- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
superber dan 147 lainnya memberi reputasi
148
211.2K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#377
004-F Unremembered
Spoiler for 004-F Unremembered:
Gua berdiri di depan pintu ruang operasi yang baru saja gua tinggalkan. Menatap kosong ke lantai, mengatur napas yang terasa lebih berat dari biasanya. Nggak hanya karena kelelahan fisik, tapi karena ada sesuatu yang lain—sesuatu yang menekan dari dalam dada gua.
Sementara Dokter-dokter lain masih berada di depan ruangan. Mereka sepertinya tengah membahas jalannya operasi yang baru saja selesai. Untuk yang kesekian kalinya, gua mengucapkan terima kasih yang nggak terhingga kepada mereka sambil menundukkan kepala. Lalu pergi.
Sinar cahaya matahari masuk, menembus jendela-jendela di koridor, menerpa wajah yang bikin gua menyipitkan mata; silau. Gua melepas satu persatu penutup kepala, masker dan jubah penutup scrub lalu memasukkannya ke dalam salah satu tong sampah medis. Kemudian menuju ke ruang ganti, untuk mandi dan kembali berganti pakaian.
Selesai berganti pakaian, gua langsung menuju ke ruang ICU di mana Fira tengah mendapat perawat intensif paska operasi.
Di sini, bangsal ICU nggak punya ruangan sebanyak rumah sakit sebelumnya. Di dalam bangsal hanya terdapat empat ruang ICU yang masih-masing dikelilingi dinding kaca sebagai sekatnya. Gua masuk ke dalam bangsal, kali ini nggak perlu di dampingi lagi oleh Dokter Kristop, karena gua sudah memiliki kartu tanda pengenal dokter yang terpasang di saku kemeja.
Gua mendekat ke nurse station dan bicara ke salah satu petugas di sana; “Boleh pinjem steteskop sama senter…”
“Oh boleh dok”Jawab si perawat sambil menatap ke arah tanpa pengenal yang gua kenakan. Kemudian menyerahkan satu set Stateskop dan senter kecil seukuran pulpen.
Terlihat, Nyokapnya Fira duduk di atas kursi plastik tepat di depan ruang kecil bersekat di mana Fira terbaring.
“Pagi, Tan…” Sapa gua.
“Pagi…” Jawabnya singkat, sambil menundukkan kepalanya. Sepertinya nggak berani menatap gua.
Gua lalu masuk ke dalam ruang ICU, berdiri di sisi ranjang dan menatap dalam-dalam Fira yang terbaring. Masih belum tersadar dari efek biusnya. Ada selang infus di lengan kirinya, alat bantu napas masih terpasang, dan layar monitor jantung yang menampilkan angka-angka yang stabil, tapi tetap bikin dadanya terasa berat.
Dengan perlahan dan hati-hati, gua mengambil stetoskop dari saku yang baru saja gua pinjam. Dan menempelkannya ke dadanya. Dengung suara napasnya terdengar pelan tapi stabil. Lebih baik dari sebelum operasi.
Gua mengganti stetoskop dengan senter kecil, membuka kelopak matanya dengan ujung jarin dan menyorotkan cahaya ke pupilnya. Responsnya normal. Semua tanda vital sejauh ini dalam kondisi baik. Gua mengangkat tangan, lalu menempelkan ujung jari tepat di dahinya yang terasa hangat, seakan berharap kalau dengan satu sentuhan, semua ingatannya akan kembali.
Setelah selesai memeriksa, gua meraih papan kecil yang tergantung di bagian kaki ranjang pasien, menulis hasil pemeriksaan dan keluar dari ruang ICU.
“Udah makan, Tan?” Tanya gua pelan.
“…” Ia menggeleng pelan.
“… Ayo makan dulu” Ajak gua.
“Nggak usah, nanti takut Fira bangun…” Jawabnya.
“Fira nggak akan bangun dalam waktu dekat ini. Efek biusnya bertahan seharian…” Jawab gua.
Ia mendongak dan memandang gua dengan tatapan nggak percaya.
Gua menunjuk ke arah perawat di nurse station dan bicara; “Tanya aja kalo nggak percaya. Lagian, bangsal ini harusnya steril. Nggak boleh ada yang nunggu di dalem…”
Ia menoleh ke arah perawat di nurse station.
“… Iya kan Sus?” Tanya gua.
“Iya, bu” Jawab salah satu perawat sambil tersenyum.
Barulah Nyokapnya berdiri dan mengikuti gua keluar dari bangsal.
Kami berdua turun ke lantai dasar dan menuju ke lobi rumah sakit yang masih sepi. Dengan bantuan resepsionis gua memesan taksi. Iya, Kucay sudah pulang, sementara mobil nyokapnya Fira masih berada di rumah sakit sebelumnya. Lantaran ia kemarin kesini dengan ambulan.
Hari masih pagi, mall dan resto-resto belum banyak yang buka. Akhirnya, gua memutuskan untuk berhenti di sebuah kedai kopi kenamaan yang gerai-nya banyak tersebar di Jakarta.
Nyokapnya Fira duduk di salah satu sudut di teras kedai, di meja yang paling dekat dengan akses keluar masuk. Sementara, gua memesan hot latte dan iced cold brew. Juga seporsi beef filone, serta peanut butter panini untuk menu sarapannya.
“Sarapan dulu, Tan…” Ucap gua seraya meletakkan porsi makanan dan hot latte untuknya.
“…” Ia mengangguk pelan. Tapi, nggak kunjung menyentuh makanan. Ia hanya meraih gelas hot latte dan menyeruputnya sambil menatap kosong ke arah pelanggan lain yang keluar-masuk kedai membeli sarapan.
