- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
superber dan 147 lainnya memberi reputasi
148
209.3K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#544
005-F The Name I Forgot
Spoiler for 005-F The Name I Forgot:
Bu Lilik, mendongak ke atas sambil memajukan bibirnya, tengah berusaha mengingat. Lalu, menggumam pelan; “Siapa ya namanya; Lian atau Liam gitu…”
“Hah?”Gua meraih ponsel dan mulai mencatatnya. Kemudian bergegas kembali ke mobil tanpa pamit ke Bu Lilik.
Begitu tiba di rumah, gua langsung berlari menaiki anak tangga menuju ke kamar.
“Udah di kasih Bu Lilik, Fir?” Tanya Nyokap.
“Udah…” Gua menjawab cepat tanpa berpaling.
Di dalam kamar, gua membuka laci meja belajar bagian paling bawah dan mencari-cari kardus yang berisi aneka barang. Lalu teringat kalau kardus tersebut sudah gua simpan di gudang belakang. Gua kembali ke luar dari kamar, menuju ke belakang rumah; ke gudang.
“Mau kemana?” Tanya Nyokap saat melihat gua menuju ke koridor belakang rumah. Tempat memang jarang gua sambangi.
“Ke gudang…” Gua menjawab singkat.
Aroma pengap menyeruak begitu gua membuka pintu gudang. Gua menutup hidung dengan satu tangan sementara tangan satu lagi berusaha mengambil dus kecil di atas rak. Nggak mungkin gua membawa dus ini ke kamar, Nyokap pasti akan menyadarinya. Jadi, gua hanya mengambil buku catatan dan sebuah pena yang rusak. Kemudian menyembunyikannya di balik jaket dan bergegas kembali ke kamar.
“Nyari apa?” Tanya Nyokap.
“Buku, Mah…” Jawab gua, seraya mengangkat sebuah buku lama; buku paket pelajaran SMA yang teronggok di gudang. Sengaja gua mengambilnya sebagai alasan agar nggak dicurigai.
“Oh, tumben?” Gumamnya, lantas kembali sibuk dengan lembaran kertas dan laptopnya.
Gua duduk di kursi meja belajar, lalu mulai membuka buku catatan dan membacanya lembar demi lembar. Membaca tulisan tangan gua sendiri yang berisi catatan informasi-informasi tentang ingatan gua yang hilang. Siapa yang sangka gua dulu begitu terobsesi dengan hal itu?
Dan kini saat gua sudah lama melupakannya, sebuah nama malah membuat gua kembali penasaran. Rasa penasaran yang dulu sempat gua hindari.
Mata gua lalu tertuju pada sebuah post-it berwarna kuning yang tertempel pada salah satu lembar buku catatan. Post-It yang berisi nama seorang Dokter dan rumah sakit tempatnya bekerja.
“Ricky Saputra…” Gua menggumam sambil membuka laptop lalu mulai mengetik nama tersebut di kolom pencarian.
Halaman hasil pencarian menampilkan situs rumah sakit yang sama dengan yang berada di post-it. Gua meng-klik tautan situs yang kemudian beralih ke bagian lain. Hingga akhirnya gua tiba di halaman yang menunjukkan jadwal praktek dari dokter bernama Ricky Saputra. Gua mengambil foto jadwal di layar laptop dengan ponsel, lalu sadar kalau Nyokap bisa saja menemukan foto tersebut saat tengah memeriksa ponsel gua. Jadi, gua menghapus foto tersebut lalu menuliskan jadwalnya ke buku catatan.
Besoknya, gua berangkat ke kampus lebih awal. Sengaja agar punya sedikit waktu untuk mampir ke kontrakan untuk bertemu dengan Bu Lilik.
Bu Lilik terlihat baru saja kembali dengan sepeda motornya. Ia menatap gua sambil mengernyitkan dahi; “Tumben neng?” Tanyanya seraya turun dari sepeda motor.
“Iya, bu… Di suruh Mamah ngecek” Jawab gua berbohong. Lalu berpaling ke arah halaman kontrakan yang luas, yang kini sepertinya tengah dalam proses finishing.
“Oh kirain apa. Itu neng udah mau selesai sih….” Jawab Bu Lilik sambil mendekat ke gua.
“Cepet juga ya, Bu…” Gua menggumam asal, nggak tau harus berbasa-basi apa.
Bu Lili mendekat lalu bicara; “Cepet apaan neng, itu tukangnya sebentar-sebentar ngaso; istirahat…” Ucapnya sambil berbisik, mungkin takut di dengar oleh para tukang yang tengah bekerja.
“Oo gitu…”
“Iya neng, besok-besok bilang Mamah, jangan pake mandor ini lagi. Saya punya kok kenalan tukang yang cepet…” Tambahnya, masih sambil berbisik.
“Iya nanti aku bilang Mamah deh…” Balas gua.
“Sekalian neng, kalo bisa bilang Mamah sekalian itu pintu kamar mandi saya juga udah mulai susah dikunci” Ujarnya.
“Rusak?”
“Hehehe, iya neng…”
“Yaudah nanti aku bilang Mamah deh..”
