- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
kelinci.tosca dan 149 lainnya memberi reputasi
150
217.6K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#530
005-E A Flicker in the Fog
Spoiler for 005-E A Flicker in the Fog:
Gua hanya berdiri, diam. Menatap sosok pria yang namanya saja belum gua ketahui, sosok pria berkemeja putih yang berjalan menjauh ke arah koridor foodcourt. Lalu, hilang ditelan keramaian. Sementara sebuah plastik berwarna putih tergeletak di atas standing ashtray stainless yang berada tepat di sisi stand kopi tempat tadi menunggu. Plastik putih yang sejak tadi dibawanya. Gua mendekat, mengambil plastik tersebut dan membukanya. Terlihat bungkusan rokok, dan beberapa buku di dalamnya. Salah satu buku sudah dalam kondisi terbuka, sementara beberapa sisanya masih tersegel plastik. Rupanya, ia baru saja membelinya.
Dengan langkah cepat, gua bergegas menuju ke arah ia pergi. Kini, punya alasan lain untuk bicara dengannya. Namun hingga lelah gua berkeliling, sosoknya nggak berhasil gua temukan.
Napas panjangnya terhela. Sambil melangkah gontai dan menenteng plastik berisi buku-buku, gua pergi menuju ke resto tempat Diana dan teman-teman dari sanggar tari sudah menunggu.
—
Malamnya, gua duduk sambil berpangku tangan di kursi meja belajar. Menghadap ke arah buku-buku yang kini berjejer rapi di atas meja. Buku-buku tebal yang beberapa diantaranya berbahasa inggris, buku yang tema-nya saja nggak gua pahami.
Gua membuka sampul salah satu buku yang sudah nggak tersegel. Membalik halamannya satu persatu hingga ke lembaran dengan sebuah penanda karton. Tanda, ia sudah membacanya sampai di halaman teresebut. Jika buku-buku ini dibeli bersamaan, secepat apa ia membaca hingga sudah sampai di halaman ini? Gua lantas beralih ke bungkusan rokok yang sengaja gua letakkan di ujung deretan. Bungkusan rokok yang sudah terbuka, dan kehilangan beberapa batang di dalamnya.
Perlahan, gua meraih kemasan rokok. Mendekatkannya ke ujung hidung dan menghirup aromanya sambil memejamkan mata. Aroma ini, aroma khas yang terasa menghanyutkan.
Gua menyimpan kemasan rokok di laci terbawah, di dalam wadah kardus bersama dengan pena rusak, buku berbahasa inggris dan kertas post-it berisi nama dokter dan alamat rumah sakit pemberian Dokter Eko. Kemudian menutup laci dan menguncinya; takut Nyokap tau dan muncul pertanyaan yang menimbulkan kecurigaan.
Rencananya, minggu depan gua akan datang ke rumah sakit dan menemui dokter yang dirujuk oleh Dokter Eko beberapa hari lalu. Karena minggu ini masih padat dengan jadwal tryout untuk ujian masuk perguruan tinggi negeri yang diadakan pihak sekolah. Gua sih nggak terlalu menaruh harapan besar untuk bisa dapat nilai bagus dan lulus tes. Tapi, gua nggak mau Nyokap melihat gua banyak kelayapan di momen-momen seperti ini.
Lagian, Denis juga sekarang sibuk dengan urusan kuliahnya dan… Gebetan baru yang kini tengah diburunya.
“Yeeee… emang player”Seru gua saat ia baru memperlihatkan foto gadis yang diincarnya. Kesal, namun turut lega karena akhirnya dia bisa benar-benar merelakan gua.
Sabtu pagi. Gua masih berbaring di ranjang, berada di bawah selimut, memeluk guling sambil menggulir layar ponsel. Enggan beranjak, ingin menghabiskan pagi dengan bermalas-malasan.
Terdengar ketukan di pintu kamar, disusul suara Nyokap yang memanggil nama gua; “Fir.. Fira…”
“Hmmm…” Gua menggumam, mengeluarkan suara sebagai tanda kalau gua sudah bangun.
“Mamah mau ke luar dulu ya…” Serunya dari balik pintu.
Gua menyibak selimut, lalu bangkit. “Mau ke mana?” Seru gua seraya membuka pintu kamar.
Nyokap yang sudah bersiap melangkah pergi, berbalik; “Ke kontrakan sebentar…”
“Oh, tumben nggak ngajak aku…”
“Ah, kalo ngajak kamu jalannya jauh, muter lewat sana…” Jawabnya sambil menunjuk ke arah asal. “… Lewat jalan yang nggak ada soang-nya” Ia menambahkan.
Iya sejak dulu gua memang punya ketakutan yang besar terhadap hewan laknat itu. Hewan yang seakan bisa menangkap rasa takut, lalu menyerang secara tiba-tiba tanpa alasan.
“Mau ngapain emangnya?”
“Biasa, nagih sama sekalian ngecek. Katanya kemarin pas ujan ada yang bocor…” Jawab Nyokap lantas pergi.
Sementara, gua kembali masuk ke dalam kamar dan menjatuhkan diri di atas ranjang.
Nggak berselang lama setelah Nyokap pergi, terdengar samar suara deru mesin mobil yang berhenti tepat di depan rumah. Gua bangkit, duduk di tepian ranjang lantas pasang telinga; mencoba mendengarkan dengan seksama.
‘Ting-Tong’ Suara bel menggema.
Gua turun dari ranjang, menuju ke sisi jendela dan mengintip ke bawah. Terlihat sebuah mobil sedan berwarna putih terparkir tepat di depan rumah. Sementara, pemiliknya nggak nampak. Mungkin karena berdiri di depan, di sudut pagar yang terhalang oleh kanopi.
“Ck, siapa sih…” Gumam gua pelan, merasa sabtu pagi yang nyaman itu mulai terusik. Kemudian beranjak keluar.