Sekilas, gua mampu melihat dari ekspresi yang ia tampilkan. Masih ada sedikit rasa kecewa dan penyesalan di wajahnya. Hal yang nggak umum mengingat kondisi Fira saat ini sudah melewati masa kritis. Fira bahkan terbebas dari epilepsi yang mengganggunya. Seharusnya ia senang.
Atau, mungkin Ncek belum memberitahu hasil operasi kepadanya?
“Tan? Dokter Ricky udah ngasih tau hasil operasinya kan?” Tanya gua.
“Sudah…” Jawabnya, singkat.
Gua kembali mencoba menganalisa penyebab rasa kecewa yang ia tunjukkan melalui ekspresi wajahnya. Kini, gua yakin penyebabnya bukan karena kondisi Fira yang membaik. Tapi, mungkin karena gua.
Ia pasti mengira gua akan menggunakan kesempatan ini untuk kembali masuk ke dalam kehidupan anaknya; ke kehidupan Fira.
Gua meraih sebatang rokok kemudian menyulutnya.
“Mungkin Dokter Ricky udah ngasih tau. Tapi, biar saya jelasin lagi…”
“…”
“… Operasinya lancar; sangat lancar. Pembuluh darah yang hampir pecah bisa keluarkan. Bagian otak yang menyebabkan epilepsi dan kejang juga sudah diangkat. Jadi mudah-mudahan Fira nggak bakal kejang lagi”
“…”
“… Tante, nggak usah khawatir. Nggak perlu sibuk nyari-nyari cara lagi buat menjauhkan saya dengan Fira” Ucap gua. Mulai membuka obrolan.
“…”
“… Kemungkinan besar dia nggak bakal bisa mengingat saya kok” Gua menambahkan.
Begitu mendengar ucapan gua barusan, ekspresi wajahnya langsung berubah; takut.
“Hah? ingatannya hilang?” Tanyanya.
Ah, rupanya Ncek nggak memberi penjelasan sampai ke sini.
Gua tersenyum, lalu menggeleng pelan.
“Iya dan tidak…”
“…”
“… Di dalam otaknya ada bagian yang namanya hipokampus. Hipokampus itu semacam tempat transit bagi memori jangka pendek untuk jadi memori jangka panjang. Bagian itu jadi salah satu fokus area epilepsinya. Dan, saya mengambil sebagian kecil dari hipokampusnya, biar epilepsinya nggak lagi terjadi…”
“…”
“… kemungkinan besar saat sadar nanti, Fira nggak bakal mengenali saya dan semua yang tengah diprosesnya menjadi ingatan jangka panjang. Jadi, tante jangan kaget saat nanti dia nggak ingat akan masa-masa tertentu yang belum lama terjadi…”
“Oh, gitu…” Responnya singkat. Kini ekspresinya kembali berubah menjadi lebih tenang.
Gua menggeser piring berisi makanan ke arahnya; “Di makan dulu, tan…”
“Iya, makasih” Jawabnya, lalu mulai makan.
Ditengah-tengah menikmati makanan, ia berhenti sejenak lalu menatap gua dan mengajukan pertanyaan; “Ada kemungkinan ingatan yang hilang bakal kembali?”
“Mmm… Dalam beberapa kasus sih hampir mustahil. Tapi, bukan berarti nggak mungkin” Gua memberi jawaban.
“Sorry ya Lian…”
“…”
“… saya bukannya nggak mau berterima kasih atau apa. Saya terima kasiiiiih banget sama kamu. Tapi, jujur. Jujur banget, saya takut. Takut kalau kamu kembali ke kehidupan Fira setelah semua ini…”
“…”
Ia menaruh gelasnya di meja dengan suara yang nyaris tak terdengar. Jari-jarinya yang kurus meremas ujung lengan bajunya sendiri, seakan sedang berusaha mengendalikan sesuatu yang hampir tumpah dari dalam dirinya.
“Saya juga bingung harus gimana…” katanya pelan, suaranya nyaris tenggelam di antara suara orang-orang yang masuk ke kedai.
“… Di sisi lain, kamu udah membantu kita, udah nolongin banyak banget. Tapi, di sisi lain saya juga belum bisa nerima kalau kamu kembali…”
Gua mengangguk pelan, memahami.
“Nggak apa-apa, Tan. Saya ngerti..” Jawab gua lirih. Gua sungguh mengerti dengan pola pikirnya. Ia cuma seorang ibu yang rela melakukan apapun demi anaknya. Ia seorang ibu yang selalu menginginkan yang terbaik untuk anak satu-satunya.
Lepas menyelesaikan sarapan, gua memesan taksi untuk mengantarnya pulang. Sebelumnya, tentu sudah meyakinkan dirinya kalau Fira bakal baik-baik saja di ICU sehari ini. Dan menyarankan kepadanya untuk beristirahat lalu kembali besok.
—
Lumrah-nya gua merasa baik-baik saja. Ratusan operasi telah gua jalani, namun nggak pernah sekalipun ada operasi yang bikin gua merasa se-tertekan ini.
Padahal gua sudah sering menjalani operasi berdurasi panjang yang kadang menyita waktu hingga belasan jam. Tapi, entah kenapa baru kali ini gua merasakan kelelahan yang dahsyat.
Mungkin karena yang terkuras bukan hanya tenaga, tapi juga emosi karena terus-terusan merasa cemas. Kecemasan yang nggak bisa dirasakan orang lain.
Malam itu, gua menghabiskan waktu dengan membaca jurnal medis tentang kondisi pasien pasca operasi epilepsi. Ya walaupun sudah mendapat pengetahuan di kampus dan banyak pengalaman di rumah sakit, gua dan mungkin banyak dokter lainnya biasanya tetap meluangkan waktu untuk membaca. Mencari informasi tambahan sebanyak-banyaknya, untuk menambah rujukan. Merasa kemampuan gua yang sekarang ini masih terlalu dangkal dan perlu terus ditambah.