“Makasih ya neng…”
“Oiya, bu yang kemarin Bu Lilik bilang orang yang ngontrak di sana….” Ucap gua sambil menunjuk ke arah kontrakan paling ujung.
“Lian, Neng… Lian namanya… Kemarin suami saya yang inget namanya…” Bu Lilik memotong kalimat gua.
Sesaat gua terdiam. Kemarin ia juga menyebutkan nama yang sama, tapi kali ini terasa berbeda. Ucapannya yang tanpa keraguan membuat jantung tiba-tiba berdetak lebih cepat. Gua enggak tahu siapa dia. Tapi... namanya bikin napas tiba-tiba terasa sesak.
“Neng…” Ucap Bu Lilik seraya menyenggol lengan, membuyarkan lamunan.
“Eh, iya bu..”
“Ngelamunin apa sih?” Tanyanya.
“Nggak bu, Gapapa… Oiya, mau tanya satu lagi bu… Dulu Aku beneran sering ke sini, ke kontrakan itu?”
“Ya lumayan.. Neng lupa apa gimana sih?” Bu Lilik pasang tampang bingung dan sepertinya mulai curiga.
Mendapat pertanyaan seperti itu, jelas gua langsung gelagapan. Lantas berpikir cepat untuk memberi respon.
Namun belum sempat gua memberi balasan, Bu Lilik sudah kembali bicara; “Jangan-jangan, dia pinjem duit sama Neng ya? Tuh kan, saya dari awal udah mulai curiga. Soalnya beberapa kali neng Fira ke sini nyariin dia. Makanya Neng Fira pesen untuk nggak bilang sama Ibu…”
Gua dengan cepat mengangguk.
“Iya bu. Makanya jangan bilang-bilang ke Mamah ya…”
“Tuh bener kan! Emang dia pinjem duit berapa neng?” Tanyanya sambil berbisik. Padahal apa gunanya juga berbisik, toh nggak bakal ada yang peduli.
“Eng, anu… Ee..Ee..”
“Pasti banyak kan Neng? kalo nggak banyak ngapain Neng capek-capek nyariin?”
“Eng, ya… lumayan bu…”
Gua yang mulai kehabisan topik dan nggak mau terus-terusan berbohong lantas pamit. Meninggalkan Bu Lilik yang menatap gua keheranan.
Begitu sudah berada di dalam mobil, gua lantas mengeluarkan ponsel. Masuk ke menu kontak dan mencari nama yang tadi disebutkan. Baru saja gua mengetik huruf pertama, layar ponsel gua langsung menunjukkan kontak dengan label ‘L’. Tiba-tiba tangan gua bergetar hebat. Saking hebatnya, gua bahkan mencoba menahan getaran dengan tangan satu lagi. Sementara, napas mulai tersengal seiring dengan rasa gelisah yang menggerayangi hati.
Gua menyandarkan tubuh, memejamkan kedua mata sambil berusaha mengatur napas. Setelah merasa cukup tenang, gua kembali menatap layar ponsel yang masih menampilkan kontak dengan label ‘L’. Gua kembali menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, lalu menekan tombol ‘panggil’.
Terdengar suara operator yang bilang kalau nomor sedang tidak aktif dan panggilan akan segera dialihkan. Gua buru-buru menekan ikon berwarna merah; mengakhiri panggilan.
Kemudian beralih ke kontak lain. Kini nama Denis yang tertera di layar.
Nada sambung terdengar beberapa kali hingga suaranya menyambut gua; “Apa?”
“Lian? lo pernah denger nama itu?” Gua langsung mengajukan pertanyaan.
“Hah? Siapa?”
“Lian? kenal? atau pernah denger?” Tanya gua lagi.
“Kenapa sih emangnya?”
“Udah buruan jawab aja…”
“Lian, Lian… Lian…” Denis menggumam sendiri.
“…”
“… Nggak pernah kayaknya. Dia satu SMA sama kita? Angkatan berapa?”
“Nggak tau…” Seru gua.
“Dih.. Terus lo berharap gue tau?”
“Ya siapa tau lo pernah denger…”
“Nggak pernah.. Udah yak, gue lagi nyetir nih…” Balasnya.
“Yaudah…” Ucap gua lalu mengakhiri panggilan.
Pagi itu gua memutuskan untuk membolos kuliah. Lantas menuju ke rumah sakit yang tertera pada post-it pemberian Dokter Eko.
Sepanjang perjalanan, gua terus mencoba menghubungi kontak dengan label nama ‘L’ di ponsel. Namun selalu gagal, sepertinya nomor ponsel nggak aktif. “Ck… Siapa sih lo….” Gua menggumam sambil melempar ponsel ke kursi penumpang di sebelah.
Berbekal maps gua masuk ke jalan arteri yang padat, melewati deretan mal yang terkenal elit di daerah Jakarta Selatan, lalu berbelok ke kiri, masuk ke area perumahan yang nggak kalah mewah. Di tengah-tengah area perumahan berdiri sebuah bangunan megah dengan arsitektur modern; sebuah rumah sakit.
