- Beranda
- Stories from the Heart
Satu Kelas Dengan Dia
...
TS
aguzblackrx
Satu Kelas Dengan Dia
Horror, Romance


Quote:
PROLOG
Bagas tak sengaja menjadi indigo karena insiden tenggelam di kolam empang yang berair kotor saat masih berumur 3 tahun yang membuat jiwanya terbawa ke alam gaib dan mendapat kemapuan bisa melihat makhuk tak kasat mata meski tidak sekaligus dan berangsur angsur lama hingga dia bertemu dengan sosok di sekolah nya yang membuat dirinya menyadari memiliki kemampuan dan mendapatkan sebuah tanggung jawab besar dalam hidupnya
Quote:
Spoiler for Jangan di Buka:
Quote:
Diubah oleh aguzblackrx 21-09-2024 09:52
dwi.haryana.982 dan 28 lainnya memberi reputasi
27
30K
1.6K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aguzblackrx
#409
Part 62
"Hesty .... " ucap ku lirih mana kala mobil van hitam itu melewati kami berdua. Tak berkedip mata ini melihat seseorang yang telah lama hilang.
Sangat jelas hesty duduk di bangku paling depan bersama seorang lelaki yang entah siapa. Apakah itu pacarnya atau bukan tapi penampilannya jauh lebih dewasa. Hesty dengan pakaian serba hitam menandakan tanda berkabung hanya saja kenapa setelah melihat ku dia seolah enggan menyapa ku.
Aku menatap kaca mobil itu namun nampaknya dari siluet hesty tidak menoleh sedikit pun padaku. Mobil itu berlalu pergi entah kemana. Ingin aku kejar namun tujuan ku kesini adalah untuk takziah pada almarhum bu Ani.
Aku pikir kalau pun dikasih kesempatan mungkin kami akan bertemu kembali di suatu saat nanti. Yang pasti aku senang bahwa hesty kini dalam keadaan baik baik saja. Padahal 6 bulan lalu dia terluka parah.
"Gas, hesty koq gitu yah sekarang sombong" ucap eri
"Ya gw ga tau juga. Jangan suudzon. Mungkin hesty sedang sibuk" kata ku membalas ucapan eri
Anna yang disamping ku masih setia menemaniku.
"Kakang, jangan bersedih. Ada aku disamping mu yang akan selalu menjaga mu" ucap anna berbisik.
Mungkin Anna berbicara begitu hanya untuk menghibur ku saja.
"Terima kasih Anna, kau yang terbaik " balas ku dalam batin.
Anna tersenyum saat ku lirik namun aku hanya menaikan alis saja agar teman ku eri tidak mengira aku gila.
"Kakang, aku disini berjaga jaga saja, disini auranya tidak baik " kata anna mengingatkan
Kamipun memasuki rumah almarhum Bu Ani, jenazah sudah siap disholatkan, suasana haru dan tangis menghiasi isi rumah ini. Keluarga dan tetangga menangisi kepergianmu Bu Ani.
kami berdua ikut mensholatkan jenazah sebagai penghormatan terakhir kami kepada Bu Ani yang sebenarnya masih muda dan memiliki anak satu.
Namun suasana di dalam rumah lebih aneh lagi. Terasa panas dan gerah sehingga aku dan imal terburu buru dan tidak berlama lama.
Saat kami akan pulang terdengar bisikan warga yang berbicara hal yang ganjil.
"Selamam saya lihat ada suara ledakan seperti petasan, dor dor dor tengah malam" ucap Ibu ibu yang kami tidak terlalu jauh
Ibu ibu dengan daster berwarna kuning ditambah kerudung hitam pendek berbisik pada ibu ibu yang memakai daster yang senada berwarna biru.
"Ih koq sama, saya juga denger. Apa jangan jangan santet" ucap Ibu ibu yang berbaju daster biru.
Mendengar bisik bisik dari kedua ibu ibu tersebut terlintas mungkin ini ulah makhluk gaib dan kebencian terhadap bu Ani. Lalu aku memanggil anna untuk memberikannya tugas.
Setelah sampai di dekat motor kami berdua akan segera pulang.
Eri sudah pulang terlebih dahulu karena dia ada urusan. Lalu aku juga akan pulang meski tidak begitu terburu buru. Setelah kepulangN imal. Aku pun memanggil anna untuk hadir.
