- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
superber dan 147 lainnya memberi reputasi
148
210.7K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#439
004-J Between the Shadows
Spoiler for 004-J Between the Shadows:
Gua masih berdiri dalam diam sambil menggenggam erat lukisan yang terbalut lembaran koran. Mata ini masih terus memandang ke arah Fira yang kini semakin jauh, lalu hilang di antara padatnya jalan raya. Ada berbagai perasaan yang berkecamuk di dalam dada. Satu perasaan yang sudah pernah gua rasakan dulu sebelum mengenalnya. Perasaan yang begitu menekan, sakit hati karena ditinggalkan.
Anehnya, di satu sisi gua malah merasakan sensasi yang berbeda. Melihatnya tertawa lepas, melihatnya bisa kembali melanjutkan hidup sebagai orang yang ‘normal’. Ada damai yang menenangkan.
Ada sensasi terbakar di dalam hati, seperti ada bara api kecil yang menyelinap di antara tulang rusuk, membakar perlahan-lahan. Rasa yang muncul tiba-tiba saat melihatnya berbahagia dengan orang lain, bukan bersama gua.
Gua berbalik dan melangkah menuju ke minimarket tempat memarkir mobil lalu pergi dari sana. Pulang. Lukisan Elin tergeletak di kursi penumpang, terbungkus koran yang bagian sisinya sedikit robek karena cengkraman gua yang terlalu erat. Gua menyetir perlahan, mengikuti jalan, menuju ke sanggar tempatnya biasa berlatih menari.
Dari dalam mobil, gua hanya duduk sambil menatap ke arah bagian depan bangunan tempat Fira berlatih. Sengaja memilih spot yang paling memungkinkan melihat keluar masuknya orang ke bangunan tersebut.
Pria muda mengemudikan sepeda motor dengan Fira duduk di boncengannya. Sepertinya, Mereka sempat mampir entah ke mana sebelum ke sini, makanya gua bisa tiba lebih dulu di sini. Fira terlihat masih memakai seragam SMA-nya, tapi sekarang ditutupi sweater biru, yang sebelumnya dipakai oleh pria muda yang bersamanya. Fira turun dari boncengan sepeda motor, bersiap untuk berpisah. Namun, pria muda itu dengan cepat meraih tangannya dan bicara. Entah apa yang diucapkannya, gua nggak bisa membaca gerak bibirnya karena posisinya yang membelakangi gua, yang pasti kalimat tersebut pasti membahagiakan, terlihat dari respon Fira yang langsung tertawa lepas.
“Saat bersama gua, kayaknya nggak pernah ia nampak sebahagia itu…”
Nggak lama, pria itu pergi dengan sepeda motornya meninggalkan Fira yang berdiri sambil melambai, tepat di depan bangunan sanggar.
Jari-jemari gua mengetuk kemudi, berpikir dan menimbang. Gua bisa saja turun dari mobil, menghampirinya dan mengajaknya bicara. Cukup satu kalimat, kalimat yang sudah gua latih; “Halo, boleh kenalan? nama gue Lian. Kita dulu…”
“AH!!…”Gua memukul kemudi. Mengutuk diri sendiri karena nggak punya keberanian itu. Fira keburu berlari, menaiki anak tangga lalu masuk ke dalam sanggar.
Gua nggak beranjak, hanya tetap diam di dalam mobil selama beberapa jam hingga latihannya selesai. Fira keluar dari sanggar, lalu duduk di salah satu anak tangga. Terlihat sibuk dengan ponselnya. Beberapa menit berikutnya, pria muda yang sama datang dengan menggunakan sepeda motornya. Fira mengumbar senyum, lalu berdiri dan mendekat ke pria muda itu yang masih duduk di sepeda motornya. Mereka terlihat berbincang sebentar sebelum akhirnya Fira naik ke boncengan sepeda motor. Sementara senyumnya masih terkembang.
Sesuatu yang jarang sekali terlihat saat masih bersama gua. Karena saat bersama gua, yang ia alami hanya obat-obatan, rumah sakit dan rasa takut.
Seandainya, gua nekad dan melanjutkan hal ini. Apa gua benar-benar rela melihat dia menderita lagi hanya untuk mengingat gua?
—
Hari berganti hari, gua menjalani rutinitas pagi seperti biasa; ke kios burung lalu ke hutan kota untuk melepas burung-burung yang gua beli. Ritual yang gua lakukan untuk menenangkan diri, untuk memberi rasa bahwa gua masih punya kendali atas sesuatu, meskipun kecil. Setelahnya, gua menghabiskan waktu dengan rutinitas baru yang sebenarnya gua tahu salah: memarkirkan mobil tepat di depan gerbang perumahan tempat Fira tinggal, hanya untuk bisa melihatnya berboncengan dengan pria muda yang sama.
