EPISODE 20: VBSS
Rabu, 21 Agustus 2024.
Visit Board Search and Seizure (VBSS), ini adalah materi baru yang kami pelajari hari ini. Dalam latihan kali ini, diskenariokan kami akan pergi ke kapal untuk melakukan pemeriksaan, karena ada laporan bahwa ada kapal sipil yang dibajak oleh orang yang tidak dikenal.
Kapal yang digunakan dalam simulasi latihan ini adalah KRI Surabaya dengan nomor lambung 591, sewaktu bertugas di KRI Tombak, aku sering melihat kapal ini beberapa kali saat sandar di Surabaya. KRI Surabaya adalah kapal jenis Landing Platform Dock (LPD), digunakan untuk mendaratkan pasukan ke sebuah pulau dalam rangkaian operasi amfibi.
Dalam simulasi kali ini kami dibagi dalam tiga tim. Tim dua dan tim satu terdiri dari 7 orang dan tim tiga terdiri dari 8 orang. Kami akan naik perahu karet untuk mendekati KRI Surabaya, kemudian menaiki tangga yang terbuat dari tali tambang di samping kapal. Seragam yang digunakan adalah loreng hijau khas TNI ditambah helm serta pistol dan senapan serbu sebagai pelengkap.
Aku berada di tim satu bersama Manta, Marlin, Paus, Baronang, Gurita serta Pandrong. Selain memeriksa kapal, kami juga dapat tugas untuk melumpuhkan pembajak di atas kapal yang diperankan oleh pelatih. Dalam latihan ini, juga diajarkan pertempura di atas kapal yang punya ruang gerak terbatas.
"Baiklah tim satu silakan bersiap naik ke perahu karet, lakukan prosedur seperti yang sudah diajarkan pelatih tempo hari. Jelas ?" kata Pelatih Budi.
"Siap, jelas !" jawab kami serentak.
"Tuna sini kamu," kata Pelatih Sigit. Aku kemudian mendekat ke arah pelatih.
"Kamu akan bertindak sebagai komandan yang akan memimpin tim ini. Kamu siap ?" tanya Pelatih Sigit.
"Siap !" sahutku. Meski sebenarnya aku belum sepenuhnya siap, aku harus tetap melakukannya. Latihan VBSS tadi pagi adalah pertama kalinya aku ditunjuk untuk memimpin sebuah tim.
Tim satu kemudian mulai menaiki perahu karet yang sudah disiapkan, aku duduk paling depan, dan akan naik ke KRI Surabaya pertama kali. Setelah perahu karet merapat ke samping KRI Surabaya, aku langsung berdiri dan mulai memanjat tangga yang terbuat dari tali tambang.
Sesampainya di geladak KRI Surabaya, aku meraih pistol Glock 17 dari saku celana kanan. Mengarahkannya ke depan sembari memperhatikan sekeliling. Sebagai orang yang pertama naik ke kapal, aku harus mengamankan area sekitar sampai seluruh anggota tim naik ke kapal.
Setelah seluruh anggota tim lengkap, kami menyebar untuk amankan setiap ruangan di kapal. Kami kemudian sampai di anjungan atau ruangan utama dari kapal yang ada di bagian depan. Aku yang memimpin tim, membuka pintu sambil arahkan pistol ke depan.
Terlihat seorang pelatih yang diskenariokan menjadi pembajak kapal berada di dalam ruangan. Aku mendekat sembari menodongkan pistol Glock 17, dua orang mengikuti di belakang sembari arahkan moncong senapan serbu ke depan. Sisa anggota tim mejaga area luar.
"Jangan bergerak !" seruku dengan lantang, "merapat ke dinding" pelatih tersebut kemudian merapatkan badan ke dinding kapal.
"Buka kaki dan angkat tangan !" seruku lagi. Aku mendekat dan memeriksa apakah pelatih tersebut membawa senjata atau tidak.
"Kapal ini telah dikuasai komando pasukan katak, seluruh awak kapal segera berkumpul di haluan !" aku berucap sembari memegang pundak pelatih, lalu menggiringnya menuju haluan atau bagian depan dari kapal.
