- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
superber dan 147 lainnya memberi reputasi
148
211.1K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#559
005-G Ephemeral
Spoiler for 005-G Ephemeral:
Gua menelan ludah, mencoba membasahi tenggorokan yang tiba-tiba terasa kering. “Memang sedekat apa kami dulu?”Tanya gua.
“Well… untuk bagian itu kayaknya saya nggak bisa menjawabnya”
Gua memejamkan mata lalu mengatur napas. Kemudian mengajukan pertanyaan lain; “Ceritakan tentang dia…”
“…”
“… Tentang sosok bernama Lian” Gua menambahkan.
Dokter Ricky menyeruput kopinya, lantas menyeka ujung bibirnya dengan tisu.
“Orang itu; Lian, seorang dokter sama seperti saya…” Jawabnya.
“Aku pernah jadi pasiennya?” Tanya gua.
Ia mengangguk pelan; “Iya…”
“Tulisan-tulisan tangan di lembaran hasil tes yang tadi Dokter kasih liat, tulisan dia?”
“Iya…”
“Terus gimana aku dan, eeh.. Kami berdua bisa saling mengenal?” Tanya gua lagi.
“Nggak tau” Jawabnya sambil mengangkat kedua bahu. “… Kalo itu kamu harus tanya sendiri sama orangnya…”
Jawabannya barusan tentu saja menggugurkan pertanyaan gua selanjutnya. Tentang bagaimana gua dan sosok bernama Lian bisa menjadi dekat.
“Gimana caranya? Di mana aku bisa nemenuin dia?”
Lagi-lagi Dokter Ricky mengangkat kedua bahunya; nggak punya jawaban.
Gua mengeluarkan ponsel, menunjukkan nomor kontak dengan label ‘L’ ke padanya. “Ini nomor HP dia bukan?” Tanya gua. Dokter Ricky mencondongkan tubuh sambil menyipitkan mata menatap ke arah layar ponsel yang gua tujukan kepadanya. Kemudian beraalih ke layar ponselnya sendiri; mencocokkan nomor lalu mengangguk pelan; “Iya, bener…”
“Aku coba call nggak bisa…” Gua bicara, menjelaskan tentang pengalaman tadi saat gagal menghubungi nomor tersebut.
“Mau nomor yang lain?” Tanyanya.
Gua mengangguk cepat, lantas menyodorkan buku catatan gua ke arahnya. Dokter Ricky meraih pulpen dari saku kemejanya dan mulai membolak-balik halaman buku catatan. Sekilas ia tersenyum saat melihat tulisan gua di dalamnya. Kemudian mulai menulis deretan nomor pada lembaran kertas yang kosong.
“Ceritan lebih banyak dong, dok…” Ucap gua sambil menunggunya menulis.
“Hmmm…” Dokter Ricky menggumam pelan, lantas menyandarkan tubuhnya di kursi. “… Untuk ukuran seorang dokter, dia itu terlalu eksentrik. Dan terlalu sombong untuk ukuran orang-orang normal…”
“…”
“… Dia nggak begitu peduli dengan perasaan orang lain. Dia nggak percaya hal berbau mistis dan takhayul…”
“…”
“… Sejak lama dia hidup dibalik kepura-puraan. Dia selalu menyembunyikan sesuatu dibalik otaknya yang cemerlang. Dia juga orang yang sulit percaya sama orang lain”
"..."
"... Ia orang yang sulit dipahami, bahkan untuk saya yang cukup lama mengenalnya"
“…”
“… Dia nggak pernah takut akan kehilangan. Ketakutan terbesarnya justru untuk ‘memiliki’..” Ucapnya sambil menundukkan kepala.
Sejak tadi, gua hanya terdiam dan menyimak semua ceritanya tentang sosok bernama Lian. Jika semua ucapan Dokter Ricky tentangnya benar, Lian adalah orang yang penuh dengan sifat buruk. Ia nggak Dokter eksentrik, sombong, pongah, nggak peduli perasaan orang lain, hidup dalam kepura-puraan dan sulit percaya orang lain. Semua sifat buruk manusia ada padanya. Gua mengernyitkan dahi lalu menggumam pelan; “Diborong semua kejelekan orang…”
Entah gumaman yang terlalu keras atau memang Dokter Ricky mampu membaca gerak bibir gua. Ia tersenyum, lalu tertawa. Kemudian membalik lembaran buku catatan milik gua masih ada padanya. Lembaran yang kini menunjukkan sebuah garis panjang, timeline yang dulu sempat di buat oleh Denis. Di mana titik awalnya adalah momen saat gua kejang pertama kali dan titik akhirnya adalah saat gua selesai di operasi.
Dokter Ricky mengambil pulpen lain dari saku kemejanya. Pulpen berwarna merah yang kemudian ia gunakan untuk membuat garis. Garis merah yang dimulai beberapa senti dari titik awal hingga titik ahir dari garis yang dibuat oleh Denis.
Ia terus mengulang garis hingga terlihat semakin tebal. “Iya, buat orang yang mengenalnya dia memang terdengar seperti penjahat…”
“…”
“… Tapi, sejak saat itu” Ucapnya sambil melingkari garis awal berwarna merah. “… Sepertinya, sejak mengenal kamu, Ia sedikit berubah”
“Sejak kenal aku?” Tanya gua, ragu dengan apa yang baru saja gua dengar.
“Iya…”
“Sedikit?” Tanya gua lagi.
“Iya, sedikit. Cuma sedikit. Tapi, sedikitnya saja bikin gempar banyak orang…”
“Tunggu, tunggu dok… Berarti sedekat itu kah aku sama dia?” Tanya gua, nggak percaya.
“…” Dokter Ricky nggak menjawab, hanya mengangkat kedua bahunya.
Gua terdiam sambil terus menebak-nebak di dalam hati. Mulai memperhitungkan se;isih perbedaan usia antara kami berdua; antara gua dengan sosok bernama Lian.
