetahui kalau beliau sudah menjalani aneka tes seperti; CT dan MRI pada perut, tes darah dan urin, USG Abdomen dan bahgan evaluasi dengan endoskopi. Tapi, masih belum mendapat diagnosa yang tegak. Dari ‘wawancara’ itu juga gua mendapatkan hipotesa kalau penyakitnya memang bukan disebabkan masalah pada pencernaan. Itulah kenapa banyak dokter yang gagal mendiagnosanya, karena kemungkinan besar mereka salah ‘lokasi’ diagnosa.
Setelahnya, gua meminta si menteri untuk melakukan test EEG. Saran yang kemudian di pertanyakan oleh Reynard dan hampir semua Dokter lain yang berada di rumah sakit. Kenapa? Karena test EEG atau test Electroencephalography adalah test untuk mendeteksi aktivitas saraf di otak. Jauh dari perut kan?
Tapi gua bergeming dan melanjutkan prosedur.
Satu jam berlalu, tes EEG selesai dilakukan dan gua langsung membaca hasilnya. Terlihat kalau memang ada ‘disruptions in the brain’s electrical rhythms’ atau bahasa awamnya, ada semacam lonjakan arus listrik yang mempengaruhi salah satu organ tubuhnya. Untuk mengetahui lebih detail tentu butuh pemeriksaan lanjutan. Tapi, dari sini saja gua sudah bisa menebak organ mana yang kena imbas dari lonjakan larus listrik di otak.
Iya; Epilepsi perut. Bahasa medisnya; abdominal epilepsy.
Abdominal epilepsy merupakan penyakit yang sangat langka. Makanya sangat jarang ahli yang membuat analisa, jurnal atau penelitian tentang hal ini. Hal yang bikin banyak orang jadi salah diagnosa, akhirnya salah penanganan, yang jadi malah berakibat fatal.
Gua meminta Mathilda menyiapkan resep obat anti kejang untuk penderita epilepsi, kemudian menyerahkannya ke si menteri.
“You’re saying you can cure it with these pills?” Tanyanya saat menerima tabung kecil berisi kumpulan pil dari gua.
“Your condition called abdominal epilepsy…” Ucap gua.
Ia mengernyitkan dahinya, merasa nggak percaya dengan apa yang didengar; “Epilepsie... im Bauch? I didn’t even know such a thing existed…”
Gua mengangkat bahu.
“It’s rare, but very real. The symptoms you’ve described—sudden abdominal pain, nausea, the lack of explanation from previous doctors—it all fits. Your nervous system is triggering these episodes, and it’s treatable” Jawab gua penuh percaya diri.
“Only with these?” Tanyanya seraya mengangkat tabung kecil transparan berisi pil dari gua.
Gua mengangguk; “Yes! Take the prescribed dose regularly”
“Doctor, mit allem Respekt, Are you serious?” Tanyanya, masih ragu.
“I understand your hesitation. But this isn’t guesswork, Minister. The medication directly addresses the root cause—no more speculation, no more endless tests” Jawab gua.
“Und das ist alles? Just these pills?” Tanyanya lagi.
Gua tertawa, lalu kembali bicara; “Simple, isn’t it? Sometimes, the solutions are far less complicated than the problem makes them seem”
Si menteri menarik nafas dalam-dalam.
“And you believe this will wirklich funktionieren?” Tanyanya.
“Yes!” Gua menjawab yakin.
“Ok….” Ia menjawab singkat, lalu memberikan tabung kecil transparan berisi pil ke sekertarisnya yang sejak tadi sibuk mencatat.
Sebelum berpisah, gua sempat memberikan informasi ke si sekertaris agar salah satu dokternya nanti menghubungi kami untuk rekam medis guna perawatan selanjutnya di Jerman.
“Thank you, Doc….” Ucap Si Menteri.
“No worries. In no time, you’ll wonder how you ever doubted me” Jawab gua, seraya melepas kepergiannya.
—
UNGU - Bayang Semu
Oh kumasuki bayangmu
Dalam dimensiku
Kudekap dirimu
Terbuai ku terbuai
Dalam maya cinta
Yang kudamba selalu
Kumelayang bagaikan
Terbang ke awan
Kuterawang dalam ruang
Bayang-bayang kelam
Oh
Kusemakin terbawa
Dalam bayang semu
Bila kuingin dirimu
Terjerat ku terjerat
Tak dapat kulepas
Kumilikmu selalu
Kumelayang bagaikan
Terbang ke awan
Kuterawang dalam ruang
Bayang-bayang kelam
Kumelayang bagaikan
Terbang ke awan
Kuterawang dalam ruang
Bayang-bayang kelam yeah
delet3 dan 43 lainnya memberi reputasi
44
Kutip
Balas
Tutup