- Beranda
- Stories from the Heart
Diamante
...
TS
robotpintar
Diamante

Quote:
Disclaimer
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Cerita ini mengandung elemen dramatisasi dari situasi dan tindakan medis. Semua prosedur, tindakan, dan teknik medis yang digambarkan dalam cerita ini dibuat untuk tujuan naratif. Dan besar kemungkinan nggak akurat atau sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya. Please, jangan nyoba atau ngikutin tindakan medis apa pun yang disebutkan dalam cerita ini kecuali kalian memang tenaga kesehatan profesional yang berkualifikasi. Konsultasi ke dokter atau profesional medis kalo kalian punya pertanyaan atau kebutuhan medis. Cerita ini bukandimaksudkan sebagai panduan atau saran medis.
Diubah oleh robotpintar 24-03-2025 14:55
sorrylabroo dan 148 lainnya memberi reputasi
149
214.1K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#96
002-E Resilience
Spoiler for 002-E Resilience:
“Besok masuk kan, Fir?”Tanya Liv yang menyembulkan kepalanya dari jendela pintu belakang mobil.
“Masuk dong…” Balas gua sambil tersenyum.
“Mau dijemput, Fir?” Kini gantian Fidel yang bertanya, memberi penawaran.
“Nggak ah, nggak usah…” Gua menolak tawarannya, enggan merepotkan.
“Ih, gapapa tau, Fir. Dijemput aja” Gaby menyambar.
“Yee itu mah emang mau lo. Biar bisa sekalian jemput lo kan?” Ledek Liv seraya memoles kepala Gaby.
“Ya kan sekalian, kayak peribahasa menepuk air di dulang, terpecik muka sendiri….” Serunya penuh percaya diri.
Sontak kami bertiga langsung berseru; “Wooo… elo ngasih peribahasa aja salah”
“Emang yang bener apa?” Tanyanya, sambil menggaruk kepala.
“Yang bener tuh ‘sekali mendayung, berenang ke tepian’, ya kan Del” Ucap Liv, serius.
“Dua, Tiga pulau terlampaui, Liv…” Fidel meralat ucapan Liv dengan nada bicaranya yang tenang.
“Oh, berenang ke tepian, dua, tiga pulau terlampaui…” Liv merevisi peribahasa sebelumnya.
“Masih salah, Liv… yang bener ‘Sekali mendayung, dua, tiga pulau terlampaui’…” Sekali lagi, Fidel mengoreksi ucapan Liv dengan sabar.
“Oh, yaudahlah, pokoknya itu maksud gue…” Balas Liv.
Gua menyelak obrolan; “Guys, guys, udah nggak usah dijemput, paling besok gue dianter nyokap” Ucap gua, mengajukan solusi yang belum tentu benar, yang penting saat ini bisa bikin Fidel nggak perlu repot-repot untuk menjemput gua.
“Oh yaudah… kabarin aja ya kalo mau dijemput” Balas Fidel.
“Bye…” Seru Gaby dan Liv.
Mereka lantas pergi, meninggalkan gua berdiri sendirian tepat di depan rumah. Sesaat, suasana hati kembali terasa sepi. Hilang sudah keceriaan yang menemani.
Gua berbalik dan masuk ke dalam.
Selesai mandi dan bersih-bersih, gua duduk bersandar di kursi meja belajar sambil menatap tabung kecil transparan berisi butiran-butiran pil berwarna merah. Tabung dengan label bertuliskan ‘Nn. Safira - 3x1’. Gua membuka tutupnya, mengeluarkan sebutir pil dan meminumnya.
Setelah mengkonsumsi obat, gua membuka laptop dan mencoba melakukan riset kecil. Riset tentang penyakit Epilepsi. Berbekal buku catatan gua mulai mencatat setiap detail tentang penyakit ini. Dari yang gua baca, ternyata Epilepsi ada beberapa jenis. Namun, gua nggak tahu kategori mana jenis epilepsi yang gua hadapi. Hal yang bikin gua tertegun adalah informasi kalau konon penyakit epilepsi sampai saat ini belum bisa disembuhkan.