Sambil membaca, gua membuat catatan-catatan pendek di dalam sebuah buku. Merangkum hal-hal yang cukup penting untuk di baca ulang atau di kaji lagi lewat jurnal lainnya. Kami biasa menyebutnya ‘pengkajian silang’ yang guna-nya untuk mendapat teori paling mendekati sempurna.
Jam menunjukkan pukul 3 dini hari saat mata gua mulai merasa lelah. Gua menutup jurnal dan catatan, lalu berbaring terlentang di lantai beralas lantai, menatap kosong ke langit-langit ruangan. Sambil merajut angan-angan tentang gua yang masih ada di dalam ingatannya. Angan-angan yang gua harap bisa berubah menjadi mimpi.
“Hhh…” Napas terhela, dengan lengan kanan berada di atas dahi, gua berusaha memejamkan mata.
Gua terbangun saat mendengar suara Kucay membuka pintu kamar dan bersiap masuk ke dalam. Langkahnya terhenti saat menyadari gua terbangun karenanya.
“Eh…” Ia mematung.
“…”
“… Mau ngambil cucian kotor mas…” Tambahnya, lalu berjingkat ke ujung kamar. Mengambil keranjang rotan tempat gua menyimpan pakaian kotor.
“…”
“… Saya mau ke laundry, mau titip sarapan apa mas?” Tanyanya, saat bersiap keluar kamar sambil memeluk keranjang rotan.
“Nggak usah Cay, Makasih. Paling minta tolong keluarin mobil yang putih ya, saya mau pake..” Pinta gua yang lalu direspon dengan anggukan kepala Kucay.
Gua mandi dan berganti pakaian, meraih jurnal dan catatan yang gua buat semalam dan bersiap pergi.
Hari masih pagi, saat gua keluar dari rumah. Jam digital yang melingkar di pergelangan tangan sebelah kiri menunjukkan pukul 6.30, sementara langit masih terlihat cukup gelap; mungkin mendung. Tepat di atas SUV putih yang sudah berada di deretan paling depan garasi terdapat selembar kardus bekas mie instan dalam kondisi terlipat. Gua meraih kardus tersebut dan memasukkanya ke kursi belakang mobil, kemudian bersiap pergi.
Keluar dari komplek perumahan, gua berbelok ke kanan. Nggak jauh dari sana gua berhenti di sisi jalan, tepat di depan kios kecil dengan banyak sangkar-sangkar tergantung di kanopi bagian depan. Kios ini menjual berbagai jenis burung, dari mulai burung hias yang umum, hingga burung-burung yang harganya nggak masuk akal karena faktor warna dan suaranya. Nggak hanya burung, di sini para pelanggan juga bisa membeli berbagai varian pakan, sangkar hingga jebakan.
Gua lupa kapan semua ini di mulai. Tapi, setiap kali gua berada di sini, di Jakarta, gua kerap menyempatkan diri mampir ke sini.
“Eh, bang…. Berapa ekor hari ini?” Tanya si pemilik kios yang biasa dipanggil Bang Jek. Begitu melihat gua turun dari mobil sambil membawa lipatan kardus.
“Ada-nya berapa? penuhin aja…” Jawab gua sambil menyerahkan lipatan kardus kepadanya.
“Siap!” Serunya, lalu mulai membentuk lipatan kardus menjadi kotak dan memberi beberapa lubang di tiap sisinya. Kemudian mengambil burung, memindahkannya satu per satu ke dalam kardus yang kini berfungsi sebagai sangkar, dan menutupnya.
Bang Jek menyebutkan jumlah dan jenis burung yang ia masukkan; hal yang nggak terlalu gua pedulikan. Lalu, menghitung total harganya.
Sejak lama, ia pasti mengira kalau gua adalah pecinta burung dan punya Aviary; semacam kandang super besar untuk memelihara burung. Karena, seringnya gua membeli burung dalam jumlah banyak tanpa memusingkan jenis dan juga harganya.
Dari kios penjual burung, gua melanjutkan perjalanan, terus menyusuri jalan Joglo Raya, melewati gerbang belakang komplek rumah Safira, lalu berbelok ke kiri di perempatan lampu merah berikutnya. Beberapa menit berikutnya, gua sudah berada di area parkir Hutan Kota. Menyusuri jalan setapak menuju ke area danau sambil membawa kardus berisi burung-burung kecil yang baru saja gua beli.
Mungkin karena masih terlalu dini dan hari kerja, jadi kondisi danau di pagi ini terlihat cenderung sepi. Hanya terlihat beberapa pemuda yang duduk di sisi terjauh tepian danau, sibuk dengan alat pancingnya.
Gua duduk di beton pembatas antara jalan setapak dengan tepian danau. Sementara, kardus berisi burung-burung berada di pangkuan. Perlahan, gua membuka penutup kardus, dan membiarkan burung-burung yang berada di dalamnya, beterbangan keluar.
Seekor burung kecil berkicau sebelum melesat keluar dari kardus, mengepakkan sayapnya menuju langit yang masih tertutup mendung. Gua memperhatikan mereka satu per satu—mereka yang dulu terkurung dalam sangkar, kini punya pilihan untuk pergi sejauh yang mereka mau.
Gua menarik napas dalam-dalam.
Apa sekarang gua juga harus belajar melepas?
Setelah memastikan kalau semua burung sudah berhasil bebas. Gua melipat kembali kardus menjadi lembaran lalu meletakkannya di atas permukaan beton di sebelah. Kemudian mengambil sebatang rokok, menyulutnya dan menghisapnya dalam-dalam.