Gua memarkir mobil sambil terus memandangi gedung yang megah. ‘Apa iya gue pernah ke sini sebelumnya?’ Batin gua, merasa seharusnya berkunjung ke sini pasti punya kesan tersendiri.
Dari area parkir gua mampir sejenak ke kedai kopi yang kebetulan berada di area lobi rumah sakit. Memesan Matcha Latte dan sebotol air mineral. Kemudian menuju ke meja administrasi.
“Mbak… Mau ke Dokter…” Gua berhenti bicara, melihat tulisan di buku catatan lalu melanjutkan; “… Dokter Ricky Saputra”
“Baik kak, aku cek sebentar ya…” Ucap si petugas perempuan yang menyambut gua dengan senyuman. Lalu, mulai berpaling ke layar monitor di depannya. Sementara, jemarinya terlihat menari di atas keyboard.
“Udah pernah berobat atau konsultasi di sini sebelumnya, Kak?” Tanyanya tanpa berpaling dari layar monitor.
Gua terdiam sejenak. Baru terpikir kalau ternyata rumah sakit memang menyimpan database pasien. ‘Kenapa nggak terpikir dari dulu’ Batin gua.
Sementara, si petugas perempuan kembali bertanya. Kini sambil beberapa kali memanggil gua; “Kak, Udah pernah berobat atau konsultasi di sini sebelumnya?” Tanyanya lagi, masih dengan senyum terpasang di wajahnya.
“Eh, kayaknya udah deh mbak. Aku lupa soalnya…” Gua menebak, membangung asumsi.
“Ada kartu pasiennya kak?” Tanyanya lagi.
“Wah, nggak ada mbak… Ilang kayaknya” Jawab gua.
“Baik, Kak. Kalau begitu aku boleh pinjam KTP-nya sebentar…” Ucapnya. Gua lantas mengeluarkan KTP dari dalam dompet dan menyerahkannya ke si petugas. Yang lalu mulai menginput nama yang tertera di KTP. “Mau cetak ulang kartu pasiennya, Kak?” Tanyanya.
“Boleh…”
“Nanti ada charge-nya 50 ribu ya Kak”
“Iya, Gapapa. Langsung bayar sekarang?”
“Oh, nggak kak. Nanti digabungkan ke dalam tagihan…” Ia menjelaskan, lantas mulai mencetak kartu pasien melalui mesin kecil di sisi monitor dan menyerahkannya ke gua. “Kakak, nanti naik ke lantai dua, terus belok ke kiri ya…”
“Oke Mbak, makasih ya…” Gua mengambil kartu dan segera naik ke lantai dua, mengikuti petunjuknya.
Berbekal kartu pasien yang baru saja dicetak, gua masuk melewati pintu kaca besar dengan tulisan ‘Poli Saraf’ di bagian depan. Bau obat dan aroma alkohol yang khas langsung menyambut begitu gua masuk ke bangsal yang terbilang cukup besar. Gua menutup hidung dan mulut dengan salah satu tangan dan mendekat ke arah nurse station yang berada di tengah-tengah bangsal. Sementara, sofa-sofa beludru yang digunakan sebagai tempat untuk menuggu berderet mengelilingi nurse station.
“Pagi Mbak, mau ke Dokter Ricky dong…” Ucap gua ke salah satu perempuan dengan seragam perawat di balik meja nurse station.
Si perawat itu tersenyum lantas, meraih kartu pasien milik gua dan mengecek kembali melalui layar monitor di hadapannya.
“Keluhannya apa Kak Fira?” Tanya si perawat.
“Mmm…” Gua kesulitan menjawab. Lalu, menjawab asal; “… Kadang aku suka pusing”
“Ada lagi, kak?” Tanyanya.
“Nggak udah itu aja…” Jawab gua.
“Oke, sebentar aku ambilin rekam medisnya dulu ya…” Jawabnya. Lantas keluar dari balik nurse station dan pergi ke ruangan kecil di baliknya. Ia kembali sambil membawa sebuah map besar berwarna hijau dengan tulisan kecil berisi nama gua di bagian depannya.
“Boleh aku cek tensi dan suhunya dulu kak?” Pintanya seraya mengeluarkan sebuah alat otomatis.
“Oh ok…” Jawab gua, lantas mulai menggulung lengan kaos.
“Kenapa kak? Bau obat ya?” Tanya-nya saat menyadari kalau gua sejak tadi menutup hidung dengan tangan.
“Iya…”
Si perawat lantas mengeluarkan dus kecil bergambar masker wajah; “Ini kak, pake ini aja…”
“Wah, makasih ya…” Gua mengambil selembar masker wajah dan memakainya.
Sementara, si perawat mulai memasang semacam sabuk di lengan sebelah kanan gua. Sabuk yang tersambung ke sebuah alat dengan layar monokrom dan beberapa tombol. Si perawat menekan salah satu tombol, di susul terasa tekanan yang perlahan semakin kuat di bagian lengan. Alat tersebut mengeluarkan bunyi bip beberapa kali, lalu memunculkan sebuah angka. Angka yang lalu dipindahkan ke lembaran catatan di dalam Map.
“Normal, Sus?” Tanya gua.