Obat-obatan hanya berfungsi sebagai ‘penghambat’ sistem saraf yang menyebabkan kejang. Jadi, kejang bisa dihindari saat saraf yang terdampak ‘ditekan’ oleh efek obat. Artinya, penderita epilepsi harus terus mengkonsumsi obat sepanjang hidupnya.
Gua tersenyum. Tentu bukan karena senang, melainkan karena merasa satir terhadap kehidupan. Merasa ini semua bercandaan yang kelewatan. Sambil menggenggam tabung berisi pil. Gua menggumam pelan; “Mudah-mudahan kita akrab ya…” Sadar kalau sepertinya gua dan si pil berwarna merah ini bakal ‘berteman’ dalam waktu lama.
Nggak cuma Riset tentang Epilepsi, gua juga berusaha mengingat apa yang dijelaskan Dokter Natalie tadi, kemudian mencatatnya di lembaran kertas yang terpisah.
“Hhh…” Gua menghela napas dan menjatuhkan kepala di atas meja belajar, menunduk, nggak berhenti meratap.
Malam menjelang, nyokap pulang sambil membawa bungkusan makanan. Gua berlari ke arah pintu depan dan menyambutnya.
“Hai…” Sapa Nyokap.
“…”
“… Gimana ke dokternya?” Tambahnya.
“Nanti aku ceritain, laper banget…” Jawab gua sambil menyambar plastik berisi makanan hangat di genggamannya. Kemudian berlari kembali ke ruang makan.
“Aku makan duluan ya mah…” Seru gua sambil membuka bungkusan sate ayam dari plastik.
“Iya…” Jawabnya dari dalam kamar.
Nggak lama berselang, Nyokap menyusul ke ruang makan. Ia sudah berganti pakaian mengenakan piyama favoritnya, sambil menenteng tas berisi laptop dan lembaran dokumen pekerjaan.
Sigap, gua menyediakan porsi satem ayam miliknya.
“Wah makasih…” Ucapnya.
“Sama-sama…” Balas gua lalu melanjutkan makan.
Nyokap duduk, membuka laptopnya dan kembali bekerja sambil makan.
“Gimana tadi?” Tanyanya.
“Mmm… ya gitu deh” Jawab gua.
“Gitu deh? Gimana?” Tanyanya lagi.
Gua lantas mulai menceritakan apa yang terjadi di rumah sakit tadi. Beserta penjelasan tentang kondisi gua dari dokter Natalie. Terlihat perubahan ekspresi wajah nyokap saat mendengar cerita gua yang perlahan merendahkan nada bicara saat bagian diagnosa yang abu-abu.
Nyokap menggeser kursinya lebih dekat, lalu memberikan pelukan.
“Gapapa, Anak Mamah kuat…” Bisiknya lirih, walaupun terlihat tegar. Tapi, gua bisa merasakan getaran dalam suaranya.
“Iya lah, harus kuat…” Balas gua, sambil terus berusaha menahan tangis.
“Pasti ada jalan…” Tambahnya.
“Oiya Mah, aku kan abis browsing-browsing tentang epilepsi…”
“…”
“… sebelumnya aku pernah kejang nggak?”
“Mmm… nggak” Jawabnya.
“Kalo kepala ku, dulu waktu kecil pernah terbentur nggak?” Tanya gua lagi.
“Nah, itu kayaknya pernah. Kamu kan dulu nggak bisa diem. Loncat sana-sini… tapi kayaknya nggak sampai parah” Jawabnya.
“Hehehe… berarti penyebab epilepsinya bukan itu ya?”
“Harusnya sih bukan, tapi ya nggak tau deh…”
“Ahaha….”
“Terus abis berapa tadi?” Tanyanya.
“Nggak tau deh, lupa… kuitansinya ada di kamar, nanti aku ambilin…” Jawab gua, lalu merogoh saku celana, mengeluarkan kartu kredit milik Nyokap dan mengembalikannya.
“Yaudah simpen aja…” Jawabnya.
