- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
sorrylabroo dan 148 lainnya memberi reputasi
149
213.9K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#200
003-F When the Heart Betrays
Spoiler for 003-F When the Heart Betrays:
Malam itu, gua terjaga. Kembali nggak bisa tidur walau rasa kantuk sudah melanda. Gua hanya duduk sambil bertopang dagu di atas ranjang, masih memikirkan kejadian di gerbang rumah tadi sambil sesekali meraba bibir dengan ujung jemari.
Gua sudah berkhianat. Lancung dari prinsip yang selama ini gua jaga; tentang ke-tidak percayaan akan cinta. Cinta yang seharusnya diabaikan. Tapi, siapa juga orang yang mampu bertahan, menghadapi hal-hal romansa semacam itu. Pun di dapatkan dari orang yang penuh misteri seperti dirinya; seperti Lian.
Muncul pergolakan di dalam hati. Hati yang berkubu menjadi dua; salah satunya ingin tetap bertahan pada prinsip tanpa cinta, sementara satu lagi berusaha melewati batas dan mengabaikan itu semua. Pergolakan yang baru terasa semakin intens sekarang, saat semakin yakin kalau gua benar-benar tengah jatuh cinta.
Dan saat ini pihak yang unggul sementara adalah bagian hati yang mengabaikan prinsip gua sebelumnya; bagian yang percaya kalau gua benar-benar jatuh cinta padanya.
Dulu, gua pernah menertawakan Gaby yang bilang cinta itu nggak bisa ditebak. Katanya, suatu hari gua bakal ngerasain sendiri gimana rasanya jatuh, nggak bisa lari, dan nggak bisa mengelak. Dan gua selalu ngasih jawaban enteng; ‘Basi, Gab. Cinta tuh cuma sugesti’Dan sekarang? Gua justru duduk di ranjang, nyengir kayak orang bego, meraba bibir yang masih terasa hangat sejak kejadian tadi.
—
Besoknya, gua bangun pagi dengan perasaan yang berbeda. Perasaan yang terbawa akibat ingatan semalam, ingatan yang nggak mungkin bisa dengan cepat dilupakan.
“Wah, tumben udah bangun?” Tanya Nyokap sambil tersenyum menyambut gua di ruang makan.
“Iya dong…” Jawab gua sambil menggoyangkan kepala mengikuti irama lagu cinta yang masih terngiang-ngiang.
“Duh, happy banget kayaknya… Mamah ketinggalan cerita apa nih?” Tanya Nyokap, seraya menuangkan air putih hangat ke dalam gelas.
“Ada deh…” Jawab gua.
“Naksir cowok ya?” Tebaknya.
“…” Gua nggak menjawabnya, hanya tersenyum sumringah ke arahnya.
“… Obatnya udah di minum kan?” Tambahnya.
“Udah dong…” Jawab gua, singkat.
“Apa sih, penasaran deh Mamah… Ceritain dong” Pintanya.
“Rahasia…” Gumam gua pelan.
Nyokap berpindah, memposisikan dirinya tepat di belakang gua, lalu bicara sambil berbisik; “Pasti cowok kan? Sekarang gapap di rahasiain, tapi kapan-kapan cerita yah..” Ia lalu memberikan kecupan dan pamit untuk pergi berangkat bekerja.
Setelah menyelesaikan sarapan dan buru-buru keluar dari rumah, berharap bisa bertemu dengan Lian seperti biasa. Namun, hari ini ia nggak muncul di depan rumah. Sambil terus berjalan, gua mencari kontak dengan inisal ‘L’ di ponsel dan mulai mengirimnya pesan; ‘Tumben, gak ad?’
5 menit, 10 menit, masih belum ada balasan darinya. Bahkan hingga gua tiba di sekolah, ia masih belum membalas pesan gua. ‘Ah, mungkin belum bangun kali?’ batin gua, mengira-ngira.
Saat baru masuk ke dalam kelas, terlihat Gaby dan Liv sudah berkerumun di kursi tempat gua duduk.
“Hai guys…” Sapa gua penuh ceria.
Bukannya menjawab sapaan, mereka berdua hanya memandang gua dengan tatapan yang nggak biasa. Tatapan yang penuh kekecewaan.
Gua perlahan mendekat, lalu kembali buka suara; “Hai guys…” Kini dengan nada bicara yang sedikit lebih lemah.
“Girang lo ya sekarang?” Tanya Gaby, tiba-tiba.
Sementara, Liv mulai menarik tangan gua hingga keluar dari kelas dan Gaby mengikuti di belakang. Gua yang nggak tau apa-apa hanya mengikutinya, berpikir kalau semua ini hanya candaan mereka saja. Tapi, saat gua melihat tatapan dan ekspresi Liv, sepertinya ini bukan sekedar candaan.
“Happy?” Tanya Liv.
Gua menatap ke arah Gaby dan Liv bergantian; “Apaan sih?” Tanya gua; bingung.
Gaby lantas mengeluarkan ponselnya, kemudian menunjukkan sebuah foto. Foto yang menampilkan seorang gadis muda tengah berjalan, bergandengan tangan dengan seorang pria tinggi keluar dari bioskop. Dan, mudah saja mengenali siapa sosok gadis itu; Gua.
“Gue bisa jelasin…” Ucap gua ke Gaby dan Liv.
Namun, Liv malah langsung menutup kedua telinganya dengan telapak tangan dan menggeleng.
“Nanti pulang sekolah kota ngobrol ya, berempat” Ucap Gaby seraya mengacungkan empat jarinya ke gua lalu pergi.
“Ck…” Gua berdecak sambil menghentakkan kaki ke lantai lalu masuk ke dalam kelas.