“Normal kak…” Jawabnya seraya menyebutkan angka-angka yang nggak gua pahami. Kemudian mengambil alat lain yang berbentuk seperti pistol mainan berwarna putih, dan mengarahkan ujung nya ke dahi gua; “Maaf ya kak, di cek suhunya…”
Setelah selesai melakukan pengecekan suhu dan tekanan darah, si perawat mempersilakan untuk menunggu. Gua duduk di salah satu sofa kosong di sisi terjauh dari nurse station, lalu mulai memperhatikan satu persatu pasien yang mulai berdatangan dan memenuhi sofa di ruang tunggu.
“Kak Safira…” Seru salah seorang perawat dari balik nurse station. Gua berdiri dan mendekat ke arah nurse station. Lalu mengikuti perawat lain yang berdiri di ujung lorong dan membawa gua hingga ke depan sebuah ruangan dengan pintu berwarna putih dan plang nama bertuliskan dr. Ricky.
Si perawat lantas masuk ke dalam ruangan, kemudian kembali keluar untuk mempersilakan gua masuk. “Silakan Kak…”
Gua masuk ke dalam ruangan. Ruangan dokter yang terbilang cukup besar jika dibandingkan dengan ruangan dokter lain yang pernah gua datangi. Seorang dokter dengan jubah putih yang khas terlihat duduk di sudut ruangan. Ia sibuk menatap layar monitor di atas meja, sementara tangannya sibuk menggerakkan mouse ke sana kemari. Di sisi lain ruangan terdapat ranjang pasien dengan banyak instrumen elektronik dan kabel-kabel yang berseliweran. Sebuah lemari kaca dengan deretan buku-buku dan alat peraga berada di antara meja konsultasi dan ranjang.
Si perawat yang tadi mengantar gua, mendekat lantas meletakkan map hijau besar milik gua di atas meja. Si Dokter mengangguk pelan dengan pandangan masih ke layar monitor.
“Atas nama Safira, Dok…” Ucap si perawat.
Si dokter berhenti menggerakkan mouse, pandangannya lalu dengan cepat ia alihkan ke arah gua yang masih berdiri di depan pintu ruangan. Dengan cepat ia melepas kacamata dan berdiri, masih terus menatap gua tanpa berkedip. “Tunggu diluar aja, Sus…” Ucapnya ke si perawat yang sejak tadi menunggu di sisi meja. Si perawat yang lalu pamit dan keluar dari ruangan. Sementara, Dokter Ricky keluar dari balik meja-nya, menarik kursi pasien lalu memberi kode agar gua duduk.
Gua duduk sambil terus menatapnya yang kini sibuk berdiri sambil mondar-mandir.
Langkahnya terhenti setelah sudah beberapa saat. Ia menatap gua dalam-dalam lantas bertanya; “Kamu kenal saya nggak?”
Gua menggeleng pelan.
Dokter Ricky menelan ludahnya, lalu duduk di atas meja kerjanya, menghadap ke gua.
“Kamu ke sini sama siapa?” Tanyanya lagi.
“Sendiri…” Jawabnya.
“Siapa yang tau kamu ke sini?” Tanyana lagi.
“Nggak ada…” Gua menjawab singkat.
Ia menghembuskan napas, terlihat lega. Lalu kembali ke kursi di balik meja kerjanya.
“Dokter kenal sama aku?” Kini gantian gua yang bertanya.
“Kenal…” Jawabnya sambil mengangguk. Lantas membuka map berisi rekam medis milik gua, membolak-balik halaman dan menunjukkan hasil pemeriksaan tes EEG. Hasil tes yang bentuknya terlihat mirip dengan yang dulu sempat diperlihatkan Dokter Natalie ke gua. Namun bedanya, kali ini lembaran kertas hasil tes EEG di hadapan gua penuh dengan coretan dan tulisan tangan. Beberapa tulisan terlihat gua kenali sebagai tulisan tangan gua. Sementara, sisanya sama sekali nggak gua ketahui siapa penulisnya.
Masih sambil memandangi lembaran hasil tes EEG, gua kembali bicara; “Dokter Eko yang ngasih info supaya aku kesini…”
“Untuk?”
“Untuk tau tentang ingatan-ingatan aku yang dulu hilang…” Jawab gua.
Ia kembali menghela napasnya, lalu beralih menatap layar monitor. “Kamu pasien pertama saya hari ini lho. Dan, masih banyak antrian pasien setelah ini…”
“Terus?”
“Kasian pasien lain harus menunggu..” Ucapnya seraya menatap gua dari atas ke bawah. “Kamu sudah kuliah sekarang?”
“Iya” Jawab gua sambil menganggup.
“Pergi berangkatlah kuliah, nanti siang setelah saya selesai praktek kita ngobrol…”
“Tapi, kan…” Gua berhenti bicara. Ucapannya ada benarnya. Gua nggak boleh terlalu egois. Mementingkan keinginan sendiri sampai mengorbankan pasien lain yang mungkin kondisinya butuh perhatian lebih. Jadi, gua berdiri dan bersiap untuk pamit.
Sebelum pergi, ia menuliskan nama sebuah coffee shop di salah satu mall di dekat rumah sakit dan meminta gua untuk datang ke sana pukul 2 siang nanti. Gua mengangguk setuju.
