Kaskus

Story

loveismynameAvatar border
TS
loveismyname
YOU ARE MY DESTINY 2
YOU ARE MY DESTINY 2


Dia mengangkat wajahnya dan dengan segera aku terkesiap. Aku mengenalnya. Aku mengenalnya dengan baik.

Aku menundukkan pandanganku dengan dada bergetar hebat. Aku sudah berusaha melupakannya. Kenapa kami malah bertemu lagi.


****

Hai kaskusers.

Ketemu lagi sama gue di cerita kedua gue. Semoga cerita kali ini bisa menghibur kalian semua. Oh iya, sebelum baca cerita ini, akan lebih baik kalian baca dulu cerita pertama gue, karena ada beberapa tokoh yg akan nongol di sini lagi. Linknya di sini ya.

di sini

Attention !!!

Quote:


WARNING !!

Quote:


Note:
TS lumayan sibuk setahun ini. Jadi, mungkin update tidak akan selancar cerita pertama. Mohon di maklumi ya. Tapi, saya akan berusaha sekeras mungkin untuk menyelesaikan cerita ini.

Akhir kata...

Enjoy yaa
Diubah oleh loveismyname 12-02-2025 14:18
yuaufchauzaAvatar border
yputra121097703Avatar border
percyjackson321Avatar border
percyjackson321 dan 41 lainnya memberi reputasi
40
53.7K
989
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
loveismynameAvatar border
TS
loveismyname
#384
Behind The Scene 3 - Author Pov
2024 - Februari

Aku sedang di teras rumah Om Dogol sambil mengotak-atik laptopku. Om Dogol yang menyuruhku ke sini. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan, dan membutuhkan supervise darinya.

“Put, ini jangan begini cara ngitungnya. Gak akan nemu. Coba kamu vlookup, cari data dari report yang ini terus di taro di sini. Data ini buat komparasi. Jadi nanti jelas parameternya. Jadi kamu bisa tau mana yang kurang maksimal.” Kata Om Dogol sambil memberikan petunjuk.

Aku menurutinya, dan walah, estimasi biaya yang selama ini pusing ku cari ternyata bisa ketemu semudah itu. Margin of errornya hampir 0 lagi.

Tau gitu dari kemarin kesini.

“Put, cerita kedua kamu di kaskus ke pending ya?” tanya Om Dogol.

“Ya iya. Lagian Om Pacul gak niat share ceritanya. Dari kemarin belum di kasih lagi sama dia. Mentok deh.”

Ya, awalnya cerita keduaku di angkat dari cerita hidup Om Pacul. Dia sudah setuju dan sudah memberikan  draft kasar cerita awal.

Tapi sampai beberapa bulan, cerita itu terhenti. Karena Om Pacul yang awalnya excited tiba-tiba jadi malas. Dia malah meledekku jika ku minta draft kelanjutan ceritanya.

“Kalo nara sumbernya gue bisa gak?” Tanya Om Dogol.

“ya gak bisa lah. Jadinya pov orang ketiga dong. Gak dapet feelnya.”

“Atau kamu kembangin aja jadi fiksi. Kan end of story nya udah ada. Kamu tinggal izin pacul dan kamu terusin berdasarkan imajinasi kamu.”

“Ya kudu mikir lagi dong. Aku gak sehebat itu bikin cerita om. Gak bisa sampe yang berimajinasi jauh gitu.”

“…”

“Lagian, gak papa lah om. Akunya juga lagi sibuk banget. Mendingan mantengin tritnya ucup om. Lucu deh hahahahaha.”

“Ucup siapa?”

Aku menceritakan sekilas kisah ucup kepada Om Dogol. Om Dogol memang sudah lama gak buka kaskus. Bukan hanya kaskus, media sosial saja dia gak buka-buka.

Dia sadar, semakin banyak polarisasi di social media. Orang aktif di social media bukannya jadi pinter, malah makin tolol. Udah gitu, yang tolol gak ngerasa tolol, dan malah nololin orang lain. Jadilah tolol berjamaah.

Kalaupun harus liat media social, dia hanya buka youtube. Itupun hanya sebatas hiburan. Jadi, channelnya juga aneh-aneh. Biasanya dia subscribe channel-channel traveler seperti Nugroho Febianto dan Masrang atau kalau di luar negeri, coupy channel.