—
Selepas dari Hutan Kota, gua langsung pergi menuju ke rumah sakit tempat Fira mendapat perawatan. Kali ini, kondisi jalanan sudah jauh lebih ramai dari sebelumnya, jauh lebih macet. Mungkin, karena sudah mulai banyak para penghuni Jakarta yang keluar dari rumah untuk pergi bekerja. Dan setelah lebih dari satu jam berikutnya, gua akhirnya tiba di rumah sakit.
Sebelum menemui Fira, gua menyempatkan diri untuk berganti pakaian dan membersihkan diri.
Entah sudah berapa kali gua berhenti melangkah saat tengah menuju ke ruang ICU tempat Fira berada. Setiap perhentian, gua hanya memikirkan tentang apa yang bakal terjadi jika ia benar-benar nggak mengingat gua. Gimana seandainya momen kami berdua yang hanya sebentar itu benar-benar terlupakan.
Hingga akhirnya gua memberanikan diri, berdiri tepat di depan pintu bangsal ICU. Menatap ke arah deretan ruang-ruang melalui jendela kecil di pintu bangsal. Gua menggenggam gagang pintu yang terasa dingin, kemudian menggesernya perlahan. Namun, alih-alih masuk ke dalam, gua justru melangkah menjauh, menuju ke ruangan Dokter Kristop.
Iya, gua memang pengecut.
Saking pengecutnya, gua bahkan meminta Dokter Krsitop untuk menggantikan memeriksa kondisi Fira sekarang. Ia tentu dengan senang hati membantu. Sementara, gua hanya menunggu dan memandang dari kejauhan, dari jendela kecil di pintu bangsal.
Nggak lama berselang, Dokter Krsitop selesai memeriksa kondisi Fira. Ia keluar dari bangsal ICU dan menemui gua yang sejak tadi menunggu di luar.
“Udah Ok, kok Dok. Udah bisa di pindah ke ruang perawatan…” Ucap Dokter Kristop, memberi informasi.
“Oh.. Oke Dok… Semua normal kan?” Tanya gua.
“Normal…” Jawabnya.
“Berarti tinggal tes EEG aja ya nanti, buat validasi”
“Oke, nanti di jadwalin deh…” Jawab Dokter Kristop, seraya menepuk pelan pundak. Sementara gua, masih berdiri tepat di depan bangsal ICU, memandangi para perawat yang kini sibuk menyiapkan pemindahan Fira ke ruang perawatan.
Karena kondisinya yang sudah sadar dan sangat stabil. Fira dipindahkan dengan menggunakan kursi roda. Seorang perawat mendorong kursi roda, satu perawat menjaga selang dan tabung infus agar tetap berada di atas, sementara Nyokapnya berjalan mengikuti mereka dari belakang.
Pintu bangsal ICU terbuka. Kami berdua saling beradu pandang. Ia yang duduk di kursi roda, mendongak dan menatap gua.
Dia tersenyum.
Senyuman yang sama. Senyuman yang dulu gua kenal baik. Tapi kali ini, itu bukan senyuman buat gua. Itu senyuman yang di alamatkan ke Dokter Kristop. Dokter yang baru saja memberinya ijin dari ruang ICU ke ruang perawatan.
Sesuatu di dalam diri gua runtuh.
Jadi begini rasanya jadi orang asing bagi seseorang yang dulu mengisi hidup?
Kami seperti dua orang asing yang belum pernah kenal. Kami seperti berada di ruang yang sama namun terjebak di waktu yang berbeda. Ia benar-benar kehilangan ingatannya tentang gua, ingatannya tentang kami.
Gua bersandar di dinding koridor sambil menatap ke arahnya yang menjauh, memandangi punggung mereka yang semakin jauh. Sampai akhirnya, mereka berbelok di ujung lorong dan menghilang dari pandangan.
Gua menarik napas panjang, lalu memegang kepala; Seakan ingin mencegah sesuatu keluar dari dalam, nggak mau sisa-sisa kenangan dirinya yang masih melekat, menghilang karena sudah nggak ada lagi ‘gua’ yang tersisa di pikirannya.
Nggak tahu mana yang lebih menyakitkan: kehilangan seseorang dengan cara yang nyata, atau kehilangan seseorang yang masih ada tapi nggak lagi mengingat gua.
Sebuah tepukan di bahu menyadarkan gua dari lamunan.
"Kamu nggak ikut?" tanya Dokter Kristop.
Gua menggeleng pelan. "Nggak sekarang, Dok."
Dokter Kristop menatap gua sebentar, sebelum akhirnya mengangguk. "Butuh waktu?"
"Mungkin. Atau mungkin saya emang nggak harus ada di sana lagi…"
Dia nggak bertanya lebih jauh, hanya menepuk bahu gua sekali lagi sebelum pergi meninggalkan gua di lorong yang terasa makin sunyi.
Gua merogoh saku celana, mengambil ponsel yang sejak tadi bergetar. Sebuah pesan dari Ncek yang isinya; ‘Ad surat buat lo dr XXX’
Menyebut nama organisasi yang menaungi para dokter di Indonesia.
--
Sementara Dokter-dokter lain masih berada di depan ruangan. Mereka sepertinya tengah membahas jalannya operasi yang baru saja selesai. Untuk yang kesekian kalinya, gua mengucapkan terima kasih yang nggak terhingga kepada mereka sambil menundukkan kepala. Lalu pergi.
Sinar cahaya matahari masuk, menembus jendela-jendela di koridor, menerpa wajah yang bikin gua menyipitkan mata; silau. Gua melepas satu persatu penutup kepala, masker dan jubah penutup scrub lalu memasukkannya ke dalam salah satu tong sampah medis. Kemudian menuju ke ruang ganti, untuk mandi dan kembali berganti pakaian.