Alih-alih langsung keluar, gua justru berdiri diam di balik pintu ruang depan. Lalu kembali mengintip di sisi jendela dari balik tirai. Terlihat seorang perempuan cantik dengan rambutnya yang hitam panjang terikat kebelakang. Dari usianya sepertinya ia bukan teman Nyokap, karena terlalu muda. Tapi, gua juga merasa nggak kenal dengannya. ‘Oh, mungkin salah satu anak buah Nyokap di kantor?’ Batin gua, lantas membuka kunci pintu dan keluar.
“Sebentar…” Seru gua saat suara bel kembali terdengar.
Gua sengaja melambatkan langkah saat menuju ke pagar, sambil mencoba mengingat wajahnya. Sekaligus memberikan kesempatan agar dia menyampaikan maksudnya. Namun, perempuan itu hanya berdiri dalam diam dan mengumbar senyumnya.
“Hai Fira….” Sapanya, sambil tersenyum.
Sementara gua hanya mengernyitkan dahi dan mulai membuka pagar.
“Apa kabar, Fir? Sehat?” Tanyanya.
“Sehat…” Jawab gua masih sambil pasang tampang bingung.
Menyadari kebingungan gua, ia lantas menjulurkan tangannya begitu pagar terbuka. Lalu, kembali bicara; “Kamu pasti lupa. Aku Natalie…”
“Natalie?” Gumam gua pelan. Masih ragu untuk menjabat tangannya.
“Aku dokter yang ngerawat kamu dulu lho…” Tambahnya.
Kerutan di kening langsung menghilang begitu mendengar kalimatnya barusan. Lantas menjawab tangannya; “Oh, hai…”
“Kamu sehat kan?” Tanyanya lagi.
“Sehat kok, Kak eh, Dok…” Jawab gua.
Nggak langsung mempersilakan perempuan ini masuk. Ya walau bagaimanapun gua tetap harus waspada mengingat banyaknya modus kejahatan baru belakangan ini. Jangan-jangan, perempuan yang berdiri di depan gua saat ini adalah bagian dari sindikat kejahatan yang entah bagaimana bisa mencari tau informasi tentang gua.
Ia mungkin sadar akan tatapan gua yang penuh curiga. Lalu beranjak ke mobilnya, kemudian kembali dengan sebuah map plastik transparan berisi banyak lembaran kertas dalam pelukannya.
Perempuan yang mengaku bernama Natalie itu kemudian membuka map yang dibawanya, lantas mengeluarkan beberapa lembar dokumen. Ia mengambil satu lembar dan menyerahkannya ke gua.
Ya gua tentu nggak mengerti dengan grafik-grafik yang berada di atas lembaran kertas yang kini berada di tangan gua. Yang bisa gua baca hanya informasi tentang data diri gua yang berada pada bagian atas lembaran. Melihat nama gua tercantum pada lembaran kertas yang sepertinya adalah hasil sebuah tes laboratorium, kecurigaan gua perlahan mulai memudar.
Ditambah, ia mengeluarkan kartu nama beserta tanda pengenal dokter miliknya. Sebagai bukti kalau ia benar-benar seorang dokter. Bikin rasa curiga gua semakin hilang.
Ragu, gua mempersilakannya masuk dan duduk di kursi teras rumah. Begitu sudah duduk, ia mulai mengeluarkan dan menunjukkan lembaran dokumen-dokumen lain ke gua. Kebanyakan isinya copy rekam medis, resep hingga surat pengantar dari rumah sakit sebelumnya. Sambil membiarkan gua mengecek dokumen-dokumen tersebut, ia mulai bicara; bercerita tentang pertemuan pertama kami sebagai dokter dan pasien.
Gua meletakkan lembaran-lembaran dokumen di atas meja kecil yang memisahkan kami berdua dan mulai mendengarkan ceritanya. Sengaja nggak mau berkomentar terlalu banyak, ingin tau sejauh mana ia mengetahui tentang gua. Dan semua yang ia ceritakan betul-betul klop dengan misteri-misteri yang selama ini coba gua cari.
Akhirnya ada secercah harapan. Perlahan, gua menggeser kursi mendekatinya. Ada begitu banyak pertanyaan yang akhirnya ingin gua ajukan. Dari mulai waktu dan kronologi yang tepat tentang kronologi gua pingsan dan kejang. Terapi obat yang ia berikan hingga proses operasi yang gua jalani. Semuanya terasa tepat.
Akan tetapi, masih ada yang mengganjal di dalam hati; Alasan kenapa ia datang dan menceritakan ini semua.
“Kenapa Dokter tiba-tiba bercerita?” Tanya gua.
“…” Ia nggak menjawab.
“Terus kenapa baru cerita sekarang?” Tanya gua lagi.
Alih-alih langsung menjawab, ia justru tersenyum dan menatap gua hangat. “Lebih baik terlambat kan daripada nggak sama sekali?”
Gua mengangguk pelan; “…”
Dokter Natalie, meraih tangan gua. Terasa jemarinya yang lembut dan halus menyentuh punggung tangan. Sentuhan yang terasa asing, tapi entah kenapa menenangkan.
“Ada lagi yang mau kamu cari tau?” Tanyanya pelan.
Gua kembali mengangguk, lantas menceritakan tentang sekelebat ingatan yang tiba-tiba muncul beserta barang dan memen yang memicunya. Dokter Natalie kemudian menjelaskan penyebab terjadinya hal itu. Tentu dengan bahasa ilmiah khas kedokteran yang terkadang sulit gua pahami.
“Dulu, kamu pernah punya pacar yang namanya Anes…” Ucapnya.
“Iya aku udah tau, dia yang bikin kepala aku begini kan?” Balas gua seraya meraba bekas luka di bagian belakang kepala.