Begitu pula saat siang menjelang sore. Gua akan berada di sudut warung, di ujung gang tempat sekolahnya. Dan saat malam hari, gua akan berdiri, bersandar di tiang lampu jalan yang berkedip rusak, ditemani suara jangkrik yang berorkestrasi, menatap ke arah jendela kamarnya. Gua baru pergi dari sana saat cahaya yang terlihat dari jendela kamarnya meredup lalu mati.
Tindakan gua yang terus menguntitnya adalah hal yang salah. Ucapan Elin salah, rencana gua untuk mencoba kembali kepadanya juga adalah hal yang salah. Gua tau kalau semua ini salah. Tapi, melihatnya tertawa adalah satu-satunya cara gua bisa terus mengingatnya. Walaupun nggak bisa bersama, tapi gua mau tetap punya banyak memori tentangnya.
Di hari yang lain gua bertekad untuk mengakhiri semua ini. Gua nggak lagi menjalani rutinitas menguntit atau menatap jendela kamarnya. Pagi itu, selesai dari hutan kota untuk melepas burung-burung, gua pergi menuju sebuah mal. Berniat membeli buku untuk mengisi stok buku yang sudah hampir habis gua baca. Gua butuh sesuatu untuk mengalihkan pikiran, sesuatu yang bisa membuat gua berhenti memikirkan Fira, meskipun hanya sementara.
Setelah membeli buku, gua berkeliling sebentar. Pandangan gua lantas tertuju ke sebuah kedai kopi yang posisinya berada tepat bersebelahan dengan akses pintu masuk ke lobi mal dan punya area outdoor yang sedikit menjorok ke arah luar bangunan. ‘Tempat yang asik buat duduk, merokok sambil membaca’ batin gua. Apalagi, sekilas terlihat kalau kondisi kedai-nya juga nggak begitu ramai.
Gua masuk ke dalam kedai, memesan secangkir kopi lalu duduk di area beranda. Matahari sore menyelinap lewat celah bambu di teras kafe, membuat garis-garis emas di atas meja kayu yang sudah usang. Secangkir kopi hitam berasap di depan gua. Gua menyalakan rokok, api di antara jari gemetar sebentar, lalu membuka buku baru yang baru saja gua beli. Buku fiksi sastra yang nama penulisnya terdengar asing.
Lalu itu terjadi.
Terdengar suara kursi yang bergesekan dengan lantai batu, menimbulkan suara yang mirip kuku menggaruk papan tulis, bikin telinga nggak nyaman. Sontak, gua menoleh ke arah asal suara. Sialnya, atau mungkin lebih tepat untungnya, seorang perempuan sedang berusaha menggeser kursi yang nyangkut, mencoba melintas di antara meja-meja sempit di belakang gua. Tercium aroma parfum strawberry dengan sedikit campuran vanila, wangi yang sama dengan yang dulu gua kenali. Tanpa sengaja, ia ikut berpaling. Sikunya menyentuh lengan gua dan membuat gelas kopi dalam genggamannya bergoyang, menumpahkan beberapa tetes ke lengan kemeja gua. Kaget, gua merespons dengan menggerakkan tangan satunya, membuat cangkir milik gua di atas meja terbalik dan tumpah.
Perempuan itu Fira.
“Eh, Sorry…” Ucapnya lirih, suaranya ringan seperti angin.
Dia memiringkan kepalanya, seperti tengah mempelajari wajah gua. "Eh, kayak pernah ketemu. Di mana ya..." lalu menunjuk ke arah gua. "... Oh, di deket sekolah?"
Gua hanya mengangguk kaku. Saat itu gua bisa saja berbohong dengan bilang ‘Nggak, kamu salah orang’. Tapi, Gua nggak bisa mengeluarkan kata-kata. Tenggorokan seakan terkunci.
Momen itu terasa panjang sampai teman-temannya tiba, memanggil namanya. Dia berbalik, tapi ragu karena sepertinya merasa bersalah telah menumpahkan kopi di kemeja yang gua pakai.
“… Bentar” Bisiknya ke salah satu teman. Lalu berbalik ke gua dan bicara; “… Sorry banget ya, Mas. Bajunya jadi noda…” Ucapnya.
“Gapapa…” Jawab gua santai.
“Bener, gapapa?” Tanyanya lagi.