Selesai berganti pakaian, gua langsung menuju ke ruang ICU di mana Fira tengah mendapat perawat intensif paska operasi.
Di sini, bangsal ICU nggak punya ruangan sebanyak rumah sakit sebelumnya. Di dalam bangsal hanya terdapat empat ruang ICU yang masih-masing dikelilingi dinding kaca sebagai sekatnya. Gua masuk ke dalam bangsal, kali ini nggak perlu di dampingi lagi oleh Dokter Kristop, karena gua sudah memiliki kartu tanda pengenal dokter yang terpasang di saku kemeja.
Gua mendekat ke nurse station dan bicara ke salah satu petugas di sana; “Boleh pinjem steteskop sama senter…”
“Oh boleh dok”Jawab si perawat sambil menatap ke arah tanpa pengenal yang gua kenakan. Kemudian menyerahkan satu set Stateskop dan senter kecil seukuran pulpen.
Terlihat, Nyokapnya Fira duduk di atas kursi plastik tepat di depan ruang kecil bersekat di mana Fira terbaring.
“Pagi, Tan…” Sapa gua.
“Pagi…” Jawabnya singkat, sambil menundukkan kepalanya. Sepertinya nggak berani menatap gua.
Gua lalu masuk ke dalam ruang ICU, berdiri di sisi ranjang dan menatap dalam-dalam Fira yang terbaring. Masih belum tersadar dari efek biusnya. Ada selang infus di lengan kirinya, alat bantu napas masih terpasang, dan layar monitor jantung yang menampilkan angka-angka yang stabil, tapi tetap bikin dadanya terasa berat.
Dengan perlahan dan hati-hati, gua mengambil stetoskop dari saku yang baru saja gua pinjam. Dan menempelkannya ke dadanya. Dengung suara napasnya terdengar pelan tapi stabil. Lebih baik dari sebelum operasi.
Gua mengganti stetoskop dengan senter kecil, membuka kelopak matanya dengan ujung jarin dan menyorotkan cahaya ke pupilnya. Responsnya normal. Semua tanda vital sejauh ini dalam kondisi baik. Gua mengangkat tangan, lalu menempelkan ujung jari tepat di dahinya yang terasa hangat, seakan berharap kalau dengan satu sentuhan, semua ingatannya akan kembali.
Setelah selesai memeriksa, gua meraih papan kecil yang tergantung di bagian kaki ranjang pasien, menulis hasil pemeriksaan dan keluar dari ruang ICU.
“Udah makan, Tan?” Tanya gua pelan.
“…” Ia menggeleng pelan.
“… Ayo makan dulu” Ajak gua.
“Nggak usah, nanti takut Fira bangun…” Jawabnya.
“Fira nggak akan bangun dalam waktu dekat ini. Efek biusnya bertahan seharian…” Jawab gua.
Ia mendongak dan memandang gua dengan tatapan nggak percaya.
Gua menunjuk ke arah perawat di nurse station dan bicara; “Tanya aja kalo nggak percaya. Lagian, bangsal ini harusnya steril. Nggak boleh ada yang nunggu di dalem…”
Ia menoleh ke arah perawat di nurse station.
“… Iya kan Sus?” Tanya gua.
“Iya, bu” Jawab salah satu perawat sambil tersenyum.
Barulah Nyokapnya berdiri dan mengikuti gua keluar dari bangsal.
Kami berdua turun ke lantai dasar dan menuju ke lobi rumah sakit yang masih sepi. Dengan bantuan resepsionis gua memesan taksi. Iya, Kucay sudah pulang, sementara mobil nyokapnya Fira masih berada di rumah sakit sebelumnya. Lantaran ia kemarin kesini dengan ambulan.
Hari masih pagi, mall dan resto-resto belum banyak yang buka. Akhirnya, gua memutuskan untuk berhenti di sebuah kedai kopi kenamaan yang gerai-nya banyak tersebar di Jakarta.
Nyokapnya Fira duduk di salah satu sudut di teras kedai, di meja yang paling dekat dengan akses keluar masuk. Sementara, gua memesan hot latte dan iced cold brew. Juga seporsi beef filone, serta peanut butter panini untuk menu sarapannya.
“Sarapan dulu, Tan…” Ucap gua seraya meletakkan porsi makanan dan hot latte untuknya.
“…” Ia mengangguk pelan. Tapi, nggak kunjung menyentuh makanan. Ia hanya meraih gelas hot latte dan menyeruputnya sambil menatap kosong ke arah pelanggan lain yang keluar-masuk kedai membeli sarapan.
Sekilas, gua mampu melihat dari ekspresi yang ia tampilkan. Masih ada sedikit rasa kecewa dan penyesalan di wajahnya. Hal yang nggak umum mengingat kondisi Fira saat ini sudah melewati masa kritis. Fira bahkan terbebas dari epilepsi yang mengganggunya. Seharusnya ia senang.
Atau, mungkin Ncek belum memberitahu hasil operasi kepadanya?
“Tan? Dokter Ricky udah ngasih tau hasil operasinya kan?” Tanya gua.
“Sudah…” Jawabnya, singkat.
Gua kembali mencoba menganalisa penyebab rasa kecewa yang ia tunjukkan melalui ekspresi wajahnya. Kini, gua yakin penyebabnya bukan karena kondisi Fira yang membaik. Tapi, mungkin karena gua.
Ia pasti mengira gua akan menggunakan kesempatan ini untuk kembali masuk ke dalam kehidupan anaknya; ke kehidupan Fira.