Sepanjang pelajaran, gua nggak bisa berkonsentrasi hanya terus menatap diam-diam ke arah layar ponsel yang gua sembunyikan di laci meja; layar yang menampilkan percakapan group chat The Lontongers, dimana pertanyaan gua melalui chat yang isinya; ‘Sorry guys 🙏🏻’ nggak mendapat balasan dari Gaby, Liv dan Fidel.
Tiba-tiba, ponsel yang masih dalam genggaman bergetar, tanda sebuah pesan masuk. Gua yang masih berharap balasan pesan dari The Lontongers langsung kembali menundukkan kepala dan mengecek pesan yang masuk; Bukan dari The Lontongers, melainkan dari Lian. Ia membalas pesan gua yang tadi.
‘Aku di rumah sakit…’ Balasnya.
Gua mengernitkan dahi, jantung gua langsung mencelos, begitu membaca pesan darinya; ‘Ya Tuhan, banyak banget kejadian hari ini, deh…’ Batin gua. Lalu mulai membalas pesan itu; ‘Hah, sakit apa?’
Namun, nggak ada balasan lagi darinya. Gua mulai melupakan kekhawatiran tentang The Lontongers, lalu meminta ijin ke guru yang mengajar untuk pergi ke tolilet. Dan menggunakan kesempatan itu untuk mengubungi Lian. Namun, setelah beberapa kali mencoba nggak ada jawaban darinya.
Di jam istirahat, gua kembali mencoba mengubungi nomor ponsel milik Lian. Kali ini nada sambungnya bahkan nggak terdengar, berganti dengan suara operator yang memberi info kalau panggilan gua bakal di alihkan.
Gua kembali mencoba mengubunginya begitu sekolah usai, dan masih nggak ada hasilnya. Nomor ponselnya sama sekali nggak tersambung.
“Ck.. kemana sih?” Gumam gua pelan sambil menghentakkan kaki.
Sementara Gaby, Liv dan Fidel sudah berdiri mengelilingi gua yang masih duduk di kursi kelas. Gua mendongak, menatap ketiganya bergantian.
“Kenapa, Cowok baru lo itu nggak bisa ditelpon?” Tanya Gaby sinis.
“…” Gua menggeleng pelan.
“Udah yuk, buruan… Gue udah gatel pengen denger penjelasan lo…” Liv menambahkan. Sementara, Fidel nggak ikut bicara. Ia hanya memandang ke arah gua dengan tatapan nggak percaya.
Mereka bertiga ‘mengawal’ gua keluar dari kelas, terus berjalan hingga ke area parkir. Lalu, mirip seperti polisi yang memperlakukan penjahat, Liv dan Gaby menggelandang gua masuk ke mobil melalui pintu penumpang di sebelah kiri.
“Apaan sih, gue kayak penjahat…” Gumam gua pelan.
“Emang lo penjahat… Penipu” Seru Gaby.
Di dalam mobil, mereka bertiga mulai berdebat tentang tempat yang paling cocok untuk menginterogasi gua.
“Di rumah gue aja guys…” Gua memberi usul. Yang lantas direspon dengan tatapan mata tajam yang mengintimidasi.
“Tersangka, nggak dimintai pendapat…” Ucap Liv.
Dan setelah melalui perdebatan panjang, mereka bertiga memutuskan untuk melakukan interogasi di rumah Gaby. Sementara, di sepanjang perjalanan gua secara diam-diam mencoba mengirim pesan dan menghubungi Lian, namun nggak ada hasilnya. Ia masih nggak membalas pesan atau menjawab panggilan gua.
“Duduk lo…” Seru Gaby, sambil menunjuk ranjang di dalam kamarnya. Gua mengikuti perintahnya, lalu duduk di tepian ranjang milik Gaby.
“Kemarin gimana ke dokternya? Lancar?” Tanya Liv sambil berjalan mondar-mandir di depan gua. Benar-benar mirip seperti polisi yang tengah menginterogasi penjahat.
“…” Gua terdiam, sengaja berencana nggak menjawan. Karena pertanyaannya adalah jebakan, apapun jawaban gua pasti salah di mata mereka. Ya di momen ini gua akui, kalau gua memang salah. Bukan, bukan salah bersikap. Tapi, gua salah karena sudah berbohong kepada mereka.
“… Fir, jawab. Lancar nggak ke dokternya?” Liv mengulang pertanyaannya.
“Gue nggak ke dokter….” Jawab gua, lirih dan sambil menundukkan kepala.
“Kalo nggak ke dokter, terus kemana tuh kalo boleh tau??” Gaby yang kini gantian bertanya, berlagak gemas sambil duduk di sebelah gua dan tersenyum.
“Mmmm….” Gua gelagapan, kesulitan memberi jawaban.
“Nih, gue kasih liat deh siapa tau lo jadi inget…” Ucapnya, kemudian mengeluarkan ponselnya, kembali memperlihatkan layar ponselnya yang berisi foto gua tengah bergandengan tangan dengan sosok pria tinggi yang wajahnya memang nggak nampak dengan jelas. Namun, mereka yang sudah gua ceritakan tentang Lian berserta deskripsi fisiknya tentu bisa langsung tau siapa sosok pria di dalam foto.
Gua nggak punya nyali menatap kembali foto tersebut, hanya menundukkan kepala seraya memilin ujung kemeja seragam yang gua kenakan.
“Jawab lah, Fir…” Ujar Liv.
“Iya, gue kamaren nggak ke dokter dan pergi nonton…” Jawab gua, masih sambil menundukkan kepala.
“Sama siapa tuh kalo boleh tau..??” Tanya Gaby dengan nada gemas seperti sebelumnya.