"Anna, hadirlah.. " ucap ku dalam hati
Sekejap mata anna sudah ada disamping ku. Matanya berbinar ketika aku panggil. Percakapan kami hanya bisa dilakukan dalam batin saja.
"Loh kenapa? Ga usah begitu " ucap ku
"Iya, kakang. Ada yang bisa anna lakukan? "
"Anna, coba kamu periksa jejak kiriman santet yang mungkin dikirim oleh dukun. Jika sudah ketemu bawa aku untuk membuat perhitungan dengan dukun tersebut " ucap ku pada anna
Anna memahami apa yang aku perintahkan dengan memperhatikan setiap kata kata yang aku ucapkan. Dia memang cerdas matanya langsung mengedar ke penjuru arah. ,
"Kakang, saya memperhatikan ada bekas ledakan hitam di atap rumah, saya kira ini memang murni santet. Aura hitam nya masih terasa, saya bisa menyusul asal santet ini" ucap anna
"Bagus, anna kamu memang bisa di handal kan "
"Baik, kakang aku akan segera pergi "
"Yasudah, kamu juga hati hati anna diperjalanan " ucap ku
Anna tersenyum manis lalu tersipu malu dengan ucapan ku. Lalu badannya membelakangi ku
"Apakah kakang benar bener mengkhawatirkan ku? "
"Anna kau berbicara apa? Tentu saja aku juga peduli terhadap mu" jawab ku
Entah mengapa di situasi seperti ini anna malah bertingkah seperti itu. Tangan nya malah mengelus elus rambutnya dan masih membalikan badan. Tak lama kemudian wajahnya anna berubah serius sepertinya dia mulai sadar kembali dari lamunan nya.
Kedua tangannya di rapatkan dan disimpan sejajar dengan dada nya yang begitu aduhai namun bagiku itu biasa aja (saking seringnya ). Mulutnya komat kamit merapalkan mantra yang tidak aku pahami.
Lalu tubuh anna berubah menjadi kilauan cahaya dan melesat ke arah timur dari rumah itu. Sepertinya memang asal dari santet itu mengarah ke timur.
Kemudian aku sendiri memilih pulang, lagi pula tidak ada yang aku kerja kan. Santai di rumah dan menunggu kabar dari anna itu lebih baik.
***

Di sebuah pinggiran dusun terdapat gubuk kecil berbahan anyaman bambu dan beratap genteng tua yang sudah berlumut. Di sekitarnya banyak pepohonan besar dan ladang kecil serta kandang ayam di samping rumahnya.
Suasana nampak ramai dengan berbagai makhluk aneh aneh yang mungkin itu adalah piaraan dari sang dukun.
"Jadi ini asal muasal santet itu, dasar manusia terkutuk" anna melepas napas kekesalan yang tidak habis pikir ada orang jahat yang tega membunuh sesamanya
Kini anna ada di atas pohon dengan jarak 100 meter agar aura nya tidak terdeteksi oleh dukun dan juga jin peliharaanya.
Sebuah pancaran sinar dari tangan anna berupa bola api yang berputar putar. Mata anna menajam ke arah kumpulan makhluk makhluk piaraan dukun itu. Sepertinya mereka tidak bisa menyadari akan ada kejutan yang akan hadir di depan mereka.
BOOMS
Ledakan kecil meledak tak jauh dari rumah pemilik dukun itu. Seketika semua makhluk jin piaraan dukun itu terkejut dan bahkan yang bertubuh kecil ada yang terlempar dan mengenai pohon.
Seketika suasana jadi riuh dan mata mereka menuju ke arah anna yang sedang bertengger dipohon besar yang berjarak 100 meter.
Tiba tiba ada seseorang yang keluar dari dalam rumah, orang itu memakai pakaian atasan hitam dan kain sarung bagian bawahannya. Orang itu nampak kesal dengan menulak pinggang, matanya menyorot ke arah dimana anna berada.
"Kurang ajar, siapa kau sebenarnya? " pekik sosok yang diduga dukung itu
Anna tersenyum kecut pada dukun itu, namun penglihatan orang sakti mampu melihat apa yang ada jauh di hadapannya.