“Oke, sorry ya sebelumnya dok. Apa usia Dokter Ricky dengan ‘Dia’ sama?” Tanya gua, merasa canggung karena lancang mengusik usia orang lain.
Dokter Ricky mengerutkan keningnya, seraya mengusap dagunya dengan tangan, seperti tengah berusaha menghitung. “Kalau secara akademis, kami berdua seumuran… Tapi, waktu SMP dan SMA dia ikut kelas akselerasi. Jadi, secara biologis saya beberapa tahun lebih tua darinya…”
Gua mengangguk, lalu mulai menghitung di dalam kepala. Tentu bukan hitungan yang pasti dan jelas, mana mungkin gua punya kemampuan itu. Gua hanya mengira-ngira dan menebak saja.
Berdasarkan hitungan dan asumsi, selisih usia kami berdua, gua dan sosok bernama Lian ternyata cukup jauh. Sangat jauh untuk hubungan sejenis pertemanan apalagi asmara. Lantas apa yang membuat kami menjadi dekat?
“Anything?” Tanya Dokter Ricky.
“Mmm…” Gua menatap keluar ke arah jendela, melihat kendaraan yang berseliweran di bawah sana sambil memikirkan hal lain yang mungkin bisa gua tanyakan tentang Lian kepadanya.
“Alamat..” Seru gua.
“Alamat apa?”
“Apa aja, alamat rumah, tempat tinggal, kost, kontrakan, apartemen, rumah sakit atau apapun. Tempat aku bisa bertemu dengannya…”
Dokter Ricky tersenyum sebentar, kemudian meraih ponselnya dan mulai menulis di atas lembaran buku catatan gua seraya sesekali melihat layar ponsel. Selesai mencatat, ia menyodorkan kembali buku catatan ke arah gua. Terlihat tulisan tangan Dokter Ricky yang berisi beberapa alamat. Salah satunya alamat yang tercantum begitu membuat gua terkejut, sadar kalau alamat tersebut nggak begitu jauh dari rumah gua.
“Satu lagi dok, seandainya nggak merepotkan…” Pinta gua sambil mengangkat telunjuk ke atas dan tersenyum.
“Apa?”
“Boleh aku lihat foto dia?”
“Nggak punya…” Jawabnya.
“Masa nggak punya?” Tanya gua.
“Kayaknya aneh deh, cowok punya dan nyimpen foto temen cowoknya. Sedekat apapun hubungannya…” Balasnya sambil terkekeh.
“Ahahaha… Iya juga ya… Sosial media? ada kan?”
“Saya sih ada. Dia; Lian? nggak punya…”
“Ih aneh, masa jaman sekarang nggak punya sosmed sih?” Gumam gua pelan.
“Hahahaha… Nanti once kamu bertemu dengannya, tanyakan langsung aja…”
“Hehehe…. Oiya, nanti kalau tiba-tiba ketemu fotonya bisa kirim ke aku?” Gua mencoba bernegosiasi.
“Hmmm, boleh. Mana nomer Hp kamu nanti saya kirim..”
Gua lantas menyebutkan nomor ponsel dan Dokter Ricky langsung mencatatnya di ponsel.
“Tapi, dok. Kalo bisa kirimnya ke email aja ya….” Ucap gua, kemudian menyebutkan alamat email pribadi kepadanya.
“Ooh, Oke… Ada lagi?”
“Mmm, udah itu aja Dok… Makasih ya”
“Oke, that’s it… Gitu aja ya, nanti kalo ada yang mau ditanyain lagi chat saya aja ya…” Ucapnya, seraya mengeluarkan kartu nama miliknya, kemudian berdiri, menyelesaikan pembayaran dan pergi.
Sementara, gua masih tetap duduk sendiri di sini, di coffee shop yang mulai ramai memandangi buku catatan yang menampilkan salah satu alamat dari Dokter Ricky tadi. Gua membuka menu maps di ponsel, memasukkan alamat tersebut dan membuat ‘pin’ lokasi dengan label ‘L’. Kemudian bergegas pergi dari coffee shop.
—
Menit berikutnya, gua sudah kembali membelah macetnya jalanan Jakarta menuju ke lokasi yang tertera di aplikasi maps. Salah satu alamat pemberian Dokter Ricky.
Di sela-sela kemacetan, gua membuka buku catatan dan menginput nomor ponsel lain milik Lian. Lalu sadar kalau nomor tersebut terlihat aneh, bukan nomor yang berasal dari Indonesia. Gua lantas menekan ikon panggil di susul nada sambung terdengar melalui pengeras suara mobil.
Beberapa kali nada sambung terdengar namun nggak kunjung ada jawaban. Gua mencoba lagi dan lagi, namun hasilnya tetap sama; nggak ada jawaban. ‘Ya paling nggak nomor ini tersambung, nggak seperti nomor sebelumnya yang sama sekali nggak aktif’ batin gua.
Samar terdengar suara lagu mengalun dari aplikasi pemutar musik pada head unit mobil. Sebuah lagu yang entah dari mana asalnya, karena nggak pernah memasukkan lagu ini ke dalam playlist; mungkin suggestion dari aplikasi.
“… and everything’s grey, now you’re here, now you’re away…” Penggalan lirik yang gua dengar. Lirik yang begitu mengena di dalam hati, mirip seperti yang kini gua rasakan.
Gua menekan ikon tanda tambah, memasukkan lagu tersebut ke dalam playlist dan mengaktifkan mode suffle, membuat lagu terus mengulang tanpa berhenti.
Satu jam berikutnya, gua akhirnya tiba di komplek perumahan yang sangat besar, komplek perumahan yang lokasi nggak begitu jauh dari rumah gua. Masih segar di ingatan gua kala itu, saat gua SD, kami bahkan berlatih renang di kolam renang yang berada di area perumahan ini. Kolam renang yang lokasinya tepat bersebelahan dengan gereja besar yang saat ini gua lewati.