“Sama aku buat jajan juga tadi, hehehe…”
“Dasar…”
Kami lalu berbincang, menghabiskan waktu berdua. Sekalian menemaninya menyelesaikan pekerjaan.
—
Besoknya, di sekolah gua mulai mendapati tatapan-tatapan aneh dari beberapa teman. Tatapan yang seakan menghakimi, tatapan yang penuh rasa penasaran bercampur jijik. Gua berusaha paham, seandainya berada di posisi mereka, gua juga pasti merasakan hal yang sama. That’s why, gua maklum.
Sebisa mungkin bersikap normal seakan nggak terjadi apa-apa. Gua mencoba bersembunyi dibalik senyum, berusaha terus menjadi Safira yang penuh keceriaan, Safira yang menyinari dunia dengan tawanya.
Ya tentu bukan hal yang mudah, tapi gua akan terus mencoba. Apalagi tahu kalau ada The Lontongers yang selalu memberi dukungannya tanpa henti.
Hari demi hari berlalu, gua mulai terbiasa dan akrab dengan pil berwarna merah itu. Dengannya juga gua nggak lagi mengalami kejang. Sementara, teman-teman di sekolah perlahan mulai melupakan kejadian pingsan dan kejangnya gua saat upacara bendera. Hidup gua yang sebelumnya berangsur kembali seperti sedia kala. Tentu saja nggak sepenuhnya kembali, gua masih belum diijinkan untuk berlatih menari.
Pun nggak diperbolehkan, gua tetap rutin datang ke sanggar. Bukan untuk berlatih, tapi hanya duduk dan menonton teman-teman yang lain. Ya, walaupun sesekali gua nggak tahan lalu ikut bergabung, tapi nggak lama. Hanya sebentar, sekedar melepas rindu terhadap gerakan tari. Teman-teman di sanggar belum tahu tentang kondisi gua yang sebenarnya, yang mereka tahu hanya gua sedang sakit dan dalam proses pemulihan.
Nggak cuma di sanggar, saat sedang sendiri di kamar gua terkadang menari dengan gerakan ringan yang nggak terlalu menguras tenaga. Hingga akhirnya tiba di titik gua merasa kalau sepertinya nggak masalah kalau gua kembali berlatih.
“Gapapa kali ya? Yang penting kan udah minum obat” Gua bicara sendiri, membulatkan tekad, mengabaikan pesan dokter untuk istirahat dari menari.
“Ya kalo lo merasa udah sehat, gas aja…” Seru Liv yang lantas diamini oleh Gaby. Saat gua menyampaikan niat untuk berlatih nge-dance lagi.
Berbeda dengan Liv dan Gaby, Fidel nampak nggak memberi respon. Ia hanya terdiam sambil menatap ke layar ponselnya.
“Menurut lo gimana, Del?” Tanya gua.
“Gue sih, kalo kata dokter jangan dulu berarti jangan… no excuse” Jawabnya santai.
“…”
“… Tapi, kalo lo tetep mau latihan, paling nggak harus ada yang nemenin” Tambahnya.
“Kan di sanggar rame, del. Banyak orang, jadi nggak usah khawatir” Balas Liv.
“Emang mereka yang di sanggar tau gimana cara nge-treat Fira kalo lagi kejang?” Tanya Fidel, sambil tetap tenang.
Fidel ada benarnya juga. Walaupun banyak orang, tapi mungkin nggak ada satupun yang tahu bagaimana menghadapi orang yang pingsan dan kejang seperti yang gua alami waktu itu.
“Terus, gimana dong?” Kali ini Gaby yang bicara.
“Ya orang-orang di sanggar harus dikasih tau…” Fidel memberi solusi.
“…”
“… atau, salah satu dari kita nemenin Fira pas latihan” Tambahnya.
Jujur, gua agak kurang setuju dengan saran memberitahu kondisi gua ke sanggar; takut nantinya pemilik sanggar nggak mau mengambil resiko dengan membiarkan salah satu anggotanya yang pesakitan terus berlatih di sanggarnya; takut terjadi apa-apa.