“Iya…”
“Oh, yaudah duluan ya. Sekali lagi sorry ya mas” Dan seperti itu saja, ia lalu pergi.
Baru beberapa langkah ia berbalik dan kembali mendekat. “Boleh aku traktir kopi untuk ganti yang tumpah?”
“Nggak usah, gapapa…”
“Oh…” Gumamnya pelan, lalu bergabung bersama teman-temannya yang lain.
Sesekali gua melirik ke arah mereka, ke arah Fira dan teman-temannya yang asik berbincang sambil tertawa. Terasa ada sesuatu yang menghimpit dada. Rasa yang selama ini gua pikir sudah terkubur dalam-dalam.
Gua menghela napas dalam-dalam. Nggak bisa lagi berkonsentrasi pada buku yang tengah gua baca.
Beberapa saat kemudian, saat gua bersiap untuk menuju ke area parkir basement. Langkah gua malah membawa ke keramaian di atrium mall. Sebuah panggung besar berdiri di tengah, diterangi lampu sorot ungu. Seorang penyanyi pop yang ngga begitu gua kenal melenggang di atasnya, menyanyikan lagu cinta yang terlalu manis. Penonton bersorak.
Lalu para penari latar muncul.
Dan di sana, yang ketiga dari kiri; Fira.
Mengenakan dress mini bergaya tahun 60-an berkilauan, rambutnya diikat tinggi, dia bergerak dengan indah yang membuat napas tercekat. Berputar, menggoyang bahu, tawanya masih terpasang.
Gua bersandar di pilar, tersenyum seperti orang bego. Senyum yang sudah lama nggak gua perlihatkan.
Niat gua untuk pulang batal. Gua berdiri, bersandar pada pilar besar dan menatap Fira yang menari lincah mengiringi penyanyi yang nggak seberapa menarik.
Gua tetap di tempat sampai acara selesai. Saat akan pulang, gua melihat Fira dan teman-temannya berlari kecil ke ruang ganti di belakang panggung. Gua memutuskan untuk kembali menunggu. Ingin melihatnya sekali lagi.
Sepuluh menit kemudian, dia keluar dari ruang ganti, sudah nggak lagi memakai kostum tapi kaos putih yang dibalut jaket denim. Teman-temannya mengobrol riang, langkahnya terhenti ketika melihat gua berdiri di dekat dinding.
“Eh, ketemu lagi…” Sapanya begitu ia keluar dari ruang ganti dan mendapati gua tengah berdiri sambil menatap ke layar ponsel.
Gua mengangguk pelan, “Dance-nya bagus…” Ucap gua, seraya memasukkan ponsel ke saku celana.
“Oh ya? nonton?” Tanyanya sambil tersenyum dan matanya berbinar. Ia memang Fira yang gua kenal. Fira yang mudah bergaul, santai dan menyenangkan.
“Iya…”
“Wah, Thank you lho…” Dia mengangkat tumitnya.
Sekejap. Ia memfokuskan pandangan pada bagian lengan kemeja gua yang bernoda. Lalu, tiba-tiba: “Aku traktir kopi, ya?”
Gua mengerutkan kening; “Apa?”
Ia menujuk ke arah lokasi kedai tempat tadi kami bertemu; “Aku mau ganti kopi Mas yang tadi tumpah…” Ucapnya.
“Oh…”
Gua terdiam sebentar. Merasa ini terlalu janggal. Gua tau kalau Fira memang gadis yang mingle, gadis yang ekstrovert dan mudah membaur dengan orang yang baru dikenalnya. Tapi, ini terlalu cepat. ‘Apa ia begini ke semua pria yang baru dikenalnya?’ batin gua.
“Kopi? boleh…” Jawab gua.
“Guys, kalian duluan aja ya…” Seru Fira ke teman-temannya yang lain, lalu mulai berjalan menuju ke arah eskalator. Sementara, gua mengikutinya dari belakang.
Ia membawa gua ke sebuah stand kecil di lantai tiga mall, di area foodcourt. Stand yang menjual aneka minuman kekinian, termasuk kopi yang dibuat dengan beraneka rasa dan varian.
“Mau kopi apa?” Tanyanya.
Gua mendongak, menatap ke arah display menu di bagian atas stand. “Mmm.. Apa ya. Pilihin aja deh”
“Okay, Kopi pandan gula aren ya?” Tanyanya.
“…” Gua mengangguk pelan.
Kami berdiri di sisi stand, menunggu pesanan selesai. Fira terlihat sibuk dengan ponselnya, mengetik pesan yang entah dikirimnya ke siapa. Sesekali, ia tersenyum sendiri sambi jarinya menari di atas layar.