“Hah?”Gua meraih ponsel dan mulai mencatatnya. Kemudian bergegas kembali ke mobil tanpa pamit ke Bu Lilik.
Begitu tiba di rumah, gua langsung berlari menaiki anak tangga menuju ke kamar.
“Udah di kasih Bu Lilik, Fir?” Tanya Nyokap.
“Udah…” Gua menjawab cepat tanpa berpaling.
Di dalam kamar, gua membuka laci meja belajar bagian paling bawah dan mencari-cari kardus yang berisi aneka barang. Lalu teringat kalau kardus tersebut sudah gua simpan di gudang belakang. Gua kembali ke luar dari kamar, menuju ke belakang rumah; ke gudang.
“Mau kemana?” Tanya Nyokap saat melihat gua menuju ke koridor belakang rumah. Tempat memang jarang gua sambangi.
“Ke gudang…” Gua menjawab singkat.
Aroma pengap menyeruak begitu gua membuka pintu gudang. Gua menutup hidung dengan satu tangan sementara tangan satu lagi berusaha mengambil dus kecil di atas rak. Nggak mungkin gua membawa dus ini ke kamar, Nyokap pasti akan menyadarinya. Jadi, gua hanya mengambil buku catatan dan sebuah pena yang rusak. Kemudian menyembunyikannya di balik jaket dan bergegas kembali ke kamar.
“Nyari apa?” Tanya Nyokap.
“Buku, Mah…” Jawab gua, seraya mengangkat sebuah buku lama; buku paket pelajaran SMA yang teronggok di gudang. Sengaja gua mengambilnya sebagai alasan agar nggak dicurigai.
“Oh, tumben?” Gumamnya, lantas kembali sibuk dengan lembaran kertas dan laptopnya.
Gua duduk di kursi meja belajar, lalu mulai membuka buku catatan dan membacanya lembar demi lembar. Membaca tulisan tangan gua sendiri yang berisi catatan informasi-informasi tentang ingatan gua yang hilang. Siapa yang sangka gua dulu begitu terobsesi dengan hal itu?
Dan kini saat gua sudah lama melupakannya, sebuah nama malah membuat gua kembali penasaran. Rasa penasaran yang dulu sempat gua hindari.
Mata gua lalu tertuju pada sebuah post-it berwarna kuning yang tertempel pada salah satu lembar buku catatan. Post-It yang berisi nama seorang Dokter dan rumah sakit tempatnya bekerja.
“Ricky Saputra…” Gua menggumam sambil membuka laptop lalu mulai mengetik nama tersebut di kolom pencarian.
Halaman hasil pencarian menampilkan situs rumah sakit yang sama dengan yang berada di post-it. Gua meng-klik tautan situs yang kemudian beralih ke bagian lain. Hingga akhirnya gua tiba di halaman yang menunjukkan jadwal praktek dari dokter bernama Ricky Saputra. Gua mengambil foto jadwal di layar laptop dengan ponsel, lalu sadar kalau Nyokap bisa saja menemukan foto tersebut saat tengah memeriksa ponsel gua. Jadi, gua menghapus foto tersebut lalu menuliskan jadwalnya ke buku catatan.
Besoknya, gua berangkat ke kampus lebih awal. Sengaja agar punya sedikit waktu untuk mampir ke kontrakan untuk bertemu dengan Bu Lilik.
Bu Lilik terlihat baru saja kembali dengan sepeda motornya. Ia menatap gua sambil mengernyitkan dahi; “Tumben neng?” Tanyanya seraya turun dari sepeda motor.
“Iya, bu… Di suruh Mamah ngecek” Jawab gua berbohong. Lalu berpaling ke arah halaman kontrakan yang luas, yang kini sepertinya tengah dalam proses finishing.
“Oh kirain apa. Itu neng udah mau selesai sih….” Jawab Bu Lilik sambil mendekat ke gua.
“Cepet juga ya, Bu…” Gua menggumam asal, nggak tau harus berbasa-basi apa.
Bu Lili mendekat lalu bicara; “Cepet apaan neng, itu tukangnya sebentar-sebentar ngaso; istirahat…” Ucapnya sambil berbisik, mungkin takut di dengar oleh para tukang yang tengah bekerja.
“Oo gitu…”
“Iya neng, besok-besok bilang Mamah, jangan pake mandor ini lagi. Saya punya kok kenalan tukang yang cepet…” Tambahnya, masih sambil berbisik.
“Iya nanti aku bilang Mamah deh…” Balas gua.
“Sekalian neng, kalo bisa bilang Mamah sekalian itu pintu kamar mandi saya juga udah mulai susah dikunci” Ujarnya.
“Rusak?”
“Hehehe, iya neng…”
“Yaudah nanti aku bilang Mamah deh..”
“Makasih ya neng…”
“Oiya, bu yang kemarin Bu Lilik bilang orang yang ngontrak di sana….” Ucap gua sambil menunjuk ke arah kontrakan paling ujung.
“Lian, Neng… Lian namanya… Kemarin suami saya yang inget namanya…” Bu Lilik memotong kalimat gua.
