- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
superber dan 147 lainnya memberi reputasi
148
210.3K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#422
004-I Silent Fjords
Spoiler for 004-I Silent Fjords:
Tim penuntut beserta Dokter Soelarno menyusul keluar dari ruang sidang begitu dewan komite pergi. Kini hanya kami yang berada di sana. Gua, Reynard, Mrs. Martin, Pak Menteri beserta pengawalnya dan beberapa petugas panitera. Reynard menepuk bahu gua; “Good job…”Ucapnya lalu berdiri di sebelah gua.
Sementara, Pak Menteri mendekat. Langkah kakinya berat, dan aroma cologne kayu cedar tercium.
"Dr. Lian," suaranya tegas tapi hangat, "You’re really not going to appeal?"
Gua memutar badan, menghadapinya. Pak Menteri dengan rambut pirang yang mulai memutih di pelipis berdiri di sana. Jas hitamnya rapi, tapi matanya lelah. Gua tau kalau Reynard akan membantu, dan ia sempat menyinggung tentang namanya. Tapi, nggak gua sangka ia benar-benar melakukannya. Seandainya, Pak Menteri tadi nggak datang untuk memberi testimoni, mungkin aja vonis buat gua bakal jauh lebih berat.
"No," Gua menjawab singkat. "Six months off sounds like a good deal…."
Dia menghela napas, mengeluarkan ponsel dari saku bagian dalam jas-nya; "You’re a stubborn man, Dr. Lian..." Ucapnya dengan pandangan ia arahkan ke layar ponsel.
Gua hanya tersenyum; “Yeaah… Kinda. Anyway, thank you very much Mr. Minister for your testimony… Really appreciate it”
“Hahahaha, no worries… And what will you do now?” Tanyanya.
“I Don’t know… Six months off sounds like a vacation to me..." Jawab gua.
Dia tertawa pendek, lalu memberi tanda ke salah satu pengawal di belakangnya, yang dengan sigap menyerahkan amplop putih kepadanya. Amplop yang lalu ia serahkan ke gua.
Gua nggak langsung menerima pemberiannya, hanya menatap kosong ke arah amplop putih yang sedikit mengembung. Pak Menteri menggoyangkan tangannya yang memegang amplop, memberi tanda agar gua segera menerimanya.
Ragu, gua meraih amplop tersebut dan mengeluarkan isinya; sebuah kunci. "My cottage in Lofoten. No one’s using it …"
"You’ve been planning this, haven’t you?"
"I knew you’d refuse the appeal," ujarnya, tersenyum tipis. "But even rebels need a break, Herr Doktor…" ucapnya sebelum berbalik dan pergi.
Reynard terlihat berjalan menemani Pak Menteri hingga keluar dari ruang sidang. Sementara, Mrs. Martin masih terlihat sibuk; matanya fokus dan tangannya membolak-balik lembaran kertas, melengkapi laporan sidang.
Gua berjalan keluar dari ruangan. Menuruni tangga dengan reiling kayu melingkar yang besar, hingga akhirnya tiba di lantai dasar. Begitu tiba di Lobi, gua mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya. Hal yang kemudian membuat seorang petugas keamanan gedung mendekat dan memberi peringatan dengan menunjukkan tanda larangan merokok. Gua bergeming, menghisap rokok dalam-dalam dan menghembuskannya ke udara. Kemudian mengacungkan jari tengah ke arah petugas keamanan; “Get lost!”
Angin musim gugur menerpa wajah begitu gua keluar dari gedung. Langit London sore itu kelabu, cocok dengan tema dan suasana hati ini, cocok buat gua baru aja kena suspend selama enam bulan karena melanggar kode etik. Sebuah hukuman yang sebenarnya cukup ringan, jika dilihat dari tuduhan yang mereka alamatkan sebelumnya. Tapi gua nggak peduli.
Dua hari kemudian, gua sudah berada di pesawat menuju Norwegia.
Gua sengaja nggak membawa banyak barang, hanya sebuah ransel berisi pakaian, laptop, dan beberapa buku tua yang gua pinjam dari Reynard. Buku-buku yang sudah lama gua incar saat tengah berada di ruang kerjanya. Kali ini gua berencana nggak mau melakukan apa-apa. Hanya menghabiskan hari dengan tidur dan membaca buku.
Pesawat mendarat di Evenes, lalu gua naik feri menuju Lofoten. Udara di sini berbeda, berbeda dari London dan jauh berbeda dari Jakarta; dingin, segar, dan berbau garam. Sementara, langitnya terlihat luas, dengan matahari yang nggak pernah benar-benar terbenam di musim ini, hanya melayang di cakrawala seperti bola api yang nggak mau pergi.
Cottage-nya terletak di tepi sebuah fjord. Fjord adalah tempat di bagian dasar lembah yang berbentuk huruf U. Dikelilingi oleh pegunungan yang menjulang tinggi. Kayunya tua tapi kokoh, dicat merah tua seperti kebanyakan rumah nelayan di sini; terlihat sederhana. Begitu juga dengan bagian dalamnya yang nggak kalah sederhana. Sebuah perapian, dapur kecil, dan ranjang besar menghadap jendela dengan pemandangan langsung ke arah laut.
Gua menjatuhkan ransel ke lantai dan berdiri di depan jendela. Di kejauhan, ombak pecah perlahan di atas batu-batu hitam.
“Enam bulan…” Gumam gua pelan.