“Kerja atau kuliah, Mas?” Tanyanya. Setelah memasukkan ponselnya ke saku celana.
“Nganggur…” Jawab gua singkat.
“Hah? Nganggur?”
“Iya…” Jawab gua singkat.
“Oh…”
“Kenapa nggak kerja?” Ia kembali bertanya; lugu.
“Nggak boleh sama negara…” Jawab gua lagi.
“Hah?”
Pesanannya selesai. Fira mengambil dua gelas plastik dan menyerahkan salah satunya ke gua. Lalu, ia berbalik.
“Aku duluan ya, Mas…” Ucapnya dan bersiap pergi.
Gua dengan cepat mencegahnya; “Wait…”
Ia menghentikan langkah dan kembali berbalik.
“Kamu emang selalu seperti ini?” Tanya gua.
“Seperti ini? seperti apa?” Ia balik bertanya, kini sambil mengernyitkan dahinya; bingung.
“Gampang di dekati sama sembarang cowok?”
“Hah? Sorry! Gimana-gimana?” Tanyanya. Ekspresi wajahnya berubah menjadi serius, sambil terus melangkah mendekat ke gua.
“Kamu emang selalu seperti ini? Gampang di dekati sama sembarang cowok?” Gua mengulang pertanyaan.
Tiba-tiba, Fira tersenyum. Senyum yang lantas berubah menjadi tawa. “Eh, Mas… Tau diri dong… Gue cuma nggak enak karena numpahin kopi lo tadi. Nggak usah nge-judge yang aneh-aneh ke orang yang beru lo kenal. Freak!!” Serunya. Lalu berbalik dan pergi.
Sementara, gua malah tersenyum begitu mendengar penjelasan darinya. Sadar kalau dia memang bukan cewek ‘gampangan’, ia hanya berhati baik seperti Fira yang dulu gua kenal.
“Fira!!” Seru gua saat ia semakin menjauh.
Langkahnya terhenti begitu mendengar seruan gua. Ia menoleh dan menatap gua tajam. Kemudian kembali mendekat ke arah gua. Langkahnya cepat dan matanya menyipit seperti mencoba mengingat sesuatu.
Aroma strawberry vanilla dari tubuhnya kembali menyergap, persis seperti hari pertama kami bertemu di rumah kontrakan milik nyokapnya. Jari-jemari refleks mengepal, membuat gelas kopi plastik berkerut mengeluarkan suara berisik.
“Dari mana lo tau nama gue?” Tanyanya dengan bibir dikatupkan.
Gua terdiam sebentar, lalu memberi jawaban; “Lo yang bilang..”
“Kapan?” Tanyanya lagi.
“Dulu…” Jawab gua singkat.
Fira mengerutkan kening, matanya seakan mencoba menyelami wajah gua, mencoba mengingat. “Dulu? Kapan? Kita pernah ketemu?”
Gua nggak menjawab, hanya diam sambil menatap wajahnya. Bingung harus menjelaskan dari mana. Bagaimana gua bisa bilang bahwa dulu kami adalah pasangan kekasih? Pasti bakal terasa aneh dan canggung. Bagaimana gua bisa bilang bahwa gua jatuh cinta padanya? Bagaimana gua bisa bilang kalau sampai saat ini gua masih mencintainya?
“Mas… Kita kenal?” tanyanya lagi, suaranya kini lebih lembut, tapi penuh kebingungan.
Gua menggeleng pelan.
“Nggak kok…” Gua memberi jawaban. “Tadi, aku liat itu…” Gua menambahkan sambil menunjuk ke arah ukiran di gantungan ponselnya yang bertuliskan; Fira.
Gua berbalik, meninggalkannya berdiri di tengah keramaian foodcourt. Gua tahu ini sudah selesai baginya. Ia mungkin nggak akan bertanya-tanya tentang gua. Ia benar-benar sudah lupa tanpa ada sedikitpun ingatan tentang gua yang tersisa.
Fira terlihat bahagia dengan atau tanpa ingatan tentang gua. Lalu, mengapa hati ini masih berharap? Apakah gua benar-benar ingin Fira kembali? Atau sebenarnya gua hanya takut dilupakan?
Karena jika Fira benar-benar tak mengingat gua lagi, apakah keberadaan gua di masa lalu Fira masih berarti?
—
Anehnya, di satu sisi gua malah merasakan sensasi yang berbeda. Melihatnya tertawa lepas, melihatnya bisa kembali melanjutkan hidup sebagai orang yang ‘normal’. Ada damai yang menenangkan.