“Nah, mostly ingatan-ingatan kamu yang hilang itu tentang dirinya…” Ia menghela napasnya sebentar kemudian melanjutkan bicaranya; “… that’s why, Mamah kamu nggak pernah mau bercerita banyak tentang ini. Dia takut, takut sosoknya kembali. Takut malah kamu trauma…”
Gua terdiam begitu mendengar penjelasannya barusan. Tangan gua mencengkeram ujung kaos yang gua kenakan. Jadi, selama ini Nyokap memang sengaja menyembunyikan hal itu agar gua nggak trauma. Agar gua nggak kembali ingat tentang hal menyakitkan.
Namun, nggak memahaminya bukan berarti gua nggak mengerti sama sekali. Gua nggak perlu paham. Gua nggak perlu mengerti. Gua hanya ingin tau hal-hal yang mengisi rasa kosong yang kerap muncul di kepala.
“Iya…” jawabnya sambil mengangguk pelan.
“…”
“… maaf ya, fir. Aku baru bisa datang sekarang. Like i’ve said before; lebih baik terlambat daripada nggak sama sekali. Ya kan?” Ia menambahkan.
“Iya…”
“Kamu mau foto ini? soalnya aku nggak bisa kasih semua ke kamu” Ucapnya sambil menunjuk ke arah lembaran-lembaran dokumen di atas meja kecil.
“Oh, boleh-boleh…” Jawab gua. Lalu meraih ponsel dan mulai mengambil foto satu perasatu lembaran dokumen di atas meja.
“Ok, ada yang mau kamu tanyain lagi nggak?” Tanyanya sebelum pergi.
Gua terdiam sebentar, lalu teringat tentang nama rumah sakit dan dokter yang tertulis di post-it pemberian Dokter Eko.
“Ada dok, Dokter kenal nggak sama.. Mmm.. Dokter.. Siapa ya namanya…” Gua menatap ke atas, mencoba mengingat. “… Oh, Dokter Ricky Saputra?” Seru gua, ketika berhasil mengingat.
Dokter Natalie mengangguk pelan sambil tersenyum; “Kenal dong…”
“Dokter Eko, dokter aku sekarang, ngasih saran untuk nanya ke beliau…” Gua menjelaskan.
“Ya, kalau kamu nanya ke dia, ke Dokter Ricky, kamu bakal dapet penjelasan yang sama dengan yang barusan aku jelasin…” Jawabnya santai.
“Oh gitu…” Respon gua, lega. Merasa saat ini gua nggak perlu lagi bersusah payah mencari tau tentang ingatan gua yang hilang.
Setelah Dokter Natalie pergi, gua kembali ke kamar. Duduk di kursi meja belajar, membuka laci paling bawah dan mengeluarkan kardus berisi barang-barang yang sebelumnya menjadi modal dan petunjuk mencari ingatan gua yang hilang. Gua menutup kardus tersebut dan membawanya keluar dari kamar, turun ke bawah hingga ke gudang di bagian belakang rumah.
Gua meletakkan kardus kecil yang kini sudah tertutup rapat di atas rak tempat barang-barang yang sudah nggak terpakai. Meninggalkannya di dalam ruang gelap yang pengap. Seiring dengan gua menutup pintu gudang, hilang sudah rasa ingin tau gua yang selama ini membuncah.
Kini semuanya terasa terang benderang. Alasan Nyokap menyembunyikan semuanya, alasan the lontongers yang keukeuh enggan bercerita, semua mereka lakukan demi gua.
Lantas kenapa gua malah bergeming?
Sekarang gua sadar kalau memang nggak ada lagi yang perlu diingat atau dicari. Gua akan sebisa mungkin bertahan dari rasa nggak nyaman di kepala. Walau gua nggak melakukannya untuk diri sendiri, setidaknya gua berusaha bertahan demi Nyokap dan sahabat-sahabat gua.
Baru saja gua keluar dari gudang terdengar suara pagar terbuka. Gua langsung berlari, tau siapa yang datang.
Tanpa banyak bicara, gua menghambur, dan langsung memeluk Nyokap yang baru saja pulang.
“Eh, kenapa?” Tanyanya, kaget karena tiba-tiba mendapat pelukan.
Gua yang sudah bercucuran air mata lantas mendongak dan menatapnya; “Maafin Fira ya, Mah…” pinta gua lirih dan terbata-bata.
Nyokap nggak lagi bertanya alasannya. Ia hanya tersenyum dan mendekap gua manja. “Iya sayang… Maafin Mamah juga ya…”
—
Nggak cuma ke Nyokap, gua juga meminta maaf ke The Lontongers atas sikap sebelumnya yang meragukan sikap mereka.
Gua mulai menjalani hidup yang berbeda. Nggak, nggak, bukan, gua berusaha menjalani hidup seperti sebelumnya, seperti saat sebelum gua mengenal Anes, sebelum gua di diagnosa epilepsi. Nggak ada lagi niatan untuk mencari tau tentang ingatan gua yang hilang, nggak ada lagi tempat untuk rasa penasaran.
Hari-hari berikutnya gua lalui hampir tanpa kendala. Kecuali tentang sekelebat ingatan yang muncul bagai mimpi. Sesuatu yang terus gua abaikan, merasa itu sudah nggak penting lagi. Yang paling penting sekarang adalah hidup selanjutnya.
Hidup terus berlanjut, seperti yang sudah bisa ditebak; Gua nggak berhasil lulus ujian masuk perguruan tinggi negeri. Nggak ada yang kaget saat mendengar gua gagal lulus ujian, bahkan Nyokap, The Lontongers juga Denis.
“Ya kapasitas otak gue emang cuma segini…” Gua menggumam pelan saat melihat hasil ujian yang jelek.
Nggak berhasil masuk perguruan tinggi negeri, gua lantas memilih jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu kampus swasta di daerah Tangerang. Sengaja memilih jurusan itu agar bisa menghindari pelajaran-pelajaran yang menggunakan banyak rumus dan hitung-hitungan rumit. Sementara, Fidel berhasil lolos ujian masuk perguruan tinggi negeri di Jakarta. Dan Gaby, yang kapasitas otaknya mirip sama gua, pergi berkuliah di luar negeri, Korea. Begitu juga dengan Liv yang memilih fakultas hukum di US.