“Yaudah kita gantian aja nemenin Fira” Usul Liv, yang lalu direspon dengan anggukan kepala dari Gaby dan Fidel.
“Aaaah….” Gua yang merasa terharu lantas merangkul ketiganya; memberi pelukan. Tanpa terasa kedua mata basah dan mulai berlinang. Nggak apa-apa kalau Tuhan mau ngasih cobaan seberat apapun ke gua, asal ada mereka di sini.
“Masuk dong…” Balas gua sambil tersenyum.
“Mau dijemput, Fir?” Kini gantian Fidel yang bertanya, memberi penawaran.
“Nggak ah, nggak usah…” Gua menolak tawarannya, enggan merepotkan.
“Ih, gapapa tau, Fir. Dijemput aja” Gaby menyambar.
“Yee itu mah emang mau lo. Biar bisa sekalian jemput lo kan?” Ledek Liv seraya memoles kepala Gaby.
“Ya kan sekalian, kayak peribahasa menepuk air di dulang, terpecik muka sendiri….” Serunya penuh percaya diri.
Sontak kami bertiga langsung berseru; “Wooo… elo ngasih peribahasa aja salah”
“Emang yang bener apa?” Tanyanya, sambil menggaruk kepala.
“Yang bener tuh ‘sekali mendayung, berenang ke tepian’, ya kan Del” Ucap Liv, serius.
“Dua, Tiga pulau terlampaui, Liv…” Fidel meralat ucapan Liv dengan nada bicaranya yang tenang.
“Oh, berenang ke tepian, dua, tiga pulau terlampaui…” Liv merevisi peribahasa sebelumnya.
“Masih salah, Liv… yang bener ‘Sekali mendayung, dua, tiga pulau terlampaui’…” Sekali lagi, Fidel mengoreksi ucapan Liv dengan sabar.
“Oh, yaudahlah, pokoknya itu maksud gue…” Balas Liv.
Gua menyelak obrolan; “Guys, guys, udah nggak usah dijemput, paling besok gue dianter nyokap” Ucap gua, mengajukan solusi yang belum tentu benar, yang penting saat ini bisa bikin Fidel nggak perlu repot-repot untuk menjemput gua.
“Oh yaudah… kabarin aja ya kalo mau dijemput” Balas Fidel.
“Bye…” Seru Gaby dan Liv.
Mereka lantas pergi, meninggalkan gua berdiri sendirian tepat di depan rumah. Sesaat, suasana hati kembali terasa sepi. Hilang sudah keceriaan yang menemani.
Gua berbalik dan masuk ke dalam.
Selesai mandi dan bersih-bersih, gua duduk bersandar di kursi meja belajar sambil menatap tabung kecil transparan berisi butiran-butiran pil berwarna merah. Tabung dengan label bertuliskan ‘Nn. Safira - 3x1’. Gua membuka tutupnya, mengeluarkan sebutir pil dan meminumnya.
Setelah mengkonsumsi obat, gua membuka laptop dan mencoba melakukan riset kecil. Riset tentang penyakit Epilepsi. Berbekal buku catatan gua mulai mencatat setiap detail tentang penyakit ini. Dari yang gua baca, ternyata Epilepsi ada beberapa jenis. Namun, gua nggak tahu kategori mana jenis epilepsi yang gua hadapi. Hal yang bikin gua tertegun adalah informasi kalau konon penyakit epilepsi sampai saat ini belum bisa disembuhkan.
Obat-obatan hanya berfungsi sebagai ‘penghambat’ sistem saraf yang menyebabkan kejang. Jadi, kejang bisa dihindari saat saraf yang terdampak ‘ditekan’ oleh efek obat. Artinya, penderita epilepsi harus terus mengkonsumsi obat sepanjang hidupnya.
Gua tersenyum. Tentu bukan karena senang, melainkan karena merasa satir terhadap kehidupan. Merasa ini semua bercandaan yang kelewatan. Sambil menggenggam tabung berisi pil. Gua menggumam pelan; “Mudah-mudahan kita akrab ya…” Sadar kalau sepertinya gua dan si pil berwarna merah ini bakal ‘berteman’ dalam waktu lama.
