- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
superber dan 147 lainnya memberi reputasi
148
210.2K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#455
004-K Left Unread
Spoiler for 004-K Left Unread:
“Karena jika Fira benar-benar tak mengingat gua lagi, apakah keberadaan gua di masa lalu Fira masih berarti?”
Kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepala. Jika terus memaksa untuk melanjutkan, gua takut malah menghancurkan kehidupannya yang sekarang. Hidupnya yang sudah penuh tawa.
Sepertinya, gua memang harus benar-benar menyerah.
Bertemu dengannya lagi akan menggoyahkan pendirian gua.
—
Air dalam botol air mineral di cup holder kursi, bergoyang pelan mengikuti gerakan gerbong yang naik turun berirama.
Sesekali, gua mengalihkan pandangan dari buku yang tengah gua baca. Ke arah Sawah-sawah yang menguning yang terus berlari ke belakang. Seperti kenangan yang mencoba gua kejar, tapi semakin jauh, semakin kabur. Pemandangan dari jendela gerbong kereta berganti dengan deretan perumahan, hutan-hutan yang rimbun, lalu kembali menampilkan sawah yang sepertinya nggak berujung.
Beberapa jam berikutnya, gua sudah tiba di Solo. Kota yang jarang gua sambangi, pun di sini, di kota ini tinggal satu-satunya orang yang paling gua sayangi. Berbeda dengan di London apalagi Jakarta, tempat di mana segalanya bergerak begitu cepat, seakan nggak menyisakan sedikit pun ruang untuk bernapas. Di sini, di Solo, terasa jauh berbeda. Semua terasa teratur dan tenang. Nggak banyak orang yang bergegas, nggak banyak orang yang grasak-grusuk seperti mengejar sesuatu.
Dari stasiun Solo Balapan, Gua berjalan sedikit keluar dari stasiun menuju ke sisi jalan. Di seberang sana, terlihat taksi yang menunggu. Gua mencocokkan nomor body dengan taksi yang sudah gua pesan saat masih di dalam kereta.
Gua masuk ke dalam taksi dan mengkonfirmasi lokasi antar.
“Boleh buka kacanya aja mas, saya mau merokok…”Pinta gua.
“Nggih, Mas… AC nya?”
“Matiin aja…” Jawab gua lantas menyulut sebatang rokok.
Sekitar 45 menit kemudian, gua tiba di depan sebuah bangunan besar yang berdiri megah dengan pagar tinggi dari besi. Pagar yang selalu dalam posisi terbuka, menandakan kalau tempat ini menerima siapapun. Sementara, plang besi berwarna putih menjulang dengan tulisan nama yayasan.
“Mas, kok nggak ngomong mau ke sini sih? Kan bisa tak jemput” seorang pria dengan polo shirt berlogo yayasan menyambut gua sambil membuka pagar.
“Nggak usah, gapapa…” jawab gua singkat, lalu memasuki halaman luas dengan gedung 3 lantai berbentuk huruf U mengelilingi halaman, seakan memberikan perlindungan dari teriknya matahari.
Di ujung sana, seorang perempuan dengan rambut yang hampir seluruhnya memutih terlihat tersenyum sambil melambaikan tangan. Gua mempercepat langkah menuju ke arahnya, lalu memberikan pelukan. Ia membalas pelukan; erat, sangat erat.
Setelah puas berpelukan, ia mendongak, menatap ke arah gua sambil tersenyum. Tangannya ia arahkan ke kepala, mulai membetulkan helaian rambut gua yang berantakan.
Masih sambil tersenyum, ia menggerakkan tangan dan jari jemarinya, membentuk sebuah kalimat; ‘Kamu Sehat kan?’
Gua ikut menggerakkan tangan, memberi isyarat yang bunyinya; ‘Sehat. Ibu?’
Ia mengangguk dan mengangkat kedua tangan dan membuat siku; ‘Sehat’
Dia terdiam sejenak sebelum tangannya mulai kembali bergerak. Matanya melebar, bibirnya sedikit terbuka, seolah mencoba mengucapkan kata yang tak bisa terdengar. ‘Ibu rindu,’ katanya dalam bahasa isyarat, ekspresinya campuran antara senang dan haru.
‘Aku juga, maaf ya baru datang lagi’ Balas gua dengan gerakan isyarat lain.
Ibu lantas meraih tangan gua dan menggandengnya masuk ke dalam gedung. Ia membawa gua menyusuri koridor gedung menuju ke bagian belakang. Di area ini, di bagian belakang gedung terdapat halaman lain yang nggak kalah luas ketimbang yang berada di bagian depan. Namun bedanya, di halaman belakang ini nggak digunakan sebagai sarana olahraga, melainkan dipenuhi dengan berbagai tumbuhan. Tumbuhan yang kebanyakan terdiri dari tanaman obat dan sayuran.
Ia terus membawa gua melangkah di atas jalan berbatu membelah halaman, hingga menuju ke deretan bangunan lain. Bangunan kecil yang mengelilingi bangunan utama di bagian belakang.
Di bangunan utama itulah Ibu selama ini tinggal sebagai pimpinan yayasan. Yayasan khusus tuna rungu dan wicara yang sudah puluhan tahun dikelolanya.