"Hadapi aku, ki wongso . Orang sakti di tanah Pasundan ini " imbuh si dukun dengan memperkenalkan namanya.
Anna bergerak maju terbang lalu turun 20 meter dari rumah itu. Anna dengan wajah anggunnya membalas congkaknya sang dukun dengan kedua tangan di lipat di dada
"Hei manusia terkutuk. Rupanya kau yang mengirim santet pada orang yang tadi pagi telah meninggal" ucap anna dengan suara lantang
"Apa urusan mu wahai jin cantik, dari pada ikut campur urusan manusia lebih baik kau jadi pengikut ku sekaligus jadi pelayan ku " ucap dukun yang bernama ki wongso itu dengan nada menggoda
"Dasar tua bangka bau tanah, masih saja tidak ingat ajal akan menjemput mu, tidak sudi aku ikut dengan mu, bahkan kedatangan ku adalah untuk perhitungan dengan mu atas kejahatan mu malam tadi" bentak anna
"Hahaha.... Siapa yang menyuruh mu cah ayu? Paling dukun sebalah? Hebat bner ada dukun yang memelihara jin secantik kamu. Apa kau dari kalangan peri? " tanya sang dukun mengalihkan pembicaraan
"Ya, aku datang dari Kerajaan laut utara, kerajaan peri pelindung lautan utara . Jika kau tidak menyerah hukuman mu akan lebih berat oleh sang ratu disana"
Tiba tiba wajah lelaki tua paruh baya itu nampak memucat saat dia baru tahu bahwa anna adalah berasal dari kerajaan laut Utara.
"Hahha.... Katakan pada ratu laut Utara ini aku pengikutnya ki wongso , Dari dusun kendul kulon sampaikan salam " ucapnya yang membuat anna cukup terkejut
"Siapa kau sebenarnya dan apa hubungan mu dengan sang ratu? "
"Hahaha... Kau tidak tahu cah ayu, bahwa aku dan nyi ratu adalah teman seperjuangan yang ikut menaklukan kerajaan tanah Karo di Sumatra, jika bukan bantuan dari ku mana mungkin kerajaan kecil bisa mengalahkan kerajaan yang cukup besar disana " jelas ki wongso dengan berapi api
Ki wongso mengelus elus janggutnya yang mulai beruban.
"Jadi kamu cah ayu masih berani melawan? Silahkan? "
Omongan dukun itu membuat anna tak bisa berkutik, bisa saja anna langsung memukulnya tadi namun jika ibunda ratu tahu kalau aku menyiksa Sekutu nya bisa bisa ibunda ratu marah besar. Karena anna tahu bahwa ibunda paling menghormati sebuah perjanjian.
"Hei dukun laknat, aku adalah anak dari ibunda ratu . Aku bisa saja melakukan sesuatu untuk mu, tapi dilain waktu urusan kita belum beres " balas anna dengan nada ancaman
"Owh... Jadi ini anak dari nyi ratu? Kecantikan mu turunan dari ibu mu, bagus lebih baik aku persunting saja, pasti nyai ratu akan senang aku jadi menantunya" ucap sang dukun dengan menggoda anna
"Cuih.... Tua bangka. Lihat saja.. Perbuatan mu akan dibalas dalam waktu dekat" ucap anna lalu berbalik badan dan melesat ke arah timur
Sedangkan sang dukun tak hentinya tertawa dengan kemenangan yang dia dapatkan meski tanpa ada pertarungan sedikit pun.
***
Kring kring
"Hallo.... "
"Bagas... "
"Siapa yH? "
"Ih sebel, ini aku "
"Iya siapa? "
"Merry... "
"Oh merry "
"Oh, doang? "
"Iya merry kan?
" iya ah.... Aku baru pulang dari ausi"
"Waw... Sejak kapan? "
"Baru sampai kata aku juga, kamu kesini geh ada hadiah buat kamu"
"Astaga... "
"Koq astaga sih"
"Eh maksudnya , alhamdulillah, "
"Iya makanya kesini? "
"Malam malam begini ? "
"Iya, mau gak? "
"Mau, besok aja yah"
"Ih, sekarang "
"Aduh, udah malam, mer, maksa deh"
"Aku buang deh hadiahnya "
"Aduh jangan kan sayang"
"Kamu sayang aku? ".