—
Hari-hari pertama berlalu dengan lambat. Gua bangun siang, makan roti yang sengaja gua beli di London. Berjalan dengan bertelanjang kaki di sepanjang pantai. Nggak ada jadwal, nggak ada tenggat waktu, nggak ada pasien yang menunggu.
Satu malam, saat gua beridir di teras dengan secangkir kopi, langit tiba-tiba berubah.
Garis-garis hijau dan ungu muncul di atas langit, bergerak perlahan seperti tirai yang tertiup angin. Gua terdiam, menatap tanpa bisa berkata-kata. Yang ada di benak gua saat ini hanya Fira. Seandainya ia bisa melihat aurora ini, ia pasti senang. Membayangkannya saja sudah bisa membuat gua tersenyum; senyum yang sudah lama nggak gua rasakan.
Terdengar derap langkah kaki mendekat, di susul suara seseorang yang membuyarkan lamunan gua.
"First time?"
Gua menoleh. Terlihat seorang perempuan tengah berdiri sambil bersandar pada selasar tangga menuju ke cottage. Perempuan berambut pirang dengan mata yang biru seperti es, ia tersenyum.
"Yeah…" Gua menjawab singkat.
Perempuan itu perlahan mendekat, menaiki satu persatu tangga pendek menuju ke beranda tempat gua berada.
"I’m Elin," ujarnya, mengulurkan tangan, "I live in the cottage down the road…"
Gua meraih tangan dan menjabatnya, lalu mulai memperkenalkan diri, tanpa gelar dokter; hanya sebagai ‘Lian’. Kemudian kembali menatap ke atas, nggak mau kehilangan kesempatan menyaksikan indahnya aurora.
"You’re here to escape something?" tanyanya, seraya menyandarkan dirinya di selasar kayu dan ikut menatap ke atas, menatap aurora kehijauan yang terus bergerak.
"Maybe….”
Dia tertawa; "Good luck with that…"
Kami sama-sama berdiri dalam diam, menatap cahaya yang menari di langit.
—
Minggu-minggu berlalu. Gua mulai terbiasa dengan ritme Lofoten. Bangun tanpa alarm, berjalan tanpa tujuan, membaca, makan masakan sederhana yang nggak terlalu berbumbu dan tidur saat lelah.
Elin sering muncul, hanya sekedar mengajak gua untuk memancing atau mendaki bukit kecil di belakang cottage. Dia merupakan seorang seniman yang sengaja menghabiskan waktunya melukis pemandangan laut.
Sore itu, kami duduk di atas bukit, menatap laut yang kini ombaknya bergerak tenang ke arah kedalaman. Sementara, angin bertiup dari arah belakang, terasa lembut dan menenangkan. Sembari mencabut rumput-rumpu kecil yang membeku, ia bicara; "What did you do? Before here?"
Masih sambil memandang ombak; "I fixed people..."
"And now?"
"Now I’m fixing myself…"
Elin nggak menanggapi, tapi keesokan harinya, ada sebuah lukisan kecil yang tergantung di depan pintu cottage-gua. Gambar seorang pria berdiri di tepian fjord, dengan bayangan panjang yang perlahan menyatu dengan langit senja.
Hari-hari berikutnya, kami kerap berbincang sambil melakukan banyak hal. Dan setiap kali gua selesai bercerita, Elin akan datang keesokan harinya dengan membawa sebuah lukisan. Lukisan yang menggambarkan cerita gua sebelumnya. Terus begitu hingga nggak terasa gua sudah menghabiskan tiga bulan di sana.
Malam itu, ia datang dengan membawa dua ekor ikan kod yang terlihat masih segar.
“Dinner…” Serunya saat gua membuka pintu cottage. Ia lantas menghambur masuk dengan ikan tergantung di tangan kanannya. Sementara tangan kirinya membawa sebuah lukisan kecil. Lukisan yang lantas ia letakkan di atas ranjang.
Gua meraih lukisan tersebut, dan menatapnya. Terlihat goresan kuasnya, membentuk sosok seorang perempuan muda yang tengah asik menari di atas bukit di belakang cottage. Gua membalik lukisan dan di sana tertulis; ‘Fira’
Iya, memang baru kemarin gua bercerita tentang sosok gadis yang gua sukai; gadis bernama Fira yang kini nggak mengingat gua.
Elin kini sibuk membersihkan sisik ikan, kemudian membelahnya menjadi dua bagian dan meletakkanya di atas tungku pemanas. Membiarkannya matang perlahan.
Setelah mencuci dan membersihkan tangannya, ia duduk di atas ranjang, menatap gua yang masih berdiri sambil memandangi lukisan buatannya.
"I finished it last night…" Ucapnya pelan.
"How did you…" Kalimat gua terhenti. Penasaran dengan bagaimana ia bisa menggambarkan Fira dengan begitu miripnya hanya dengan mendengar cerita gua.
"You told me yesterday. The way you described her, I know you still love her…"
“Think so…”
"Then go back. Find her..."
"And do what? Introduce myself as the stranger who cut open her brain?"
"No. Go as the man who knows her favorite song. Who remembers how she takes her step. Who’s loved every version of her, even the one that forgot you…"
Gua terdiam, sementara kedua tangan gua yang menggenggam kanvas semakin erat.
"What if she never…" Lagi, gua bicara tercekat, nggak mampu melanjutkan kalimat.
"Then you’ll have loved her twice. That’s more than most people get..." Ucapnya, lalu merebut lukisan dari tangan gua dan gantian menatapnya. "Take this. Show her who she was. Then remind her who she could be with you…"
"You make it sound simple…." Balas gua sambil meringis. Iya, ngomong memang gampang.