Gua duduk di atas kursi kayu di beranda rumah yang nyaman, asri dan tenang. Sementara, Ibu lantas mengambil tas ransel dari bahu gua dan membawanya masuk ke dalam. Lalu kembali ke depan dengan membawa sebotol air mineral.
‘Sudah makan belum?’ tanyanya melalui gerakan tangan yang diarahkan ke mulut.
Gua menggeleng pelan.
‘Mau makan apa?’ tanyanya lagi.
‘Apa aja’ jawab gua.
‘Mandi dulu ya’ pintanya seraya memijat bahu gua lembut.
Selesai mandi dan bersih bersih, gua keluar dari kamar dan menuju ke dapur. Suara dentingan alat masak terdengar riuh. Sambil berjalan gua menatap ke arah dinding ruang tamu yang dipenuhi dengan deretan frame berisi foto-foto. Foto yang kebanyakan adalah dokumentasi acara yang diadakan atau diikuti oleh yayasan. Semakin ke dalam, ke arah ruang makan, frame berisi foto semakin sedikit. Dan isinya juga jauh berubah. Kini hampir seluruh frame-frame di ruang keluarga berisi foto-foto gua. Dari bayi, hingga beberapa foto wisuda dan gua yang tengah berpose dengan menggunakan jas dokter berwarna putih.
Ibu kembali dari dapur sambil membawa mangkuk besar berisi oseng tempe dan kacang panjang favorit gua dan meletakkannya di atas meja makan. Ia lalu berdiri di sebelah gua, ikut memandang ke arah frame-frame foto di dinding. Dengan lembut, ia mengenggol lengan gua dan mulai menggerakkan tangannya, memberi isyarat; ‘Tinggal foto nikah kamu yang belum ada?’
Gua nggak mersepon hanya tersenyum dan memberinya rangkulan. ‘Entah apa mungkin bakal ada foto pernikahan gua di sana nanti’ Gua membatin.
‘Makan dulu sana’ ucap Ibu dengan bahasa isyarat dan menunjuk ke atas meja makan.
Gua duduk di salah satu kursi, sementara Ibu dengan cekatan menyiapkan piring, menyendok nasi dan meletakkannya di depan gua.
‘Mau tambah telur?’ tanyanya.
Gua menggeleng pelan.
‘Ibu nggak ikut makan?’ gua balik bertanya.
‘Nggak, ibu baru selesai makan’ jawabnya dengan bahasa isyarat.
Saat gua baru saja hendak menyendok makanan ke dalam mulut, Ibu dengan cepat mencegahnya. Lalu kembali bicara; ‘baca doa dulu’
Gua mengangguk dan mulai berdoa, lalu lanjut makan.
Sementara, gua makan, menikmati nasi panas dengan oseng tempe dan kacang panjang. Menu yang entah sudah berapa tahun nggak pernah gua rasakan. Menu makanan sederhana yang buat gua rasanya lebih enak ketimbang Foie gras atau Sesame grilled salmon. Ibu terus memandangi gua seraya menopang dagunya dengan tangan dan senyum yang masih terus terpasang.
‘Mau cerita sambil makan atau nanti saja?’ tanyanya. Ia memang hebat. Ia bisa tau kalau gua sedang ingin bercerita.
“Nanti saja…” Gua menjawab lirih, sambil memperjelas intonasi agar ia bisa membaca gerak bibir gua.
Ibu memberi kode dengan jari; ‘Ok!’
Selesai makan, gua duduk di kursi di teras rumah, menikmati sebatang rokok sambil memandangi rimbunnya pohon dan tanaman-tanaman yang berada di sini. Rimbun, tenang dan angin yang bertiup manja; bikin rasanya jadi mengantuk.
Saat tengah asik memandangi pepohonan di halaman, Mas Didi, pria yang tadi menyambut gua di gerbang depan menghampiri. “Ibu mana, Mas?” Tanyanya seraya berdiri di depan teras. Wajahnya nya nampak panik sementara napasnya tersengal.
“Ada di dalem, kenapa Mas Didi?” Tanya gua.
“Mmm anu… ada yang anu…” Ia bicara terbata-bata.
Nggak lama Ibu keluar dari dalam sambil membawa gelas berisi kopi hitam. Ia menyerahkan gelas kopi ke gua lantas berpaling ke Mas Didi.
‘Kenapa?’ tanyanya ke Mas Didi dengan bahasa isyarat.
‘Ada yang kesurupan’ jawab Mas Didi juga dengan bahasa isyarat. Sesekali ia melirik ke arah gua, seakan nggak mau gua tau akan hal ini.
Tapi, yang namanya bahasa isyarat tentu sulit disembunyikan. Nggak bisa digunakan dengan berbisik.
Gua tertawa, lalu menyeruput kopi dan meletakkanya di atas meja. “Mana coba, Mas Didi…” Ucap gua seraya memakai sendal dan bersiap pergi.
“Eee, tapi mas…” balasnya, ragu. Tapi, ia tetap melangkah, menunjukkan jalan untuk gua. Sementara, Ibu mengikuti dari belakang. Nggak mau ia tertinggal, gua melambatkan langkah, meraih dan menggenggam tangannya.
Di koridor asrama pria, terlihat beberapa anak yang berdiri, berkumpul di depan kamar. Ibu yang panik, melepas genggaman tangannya dan berlari. Menyusul dan melewati Mas Didi yang berjalan di depan, menuju ke kerumunan.