Ada sensasi terbakar di dalam hati, seperti ada bara api kecil yang menyelinap di antara tulang rusuk, membakar perlahan-lahan. Rasa yang muncul tiba-tiba saat melihatnya berbahagia dengan orang lain, bukan bersama gua.
Gua berbalik dan melangkah menuju ke minimarket tempat memarkir mobil lalu pergi dari sana. Pulang. Lukisan Elin tergeletak di kursi penumpang, terbungkus koran yang bagian sisinya sedikit robek karena cengkraman gua yang terlalu erat. Gua menyetir perlahan, mengikuti jalan, menuju ke sanggar tempatnya biasa berlatih menari.
Dari dalam mobil, gua hanya duduk sambil menatap ke arah bagian depan bangunan tempat Fira berlatih. Sengaja memilih spot yang paling memungkinkan melihat keluar masuknya orang ke bangunan tersebut.
Pria muda mengemudikan sepeda motor dengan Fira duduk di boncengannya. Sepertinya, Mereka sempat mampir entah ke mana sebelum ke sini, makanya gua bisa tiba lebih dulu di sini. Fira terlihat masih memakai seragam SMA-nya, tapi sekarang ditutupi sweater biru, yang sebelumnya dipakai oleh pria muda yang bersamanya. Fira turun dari boncengan sepeda motor, bersiap untuk berpisah. Namun, pria muda itu dengan cepat meraih tangannya dan bicara. Entah apa yang diucapkannya, gua nggak bisa membaca gerak bibirnya karena posisinya yang membelakangi gua, yang pasti kalimat tersebut pasti membahagiakan, terlihat dari respon Fira yang langsung tertawa lepas.
“Saat bersama gua, kayaknya nggak pernah ia nampak sebahagia itu…”
Nggak lama, pria itu pergi dengan sepeda motornya meninggalkan Fira yang berdiri sambil melambai, tepat di depan bangunan sanggar.
Jari-jemari gua mengetuk kemudi, berpikir dan menimbang. Gua bisa saja turun dari mobil, menghampirinya dan mengajaknya bicara. Cukup satu kalimat, kalimat yang sudah gua latih; “Halo, boleh kenalan? nama gue Lian. Kita dulu…”
“AH!!…”Gua memukul kemudi. Mengutuk diri sendiri karena nggak punya keberanian itu. Fira keburu berlari, menaiki anak tangga lalu masuk ke dalam sanggar.
Gua nggak beranjak, hanya tetap diam di dalam mobil selama beberapa jam hingga latihannya selesai. Fira keluar dari sanggar, lalu duduk di salah satu anak tangga. Terlihat sibuk dengan ponselnya. Beberapa menit berikutnya, pria muda yang sama datang dengan menggunakan sepeda motornya. Fira mengumbar senyum, lalu berdiri dan mendekat ke pria muda itu yang masih duduk di sepeda motornya. Mereka terlihat berbincang sebentar sebelum akhirnya Fira naik ke boncengan sepeda motor. Sementara senyumnya masih terkembang.
Sesuatu yang jarang sekali terlihat saat masih bersama gua. Karena saat bersama gua, yang ia alami hanya obat-obatan, rumah sakit dan rasa takut.
Seandainya, gua nekad dan melanjutkan hal ini. Apa gua benar-benar rela melihat dia menderita lagi hanya untuk mengingat gua?
—
Hari berganti hari, gua menjalani rutinitas pagi seperti biasa; ke kios burung lalu ke hutan kota untuk melepas burung-burung yang gua beli. Ritual yang gua lakukan untuk menenangkan diri, untuk memberi rasa bahwa gua masih punya kendali atas sesuatu, meskipun kecil. Setelahnya, gua menghabiskan waktu dengan rutinitas baru yang sebenarnya gua tahu salah: memarkirkan mobil tepat di depan gerbang perumahan tempat Fira tinggal, hanya untuk bisa melihatnya berboncengan dengan pria muda yang sama.
Begitu pula saat siang menjelang sore. Gua akan berada di sudut warung, di ujung gang tempat sekolahnya. Dan saat malam hari, gua akan berdiri, bersandar di tiang lampu jalan yang berkedip rusak, ditemani suara jangkrik yang berorkestrasi, menatap ke arah jendela kamarnya. Gua baru pergi dari sana saat cahaya yang terlihat dari jendela kamarnya meredup lalu mati.
