- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
superber dan 147 lainnya memberi reputasi
148
209.2K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#232
003-G The Unsaid (Cont)
Spoiler for 003-G The Unsaid (Cont):
Hari-hari gua berjalan ‘hampir’ normal. Hubungan dengan The Lontongers juga terbilang hampir nggak ada perubahan. Fidel sudah terlihat kembali ke persona aslinya yang tenang, begitu pula dengan Gaby dan Liv. Hanya saja, kami memang sengaja nggak membahas perihal Lian dan hubungannya dengan gua.
Sabtu yang gua tunggu akhirnya tiba.
Gua cuma bisa nunggu sampai Lian memberi kabar. Nggak mau nelpon atau nge-chat duluan; malu. Padahal, sejak bangun pagi tadi, gua sudah mandi, memilih pakaian dan berdanda; sudah siap!
Hingga akhirnya, masuk sebuah pesan. Pesan dari Lian; ‘Kamu dimana?’
‘D rmh’ Gua menjawab cepat, singkat dan padat. Nggak mau berlama-lama. Kemudian bangkit dari ranjang sambil menggenggam ponsel. Berjalan mondar-mandir seraya berkali-kali menatap layar ponsel, menunggu balasan darinya.
Menunggu memang membosankan. Rasanya hampir mati.
Setelah hampir 2 menit berlalu, masuk balasan darinya; ‘Aku tunggu di depan ya’
Gua berlari ke sisi jendela dan mengintip dari luar, namun nggak ada siapa-siapa di sana.
‘Depan manaaaa?’ Balas gua sambil mengunggah foto penampakan jalan di depan rumah gua yang kosong.
‘Depan komplek’ Balasnya lagi. Juga dengan melampirkan foto gerbang utama komplek perumahan.
‘Aaaah, panaaassss. Aku jalan ke sana?’ Keluh gua.
‘Mau aku jemput ke depan rumah? ada Mamah nggak?’
‘Jgn. Ad Mamah. Yaud ak jln aja pk payung’ Balas gua lalu bergegas pergi.
Gua tentu sudah membuat alasan untuk Nyokap. Alasan yang paling masuk akal yang terpikir adalah; ‘Main bersama Gaby’. Kenapa gua nggak pakai alasan, main bersama The Lontongers? karena nggak mau merepotkan yang lain untuk bikin kesepakatan. Lebih mudah bersekongkol dengan satu orang ketimbang dengan tiga orang.
Siang bahkan belum menjelang, tapi teriknya matahari sudah mulai terasa. Terasa membakar ujung siku yang nggak terlindung payung. Gua mempercepat langkah hingga ke gerbang komplek perumahan, menyisir orang-orang yang berdiri di bawah bayangan gerbang besar bergaya mediteran. Sebagian besar adalah pengemudi ojek online, yang terlihat dari warna jaket yang kenakan, sebagian lain penghuni perumahan yang kebetukan tengah jajan di pedagan kaki lima dekat gerbang. Pandangan gua berakhir di sosok seorang pria yang tengah berbincang seru dengan sekumpulan pengemudi ojek online. Sosok yang kemudian menyadari kehadiran gua, lalu meninggalkan obrolannya dan mendekat.
“Panas ya?”Tanyanya, sambil menatap payung yang saat ini sudah gua tutup.
“Iya… Mau kemana?” Gua balik bertanya sambil mengibas wajah dengan telapak tangan; gerah.
“Nanti juga kamu tau…” Jawabnya, lalu mulai melangkah.
Gua mengikutinya tanpa banyak bertanya, ke arah deretan mobil dan motor yang tengah terparkir. Ia berhenti tepat di depan sedan berwarna biru. Sedan yang terlihat sangat mencolok ketimbang mobil-mobil yang terparkir di sana. Bukan hanya dari warna-nya tapi bentuk dan rupa-nya yang menurut gua memang agak sedikit berbeda.
Ia membukakan pintu sebelah kiri buat gua. Baru gua sadari kalau mobil ini hanya punya sepasang pintu, di sebelah kanan; sisi pengemudi dan sebelah kiri, sisi di mana saat ini gua berada. Lian masuk dari sisi satunya lalu menutup pintu.
“Mobil kamu?” Tanya gua.
“…” Ia mengangguk, seraya memutar kunci mobil, disusul terdengar suara deru mesin mobil yang menggema.
