Chapter 237
Quote:
Lampu berkedap-kedip, lorong yang tadinya menyala mulai gelap kembali. Keadannya sangat memprihatinkan, hancur di beberapa bagian. Tampak seorang perempuan sedang tergeletak di lantai, sedangkan kawannya sedang berada dicengkraman monster besar yang bernama Rodrick. Perlawanan mereka berdua belum cukup untuk melumpuhkan Diamond Clan.
“Kalian berdua sungguhan dari Golden Clan?” ucap Rodrick sambil mengangkat tubuh Jacop dalam keadaan monster Beaters.
“Jen…,” Jacop hanya bisa merintih, semua serangannya bersama Jennifer tidak berefek sama sekali. Bahkan sejak awal pertarungan, Rodrick belum beranjak dari tempatnya berdiri.
“Hm, tidak ada gunanya juga jika memakan Beat kalian,” Rodrick melempar tubuh Jacop dengan keras hingga menabrak dinding samping.
Hanya beberapa menit sejak kedatangan untuk meluluh-lantahkan markas besar BASS. Sementara harus terhenti karena adanya perlawanan tiba-tiba dari dua anggota Golden Clan. Karena pertarungannya sudah berakhir, Rodrick memutuskan untuk melanjutkan misi utamanya. Kakinya dengan santai melangkah melewati Jacop dan Jennifer.
“Mungkin saja Rebel juga tidak mau jika harus memakan Beat kalian…,” ucap Rodrick sambil berlalu.
Tidak lama terdengar isak tangis dari Jennifer yang menutup seluruh wajahnya menghadap lantai. “Apa artinya jika aku masih hidup sejauh ini hanya untuk menjadi anggota yang tidak berguna?”
Jacop mendengarnya, namun belum bisa berkomentar karena lehernya yang patah akibat lemparan tadi. Tenyata isak tangis dari Jennifer terdengar oleh Rodrick yang belum meninggalkan lantai ini. Suara langkak kaki berat kembali terdengar, Jacop menatap dengan mata yang membesar.
“Cih, kau masih sanggup untuk menangis?” ucap Rodrick dengan aura kemarahan yang begitu besar. Lalu menarik rambut Jennifer hingga tubuhnya terangkat. Dengan begini Rodrick dapat melihat wajah memilukan dari Jennifer. “aku paling benci dengan tipe wanita lemah seperti ini!” tubuh Jennifer dibanting dengan keras hingga menimbulkan retakan dilantainya.
Jacop hanya menggerung, tidak dapat mengucap. Badannya masih kaku hingga belum bisa bergerak.
“Hm?” Rodrick melihat tetesan air mata mengalir dari wajah Jennifer meskipun tertutup oleh helai rambutnya. Tangannya mengepal keras, hingga urat-uratnya terlihat jelas.
“Argh…JEN!” Jacop mencoba menghentikan Rodrick yang ingin meninju wajah Jennifer, namun langkahnya terlambat satu langkah.
Suara dentuman terdengar begitu keras, aliran listrik menyebar ke segala arah tidak karuan. Tangan besar berlistrik menghentikan laju tinju dari Rodrcik. Seseorang yang sama besar dengannya berdiri tegak. Sementara itu wujud Jennifer menghilang dari pandangan.
“Kau masih hidup?” tanya Rodrick.
“Aku tidak akan mati sebelum kalian semua musnah!”
Jacop dapat bernafas lega, setelah kedatangan kapten Briar dan juga kapten Lucio yang membawa tubuh Jennifer kesampingnya.
“Cih, apa kau tidak malu menyerang seorang perempuan?!” bentak kapten Lucio.
“Kau masih menganggapnya perempuan? Dia itu monster!” teriak Rodrick.
Kapten Briar memeluk erat tubuh Rodrick, aliran listrik bertegangan tinggi di seluruh tubuhnya cukup ampuh. Lalu roket di kedua kakinya dinyalakan, membawa monster bertubuh besar itu ke tempat yang lebih layak untuk bertarung. Sementara itu kapten Lucio masih terjaga di lorong. Tubuhnya butuh penyesuaian terlebih dahulu setelah terjebak di tempat sempit dalam waktu yang lumayan lama.
Pada saat terjebak reruntuhan gedung hancur, beberapa anggota BASS ikut berada didalamnya. Hanya kapten Briar yang terus menjaga agar reruntuhannya tidak masuk lebih dalam lagi. Setelah berkali-kali menggunakan sinar laser di kedua tangannya, dikhawatirkan terjadi kerusakan atau yang lebih parahnya kedua tangan kapten Briar akan terbakar hingga hangus.
Tetapi kapten tim 1 itu bersikukuh untuk menggunakannya, hingga membuka jalan bagi anggota BASS yang terjebak termasuk kapten Lucio. Belum cukup sampai di situ, kekuatan di baju tempurnya ditingkatkan hingga angka 100. Anggota biasa yang belum terlatih sudah dipastikan tidak akan bisa menggerakan tubuhnya karena sengatan listrik yang begitu terasa.
“Tenang saja, hampir semua anggota BASS sudah dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Jika kalian ingin pergi sekarang waktunya,” ucap kapten Lucio.
Kedua roket dikakinya berubah warna yang tadinya merah agak oranye, sekarang menjadi biru terang. Kapasitas roketnya juga dinaikan ke titik tertinggi, tidak ingin kalah oleh perjuangan kapten Briar. Resiko terbesarnya adalah kehilangan kedua kakinya, karena tekanan dari tenaga yang sangat besar dari roket dikakinya.
“Bukan saatnya untuk menghitung resiko yang dihadapi!” kapten Lucio melepaskan visor dikepalanya, agar tidak melihat informasi mengenai baju tempur yang malah akan memenuhi isi kepalanya. Tubuhnya melesat hingga tidak bisa tertangkap oleh mata Jacop dalam keadaan mode Armored.
“Orang itu sudah gila…,” ucapnya pelan, lalu perlahan tubuhnya kembali normal ke wujud manusia. “Jen…,” masih tidak tega melihat kawannya harus terlihat menyedihkan seperti itu.