Tindakan gua yang terus menguntitnya adalah hal yang salah. Ucapan Elin salah, rencana gua untuk mencoba kembali kepadanya juga adalah hal yang salah. Gua tau kalau semua ini salah. Tapi, melihatnya tertawa adalah satu-satunya cara gua bisa terus mengingatnya. Walaupun nggak bisa bersama, tapi gua mau tetap punya banyak memori tentangnya.
Di hari yang lain gua bertekad untuk mengakhiri semua ini. Gua nggak lagi menjalani rutinitas menguntit atau menatap jendela kamarnya. Pagi itu, selesai dari hutan kota untuk melepas burung-burung, gua pergi menuju sebuah mal. Berniat membeli buku untuk mengisi stok buku yang sudah hampir habis gua baca. Gua butuh sesuatu untuk mengalihkan pikiran, sesuatu yang bisa membuat gua berhenti memikirkan Fira, meskipun hanya sementara.
Setelah membeli buku, gua berkeliling sebentar. Pandangan gua lantas tertuju ke sebuah kedai kopi yang posisinya berada tepat bersebelahan dengan akses pintu masuk ke lobi mal dan punya area outdoor yang sedikit menjorok ke arah luar bangunan. ‘Tempat yang asik buat duduk, merokok sambil membaca’ batin gua. Apalagi, sekilas terlihat kalau kondisi kedai-nya juga nggak begitu ramai.
Gua masuk ke dalam kedai, memesan secangkir kopi lalu duduk di area beranda. Matahari sore menyelinap lewat celah bambu di teras kafe, membuat garis-garis emas di atas meja kayu yang sudah usang. Secangkir kopi hitam berasap di depan gua. Gua menyalakan rokok, api di antara jari gemetar sebentar, lalu membuka buku baru yang baru saja gua beli. Buku fiksi sastra yang nama penulisnya terdengar asing.
Lalu itu terjadi.
Terdengar suara kursi yang bergesekan dengan lantai batu, menimbulkan suara yang mirip kuku menggaruk papan tulis, bikin telinga nggak nyaman. Sontak, gua menoleh ke arah asal suara. Sialnya, atau mungkin lebih tepat untungnya, seorang perempuan sedang berusaha menggeser kursi yang nyangkut, mencoba melintas di antara meja-meja sempit di belakang gua. Tercium aroma parfum strawberry dengan sedikit campuran vanila, wangi yang sama dengan yang dulu gua kenali. Tanpa sengaja, ia ikut berpaling. Sikunya menyentuh lengan gua dan membuat gelas kopi dalam genggamannya bergoyang, menumpahkan beberapa tetes ke lengan kemeja gua. Kaget, gua merespons dengan menggerakkan tangan satunya, membuat cangkir milik gua di atas meja terbalik dan tumpah.
Perempuan itu Fira.
“Eh, Sorry…” Ucapnya lirih, suaranya ringan seperti angin.
Dia memiringkan kepalanya, seperti tengah mempelajari wajah gua. "Eh, kayak pernah ketemu. Di mana ya..." lalu menunjuk ke arah gua. "... Oh, di deket sekolah?"
Gua hanya mengangguk kaku. Saat itu gua bisa saja berbohong dengan bilang ‘Nggak, kamu salah orang’. Tapi, Gua nggak bisa mengeluarkan kata-kata. Tenggorokan seakan terkunci.
Momen itu terasa panjang sampai teman-temannya tiba, memanggil namanya. Dia berbalik, tapi ragu karena sepertinya merasa bersalah telah menumpahkan kopi di kemeja yang gua pakai.
“… Bentar” Bisiknya ke salah satu teman. Lalu berbalik ke gua dan bicara; “… Sorry banget ya, Mas. Bajunya jadi noda…” Ucapnya.
“Gapapa…” Jawab gua santai.
“Bener, gapapa?” Tanyanya lagi.
“Iya…”
“Oh, yaudah duluan ya. Sekali lagi sorry ya mas” Dan seperti itu saja, ia lalu pergi.
Baru beberapa langkah ia berbalik dan kembali mendekat. “Boleh aku traktir kopi untuk ganti yang tumpah?”
“Nggak usah, gapapa…”
“Oh…” Gumamnya pelan, lalu bergabung bersama teman-temannya yang lain.
Sesekali gua melirik ke arah mereka, ke arah Fira dan teman-temannya yang asik berbincang sambil tertawa. Terasa ada sesuatu yang menghimpit dada. Rasa yang selama ini gua pikir sudah terkubur dalam-dalam.
Gua menghela napas dalam-dalam. Nggak bisa lagi berkonsentrasi pada buku yang tengah gua baca.