Saking ngefansnya dia sama coupy channel, dia sampai berniat membuat campervan.

Channel sekelas Deddy Corbuzier saja dia tidak suka. Kata Om Dogol

“Smart people ndasmu!!”

Mungkin itu sebabnya, dia tidak terkontaminasi dengan hal-hal aneh di social media. Apapun yang viral di sana, dia tidak akan tahu. Dia hanya melihat dari berita yang terpercaya saja.

“Kamu tahun ini lulus ya Put?”

Aku mengangguk.

“Jadi S2?”

“Insya Allah.”

“Ada duitnya?”

“Kenapa? Mau bayarin om ?”

“Ya mau aja. Asal kamu usaha dulu. Om Gak mau bantu kamu kalo kamunya cuma nadah.”

“Iya ngerti.”

Saat sedang asik mengobrol, terdengar suara mobil dari depan rumah. Aku pikir hanya mobil parkir sebentar, karena biasanya begitu.

Rumah Om Dogol ini di tepi jalan utama komplek. Kadang ada yang numpang berhenti sebentar lalu jalan kembali. Kalau kerabat Om Dogol yang sering ke sini, pasti sudah membunyikan klakson, lalu Fatih akan ngibrit keluar.

Clarissa?

Jangan di tanya. Udah pemalu banget dia sekarang.

Pagar rumah Om Dogol juga tinggi dan di sekat, jadi aku tidak bisa melihat apa yang terjadi di depan.

Tapi ku dengar mesin mobil di matikan. Om Dogol segera berdiri untuk melihat. Takutnya mobil itu parkir dan tidak tahu diri. Main parkir saja tanpa izin. Belum sempat Om Dogol berjalan ke depan, sudah terdengar suara dari depan pagar.

“Assalammualaikum.” Suara wanita memberi salam.

Suaranya lucu sekali. Kecil dan mericit. Pasti bawel banget nih cewek begini. Hahahahaha.

“Waalaikum salam.” Aku dan Om Dogol menjawab bersamaan.

Om Dogol berjalan ke pagar, lalu membuka pintu.

“Masya Allah. Ada ukhti dari jauh. Hahahahah.”

“Lah lakinya gak di sebut.” Kata suara lain dari luar pagar.

“Ah gak usah !!” Kata Om Dogol lagi.

Setelah basa basi, kedua orang yang dari tadi ngobrol sama Om Dogol dari balik pagar, masuk ke teras sehingga aku bisa melihat mereka.

Dan aku langsung tersenyum.

Pasangan unik nih.

Suaminya tinggi, berkulit cokelat, ganteng tapi standar lah gak over kayak Om Dogol, bermata belo dan rambutnya sedikit gondrong di kuncir rapih. Jenggotnya lumayan tebal. Dia memakai batik cokelat berlengan panjang dengan celana bahan berwarna cokelat. Celananya di atas mata kaki tapi nggak cingkrang sekali.

Istrinya, berhijab panjang berwarna putih yang menutupi sampai di bawah dada, memakai rok rempel panjang hitam dan kaos kaki putih. Dia berkulit putih dan matanya sipit. Cuma segaris. Kalau tertawa ilang deh matanya.

Hahahahah.

Mereka menggandeng anak laki-laki yang kayaknya masih SD. Anak laki-laki itu putih tinggi kurus. Memakai kacamata yang tidak terlalu tebal. Kalau matanya tidak belo, 100 % dia mirip ibunya. Ayahnya masih patungan mata ternyata.

Tapi karena matanya indah itu dia terlihat tampan.

“Sayaaang, ada Vina nih.” Om Dogol sedikit berteriak sambil berjalan ke dalam rumah.

Para tamu itu di giring Om Dogol ke kursi yang ada di sebelahku. Yang pria tersenyum kepadaku dan kami berkenalan. Saat berkenalan, istrinya tidak menjabat tanganku. Dia hanya tersenyum sambil menangkupkan tangannya di depan dada.

Wuidih keren. Syar’i banget nih pasangan.

Suaminya bernama Dhani dan istrinya bernama Vina, tapi bisa juga di panggil Humaira. Anaknya bernama Umar. Dari tadi dia asyik bermain rubik.