“…” Gua terdiam.
“Sama siapa?” Tanya Liv.
“Lian…” Gua menjawab pelan. Tentu saja masih tanpa punya keberanian menegakkan kepala.
“Tuh, denger nggak Del? Lo denger nggak del?” Tanya Liv ke Fidel begitu mendengar jawaban gua barusan. Sepertinya Fidel adalah satu-satunya orang yang nggak percaya kalau gua pergi nonton dengan Lian. Namun, begitu mendengar jawaban gua, eskpresi wajahnya langsung berubah. Ia bahkan menggeser duduknya lebih dekat dan langsung menggenggam tangan gua.
“Gue jelasin ya guys, please dengerin dulu…” Ucap gua, memohon.
“…”
“… Jadi, gue emang mulai deket sama dia. Jujur, gue lupa kapan tepatnya. Pokoknya tau-tau terjadi begitu aja. Then, kita mulai sering ketemuan. Beberapa hari yang lalu, dia ngajakin gua pergi dan gue iya-in…”
“Terus?”
“Tapi, tiba-tiba Jumat kemarin Liv ngajakin kita nongkrong, padahal gue udah terlanjur janji sama dia…”
“Oooohhhh, pantesan…”
“Gue kan tetep nongkrong sama kalian…”
“Iya, tapi sebelumnya lo bohong. Dan abis itu lo bohong lagi dengan bilang mau ke dokter…” Ucap Liv.
“Coba kalo seandainya, gue nggak ngeliat lo kemaren di bioskop. Apa lo bakal cerita?” Tanya Gaby.
“Cerita lah, Gab… Gue pasti cerita ke kalian” Jawab gua.
“Kapan?” Tanyanya.
“…” Gua nggak menjawab.
Fidel menggeser duduknya semakin dekat, Ia lalu buka suara;
“Udah berapa lama lo berhubungan sama dia?” Tanya Fidel yang langsung bertanya dengan nada dan tampang serius.
“…” Gua mengangkat kedua bahu.
“… Udah berapa lama, Fir?” Tanyanya lagi, kini semakin memberi tekanan. Berbeda rasanya saat di gaslight oleh Gaby dan Liv, karena gua tau tipikal mereka yang sering bercanda. Tapi, saat Fidel yang dikenal tenang sampai melakukan hal itu, berarti ini adalah sesuatu yang serius.
“Nggak tau, del… Gue lupa…” Jawab gua sambil meringis.
“Yah, mewek dah lo…” Seru Gaby begitu melihat mata gua yang mulai berkaca-kaca.
“Hush, Gab!” Fidel memberi teguran ke Gaby. Yang bikin dia langsung menutup mulutnya.
“Fir… Kita bukan nggak setuju, kita bukan nggak mau lo menjalin hubungan. Tapi, sama cowok itu? kayaknya salah deh…” Ucap Liv.
“Iya, Fir… awalnya kita pikir kalian nggak ada apa-apa, seperti yang pernah lo bilang dulu. Tapi, ini tuh terlalu jauh deh…” Fidel menambahkan.
“Kenapa sih, emangnya?” Tanya gua, masih dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
“…”
“… Apa yang salah emangnya dengan dia?” Gua menambahkan.
“…”
“… Kalian bahkan belum mengenal dia?” Tambah gua lagi.
“Terus lo udah? Lo udah kenal sama dia? Udah sejauh apa lo mengenal dia?” Tanya Fidel.
“…” Gua terdiam, nggak bisa memberi jawaban.
“… Kita tuh cuma takut lo kena Grooming, Fir…” Fidel menambahkan. Menggunakan istilah baru yang belum pernah gua denganr sebelumnya.
“Apa? Grooming?” Tanya gua.
Fidel mengeluarkan ponselnya, mengetik sesuatu di kolom pencarian dan memperlihatkan hasilnya ke gua. Hasilnya sebuah halaman yang menampilkan penjelasan tentan apa itu grooming dalam psikologi kriminal.
‘Grooming adalah proses manipulasi psikologis yang dilakukan pelaku untuk membangun kepercayaan, hubungan emosional, atau ketergantungan dengan korban—dalam hal ini anak di bawah umur—sebelum melakukan tindakan pencabulan atau pelecehan. Tujuannya adalah untuk menurunkan kewaspadaan korban, membuat mereka merasa aman, dan mencegah mereka melapor’
“Gila kali lo, del!” Seru gua begitu selesai membaca penjelasan tentang grooming.
“Iya, anggap aja gue gila. Gapapa, yang penting lo selamat, lo nggak kenapa-kenapa” Jawabnya.
“Nggak Del, Gab, Liv… Gue nggak di-grooming, gue sepenuhnya sadar kok…” Gua memberikan mereka alasan.
Fidel menggeleng.
“Korban yang kena Grooming yang kayak lo ini, Fir. Nggak percaya kalo mereka udah kena grooming” Ucap Fidel.
“…”
“… Sorry ya Fir, Sorry… Tapi, lo gede tanpa bokap. Dan gue takut cowok itu manfaatin hal ini, berlagak jadi sosok yang kayak bokap; yang ngayomin dan ngelindungin, padahal…”
“…”
“… Pokoknya lo harus berhenti, sekarang sebelum terlambat” Tambahnya.
“Iya, Fir… Please. Kita tuh takut, takut lo kenapa-kenapa, takut lo dimanfaatin…” Liv menambahkan.
“…” Gua hanya terdiam. Nggak mungkin melakukan pembelaan saat ini, karena gua sama sekali nggak punya apapun untuk meyakinkan mereka.