Gua berhenti tepat di depan sebuah rumah berukuran besar bercat putih dengan konsep yang minimalis. Berdasarkan aplikasi maps, gua kembali memastikan titik yang tertera sebelum keluar dari mobil. Dari dalam, gua menatap sekeliling, memandangi kondisi rumah besar di depan gua yang terlihat adanya tanda-tanda kehidupan.
Sejenak gua memejamkam mata, mengatur napas, mencoba untuk mengumpulkan keberanian. Kemudian keluar dari mobil. Gua berdiri di depan pagar besi yang menjulang, seakan menutup diri dari dunia luar. Sementara, semua pintu di dalam sana terlihat tertutup rapat. Gua menoleh, mencari posisi bel. Namun nggak ada.
“Permisi!!” Seru gua setengah berteriak. Lalu. menunggu.
Nggak ada jawaban.
Lagi, gua berseru; “Permisi!!” Kali ini dengan volume lebih keras.
Namun, masih nggak ada jawaban. Gua bersandar pada body mobil dan meraih ponsel dari saku celana. Melakukan sesuatu yang nggak ada faedahnya, hanya menatap layar ponsel, menggeser layarnya tanpa tujuan yang jelas. Hanya agar nggak terlihat aneh di mata orang yang lalu lalang di depan rumah.
Sesekali, gua kembali berseru; “Permisi!!”
Dan masih nggak ada jawaban.
Gua hanya berdiri dan menunggu sambil bersandar pada body mobil. Hingga seorang perempuan setengah baya dari rumah sebelah yang sejak tadi keluar masuk untuk mengambil paket mendekat ke gua dan bertanya; “Nyari siapa, Kak?” Tanyanya.
“Oh, ini bu.. mau ketemu sama orang di rumah ini” Jawab gua sambil menunjuk ke arah rumah besar di depan gua.
“Wah, emang jarang keliatan kak. Paling ada orang yang jaga. Tapi, kalo jam segini udah pulang…” Jawabnya.
“Berarti kosong ya, Bu?” Tanya gua.
Si Ibu berjingkat, mengintip ke arah bagian dalam rumah. Lalu beralih ke gua dan menjawan; “Kalo lampu teras dan garasinya nyala, berarti kosong kak…”
“Ooo gitu… Ok makasih ya bu…” Balas gua lalu bersiap pergi.
Gua masuk ke dalam mobil namun nggak langsung pergi. Hanya duduk di belakang kemudi sambil termenung. Gua mengambil buku catatan yang tergeletak di kursi penumpang, lalu membukanya, menatap ke arah tulisan Dokter Ricky yang berisi tulisan alamat lain milik Lian. Masalahnya, nggak mungkin gua ke sana sekarang. Harus bilang apa ke Nyokap kalau gua pergi ke Solo sekarang.
Mesin mobil gua hidupkan, lantas pergi dari sana untuk putar balik di depan. Gua melambatkan laju mobil saat kembali melewati rumah besar bercat putih tadi, berharap melihat tanda kehidupan. Namun, nggak ada yang berubah.
Tepat sebelum gua keluar dari komplek perumahan, terdengar suara raungan mesih mobil yang menggema. Suara gemuruh yang bahkan menembus masuk ke dalam kabin. Gua menatap ke arah spion sebelah kanan, terlihat sebuah mobil berwarna biru yang baru saja lewat ke arah sebaliknya. “Mobil apaan sih, berisik?” Gumam gua pelan sambil terus berlalu.
Hanya butuh waktu nggak lebih dari lima menit untuk gua tiba di rumah. Gua langsung masuk ke dalam rumah dan bersiap masuk ke dalam kamar.
“Eh, cantik… Baru pulang….” Sapa Nyokap yang kebetulan sudah pulang lebih dulu.
“Iya Mah…”
“Sini makan dulu, Mamah beli sate nih…”
“Nggak deh Mah, Aku masih kenyang…” Balas gua lantas bergegas naik, menuju ke kamar.
“Yaudah, Mamah sisain ya….” Ucapnya.
Di dalam kamar, gua langsung duduk di kursi meja belajar dan kembali membuka buku catatan. Membaca ulang semua informasi dari awal, berusaha memahami agar nggak ada yang terlewat. Saat tengah membaca, ponsel gua bergetar, memunculkan notifikasi email masuk. Awalnya gua pikir hanya email promosi atau iklan dari platform belanja atau ojek online. Namun, saat gua melirik ke arah layar ponsel terlihat nama pengirim; Ricky Saputra.
Gua buru-buru meraih ponsel dan membuka email masuk darinya. Email tanpa subject dan satupun kalimat. Hanya sebuah lampiran yang sepertinya berupa foto.
Tanpa banyak pertimbangan, gua mengetap lampiran di susul layar ponsel yang berubah menghitam sebentar kemudian memunculkan sebuah foto. Foto seorang pria berkemeja putih dengan bagian lengan yang tergulung. Gua terdiam, kaget.
“Dia…. Kita pernah ketemu!!” Seru gua, kemudian buru-buru menutup mulut dengan tangan, takut seruan gua terdengar Nyokap.
Gua beranjak dari kursi dan melompat ke atas ranjang, kemudian menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh. Dari balik selimut, gua kembali memandangi foto di layar ponsel. Foto seorang pria dengan pose angkuh yang tengah menatap ke arah kamera dengan wajahnya yang nir-ekspresi. Wajah yang sempat gua temui dulu, saat tengah pentas di mall. Kami bahkan sempat berbincang, karena gua menumpahkan kopi di kemejanya.
Tiba-tiba ada rasa amarah yang berkecamuk di dalam hati. Merasa dibohongi, merasa dikhianati. Kalau dia mengenal gua, kenapa ia nggak bicara apapun. Kenapa dia hanya diam dan berlagak nggak mengenal gua? kenapa?
Di sisi lain muncul juga rasa berbunga di dalam dada, saat teringat ucapan Dokter Ricky kalau gua dan pria tampan di foto cukup dekat.
Lantas apa yang bikin idealisme gua akan cinta berubah karenanya? apa yang spesial dari dirinya?