Elin berdiri, mendekat ke arah tungku pemanas, mencoba membalik ikan dengan tangan kosong. Kemudian berbalik dan barulah memberi respon.
"It’s not. But you’re a surgeon, aren’t you? You fix broken things, hahaha…” Ucapnya sambill terkekeh, "Hearts aren’t so different…." Tambahnya.
Gua kembali terdiam. Samar terdengar suara teriakan burung-burung camar di langit, bercampur dengan suara deru ombak yang menghantam tepian pantai.
"What if I fail?" Tanya gua lirih.
"Then you’ll still be the man who tried. That counts…."
—
Di hari terakhir, Gua berdiri di dermaga, menunggu feri yang akan membawa gua kembali ke dunia nyata. Gua memutuskan ke Jakarta, mengikuti saran Elin untuk mengejar kembali Fira.
Dari kejauhan terlihat Elin berlari mendekat sambil berseru samar. Seruang yang sama sekali nggak terdengar karena suara yang ditelan debur ombak menghantam karang. Ia membungkuk, mencoba mengatur napasnya yang tersengal. Lalu mendongak dan menatap gua, kemudian memberikan lukisan lain.
Lukisan dalam frame lebih kecil, lulisan yang berisi pemandangan fjord di musim dingin.
"For when you forget what silence sounds like," ujarnya, masih sambil tersengal.
Gua tersenyum; "Thank you..."
Nggak seberapa lama, Feri yang akan membawa gua ke Evenes tiba. Gua meraih ransel dan melangkah pergi. Saat gua sudah dekat dengan kapal, terdengar Elin berteriak; "Will you come back?"
Gua nggak menjawab, hanya mengangkat kedua bahu ke atas.
“Mungkin suatu hari nanti….” Gua menggumam pelan, lalu berbalik dan naik ke atas kapal.
—
Karena nggak ada penerbangan yang langsung menuju ke Jakarta, jadi gua memutuskan untuk ‘mampir’ sebentar ke London.
Flat masih nampak sama seperti tiga bulan lalu saat gua tinggalkan. Masih terasa ‘hampa’ dan ‘kosong’. Gua mengeluarkan pakaian-pakaian dari dalam tas ransel, memasukkannya ke dalam mesin cuci, beserta beberapa mili detergen cair, kemudian menekan tombol dan meninggalkannya.
Dua lukisan pemberian Elin gua letakkan di atas meja kopi di ruang tamu, sementara banyak sisanya sengaja gua tinggalkan di cottage. Lalu beranjak ke dalam kamar, ke arah laci meja kerja, meraih ponsel dan menyalakannya. Bunyi notifikasi pesan terdengar bertubi-tubi, pesan yang kebanyakan dari e-commerce yang isinya hanya promo. Kemudian memasang ujung kabel pengisi daya dan membiarkannya sampai terisi penuh.
Setelah menyelesaikan urusan cucian dan memastikan daya ponsel sudah terisi penuh. Gua kembali mengepak pakaian ke dalam ransel yang sama, termasuk lukisan pemberian Elin, memastikan dokumen seperti paspor sudah berada di saku, dan mengambil beberapa lembar uang pecahan poundsterling untuk di tukar di Jakarta nanti.
Menit berikutnya, gua sudah berada di bus yang membawa gua kembali ke bandara yang baru beberapa jam yang lalu gua sambangi.
Pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta tepat saat langit Jakarta mulai gelap. Gua menatap kosong ke arah rintik hujan yang menempel di jendela pesawat, membentuk garis-garis tipis seperti air mata yang mengering. Tiga bulan berada di Lofoten, di daerah yang sepi dan tenang, tempat yang seperti mimpi, dengan angin lembah yang menggigit, lukisan-lukisan Elin, dan aurora yang membuat lupa sejenak bahwa dunia masih berputar tanpa kehadiran gua.
Tapi sekarang, gua kembali.
Kali ini gua kembali untuk mengingkari janji. Gua kembali untuk Fira, entah apa gua masih punya nyali saat berhadapan dengannya nanti. Entah apa gua sanggup?
Dengan ransel berisi sedikit pakaian dan lukisan terakhir Elin yang berisi gambar Fira, gua melangkah keluar bandara. Bau asap knalpot dan suara bising mesing kendaraan menyergap. Jakarta masih sama: riuh, gerah, dan penuh kenangan.
Taksi membawa gua menyusuri tol bandara yang macet luar biasa. Saking macetnya, si supir taksi sampai terus-terusan berdecak. Mungkin kesal dengan kondisi jalan yang macet namun nggak sanggup berbuat apa-apa. Gua tentu paham rasanya. Rasa di mana kita nggak punya kontrol akan sesuatu.
Setelah menghabiskan hampir dua jam berada di tengah kemacetan, gua akhirnya menyerah. Begitu keluar dari pintu tol, gua meminta si supir untuk berhenti, lalu lanjut menuju ke rumah dengan menggunakan ojek sepeda motor.
Kucay terkejut melihat gua pulang. Ia yang tengah berduaan dengan pembantu rumah sebelah terlihat gelagapan saat gua membuka pagar dan masuk.
“Eh, mas…” Serunya terbata-bata, seraya tangannya memberi kode agar perempuan yang bersamanya pergi.
Gua nggak menggubris, hanya memintanya untuk membersihkan mobil untuk gua pakai besok.
“Mobil yang mana mas?” Tanyanya.
Gua terdiam sebentar.