Gua meraih sebatang rokok kemudian menyulutnya.
“Mungkin Dokter Ricky udah ngasih tau. Tapi, biar saya jelasin lagi…”
“…”
“… Operasinya lancar; sangat lancar. Pembuluh darah yang hampir pecah bisa keluarkan. Bagian otak yang menyebabkan epilepsi dan kejang juga sudah diangkat. Jadi mudah-mudahan Fira nggak bakal kejang lagi”
“…”
“… Tante, nggak usah khawatir. Nggak perlu sibuk nyari-nyari cara lagi buat menjauhkan saya dengan Fira” Ucap gua. Mulai membuka obrolan.
“…”
“… Kemungkinan besar dia nggak bakal bisa mengingat saya kok” Gua menambahkan.
Begitu mendengar ucapan gua barusan, ekspresi wajahnya langsung berubah; takut.
“Hah? ingatannya hilang?” Tanyanya.
Ah, rupanya Ncek nggak memberi penjelasan sampai ke sini.
Gua tersenyum, lalu menggeleng pelan.
“Iya dan tidak…”
“…”
“… Di dalam otaknya ada bagian yang namanya hipokampus. Hipokampus itu semacam tempat transit bagi memori jangka pendek untuk jadi memori jangka panjang. Bagian itu jadi salah satu fokus area epilepsinya. Dan, saya mengambil sebagian kecil dari hipokampusnya, biar epilepsinya nggak lagi terjadi…”
“…”
“… kemungkinan besar saat sadar nanti, Fira nggak bakal mengenali saya dan semua yang tengah diprosesnya menjadi ingatan jangka panjang. Jadi, tante jangan kaget saat nanti dia nggak ingat akan masa-masa tertentu yang belum lama terjadi…”
“Oh, gitu…” Responnya singkat. Kini ekspresinya kembali berubah menjadi lebih tenang.
Gua menggeser piring berisi makanan ke arahnya; “Di makan dulu, tan…”
“Iya, makasih” Jawabnya, lalu mulai makan.
Ditengah-tengah menikmati makanan, ia berhenti sejenak lalu menatap gua dan mengajukan pertanyaan; “Ada kemungkinan ingatan yang hilang bakal kembali?”
“Mmm… Dalam beberapa kasus sih hampir mustahil. Tapi, bukan berarti nggak mungkin” Gua memberi jawaban.
“Sorry ya Lian…”
“…”
“… saya bukannya nggak mau berterima kasih atau apa. Saya terima kasiiiiih banget sama kamu. Tapi, jujur. Jujur banget, saya takut. Takut kalau kamu kembali ke kehidupan Fira setelah semua ini…”
“…”
Ia menaruh gelasnya di meja dengan suara yang nyaris tak terdengar. Jari-jarinya yang kurus meremas ujung lengan bajunya sendiri, seakan sedang berusaha mengendalikan sesuatu yang hampir tumpah dari dalam dirinya.
“Saya juga bingung harus gimana…” katanya pelan, suaranya nyaris tenggelam di antara suara orang-orang yang masuk ke kedai.
“… Di sisi lain, kamu udah membantu kita, udah nolongin banyak banget. Tapi, di sisi lain saya juga belum bisa nerima kalau kamu kembali…”
Gua mengangguk pelan, memahami.
“Nggak apa-apa, Tan. Saya ngerti..” Jawab gua lirih. Gua sungguh mengerti dengan pola pikirnya. Ia cuma seorang ibu yang rela melakukan apapun demi anaknya. Ia seorang ibu yang selalu menginginkan yang terbaik untuk anak satu-satunya.
Lepas menyelesaikan sarapan, gua memesan taksi untuk mengantarnya pulang. Sebelumnya, tentu sudah meyakinkan dirinya kalau Fira bakal baik-baik saja di ICU sehari ini. Dan menyarankan kepadanya untuk beristirahat lalu kembali besok.
—
Lumrah-nya gua merasa baik-baik saja. Ratusan operasi telah gua jalani, namun nggak pernah sekalipun ada operasi yang bikin gua merasa se-tertekan ini.
Padahal gua sudah sering menjalani operasi berdurasi panjang yang kadang menyita waktu hingga belasan jam. Tapi, entah kenapa baru kali ini gua merasakan kelelahan yang dahsyat.
Mungkin karena yang terkuras bukan hanya tenaga, tapi juga emosi karena terus-terusan merasa cemas. Kecemasan yang nggak bisa dirasakan orang lain.
Malam itu, gua menghabiskan waktu dengan membaca jurnal medis tentang kondisi pasien pasca operasi epilepsi. Ya walaupun sudah mendapat pengetahuan di kampus dan banyak pengalaman di rumah sakit, gua dan mungkin banyak dokter lainnya biasanya tetap meluangkan waktu untuk membaca. Mencari informasi tambahan sebanyak-banyaknya, untuk menambah rujukan. Merasa kemampuan gua yang sekarang ini masih terlalu dangkal dan perlu terus ditambah.
Sambil membaca, gua membuat catatan-catatan pendek di dalam sebuah buku. Merangkum hal-hal yang cukup penting untuk di baca ulang atau di kaji lagi lewat jurnal lainnya. Kami biasa menyebutnya ‘pengkajian silang’ yang guna-nya untuk mendapat teori paling mendekati sempurna.
Jam menunjukkan pukul 3 dini hari saat mata gua mulai merasa lelah. Gua menutup jurnal dan catatan, lalu berbaring terlentang di lantai beralas lantai, menatap kosong ke langit-langit ruangan. Sambil merajut angan-angan tentang gua yang masih ada di dalam ingatannya. Angan-angan yang gua harap bisa berubah menjadi mimpi.