—
Besoknya, sepulang kuliah gua menceritakan semua ke Denis. Yang kebetulan hari itu datang bersama dengan pacarnya; Grace.
“Terus lo mau ke Solo?” Tanya Denis dengan mulut penuh makanan.
“Mau, tapi bingung harus naik apa. Kalo naik mobil bisa, Den?” Gua balik bertanya.
“Ngapain bingung Fir. Naik kereta kan bisa. Atau naik pesawat kalo mau lebih cepet…” Grace ikut nimbrung dalam perbincangan.
Gua beralih ke Grace, lantas bertanya; “Kalo naik kereta nanti turunnya di mana, Grace?”
“Di stasiun lah…” Jawab Grace.
“Iya gue tau, tapi stasiun mana?” Tanya gua lagi.
“Ya tergantung, alamatnya di mana…”
Gua lantas mengeluarkan buku catatan dan menunjukkan tulisan berisi alamat ke Grace. Ia mengernyitkan dahinya lalu mengangguk pelan.
“Lo tau alamat ini?” Tanya gua ke Grace.
“Ya taulah, dia kan orang Solo…” Jawab Denis seakan mewakili pacarnya.
“Bener Grace?” Tanya gua, nggak yakin.
“Iya…” Jawabnya singkat. Ia lantas menatap ke arah gua; “… Lo punya waktu banyak nggak? Kalo waktu lo banyak, lo bisa naik kereta. Tapi, kalo emang mepet, better naik pesawat sih…”
“Ooh, gitu… Kalo dari bandara jauh lokasinya?” Tanya gua ke Grace.
“Mmm… Lumayan” Jawabnya, kemudian menjelaskan secara rinci dan detail tentang angkutan yang harus gua pakai untuk pergi ke alamat di catatan.
“…”
“… Nggak perlu repot kali Fir. Di sana kan ada taksi juga Hahaha…” Grace menambahkan.
“Ooh…”
“Kalo lo mau nunggu sampe minggu depan, malah bisa bareng gue. Ntar gue anterin deh…” Grace memberi penawaran.
“Serius lo Grace?” Tanya gua.
“Iya, serius…” Jawabnya.
Minggu berikutnya, gua sudah berada di pesawat menuju ke Solo bersama dengan Grace. Tentu dengan sepengetahuan Nyokap. Walau ijin yang gua ajukan hanya untuk berlibur; bukan untuk mencari alamat pria bernama Lian.
Setibanya di Solo, gua mampir sebentar ke rumah Grace untuk sekedar beristirahat. Menjelang sore barulah gua bersiap untuk pergi ke alamat yang berada di catatan.
Gua duduk di kursi belakang mobil bersama dengan Grace, sementara Bokapnya berada dibalik kemudi. Gua menatap keluar melalui jendela mobil, ke arah deretan rumah dan bangunan yang terlihat sedikit berbeda dengan rumah dan bangunan di Jakarta. ‘Gila lo Fir! Nekad nyari tau sampe sejauh ini’ Gua bicara sendiri dalam hati.
Setelah hampir setengah jam berikutnya, kami tiba di alamat yang sesuai dengan yang gua tunjukkan. Setelah berterima kasih ke Grace dan Bokapnya, gua turun dari mobil lalu berpamitan.
“Mau gue tungguin nggak, Fir?” Tanya Grace melalui jendela mobil.
“Eh, nggak usah Grace… Lo udah mau nganter aja udah sukur” Jawab gua, menolak dengan halus.
“Oh, yaudah… Terus ntar mau dijemput nggak?”
“Nggak usah, Grace… Makasih lho…”
Grace dan Bokapnya lalu pergi meninggalkan gua sendiri di depan sebuah bangunan megah dengan pagar besar yang kondisinya terbuka. Di sisi sebelah kanan pagar terdapat bangunan kecil yang sepertinya pos keamanan. Gua mendekat ke arah bangunan kecil tersebut dan menyapa pria yang berjaga.
“Malam pak…” Sapa gua.
“Malam dik, ada perlu apa?” Tanyanya sopan.
“Anu pak…” Gua terdiam sesaat, bingung harus berkata apa. Lantas mengeluarkan buku catatan dan menunjukkan alamat ditulis oleh Dokter Ricky. “… Bener ini alamat sini, Pak?” Tanya gua sambil menunjuk ke buku catatan.
Pria itu melihat ke arah buku dan memeriksanya, lalu mengangguk; “Bener, dik. Mau ketemu siapa?”
“Eee.. Mau ketemu Lian, Pak..” Gua menjawab ragu.
“Lian? Lian siapa ya?” Tanyanya.
“Eeee… Bukan pak”
Saat tengah bicara dengan si pria di pos keamanan, terlihat pria lain mendekat ke arah kami berdua. Pria dengan polo shirt berlogo yayasan yang langsung tersenyum dan mengangguk ke gua.
“Kenapa, Mas?” Tanya pria yang baru datang ke penjaga keamanan.
“Ini Nyari orang yang namanya Lian, Mas…”
“Oh… Mas Farid…” Seru pria yang baru datang. Ia lantas berpaling ke gua dan bicara; “Kalo Mas Farid, eh, Mas Liannya sekarang nggak ada di sini dik…” Ucapnya.
Sekujur tubuh langsung terasa lemas begitu mendengar ucapannya barusan. Jauh-jauh dari Jakarta hanya untuk mendapat jawaban seperti ini.
“Adik dari mana memang?” Tanyanya.
“Dari Jakarta, Mas…” Jawab gua singkat.
“Siapa namanya dik?” Tanyanya lagi.
Gua menjawab cepat; “Fira, Mas… Safira”
Pria itu tertegun sebentar, “Tunggu di sini dik…” Ucapnya, lantas berlari menjauh dari pos penjagaan.
Nggak seberapa lama, pria tadi kembali sambil tergopoh-gopoh. Seraya mengatur napasnya, ia bicara; “Nganu, Dik… Silakan masuk…”
“Lho, tadi katanya Lian nggak ada?”
“Iya… tapi, ada yang mau ketemu” Jawabnya.