“Biru…” Jawab gua lantas bergegas masuk ke dalam, naik ke atas, ke kamar.
Di dalam kamar, gua langsung menjatuhkan ransel, kemudian berbaring di lantai.
Besoknya, gua bangun pagi-pagi sekali, Di luar, Kucay terlihat sibuk mengelap kap mobil yang sudah mengkilat. Lipatan kardus bekas mie instan tergeletak di lantai.
“Ke tukang burung dulu kan?” Tanyanya, yang lantas gua respon dengan anggukan kepala.
Menit berikutnya, gua sudah berada di kios penjual burung. Melakukan kegiatan yang sama setiap gua berada di sini, di Jakarta. Membeli beberapa ekor burung, membawanya ke hutan kota dan melepasnya di tepian danau. Setelah berjam-jam menghabiskan waktu duduk sendirian di tepi danau. Gua pergi ke tujuan berikutnya; SMA tempat Fira bersekolah.
Gua memarkir mobil sedikit lebih jauh dari gang tempat sekolahnya berada, di pelataran salah satu minimarket. Kemudian berjalan kaki menuju ke arah warung di depan gang. Duduk, merokok sambil menatap ke arah gerbang sekolahnya yang nampak kecil dari kejauhan. Sementara, lukisan Elin bergambar dirinya berada di dalam genggaman dalam bungkusan beberapa lembar koran.
“Boleh pinjem korek mas?” Tanya seorang pria yang baru saja datang dengan menggunakan sepeda motor dan duduk di kursi panjang di sebelah gua.
Tanpa banyak bicara, gua mengeluarkan korek dari saku dan meminjamkannya. Pria muda berswater abu-abu itu mulai menyulut rokok, menghembuskan asapnya ke udara, kemudian mengembalikan korek ke gua; “Makasih ya mas…”
Gua nggak menggubrisnya, masih terus menatap ke arah gerbang.
“Nunggu siapa, Mas?” Tanya pria muda bersweater biru, ramah.
Gua menoleh ke arahnya, lalu menggeleng.
Lalu, terdengar samar suara bel sekolah berbunyi.
Siswa-siswi berbaju putih abu keluar berhamburan, tertawa, saling mendorong dengan tas di punggung. Mata gua mulai menyapu kerumunan, mencari satu wajah yang pernah begitu gua kenali.
Besar kemungkinan Fira akan pulang bersama dengan tiga sahabatnya; Fidel, Gaby dan Liv dengan mengendarai mobil. Dan jika itu terjadi, maka gua nggak akan bisa menemuinya. Tapi, nggak ada salahnya mencoba.
Lalu, di antara keriuhan, di antara gerombolan siswa-siswi yang beru saja keluar dari gerbang, gua melihatnya.
Fira.
Rambutnya yang dulu panjang kini dipotong sebahu, diikat kecil di sisi kanan. Seragam putihnya sedikit kusut, tas merah jambu tergantung malas di satu bahu. Dia tersenyum lebar pada yang lain, mata berbinar seperti dulu, seperti masa sebelum operasi mengubah segalanya.
Gua menarik napas dalam-dalam dan mulai menyiapkan kata-kata yang tepat untuk memulai obrolan. Biasanya, gua sangat terlatih dalam hal-hal seperti ini; membuka obrolan untuk merayu lawan jenis. Tapi, entah kenapa kali ini lidah gua terasa kelu.
Fira semakin mendekat, ia bahkan menyunggingkan senyumnya. Senyum yang telah lama gua rindukan.
Gua tertegun saat, pria muda bersweater biru di sebelah gua berdiri dan melambai sambil berseru; “Fira…” Sontak gua berbalik dan menatapnya, berusaha mengenali wajah pria muda itu, Mungkin saja sosok yang gua kenali. Tapi, seberapa keras pun gua mencoba mengingat, ia hanya sosok pria muda asing yang baru pertama gua temui.
Fira mendekat, sementara pria muda tadi menyambut, memberi rangkulan di bahunya. Mereka lantas nampak asik berbincang mesra, terdengar samar obrolan mereka yang saling bertukar kabar. Sesekali, Fira mendorong tubuh pria itu sambil tertawa.
Gua membeku. Jari-jari yang menggenggam lukisan berbalut lembaran koran mengencang.
Seketika, Fira menoleh dan menatap ke arah gua. Sekilas, nggak lebih dari sedetik.
Nggak ada kilau pengenalan di matanya, hanya sekilas penasaran pada pria asing yang berdiri terlalu kaku dengan kotak berbalut koran di tangannya.
"Pulang apa ke sanggar?" Pria itu bertanya seraya menggenggam tangan Fira mengajaknya ke arah sepeda motor yang terparkir.
“Ke sanggar..” Jawab Fira, seraya mengenakan helm.
Sementara, gua hanya bisa terdiam menyaksikan Fira dengan versi dirinya yang paling bahagia, versi yang bahkan tidak mengenali gua, pergi dengan pria yang seusia dengannya, pria yang sepertinya begitu mencintainya.
Saat ia mulai duduk di boncengan sepeda motor, Fira kembali menoleh dan menatap ke arah gua. Masih dengan tatapan yang sama seperti sebelumnya. Lalu kembali berpaling dan pergi.
Sepertinya Beberapa kisah memang berakhir sebelum kita siap melepasnya…
---
Sementara, Pak Menteri mendekat. Langkah kakinya berat, dan aroma cologne kayu cedar tercium.
"Dr. Lian," suaranya tegas tapi hangat, "You’re really not going to appeal?"