Sebelum berangkat, ia beranjak dari kursi pengemudi, mendekat ke arah gua. Lalu mulai memasangkan sabuk pengaman yang entah kenapa punya bentuk yang berbeda. Bentuknya mirip harnes yang biasa dipakai orang untuk panjat tebing. Bedanya, yang ini terasa lebih empuk. Begitu pula dengan kursi-nya yang berbentuk melengkung, memberi rasa nyaman seperti dalam pelukan.
“Mobil balap ya?” Gumam gua pelan.
“Bukan…” Ia menjawab singkat, sambil kali ini memasang sabuk pengaman miliknya. Detik berikutnya, kami mulai pergi dari area parkir gerbang komplek menyusuri jalan raya yang cukup padat.
“Kita kemana?” Tanya gua lagi.
“Tebak” Jawabnya.
“Ya mana bisa, nggak ada petunjuk sama sekali…” Balas gua.
“Yaudah…”
Kami keluar dari jalan raya, berbelok ke kanan, menyusuri jalan yang lebih besar. Ia mengemudi dengan lambat dan hati-hati, bikin gua sedikit kehilangan kesabaran dan beberapa kali memberinya petunjuk. “Itu kosong, maju…”, “Ambil kanan, aja kayaknya lebih cepet”, “Klakson, klakson, udah ijo nggak jalan, jalan sih…”
Sementara ia hanya tersenyum meresponnya tanpa mengikuti arahan gua sama sekali.
“Nggak bisa lebih kenceng dikit? kosong lho di depan?” Ucap Gua seraya menunjuk jalan kosong di depan kami. Terlihat beberapa sepeda motor juga menatap sinis ke arah Lian begitu berhasil mendahului; mungkin karena gaya berkendaranya yang lambat.
“Ganggu orang kalo ngebut…” Balasnya.
“Ya justru kalo lambat begini malah ganggu…” Sanggah gua.
Ia memutar kemudi, masuk ke gerbang tol. Sementara gua masih menebak-nebak kemana ia akan membawa gua.
Begitu berhasil melewati gerbang tol, perlahan ia menambah kecepatan, diiringi dengan raungan suara mesin yang bikin jantung berdebar. Laju mobil semakin cepat, bikin gua terdorong ke belakang, ke cekungan kursi yang nyaman.
Jadi, ini alasannya nggak mau melaju kencang di jalan raya; nggak mau mengganggu orang dengan raungan suara mesinnya. Saking cepat laju mobil, gua bahkan nggak mampu membaca plang petunjuk yang terpasang di beberapa ruas tol. Begitu pula dengan kendaraan-kendaraan lain yang hanya nampak sekelebatan lalu hilang. Gua menoleh, menatap ke arahnya. Ia nggak menujukkan ekspresi apapun, terlihat tenang dan anggun.
Entah kenapa saat itu gua seperti kehilangan rasa takut. Nggak peduli dengan seberapa cepatnya ia melajukan mobil, saat ini gua hanya ingin terus menatap wajahnya.
Hanya butuh waktu beberapa menit untuk kami tiba di exit tol Pondok Indah. Ia lalu kembali menurunkan kecepatan dan melaju layaknya mobil-mobil ‘normal’ yang lain.
“Kamu nggak khawatir ngajak aku dan ngebut kayak tadi?” Tanya gua memecah keheningan.
Ia tersenyum, lalu bicara tanpa menatap gua; “Kamu takut waktu aku ngebut tadi?”
“Nggak” Gua menjawab singkat.
“Kenapa?”
“Karena aku percaya sama kamu” Jawab gua.
“Then, teruslah begitu. Teruslah percaya sama aku…”
Nggak lama berselang, kami berbelok ke kanan, masuk ke area perumahan mewah lalu berakhir di sebuah rumah sakit swasta megah di sana. Ia memarkirkan mobilnya yang entah kenapa terus menjadi pusat perhatian sejak tadi.
“Ke rumah sakit? Ngapain?” Tanya gua.
“Ya cerita aku dimulai dari sini…” Jawabnya seraya mematikan mesin mobil.
Dari area parkir, gua terus mengikuti langkahnya yang santai masuk ke gedung rumah sakit. Seakan sudah paham betul dengan lokasi dan denahnya,, ia terus mengajak gua, naik ke lantai dua, menyusuri lorong-lorong yang berbeda hingga akhirnya kami tiba di sebuah bangsal besar dengan papan informasi bertuliskan; ‘Poli Saraf’.