Beberapa saat kemudian, saat gua bersiap untuk menuju ke area parkir basement. Langkah gua malah membawa ke keramaian di atrium mall. Sebuah panggung besar berdiri di tengah, diterangi lampu sorot ungu. Seorang penyanyi pop yang ngga begitu gua kenal melenggang di atasnya, menyanyikan lagu cinta yang terlalu manis. Penonton bersorak.
Lalu para penari latar muncul.
Dan di sana, yang ketiga dari kiri; Fira.
Mengenakan dress mini bergaya tahun 60-an berkilauan, rambutnya diikat tinggi, dia bergerak dengan indah yang membuat napas tercekat. Berputar, menggoyang bahu, tawanya masih terpasang.
Gua bersandar di pilar, tersenyum seperti orang bego. Senyum yang sudah lama nggak gua perlihatkan.
Niat gua untuk pulang batal. Gua berdiri, bersandar pada pilar besar dan menatap Fira yang menari lincah mengiringi penyanyi yang nggak seberapa menarik.
Gua tetap di tempat sampai acara selesai. Saat akan pulang, gua melihat Fira dan teman-temannya berlari kecil ke ruang ganti di belakang panggung. Gua memutuskan untuk kembali menunggu. Ingin melihatnya sekali lagi.
Sepuluh menit kemudian, dia keluar dari ruang ganti, sudah nggak lagi memakai kostum tapi kaos putih yang dibalut jaket denim. Teman-temannya mengobrol riang, langkahnya terhenti ketika melihat gua berdiri di dekat dinding.
“Eh, ketemu lagi…” Sapanya begitu ia keluar dari ruang ganti dan mendapati gua tengah berdiri sambil menatap ke layar ponsel.
Gua mengangguk pelan, “Dance-nya bagus…” Ucap gua, seraya memasukkan ponsel ke saku celana.
“Oh ya? nonton?” Tanyanya sambil tersenyum dan matanya berbinar. Ia memang Fira yang gua kenal. Fira yang mudah bergaul, santai dan menyenangkan.
“Iya…”
“Wah, Thank you lho…” Dia mengangkat tumitnya.
Sekejap. Ia memfokuskan pandangan pada bagian lengan kemeja gua yang bernoda. Lalu, tiba-tiba: “Aku traktir kopi, ya?”
Gua mengerutkan kening; “Apa?”
Ia menujuk ke arah lokasi kedai tempat tadi kami bertemu; “Aku mau ganti kopi Mas yang tadi tumpah…” Ucapnya.
“Oh…”
Gua terdiam sebentar. Merasa ini terlalu janggal. Gua tau kalau Fira memang gadis yang mingle, gadis yang ekstrovert dan mudah membaur dengan orang yang baru dikenalnya. Tapi, ini terlalu cepat. ‘Apa ia begini ke semua pria yang baru dikenalnya?’ batin gua.
“Kopi? boleh…” Jawab gua.
“Guys, kalian duluan aja ya…” Seru Fira ke teman-temannya yang lain, lalu mulai berjalan menuju ke arah eskalator. Sementara, gua mengikutinya dari belakang.
Ia membawa gua ke sebuah stand kecil di lantai tiga mall, di area foodcourt. Stand yang menjual aneka minuman kekinian, termasuk kopi yang dibuat dengan beraneka rasa dan varian.
“Mau kopi apa?” Tanyanya.
Gua mendongak, menatap ke arah display menu di bagian atas stand. “Mmm.. Apa ya. Pilihin aja deh”
“Okay, Kopi pandan gula aren ya?” Tanyanya.
“…” Gua mengangguk pelan.
Kami berdiri di sisi stand, menunggu pesanan selesai. Fira terlihat sibuk dengan ponselnya, mengetik pesan yang entah dikirimnya ke siapa. Sesekali, ia tersenyum sendiri sambi jarinya menari di atas layar.
“Kerja atau kuliah, Mas?” Tanyanya. Setelah memasukkan ponselnya ke saku celana.
“Nganggur…” Jawab gua singkat.
“Hah? Nganggur?”
“Iya…” Jawab gua singkat.
“Oh…”
“Kenapa nggak kerja?” Ia kembali bertanya; lugu.
“Nggak boleh sama negara…” Jawab gua lagi.
“Hah?”
Pesanannya selesai. Fira mengambil dua gelas plastik dan menyerahkan salah satunya ke gua. Lalu, ia berbalik.
“Aku duluan ya, Mas…” Ucapnya dan bersiap pergi.
Gua dengan cepat mencegahnya; “Wait…”
Ia menghentikan langkah dan kembali berbalik.