“Kalo lo merasa ini adalah sesuatu yang bener. Oke, kita ngerti. Tapi, paling nggak lo harus kenal dia lebih dalam. Nggak, nggak… Lo harus kenalin dia; cowok itu entah siapa namanya ke kita, atau ngaku tentang hubungan ini ke Nyokap lo…” Fidel memberikan solusi.
“Ke Nyokap, nggak mungkin…” Respon gua.
“Yaudah… There’s no way” Jawab Fidel sambil menggeleng.
“…”
"… Lo tahu nggak, Fir?" suara Fidel terdengar lebih pelan, tapi ada nada bergetar di sana.
“…”
"…Lo kayak orang yang mau masuk ke jurang dan kita cuma bisa lihat dari jauh. Lo tau rasanya kayak gimana?” Tambahnya.
“…” Gua masih terdiam, nggak tahan dengan kata-kata Fidel.
"…Tolong, Fir…" Fidel menatap gua dalam.
“…”
"… Kalau lo masih peduli sama kita, sama diri lo, pikirin ulang. Jangan biarin dia bawa lo terlalu jauh..” Tambahnya.
Sempat terbesit sedikit keraguan setelah mendengar opini mereka tentang Lian. Opini yang menggoyahkan hati. Tapi, ternyata begini rasanya jatuh cinta; membutakan mata dan mematikan rasa. Gua tetap berusaha meyakinkan diri sendiri kalau mereka salah, dan ingin segera membuktikannya.
Gua berdiri dan menatap ke arah mereka bertiga secara bergantian, lalu bicara sambil terisak; “Gua nggak di-grooming!!”
“Nggak Fir, Lo di Grooming…” Balas Liv.
Gua nggak lagi mau mendengarkan mereka, lalu meraih tas yang tergeletak dan keluar dari kamar Gaby. Sambil berusaha menahan air mata yang terus mengalir membasahi pipi, gua berlari menuju ke rumah. Dan tepat di tikungan pertama setelah rumah Gaby, terlihat sosok pria berdiri, bersandar pada tiang lampu jalan. Sosok yang terlihat kabur karena pandangan gua yang terhalan air mata.
Sambil mengucek mata, gua melambatkan langkah dan mendekat ke arahnya.
“Kenapa?” Tanyanya seraya mendekat dan menundukkan kepalanya, mencoba melihat lebih dekat.
Alih-alih menjawab, gua malah terus mendekat dan menjatuhkan kepala di dadanya. Kemudian melepaskan tangis yang sejak tadi tertahan. Lian nggak bicara apapun, ia hanya diam dan membiarkan gua terus menangis.
“Kenapa?” Tanyanya lagi, saat menyadari gua sudah cukup tenang, sudah nggak lagi menangis.
Gua mendongak, menatap wajahnya lalu melancarkan tamparan di pipinya. “Plak!”
Lian nampak nggak terkejut, ia hanya memegani pipinya yang memerah akibat tamparan. “Kenapa?” Tanyanya lagi.
“Kamu ngasih kabar lagi di rumah sakit, abis itu di chat nggak bales, di telpon nggak bisa… Aku kan…” Gua berhenti bicara, malu untuk melanjutkan. Malu untuk bilang kalau gua khawatir.
“Khawatir?” Lian menebak.
“…” Gua mengangguk pelan.
“… Sampe nangis?” Tebaknya lagi.
Gue menggeleng; “Nangisnya bukan karena khawatir….”
“Terus?” Tanyanya.
Gua lantas menceritakan apa yang terjadi dengan The Lontongers barusan. Tentang kesalah-pahaman mereka terhadapnya, tentang opini mereka perihal grooming yang pasti menyakitkan untuknya. Tapi, begitu selesai mendengar cerita gua, Lian malah langsung tertawa.
“Boleh aku ketemu sama temen-temen kamu?” Pintanya sambil tersenyum.
“Mmm… Mau ngapain?” Tanya gua, seraya menyeka sisa air mata.
“Ya menjelaskan ke mereka, mau ngapain lagi…” Jawabnya.
“Duh, jangan deh…” Gua menolak, takut masalah malah semakin rumit.
“Oh yaudah…”
“…”
“… Aku ngomong ke Mamah kamu aja” Tambahnya.
Begitu mendengar niatnya, gua langsung meraih tangan; menahannya.
“Gila…”
“Ya gimana, daripada dituduh yang nggak-nggak…” Balasnya.
“…”
“… Gimana? ke Mamah apa ke temen-temen kamu aja?” Tanyanya.
“Temen-temen…” Gua menjawab lirih.
Menit berikutnya, kami berdua sudah berjalan kembali menuju ke rumah Gaby. Kebetulan, mereka bertiga baru saja keluar rumah; Gaby tengah menemani Liv dan Fidel yang bersiap untuk pulang. Gaby orang pertama yang menyadari kehadiran kami. Ia dengan cepat memberi kode ke Liv dengan menyenggol tangannya Sementara, Fidel jadi orang terakhir yang tau.
“Guys… Kenalin; ini Lian…” Ucap gua memeperkenalkan Lian.
Gaby dan Liv yang berdiri bedampingan saling sikut dan berbisik. Sementara, Fidel baru saja kembali keluar dari dalam mobil. Ia menatap ke arah Lian, lama, cukup lama.
“Del…” Sapa Lian, seperti sudah mengenal.
“Mas?” Balas Fidel dengan ekspresinya yang shock dan hampir pingsan.
--
Gua sudah berkhianat. Lancung dari prinsip yang selama ini gua jaga; tentang ke-tidak percayaan akan cinta. Cinta yang seharusnya diabaikan. Tapi, siapa juga orang yang mampu bertahan, menghadapi hal-hal romansa semacam itu. Pun di dapatkan dari orang yang penuh misteri seperti dirinya; seperti Lian.