The Lontongers sudah nggak utuh lagi, kami bukan lagi sekumpulan remaja SMA yang setiap hari ngumpul tanpa peduli waktu. Jarak dan waktu mulai memisahkan kami. Komunikasi kami berempat kini lebih sering melalui group chat yang sesekali diselingi dengan panggilan video conference. Tentu saja sambil menonton serial drama korea bersama-sama.
“Fir.. Fira…” Sayup terdengar suara Nyokap memanggil dari lantai bawah. Gua melepas earbuds dan pasang telinga.
“Fira…” Kembali terdengar panggilan Nyokap.
“Gaes, bentar yak… Gue dipanggil Nyokap” Gua bicara menghadap ke layar laptop, ke Gaby, Liv dan Fidel yang berada di aplikasi panggilan video. Kemudian bergegas ke luar dari kamar, turun ke bawah.
“Kenapa Mah?” Tanya gua sambil menuruni anak tangga menuju ke bawah. Terlihat Nyokap tengah duduk di kursi meja makan menghadap ke lembaran kertas. Sementara, jemari tangannya sibuk menari di atas tuts kalkulator.
“Tolongin Mamah, Fir..” Jawabnya tanpa memalingkan pandangannya.
“Ngapain?”
“Ke kontrakan gih? Anterin ini ke Bu Lilik…” Ucapnya sambil menyodorkan sebuah amplop putih ke arah gua. Nyokap memang memiliki beberapa unit rumah kontrakan yang lokasinya berada di perkampungan tepat di belakang komplek.
“Apaan?” Tanya gua seraya meraih amplop putih yang belum tersegel. Di dalamnya nampak gepokan uang pecahan 100 ribuan. “… Duit?” Tanya gua.
“Iya… Mamah titip buat bayar tukang” Jawabnya.
“Bayar tukang? Emang kenapa, ada yang bocor lagi?”
“Nggak, ganti halaman depan jadi konblok. Soalnya udah pada ancur peluran yang di depan. Jadi berdebu kalo musim panas…” Nyokap memberi penjelasan.
“Ooh… Emang kenapa nggak transfer aja sih, Mah. Jaman sekarang masih pake cash aja…”
“Ya Mamah juga maunya begitu, tapi itu mandornya sengaja minta cash. Buat gajian tukang katanya…” Jawabnya.
“Sekarang?” Tanya gua lagi.
“Iya, sekarang…”
Gua bergegas kembali ke kamar, pamit ke The Lontongers yang masih stand-by di panggilan video, lalu menyambar jaket dan memakainya.
“Eh, mau kemana?” Tanya Nyokap saat melihat gua sudah bersiap keluar dan mengambil kunci mobil di atas meja.
“Lah.. katanya suru nganterin ini” Jawab gua sambil menunjukkan amplop putih berisi uang.
“Naik mobil?” Tanyanya.
“Iya… Daripada lewat belakang ntar ada soang” Keluh gua.
“Oh, Yaudah…”
Butuh waktu cukup lama untuk gua tiba di lokasi kontrakan, karena harus memutar lewat jalan utama karena menghindari gerombolan Soang yang gua yakini masih berada di jalan belakang. Setelah 15 menit, akhirnya gua tiba di depan sebuah komplek bangunan dengan pagar di bagian depan. Pagar yang melindungi delapan unit rumah kontrakan dengan sebuah halaman besar ditengahnya.
Di bagian halaman terlihat beberapa orang sibuk dengan pekerjaan tukang sementara Bu Lilik, penghuni salah satu kontrakan paling lama duduk di teras rumah. Ia langsung berdiri dan menyambut gua dengan senyuman.
“Eh… Si Eneng…” Sambutnya.
“Hai Bu, apa kabar?”
“Baik… Tumben, Neng?”
“Iya nih bu, di suru nganter uang sama Mamah” Jawab gua sambil mengambil amplop dari saku jaket dan menyerahkannya ke Bu Lilik.
“Oh, makasih ya neng. Sini duduk dulu, mau ngeteh?”
“Eh, nggak usah bu, terima kasih…” Jawab gua seraya menatap ke arah halaman yang tengah dalam proses pengerjaan. Mata gua lalu tertuju ke salah satu kontrakan yang berada di ujung deretan. Tanpa perintah, gua melangkah, mendekat ke arah kontrakan tersebut. Sementara Bu Lilik mengikuti dari belakang.
“Sekarang ada yang ngisi neng…” Ia memberi info.
“Oh…”
“Dulu si Eneng kenal kan sama yang ngontrak…” Ia kembali bicara, memberi informasi lain.
Gua berpaling dan menatap ke arah Bu Likik yang masih berdiri di belakang gua.
“Aku? Kenal?” Tanya gua, merasa nggak pernah sekalipun mengenal orang yang mengontrak di sini. Ya kecuali Bu Lilik yang sudah sejak lama tinggal di sini.
“Iya, dulu kan neng Fira sering ke sini” Jawabnya sambil tersipu. Ia bahkan sampai menutupi tawanya dengan tangan.
Gua mengernyitkan dahi dan menatapnya bingung; “Aku? Sering ke sini?”
Masih dengan gaya yang tersipu, Bu Lilik lantas menyenggol lengan gua dan tersenyum. Kemudian bicara; “Ih eneng mah suka pura-pura lupa”
“…”
“… Dulu kan Neng Fira yang pesen kalau jangan cerita-cerita ke Mamah” Tambahnya.
“…” Gua terdiam, nggak bicara. Lalu berusaha menghilangkan ekspresi bingung di wajah. Dan membiarkan Bu Lilik terus bercerita.