“Kamu emang selalu seperti ini?” Tanya gua.
“Seperti ini? seperti apa?” Ia balik bertanya, kini sambil mengernyitkan dahinya; bingung.
“Gampang di dekati sama sembarang cowok?”
“Hah? Sorry! Gimana-gimana?” Tanyanya. Ekspresi wajahnya berubah menjadi serius, sambil terus melangkah mendekat ke gua.
“Kamu emang selalu seperti ini? Gampang di dekati sama sembarang cowok?” Gua mengulang pertanyaan.
Tiba-tiba, Fira tersenyum. Senyum yang lantas berubah menjadi tawa. “Eh, Mas… Tau diri dong… Gue cuma nggak enak karena numpahin kopi lo tadi. Nggak usah nge-judge yang aneh-aneh ke orang yang beru lo kenal. Freak!!” Serunya. Lalu berbalik dan pergi.
Sementara, gua malah tersenyum begitu mendengar penjelasan darinya. Sadar kalau dia memang bukan cewek ‘gampangan’, ia hanya berhati baik seperti Fira yang dulu gua kenal.
“Fira!!” Seru gua saat ia semakin menjauh.
Langkahnya terhenti begitu mendengar seruan gua. Ia menoleh dan menatap gua tajam. Kemudian kembali mendekat ke arah gua. Langkahnya cepat dan matanya menyipit seperti mencoba mengingat sesuatu.
Aroma strawberry vanilla dari tubuhnya kembali menyergap, persis seperti hari pertama kami bertemu di rumah kontrakan milik nyokapnya. Jari-jemari refleks mengepal, membuat gelas kopi plastik berkerut mengeluarkan suara berisik.
“Dari mana lo tau nama gue?” Tanyanya dengan bibir dikatupkan.
Gua terdiam sebentar, lalu memberi jawaban; “Lo yang bilang..”
“Kapan?” Tanyanya lagi.
“Dulu…” Jawab gua singkat.
Fira mengerutkan kening, matanya seakan mencoba menyelami wajah gua, mencoba mengingat. “Dulu? Kapan? Kita pernah ketemu?”
Gua nggak menjawab, hanya diam sambil menatap wajahnya. Bingung harus menjelaskan dari mana. Bagaimana gua bisa bilang bahwa dulu kami adalah pasangan kekasih? Pasti bakal terasa aneh dan canggung. Bagaimana gua bisa bilang bahwa gua jatuh cinta padanya? Bagaimana gua bisa bilang kalau sampai saat ini gua masih mencintainya?
“Mas… Kita kenal?” tanyanya lagi, suaranya kini lebih lembut, tapi penuh kebingungan.
Gua menggeleng pelan.
“Nggak kok…” Gua memberi jawaban. “Tadi, aku liat itu…” Gua menambahkan sambil menunjuk ke arah ukiran di gantungan ponselnya yang bertuliskan; Fira.
Gua berbalik, meninggalkannya berdiri di tengah keramaian foodcourt. Gua tahu ini sudah selesai baginya. Ia mungkin nggak akan bertanya-tanya tentang gua. Ia benar-benar sudah lupa tanpa ada sedikitpun ingatan tentang gua yang tersisa.
Fira terlihat bahagia dengan atau tanpa ingatan tentang gua. Lalu, mengapa hati ini masih berharap? Apakah gua benar-benar ingin Fira kembali? Atau sebenarnya gua hanya takut dilupakan?
Karena jika Fira benar-benar tak mengingat gua lagi, apakah keberadaan gua di masa lalu Fira masih berarti?
—
Backstreet Boys - Incomplete
Empty spaces fill me up with holes
Distant faces with no place left to go
Without you within me I can find no rest
Where I'm going is anybody's guess
I tried to go on like I never knew you
I'm awake but my world is half asleep
I pray for this heart to be unbroken
But without you all I'm going to be is incomplete
Voices tell me I should carry on
But I am swimming in an ocean all alone
Baby, my baby
It's written on your face
You still wonder if we made a big mistake
I tried to go on like I never knew you
I'm awake but my world is half asleep
I pray for this heart to be unbroken
But without you all I'm going to be is incomplete
I don't mean to drag it on, but I can't seem to let you go
I don't wanna make you face this world alone
I wanna let you go (alone)
I tried to go on like I never knew you
I'm awake but my world is half asleep
I pray for this heart to be unbroken
But without you all I'm going to be is incomplete
Incomplete
Diubah oleh robotpintar 30-03-2025 12:08
delet3 dan 49 lainnya memberi reputasi
50
Kutip
Balas
Tutup