Nggak cuma Riset tentang Epilepsi, gua juga berusaha mengingat apa yang dijelaskan Dokter Natalie tadi, kemudian mencatatnya di lembaran kertas yang terpisah.
“Hhh…” Gua menghela napas dan menjatuhkan kepala di atas meja belajar, menunduk, nggak berhenti meratap.
Malam menjelang, nyokap pulang sambil membawa bungkusan makanan. Gua berlari ke arah pintu depan dan menyambutnya.
“Hai…” Sapa Nyokap.
“…”
“… Gimana ke dokternya?” Tambahnya.
“Nanti aku ceritain, laper banget…” Jawab gua sambil menyambar plastik berisi makanan hangat di genggamannya. Kemudian berlari kembali ke ruang makan.
“Aku makan duluan ya mah…” Seru gua sambil membuka bungkusan sate ayam dari plastik.
“Iya…” Jawabnya dari dalam kamar.
Nggak lama berselang, Nyokap menyusul ke ruang makan. Ia sudah berganti pakaian mengenakan piyama favoritnya, sambil menenteng tas berisi laptop dan lembaran dokumen pekerjaan.
Sigap, gua menyediakan porsi satem ayam miliknya.
“Wah makasih…” Ucapnya.
“Sama-sama…” Balas gua lalu melanjutkan makan.
Nyokap duduk, membuka laptopnya dan kembali bekerja sambil makan.
“Gimana tadi?” Tanyanya.
“Mmm… ya gitu deh” Jawab gua.
“Gitu deh? Gimana?” Tanyanya lagi.
Gua lantas mulai menceritakan apa yang terjadi di rumah sakit tadi. Beserta penjelasan tentang kondisi gua dari dokter Natalie. Terlihat perubahan ekspresi wajah nyokap saat mendengar cerita gua yang perlahan merendahkan nada bicara saat bagian diagnosa yang abu-abu.
Nyokap menggeser kursinya lebih dekat, lalu memberikan pelukan.
“Gapapa, Anak Mamah kuat…” Bisiknya lirih, walaupun terlihat tegar. Tapi, gua bisa merasakan getaran dalam suaranya.
“Iya lah, harus kuat…” Balas gua, sambil terus berusaha menahan tangis.
“Pasti ada jalan…” Tambahnya.
“Oiya Mah, aku kan abis browsing-browsing tentang epilepsi…”
“…”
“… sebelumnya aku pernah kejang nggak?”
“Mmm… nggak” Jawabnya.
“Kalo kepala ku, dulu waktu kecil pernah terbentur nggak?” Tanya gua lagi.
“Nah, itu kayaknya pernah. Kamu kan dulu nggak bisa diem. Loncat sana-sini… tapi kayaknya nggak sampai parah” Jawabnya.
“Hehehe… berarti penyebab epilepsinya bukan itu ya?”
“Harusnya sih bukan, tapi ya nggak tau deh…”
“Ahaha….”
“Terus abis berapa tadi?” Tanyanya.
“Nggak tau deh, lupa… kuitansinya ada di kamar, nanti aku ambilin…” Jawab gua, lalu merogoh saku celana, mengeluarkan kartu kredit milik Nyokap dan mengembalikannya.
“Yaudah simpen aja…” Jawabnya.
“Sama aku buat jajan juga tadi, hehehe…”
“Dasar…”
Kami lalu berbincang, menghabiskan waktu berdua. Sekalian menemaninya menyelesaikan pekerjaan.
—
Besoknya, di sekolah gua mulai mendapati tatapan-tatapan aneh dari beberapa teman. Tatapan yang seakan menghakimi, tatapan yang penuh rasa penasaran bercampur jijik. Gua berusaha paham, seandainya berada di posisi mereka, gua juga pasti merasakan hal yang sama. That’s why, gua maklum.