Walaupun berkerumun, tapi sama sekali nggak terdengar keributan. Ya maklum, para penghuni asrama ini adalah tuna rungu-tuna wicara. Jadi, kehebohan mereka nggak sebising kita yang merasa normal.
Di dalam kamar terlihat seorang remaja tengah berpose layaknya serigala. Nggak hanya posenya, ekspresi wajahnya dan tingkahnya pun mirip. Hanya saja ia nggak bisa melolong; ya maklum namanya tuna wicara. Ibu yang panik lantas menarik lengan Mas Didi dan menunjuk ke arah remaja yang kerasukan itu. Mas Didi yang nggak punya kemampuan spiritual tentu langsung menolak sambil menyilangkan tangannya; memberi tanda.
Ibu lantas mendongak ke arah gua, tapi ia nggak melakukan apa-apa. Hanya menatap gua datar. Iya, mereka berdua memang sudah tau kalau gua nggak percaya dengan hal-hal seperti ini. Jadi, nggak berharap gua bisa banyak membantu. ‘Panggil ustad tono’ Ibu ‘bicara’ ke Mas Didi dengan bahasa isyarat. Yang lantas direspon oleh Mas Didi dengan anggukan kepala dan bergegas pergi.
Sementara, gua mencoba masuk ke dalam kamar, sedikit membungkuk dan menempelkan punggung tangan ke dahinya.
“Nggak demam…” Gumam gua pelan.
Gua berdiri, keluar dari kamar dan menutup serta mengunci pintu kamarnya.
‘Udah pada bubar aja, masuk ke kamar’ gua bicara dengan bahasa isyarat ke anak-anak yang lain, yang berkerumun.
‘Nggak bahaya, sendirian di dalam?’ tanya ibu, sambil pasang tampang khawatir dan menunjuk ke arah pintu kamar.
Gua tersenyum dan menggelengkan kepala.
Kami menunggu di luar kamar. Sambil menunggu gua mencoba bertanya ke ibu tentang latar belakang remaja pria bernama Soleh yang ‘kesurupan’ di dalam kamar. Dengan bahasa isyarat, ibu mulai menjelaskan kalau Soleh datang dari Dinas Sosial karena mendapat tindak kekerasan dari Paman dan bibinya. Sementara, kedua orang tuanya sudah meninggal sejak ia kecil.
‘Pernah periksa ke dokter?’ tanya gua ke ibu.
‘Pernah. Kan kamu yang sarankan untuk cek kesehatan setahun sekali’ Jawab ibu sambil menggerakkan tangannya; lincah.
Gua mengangguk pelan.
Cukup lama kami menunggu, hingga akhirnya Mas Didi datang kembali bersama seorang pria berpenampilan religius yang mendekat sambil tergopoh-gopoh.
“Ini Ustad Tono…” gumam Mas Didi seraya menunjuk ke arah Ustad Tono.
Pria bernama ustad Tono itu, mengangguk sebentar. Lalu bertanya; “Mana yang kesurupan?”
Ibu menunjuk ke arah pintu kamar.
“Lho ealah, kenapa malah ditinggal sendirian..” Keluh ustad Tono, seraya berusaha membuka pintu.
Gua tersenyum lantas meresponnya. “Nggak perlu mas. Udah sadar dia itu di dalam…”
Dengan bantuan Mas Didi, Ustad Tono lantas membuka pintu kamar yang sengaja gua kunci dari luar dan mendapati Soleh yang tadi kesurupan dan berubah jadi serigala kini terlihat tengah duduk sambil menenggak air dalam botol air mineral.
Gua menyusul Mas Didi dan Ustad Tono masuk ke dalam, duduk di sebelah Soleh yang kini terlihat mencoba mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Dengan menggunakan bahasa isyarat, gua mencoba bicara kepadanya; ‘Udah? capek nggak?’
Soleh mengangguk pelan. Gua meraih ponsel dari saku celana, menyalakan senter dan mengarahkannya ke mata si Soleh seraya mencoba menahan kelopaknya. Dari pemeriksaan, nggak ada yang aneh dengan pupil matanya. Iya, pupil mata merupakan salah satu cara paling sederhana untuk memeriksa adakah kondisi ‘berbeda’ di dalam otak. Jika, di otak terdapat suatu kondisi maka biasanya pupil mata akan membesar nggak normal saat menerima respon cahaya. Tentu saja, hal itu merupakan pemeriksaan tahap awal, dan nggak bisa dipakai untuk membuat diagnosa.
Gua menoleh, menatap sekeliling, mencoba mencari kertas atau apapun yang bisa digunakan untuk menulis. Di atas meja belajar, gua meraih lembaran kertas dan pensil, kemudian menulis sesuatu dan menyerahkannya ke Mas Didi.
“Mas, minta tolong beli ini, ya… Tapi jangan di apotik. Di toko obat biasa aja..” Ucap gua, lalu mengeluarkan dompet dan menyerahkan beberapa kembar uang kepadanya.
“Eee… Tapi, Mas” Mas Didi nampak ragu, sesekali ia melirik ke arah Ustad Tono.
Gua berpaling ke Ustad Tono, mengeluarkan beberapa lembar uang lain dan meletakkan dalam genggamannya; “Ini buat beli bensin, mas… Sekarang pulang aja”
“Lho, ra iso mas. Ini harus di bersihin. Bisa aja setan itu masih ada di sini” Respon Ustda Tono.