Gua langsung berhenti begitu tau kemana tujuannya. Lian, ikut berhenti lalu menoleh ke arah gua; “Kenapa?” Tanyanya.
“…” Gua nggak menjawab hanya menggeleng kepala. Sementara di dalam hati terus menebak; apa jangan-jangan dia sudah tau dengan kondisi gua? lalu, gimana gua harus menjelaskannya.
Lian meraih tangan gua dan menggenggamnya, lalu melanjutkan langkah masuk ke bangsal. Ruangan besar dan mewah menyambut kami, tentu saja dengan aroma alkohol dan bau obat yang bikin nggak nyaman.
“Kenapa, bau?” Tanyanya saat melihat gua menutupi hidung dengan tangan.
“Iya…”
Lian lalu mendekat ke arah nurse station di bagian tengah bangsal. Ia bicara ke salah satu perawat di sana dan kembali dengan masker. Tanpa bertanya, Lian mulai memasangkan masker untuk menutupi hidung dan mulut gua.
“Udah? masih bau?” Tanyanya.
“Udah mendingan…” Jawab gua.
“…”
“… Kita ngapain kesini?” Tanya gua lagi, mengulang pertanyaan yang sama dengan sebelumnya.
“Ketemu seseorang” Jawabnya singkat.
“Dokter?”
“Iya…”
“Oh…”
Gua duduk di sebelah Lian, sementara dia sibuk dengan ponselnya. Satu per satu dokter berseragam putih lewat, beberapa di antaranya memberi sapaan —bukan sapaan biasa, tapi lebih seperti rasa hormat. Kebanyakan dari mereka dokter senior, yang bikin gua makin bingung.
“Oh, Lian… Hai.. Apa kabar?” Tanya salah seorang dokter yang kebetulan lewat.
“Baik dok… Dokter apa kabar?”
“Baik, baik…”
“Udah lama di Jakarta…”
“Mmm… lumayan, beberapa bulan…”
“Oh i see.. Nanti kapan-kapan kita ngopi yuk sambil ngobrol”
“Boleh dok, diatur aja waktunya…”
Gua menarik ujung lengan kemejanya begitu percakapan dengan dokter itu selesai. Lalu bertanya; “Kamu kenal?”
“Kenal tapi, lupa namanya…”
“Perasaan dari tadi banyak yang nyapa kamu?”
“Ya namanya orang terkenal…” Balasnya sambil tertawa.
Saat tengah berbincang seorang perawat mendekat lalu bicara lirih ke Lian. Pembicaraan yang bahkan gua nggak bisa mendengarnya. Ia lalu berdiri dan memberi kode agar gua mengikutinya. Kami kembali menyusuri lorong yang lebih kecil, lorong bersih dengan banyak pintu berlabel nama dokter di tiap sisinya. Langkahnya terhenti tepat di sebuah pintu berpanel kayu dengan label bertuliskan ‘dr. Ricky Saputra Sp.S (K), FIPP, CIPS’
‘Gelarnya saja bahkan lebih panjang dari namanya’ Batin gua.
Tanpa mengetuk, Lian langsung membuka pintu dan mengajak gua masuk.
Bau obat dan alkohol di dalam ruangan semakin menyengat, masuk menembus masker yang gua kenakan. Namun, gua mencoba bertahan.
“Macet?” Tanya dokter yang duduk di balik meja di sudut ruangan.
“Lumayan…” Jawab Lian, lalu langsung duduk di kursi pasien tanpa menunggu dipersilakan. Ia lalu memberi kode ke gua agar duduk di sebelahnya.
Dokter itu lantas menatap gua dan tersenyum. “Oh ini, Fira…” Ucapnya, lalu berdiri dan menyodorkan tangannya. Kemudian memperkenalkan diri dengan menyebut namanya; “Ricky…”
Gua ikut berdiri, menyalaminya lalu kembali duduk. Masih bingung, dari mana ia bisa tau nama gua.
“Ada obatnya?” Tanya Lian ke Dokter Ricky.
“Ada, tapi ya nggak bisa langsung di resepin. Harus ada laporan diagnosa…” Jawabnya.
“Yaudah…” Balas Lian seraya menunjuk gua.
Dokter Ricky, beralih ke gua lalu bertanya; “Hi Fira, udah pernah di test EEG sebelumnya?” Tanyanya.