“Oh iya, ya…” Gua berseru, berlagak ingat. Lantas kembali bicara; “… Bu Lilik inget nggak siapa nama orangnya?”
Bu Lilik, mendongak ke atas sambil memajukan bibirnya, tengah berusaha mengingat. Lalu, menggumam pelan; “Siapa ya namanya; Lian atau Liam gitu…”
“Hah?” Gua meraih ponsel dan mulai mencatatnya.
—
Dengan langkah cepat, gua bergegas menuju ke arah ia pergi. Kini, punya alasan lain untuk bicara dengannya. Namun hingga lelah gua berkeliling, sosoknya nggak berhasil gua temukan.
Napas panjangnya terhela. Sambil melangkah gontai dan menenteng plastik berisi buku-buku, gua pergi menuju ke resto tempat Diana dan teman-teman dari sanggar tari sudah menunggu.
—
Malamnya, gua duduk sambil berpangku tangan di kursi meja belajar. Menghadap ke arah buku-buku yang kini berjejer rapi di atas meja. Buku-buku tebal yang beberapa diantaranya berbahasa inggris, buku yang tema-nya saja nggak gua pahami.
Gua membuka sampul salah satu buku yang sudah nggak tersegel. Membalik halamannya satu persatu hingga ke lembaran dengan sebuah penanda karton. Tanda, ia sudah membacanya sampai di halaman teresebut. Jika buku-buku ini dibeli bersamaan, secepat apa ia membaca hingga sudah sampai di halaman ini? Gua lantas beralih ke bungkusan rokok yang sengaja gua letakkan di ujung deretan. Bungkusan rokok yang sudah terbuka, dan kehilangan beberapa batang di dalamnya.
Perlahan, gua meraih kemasan rokok. Mendekatkannya ke ujung hidung dan menghirup aromanya sambil memejamkan mata. Aroma ini, aroma khas yang terasa menghanyutkan.
Gua menyimpan kemasan rokok di laci terbawah, di dalam wadah kardus bersama dengan pena rusak, buku berbahasa inggris dan kertas post-it berisi nama dokter dan alamat rumah sakit pemberian Dokter Eko. Kemudian menutup laci dan menguncinya; takut Nyokap tau dan muncul pertanyaan yang menimbulkan kecurigaan.
Rencananya, minggu depan gua akan datang ke rumah sakit dan menemui dokter yang dirujuk oleh Dokter Eko beberapa hari lalu. Karena minggu ini masih padat dengan jadwal tryout untuk ujian masuk perguruan tinggi negeri yang diadakan pihak sekolah. Gua sih nggak terlalu menaruh harapan besar untuk bisa dapat nilai bagus dan lulus tes. Tapi, gua nggak mau Nyokap melihat gua banyak kelayapan di momen-momen seperti ini.
Lagian, Denis juga sekarang sibuk dengan urusan kuliahnya dan… Gebetan baru yang kini tengah diburunya.
“Yeeee… emang player”Seru gua saat ia baru memperlihatkan foto gadis yang diincarnya. Kesal, namun turut lega karena akhirnya dia bisa benar-benar merelakan gua.
Sabtu pagi. Gua masih berbaring di ranjang, berada di bawah selimut, memeluk guling sambil menggulir layar ponsel. Enggan beranjak, ingin menghabiskan pagi dengan bermalas-malasan.
Terdengar ketukan di pintu kamar, disusul suara Nyokap yang memanggil nama gua; “Fir.. Fira…”
“Hmmm…” Gua menggumam, mengeluarkan suara sebagai tanda kalau gua sudah bangun.
“Mamah mau ke luar dulu ya…” Serunya dari balik pintu.
Gua menyibak selimut, lalu bangkit. “Mau ke mana?” Seru gua seraya membuka pintu kamar.
Nyokap yang sudah bersiap melangkah pergi, berbalik; “Ke kontrakan sebentar…”
“Oh, tumben nggak ngajak aku…”
“Ah, kalo ngajak kamu jalannya jauh, muter lewat sana…” Jawabnya sambil menunjuk ke arah asal. “… Lewat jalan yang nggak ada soang-nya” Ia menambahkan.
Iya sejak dulu gua memang punya ketakutan yang besar terhadap hewan laknat itu. Hewan yang seakan bisa menangkap rasa takut, lalu menyerang secara tiba-tiba tanpa alasan.
“Mau ngapain emangnya?”
“Biasa, nagih sama sekalian ngecek. Katanya kemarin pas ujan ada yang bocor…” Jawab Nyokap lantas pergi.
Sementara, gua kembali masuk ke dalam kamar dan menjatuhkan diri di atas ranjang.
Nggak berselang lama setelah Nyokap pergi, terdengar samar suara deru mesin mobil yang berhenti tepat di depan rumah. Gua bangkit, duduk di tepian ranjang lantas pasang telinga; mencoba mendengarkan dengan seksama.
‘Ting-Tong’ Suara bel menggema.
Gua turun dari ranjang, menuju ke sisi jendela dan mengintip ke bawah. Terlihat sebuah mobil sedan berwarna putih terparkir tepat di depan rumah. Sementara, pemiliknya nggak nampak. Mungkin karena berdiri di depan, di sudut pagar yang terhalang oleh kanopi.
“Ck, siapa sih…” Gumam gua pelan, merasa sabtu pagi yang nyaman itu mulai terusik. Kemudian beranjak keluar.
Alih-alih langsung keluar, gua justru berdiri diam di balik pintu ruang depan. Lalu kembali mengintip di sisi jendela dari balik tirai. Terlihat seorang perempuan cantik dengan rambutnya yang hitam panjang terikat kebelakang. Dari usianya sepertinya ia bukan teman Nyokap, karena terlalu muda. Tapi, gua juga merasa nggak kenal dengannya. ‘Oh, mungkin salah satu anak buah Nyokap di kantor?’ Batin gua, lantas membuka kunci pintu dan keluar.
“Sebentar…” Seru gua saat suara bel kembali terdengar.