“Hhh…” Napas terhela, dengan lengan kanan berada di atas dahi, gua berusaha memejamkan mata.
Gua terbangun saat mendengar suara Kucay membuka pintu kamar dan bersiap masuk ke dalam. Langkahnya terhenti saat menyadari gua terbangun karenanya.
“Eh…” Ia mematung.
“…”
“… Mau ngambil cucian kotor mas…” Tambahnya, lalu berjingkat ke ujung kamar. Mengambil keranjang rotan tempat gua menyimpan pakaian kotor.
“…”
“… Saya mau ke laundry, mau titip sarapan apa mas?” Tanyanya, saat bersiap keluar kamar sambil memeluk keranjang rotan.
“Nggak usah Cay, Makasih. Paling minta tolong keluarin mobil yang putih ya, saya mau pake..” Pinta gua yang lalu direspon dengan anggukan kepala Kucay.
Gua mandi dan berganti pakaian, meraih jurnal dan catatan yang gua buat semalam dan bersiap pergi.
Hari masih pagi, saat gua keluar dari rumah. Jam digital yang melingkar di pergelangan tangan sebelah kiri menunjukkan pukul 6.30, sementara langit masih terlihat cukup gelap; mungkin mendung. Tepat di atas SUV putih yang sudah berada di deretan paling depan garasi terdapat selembar kardus bekas mie instan dalam kondisi terlipat. Gua meraih kardus tersebut dan memasukkanya ke kursi belakang mobil, kemudian bersiap pergi.
Keluar dari komplek perumahan, gua berbelok ke kanan. Nggak jauh dari sana gua berhenti di sisi jalan, tepat di depan kios kecil dengan banyak sangkar-sangkar tergantung di kanopi bagian depan. Kios ini menjual berbagai jenis burung, dari mulai burung hias yang umum, hingga burung-burung yang harganya nggak masuk akal karena faktor warna dan suaranya. Nggak hanya burung, di sini para pelanggan juga bisa membeli berbagai varian pakan, sangkar hingga jebakan.
Gua lupa kapan semua ini di mulai. Tapi, setiap kali gua berada di sini, di Jakarta, gua kerap menyempatkan diri mampir ke sini.
“Eh, bang…. Berapa ekor hari ini?” Tanya si pemilik kios yang biasa dipanggil Bang Jek. Begitu melihat gua turun dari mobil sambil membawa lipatan kardus.
“Ada-nya berapa? penuhin aja…” Jawab gua sambil menyerahkan lipatan kardus kepadanya.
“Siap!” Serunya, lalu mulai membentuk lipatan kardus menjadi kotak dan memberi beberapa lubang di tiap sisinya. Kemudian mengambil burung, memindahkannya satu per satu ke dalam kardus yang kini berfungsi sebagai sangkar, dan menutupnya.
Bang Jek menyebutkan jumlah dan jenis burung yang ia masukkan; hal yang nggak terlalu gua pedulikan. Lalu, menghitung total harganya.
Sejak lama, ia pasti mengira kalau gua adalah pecinta burung dan punya Aviary; semacam kandang super besar untuk memelihara burung. Karena, seringnya gua membeli burung dalam jumlah banyak tanpa memusingkan jenis dan juga harganya.
Dari kios penjual burung, gua melanjutkan perjalanan, terus menyusuri jalan Joglo Raya, melewati gerbang belakang komplek rumah Safira, lalu berbelok ke kiri di perempatan lampu merah berikutnya. Beberapa menit berikutnya, gua sudah berada di area parkir Hutan Kota. Menyusuri jalan setapak menuju ke area danau sambil membawa kardus berisi burung-burung kecil yang baru saja gua beli.
Mungkin karena masih terlalu dini dan hari kerja, jadi kondisi danau di pagi ini terlihat cenderung sepi. Hanya terlihat beberapa pemuda yang duduk di sisi terjauh tepian danau, sibuk dengan alat pancingnya.
Gua duduk di beton pembatas antara jalan setapak dengan tepian danau. Sementara, kardus berisi burung-burung berada di pangkuan. Perlahan, gua membuka penutup kardus, dan membiarkan burung-burung yang berada di dalamnya, beterbangan keluar.
Seekor burung kecil berkicau sebelum melesat keluar dari kardus, mengepakkan sayapnya menuju langit yang masih tertutup mendung. Gua memperhatikan mereka satu per satu—mereka yang dulu terkurung dalam sangkar, kini punya pilihan untuk pergi sejauh yang mereka mau.
Gua menarik napas dalam-dalam.
Apa sekarang gua juga harus belajar melepas?
Setelah memastikan kalau semua burung sudah berhasil bebas. Gua melipat kembali kardus menjadi lembaran lalu meletakkannya di atas permukaan beton di sebelah. Kemudian mengambil sebatang rokok, menyulutnya dan menghisapnya dalam-dalam.
—
Selepas dari Hutan Kota, gua langsung pergi menuju ke rumah sakit tempat Fira mendapat perawatan. Kali ini, kondisi jalanan sudah jauh lebih ramai dari sebelumnya, jauh lebih macet. Mungkin, karena sudah mulai banyak para penghuni Jakarta yang keluar dari rumah untuk pergi bekerja. Dan setelah lebih dari satu jam berikutnya, gua akhirnya tiba di rumah sakit.
Sebelum menemui Fira, gua menyempatkan diri untuk berganti pakaian dan membersihkan diri.
Entah sudah berapa kali gua berhenti melangkah saat tengah menuju ke ruang ICU tempat Fira berada. Setiap perhentian, gua hanya memikirkan tentang apa yang bakal terjadi jika ia benar-benar nggak mengingat gua. Gimana seandainya momen kami berdua yang hanya sebentar itu benar-benar terlupakan.