Gua menatap ke arah Lian dengan pandangan bingung. ‘Kok dia bisa tau?’. Lian yang seakan bisa membaca ekspresi gua lantas bicara; “Aku tau kok…” Ucapnya lirih.
“Shit!” Gumam gua pelan.
---
Sabtu yang gua tunggu akhirnya tiba.
Gua cuma bisa nunggu sampai Lian memberi kabar. Nggak mau nelpon atau nge-chat duluan; malu. Padahal, sejak bangun pagi tadi, gua sudah mandi, memilih pakaian dan berdanda; sudah siap!
Hingga akhirnya, masuk sebuah pesan. Pesan dari Lian; ‘Kamu dimana?’
‘D rmh’ Gua menjawab cepat, singkat dan padat. Nggak mau berlama-lama. Kemudian bangkit dari ranjang sambil menggenggam ponsel. Berjalan mondar-mandir seraya berkali-kali menatap layar ponsel, menunggu balasan darinya.
Menunggu memang membosankan. Rasanya hampir mati.
Setelah hampir 2 menit berlalu, masuk balasan darinya; ‘Aku tunggu di depan ya’
Gua berlari ke sisi jendela dan mengintip dari luar, namun nggak ada siapa-siapa di sana.
‘Depan manaaaa?’ Balas gua sambil mengunggah foto penampakan jalan di depan rumah gua yang kosong.
‘Depan komplek’ Balasnya lagi. Juga dengan melampirkan foto gerbang utama komplek perumahan.
‘Aaaah, panaaassss. Aku jalan ke sana?’ Keluh gua.
‘Mau aku jemput ke depan rumah? ada Mamah nggak?’
‘Jgn. Ad Mamah. Yaud ak jln aja pk payung’ Balas gua lalu bergegas pergi.
Gua tentu sudah membuat alasan untuk Nyokap. Alasan yang paling masuk akal yang terpikir adalah; ‘Main bersama Gaby’. Kenapa gua nggak pakai alasan, main bersama The Lontongers? karena nggak mau merepotkan yang lain untuk bikin kesepakatan. Lebih mudah bersekongkol dengan satu orang ketimbang dengan tiga orang.
Siang bahkan belum menjelang, tapi teriknya matahari sudah mulai terasa. Terasa membakar ujung siku yang nggak terlindung payung. Gua mempercepat langkah hingga ke gerbang komplek perumahan, menyisir orang-orang yang berdiri di bawah bayangan gerbang besar bergaya mediteran. Sebagian besar adalah pengemudi ojek online, yang terlihat dari warna jaket yang kenakan, sebagian lain penghuni perumahan yang kebetukan tengah jajan di pedagan kaki lima dekat gerbang. Pandangan gua berakhir di sosok seorang pria yang tengah berbincang seru dengan sekumpulan pengemudi ojek online. Sosok yang kemudian menyadari kehadiran gua, lalu meninggalkan obrolannya dan mendekat.
“Panas ya?”Tanyanya, sambil menatap payung yang saat ini sudah gua tutup.
“Iya… Mau kemana?” Gua balik bertanya sambil mengibas wajah dengan telapak tangan; gerah.
“Nanti juga kamu tau…” Jawabnya, lalu mulai melangkah.
Gua mengikutinya tanpa banyak bertanya, ke arah deretan mobil dan motor yang tengah terparkir. Ia berhenti tepat di depan sedan berwarna biru. Sedan yang terlihat sangat mencolok ketimbang mobil-mobil yang terparkir di sana. Bukan hanya dari warna-nya tapi bentuk dan rupa-nya yang menurut gua memang agak sedikit berbeda.
Ia membukakan pintu sebelah kiri buat gua. Baru gua sadari kalau mobil ini hanya punya sepasang pintu, di sebelah kanan; sisi pengemudi dan sebelah kiri, sisi di mana saat ini gua berada. Lian masuk dari sisi satunya lalu menutup pintu.
“Mobil kamu?” Tanya gua.
“…” Ia mengangguk, seraya memutar kunci mobil, disusul terdengar suara deru mesin mobil yang menggema.
Sebelum berangkat, ia beranjak dari kursi pengemudi, mendekat ke arah gua. Lalu mulai memasangkan sabuk pengaman yang entah kenapa punya bentuk yang berbeda. Bentuknya mirip harnes yang biasa dipakai orang untuk panjat tebing. Bedanya, yang ini terasa lebih empuk. Begitu pula dengan kursi-nya yang berbentuk melengkung, memberi rasa nyaman seperti dalam pelukan.