Gua sengaja melambatkan langkah saat menuju ke pagar, sambil mencoba mengingat wajahnya. Sekaligus memberikan kesempatan agar dia menyampaikan maksudnya. Namun, perempuan itu hanya berdiri dalam diam dan mengumbar senyumnya.
“Hai Fira….” Sapanya, sambil tersenyum.
Sementara gua hanya mengernyitkan dahi dan mulai membuka pagar.
“Apa kabar, Fir? Sehat?” Tanyanya.
“Sehat…” Jawab gua masih sambil pasang tampang bingung.
Menyadari kebingungan gua, ia lantas menjulurkan tangannya begitu pagar terbuka. Lalu, kembali bicara; “Kamu pasti lupa. Aku Natalie…”
“Natalie?” Gumam gua pelan. Masih ragu untuk menjabat tangannya.
“Aku dokter yang ngerawat kamu dulu lho…” Tambahnya.
Kerutan di kening langsung menghilang begitu mendengar kalimatnya barusan. Lantas menjawab tangannya; “Oh, hai…”
“Kamu sehat kan?” Tanyanya lagi.
“Sehat kok, Kak eh, Dok…” Jawab gua.
Nggak langsung mempersilakan perempuan ini masuk. Ya walau bagaimanapun gua tetap harus waspada mengingat banyaknya modus kejahatan baru belakangan ini. Jangan-jangan, perempuan yang berdiri di depan gua saat ini adalah bagian dari sindikat kejahatan yang entah bagaimana bisa mencari tau informasi tentang gua.
Ia mungkin sadar akan tatapan gua yang penuh curiga. Lalu beranjak ke mobilnya, kemudian kembali dengan sebuah map plastik transparan berisi banyak lembaran kertas dalam pelukannya.
Perempuan yang mengaku bernama Natalie itu kemudian membuka map yang dibawanya, lantas mengeluarkan beberapa lembar dokumen. Ia mengambil satu lembar dan menyerahkannya ke gua.
Ya gua tentu nggak mengerti dengan grafik-grafik yang berada di atas lembaran kertas yang kini berada di tangan gua. Yang bisa gua baca hanya informasi tentang data diri gua yang berada pada bagian atas lembaran. Melihat nama gua tercantum pada lembaran kertas yang sepertinya adalah hasil sebuah tes laboratorium, kecurigaan gua perlahan mulai memudar.
Ditambah, ia mengeluarkan kartu nama beserta tanda pengenal dokter miliknya. Sebagai bukti kalau ia benar-benar seorang dokter. Bikin rasa curiga gua semakin hilang.
Ragu, gua mempersilakannya masuk dan duduk di kursi teras rumah. Begitu sudah duduk, ia mulai mengeluarkan dan menunjukkan lembaran dokumen-dokumen lain ke gua. Kebanyakan isinya copy rekam medis, resep hingga surat pengantar dari rumah sakit sebelumnya. Sambil membiarkan gua mengecek dokumen-dokumen tersebut, ia mulai bicara; bercerita tentang pertemuan pertama kami sebagai dokter dan pasien.
Gua meletakkan lembaran-lembaran dokumen di atas meja kecil yang memisahkan kami berdua dan mulai mendengarkan ceritanya. Sengaja nggak mau berkomentar terlalu banyak, ingin tau sejauh mana ia mengetahui tentang gua. Dan semua yang ia ceritakan betul-betul klop dengan misteri-misteri yang selama ini coba gua cari.
Akhirnya ada secercah harapan. Perlahan, gua menggeser kursi mendekatinya. Ada begitu banyak pertanyaan yang akhirnya ingin gua ajukan. Dari mulai waktu dan kronologi yang tepat tentang kronologi gua pingsan dan kejang. Terapi obat yang ia berikan hingga proses operasi yang gua jalani. Semuanya terasa tepat.
Akan tetapi, masih ada yang mengganjal di dalam hati; Alasan kenapa ia datang dan menceritakan ini semua.
“Kenapa Dokter tiba-tiba bercerita?” Tanya gua.
“…” Ia nggak menjawab.
“Terus kenapa baru cerita sekarang?” Tanya gua lagi.
Alih-alih langsung menjawab, ia justru tersenyum dan menatap gua hangat. “Lebih baik terlambat kan daripada nggak sama sekali?”
Gua mengangguk pelan; “…”
Dokter Natalie, meraih tangan gua. Terasa jemarinya yang lembut dan halus menyentuh punggung tangan. Sentuhan yang terasa asing, tapi entah kenapa menenangkan.
“Ada lagi yang mau kamu cari tau?” Tanyanya pelan.
Gua kembali mengangguk, lantas menceritakan tentang sekelebat ingatan yang tiba-tiba muncul beserta barang dan memen yang memicunya. Dokter Natalie kemudian menjelaskan penyebab terjadinya hal itu. Tentu dengan bahasa ilmiah khas kedokteran yang terkadang sulit gua pahami.
“Dulu, kamu pernah punya pacar yang namanya Anes…” Ucapnya.
“Iya aku udah tau, dia yang bikin kepala aku begini kan?” Balas gua seraya meraba bekas luka di bagian belakang kepala.
“Nah, mostly ingatan-ingatan kamu yang hilang itu tentang dirinya…” Ia menghela napasnya sebentar kemudian melanjutkan bicaranya; “… that’s why, Mamah kamu nggak pernah mau bercerita banyak tentang ini. Dia takut, takut sosoknya kembali. Takut malah kamu trauma…”
Gua terdiam begitu mendengar penjelasannya barusan. Tangan gua mencengkeram ujung kaos yang gua kenakan. Jadi, selama ini Nyokap memang sengaja menyembunyikan hal itu agar gua nggak trauma. Agar gua nggak kembali ingat tentang hal menyakitkan.