" buset, ga gitu maksudnya "
"Cepet yah, 10 menit "
"Eh, tapi..... "
Tuuttttttt telepon diputus.
"Aduh ini anak kenapa sih, selalu aJaa Mendadak. Pasti gw disuruh nginep lagi deh " ucap ku menggerutu sendiri. Sambil garuk garuk kepala karena ini malam sudah menunjukan jam 9. Anna belum juga pulang namun mungkin urusanya cukup lama . Aku pun tak begitu khawatir karena dia adalah jin sakti.
"Raden, perlu saya antar " ucap Rani tiba tiba datang
"Eh Rani, ga usah ngerepotin kamu"
" Tidak raden, aku bisa membawa mu dengan secepat kilat "
"Paling aku pusing, Rani "
"Raden sedang pusing "
"Gak, maksudnya kalau masuk teleport bisa pusing aku nya"
"Oh, iya yah, raden kan manusia jadi tubumu tak mampu beradaptasi dengan baik dinkorong waktu"
"Iya Rani, tapi biarlah aku naik motor saja, "
"Saya temani, raden. Biar di perjalanan tidak ada makhluk yang usil"
"Boleh juga, baiklah kita berangkat "
Setelah percakapan antara aku dan Rani, tiba tiba anna datang menembus pintu kamar tanpa permisi,
"Anna, kau bikin kaget aja "
Anna berjalan melalui ku tanpa menjawab apa yang aku gubris. Aku memperhatikan tingkah aneh dari anna yang tak biasanya begitu.
"Hey, ga sopan " ucap Rani menegur adiknya yang nampak aneh
"Eh, iya maaf " ucap anna sambil duduk di pinggiran ranjang
"Jadi, dukun yang mengirim santet itu adalah Sekutu dari ibunda ratu" ucap anna yang membuat ku cukup heran.
Rani pun tampak Heran dengan ucapan dari adiknya.
"Bagaimana maksudnya, dinda? " tanya Rani
"Tadinya aku akan memberi hukuman pada dukun itu, tapi dukun itu berlindung atas nama ibunda ratu, perintah kakang bagas tidak bisa terlaksana dengan baik, aku merasa malu" ujar anna dengan kepala tertunduk.
Aku berjalan mendekati anna yang tertunduk , Setelah di depannya aku menaikan dagunya yang lancip. Awalnya mata anna tertutup lalu dibukanya pelan.
"Gak apa apa biar aku saja yang memberi hukuman. Sebutkan saja siapa dan dimana ia berada" ucap ku
Seketika anna berubah wajahnya memerah.
(Bersambung)
"Hesty .... " ucap ku lirih mana kala mobil van hitam itu melewati kami berdua. Tak berkedip mata ini melihat seseorang yang telah lama hilang.
Sangat jelas hesty duduk di bangku paling depan bersama seorang lelaki yang entah siapa. Apakah itu pacarnya atau bukan tapi penampilannya jauh lebih dewasa. Hesty dengan pakaian serba hitam menandakan tanda berkabung hanya saja kenapa setelah melihat ku dia seolah enggan menyapa ku.
Aku menatap kaca mobil itu namun nampaknya dari siluet hesty tidak menoleh sedikit pun padaku. Mobil itu berlalu pergi entah kemana. Ingin aku kejar namun tujuan ku kesini adalah untuk takziah pada almarhum bu Ani.
Aku pikir kalau pun dikasih kesempatan mungkin kami akan bertemu kembali di suatu saat nanti. Yang pasti aku senang bahwa hesty kini dalam keadaan baik baik saja. Padahal 6 bulan lalu dia terluka parah.
"Gas, hesty koq gitu yah sekarang sombong" ucap eri
"Ya gw ga tau juga. Jangan suudzon. Mungkin hesty sedang sibuk" kata ku membalas ucapan eri
Anna yang disamping ku masih setia menemaniku.
"Kakang, jangan bersedih. Ada aku disamping mu yang akan selalu menjaga mu" ucap anna berbisik.
Mungkin Anna berbicara begitu hanya untuk menghibur ku saja.
"Terima kasih Anna, kau yang terbaik " balas ku dalam batin.
Anna tersenyum saat ku lirik namun aku hanya menaikan alis saja agar teman ku eri tidak mengira aku gila.