“Mobil balap ya?” Gumam gua pelan.
“Bukan…” Ia menjawab singkat, sambil kali ini memasang sabuk pengaman miliknya. Detik berikutnya, kami mulai pergi dari area parkir gerbang komplek menyusuri jalan raya yang cukup padat.
“Kita kemana?” Tanya gua lagi.
“Tebak” Jawabnya.
“Ya mana bisa, nggak ada petunjuk sama sekali…” Balas gua.
“Yaudah…”
Kami keluar dari jalan raya, berbelok ke kanan, menyusuri jalan yang lebih besar. Ia mengemudi dengan lambat dan hati-hati, bikin gua sedikit kehilangan kesabaran dan beberapa kali memberinya petunjuk. “Itu kosong, maju…”, “Ambil kanan, aja kayaknya lebih cepet”, “Klakson, klakson, udah ijo nggak jalan, jalan sih…”
Sementara ia hanya tersenyum meresponnya tanpa mengikuti arahan gua sama sekali.
“Nggak bisa lebih kenceng dikit? kosong lho di depan?” Ucap Gua seraya menunjuk jalan kosong di depan kami. Terlihat beberapa sepeda motor juga menatap sinis ke arah Lian begitu berhasil mendahului; mungkin karena gaya berkendaranya yang lambat.
“Ganggu orang kalo ngebut…” Balasnya.
“Ya justru kalo lambat begini malah ganggu…” Sanggah gua.
Ia memutar kemudi, masuk ke gerbang tol. Sementara gua masih menebak-nebak kemana ia akan membawa gua.
Begitu berhasil melewati gerbang tol, perlahan ia menambah kecepatan, diiringi dengan raungan suara mesin yang bikin jantung berdebar. Laju mobil semakin cepat, bikin gua terdorong ke belakang, ke cekungan kursi yang nyaman.
Jadi, ini alasannya nggak mau melaju kencang di jalan raya; nggak mau mengganggu orang dengan raungan suara mesinnya. Saking cepat laju mobil, gua bahkan nggak mampu membaca plang petunjuk yang terpasang di beberapa ruas tol. Begitu pula dengan kendaraan-kendaraan lain yang hanya nampak sekelebatan lalu hilang. Gua menoleh, menatap ke arahnya. Ia nggak menujukkan ekspresi apapun, terlihat tenang dan anggun.
Entah kenapa saat itu gua seperti kehilangan rasa takut. Nggak peduli dengan seberapa cepatnya ia melajukan mobil, saat ini gua hanya ingin terus menatap wajahnya.
Hanya butuh waktu beberapa menit untuk kami tiba di exit tol Pondok Indah. Ia lalu kembali menurunkan kecepatan dan melaju layaknya mobil-mobil ‘normal’ yang lain.
“Kamu nggak khawatir ngajak aku dan ngebut kayak tadi?” Tanya gua memecah keheningan.
Ia tersenyum, lalu bicara tanpa menatap gua; “Kamu takut waktu aku ngebut tadi?”
“Nggak” Gua menjawab singkat.
“Kenapa?”
“Karena aku percaya sama kamu” Jawab gua.
“Then, teruslah begitu. Teruslah percaya sama aku…”
Nggak lama berselang, kami berbelok ke kanan, masuk ke area perumahan mewah lalu berakhir di sebuah rumah sakit swasta megah di sana. Ia memarkirkan mobilnya yang entah kenapa terus menjadi pusat perhatian sejak tadi.
“Ke rumah sakit? Ngapain?” Tanya gua.
“Ya cerita aku dimulai dari sini…” Jawabnya seraya mematikan mesin mobil.
Dari area parkir, gua terus mengikuti langkahnya yang santai masuk ke gedung rumah sakit. Seakan sudah paham betul dengan lokasi dan denahnya,, ia terus mengajak gua, naik ke lantai dua, menyusuri lorong-lorong yang berbeda hingga akhirnya kami tiba di sebuah bangsal besar dengan papan informasi bertuliskan; ‘Poli Saraf’.
Gua langsung berhenti begitu tau kemana tujuannya. Lian, ikut berhenti lalu menoleh ke arah gua; “Kenapa?” Tanyanya.
“…” Gua nggak menjawab hanya menggeleng kepala. Sementara di dalam hati terus menebak; apa jangan-jangan dia sudah tau dengan kondisi gua? lalu, gimana gua harus menjelaskannya.