Tante Adelle muncul di ikuti dengan anak-anak mereka. Wajah mereka cerah dan excited sekali.

“Masya Allah. Vinaaaa… “ Tante Adelle berteriak sambil berlari ke arah Tante Vina lalu mereka berpelukan erat.

“Kok gak ngabarin mau kesiniii??” Kata Tante Adelle lagi.

“Iya dadakan del. Abis ngurus toko sekalian kondangan. Ternyata urusannya cepet, mampir ke sini deh. Nanti maleman mau ke rumah Queen. Udah kangen tuh dia.” Ujar Tate Vina sambil menunjuk suaminya.

Setelah itu, dia memeluk anak-anak Om Dogol. Clarissa dan Fatih pun memeluk Umar akrab. Umar yang sedari tadi fokus pada rubiknya, langsung tertawa melihat fatih. Dia langsung menurut ketika Fatih mengajaknya ke dalam rumah.

“Jangan lari-larian ya sayang.” Ujar Tante Vina kepada anaknya.

“Na’am Ummi.” Jawab Umar sopan.

“Gokil anak lu Dhan. Dia benerin rubik cepet banget. Cerdas banget anak lu.” Kata Om Dogol kagum.

“Alhamdulillah Gol. Dia juga ikut seleksi olimpiade matematika tuh. Lagi latihan terus.” Kata Om Dhani.

“Gookiilll. Ngiri gue.” Om Dogol tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.

“Apa yang diiriin sih Gol? Anak lu tuh. Udah cakepnya kebangetan, jago masak lagi.” Kata Om Dhani balik memuji.  

Tante Vina akhirnya masuk bersama Tante Adelle. Katanya mau ngobrol antar wanita. Suami gak boleh tau. Hahahaha.

Di luar sini, kami bertiga ngobrol dengan akrab. Obrolan sampai pada cerita Om Dogol yang ku tulis di kaskus. Om Dhani langsung excited dan membaca ceritaku sekilas.

“Elu gak pernah cerita soal kisah lu sama gue, malah di publish. Gimana sih Gol?” Kata Om Dhani sambil menjitak kepala Om Dogol.

Om Dogol cuma tertawa geli.

“Ya udah, lu baca aja cerita itu. Kurang lebih sama lah, walaupun ada yang di belokin. Kalo gak di belokin bahaya.”

Om Dhani masih membaca cerita milikku itu ketika Om Dogol nyengir jelek ke arahku.

“Put, cerita lu kan mandek. Lu ganti aja sama cerita nih kampret. Di jamin seru.” Kata Om Dogol.

“Boong put. Gak seru cerita gue. Jangan ngadi-ngadi lu Gol.” Sanggah Om Dhani.

Om Dogol lalu bercerita sekilas tentang Om Dhani dan Tante Vina. Benar dugaanku, Tante Vina adalah Chinese mualaf. Jarang-jarang loh Chinese mualaf yang bisa sampai se syar’i itu. Mereka berasal dari kota yang lumayan jauh, yang terletak di jawa tengah. Jadi wajar kalau aku tidak pernah melihat mereka. Mereka jarang berkunjung ke sini.

“Wah, dulu aku pernah lewat sana waktu turing. Rumah om di daerah mananya?” Aku bertanya excited.

Pokoknya denger daerah pegunungan langsung excited gue!! Hahahahah.

“Di daerah XX put. Kalo kamu lewat kota X, terus ke arah gunung. Nanti ketemu desanya.” Kata Om Dhani.

Dari cerita Om Dogol, kisah tentang Om Dhani dan Tante Vina ini luar biasa sekali. Aku fikir cerita Om Dogol Dan Tante Adelle tuh udah yang paling gokil. Lah, ini ada lagi yang lebih gokil.

Tante Adelle dan Tante Vina kembali. Mereka bergabung dengan keseruan kami. Tante Vina juga membaca tulisanku soal kisah Om Dogol. Dia tersenyum lembut.

“Gimana put? Seru kan cerita mereka?” Kata Om Dogol.

“Gokil. Seru om. Aku tulis aja ya Om?” Pintaku kepada Om Dhani.

“Halah gak usah. Malu-maluin aja.”

“Gak papa sayang. Biar jadi kenangan buat kita..” Kata Tante Vina.

