- Beranda
- Berita dan Politik
Pembangunan Masjid Warga di Pasuruan Dihentikan TNI AL
...
TS
mnotorious19150
Pembangunan Masjid Warga di Pasuruan Dihentikan TNI AL

KOMPAS.com – Pembangunan Masjid Anwarul Falah di Dusun Tampungrandu, Desa Tampung, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, dihentikan oleh TNI Angkatan Laut (AL).
Penghentian dilakukan karena pembangunan tersebut belum mengantongi izin resmi. TNI AL memasang tanda larangan di bagian depan masjid sebagai bentuk peringatan.
Pembangunan masjid ini sudah berlangsung selama satu tahun, namun terpaksa dihentikan. Abdullah, salah seorang warga setempat, mengungkapkan rasa kecewanya atas tindakan tersebut.
Oknum TNI Al Diduga Bunuh Wartawan di Kalsel, Keluarga Juwita: Jangan Ada yang Ditutupi
“Ya saya kaget, tadi ada tiga orang TNI dari Puslatpur (Pusat Latihan Tempur) 3 Grati tanpa banyak bicara langsung memasang tanda itu dan meminta tidak meneruskan pembangunan masjid,” kata Abdullah kepada Kompas.com, Kamis (27/03/2025).
Tanda larangan tersebut dipasang di pilar depan masjid. Pada banner berwarna kuning tersebut tertulis, “Tanah Milik TNI AL, bangunan ini berdiri di atas tanah milik TNI AL. Dilarang melanjutkan bangunan ini tanpa seizin dari Lantamal V Surabaya.”
Setelah pemasangan tanda larangan, dua tukang yang tengah bekerja bersama warga akhirnya menghentikan aktivitas mereka.
Meskipun demikian, warga tetap menggunakan masjid tersebut untuk melaksanakan ibadah.
“Tadi pesan TNI boleh digunakan beribadah, tapi tidak boleh meneruskan pembangunan. Padahal selama ini kami perlu masjid ini untuk sholat berjamaah,” tambah Abdullah.
Menurutnya, selama proses pembangunan, masjid sudah digunakan warga untuk sholat berjamaah meski dalam kondisi seadanya.
Sebelum masjid ini berdiri, warga harus menunaikan sholat Jumat di masjid desa sebelah, yakni Desa Pasinan.
“Kami perlu masjid ini, kenapa kok dilarang meneruskan pembangunannya. Padahal di pinggir masjid ada lapangan yang juga menjadi fasilitas umum,” ujarnya.
Secara fisik, kondisi masjid sudah mencapai 50 persen. Bagian atap telah terpasang, sementara lantainya masih berupa cor semen dan kubah belum dipasang.
Meski belum rampung, masjid sudah difungsikan untuk sholat berjamaah oleh warga.
Penjelasan TNI AL
Paur Pam Puslatpur 3 Grati, Letda. Mar. Sutikno, membenarkan pemasangan tanda larangan tersebut.
Menurutnya, area tempat masjid dibangun merupakan tanah milik TNI AL, dan hingga kini belum ada izin resmi dari Lantamal V Surabaya untuk melanjutkan pembangunan.
“Warga dipersilakan beribadah di masjid itu, namun jangan meneruskan pembangunan hingga menunggu izin dari pimpinan kami di Lantamal V Surabaya,” kata Sutikno kepada Kompas.com.
Untuk memfasilitasi keinginan warga, pihak Puslatpur 3 Grati telah menyarankan agar warga mengajukan permohonan resmi ke Lantamal V Surabaya.
Hal ini penting mengingat status lahan tersebut adalah aset milik TNI AL.
“Jadi sesuai dari hasil kesepakatan sebelumnya di kecamatan, warga sudah berjanji tidak meneruskan pembangunan hingga menunggu kebijakan dari Lantamal V Surabaya atau dari Mabes TNI. Namun kenyataan di lapangan tetap membangun. Maknanya kami bertanggung jawab mengawasi di teritorial Puslatpur 3 Grati,” pungkasnya.
Pihak TNI AL berharap agar proses pengajuan izin dapat segera dilakukan agar pembangunan masjid bisa dilanjutkan sesuai aturan yang berlaku.
kompas.com
Quote:
Diubah oleh mnotorious19150 28-03-2025 16:40
aldonistic dan 4 lainnya memberi reputasi
5
1.2K
48
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
693.5KThread•58KAnggota
Tampilkan semua post
primadosa
#17
kalau milik perorangan atau swasta, sudah pasti hilang ini tanah
TNI masih bisa dan berharap ambil balik, tapi itupun tidak mudah,
pasti akan ada perwakilan ormasnya yg ke TNI agar tanah itu dihibahkan ke mereka
ane kasih tahu aja,
trik2 licik umat agama sampah ini adalah
LEBIH BAIK MINTA MAAF, DARIPADA MINTA IZIN
jadi agama ini, mereka sudah tahu, mereka membangun tanpa izin,
tapi mereka tetap bangun, dan kalau sampai dapat teguran,
maka mereka baru akan minta maaf dan ngemis dikasihani serta toleransi ( dalam kasus ini minta hibah ).
begitu juga cara mereka membuat bising dgn TOA atau pelanggaran lainnya,
mereka bukan tidak tahu TOA berisik mereka diluar azan, sangat mengganggu orang banyak,
tapi mereka tetap sengaja buat bising, sampai dapat teguran, baru mereka minta maaf,
kalau tidak ada yg tegur, mereka anggap tidak ada yg terganggu
contuh lain, banyak suku madara kalau buka kios juga pakai cara licik yg sama,
mereka pasang lapak sampai ke bahu jalan, jauh dari batas kiosnya.
kalau kena tegur, mereka minta maaf,
kalau tidak, mereka akan terus memakan bahu jalanan buat jualan yg membuat kumuh jalan dan lingkungan
TNI masih bisa dan berharap ambil balik, tapi itupun tidak mudah,
pasti akan ada perwakilan ormasnya yg ke TNI agar tanah itu dihibahkan ke mereka
ane kasih tahu aja,
trik2 licik umat agama sampah ini adalah
LEBIH BAIK MINTA MAAF, DARIPADA MINTA IZIN
jadi agama ini, mereka sudah tahu, mereka membangun tanpa izin,
tapi mereka tetap bangun, dan kalau sampai dapat teguran,
maka mereka baru akan minta maaf dan ngemis dikasihani serta toleransi ( dalam kasus ini minta hibah ).
begitu juga cara mereka membuat bising dgn TOA atau pelanggaran lainnya,
mereka bukan tidak tahu TOA berisik mereka diluar azan, sangat mengganggu orang banyak,
tapi mereka tetap sengaja buat bising, sampai dapat teguran, baru mereka minta maaf,
kalau tidak ada yg tegur, mereka anggap tidak ada yg terganggu
contuh lain, banyak suku madara kalau buka kios juga pakai cara licik yg sama,
mereka pasang lapak sampai ke bahu jalan, jauh dari batas kiosnya.
kalau kena tegur, mereka minta maaf,
kalau tidak, mereka akan terus memakan bahu jalanan buat jualan yg membuat kumuh jalan dan lingkungan
Diubah oleh primadosa 28-03-2025 17:05
kkutu93652 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Tutup