Lian meraih tangan gua dan menggenggamnya, lalu melanjutkan langkah masuk ke bangsal. Ruangan besar dan mewah menyambut kami, tentu saja dengan aroma alkohol dan bau obat yang bikin nggak nyaman.
“Kenapa, bau?” Tanyanya saat melihat gua menutupi hidung dengan tangan.
“Iya…”
Lian lalu mendekat ke arah nurse station di bagian tengah bangsal. Ia bicara ke salah satu perawat di sana dan kembali dengan masker. Tanpa bertanya, Lian mulai memasangkan masker untuk menutupi hidung dan mulut gua.
“Udah? masih bau?” Tanyanya.
“Udah mendingan…” Jawab gua.
“…”
“… Kita ngapain kesini?” Tanya gua lagi, mengulang pertanyaan yang sama dengan sebelumnya.
“Ketemu seseorang” Jawabnya singkat.
“Dokter?”
“Iya…”
“Oh…”
Gua duduk di sebelah Lian, sementara dia sibuk dengan ponselnya. Satu per satu dokter berseragam putih lewat, beberapa di antaranya memberi sapaan —bukan sapaan biasa, tapi lebih seperti rasa hormat. Kebanyakan dari mereka dokter senior, yang bikin gua makin bingung.
“Oh, Lian… Hai.. Apa kabar?” Tanya salah seorang dokter yang kebetulan lewat.
“Baik dok… Dokter apa kabar?”
“Baik, baik…”
“Udah lama di Jakarta…”
“Mmm… lumayan, beberapa bulan…”
“Oh i see.. Nanti kapan-kapan kita ngopi yuk sambil ngobrol”
“Boleh dok, diatur aja waktunya…”
Gua menarik ujung lengan kemejanya begitu percakapan dengan dokter itu selesai. Lalu bertanya; “Kamu kenal?”
“Kenal tapi, lupa namanya…”
“Perasaan dari tadi banyak yang nyapa kamu?”
“Ya namanya orang terkenal…” Balasnya sambil tertawa.
Saat tengah berbincang seorang perawat mendekat lalu bicara lirih ke Lian. Pembicaraan yang bahkan gua nggak bisa mendengarnya. Ia lalu berdiri dan memberi kode agar gua mengikutinya. Kami kembali menyusuri lorong yang lebih kecil, lorong bersih dengan banyak pintu berlabel nama dokter di tiap sisinya. Langkahnya terhenti tepat di sebuah pintu berpanel kayu dengan label bertuliskan ‘dr. Ricky Saputra Sp.S (K), FIPP, CIPS’
‘Gelarnya saja bahkan lebih panjang dari namanya’ Batin gua.
Tanpa mengetuk, Lian langsung membuka pintu dan mengajak gua masuk.
Bau obat dan alkohol di dalam ruangan semakin menyengat, masuk menembus masker yang gua kenakan. Namun, gua mencoba bertahan.
“Macet?” Tanya dokter yang duduk di balik meja di sudut ruangan.
“Lumayan…” Jawab Lian, lalu langsung duduk di kursi pasien tanpa menunggu dipersilakan. Ia lalu memberi kode ke gua agar duduk di sebelahnya.
Dokter itu lantas menatap gua dan tersenyum. “Oh ini, Fira…” Ucapnya, lalu berdiri dan menyodorkan tangannya. Kemudian memperkenalkan diri dengan menyebut namanya; “Ricky…”
Gua ikut berdiri, menyalaminya lalu kembali duduk. Masih bingung, dari mana ia bisa tau nama gua.
“Ada obatnya?” Tanya Lian ke Dokter Ricky.
“Ada, tapi ya nggak bisa langsung di resepin. Harus ada laporan diagnosa…” Jawabnya.
“Yaudah…” Balas Lian seraya menunjuk gua.
Dokter Ricky, beralih ke gua lalu bertanya; “Hi Fira, udah pernah di test EEG sebelumnya?” Tanyanya.
Gua menatap ke arah Lian dengan pandangan bingung. ‘Kok dia bisa tau?’. Lian yang seakan bisa membaca ekspresi gua lantas bicara; “Aku tau kok…” Ucapnya lirih.
“Shit!” Gumam gua pelan.
---
vizardan dan 38 lainnya memberi reputasi
39
Kutip
Balas
Tutup