Gua memutar badan, menghadapinya. Pak Menteri dengan rambut pirang yang mulai memutih di pelipis berdiri di sana. Jas hitamnya rapi, tapi matanya lelah. Gua tau kalau Reynard akan membantu, dan ia sempat menyinggung tentang namanya. Tapi, nggak gua sangka ia benar-benar melakukannya. Seandainya, Pak Menteri tadi nggak datang untuk memberi testimoni, mungkin aja vonis buat gua bakal jauh lebih berat.
"No," Gua menjawab singkat. "Six months off sounds like a good deal…."
Dia menghela napas, mengeluarkan ponsel dari saku bagian dalam jas-nya; "You’re a stubborn man, Dr. Lian..." Ucapnya dengan pandangan ia arahkan ke layar ponsel.
Gua hanya tersenyum; “Yeaah… Kinda. Anyway, thank you very much Mr. Minister for your testimony… Really appreciate it”
“Hahahaha, no worries… And what will you do now?” Tanyanya.
“I Don’t know… Six months off sounds like a vacation to me..." Jawab gua.
Dia tertawa pendek, lalu memberi tanda ke salah satu pengawal di belakangnya, yang dengan sigap menyerahkan amplop putih kepadanya. Amplop yang lalu ia serahkan ke gua.
Gua nggak langsung menerima pemberiannya, hanya menatap kosong ke arah amplop putih yang sedikit mengembung. Pak Menteri menggoyangkan tangannya yang memegang amplop, memberi tanda agar gua segera menerimanya.
Ragu, gua meraih amplop tersebut dan mengeluarkan isinya; sebuah kunci. "My cottage in Lofoten. No one’s using it …"
"You’ve been planning this, haven’t you?"
"I knew you’d refuse the appeal," ujarnya, tersenyum tipis. "But even rebels need a break, Herr Doktor…" ucapnya sebelum berbalik dan pergi.
Reynard terlihat berjalan menemani Pak Menteri hingga keluar dari ruang sidang. Sementara, Mrs. Martin masih terlihat sibuk; matanya fokus dan tangannya membolak-balik lembaran kertas, melengkapi laporan sidang.
Gua berjalan keluar dari ruangan. Menuruni tangga dengan reiling kayu melingkar yang besar, hingga akhirnya tiba di lantai dasar. Begitu tiba di Lobi, gua mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya. Hal yang kemudian membuat seorang petugas keamanan gedung mendekat dan memberi peringatan dengan menunjukkan tanda larangan merokok. Gua bergeming, menghisap rokok dalam-dalam dan menghembuskannya ke udara. Kemudian mengacungkan jari tengah ke arah petugas keamanan; “Get lost!”
Angin musim gugur menerpa wajah begitu gua keluar dari gedung. Langit London sore itu kelabu, cocok dengan tema dan suasana hati ini, cocok buat gua baru aja kena suspend selama enam bulan karena melanggar kode etik. Sebuah hukuman yang sebenarnya cukup ringan, jika dilihat dari tuduhan yang mereka alamatkan sebelumnya. Tapi gua nggak peduli.
Dua hari kemudian, gua sudah berada di pesawat menuju Norwegia.
Gua sengaja nggak membawa banyak barang, hanya sebuah ransel berisi pakaian, laptop, dan beberapa buku tua yang gua pinjam dari Reynard. Buku-buku yang sudah lama gua incar saat tengah berada di ruang kerjanya. Kali ini gua berencana nggak mau melakukan apa-apa. Hanya menghabiskan hari dengan tidur dan membaca buku.
Pesawat mendarat di Evenes, lalu gua naik feri menuju Lofoten. Udara di sini berbeda, berbeda dari London dan jauh berbeda dari Jakarta; dingin, segar, dan berbau garam. Sementara, langitnya terlihat luas, dengan matahari yang nggak pernah benar-benar terbenam di musim ini, hanya melayang di cakrawala seperti bola api yang nggak mau pergi.
Cottage-nya terletak di tepi sebuah fjord. Fjord adalah tempat di bagian dasar lembah yang berbentuk huruf U. Dikelilingi oleh pegunungan yang menjulang tinggi. Kayunya tua tapi kokoh, dicat merah tua seperti kebanyakan rumah nelayan di sini; terlihat sederhana. Begitu juga dengan bagian dalamnya yang nggak kalah sederhana. Sebuah perapian, dapur kecil, dan ranjang besar menghadap jendela dengan pemandangan langsung ke arah laut.
Gua menjatuhkan ransel ke lantai dan berdiri di depan jendela. Di kejauhan, ombak pecah perlahan di atas batu-batu hitam.
“Enam bulan…” Gumam gua pelan.
—
Hari-hari pertama berlalu dengan lambat. Gua bangun siang, makan roti yang sengaja gua beli di London. Berjalan dengan bertelanjang kaki di sepanjang pantai. Nggak ada jadwal, nggak ada tenggat waktu, nggak ada pasien yang menunggu.
Satu malam, saat gua beridir di teras dengan secangkir kopi, langit tiba-tiba berubah.
Garis-garis hijau dan ungu muncul di atas langit, bergerak perlahan seperti tirai yang tertiup angin. Gua terdiam, menatap tanpa bisa berkata-kata. Yang ada di benak gua saat ini hanya Fira. Seandainya ia bisa melihat aurora ini, ia pasti senang. Membayangkannya saja sudah bisa membuat gua tersenyum; senyum yang sudah lama nggak gua rasakan.