Gua menggeleng pelan. “Nggak Mas. Setan nggak ada… Udah pulang aja..” Jawab gua.
Dengan penuh keraguan, Ustad Tono lalu pergi. Di susul Mas Didi yang bersiap membeli resep dari gua ke toko obat. Sengaja menghindari apotik, karena obat tersebut butuh resep untuk membelinya.
Nggak lama Mas Didi kembali dengan membawa obat pesanan gua. “Ini nanti di kasih aja separo ya, Mas” Ucap gua ke Mas Didi, memberi instruksi minum obat buat Soleh.
“Oh, Ok Mas…” Jawab Mas Didi. Di wajahnya nampak keraguan, keraguan yang di alamatkan ke Ibu. Gua berpaling ke Ibu dan menjelaskan tentang obat tersebut dan fungsinya. Ibu lantas mengangguk, dan memberi ijin ke Mas Didi.
‘Emang hal kayak gitu bisa sembuh?’ tanya Ibu dengan bahasa isyarat saat kami sudah kembali berada di beranda rumah.
Kami berdua duduk sambil menikmati secangkir kopi dan teh.
‘Kayak gitu? maksudnya?’ gua balik bertanya.
‘Kesurupan. Bisa sembuh dengan obat?’ tanyanya lagi.
Gua tersenyum, lantas menggenggam tangannya sambil memberi tepukan pelan. Dengan satu tangan, gua menggerakkan jari, membuat isyarat; ‘Kesurupan nggak ada’
Ibu mengernyitkan dahi.
‘Setan nggak ada’ Gua menambahkan.
‘Masa?’
‘Iya. Kalau manusia yang tingkahnya kayak setan, banyak’
Iya, sejak kecil gua nggak percaya dengan apa yang namanya hal mistis. Hantu, setan, iblis, jin, kesurupan, indigo dan hal-hal berbau klenik lainnya. Menurut gua, semua itu nggak ada bukti yang empiris dan nggak memadai.
Hingga saat ini, nggak ada eksperimen terkontrol yang berhasil membuktikan keberadaan hantu atau sejenisnya secara objektif. Mereka nggak terdeteksi sensor panas, gerak, atau bahkan elektromagnetik.
Lalu, bagaimana kalau ada kesaksian orang yang melihat hal gaib?
Dalam dunia medis atau psikologi biasanya disebut dengan ‘Bias Konfirmasi’. Orang cenderung salah mendeteksi faktor lain seperti suara angin, ilusi optik atau hal ilmiah lainnya sebagai bentuk peremuan dengan hantu. Ceritanya lalu diamini oleh pendengar. Pendengar, menyampaikan ke orang lainnya dengan sedikit tambahan agar lebih dramatis dan begitu seterusnya.
Bahkan nggak sedikit orang yang sengaja berbohong pernah melihat hantu atau hal mistis hanya agar bisa dianggap dalam pergaulan.
‘Kali ini siapa yang menyakiti hatimu, nak?’ tanya ibu setelah menggeser kursi tepat di hadapan gua.
Gua tersenyum dan menggeleng. ‘Nggak ada’
‘Masa?’ Ibu menatap gua lama, seolah mencari kebohongan di wajah. Alisnya berkerut, bibirnya sedikit terbuka seperti hendak menyangkal, tapi di urungkan. Tangannya menggenggam erat cangkir teh di pangkuannya.
Gua menarik napas, lalu tersenyum kecil.
‘Ibu percaya sama aku, kan?’
Ia tak langsung menjawab. Hanya menatap gua dengan sorot yang sulit diartikan.
‘Bu. Ada satu perempuan yang bisa membuatku tersenyum’
Ekspresi wajah ibu berubah. Ia lantas menggeser kursinya lebih dekat.
‘Siapa?’
Gua mengangkat tangan, membuat bentuk huruf abjad; S, A, F, I, R dan A. Kemudian mengeluarkan ponsel, membuka gallery dan menunjukkan puluhan swafoto Fira yang kerap diambilnya dengan ponsel gua, dulu.
Ibu tersenyum, matanya berbinar lalu menggerakkan tangannya, memberi isyarat; ‘Cantik’
Dengan perlahan, gua mulai menjelaskan kronologi kejadian antara gua dan Fira beserta detail-detail lainnya. Sementara, Ibu sesekali mengangguk dan mencerna gerakan isyarat gua yang kadang sulit menemukan gerakan untuk mengganti bahasa yang tepat.
Setelah mendengar cerita gua seutuhnya. Ibu tersenyum dan memberikan pelukan.
‘Masihkah kamu berusaha mengerti dunia, Nak?’ tanyanya lagi.
Gua mengangguk pelan.
‘Berhentilah. Sesekali, biarkan dunia yang mencoba mengerti dirimu’ tambahnya.
Gua tersenyum begitu mendengar ucapan Ibu barusan.
‘Wah, senyum kamu semakin terlatih’
--
Kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepala. Jika terus memaksa untuk melanjutkan, gua takut malah menghancurkan kehidupannya yang sekarang. Hidupnya yang sudah penuh tawa.
Sepertinya, gua memang harus benar-benar menyerah.