Sesaat gua terdiam. Kemarin ia juga menyebutkan nama yang sama, tapi kali ini terasa berbeda. Ucapannya yang tanpa keraguan membuat jantung tiba-tiba berdetak lebih cepat. Gua enggak tahu siapa dia. Tapi... namanya bikin napas tiba-tiba terasa sesak.
“Neng…” Ucap Bu Lilik seraya menyenggol lengan, membuyarkan lamunan.
“Eh, iya bu..”
“Ngelamunin apa sih?” Tanyanya.
“Nggak bu, Gapapa… Oiya, mau tanya satu lagi bu… Dulu Aku beneran sering ke sini, ke kontrakan itu?”
“Ya lumayan.. Neng lupa apa gimana sih?” Bu Lilik pasang tampang bingung dan sepertinya mulai curiga.
Mendapat pertanyaan seperti itu, jelas gua langsung gelagapan. Lantas berpikir cepat untuk memberi respon.
Namun belum sempat gua memberi balasan, Bu Lilik sudah kembali bicara; “Jangan-jangan, dia pinjem duit sama Neng ya? Tuh kan, saya dari awal udah mulai curiga. Soalnya beberapa kali neng Fira ke sini nyariin dia. Makanya Neng Fira pesen untuk nggak bilang sama Ibu…”
Gua dengan cepat mengangguk.
“Iya bu. Makanya jangan bilang-bilang ke Mamah ya…”
“Tuh bener kan! Emang dia pinjem duit berapa neng?” Tanyanya sambil berbisik. Padahal apa gunanya juga berbisik, toh nggak bakal ada yang peduli.
“Eng, anu… Ee..Ee..”
“Pasti banyak kan Neng? kalo nggak banyak ngapain Neng capek-capek nyariin?”
“Eng, ya… lumayan bu…”
Gua yang mulai kehabisan topik dan nggak mau terus-terusan berbohong lantas pamit. Meninggalkan Bu Lilik yang menatap gua keheranan.
Begitu sudah berada di dalam mobil, gua lantas mengeluarkan ponsel. Masuk ke menu kontak dan mencari nama yang tadi disebutkan. Baru saja gua mengetik huruf pertama, layar ponsel gua langsung menunjukkan kontak dengan label ‘L’. Tiba-tiba tangan gua bergetar hebat. Saking hebatnya, gua bahkan mencoba menahan getaran dengan tangan satu lagi. Sementara, napas mulai tersengal seiring dengan rasa gelisah yang menggerayangi hati.
Gua menyandarkan tubuh, memejamkan kedua mata sambil berusaha mengatur napas. Setelah merasa cukup tenang, gua kembali menatap layar ponsel yang masih menampilkan kontak dengan label ‘L’. Gua kembali menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, lalu menekan tombol ‘panggil’.
Terdengar suara operator yang bilang kalau nomor sedang tidak aktif dan panggilan akan segera dialihkan. Gua buru-buru menekan ikon berwarna merah; mengakhiri panggilan.
Kemudian beralih ke kontak lain. Kini nama Denis yang tertera di layar.
Nada sambung terdengar beberapa kali hingga suaranya menyambut gua; “Apa?”
“Lian? lo pernah denger nama itu?” Gua langsung mengajukan pertanyaan.
“Hah? Siapa?”
“Lian? kenal? atau pernah denger?” Tanya gua lagi.
“Kenapa sih emangnya?”
“Udah buruan jawab aja…”
“Lian, Lian… Lian…” Denis menggumam sendiri.
“…”
“… Nggak pernah kayaknya. Dia satu SMA sama kita? Angkatan berapa?”
“Nggak tau…” Seru gua.
“Dih.. Terus lo berharap gue tau?”
“Ya siapa tau lo pernah denger…”
“Nggak pernah.. Udah yak, gue lagi nyetir nih…” Balasnya.
“Yaudah…” Ucap gua lalu mengakhiri panggilan.
Pagi itu gua memutuskan untuk membolos kuliah. Lantas menuju ke rumah sakit yang tertera pada post-it pemberian Dokter Eko.
Sepanjang perjalanan, gua terus mencoba menghubungi kontak dengan label nama ‘L’ di ponsel. Namun selalu gagal, sepertinya nomor ponsel nggak aktif. “Ck… Siapa sih lo….” Gua menggumam sambil melempar ponsel ke kursi penumpang di sebelah.
Berbekal maps gua masuk ke jalan arteri yang padat, melewati deretan mal yang terkenal elit di daerah Jakarta Selatan, lalu berbelok ke kiri, masuk ke area perumahan yang nggak kalah mewah. Di tengah-tengah area perumahan berdiri sebuah bangunan megah dengan arsitektur modern; sebuah rumah sakit.
Gua memarkir mobil sambil terus memandangi gedung yang megah. ‘Apa iya gue pernah ke sini sebelumnya?’ Batin gua, merasa seharusnya berkunjung ke sini pasti punya kesan tersendiri.
Dari area parkir gua mampir sejenak ke kedai kopi yang kebetulan berada di area lobi rumah sakit. Memesan Matcha Latte dan sebotol air mineral. Kemudian menuju ke meja administrasi.