Namun, nggak memahaminya bukan berarti gua nggak mengerti sama sekali. Gua nggak perlu paham. Gua nggak perlu mengerti. Gua hanya ingin tau hal-hal yang mengisi rasa kosong yang kerap muncul di kepala.
“Iya…” jawabnya sambil mengangguk pelan.
“…”
“… maaf ya, fir. Aku baru bisa datang sekarang. Like i’ve said before; lebih baik terlambat daripada nggak sama sekali. Ya kan?” Ia menambahkan.
“Iya…”
“Kamu mau foto ini? soalnya aku nggak bisa kasih semua ke kamu” Ucapnya sambil menunjuk ke arah lembaran-lembaran dokumen di atas meja kecil.
“Oh, boleh-boleh…” Jawab gua. Lalu meraih ponsel dan mulai mengambil foto satu perasatu lembaran dokumen di atas meja.
“Ok, ada yang mau kamu tanyain lagi nggak?” Tanyanya sebelum pergi.
Gua terdiam sebentar, lalu teringat tentang nama rumah sakit dan dokter yang tertulis di post-it pemberian Dokter Eko.
“Ada dok, Dokter kenal nggak sama.. Mmm.. Dokter.. Siapa ya namanya…” Gua menatap ke atas, mencoba mengingat. “… Oh, Dokter Ricky Saputra?” Seru gua, ketika berhasil mengingat.
Dokter Natalie mengangguk pelan sambil tersenyum; “Kenal dong…”
“Dokter Eko, dokter aku sekarang, ngasih saran untuk nanya ke beliau…” Gua menjelaskan.
“Ya, kalau kamu nanya ke dia, ke Dokter Ricky, kamu bakal dapet penjelasan yang sama dengan yang barusan aku jelasin…” Jawabnya santai.
“Oh gitu…” Respon gua, lega. Merasa saat ini gua nggak perlu lagi bersusah payah mencari tau tentang ingatan gua yang hilang.
Setelah Dokter Natalie pergi, gua kembali ke kamar. Duduk di kursi meja belajar, membuka laci paling bawah dan mengeluarkan kardus berisi barang-barang yang sebelumnya menjadi modal dan petunjuk mencari ingatan gua yang hilang. Gua menutup kardus tersebut dan membawanya keluar dari kamar, turun ke bawah hingga ke gudang di bagian belakang rumah.
Gua meletakkan kardus kecil yang kini sudah tertutup rapat di atas rak tempat barang-barang yang sudah nggak terpakai. Meninggalkannya di dalam ruang gelap yang pengap. Seiring dengan gua menutup pintu gudang, hilang sudah rasa ingin tau gua yang selama ini membuncah.
Kini semuanya terasa terang benderang. Alasan Nyokap menyembunyikan semuanya, alasan the lontongers yang keukeuh enggan bercerita, semua mereka lakukan demi gua.
Lantas kenapa gua malah bergeming?
Sekarang gua sadar kalau memang nggak ada lagi yang perlu diingat atau dicari. Gua akan sebisa mungkin bertahan dari rasa nggak nyaman di kepala. Walau gua nggak melakukannya untuk diri sendiri, setidaknya gua berusaha bertahan demi Nyokap dan sahabat-sahabat gua.
Baru saja gua keluar dari gudang terdengar suara pagar terbuka. Gua langsung berlari, tau siapa yang datang.
Tanpa banyak bicara, gua menghambur, dan langsung memeluk Nyokap yang baru saja pulang.
“Eh, kenapa?” Tanyanya, kaget karena tiba-tiba mendapat pelukan.
Gua yang sudah bercucuran air mata lantas mendongak dan menatapnya; “Maafin Fira ya, Mah…” pinta gua lirih dan terbata-bata.
Nyokap nggak lagi bertanya alasannya. Ia hanya tersenyum dan mendekap gua manja. “Iya sayang… Maafin Mamah juga ya…”
—
Nggak cuma ke Nyokap, gua juga meminta maaf ke The Lontongers atas sikap sebelumnya yang meragukan sikap mereka.
Gua mulai menjalani hidup yang berbeda. Nggak, nggak, bukan, gua berusaha menjalani hidup seperti sebelumnya, seperti saat sebelum gua mengenal Anes, sebelum gua di diagnosa epilepsi. Nggak ada lagi niatan untuk mencari tau tentang ingatan gua yang hilang, nggak ada lagi tempat untuk rasa penasaran.
Hari-hari berikutnya gua lalui hampir tanpa kendala. Kecuali tentang sekelebat ingatan yang muncul bagai mimpi. Sesuatu yang terus gua abaikan, merasa itu sudah nggak penting lagi. Yang paling penting sekarang adalah hidup selanjutnya.
Hidup terus berlanjut, seperti yang sudah bisa ditebak; Gua nggak berhasil lulus ujian masuk perguruan tinggi negeri. Nggak ada yang kaget saat mendengar gua gagal lulus ujian, bahkan Nyokap, The Lontongers juga Denis.
“Ya kapasitas otak gue emang cuma segini…” Gua menggumam pelan saat melihat hasil ujian yang jelek.
Nggak berhasil masuk perguruan tinggi negeri, gua lantas memilih jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu kampus swasta di daerah Tangerang. Sengaja memilih jurusan itu agar bisa menghindari pelajaran-pelajaran yang menggunakan banyak rumus dan hitung-hitungan rumit. Sementara, Fidel berhasil lolos ujian masuk perguruan tinggi negeri di Jakarta. Dan Gaby, yang kapasitas otaknya mirip sama gua, pergi berkuliah di luar negeri, Korea. Begitu juga dengan Liv yang memilih fakultas hukum di US.
The Lontongers sudah nggak utuh lagi, kami bukan lagi sekumpulan remaja SMA yang setiap hari ngumpul tanpa peduli waktu. Jarak dan waktu mulai memisahkan kami. Komunikasi kami berempat kini lebih sering melalui group chat yang sesekali diselingi dengan panggilan video conference. Tentu saja sambil menonton serial drama korea bersama-sama.