Muncul pergolakan di dalam hati. Hati yang berkubu menjadi dua; salah satunya ingin tetap bertahan pada prinsip tanpa cinta, sementara satu lagi berusaha melewati batas dan mengabaikan itu semua. Pergolakan yang baru terasa semakin intens sekarang, saat semakin yakin kalau gua benar-benar tengah jatuh cinta.
Dan saat ini pihak yang unggul sementara adalah bagian hati yang mengabaikan prinsip gua sebelumnya; bagian yang percaya kalau gua benar-benar jatuh cinta padanya.
Dulu, gua pernah menertawakan Gaby yang bilang cinta itu nggak bisa ditebak. Katanya, suatu hari gua bakal ngerasain sendiri gimana rasanya jatuh, nggak bisa lari, dan nggak bisa mengelak. Dan gua selalu ngasih jawaban enteng; ‘Basi, Gab. Cinta tuh cuma sugesti’Dan sekarang? Gua justru duduk di ranjang, nyengir kayak orang bego, meraba bibir yang masih terasa hangat sejak kejadian tadi.
—
Besoknya, gua bangun pagi dengan perasaan yang berbeda. Perasaan yang terbawa akibat ingatan semalam, ingatan yang nggak mungkin bisa dengan cepat dilupakan.
“Wah, tumben udah bangun?” Tanya Nyokap sambil tersenyum menyambut gua di ruang makan.
“Iya dong…” Jawab gua sambil menggoyangkan kepala mengikuti irama lagu cinta yang masih terngiang-ngiang.
“Duh, happy banget kayaknya… Mamah ketinggalan cerita apa nih?” Tanya Nyokap, seraya menuangkan air putih hangat ke dalam gelas.
“Ada deh…” Jawab gua.
“Naksir cowok ya?” Tebaknya.
“…” Gua nggak menjawabnya, hanya tersenyum sumringah ke arahnya.
“… Obatnya udah di minum kan?” Tambahnya.
“Udah dong…” Jawab gua, singkat.
“Apa sih, penasaran deh Mamah… Ceritain dong” Pintanya.
“Rahasia…” Gumam gua pelan.
Nyokap berpindah, memposisikan dirinya tepat di belakang gua, lalu bicara sambil berbisik; “Pasti cowok kan? Sekarang gapap di rahasiain, tapi kapan-kapan cerita yah..” Ia lalu memberikan kecupan dan pamit untuk pergi berangkat bekerja.
Setelah menyelesaikan sarapan dan buru-buru keluar dari rumah, berharap bisa bertemu dengan Lian seperti biasa. Namun, hari ini ia nggak muncul di depan rumah. Sambil terus berjalan, gua mencari kontak dengan inisal ‘L’ di ponsel dan mulai mengirimnya pesan; ‘Tumben, gak ad?’
5 menit, 10 menit, masih belum ada balasan darinya. Bahkan hingga gua tiba di sekolah, ia masih belum membalas pesan gua. ‘Ah, mungkin belum bangun kali?’ batin gua, mengira-ngira.
Saat baru masuk ke dalam kelas, terlihat Gaby dan Liv sudah berkerumun di kursi tempat gua duduk.
“Hai guys…” Sapa gua penuh ceria.
Bukannya menjawab sapaan, mereka berdua hanya memandang gua dengan tatapan yang nggak biasa. Tatapan yang penuh kekecewaan.
Gua perlahan mendekat, lalu kembali buka suara; “Hai guys…” Kini dengan nada bicara yang sedikit lebih lemah.
“Girang lo ya sekarang?” Tanya Gaby, tiba-tiba.
Sementara, Liv mulai menarik tangan gua hingga keluar dari kelas dan Gaby mengikuti di belakang. Gua yang nggak tau apa-apa hanya mengikutinya, berpikir kalau semua ini hanya candaan mereka saja. Tapi, saat gua melihat tatapan dan ekspresi Liv, sepertinya ini bukan sekedar candaan.
“Happy?” Tanya Liv.
Gua menatap ke arah Gaby dan Liv bergantian; “Apaan sih?” Tanya gua; bingung.
Gaby lantas mengeluarkan ponselnya, kemudian menunjukkan sebuah foto. Foto yang menampilkan seorang gadis muda tengah berjalan, bergandengan tangan dengan seorang pria tinggi keluar dari bioskop. Dan, mudah saja mengenali siapa sosok gadis itu; Gua.
“Gue bisa jelasin…” Ucap gua ke Gaby dan Liv.
Namun, Liv malah langsung menutup kedua telinganya dengan telapak tangan dan menggeleng.
“Nanti pulang sekolah kota ngobrol ya, berempat” Ucap Gaby seraya mengacungkan empat jarinya ke gua lalu pergi.
“Ck…” Gua berdecak sambil menghentakkan kaki ke lantai lalu masuk ke dalam kelas.
Sepanjang pelajaran, gua nggak bisa berkonsentrasi hanya terus menatap diam-diam ke arah layar ponsel yang gua sembunyikan di laci meja; layar yang menampilkan percakapan group chat The Lontongers, dimana pertanyaan gua melalui chat yang isinya; ‘Sorry guys 🙏🏻’ nggak mendapat balasan dari Gaby, Liv dan Fidel.
Tiba-tiba, ponsel yang masih dalam genggaman bergetar, tanda sebuah pesan masuk. Gua yang masih berharap balasan pesan dari The Lontongers langsung kembali menundukkan kepala dan mengecek pesan yang masuk; Bukan dari The Lontongers, melainkan dari Lian. Ia membalas pesan gua yang tadi.
‘Aku di rumah sakit…’ Balasnya.