"Kakang, aku disini berjaga jaga saja, disini auranya tidak baik " kata anna mengingatkan
Kamipun memasuki rumah almarhum Bu Ani, jenazah sudah siap disholatkan, suasana haru dan tangis menghiasi isi rumah ini. Keluarga dan tetangga menangisi kepergianmu Bu Ani.
kami berdua ikut mensholatkan jenazah sebagai penghormatan terakhir kami kepada Bu Ani yang sebenarnya masih muda dan memiliki anak satu.
Namun suasana di dalam rumah lebih aneh lagi. Terasa panas dan gerah sehingga aku dan imal terburu buru dan tidak berlama lama.
Saat kami akan pulang terdengar bisikan warga yang berbicara hal yang ganjil.
"Selamam saya lihat ada suara ledakan seperti petasan, dor dor dor tengah malam" ucap Ibu ibu yang kami tidak terlalu jauh
Ibu ibu dengan daster berwarna kuning ditambah kerudung hitam pendek berbisik pada ibu ibu yang memakai daster yang senada berwarna biru.
"Ih koq sama, saya juga denger. Apa jangan jangan santet" ucap Ibu ibu yang berbaju daster biru.
Mendengar bisik bisik dari kedua ibu ibu tersebut terlintas mungkin ini ulah makhluk gaib dan kebencian terhadap bu Ani. Lalu aku memanggil anna untuk memberikannya tugas.
Setelah sampai di dekat motor kami berdua akan segera pulang.
Eri sudah pulang terlebih dahulu karena dia ada urusan. Lalu aku juga akan pulang meski tidak begitu terburu buru. Setelah kepulangN imal. Aku pun memanggil anna untuk hadir.
"Anna, hadirlah.. " ucap ku dalam hati
Sekejap mata anna sudah ada disamping ku. Matanya berbinar ketika aku panggil. Percakapan kami hanya bisa dilakukan dalam batin saja.
"Loh kenapa? Ga usah begitu " ucap ku
"Iya, kakang. Ada yang bisa anna lakukan? "
"Anna, coba kamu periksa jejak kiriman santet yang mungkin dikirim oleh dukun. Jika sudah ketemu bawa aku untuk membuat perhitungan dengan dukun tersebut " ucap ku pada anna
Anna memahami apa yang aku perintahkan dengan memperhatikan setiap kata kata yang aku ucapkan. Dia memang cerdas matanya langsung mengedar ke penjuru arah. ,
"Kakang, saya memperhatikan ada bekas ledakan hitam di atap rumah, saya kira ini memang murni santet. Aura hitam nya masih terasa, saya bisa menyusul asal santet ini" ucap anna
"Bagus, anna kamu memang bisa di handal kan "
"Baik, kakang aku akan segera pergi "
"Yasudah, kamu juga hati hati anna diperjalanan " ucap ku
Anna tersenyum manis lalu tersipu malu dengan ucapan ku. Lalu badannya membelakangi ku
"Apakah kakang benar bener mengkhawatirkan ku? "
"Anna kau berbicara apa? Tentu saja aku juga peduli terhadap mu" jawab ku
Entah mengapa di situasi seperti ini anna malah bertingkah seperti itu. Tangan nya malah mengelus elus rambutnya dan masih membalikan badan. Tak lama kemudian wajahnya anna berubah serius sepertinya dia mulai sadar kembali dari lamunan nya.
Kedua tangannya di rapatkan dan disimpan sejajar dengan dada nya yang begitu aduhai namun bagiku itu biasa aja (saking seringnya ). Mulutnya komat kamit merapalkan mantra yang tidak aku pahami.
Lalu tubuh anna berubah menjadi kilauan cahaya dan melesat ke arah timur dari rumah itu. Sepertinya memang asal dari santet itu mengarah ke timur.
Kemudian aku sendiri memilih pulang, lagi pula tidak ada yang aku kerja kan. Santai di rumah dan menunggu kabar dari anna itu lebih baik.
***

Di sebuah pinggiran dusun terdapat gubuk kecil berbahan anyaman bambu dan beratap genteng tua yang sudah berlumut. Di sekitarnya banyak pepohonan besar dan ladang kecil serta kandang ayam di samping rumahnya.