“Siapa?” Tanya gua.
“Ibunya…” Ia menjawab singkat.
---
“Well… untuk bagian itu kayaknya saya nggak bisa menjawabnya”
Gua memejamkan mata lalu mengatur napas. Kemudian mengajukan pertanyaan lain; “Ceritakan tentang dia…”
“…”
“… Tentang sosok bernama Lian” Gua menambahkan.
Dokter Ricky menyeruput kopinya, lantas menyeka ujung bibirnya dengan tisu.
“Orang itu; Lian, seorang dokter sama seperti saya…” Jawabnya.
“Aku pernah jadi pasiennya?” Tanya gua.
Ia mengangguk pelan; “Iya…”
“Tulisan-tulisan tangan di lembaran hasil tes yang tadi Dokter kasih liat, tulisan dia?”
“Iya…”
“Terus gimana aku dan, eeh.. Kami berdua bisa saling mengenal?” Tanya gua lagi.
“Nggak tau” Jawabnya sambil mengangkat kedua bahu. “… Kalo itu kamu harus tanya sendiri sama orangnya…”
Jawabannya barusan tentu saja menggugurkan pertanyaan gua selanjutnya. Tentang bagaimana gua dan sosok bernama Lian bisa menjadi dekat.
“Gimana caranya? Di mana aku bisa nemenuin dia?”
Lagi-lagi Dokter Ricky mengangkat kedua bahunya; nggak punya jawaban.
Gua mengeluarkan ponsel, menunjukkan nomor kontak dengan label ‘L’ ke padanya. “Ini nomor HP dia bukan?” Tanya gua. Dokter Ricky mencondongkan tubuh sambil menyipitkan mata menatap ke arah layar ponsel yang gua tujukan kepadanya. Kemudian beraalih ke layar ponselnya sendiri; mencocokkan nomor lalu mengangguk pelan; “Iya, bener…”
“Aku coba call nggak bisa…” Gua bicara, menjelaskan tentang pengalaman tadi saat gagal menghubungi nomor tersebut.
“Mau nomor yang lain?” Tanyanya.
Gua mengangguk cepat, lantas menyodorkan buku catatan gua ke arahnya. Dokter Ricky meraih pulpen dari saku kemejanya dan mulai membolak-balik halaman buku catatan. Sekilas ia tersenyum saat melihat tulisan gua di dalamnya. Kemudian mulai menulis deretan nomor pada lembaran kertas yang kosong.
“Ceritan lebih banyak dong, dok…” Ucap gua sambil menunggunya menulis.
“Hmmm…” Dokter Ricky menggumam pelan, lantas menyandarkan tubuhnya di kursi. “… Untuk ukuran seorang dokter, dia itu terlalu eksentrik. Dan terlalu sombong untuk ukuran orang-orang normal…”
“…”
“… Dia nggak begitu peduli dengan perasaan orang lain. Dia nggak percaya hal berbau mistis dan takhayul…”
“…”
“… Sejak lama dia hidup dibalik kepura-puraan. Dia selalu menyembunyikan sesuatu dibalik otaknya yang cemerlang. Dia juga orang yang sulit percaya sama orang lain”
"..."
"... Ia orang yang sulit dipahami, bahkan untuk saya yang cukup lama mengenalnya"
“…”
“… Dia nggak pernah takut akan kehilangan. Ketakutan terbesarnya justru untuk ‘memiliki’..” Ucapnya sambil menundukkan kepala.
Sejak tadi, gua hanya terdiam dan menyimak semua ceritanya tentang sosok bernama Lian. Jika semua ucapan Dokter Ricky tentangnya benar, Lian adalah orang yang penuh dengan sifat buruk. Ia nggak Dokter eksentrik, sombong, pongah, nggak peduli perasaan orang lain, hidup dalam kepura-puraan dan sulit percaya orang lain. Semua sifat buruk manusia ada padanya. Gua mengernyitkan dahi lalu menggumam pelan; “Diborong semua kejelekan orang…”
Entah gumaman yang terlalu keras atau memang Dokter Ricky mampu membaca gerak bibir gua. Ia tersenyum, lalu tertawa. Kemudian membalik lembaran buku catatan milik gua masih ada padanya. Lembaran yang kini menunjukkan sebuah garis panjang, timeline yang dulu sempat di buat oleh Denis. Di mana titik awalnya adalah momen saat gua kejang pertama kali dan titik akhirnya adalah saat gua selesai di operasi.
Dokter Ricky mengambil pulpen lain dari saku kemejanya. Pulpen berwarna merah yang kemudian ia gunakan untuk membuat garis. Garis merah yang dimulai beberapa senti dari titik awal hingga titik ahir dari garis yang dibuat oleh Denis.
Ia terus mengulang garis hingga terlihat semakin tebal. “Iya, buat orang yang mengenalnya dia memang terdengar seperti penjahat…”
“…”
“… Tapi, sejak saat itu” Ucapnya sambil melingkari garis awal berwarna merah. “… Sepertinya, sejak mengenal kamu, Ia sedikit berubah”
“Sejak kenal aku?” Tanya gua, ragu dengan apa yang baru saja gua dengar.
“Iya…”
“Sedikit?” Tanya gua lagi.
“Iya, sedikit. Cuma sedikit. Tapi, sedikitnya saja bikin gempar banyak orang…”
“Tunggu, tunggu dok… Berarti sedekat itu kah aku sama dia?” Tanya gua, nggak percaya.
“…” Dokter Ricky nggak menjawab, hanya mengangkat kedua bahunya.
Gua terdiam sambil terus menebak-nebak di dalam hati. Mulai memperhitungkan se;isih perbedaan usia antara kami berdua; antara gua dengan sosok bernama Lian.
“Oke, sorry ya sebelumnya dok. Apa usia Dokter Ricky dengan ‘Dia’ sama?” Tanya gua, merasa canggung karena lancang mengusik usia orang lain.