Gua mengernitkan dahi, jantung gua langsung mencelos, begitu membaca pesan darinya; ‘Ya Tuhan, banyak banget kejadian hari ini, deh…’ Batin gua. Lalu mulai membalas pesan itu; ‘Hah, sakit apa?’
Namun, nggak ada balasan lagi darinya. Gua mulai melupakan kekhawatiran tentang The Lontongers, lalu meminta ijin ke guru yang mengajar untuk pergi ke tolilet. Dan menggunakan kesempatan itu untuk mengubungi Lian. Namun, setelah beberapa kali mencoba nggak ada jawaban darinya.
Di jam istirahat, gua kembali mencoba mengubungi nomor ponsel milik Lian. Kali ini nada sambungnya bahkan nggak terdengar, berganti dengan suara operator yang memberi info kalau panggilan gua bakal di alihkan.
Gua kembali mencoba mengubunginya begitu sekolah usai, dan masih nggak ada hasilnya. Nomor ponselnya sama sekali nggak tersambung.
“Ck.. kemana sih?” Gumam gua pelan sambil menghentakkan kaki.
Sementara Gaby, Liv dan Fidel sudah berdiri mengelilingi gua yang masih duduk di kursi kelas. Gua mendongak, menatap ketiganya bergantian.
“Kenapa, Cowok baru lo itu nggak bisa ditelpon?” Tanya Gaby sinis.
“…” Gua menggeleng pelan.
“Udah yuk, buruan… Gue udah gatel pengen denger penjelasan lo…” Liv menambahkan. Sementara, Fidel nggak ikut bicara. Ia hanya memandang ke arah gua dengan tatapan nggak percaya.
Mereka bertiga ‘mengawal’ gua keluar dari kelas, terus berjalan hingga ke area parkir. Lalu, mirip seperti polisi yang memperlakukan penjahat, Liv dan Gaby menggelandang gua masuk ke mobil melalui pintu penumpang di sebelah kiri.
“Apaan sih, gue kayak penjahat…” Gumam gua pelan.
“Emang lo penjahat… Penipu” Seru Gaby.
Di dalam mobil, mereka bertiga mulai berdebat tentang tempat yang paling cocok untuk menginterogasi gua.
“Di rumah gue aja guys…” Gua memberi usul. Yang lantas direspon dengan tatapan mata tajam yang mengintimidasi.
“Tersangka, nggak dimintai pendapat…” Ucap Liv.
Dan setelah melalui perdebatan panjang, mereka bertiga memutuskan untuk melakukan interogasi di rumah Gaby. Sementara, di sepanjang perjalanan gua secara diam-diam mencoba mengirim pesan dan menghubungi Lian, namun nggak ada hasilnya. Ia masih nggak membalas pesan atau menjawab panggilan gua.
“Duduk lo…” Seru Gaby, sambil menunjuk ranjang di dalam kamarnya. Gua mengikuti perintahnya, lalu duduk di tepian ranjang milik Gaby.
“Kemarin gimana ke dokternya? Lancar?” Tanya Liv sambil berjalan mondar-mandir di depan gua. Benar-benar mirip seperti polisi yang tengah menginterogasi penjahat.
“…” Gua terdiam, sengaja berencana nggak menjawan. Karena pertanyaannya adalah jebakan, apapun jawaban gua pasti salah di mata mereka. Ya di momen ini gua akui, kalau gua memang salah. Bukan, bukan salah bersikap. Tapi, gua salah karena sudah berbohong kepada mereka.
“… Fir, jawab. Lancar nggak ke dokternya?” Liv mengulang pertanyaannya.
“Gue nggak ke dokter….” Jawab gua, lirih dan sambil menundukkan kepala.
“Kalo nggak ke dokter, terus kemana tuh kalo boleh tau??” Gaby yang kini gantian bertanya, berlagak gemas sambil duduk di sebelah gua dan tersenyum.
“Mmmm….” Gua gelagapan, kesulitan memberi jawaban.
“Nih, gue kasih liat deh siapa tau lo jadi inget…” Ucapnya, kemudian mengeluarkan ponselnya, kembali memperlihatkan layar ponselnya yang berisi foto gua tengah bergandengan tangan dengan sosok pria tinggi yang wajahnya memang nggak nampak dengan jelas. Namun, mereka yang sudah gua ceritakan tentang Lian berserta deskripsi fisiknya tentu bisa langsung tau siapa sosok pria di dalam foto.
Gua nggak punya nyali menatap kembali foto tersebut, hanya menundukkan kepala seraya memilin ujung kemeja seragam yang gua kenakan.
“Jawab lah, Fir…” Ujar Liv.
“Iya, gue kamaren nggak ke dokter dan pergi nonton…” Jawab gua, masih sambil menundukkan kepala.
“Sama siapa tuh kalo boleh tau..??” Tanya Gaby dengan nada gemas seperti sebelumnya.
“…” Gua terdiam.
“Sama siapa?” Tanya Liv.
“Lian…” Gua menjawab pelan. Tentu saja masih tanpa punya keberanian menegakkan kepala.
“Tuh, denger nggak Del? Lo denger nggak del?” Tanya Liv ke Fidel begitu mendengar jawaban gua barusan. Sepertinya Fidel adalah satu-satunya orang yang nggak percaya kalau gua pergi nonton dengan Lian. Namun, begitu mendengar jawaban gua, eskpresi wajahnya langsung berubah. Ia bahkan menggeser duduknya lebih dekat dan langsung menggenggam tangan gua.
“Gue jelasin ya guys, please dengerin dulu…” Ucap gua, memohon.