Setelah membawa pembajak ke haluan, latihan yang kami lakukan pun berakhir. Dan selanjutnya latihan akan dilanjutkan tim 2, sementara tim 1 kembali ke dermaga.
Apa yang kami lakukan hari ini adalah bagian dasar dari VBSS, menurut pelatih, ketika kami sudah jadi prajurit Kopaska; metode VBSS akan terus dilatihkan. Karena pertempuran dalam kapal adalah hal yang sulit, karena terbatasnya pergerkan, ditambah ruangan serta tangga yang cukup banyak.
Namun, nilai plusnya adalah kami sudah hafal tata letak ruangan dalam kapal semisal bagian komando kapal atau anjungan. Kami juga tahu nama bagian-bagian kapal seperti buritan dan haluan. Pengetahuan dasar tentang kapal kami dapat saat bertugas sebagai awak kapal perang (KRI), ini merupakan modal penting dalam metode VBSS.
Latihan VBSS berlangsung sampai menjelang siang, setelah itu kami istirahat sejenak. Setelah 30 menit istirahat, 22 siswa Kopaska dibawa menuju jembatan Suramadu di sisi Surabaya. Di sana kami disuruh untuk berenang lintas selat menuju jembatan Suramadu di sisi Madura.
Kami berenang cuma memakai celana pendek warna hitam serta kaos biru lengan panjang dengan tulisan Kopaska di bagiang punggung. Serta memakai pelampung dengan corak loreng seragam TNI. Pelatih berujar, latihan renang lintas selat dilakukan untuk mengasah kemampuan renang kami.
Sebagai manusia katak, berenang dan menyelam adalah dua hal penting yang harus dikuasai. Sembari menunggu aba-aba dari pelatih, para siswa pun saling mengobrol.
"Hebat tadi kamu Tuna !" seru Paus yang duduk di sampingku, "kamu berhasil meimpin tim dalam latihan VBSS."
"Sebenarnya aku agak gerogi, baru pertama kali soalnya," jawabku.
"Lama-lama akan terbiasa, aku juga awal-awalnya begitu. Fase kekopaskaan semakin berar, kali ini renang lintas selat. Bagaimana menurutmu ?" tanya Paus.
"Benar, setelah ini akan pindah ke Pantai Grajagan untuk melanjutkan pendidikan fase kekopaskaan. Sepertinya latihan akan semakin berat, kita harus mulai mengakrabkan diri dengan laut." Paus anggukan kepala mendengar ucapanku.
Saat sedang mengobrol, tiba-tiba pelatih memanggil kami untuk bersiap renang selat. Siswa Kopaska kemudian disuruh berbaris dalam satu barisan dan siap-siap masuk ke laut.
"Hari ini kalian akan berenang melintasi Selat Madura, selain mengasah kemampuan berenang, juga untuk meningkatkan kekompakan. Kalian harus sampai Madura bersama-sama, jika ada yang tertinggal, semuanya akan dapat hukuman. Jelas ?" kata Pelatih Sigit.
"Siap, jelas !" kami menjawab dengan kompak dan lantang.
Tak berselang lama, 22 siswa Kopaska mulai masuk ke laut bersamaan. Kami kemudian mulai berenang melintasi Selat Madura. Rasa asin air laut yang masuk ke mulut tak kami hiraukan. Jarak yang kami tempuh adalah 5 km dari sisi jembatan Suramdau di Surabaya menuju sisi jembatan Suramadu di Madura.
Kami berenang selama 30 menit untuk sampai ke Madura, tak mudah karena arus di Selat Madura cukup deras. Kami juga harus waspada terhadap sengatan ubur-ubur. 22 siswa sampai bersamaan di Madura, aku bersyukur, karena kami tidak kena hukuman.
Setelah sampai, kami diminta naik ke tepi laut yang lokasinya berada di samping jembatan Suramadu. Di sana kami disuruh melakukan latihan fisik sampai menjelang matahari terbenam. Tak ada waktu yang boleh terbuang, setiap detik terus diisi dengan latihan.
Setelah renang Selat Madura, kami akan kembali diajak bermain di laut, tujuan selanjutnya adalah Pantai Grajagan. Entah apa yang akan menanti kami di sana. Apa pun itu, kami harus siap melaksanakan setiap latihan.