“Fir.. Fira…” Sayup terdengar suara Nyokap memanggil dari lantai bawah. Gua melepas earbuds dan pasang telinga.
“Fira…” Kembali terdengar panggilan Nyokap.
“Gaes, bentar yak… Gue dipanggil Nyokap” Gua bicara menghadap ke layar laptop, ke Gaby, Liv dan Fidel yang berada di aplikasi panggilan video. Kemudian bergegas ke luar dari kamar, turun ke bawah.
“Kenapa Mah?” Tanya gua sambil menuruni anak tangga menuju ke bawah. Terlihat Nyokap tengah duduk di kursi meja makan menghadap ke lembaran kertas. Sementara, jemari tangannya sibuk menari di atas tuts kalkulator.
“Tolongin Mamah, Fir..” Jawabnya tanpa memalingkan pandangannya.
“Ngapain?”
“Ke kontrakan gih? Anterin ini ke Bu Lilik…” Ucapnya sambil menyodorkan sebuah amplop putih ke arah gua. Nyokap memang memiliki beberapa unit rumah kontrakan yang lokasinya berada di perkampungan tepat di belakang komplek.
“Apaan?” Tanya gua seraya meraih amplop putih yang belum tersegel. Di dalamnya nampak gepokan uang pecahan 100 ribuan. “… Duit?” Tanya gua.
“Iya… Mamah titip buat bayar tukang” Jawabnya.
“Bayar tukang? Emang kenapa, ada yang bocor lagi?”
“Nggak, ganti halaman depan jadi konblok. Soalnya udah pada ancur peluran yang di depan. Jadi berdebu kalo musim panas…” Nyokap memberi penjelasan.
“Ooh… Emang kenapa nggak transfer aja sih, Mah. Jaman sekarang masih pake cash aja…”
“Ya Mamah juga maunya begitu, tapi itu mandornya sengaja minta cash. Buat gajian tukang katanya…” Jawabnya.
“Sekarang?” Tanya gua lagi.
“Iya, sekarang…”
Gua bergegas kembali ke kamar, pamit ke The Lontongers yang masih stand-by di panggilan video, lalu menyambar jaket dan memakainya.
“Eh, mau kemana?” Tanya Nyokap saat melihat gua sudah bersiap keluar dan mengambil kunci mobil di atas meja.
“Lah.. katanya suru nganterin ini” Jawab gua sambil menunjukkan amplop putih berisi uang.
“Naik mobil?” Tanyanya.
“Iya… Daripada lewat belakang ntar ada soang” Keluh gua.
“Oh, Yaudah…”
Butuh waktu cukup lama untuk gua tiba di lokasi kontrakan, karena harus memutar lewat jalan utama karena menghindari gerombolan Soang yang gua yakini masih berada di jalan belakang. Setelah 15 menit, akhirnya gua tiba di depan sebuah komplek bangunan dengan pagar di bagian depan. Pagar yang melindungi delapan unit rumah kontrakan dengan sebuah halaman besar ditengahnya.
Di bagian halaman terlihat beberapa orang sibuk dengan pekerjaan tukang sementara Bu Lilik, penghuni salah satu kontrakan paling lama duduk di teras rumah. Ia langsung berdiri dan menyambut gua dengan senyuman.
“Eh… Si Eneng…” Sambutnya.
“Hai Bu, apa kabar?”
“Baik… Tumben, Neng?”
“Iya nih bu, di suru nganter uang sama Mamah” Jawab gua sambil mengambil amplop dari saku jaket dan menyerahkannya ke Bu Lilik.
“Oh, makasih ya neng. Sini duduk dulu, mau ngeteh?”
“Eh, nggak usah bu, terima kasih…” Jawab gua seraya menatap ke arah halaman yang tengah dalam proses pengerjaan. Mata gua lalu tertuju ke salah satu kontrakan yang berada di ujung deretan. Tanpa perintah, gua melangkah, mendekat ke arah kontrakan tersebut. Sementara Bu Lilik mengikuti dari belakang.
“Sekarang ada yang ngisi neng…” Ia memberi info.
“Oh…”
“Dulu si Eneng kenal kan sama yang ngontrak…” Ia kembali bicara, memberi informasi lain.
Gua berpaling dan menatap ke arah Bu Likik yang masih berdiri di belakang gua.
“Aku? Kenal?” Tanya gua, merasa nggak pernah sekalipun mengenal orang yang mengontrak di sini. Ya kecuali Bu Lilik yang sudah sejak lama tinggal di sini.
“Iya, dulu kan neng Fira sering ke sini” Jawabnya sambil tersipu. Ia bahkan sampai menutupi tawanya dengan tangan.
Gua mengernyitkan dahi dan menatapnya bingung; “Aku? Sering ke sini?”
Masih dengan gaya yang tersipu, Bu Lilik lantas menyenggol lengan gua dan tersenyum. Kemudian bicara; “Ih eneng mah suka pura-pura lupa”
“…”
“… Dulu kan Neng Fira yang pesen kalau jangan cerita-cerita ke Mamah” Tambahnya.
“…” Gua terdiam, nggak bicara. Lalu berusaha menghilangkan ekspresi bingung di wajah. Dan membiarkan Bu Lilik terus bercerita.
“Oh iya, ya…” Gua berseru, berlagak ingat. Lantas kembali bicara; “… Bu Lilik inget nggak siapa nama orangnya?”
Bu Lilik, mendongak ke atas sambil memajukan bibirnya, tengah berusaha mengingat. Lalu, menggumam pelan; “Siapa ya namanya; Lian atau Liam gitu…”
“Hah?” Gua meraih ponsel dan mulai mencatatnya.
—
Taylor Swift - Blank Space
Diubah oleh robotpintar 07-04-2025 10:20
njek.leh dan 43 lainnya memberi reputasi
44
Kutip
Balas
Tutup