“…”
“… Jadi, gue emang mulai deket sama dia. Jujur, gue lupa kapan tepatnya. Pokoknya tau-tau terjadi begitu aja. Then, kita mulai sering ketemuan. Beberapa hari yang lalu, dia ngajakin gua pergi dan gue iya-in…”
“Terus?”
“Tapi, tiba-tiba Jumat kemarin Liv ngajakin kita nongkrong, padahal gue udah terlanjur janji sama dia…”
“Oooohhhh, pantesan…”
“Gue kan tetep nongkrong sama kalian…”
“Iya, tapi sebelumnya lo bohong. Dan abis itu lo bohong lagi dengan bilang mau ke dokter…” Ucap Liv.
“Coba kalo seandainya, gue nggak ngeliat lo kemaren di bioskop. Apa lo bakal cerita?” Tanya Gaby.
“Cerita lah, Gab… Gue pasti cerita ke kalian” Jawab gua.
“Kapan?” Tanyanya.
“…” Gua nggak menjawab.
Fidel menggeser duduknya semakin dekat, Ia lalu buka suara;
“Udah berapa lama lo berhubungan sama dia?” Tanya Fidel yang langsung bertanya dengan nada dan tampang serius.
“…” Gua mengangkat kedua bahu.
“… Udah berapa lama, Fir?” Tanyanya lagi, kini semakin memberi tekanan. Berbeda rasanya saat di gaslight oleh Gaby dan Liv, karena gua tau tipikal mereka yang sering bercanda. Tapi, saat Fidel yang dikenal tenang sampai melakukan hal itu, berarti ini adalah sesuatu yang serius.
“Nggak tau, del… Gue lupa…” Jawab gua sambil meringis.
“Yah, mewek dah lo…” Seru Gaby begitu melihat mata gua yang mulai berkaca-kaca.
“Hush, Gab!” Fidel memberi teguran ke Gaby. Yang bikin dia langsung menutup mulutnya.
“Fir… Kita bukan nggak setuju, kita bukan nggak mau lo menjalin hubungan. Tapi, sama cowok itu? kayaknya salah deh…” Ucap Liv.
“Iya, Fir… awalnya kita pikir kalian nggak ada apa-apa, seperti yang pernah lo bilang dulu. Tapi, ini tuh terlalu jauh deh…” Fidel menambahkan.
“Kenapa sih, emangnya?” Tanya gua, masih dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
“…”
“… Apa yang salah emangnya dengan dia?” Gua menambahkan.
“…”
“… Kalian bahkan belum mengenal dia?” Tambah gua lagi.
“Terus lo udah? Lo udah kenal sama dia? Udah sejauh apa lo mengenal dia?” Tanya Fidel.
“…” Gua terdiam, nggak bisa memberi jawaban.
“… Kita tuh cuma takut lo kena Grooming, Fir…” Fidel menambahkan. Menggunakan istilah baru yang belum pernah gua denganr sebelumnya.
“Apa? Grooming?” Tanya gua.
Fidel mengeluarkan ponselnya, mengetik sesuatu di kolom pencarian dan memperlihatkan hasilnya ke gua. Hasilnya sebuah halaman yang menampilkan penjelasan tentan apa itu grooming dalam psikologi kriminal.
‘Grooming adalah proses manipulasi psikologis yang dilakukan pelaku untuk membangun kepercayaan, hubungan emosional, atau ketergantungan dengan korban—dalam hal ini anak di bawah umur—sebelum melakukan tindakan pencabulan atau pelecehan. Tujuannya adalah untuk menurunkan kewaspadaan korban, membuat mereka merasa aman, dan mencegah mereka melapor’
“Gila kali lo, del!” Seru gua begitu selesai membaca penjelasan tentang grooming.
“Iya, anggap aja gue gila. Gapapa, yang penting lo selamat, lo nggak kenapa-kenapa” Jawabnya.
“Nggak Del, Gab, Liv… Gue nggak di-grooming, gue sepenuhnya sadar kok…” Gua memberikan mereka alasan.
Fidel menggeleng.
“Korban yang kena Grooming yang kayak lo ini, Fir. Nggak percaya kalo mereka udah kena grooming” Ucap Fidel.
“…”
“… Sorry ya Fir, Sorry… Tapi, lo gede tanpa bokap. Dan gue takut cowok itu manfaatin hal ini, berlagak jadi sosok yang kayak bokap; yang ngayomin dan ngelindungin, padahal…”
“…”
“… Pokoknya lo harus berhenti, sekarang sebelum terlambat” Tambahnya.
“Iya, Fir… Please. Kita tuh takut, takut lo kenapa-kenapa, takut lo dimanfaatin…” Liv menambahkan.
“…” Gua hanya terdiam. Nggak mungkin melakukan pembelaan saat ini, karena gua sama sekali nggak punya apapun untuk meyakinkan mereka.
“Kalo lo merasa ini adalah sesuatu yang bener. Oke, kita ngerti. Tapi, paling nggak lo harus kenal dia lebih dalam. Nggak, nggak… Lo harus kenalin dia; cowok itu entah siapa namanya ke kita, atau ngaku tentang hubungan ini ke Nyokap lo…” Fidel memberikan solusi.
“Ke Nyokap, nggak mungkin…” Respon gua.
“Yaudah… There’s no way” Jawab Fidel sambil menggeleng.
“…”
"… Lo tahu nggak, Fir?" suara Fidel terdengar lebih pelan, tapi ada nada bergetar di sana.
“…”
"…Lo kayak orang yang mau masuk ke jurang dan kita cuma bisa lihat dari jauh. Lo tau rasanya kayak gimana?” Tambahnya.
“…” Gua masih terdiam, nggak tahan dengan kata-kata Fidel.
"…Tolong, Fir…" Fidel menatap gua dalam.