Bertemu dengannya lagi akan menggoyahkan pendirian gua.
—
Air dalam botol air mineral di cup holder kursi, bergoyang pelan mengikuti gerakan gerbong yang naik turun berirama.
Sesekali, gua mengalihkan pandangan dari buku yang tengah gua baca. Ke arah Sawah-sawah yang menguning yang terus berlari ke belakang. Seperti kenangan yang mencoba gua kejar, tapi semakin jauh, semakin kabur. Pemandangan dari jendela gerbong kereta berganti dengan deretan perumahan, hutan-hutan yang rimbun, lalu kembali menampilkan sawah yang sepertinya nggak berujung.
Beberapa jam berikutnya, gua sudah tiba di Solo. Kota yang jarang gua sambangi, pun di sini, di kota ini tinggal satu-satunya orang yang paling gua sayangi. Berbeda dengan di London apalagi Jakarta, tempat di mana segalanya bergerak begitu cepat, seakan nggak menyisakan sedikit pun ruang untuk bernapas. Di sini, di Solo, terasa jauh berbeda. Semua terasa teratur dan tenang. Nggak banyak orang yang bergegas, nggak banyak orang yang grasak-grusuk seperti mengejar sesuatu.
Dari stasiun Solo Balapan, Gua berjalan sedikit keluar dari stasiun menuju ke sisi jalan. Di seberang sana, terlihat taksi yang menunggu. Gua mencocokkan nomor body dengan taksi yang sudah gua pesan saat masih di dalam kereta.
Gua masuk ke dalam taksi dan mengkonfirmasi lokasi antar.
“Boleh buka kacanya aja mas, saya mau merokok…”Pinta gua.
“Nggih, Mas… AC nya?”
“Matiin aja…” Jawab gua lantas menyulut sebatang rokok.
Sekitar 45 menit kemudian, gua tiba di depan sebuah bangunan besar yang berdiri megah dengan pagar tinggi dari besi. Pagar yang selalu dalam posisi terbuka, menandakan kalau tempat ini menerima siapapun. Sementara, plang besi berwarna putih menjulang dengan tulisan nama yayasan.
“Mas, kok nggak ngomong mau ke sini sih? Kan bisa tak jemput” seorang pria dengan polo shirt berlogo yayasan menyambut gua sambil membuka pagar.
“Nggak usah, gapapa…” jawab gua singkat, lalu memasuki halaman luas dengan gedung 3 lantai berbentuk huruf U mengelilingi halaman, seakan memberikan perlindungan dari teriknya matahari.
Di ujung sana, seorang perempuan dengan rambut yang hampir seluruhnya memutih terlihat tersenyum sambil melambaikan tangan. Gua mempercepat langkah menuju ke arahnya, lalu memberikan pelukan. Ia membalas pelukan; erat, sangat erat.
Setelah puas berpelukan, ia mendongak, menatap ke arah gua sambil tersenyum. Tangannya ia arahkan ke kepala, mulai membetulkan helaian rambut gua yang berantakan.
Masih sambil tersenyum, ia menggerakkan tangan dan jari jemarinya, membentuk sebuah kalimat; ‘Kamu Sehat kan?’
Gua ikut menggerakkan tangan, memberi isyarat yang bunyinya; ‘Sehat. Ibu?’
Ia mengangguk dan mengangkat kedua tangan dan membuat siku; ‘Sehat’
Dia terdiam sejenak sebelum tangannya mulai kembali bergerak. Matanya melebar, bibirnya sedikit terbuka, seolah mencoba mengucapkan kata yang tak bisa terdengar. ‘Ibu rindu,’ katanya dalam bahasa isyarat, ekspresinya campuran antara senang dan haru.
‘Aku juga, maaf ya baru datang lagi’ Balas gua dengan gerakan isyarat lain.
Ibu lantas meraih tangan gua dan menggandengnya masuk ke dalam gedung. Ia membawa gua menyusuri koridor gedung menuju ke bagian belakang. Di area ini, di bagian belakang gedung terdapat halaman lain yang nggak kalah luas ketimbang yang berada di bagian depan. Namun bedanya, di halaman belakang ini nggak digunakan sebagai sarana olahraga, melainkan dipenuhi dengan berbagai tumbuhan. Tumbuhan yang kebanyakan terdiri dari tanaman obat dan sayuran.
Ia terus membawa gua melangkah di atas jalan berbatu membelah halaman, hingga menuju ke deretan bangunan lain. Bangunan kecil yang mengelilingi bangunan utama di bagian belakang.
Di bangunan utama itulah Ibu selama ini tinggal sebagai pimpinan yayasan. Yayasan khusus tuna rungu dan wicara yang sudah puluhan tahun dikelolanya.
Gua duduk di atas kursi kayu di beranda rumah yang nyaman, asri dan tenang. Sementara, Ibu lantas mengambil tas ransel dari bahu gua dan membawanya masuk ke dalam. Lalu kembali ke depan dengan membawa sebotol air mineral.
‘Sudah makan belum?’ tanyanya melalui gerakan tangan yang diarahkan ke mulut.
Gua menggeleng pelan.
‘Mau makan apa?’ tanyanya lagi.
‘Apa aja’ jawab gua.
‘Mandi dulu ya’ pintanya seraya memijat bahu gua lembut.