Terdengar derap langkah kaki mendekat, di susul suara seseorang yang membuyarkan lamunan gua.
"First time?"
Gua menoleh. Terlihat seorang perempuan tengah berdiri sambil bersandar pada selasar tangga menuju ke cottage. Perempuan berambut pirang dengan mata yang biru seperti es, ia tersenyum.
"Yeah…" Gua menjawab singkat.
Perempuan itu perlahan mendekat, menaiki satu persatu tangga pendek menuju ke beranda tempat gua berada.
"I’m Elin," ujarnya, mengulurkan tangan, "I live in the cottage down the road…"
Gua meraih tangan dan menjabatnya, lalu mulai memperkenalkan diri, tanpa gelar dokter; hanya sebagai ‘Lian’. Kemudian kembali menatap ke atas, nggak mau kehilangan kesempatan menyaksikan indahnya aurora.
"You’re here to escape something?" tanyanya, seraya menyandarkan dirinya di selasar kayu dan ikut menatap ke atas, menatap aurora kehijauan yang terus bergerak.
"Maybe….”
Dia tertawa; "Good luck with that…"
Kami sama-sama berdiri dalam diam, menatap cahaya yang menari di langit.
—
Minggu-minggu berlalu. Gua mulai terbiasa dengan ritme Lofoten. Bangun tanpa alarm, berjalan tanpa tujuan, membaca, makan masakan sederhana yang nggak terlalu berbumbu dan tidur saat lelah.
Elin sering muncul, hanya sekedar mengajak gua untuk memancing atau mendaki bukit kecil di belakang cottage. Dia merupakan seorang seniman yang sengaja menghabiskan waktunya melukis pemandangan laut.
Sore itu, kami duduk di atas bukit, menatap laut yang kini ombaknya bergerak tenang ke arah kedalaman. Sementara, angin bertiup dari arah belakang, terasa lembut dan menenangkan. Sembari mencabut rumput-rumpu kecil yang membeku, ia bicara; "What did you do? Before here?"
Masih sambil memandang ombak; "I fixed people..."
"And now?"
"Now I’m fixing myself…"
Elin nggak menanggapi, tapi keesokan harinya, ada sebuah lukisan kecil yang tergantung di depan pintu cottage-gua. Gambar seorang pria berdiri di tepian fjord, dengan bayangan panjang yang perlahan menyatu dengan langit senja.
Hari-hari berikutnya, kami kerap berbincang sambil melakukan banyak hal. Dan setiap kali gua selesai bercerita, Elin akan datang keesokan harinya dengan membawa sebuah lukisan. Lukisan yang menggambarkan cerita gua sebelumnya. Terus begitu hingga nggak terasa gua sudah menghabiskan tiga bulan di sana.
Malam itu, ia datang dengan membawa dua ekor ikan kod yang terlihat masih segar.
“Dinner…” Serunya saat gua membuka pintu cottage. Ia lantas menghambur masuk dengan ikan tergantung di tangan kanannya. Sementara tangan kirinya membawa sebuah lukisan kecil. Lukisan yang lantas ia letakkan di atas ranjang.
Gua meraih lukisan tersebut, dan menatapnya. Terlihat goresan kuasnya, membentuk sosok seorang perempuan muda yang tengah asik menari di atas bukit di belakang cottage. Gua membalik lukisan dan di sana tertulis; ‘Fira’
Iya, memang baru kemarin gua bercerita tentang sosok gadis yang gua sukai; gadis bernama Fira yang kini nggak mengingat gua.
Elin kini sibuk membersihkan sisik ikan, kemudian membelahnya menjadi dua bagian dan meletakkanya di atas tungku pemanas. Membiarkannya matang perlahan.
Setelah mencuci dan membersihkan tangannya, ia duduk di atas ranjang, menatap gua yang masih berdiri sambil memandangi lukisan buatannya.
"I finished it last night…" Ucapnya pelan.
"How did you…" Kalimat gua terhenti. Penasaran dengan bagaimana ia bisa menggambarkan Fira dengan begitu miripnya hanya dengan mendengar cerita gua.
"You told me yesterday. The way you described her, I know you still love her…"
“Think so…”
"Then go back. Find her..."
"And do what? Introduce myself as the stranger who cut open her brain?"
"No. Go as the man who knows her favorite song. Who remembers how she takes her step. Who’s loved every version of her, even the one that forgot you…"
Gua terdiam, sementara kedua tangan gua yang menggenggam kanvas semakin erat.
"What if she never…" Lagi, gua bicara tercekat, nggak mampu melanjutkan kalimat.
"Then you’ll have loved her twice. That’s more than most people get..." Ucapnya, lalu merebut lukisan dari tangan gua dan gantian menatapnya. "Take this. Show her who she was. Then remind her who she could be with you…"
"You make it sound simple…." Balas gua sambil meringis. Iya, ngomong memang gampang.
Elin berdiri, mendekat ke arah tungku pemanas, mencoba membalik ikan dengan tangan kosong. Kemudian berbalik dan barulah memberi respon.
"It’s not. But you’re a surgeon, aren’t you? You fix broken things, hahaha…” Ucapnya sambill terkekeh, "Hearts aren’t so different…." Tambahnya.
Gua kembali terdiam. Samar terdengar suara teriakan burung-burung camar di langit, bercampur dengan suara deru ombak yang menghantam tepian pantai.
"What if I fail?" Tanya gua lirih.
"Then you’ll still be the man who tried. That counts…."