“Mbak… Mau ke Dokter…” Gua berhenti bicara, melihat tulisan di buku catatan lalu melanjutkan; “… Dokter Ricky Saputra”
“Baik kak, aku cek sebentar ya…” Ucap si petugas perempuan yang menyambut gua dengan senyuman. Lalu, mulai berpaling ke layar monitor di depannya. Sementara, jemarinya terlihat menari di atas keyboard.
“Udah pernah berobat atau konsultasi di sini sebelumnya, Kak?” Tanyanya tanpa berpaling dari layar monitor.
Gua terdiam sejenak. Baru terpikir kalau ternyata rumah sakit memang menyimpan database pasien. ‘Kenapa nggak terpikir dari dulu’ Batin gua.
Sementara, si petugas perempuan kembali bertanya. Kini sambil beberapa kali memanggil gua; “Kak, Udah pernah berobat atau konsultasi di sini sebelumnya?” Tanyanya lagi, masih dengan senyum terpasang di wajahnya.
“Eh, kayaknya udah deh mbak. Aku lupa soalnya…” Gua menebak, membangung asumsi.
“Ada kartu pasiennya kak?” Tanyanya lagi.
“Wah, nggak ada mbak… Ilang kayaknya” Jawab gua.
“Baik, Kak. Kalau begitu aku boleh pinjam KTP-nya sebentar…” Ucapnya. Gua lantas mengeluarkan KTP dari dalam dompet dan menyerahkannya ke si petugas. Yang lalu mulai menginput nama yang tertera di KTP. “Mau cetak ulang kartu pasiennya, Kak?” Tanyanya.
“Boleh…”
“Nanti ada charge-nya 50 ribu ya Kak”
“Iya, Gapapa. Langsung bayar sekarang?”
“Oh, nggak kak. Nanti digabungkan ke dalam tagihan…” Ia menjelaskan, lantas mulai mencetak kartu pasien melalui mesin kecil di sisi monitor dan menyerahkannya ke gua. “Kakak, nanti naik ke lantai dua, terus belok ke kiri ya…”
“Oke Mbak, makasih ya…” Gua mengambil kartu dan segera naik ke lantai dua, mengikuti petunjuknya.
Berbekal kartu pasien yang baru saja dicetak, gua masuk melewati pintu kaca besar dengan tulisan ‘Poli Saraf’ di bagian depan. Bau obat dan aroma alkohol yang khas langsung menyambut begitu gua masuk ke bangsal yang terbilang cukup besar. Gua menutup hidung dan mulut dengan salah satu tangan dan mendekat ke arah nurse station yang berada di tengah-tengah bangsal. Sementara, sofa-sofa beludru yang digunakan sebagai tempat untuk menuggu berderet mengelilingi nurse station.
“Pagi Mbak, mau ke Dokter Ricky dong…” Ucap gua ke salah satu perempuan dengan seragam perawat di balik meja nurse station.
Si perawat itu tersenyum lantas, meraih kartu pasien milik gua dan mengecek kembali melalui layar monitor di hadapannya.
“Keluhannya apa Kak Fira?” Tanya si perawat.
“Mmm…” Gua kesulitan menjawab. Lalu, menjawab asal; “… Kadang aku suka pusing”
“Ada lagi, kak?” Tanyanya.
“Nggak udah itu aja…” Jawab gua.
“Oke, sebentar aku ambilin rekam medisnya dulu ya…” Jawabnya. Lantas keluar dari balik nurse station dan pergi ke ruangan kecil di baliknya. Ia kembali sambil membawa sebuah map besar berwarna hijau dengan tulisan kecil berisi nama gua di bagian depannya.
“Boleh aku cek tensi dan suhunya dulu kak?” Pintanya seraya mengeluarkan sebuah alat otomatis.
“Oh ok…” Jawab gua, lantas mulai menggulung lengan kaos.
“Kenapa kak? Bau obat ya?” Tanya-nya saat menyadari kalau gua sejak tadi menutup hidung dengan tangan.
“Iya…”
Si perawat lantas mengeluarkan dus kecil bergambar masker wajah; “Ini kak, pake ini aja…”
“Wah, makasih ya…” Gua mengambil selembar masker wajah dan memakainya.
Sementara, si perawat mulai memasang semacam sabuk di lengan sebelah kanan gua. Sabuk yang tersambung ke sebuah alat dengan layar monokrom dan beberapa tombol. Si perawat menekan salah satu tombol, di susul terasa tekanan yang perlahan semakin kuat di bagian lengan. Alat tersebut mengeluarkan bunyi bip beberapa kali, lalu memunculkan sebuah angka. Angka yang lalu dipindahkan ke lembaran catatan di dalam Map.
“Normal, Sus?” Tanya gua.
“Normal kak…” Jawabnya seraya menyebutkan angka-angka yang nggak gua pahami. Kemudian mengambil alat lain yang berbentuk seperti pistol mainan berwarna putih, dan mengarahkan ujung nya ke dahi gua; “Maaf ya kak, di cek suhunya…”
Setelah selesai melakukan pengecekan suhu dan tekanan darah, si perawat mempersilakan untuk menunggu. Gua duduk di salah satu sofa kosong di sisi terjauh dari nurse station, lalu mulai memperhatikan satu persatu pasien yang mulai berdatangan dan memenuhi sofa di ruang tunggu.