Sebisa mungkin bersikap normal seakan nggak terjadi apa-apa. Gua mencoba bersembunyi dibalik senyum, berusaha terus menjadi Safira yang penuh keceriaan, Safira yang menyinari dunia dengan tawanya.
Ya tentu bukan hal yang mudah, tapi gua akan terus mencoba. Apalagi tahu kalau ada The Lontongers yang selalu memberi dukungannya tanpa henti.
Hari demi hari berlalu, gua mulai terbiasa dan akrab dengan pil berwarna merah itu. Dengannya juga gua nggak lagi mengalami kejang. Sementara, teman-teman di sekolah perlahan mulai melupakan kejadian pingsan dan kejangnya gua saat upacara bendera. Hidup gua yang sebelumnya berangsur kembali seperti sedia kala. Tentu saja nggak sepenuhnya kembali, gua masih belum diijinkan untuk berlatih menari.
Pun nggak diperbolehkan, gua tetap rutin datang ke sanggar. Bukan untuk berlatih, tapi hanya duduk dan menonton teman-teman yang lain. Ya, walaupun sesekali gua nggak tahan lalu ikut bergabung, tapi nggak lama. Hanya sebentar, sekedar melepas rindu terhadap gerakan tari. Teman-teman di sanggar belum tahu tentang kondisi gua yang sebenarnya, yang mereka tahu hanya gua sedang sakit dan dalam proses pemulihan.
Nggak cuma di sanggar, saat sedang sendiri di kamar gua terkadang menari dengan gerakan ringan yang nggak terlalu menguras tenaga. Hingga akhirnya tiba di titik gua merasa kalau sepertinya nggak masalah kalau gua kembali berlatih.
“Gapapa kali ya? Yang penting kan udah minum obat” Gua bicara sendiri, membulatkan tekad, mengabaikan pesan dokter untuk istirahat dari menari.
“Ya kalo lo merasa udah sehat, gas aja…” Seru Liv yang lantas diamini oleh Gaby. Saat gua menyampaikan niat untuk berlatih nge-dance lagi.
Berbeda dengan Liv dan Gaby, Fidel nampak nggak memberi respon. Ia hanya terdiam sambil menatap ke layar ponselnya.
“Menurut lo gimana, Del?” Tanya gua.
“Gue sih, kalo kata dokter jangan dulu berarti jangan… no excuse” Jawabnya santai.
“…”
“… Tapi, kalo lo tetep mau latihan, paling nggak harus ada yang nemenin” Tambahnya.
“Kan di sanggar rame, del. Banyak orang, jadi nggak usah khawatir” Balas Liv.
“Emang mereka yang di sanggar tau gimana cara nge-treat Fira kalo lagi kejang?” Tanya Fidel, sambil tetap tenang.
Fidel ada benarnya juga. Walaupun banyak orang, tapi mungkin nggak ada satupun yang tahu bagaimana menghadapi orang yang pingsan dan kejang seperti yang gua alami waktu itu.
“Terus, gimana dong?” Kali ini Gaby yang bicara.
“Ya orang-orang di sanggar harus dikasih tau…” Fidel memberi solusi.
“…”
“… atau, salah satu dari kita nemenin Fira pas latihan” Tambahnya.
Jujur, gua agak kurang setuju dengan saran memberitahu kondisi gua ke sanggar; takut nantinya pemilik sanggar nggak mau mengambil resiko dengan membiarkan salah satu anggotanya yang pesakitan terus berlatih di sanggarnya; takut terjadi apa-apa.
“Yaudah kita gantian aja nemenin Fira” Usul Liv, yang lalu direspon dengan anggukan kepala dari Gaby dan Fidel.
“Aaaah….” Gua yang merasa terharu lantas merangkul ketiganya; memberi pelukan. Tanpa terasa kedua mata basah dan mulai berlinang. Nggak apa-apa kalau Tuhan mau ngasih cobaan seberat apapun ke gua, asal ada mereka di sini.
Lanjut ke bawah
Diubah oleh robotpintar 05-03-2025 20:00
delet3 dan 26 lainnya memberi reputasi
27
Kutip
Balas
Tutup