Selesai mandi dan bersih bersih, gua keluar dari kamar dan menuju ke dapur. Suara dentingan alat masak terdengar riuh. Sambil berjalan gua menatap ke arah dinding ruang tamu yang dipenuhi dengan deretan frame berisi foto-foto. Foto yang kebanyakan adalah dokumentasi acara yang diadakan atau diikuti oleh yayasan. Semakin ke dalam, ke arah ruang makan, frame berisi foto semakin sedikit. Dan isinya juga jauh berubah. Kini hampir seluruh frame-frame di ruang keluarga berisi foto-foto gua. Dari bayi, hingga beberapa foto wisuda dan gua yang tengah berpose dengan menggunakan jas dokter berwarna putih.
Ibu kembali dari dapur sambil membawa mangkuk besar berisi oseng tempe dan kacang panjang favorit gua dan meletakkannya di atas meja makan. Ia lalu berdiri di sebelah gua, ikut memandang ke arah frame-frame foto di dinding. Dengan lembut, ia mengenggol lengan gua dan mulai menggerakkan tangannya, memberi isyarat; ‘Tinggal foto nikah kamu yang belum ada?’
Gua nggak mersepon hanya tersenyum dan memberinya rangkulan. ‘Entah apa mungkin bakal ada foto pernikahan gua di sana nanti’ Gua membatin.
‘Makan dulu sana’ ucap Ibu dengan bahasa isyarat dan menunjuk ke atas meja makan.
Gua duduk di salah satu kursi, sementara Ibu dengan cekatan menyiapkan piring, menyendok nasi dan meletakkannya di depan gua.
‘Mau tambah telur?’ tanyanya.
Gua menggeleng pelan.
‘Ibu nggak ikut makan?’ gua balik bertanya.
‘Nggak, ibu baru selesai makan’ jawabnya dengan bahasa isyarat.
Saat gua baru saja hendak menyendok makanan ke dalam mulut, Ibu dengan cepat mencegahnya. Lalu kembali bicara; ‘baca doa dulu’
Gua mengangguk dan mulai berdoa, lalu lanjut makan.
Sementara, gua makan, menikmati nasi panas dengan oseng tempe dan kacang panjang. Menu yang entah sudah berapa tahun nggak pernah gua rasakan. Menu makanan sederhana yang buat gua rasanya lebih enak ketimbang Foie gras atau Sesame grilled salmon. Ibu terus memandangi gua seraya menopang dagunya dengan tangan dan senyum yang masih terus terpasang.
‘Mau cerita sambil makan atau nanti saja?’ tanyanya. Ia memang hebat. Ia bisa tau kalau gua sedang ingin bercerita.
“Nanti saja…” Gua menjawab lirih, sambil memperjelas intonasi agar ia bisa membaca gerak bibir gua.
Ibu memberi kode dengan jari; ‘Ok!’
Selesai makan, gua duduk di kursi di teras rumah, menikmati sebatang rokok sambil memandangi rimbunnya pohon dan tanaman-tanaman yang berada di sini. Rimbun, tenang dan angin yang bertiup manja; bikin rasanya jadi mengantuk.
Saat tengah asik memandangi pepohonan di halaman, Mas Didi, pria yang tadi menyambut gua di gerbang depan menghampiri. “Ibu mana, Mas?” Tanyanya seraya berdiri di depan teras. Wajahnya nya nampak panik sementara napasnya tersengal.
“Ada di dalem, kenapa Mas Didi?” Tanya gua.
“Mmm anu… ada yang anu…” Ia bicara terbata-bata.
Nggak lama Ibu keluar dari dalam sambil membawa gelas berisi kopi hitam. Ia menyerahkan gelas kopi ke gua lantas berpaling ke Mas Didi.
‘Kenapa?’ tanyanya ke Mas Didi dengan bahasa isyarat.
‘Ada yang kesurupan’ jawab Mas Didi juga dengan bahasa isyarat. Sesekali ia melirik ke arah gua, seakan nggak mau gua tau akan hal ini.
Tapi, yang namanya bahasa isyarat tentu sulit disembunyikan. Nggak bisa digunakan dengan berbisik.
Gua tertawa, lalu menyeruput kopi dan meletakkanya di atas meja. “Mana coba, Mas Didi…” Ucap gua seraya memakai sendal dan bersiap pergi.
“Eee, tapi mas…” balasnya, ragu. Tapi, ia tetap melangkah, menunjukkan jalan untuk gua. Sementara, Ibu mengikuti dari belakang. Nggak mau ia tertinggal, gua melambatkan langkah, meraih dan menggenggam tangannya.
Di koridor asrama pria, terlihat beberapa anak yang berdiri, berkumpul di depan kamar. Ibu yang panik, melepas genggaman tangannya dan berlari. Menyusul dan melewati Mas Didi yang berjalan di depan, menuju ke kerumunan.
Walaupun berkerumun, tapi sama sekali nggak terdengar keributan. Ya maklum, para penghuni asrama ini adalah tuna rungu-tuna wicara. Jadi, kehebohan mereka nggak sebising kita yang merasa normal.
Di dalam kamar terlihat seorang remaja tengah berpose layaknya serigala. Nggak hanya posenya, ekspresi wajahnya dan tingkahnya pun mirip. Hanya saja ia nggak bisa melolong; ya maklum namanya tuna wicara. Ibu yang panik lantas menarik lengan Mas Didi dan menunjuk ke arah remaja yang kerasukan itu. Mas Didi yang nggak punya kemampuan spiritual tentu langsung menolak sambil menyilangkan tangannya; memberi tanda.