“Kak Safira…” Seru salah seorang perawat dari balik nurse station. Gua berdiri dan mendekat ke arah nurse station. Lalu mengikuti perawat lain yang berdiri di ujung lorong dan membawa gua hingga ke depan sebuah ruangan dengan pintu berwarna putih dan plang nama bertuliskan dr. Ricky.
Si perawat lantas masuk ke dalam ruangan, kemudian kembali keluar untuk mempersilakan gua masuk. “Silakan Kak…”
Gua masuk ke dalam ruangan. Ruangan dokter yang terbilang cukup besar jika dibandingkan dengan ruangan dokter lain yang pernah gua datangi. Seorang dokter dengan jubah putih yang khas terlihat duduk di sudut ruangan. Ia sibuk menatap layar monitor di atas meja, sementara tangannya sibuk menggerakkan mouse ke sana kemari. Di sisi lain ruangan terdapat ranjang pasien dengan banyak instrumen elektronik dan kabel-kabel yang berseliweran. Sebuah lemari kaca dengan deretan buku-buku dan alat peraga berada di antara meja konsultasi dan ranjang.
Si perawat yang tadi mengantar gua, mendekat lantas meletakkan map hijau besar milik gua di atas meja. Si Dokter mengangguk pelan dengan pandangan masih ke layar monitor.
“Atas nama Safira, Dok…” Ucap si perawat.
Si dokter berhenti menggerakkan mouse, pandangannya lalu dengan cepat ia alihkan ke arah gua yang masih berdiri di depan pintu ruangan. Dengan cepat ia melepas kacamata dan berdiri, masih terus menatap gua tanpa berkedip. “Tunggu diluar aja, Sus…” Ucapnya ke si perawat yang sejak tadi menunggu di sisi meja. Si perawat yang lalu pamit dan keluar dari ruangan. Sementara, Dokter Ricky keluar dari balik meja-nya, menarik kursi pasien lalu memberi kode agar gua duduk.
Gua duduk sambil terus menatapnya yang kini sibuk berdiri sambil mondar-mandir.
Langkahnya terhenti setelah sudah beberapa saat. Ia menatap gua dalam-dalam lantas bertanya; “Kamu kenal saya nggak?”
Gua menggeleng pelan.
Dokter Ricky menelan ludahnya, lalu duduk di atas meja kerjanya, menghadap ke gua.
“Kamu ke sini sama siapa?” Tanyanya lagi.
“Sendiri…” Jawabnya.
“Siapa yang tau kamu ke sini?” Tanyana lagi.
“Nggak ada…” Gua menjawab singkat.
Ia menghembuskan napas, terlihat lega. Lalu kembali ke kursi di balik meja kerjanya.
“Dokter kenal sama aku?” Kini gantian gua yang bertanya.
“Kenal…” Jawabnya sambil mengangguk. Lantas membuka map berisi rekam medis milik gua, membolak-balik halaman dan menunjukkan hasil pemeriksaan tes EEG. Hasil tes yang bentuknya terlihat mirip dengan yang dulu sempat diperlihatkan Dokter Natalie ke gua. Namun bedanya, kali ini lembaran kertas hasil tes EEG di hadapan gua penuh dengan coretan dan tulisan tangan. Beberapa tulisan terlihat gua kenali sebagai tulisan tangan gua. Sementara, sisanya sama sekali nggak gua ketahui siapa penulisnya.
Masih sambil memandangi lembaran hasil tes EEG, gua kembali bicara; “Dokter Eko yang ngasih info supaya aku kesini…”
“Untuk?”
“Untuk tau tentang ingatan-ingatan aku yang dulu hilang…” Jawab gua.
Ia kembali menghela napasnya, lalu beralih menatap layar monitor. “Kamu pasien pertama saya hari ini lho. Dan, masih banyak antrian pasien setelah ini…”
“Terus?”
“Kasian pasien lain harus menunggu..” Ucapnya seraya menatap gua dari atas ke bawah. “Kamu sudah kuliah sekarang?”
“Iya” Jawab gua sambil menganggup.
“Pergi berangkatlah kuliah, nanti siang setelah saya selesai praktek kita ngobrol…”
“Tapi, kan…” Gua berhenti bicara. Ucapannya ada benarnya. Gua nggak boleh terlalu egois. Mementingkan keinginan sendiri sampai mengorbankan pasien lain yang mungkin kondisinya butuh perhatian lebih. Jadi, gua berdiri dan bersiap untuk pamit.
Sebelum pergi, ia menuliskan nama sebuah coffee shop di salah satu mall di dekat rumah sakit dan meminta gua untuk datang ke sana pukul 2 siang nanti. Gua mengangguk setuju.
Lanjut
Diubah oleh robotpintar 07-04-2025 23:40
delet3 dan 44 lainnya memberi reputasi
45
Kutip
Balas
Tutup