Suasana nampak ramai dengan berbagai makhluk aneh aneh yang mungkin itu adalah piaraan dari sang dukun.
"Jadi ini asal muasal santet itu, dasar manusia terkutuk" anna melepas napas kekesalan yang tidak habis pikir ada orang jahat yang tega membunuh sesamanya
Kini anna ada di atas pohon dengan jarak 100 meter agar aura nya tidak terdeteksi oleh dukun dan juga jin peliharaanya.
Sebuah pancaran sinar dari tangan anna berupa bola api yang berputar putar. Mata anna menajam ke arah kumpulan makhluk makhluk piaraan dukun itu. Sepertinya mereka tidak bisa menyadari akan ada kejutan yang akan hadir di depan mereka.
BOOMS
Ledakan kecil meledak tak jauh dari rumah pemilik dukun itu. Seketika semua makhluk jin piaraan dukun itu terkejut dan bahkan yang bertubuh kecil ada yang terlempar dan mengenai pohon.
Seketika suasana jadi riuh dan mata mereka menuju ke arah anna yang sedang bertengger dipohon besar yang berjarak 100 meter.
Tiba tiba ada seseorang yang keluar dari dalam rumah, orang itu memakai pakaian atasan hitam dan kain sarung bagian bawahannya. Orang itu nampak kesal dengan menulak pinggang, matanya menyorot ke arah dimana anna berada.
"Kurang ajar, siapa kau sebenarnya? " pekik sosok yang diduga dukung itu
Anna tersenyum kecut pada dukun itu, namun penglihatan orang sakti mampu melihat apa yang ada jauh di hadapannya.
"Hadapi aku, ki wongso . Orang sakti di tanah Pasundan ini " imbuh si dukun dengan memperkenalkan namanya.
Anna bergerak maju terbang lalu turun 20 meter dari rumah itu. Anna dengan wajah anggunnya membalas congkaknya sang dukun dengan kedua tangan di lipat di dada
"Hei manusia terkutuk. Rupanya kau yang mengirim santet pada orang yang tadi pagi telah meninggal" ucap anna dengan suara lantang
"Apa urusan mu wahai jin cantik, dari pada ikut campur urusan manusia lebih baik kau jadi pengikut ku sekaligus jadi pelayan ku " ucap dukun yang bernama ki wongso itu dengan nada menggoda
"Dasar tua bangka bau tanah, masih saja tidak ingat ajal akan menjemput mu, tidak sudi aku ikut dengan mu, bahkan kedatangan ku adalah untuk perhitungan dengan mu atas kejahatan mu malam tadi" bentak anna
"Hahaha.... Siapa yang menyuruh mu cah ayu? Paling dukun sebalah? Hebat bner ada dukun yang memelihara jin secantik kamu. Apa kau dari kalangan peri? " tanya sang dukun mengalihkan pembicaraan
"Ya, aku datang dari Kerajaan laut utara, kerajaan peri pelindung lautan utara . Jika kau tidak menyerah hukuman mu akan lebih berat oleh sang ratu disana"
Tiba tiba wajah lelaki tua paruh baya itu nampak memucat saat dia baru tahu bahwa anna adalah berasal dari kerajaan laut Utara.
"Hahha.... Katakan pada ratu laut Utara ini aku pengikutnya ki wongso , Dari dusun kendul kulon sampaikan salam " ucapnya yang membuat anna cukup terkejut
"Siapa kau sebenarnya dan apa hubungan mu dengan sang ratu? "
"Hahaha... Kau tidak tahu cah ayu, bahwa aku dan nyi ratu adalah teman seperjuangan yang ikut menaklukan kerajaan tanah Karo di Sumatra, jika bukan bantuan dari ku mana mungkin kerajaan kecil bisa mengalahkan kerajaan yang cukup besar disana " jelas ki wongso dengan berapi api
Ki wongso mengelus elus janggutnya yang mulai beruban.
"Jadi kamu cah ayu masih berani melawan? Silahkan? "
Omongan dukun itu membuat anna tak bisa berkutik, bisa saja anna langsung memukulnya tadi namun jika ibunda ratu tahu kalau aku menyiksa Sekutu nya bisa bisa ibunda ratu marah besar. Karena anna tahu bahwa ibunda paling menghormati sebuah perjanjian.