Dokter Ricky mengerutkan keningnya, seraya mengusap dagunya dengan tangan, seperti tengah berusaha menghitung. “Kalau secara akademis, kami berdua seumuran… Tapi, waktu SMP dan SMA dia ikut kelas akselerasi. Jadi, secara biologis saya beberapa tahun lebih tua darinya…”
Gua mengangguk, lalu mulai menghitung di dalam kepala. Tentu bukan hitungan yang pasti dan jelas, mana mungkin gua punya kemampuan itu. Gua hanya mengira-ngira dan menebak saja.
Berdasarkan hitungan dan asumsi, selisih usia kami berdua, gua dan sosok bernama Lian ternyata cukup jauh. Sangat jauh untuk hubungan sejenis pertemanan apalagi asmara. Lantas apa yang membuat kami menjadi dekat?
“Anything?” Tanya Dokter Ricky.
“Mmm…” Gua menatap keluar ke arah jendela, melihat kendaraan yang berseliweran di bawah sana sambil memikirkan hal lain yang mungkin bisa gua tanyakan tentang Lian kepadanya.
“Alamat..” Seru gua.
“Alamat apa?”
“Apa aja, alamat rumah, tempat tinggal, kost, kontrakan, apartemen, rumah sakit atau apapun. Tempat aku bisa bertemu dengannya…”
Dokter Ricky tersenyum sebentar, kemudian meraih ponselnya dan mulai menulis di atas lembaran buku catatan gua seraya sesekali melihat layar ponsel. Selesai mencatat, ia menyodorkan kembali buku catatan ke arah gua. Terlihat tulisan tangan Dokter Ricky yang berisi beberapa alamat. Salah satunya alamat yang tercantum begitu membuat gua terkejut, sadar kalau alamat tersebut nggak begitu jauh dari rumah gua.
“Satu lagi dok, seandainya nggak merepotkan…” Pinta gua sambil mengangkat telunjuk ke atas dan tersenyum.
“Apa?”
“Boleh aku lihat foto dia?”
“Nggak punya…” Jawabnya.
“Masa nggak punya?” Tanya gua.
“Kayaknya aneh deh, cowok punya dan nyimpen foto temen cowoknya. Sedekat apapun hubungannya…” Balasnya sambil terkekeh.
“Ahahaha… Iya juga ya… Sosial media? ada kan?”
“Saya sih ada. Dia; Lian? nggak punya…”
“Ih aneh, masa jaman sekarang nggak punya sosmed sih?” Gumam gua pelan.
“Hahahaha… Nanti once kamu bertemu dengannya, tanyakan langsung aja…”
“Hehehe…. Oiya, nanti kalau tiba-tiba ketemu fotonya bisa kirim ke aku?” Gua mencoba bernegosiasi.
“Hmmm, boleh. Mana nomer Hp kamu nanti saya kirim..”
Gua lantas menyebutkan nomor ponsel dan Dokter Ricky langsung mencatatnya di ponsel.
“Tapi, dok. Kalo bisa kirimnya ke email aja ya….” Ucap gua, kemudian menyebutkan alamat email pribadi kepadanya.
“Ooh, Oke… Ada lagi?”
“Mmm, udah itu aja Dok… Makasih ya”
“Oke, that’s it… Gitu aja ya, nanti kalo ada yang mau ditanyain lagi chat saya aja ya…” Ucapnya, seraya mengeluarkan kartu nama miliknya, kemudian berdiri, menyelesaikan pembayaran dan pergi.
Sementara, gua masih tetap duduk sendiri di sini, di coffee shop yang mulai ramai memandangi buku catatan yang menampilkan salah satu alamat dari Dokter Ricky tadi. Gua membuka menu maps di ponsel, memasukkan alamat tersebut dan membuat ‘pin’ lokasi dengan label ‘L’. Kemudian bergegas pergi dari coffee shop.
—
Menit berikutnya, gua sudah kembali membelah macetnya jalanan Jakarta menuju ke lokasi yang tertera di aplikasi maps. Salah satu alamat pemberian Dokter Ricky.
Di sela-sela kemacetan, gua membuka buku catatan dan menginput nomor ponsel lain milik Lian. Lalu sadar kalau nomor tersebut terlihat aneh, bukan nomor yang berasal dari Indonesia. Gua lantas menekan ikon panggil di susul nada sambung terdengar melalui pengeras suara mobil.
Beberapa kali nada sambung terdengar namun nggak kunjung ada jawaban. Gua mencoba lagi dan lagi, namun hasilnya tetap sama; nggak ada jawaban. ‘Ya paling nggak nomor ini tersambung, nggak seperti nomor sebelumnya yang sama sekali nggak aktif’ batin gua.
Samar terdengar suara lagu mengalun dari aplikasi pemutar musik pada head unit mobil. Sebuah lagu yang entah dari mana asalnya, karena nggak pernah memasukkan lagu ini ke dalam playlist; mungkin suggestion dari aplikasi.
“… and everything’s grey, now you’re here, now you’re away…” Penggalan lirik yang gua dengar. Lirik yang begitu mengena di dalam hati, mirip seperti yang kini gua rasakan.
Gua menekan ikon tanda tambah, memasukkan lagu tersebut ke dalam playlist dan mengaktifkan mode suffle, membuat lagu terus mengulang tanpa berhenti.
Satu jam berikutnya, gua akhirnya tiba di komplek perumahan yang sangat besar, komplek perumahan yang lokasi nggak begitu jauh dari rumah gua. Masih segar di ingatan gua kala itu, saat gua SD, kami bahkan berlatih renang di kolam renang yang berada di area perumahan ini. Kolam renang yang lokasinya tepat bersebelahan dengan gereja besar yang saat ini gua lewati.
Gua berhenti tepat di depan sebuah rumah berukuran besar bercat putih dengan konsep yang minimalis. Berdasarkan aplikasi maps, gua kembali memastikan titik yang tertera sebelum keluar dari mobil. Dari dalam, gua menatap sekeliling, memandangi kondisi rumah besar di depan gua yang terlihat adanya tanda-tanda kehidupan.