Ibu lantas mendongak ke arah gua, tapi ia nggak melakukan apa-apa. Hanya menatap gua datar. Iya, mereka berdua memang sudah tau kalau gua nggak percaya dengan hal-hal seperti ini. Jadi, nggak berharap gua bisa banyak membantu. ‘Panggil ustad tono’ Ibu ‘bicara’ ke Mas Didi dengan bahasa isyarat. Yang lantas direspon oleh Mas Didi dengan anggukan kepala dan bergegas pergi.
Sementara, gua mencoba masuk ke dalam kamar, sedikit membungkuk dan menempelkan punggung tangan ke dahinya.
“Nggak demam…” Gumam gua pelan.
Gua berdiri, keluar dari kamar dan menutup serta mengunci pintu kamarnya.
‘Udah pada bubar aja, masuk ke kamar’ gua bicara dengan bahasa isyarat ke anak-anak yang lain, yang berkerumun.
‘Nggak bahaya, sendirian di dalam?’ tanya ibu, sambil pasang tampang khawatir dan menunjuk ke arah pintu kamar.
Gua tersenyum dan menggelengkan kepala.
Kami menunggu di luar kamar. Sambil menunggu gua mencoba bertanya ke ibu tentang latar belakang remaja pria bernama Soleh yang ‘kesurupan’ di dalam kamar. Dengan bahasa isyarat, ibu mulai menjelaskan kalau Soleh datang dari Dinas Sosial karena mendapat tindak kekerasan dari Paman dan bibinya. Sementara, kedua orang tuanya sudah meninggal sejak ia kecil.
‘Pernah periksa ke dokter?’ tanya gua ke ibu.
‘Pernah. Kan kamu yang sarankan untuk cek kesehatan setahun sekali’ Jawab ibu sambil menggerakkan tangannya; lincah.
Gua mengangguk pelan.
Cukup lama kami menunggu, hingga akhirnya Mas Didi datang kembali bersama seorang pria berpenampilan religius yang mendekat sambil tergopoh-gopoh.
“Ini Ustad Tono…” gumam Mas Didi seraya menunjuk ke arah Ustad Tono.
Pria bernama ustad Tono itu, mengangguk sebentar. Lalu bertanya; “Mana yang kesurupan?”
Ibu menunjuk ke arah pintu kamar.
“Lho ealah, kenapa malah ditinggal sendirian..” Keluh ustad Tono, seraya berusaha membuka pintu.
Gua tersenyum lantas meresponnya. “Nggak perlu mas. Udah sadar dia itu di dalam…”
Dengan bantuan Mas Didi, Ustad Tono lantas membuka pintu kamar yang sengaja gua kunci dari luar dan mendapati Soleh yang tadi kesurupan dan berubah jadi serigala kini terlihat tengah duduk sambil menenggak air dalam botol air mineral.
Gua menyusul Mas Didi dan Ustad Tono masuk ke dalam, duduk di sebelah Soleh yang kini terlihat mencoba mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Dengan menggunakan bahasa isyarat, gua mencoba bicara kepadanya; ‘Udah? capek nggak?’
Soleh mengangguk pelan. Gua meraih ponsel dari saku celana, menyalakan senter dan mengarahkannya ke mata si Soleh seraya mencoba menahan kelopaknya. Dari pemeriksaan, nggak ada yang aneh dengan pupil matanya. Iya, pupil mata merupakan salah satu cara paling sederhana untuk memeriksa adakah kondisi ‘berbeda’ di dalam otak. Jika, di otak terdapat suatu kondisi maka biasanya pupil mata akan membesar nggak normal saat menerima respon cahaya. Tentu saja, hal itu merupakan pemeriksaan tahap awal, dan nggak bisa dipakai untuk membuat diagnosa.
Gua menoleh, menatap sekeliling, mencoba mencari kertas atau apapun yang bisa digunakan untuk menulis. Di atas meja belajar, gua meraih lembaran kertas dan pensil, kemudian menulis sesuatu dan menyerahkannya ke Mas Didi.
“Mas, minta tolong beli ini, ya… Tapi jangan di apotik. Di toko obat biasa aja..” Ucap gua, lalu mengeluarkan dompet dan menyerahkan beberapa kembar uang kepadanya.
“Eee… Tapi, Mas” Mas Didi nampak ragu, sesekali ia melirik ke arah Ustad Tono.
Gua berpaling ke Ustad Tono, mengeluarkan beberapa lembar uang lain dan meletakkan dalam genggamannya; “Ini buat beli bensin, mas… Sekarang pulang aja”
“Lho, ra iso mas. Ini harus di bersihin. Bisa aja setan itu masih ada di sini” Respon Ustda Tono.
Gua menggeleng pelan. “Nggak Mas. Setan nggak ada… Udah pulang aja..” Jawab gua.
Dengan penuh keraguan, Ustad Tono lalu pergi. Di susul Mas Didi yang bersiap membeli resep dari gua ke toko obat. Sengaja menghindari apotik, karena obat tersebut butuh resep untuk membelinya.