“…”
"… Kalau lo masih peduli sama kita, sama diri lo, pikirin ulang. Jangan biarin dia bawa lo terlalu jauh..” Tambahnya.
Sempat terbesit sedikit keraguan setelah mendengar opini mereka tentang Lian. Opini yang menggoyahkan hati. Tapi, ternyata begini rasanya jatuh cinta; membutakan mata dan mematikan rasa. Gua tetap berusaha meyakinkan diri sendiri kalau mereka salah, dan ingin segera membuktikannya.
Gua berdiri dan menatap ke arah mereka bertiga secara bergantian, lalu bicara sambil terisak; “Gua nggak di-grooming!!”
“Nggak Fir, Lo di Grooming…” Balas Liv.
Gua nggak lagi mau mendengarkan mereka, lalu meraih tas yang tergeletak dan keluar dari kamar Gaby. Sambil berusaha menahan air mata yang terus mengalir membasahi pipi, gua berlari menuju ke rumah. Dan tepat di tikungan pertama setelah rumah Gaby, terlihat sosok pria berdiri, bersandar pada tiang lampu jalan. Sosok yang terlihat kabur karena pandangan gua yang terhalan air mata.
Sambil mengucek mata, gua melambatkan langkah dan mendekat ke arahnya.
“Kenapa?” Tanyanya seraya mendekat dan menundukkan kepalanya, mencoba melihat lebih dekat.
Alih-alih menjawab, gua malah terus mendekat dan menjatuhkan kepala di dadanya. Kemudian melepaskan tangis yang sejak tadi tertahan. Lian nggak bicara apapun, ia hanya diam dan membiarkan gua terus menangis.
“Kenapa?” Tanyanya lagi, saat menyadari gua sudah cukup tenang, sudah nggak lagi menangis.
Gua mendongak, menatap wajahnya lalu melancarkan tamparan di pipinya. “Plak!”
Lian nampak nggak terkejut, ia hanya memegani pipinya yang memerah akibat tamparan. “Kenapa?” Tanyanya lagi.
“Kamu ngasih kabar lagi di rumah sakit, abis itu di chat nggak bales, di telpon nggak bisa… Aku kan…” Gua berhenti bicara, malu untuk melanjutkan. Malu untuk bilang kalau gua khawatir.
“Khawatir?” Lian menebak.
“…” Gua mengangguk pelan.
“… Sampe nangis?” Tebaknya lagi.
Gue menggeleng; “Nangisnya bukan karena khawatir….”
“Terus?” Tanyanya.
Gua lantas menceritakan apa yang terjadi dengan The Lontongers barusan. Tentang kesalah-pahaman mereka terhadapnya, tentang opini mereka perihal grooming yang pasti menyakitkan untuknya. Tapi, begitu selesai mendengar cerita gua, Lian malah langsung tertawa.
“Boleh aku ketemu sama temen-temen kamu?” Pintanya sambil tersenyum.
“Mmm… Mau ngapain?” Tanya gua, seraya menyeka sisa air mata.
“Ya menjelaskan ke mereka, mau ngapain lagi…” Jawabnya.
“Duh, jangan deh…” Gua menolak, takut masalah malah semakin rumit.
“Oh yaudah…”
“…”
“… Aku ngomong ke Mamah kamu aja” Tambahnya.
Begitu mendengar niatnya, gua langsung meraih tangan; menahannya.
“Gila…”
“Ya gimana, daripada dituduh yang nggak-nggak…” Balasnya.
“…”
“… Gimana? ke Mamah apa ke temen-temen kamu aja?” Tanyanya.
“Temen-temen…” Gua menjawab lirih.
Menit berikutnya, kami berdua sudah berjalan kembali menuju ke rumah Gaby. Kebetulan, mereka bertiga baru saja keluar rumah; Gaby tengah menemani Liv dan Fidel yang bersiap untuk pulang. Gaby orang pertama yang menyadari kehadiran kami. Ia dengan cepat memberi kode ke Liv dengan menyenggol tangannya Sementara, Fidel jadi orang terakhir yang tau.
“Guys… Kenalin; ini Lian…” Ucap gua memeperkenalkan Lian.
Gaby dan Liv yang berdiri bedampingan saling sikut dan berbisik. Sementara, Fidel baru saja kembali keluar dari dalam mobil. Ia menatap ke arah Lian, lama, cukup lama.
“Del…” Sapa Lian, seperti sudah mengenal.
“Mas?” Balas Fidel dengan ekspresinya yang shock dan hampir pingsan.
--
Ed Sheeran - Happier
Walking down 29th and park
I saw you in another's arms
Only a month we've been apart
You look happier
Saw you walk inside a bar
He said something to make you laugh
I saw that both your smiles were twice as wide as ours
Yeah you look happier, you do
Ain't nobody hurt you like I hurt you
But ain't nobody love you like I do
Promise that I will not take it personal baby
If you're moving on with someone new
Cause baby you look happier, you do
My friends told me one day I'll feel it too
And until then I'll smile to hide the truth
But I know I was happier with you
Sat in the corner of the room
Everything's reminding me of you
Nursing an empty bottle and telling myself you're happier
Aren't you?
Ain't nobody hurt you like I hurt you
But ain't nobody need you like I do
I know that there's others that deserve you
But my darling I am still in love with you
But I guess you look happier, you do
My friends told me one day I'll feel it too
I could try to smile to hide the truth
But I know I was happier with you
Baby you look happier, you do
I knew one day you'd fall for someone new
But if he breaks your heart like lovers do
Just know that I'll be waiting here for you
delet3 dan 41 lainnya memberi reputasi
42
Kutip
Balas
Tutup