Hingga akhirnya gua memberanikan diri, berdiri tepat di depan pintu bangsal ICU. Menatap ke arah deretan ruang-ruang melalui jendela kecil di pintu bangsal. Gua menggenggam gagang pintu yang terasa dingin, kemudian menggesernya perlahan. Namun, alih-alih masuk ke dalam, gua justru melangkah menjauh, menuju ke ruangan Dokter Kristop.
Iya, gua memang pengecut.
Saking pengecutnya, gua bahkan meminta Dokter Krsitop untuk menggantikan memeriksa kondisi Fira sekarang. Ia tentu dengan senang hati membantu. Sementara, gua hanya menunggu dan memandang dari kejauhan, dari jendela kecil di pintu bangsal.
Nggak lama berselang, Dokter Krsitop selesai memeriksa kondisi Fira. Ia keluar dari bangsal ICU dan menemui gua yang sejak tadi menunggu di luar.
“Udah Ok, kok Dok. Udah bisa di pindah ke ruang perawatan…” Ucap Dokter Kristop, memberi informasi.
“Oh.. Oke Dok… Semua normal kan?” Tanya gua.
“Normal…” Jawabnya.
“Berarti tinggal tes EEG aja ya nanti, buat validasi”
“Oke, nanti di jadwalin deh…” Jawab Dokter Kristop, seraya menepuk pelan pundak. Sementara gua, masih berdiri tepat di depan bangsal ICU, memandangi para perawat yang kini sibuk menyiapkan pemindahan Fira ke ruang perawatan.
Karena kondisinya yang sudah sadar dan sangat stabil. Fira dipindahkan dengan menggunakan kursi roda. Seorang perawat mendorong kursi roda, satu perawat menjaga selang dan tabung infus agar tetap berada di atas, sementara Nyokapnya berjalan mengikuti mereka dari belakang.
Pintu bangsal ICU terbuka. Kami berdua saling beradu pandang. Ia yang duduk di kursi roda, mendongak dan menatap gua.
Dia tersenyum.
Senyuman yang sama. Senyuman yang dulu gua kenal baik. Tapi kali ini, itu bukan senyuman buat gua. Itu senyuman yang di alamatkan ke Dokter Kristop. Dokter yang baru saja memberinya ijin dari ruang ICU ke ruang perawatan.
Sesuatu di dalam diri gua runtuh.
Jadi begini rasanya jadi orang asing bagi seseorang yang dulu mengisi hidup?
Kami seperti dua orang asing yang belum pernah kenal. Kami seperti berada di ruang yang sama namun terjebak di waktu yang berbeda. Ia benar-benar kehilangan ingatannya tentang gua, ingatannya tentang kami.
Gua bersandar di dinding koridor sambil menatap ke arahnya yang menjauh, memandangi punggung mereka yang semakin jauh. Sampai akhirnya, mereka berbelok di ujung lorong dan menghilang dari pandangan.
Gua menarik napas panjang, lalu memegang kepala; Seakan ingin mencegah sesuatu keluar dari dalam, nggak mau sisa-sisa kenangan dirinya yang masih melekat, menghilang karena sudah nggak ada lagi ‘gua’ yang tersisa di pikirannya.
Nggak tahu mana yang lebih menyakitkan: kehilangan seseorang dengan cara yang nyata, atau kehilangan seseorang yang masih ada tapi nggak lagi mengingat gua.
Sebuah tepukan di bahu menyadarkan gua dari lamunan.
"Kamu nggak ikut?" tanya Dokter Kristop.
Gua menggeleng pelan. "Nggak sekarang, Dok."
Dokter Kristop menatap gua sebentar, sebelum akhirnya mengangguk. "Butuh waktu?"
"Mungkin. Atau mungkin saya emang nggak harus ada di sana lagi…"
Dia nggak bertanya lebih jauh, hanya menepuk bahu gua sekali lagi sebelum pergi meninggalkan gua di lorong yang terasa makin sunyi.
Gua merogoh saku celana, mengambil ponsel yang sejak tadi bergetar. Sebuah pesan dari Ncek yang isinya; ‘Ad surat buat lo dr XXX’
Menyebut nama organisasi yang menaungi para dokter di Indonesia.
--
Alter Bridge - You Will Be Remembered
I wrote these words to tell you
All the things I should've said so long ago, so long ago
Know that I am grateful
I will not forget or let your memory go, no I won't
I waited way too long
Way too long
I know this life's a mystery
We lose the things we never can replace, no
So many things we keep inside
Are never said until it's much too late
So I'm giving you this song
For the ones who sacrifice it all
(Oh, we will sing)
Who took a stand so we would never fall
(Oh, we will sing)
You will always be a hero
(Oh, we will sing)
So you will be remembered (Oh)
You will be remembered (Oh)
I know you've suffered way too much
I know you gave your all for us to be, oh I see
I know how much you've sacrificed
And all of this you did so selflessly, oh
So I'm giving you this song
I'm giving you this song
For the ones who sacrifice it all
(Oh, we will sing)
Who took a stand so we would never fall
(Oh, we will sing)
You will always be a hero
(Oh, we will sing)
You'll be remembered, you're still alive
Your memory will survive
And in the end, all your sacrifice
It made a difference this time, oh
(Oh) So I'm giving you this song
(Oh) And I'm giving you this song
For the ones who sacrifice it all
(Oh, we will sing)
Who took a stand so we would never fall
(Oh, we will sing)
You will always be a hero
(Oh, we will sing)
(So you will be remembered) Oh
(So you will be remembered) Oh
Oh, oh
delet3 dan 42 lainnya memberi reputasi
43
Kutip
Balas
Tutup