Sejenak gua memejamkam mata, mengatur napas, mencoba untuk mengumpulkan keberanian. Kemudian keluar dari mobil. Gua berdiri di depan pagar besi yang menjulang, seakan menutup diri dari dunia luar. Sementara, semua pintu di dalam sana terlihat tertutup rapat. Gua menoleh, mencari posisi bel. Namun nggak ada.
“Permisi!!” Seru gua setengah berteriak. Lalu. menunggu.
Nggak ada jawaban.
Lagi, gua berseru; “Permisi!!” Kali ini dengan volume lebih keras.
Namun, masih nggak ada jawaban. Gua bersandar pada body mobil dan meraih ponsel dari saku celana. Melakukan sesuatu yang nggak ada faedahnya, hanya menatap layar ponsel, menggeser layarnya tanpa tujuan yang jelas. Hanya agar nggak terlihat aneh di mata orang yang lalu lalang di depan rumah.
Sesekali, gua kembali berseru; “Permisi!!”
Dan masih nggak ada jawaban.
Gua hanya berdiri dan menunggu sambil bersandar pada body mobil. Hingga seorang perempuan setengah baya dari rumah sebelah yang sejak tadi keluar masuk untuk mengambil paket mendekat ke gua dan bertanya; “Nyari siapa, Kak?” Tanyanya.
“Oh, ini bu.. mau ketemu sama orang di rumah ini” Jawab gua sambil menunjuk ke arah rumah besar di depan gua.
“Wah, emang jarang keliatan kak. Paling ada orang yang jaga. Tapi, kalo jam segini udah pulang…” Jawabnya.
“Berarti kosong ya, Bu?” Tanya gua.
Si Ibu berjingkat, mengintip ke arah bagian dalam rumah. Lalu beralih ke gua dan menjawan; “Kalo lampu teras dan garasinya nyala, berarti kosong kak…”
“Ooo gitu… Ok makasih ya bu…” Balas gua lalu bersiap pergi.
Gua masuk ke dalam mobil namun nggak langsung pergi. Hanya duduk di belakang kemudi sambil termenung. Gua mengambil buku catatan yang tergeletak di kursi penumpang, lalu membukanya, menatap ke arah tulisan Dokter Ricky yang berisi tulisan alamat lain milik Lian. Masalahnya, nggak mungkin gua ke sana sekarang. Harus bilang apa ke Nyokap kalau gua pergi ke Solo sekarang.
Mesin mobil gua hidupkan, lantas pergi dari sana untuk putar balik di depan. Gua melambatkan laju mobil saat kembali melewati rumah besar bercat putih tadi, berharap melihat tanda kehidupan. Namun, nggak ada yang berubah.
Tepat sebelum gua keluar dari komplek perumahan, terdengar suara raungan mesih mobil yang menggema. Suara gemuruh yang bahkan menembus masuk ke dalam kabin. Gua menatap ke arah spion sebelah kanan, terlihat sebuah mobil berwarna biru yang baru saja lewat ke arah sebaliknya. “Mobil apaan sih, berisik?” Gumam gua pelan sambil terus berlalu.
Hanya butuh waktu nggak lebih dari lima menit untuk gua tiba di rumah. Gua langsung masuk ke dalam rumah dan bersiap masuk ke dalam kamar.
“Eh, cantik… Baru pulang….” Sapa Nyokap yang kebetulan sudah pulang lebih dulu.
“Iya Mah…”
“Sini makan dulu, Mamah beli sate nih…”
“Nggak deh Mah, Aku masih kenyang…” Balas gua lantas bergegas naik, menuju ke kamar.
“Yaudah, Mamah sisain ya….” Ucapnya.
Di dalam kamar, gua langsung duduk di kursi meja belajar dan kembali membuka buku catatan. Membaca ulang semua informasi dari awal, berusaha memahami agar nggak ada yang terlewat. Saat tengah membaca, ponsel gua bergetar, memunculkan notifikasi email masuk. Awalnya gua pikir hanya email promosi atau iklan dari platform belanja atau ojek online. Namun, saat gua melirik ke arah layar ponsel terlihat nama pengirim; Ricky Saputra.
Gua buru-buru meraih ponsel dan membuka email masuk darinya. Email tanpa subject dan satupun kalimat. Hanya sebuah lampiran yang sepertinya berupa foto.
Tanpa banyak pertimbangan, gua mengetap lampiran di susul layar ponsel yang berubah menghitam sebentar kemudian memunculkan sebuah foto. Foto seorang pria berkemeja putih dengan bagian lengan yang tergulung. Gua terdiam, kaget.
“Dia…. Kita pernah ketemu!!” Seru gua, kemudian buru-buru menutup mulut dengan tangan, takut seruan gua terdengar Nyokap.
Gua beranjak dari kursi dan melompat ke atas ranjang, kemudian menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh. Dari balik selimut, gua kembali memandangi foto di layar ponsel. Foto seorang pria dengan pose angkuh yang tengah menatap ke arah kamera dengan wajahnya yang nir-ekspresi. Wajah yang sempat gua temui dulu, saat tengah pentas di mall. Kami bahkan sempat berbincang, karena gua menumpahkan kopi di kemejanya.
Tiba-tiba ada rasa amarah yang berkecamuk di dalam hati. Merasa dibohongi, merasa dikhianati. Kalau dia mengenal gua, kenapa ia nggak bicara apapun. Kenapa dia hanya diam dan berlagak nggak mengenal gua? kenapa?
Di sisi lain muncul juga rasa berbunga di dalam dada, saat teringat ucapan Dokter Ricky kalau gua dan pria tampan di foto cukup dekat.
Lantas apa yang bikin idealisme gua akan cinta berubah karenanya? apa yang spesial dari dirinya?
—
Besoknya, sepulang kuliah gua menceritakan semua ke Denis. Yang kebetulan hari itu datang bersama dengan pacarnya; Grace.
“Terus lo mau ke Solo?” Tanya Denis dengan mulut penuh makanan.