Nggak lama Mas Didi kembali dengan membawa obat pesanan gua. “Ini nanti di kasih aja separo ya, Mas” Ucap gua ke Mas Didi, memberi instruksi minum obat buat Soleh.
“Oh, Ok Mas…” Jawab Mas Didi. Di wajahnya nampak keraguan, keraguan yang di alamatkan ke Ibu. Gua berpaling ke Ibu dan menjelaskan tentang obat tersebut dan fungsinya. Ibu lantas mengangguk, dan memberi ijin ke Mas Didi.
‘Emang hal kayak gitu bisa sembuh?’ tanya Ibu dengan bahasa isyarat saat kami sudah kembali berada di beranda rumah.
Kami berdua duduk sambil menikmati secangkir kopi dan teh.
‘Kayak gitu? maksudnya?’ gua balik bertanya.
‘Kesurupan. Bisa sembuh dengan obat?’ tanyanya lagi.
Gua tersenyum, lantas menggenggam tangannya sambil memberi tepukan pelan. Dengan satu tangan, gua menggerakkan jari, membuat isyarat; ‘Kesurupan nggak ada’
Ibu mengernyitkan dahi.
‘Setan nggak ada’ Gua menambahkan.
‘Masa?’
‘Iya. Kalau manusia yang tingkahnya kayak setan, banyak’
Iya, sejak kecil gua nggak percaya dengan apa yang namanya hal mistis. Hantu, setan, iblis, jin, kesurupan, indigo dan hal-hal berbau klenik lainnya. Menurut gua, semua itu nggak ada bukti yang empiris dan nggak memadai.
Hingga saat ini, nggak ada eksperimen terkontrol yang berhasil membuktikan keberadaan hantu atau sejenisnya secara objektif. Mereka nggak terdeteksi sensor panas, gerak, atau bahkan elektromagnetik.
Lalu, bagaimana kalau ada kesaksian orang yang melihat hal gaib?
Dalam dunia medis atau psikologi biasanya disebut dengan ‘Bias Konfirmasi’. Orang cenderung salah mendeteksi faktor lain seperti suara angin, ilusi optik atau hal ilmiah lainnya sebagai bentuk peremuan dengan hantu. Ceritanya lalu diamini oleh pendengar. Pendengar, menyampaikan ke orang lainnya dengan sedikit tambahan agar lebih dramatis dan begitu seterusnya.
Bahkan nggak sedikit orang yang sengaja berbohong pernah melihat hantu atau hal mistis hanya agar bisa dianggap dalam pergaulan.
‘Kali ini siapa yang menyakiti hatimu, nak?’ tanya ibu setelah menggeser kursi tepat di hadapan gua.
Gua tersenyum dan menggeleng. ‘Nggak ada’
‘Masa?’ Ibu menatap gua lama, seolah mencari kebohongan di wajah. Alisnya berkerut, bibirnya sedikit terbuka seperti hendak menyangkal, tapi di urungkan. Tangannya menggenggam erat cangkir teh di pangkuannya.
Gua menarik napas, lalu tersenyum kecil.
‘Ibu percaya sama aku, kan?’
Ia tak langsung menjawab. Hanya menatap gua dengan sorot yang sulit diartikan.
‘Bu. Ada satu perempuan yang bisa membuatku tersenyum’
Ekspresi wajah ibu berubah. Ia lantas menggeser kursinya lebih dekat.
‘Siapa?’
Gua mengangkat tangan, membuat bentuk huruf abjad; S, A, F, I, R dan A. Kemudian mengeluarkan ponsel, membuka gallery dan menunjukkan puluhan swafoto Fira yang kerap diambilnya dengan ponsel gua, dulu.
Ibu tersenyum, matanya berbinar lalu menggerakkan tangannya, memberi isyarat; ‘Cantik’
Dengan perlahan, gua mulai menjelaskan kronologi kejadian antara gua dan Fira beserta detail-detail lainnya. Sementara, Ibu sesekali mengangguk dan mencerna gerakan isyarat gua yang kadang sulit menemukan gerakan untuk mengganti bahasa yang tepat.
Setelah mendengar cerita gua seutuhnya. Ibu tersenyum dan memberikan pelukan.
‘Masihkah kamu berusaha mengerti dunia, Nak?’ tanyanya lagi.
Gua mengangguk pelan.
‘Berhentilah. Sesekali, biarkan dunia yang mencoba mengerti dirimu’ tambahnya.
Gua tersenyum begitu mendengar ucapan Ibu barusan.
‘Wah, senyum kamu semakin terlatih’
--
Dream Theater - Another Day
Live another day
Climb a little higher
Find another reason to stay
Ashes in your hands
Mercy in your eyes
If you're searching for a silent sky
You won't find it here
Look another way
You won't find it here
So die another day
The coldness of his words
The message in his silence
"Face the candle to the wind..."
This distance in my voice
Isn't leaving you a choice
So if you're looking for a time to run away
You won't find it here
Look another way
You won't find it here
So try another day
They took pictures of our dreams
Ran to hide behind the stairs
And said, "Maybe when it's right for you, they'll fall"
But if they don't come down
Resist the need to pull them in and throw them away
Better to save the mystery
Than surrender to the secret
You won't find it here
Look another way
You won't find it here
So try another day
delet3 dan 50 lainnya memberi reputasi
51
Kutip
Balas
Tutup