"Hei dukun laknat, aku adalah anak dari ibunda ratu . Aku bisa saja melakukan sesuatu untuk mu, tapi dilain waktu urusan kita belum beres " balas anna dengan nada ancaman
"Owh... Jadi ini anak dari nyi ratu? Kecantikan mu turunan dari ibu mu, bagus lebih baik aku persunting saja, pasti nyai ratu akan senang aku jadi menantunya" ucap sang dukun dengan menggoda anna
"Cuih.... Tua bangka. Lihat saja.. Perbuatan mu akan dibalas dalam waktu dekat" ucap anna lalu berbalik badan dan melesat ke arah timur
Sedangkan sang dukun tak hentinya tertawa dengan kemenangan yang dia dapatkan meski tanpa ada pertarungan sedikit pun.
***
Kring kring
"Hallo.... "
"Bagas... "
"Siapa yH? "
"Ih sebel, ini aku "
"Iya siapa? "
"Merry... "
"Oh merry "
"Oh, doang? "
"Iya merry kan?
" iya ah.... Aku baru pulang dari ausi"
"Waw... Sejak kapan? "
"Baru sampai kata aku juga, kamu kesini geh ada hadiah buat kamu"
"Astaga... "
"Koq astaga sih"
"Eh maksudnya , alhamdulillah, "
"Iya makanya kesini? "
"Malam malam begini ? "
"Iya, mau gak? "
"Mau, besok aja yah"
"Ih, sekarang "
"Aduh, udah malam, mer, maksa deh"
"Aku buang deh hadiahnya "
"Aduh jangan kan sayang"
"Kamu sayang aku? ".
" buset, ga gitu maksudnya "
"Cepet yah, 10 menit "
"Eh, tapi..... "
Tuuttttttt telepon diputus.
"Aduh ini anak kenapa sih, selalu aJaa Mendadak. Pasti gw disuruh nginep lagi deh " ucap ku menggerutu sendiri. Sambil garuk garuk kepala karena ini malam sudah menunjukan jam 9. Anna belum juga pulang namun mungkin urusanya cukup lama . Aku pun tak begitu khawatir karena dia adalah jin sakti.
"Raden, perlu saya antar " ucap Rani tiba tiba datang
"Eh Rani, ga usah ngerepotin kamu"
" Tidak raden, aku bisa membawa mu dengan secepat kilat "
"Paling aku pusing, Rani "
"Raden sedang pusing "
"Gak, maksudnya kalau masuk teleport bisa pusing aku nya"
"Oh, iya yah, raden kan manusia jadi tubumu tak mampu beradaptasi dengan baik dinkorong waktu"
"Iya Rani, tapi biarlah aku naik motor saja, "
"Saya temani, raden. Biar di perjalanan tidak ada makhluk yang usil"
"Boleh juga, baiklah kita berangkat "
Setelah percakapan antara aku dan Rani, tiba tiba anna datang menembus pintu kamar tanpa permisi,
"Anna, kau bikin kaget aja "
Anna berjalan melalui ku tanpa menjawab apa yang aku gubris. Aku memperhatikan tingkah aneh dari anna yang tak biasanya begitu.
"Hey, ga sopan " ucap Rani menegur adiknya yang nampak aneh
"Eh, iya maaf " ucap anna sambil duduk di pinggiran ranjang
"Jadi, dukun yang mengirim santet itu adalah Sekutu dari ibunda ratu" ucap anna yang membuat ku cukup heran.
Rani pun tampak Heran dengan ucapan dari adiknya.
"Bagaimana maksudnya, dinda? " tanya Rani
"Tadinya aku akan memberi hukuman pada dukun itu, tapi dukun itu berlindung atas nama ibunda ratu, perintah kakang bagas tidak bisa terlaksana dengan baik, aku merasa malu" ujar anna dengan kepala tertunduk.
Aku berjalan mendekati anna yang tertunduk , Setelah di depannya aku menaikan dagunya yang lancip. Awalnya mata anna tertutup lalu dibukanya pelan.
"Gak apa apa biar aku saja yang memberi hukuman. Sebutkan saja siapa dan dimana ia berada" ucap ku
Seketika anna berubah wajahnya memerah.
(Bersambung)
Diubah oleh aguzblackrx 11-03-2025 13:10
hendrap77 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Tutup