“Mau, tapi bingung harus naik apa. Kalo naik mobil bisa, Den?” Gua balik bertanya.
“Ngapain bingung Fir. Naik kereta kan bisa. Atau naik pesawat kalo mau lebih cepet…” Grace ikut nimbrung dalam perbincangan.
Gua beralih ke Grace, lantas bertanya; “Kalo naik kereta nanti turunnya di mana, Grace?”
“Di stasiun lah…” Jawab Grace.
“Iya gue tau, tapi stasiun mana?” Tanya gua lagi.
“Ya tergantung, alamatnya di mana…”
Gua lantas mengeluarkan buku catatan dan menunjukkan tulisan berisi alamat ke Grace. Ia mengernyitkan dahinya lalu mengangguk pelan.
“Lo tau alamat ini?” Tanya gua ke Grace.
“Ya taulah, dia kan orang Solo…” Jawab Denis seakan mewakili pacarnya.
“Bener Grace?” Tanya gua, nggak yakin.
“Iya…” Jawabnya singkat. Ia lantas menatap ke arah gua; “… Lo punya waktu banyak nggak? Kalo waktu lo banyak, lo bisa naik kereta. Tapi, kalo emang mepet, better naik pesawat sih…”
“Ooh, gitu… Kalo dari bandara jauh lokasinya?” Tanya gua ke Grace.
“Mmm… Lumayan” Jawabnya, kemudian menjelaskan secara rinci dan detail tentang angkutan yang harus gua pakai untuk pergi ke alamat di catatan.
“…”
“… Nggak perlu repot kali Fir. Di sana kan ada taksi juga Hahaha…” Grace menambahkan.
“Ooh…”
“Kalo lo mau nunggu sampe minggu depan, malah bisa bareng gue. Ntar gue anterin deh…” Grace memberi penawaran.
“Serius lo Grace?” Tanya gua.
“Iya, serius…” Jawabnya.
Minggu berikutnya, gua sudah berada di pesawat menuju ke Solo bersama dengan Grace. Tentu dengan sepengetahuan Nyokap. Walau ijin yang gua ajukan hanya untuk berlibur; bukan untuk mencari alamat pria bernama Lian.
Setibanya di Solo, gua mampir sebentar ke rumah Grace untuk sekedar beristirahat. Menjelang sore barulah gua bersiap untuk pergi ke alamat yang berada di catatan.
Gua duduk di kursi belakang mobil bersama dengan Grace, sementara Bokapnya berada dibalik kemudi. Gua menatap keluar melalui jendela mobil, ke arah deretan rumah dan bangunan yang terlihat sedikit berbeda dengan rumah dan bangunan di Jakarta. ‘Gila lo Fir! Nekad nyari tau sampe sejauh ini’ Gua bicara sendiri dalam hati.
Setelah hampir setengah jam berikutnya, kami tiba di alamat yang sesuai dengan yang gua tunjukkan. Setelah berterima kasih ke Grace dan Bokapnya, gua turun dari mobil lalu berpamitan.
“Mau gue tungguin nggak, Fir?” Tanya Grace melalui jendela mobil.
“Eh, nggak usah Grace… Lo udah mau nganter aja udah sukur” Jawab gua, menolak dengan halus.
“Oh, yaudah… Terus ntar mau dijemput nggak?”
“Nggak usah, Grace… Makasih lho…”
Grace dan Bokapnya lalu pergi meninggalkan gua sendiri di depan sebuah bangunan megah dengan pagar besar yang kondisinya terbuka. Di sisi sebelah kanan pagar terdapat bangunan kecil yang sepertinya pos keamanan. Gua mendekat ke arah bangunan kecil tersebut dan menyapa pria yang berjaga.
“Malam pak…” Sapa gua.
“Malam dik, ada perlu apa?” Tanyanya sopan.
“Anu pak…” Gua terdiam sesaat, bingung harus berkata apa. Lantas mengeluarkan buku catatan dan menunjukkan alamat ditulis oleh Dokter Ricky. “… Bener ini alamat sini, Pak?” Tanya gua sambil menunjuk ke buku catatan.
Pria itu melihat ke arah buku dan memeriksanya, lalu mengangguk; “Bener, dik. Mau ketemu siapa?”
“Eee.. Mau ketemu Lian, Pak..” Gua menjawab ragu.
“Lian? Lian siapa ya?” Tanyanya.
“Eeee… Bukan pak”
Saat tengah bicara dengan si pria di pos keamanan, terlihat pria lain mendekat ke arah kami berdua. Pria dengan polo shirt berlogo yayasan yang langsung tersenyum dan mengangguk ke gua.
“Kenapa, Mas?” Tanya pria yang baru datang ke penjaga keamanan.
“Ini Nyari orang yang namanya Lian, Mas…”
“Oh… Mas Farid…” Seru pria yang baru datang. Ia lantas berpaling ke gua dan bicara; “Kalo Mas Farid, eh, Mas Liannya sekarang nggak ada di sini dik…” Ucapnya.
Sekujur tubuh langsung terasa lemas begitu mendengar ucapannya barusan. Jauh-jauh dari Jakarta hanya untuk mendapat jawaban seperti ini.
“Adik dari mana memang?” Tanyanya.
“Dari Jakarta, Mas…” Jawab gua singkat.
“Siapa namanya dik?” Tanyanya lagi.
Gua menjawab cepat; “Fira, Mas… Safira”
Pria itu tertegun sebentar, “Tunggu di sini dik…” Ucapnya, lantas berlari menjauh dari pos penjagaan.
Nggak seberapa lama, pria tadi kembali sambil tergopoh-gopoh. Seraya mengatur napasnya, ia bicara; “Nganu, Dik… Silakan masuk…”
“Lho, tadi katanya Lian nggak ada?”
“Iya… tapi, ada yang mau ketemu” Jawabnya.
“Siapa?” Tanya gua.
“Ibunya…” Ia menjawab singkat.
---
Bush - Glycerine
delet3 dan 48 lainnya memberi reputasi
49
Kutip
Balas
Tutup