—
Di hari terakhir, Gua berdiri di dermaga, menunggu feri yang akan membawa gua kembali ke dunia nyata. Gua memutuskan ke Jakarta, mengikuti saran Elin untuk mengejar kembali Fira.
Dari kejauhan terlihat Elin berlari mendekat sambil berseru samar. Seruang yang sama sekali nggak terdengar karena suara yang ditelan debur ombak menghantam karang. Ia membungkuk, mencoba mengatur napasnya yang tersengal. Lalu mendongak dan menatap gua, kemudian memberikan lukisan lain.
Lukisan dalam frame lebih kecil, lulisan yang berisi pemandangan fjord di musim dingin.
"For when you forget what silence sounds like," ujarnya, masih sambil tersengal.
Gua tersenyum; "Thank you..."
Nggak seberapa lama, Feri yang akan membawa gua ke Evenes tiba. Gua meraih ransel dan melangkah pergi. Saat gua sudah dekat dengan kapal, terdengar Elin berteriak; "Will you come back?"
Gua nggak menjawab, hanya mengangkat kedua bahu ke atas.
“Mungkin suatu hari nanti….” Gua menggumam pelan, lalu berbalik dan naik ke atas kapal.
—
Karena nggak ada penerbangan yang langsung menuju ke Jakarta, jadi gua memutuskan untuk ‘mampir’ sebentar ke London.
Flat masih nampak sama seperti tiga bulan lalu saat gua tinggalkan. Masih terasa ‘hampa’ dan ‘kosong’. Gua mengeluarkan pakaian-pakaian dari dalam tas ransel, memasukkannya ke dalam mesin cuci, beserta beberapa mili detergen cair, kemudian menekan tombol dan meninggalkannya.
Dua lukisan pemberian Elin gua letakkan di atas meja kopi di ruang tamu, sementara banyak sisanya sengaja gua tinggalkan di cottage. Lalu beranjak ke dalam kamar, ke arah laci meja kerja, meraih ponsel dan menyalakannya. Bunyi notifikasi pesan terdengar bertubi-tubi, pesan yang kebanyakan dari e-commerce yang isinya hanya promo. Kemudian memasang ujung kabel pengisi daya dan membiarkannya sampai terisi penuh.
Setelah menyelesaikan urusan cucian dan memastikan daya ponsel sudah terisi penuh. Gua kembali mengepak pakaian ke dalam ransel yang sama, termasuk lukisan pemberian Elin, memastikan dokumen seperti paspor sudah berada di saku, dan mengambil beberapa lembar uang pecahan poundsterling untuk di tukar di Jakarta nanti.
Menit berikutnya, gua sudah berada di bus yang membawa gua kembali ke bandara yang baru beberapa jam yang lalu gua sambangi.
Pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta tepat saat langit Jakarta mulai gelap. Gua menatap kosong ke arah rintik hujan yang menempel di jendela pesawat, membentuk garis-garis tipis seperti air mata yang mengering. Tiga bulan berada di Lofoten, di daerah yang sepi dan tenang, tempat yang seperti mimpi, dengan angin lembah yang menggigit, lukisan-lukisan Elin, dan aurora yang membuat lupa sejenak bahwa dunia masih berputar tanpa kehadiran gua.
Tapi sekarang, gua kembali.
Kali ini gua kembali untuk mengingkari janji. Gua kembali untuk Fira, entah apa gua masih punya nyali saat berhadapan dengannya nanti. Entah apa gua sanggup?
Dengan ransel berisi sedikit pakaian dan lukisan terakhir Elin yang berisi gambar Fira, gua melangkah keluar bandara. Bau asap knalpot dan suara bising mesing kendaraan menyergap. Jakarta masih sama: riuh, gerah, dan penuh kenangan.
Taksi membawa gua menyusuri tol bandara yang macet luar biasa. Saking macetnya, si supir taksi sampai terus-terusan berdecak. Mungkin kesal dengan kondisi jalan yang macet namun nggak sanggup berbuat apa-apa. Gua tentu paham rasanya. Rasa di mana kita nggak punya kontrol akan sesuatu.
Setelah menghabiskan hampir dua jam berada di tengah kemacetan, gua akhirnya menyerah. Begitu keluar dari pintu tol, gua meminta si supir untuk berhenti, lalu lanjut menuju ke rumah dengan menggunakan ojek sepeda motor.
Kucay terkejut melihat gua pulang. Ia yang tengah berduaan dengan pembantu rumah sebelah terlihat gelagapan saat gua membuka pagar dan masuk.
“Eh, mas…” Serunya terbata-bata, seraya tangannya memberi kode agar perempuan yang bersamanya pergi.
Gua nggak menggubris, hanya memintanya untuk membersihkan mobil untuk gua pakai besok.
“Mobil yang mana mas?” Tanyanya.
Gua terdiam sebentar.
“Biru…” Jawab gua lantas bergegas masuk ke dalam, naik ke atas, ke kamar.
Di dalam kamar, gua langsung menjatuhkan ransel, kemudian berbaring di lantai.
Besoknya, gua bangun pagi-pagi sekali, Di luar, Kucay terlihat sibuk mengelap kap mobil yang sudah mengkilat. Lipatan kardus bekas mie instan tergeletak di lantai.
“Ke tukang burung dulu kan?” Tanyanya, yang lantas gua respon dengan anggukan kepala.
Menit berikutnya, gua sudah berada di kios penjual burung. Melakukan kegiatan yang sama setiap gua berada di sini, di Jakarta. Membeli beberapa ekor burung, membawanya ke hutan kota dan melepasnya di tepian danau. Setelah berjam-jam menghabiskan waktu duduk sendirian di tepi danau. Gua pergi ke tujuan berikutnya; SMA tempat Fira bersekolah.
