Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Ya gua tentu saja nggak benar-benar berangkat ke kampus. Buat apa? toh berangkat sekarang pun, gua sudah tertinggal beberapa mata kuliah, jadi tetap bajal sia-sia. Jadi, gua memutuskan untuk langsung pergi ke mall tempat janji temu kami nanti.
Alih-alih langsung menuju ke coffee shop, gua langsung mencari salon begitu tiba di mall. Kemudian memilih treatment paling lengkap yang durasinya sesuai dengan jam janji temu kami. ‘Itung-itung me time dadakan’ batin gua.
Treatment di salon rupanya lebih cepat dari perhitungan. Gua lantas pergi ke salah satu restoran cepat saji untuk mengisi perut yang sejak tadi keroncongan. Setelahnya barulah gua menuju ke coffee shop tempat yang Dokter Ricky janjikan.
—
Gua duduk di salah satu sudut ruangan Coffee shop yang kebetulan letaknya berada di skywalk atau jembatan yang memisahkan dua mall. Jadi, dari tempat duduk sekarang ini gua bisa melihat kendaraan-kendaraan yang lalu lalang masuk dan keluar underpass jalan arteri.
Setelah menunggu kurang lebih 20 menit, dan kini menghadapi gelas orange juice ke dua, Dokter Ricky terlihat memasuki coffee shop dan langsung duduk di kursi tepat di depan gua.
Ia lalu membetulkan posisi duduknya dan sedikit berbasa basi dengan menanyakan kampus tempat gua berkuliah dan jurusan yang gua ambil.
“Langsung aja dok…” Ucap gua, menyela basa-basi yang nggak ada habisnya.
“Hahaha… Iya, iya… Kamu mau mulai dari mana?” Tanyanya, kemudian menyeruput kopi pesanannya yang baru saja tiba.
“Dokter Natalie…” Gua menyebut sebuah nama. “… Dokter kenal sama beliau?” Tanya gua. Ia tersenyum dan mengangguk pelan.
Gua lantas mulai menjelaskan tentang kronologi waktu pertama kali pingsan dan kejang, konsultasi awal dengan Dokter Natalie, hingga akhrinya di operasi. Semua gua beberkan secara runut berdasarkan apa yang gua dengar dari Dokter Natalie dulu.
“Bener kayak gitu?” Tanya gua, setelah selesai menjelaskan.
Dokter Ricky kembali tersenyum lantas, mengangguk pelan. “Hmmm… Mungkin bener”
“Ya karena saya baru menangani kamu jauh setelahnya…” Belum selesai ia menjawab gua memotong ucapannya, nggak begitu puas dengan jawabannya barusan.
“Ok, Dok…”
“…”
“… Lian” Gua menyebut sebuah nama sambil terus menatap wajahnya; ingin tau ekspresi yang ia perlihatkan.
“Di kondisi kamu sekarang ini, di mana ingatan kamu samar atau bahkan ada sebagian yang hilang. lalu, tiba-tiba ada orang asing yang mengaku mengenal kamu?” Tanyanya.
“…”
“… Nggak hanya mengenal, tapi juga mengaku kalau kalian sangat dekat” Tambahnya.
“…” Gua kembali terdiam, nggak bisa berkata apa-apa.
“… Apa kamu bisa langsung percaya?”
Gua menelan ludah, mencoba membasahi tenggorokan yang tiba-tiba terasa kering. “Memang sedekat apa kami dulu?” Tanya gua.
“Well… untuk bagian itu kayaknya saya nggak bisa menjawabnya”
Gua memejamkan mata lalu mengatur napas. Kemudian mengajukan pertanyaan lain; “Ceritakan tentang dia…”
---
Letto - Ruang Rindu
Di daun yang ikut
Mengalir lembut
Terbawa sungai ke
Ujung mata
Dan aku mulai takut
Terbawa cinta
Menghirup rindu
Yang sesakkan dada
Jalanku hampa
Dan kusentuh dia
Terasa hangat
Oh didalam hati
Kupegang erat dan
Kuhalangi waktu
Tak urung jua
Kulihatnya pergi
Tak pernah kuragu
Dan slalu kuingat
Kerlingan matamu
Dan sentuhan hangat
Ku saat itu takut
Mencari makna
Tumbuhkan rasa yang
Sesakkan dada
Kau datang dan pergi
Oh begitu saja
Semua ku terima
Apa adanya
Mata terpejam dan
Hati menggumam
Di ruang rindu
Kita bertemu
Kau datang dan pergi
Oh begitu saja
Semua ku terima
Apa adanya
Mata terpejam dan
Hati menggumam
Di ruang rindu
Kita bertemu
Bertemu
Di ruang rindu