Gua memarkir mobil sedikit lebih jauh dari gang tempat sekolahnya berada, di pelataran salah satu minimarket. Kemudian berjalan kaki menuju ke arah warung di depan gang. Duduk, merokok sambil menatap ke arah gerbang sekolahnya yang nampak kecil dari kejauhan. Sementara, lukisan Elin bergambar dirinya berada di dalam genggaman dalam bungkusan beberapa lembar koran.
“Boleh pinjem korek mas?” Tanya seorang pria yang baru saja datang dengan menggunakan sepeda motor dan duduk di kursi panjang di sebelah gua.
Tanpa banyak bicara, gua mengeluarkan korek dari saku dan meminjamkannya. Pria muda berswater abu-abu itu mulai menyulut rokok, menghembuskan asapnya ke udara, kemudian mengembalikan korek ke gua; “Makasih ya mas…”
Gua nggak menggubrisnya, masih terus menatap ke arah gerbang.
“Nunggu siapa, Mas?” Tanya pria muda bersweater biru, ramah.
Gua menoleh ke arahnya, lalu menggeleng.
Lalu, terdengar samar suara bel sekolah berbunyi.
Siswa-siswi berbaju putih abu keluar berhamburan, tertawa, saling mendorong dengan tas di punggung. Mata gua mulai menyapu kerumunan, mencari satu wajah yang pernah begitu gua kenali.
Besar kemungkinan Fira akan pulang bersama dengan tiga sahabatnya; Fidel, Gaby dan Liv dengan mengendarai mobil. Dan jika itu terjadi, maka gua nggak akan bisa menemuinya. Tapi, nggak ada salahnya mencoba.
Lalu, di antara keriuhan, di antara gerombolan siswa-siswi yang beru saja keluar dari gerbang, gua melihatnya.
Fira.
Rambutnya yang dulu panjang kini dipotong sebahu, diikat kecil di sisi kanan. Seragam putihnya sedikit kusut, tas merah jambu tergantung malas di satu bahu. Dia tersenyum lebar pada yang lain, mata berbinar seperti dulu, seperti masa sebelum operasi mengubah segalanya.
Gua menarik napas dalam-dalam dan mulai menyiapkan kata-kata yang tepat untuk memulai obrolan. Biasanya, gua sangat terlatih dalam hal-hal seperti ini; membuka obrolan untuk merayu lawan jenis. Tapi, entah kenapa kali ini lidah gua terasa kelu.
Fira semakin mendekat, ia bahkan menyunggingkan senyumnya. Senyum yang telah lama gua rindukan.
Gua tertegun saat, pria muda bersweater biru di sebelah gua berdiri dan melambai sambil berseru; “Fira…” Sontak gua berbalik dan menatapnya, berusaha mengenali wajah pria muda itu, Mungkin saja sosok yang gua kenali. Tapi, seberapa keras pun gua mencoba mengingat, ia hanya sosok pria muda asing yang baru pertama gua temui.
Fira mendekat, sementara pria muda tadi menyambut, memberi rangkulan di bahunya. Mereka lantas nampak asik berbincang mesra, terdengar samar obrolan mereka yang saling bertukar kabar. Sesekali, Fira mendorong tubuh pria itu sambil tertawa.
Gua membeku. Jari-jari yang menggenggam lukisan berbalut lembaran koran mengencang.
Seketika, Fira menoleh dan menatap ke arah gua. Sekilas, nggak lebih dari sedetik.
Nggak ada kilau pengenalan di matanya, hanya sekilas penasaran pada pria asing yang berdiri terlalu kaku dengan kotak berbalut koran di tangannya.
"Pulang apa ke sanggar?" Pria itu bertanya seraya menggenggam tangan Fira mengajaknya ke arah sepeda motor yang terparkir.
“Ke sanggar..” Jawab Fira, seraya mengenakan helm.
Sementara, gua hanya bisa terdiam menyaksikan Fira dengan versi dirinya yang paling bahagia, versi yang bahkan tidak mengenali gua, pergi dengan pria yang seusia dengannya, pria yang sepertinya begitu mencintainya.
Saat ia mulai duduk di boncengan sepeda motor, Fira kembali menoleh dan menatap ke arah gua. Masih dengan tatapan yang sama seperti sebelumnya. Lalu kembali berpaling dan pergi.
Sepertinya Beberapa kisah memang berakhir sebelum kita siap melepasnya…
---
Armand Maulana - Terbang
Terpikir dan terpana
Dan terdiam ku melihat
Sadarku bertahun
Bersama terwujudlah
Terbayang yang terindah
Yang terhampa berlalulah
Sadarku semuanya
Perasaan rasa cinta
Kaulah yang dinginkan aku
Dari mimpiku, dari mimpiku
Coba terbangkan khayalku
Dari sadarku, dari sadarku
Uuh, terbayang yang terindah
Yang terhampa berlalulah
Sadarku semuanya
Perasaan rasa cinta
Kaulah yang dinginkan aku
Dari mimpiku, dari mimpiku
Coba terbangkan khayalku
Dari sadarku, dari sadarku
Kaulah yang dinginkan aku
Dari mimpiku, dari mimpiku
Coba terbangkan khayalku
Dari sadarku
Diubah oleh robotpintar 30-03-2025 12:09
delet3 dan 44 lainnya memberi reputasi
45
Kutip
Balas
Tutup