“Haduh jangan deh. Malu aku.”

“Ya kan nanti di belokin ceritanya sama Putra. Gak bakal sama persis kok. Gak akan ada orang yang tau. Iya kan put?”

Aku mengangguk yakin.

Pleasee..pleaseee mau lah Om…

“Ya udah deh. Tapi aku gak mau nulis-nulis ya Um. Kamu aja yang ngirim draftnya ke putra.”

Tante Vina mengangguk dan tersenyum. Sedangkan aku? Loncat-loncat kegirangan.

Lega deh gue gak usah ngejar-ngejar lagi Om Pacul.

Mampus kau Om.

Huahahahaha.


“Eh terus gimana hubungan Om Dhani Sama Tante Eskrim?” tanyaku.

“Suram put. Hahahahahaha.” Kata Om Dogol sambil tertawa.

“Kalo dari guenya sih gak masalah Put. Vina juga udah fine aja. Cuma dianya gedeg banget sama gue kali. Heheheheheh.” Kata Om Dhani.

“Ya kamu sih!! Kan gara-gara kamu juga dia jadi nyuekin kamu.” Kata Tante Vina.

“Ya biarin aja. Yang penting Queen tetep bisa jalan sama aku. Emaknya mah bodo amat.”

Kami tertawa bersama setelah itu. Om Dogol mengompori dengan video call Tante Eskrim. Begitu tau ada Om Dhani di situ, Tante Eskrim tidak mau nongol di layar. Tapi begitu yang di sorot Tante Vina, tante Eskrim langsung menyapa akrab.

Jadi, Om Dhani hanya bisa ngobrol sama Queen, keponakan kesayangannya.

Tante Eskrim juga suka sekali sama Umar. Menurut Tante Vina, Tante Eskrim akan dengan senang hati mengajak Umar jalan-jalan kalau mereka berkunjung. Tante Vina pernah memergoki Tante Eskrim yang mencium Umar habis-habisan saking gemasnya.

Aku sempat penasaran, memangnya Umar sepintar apa sih?

Aku mengajukan beberapa pertanyaan matematika dasar kepada Umar dan dia menjawab dengan nada malas. Mungkin menurut dia itu terlalu gampang.

“Yang susahan dikit put. Segitu mah merem si Umar.” Kata Om Dogol.

Tante Vina menyodorkan ponselnya dan memperlihatkan lembar pelatihan umar. Kata Tante Vina, Umar mengerjakan 10 soal itu dalam waktu 15 menit.

Bused !!!

Gue aja puyeng !! Sumpah gue gak bisa ngerjain soal itu !!

Dan Tante Vina juga memperlihatkan lembar test IQ Umar kepadaku yang membuatku tambah geleng kepala.

“Umar punya kelemahan fisik put. Dia gampang sakit, jadi gak bisa makan sembarangan. Dia juga gampang capek kalo olahraga. Matanya nyaris cacat, terutama yang kanan. Untungnya mata kirinya masih bisa di bilang normal dan so far, tidak ada kendala buat belajar.” Kata Tante Vina.

Aku memperhatikan mata Umar yang di hiasi kacamata.

Biasa saja ah.

“Umar, coba tutup mata kiri kamu.” pinta tante Vina.

Umar menuruti Umminya dengan menutup mata sebelah kirinya.

“Ini berapa?” Tanyaku sambil mengangkat dua jari kananku.

Umar menggeleng yang artinya dia tidak bisa melihat berapa jari yang kuangkat. Aku langsung terkejut dan memandang Tante Vina.

“Tapi kalo liat Om masih bisa ?” Tanyaku lagi.

Umar mengangguk.

“Dia gak bisa memfokuskan pandangan. Kalo objek walau samar dia bisa liat. Tapi kalo butuh fokus, dia gak bisa.”

“Ya Allah. Kasian banget kamu sayang.” Ujarku bersimpati.

“Yang kasian ya kamu Put. Kamu seumuran Umar emang pernah kepikiran ikut olimpiade matematika?” Sindir Om Dogol.

Aku langsung menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

Iya juga ya?

Gue umur segitu masih main bola di lapangan. Hahahahaha.  

Beberapa bulan kemudian, draft kasar sudah lengkap. Aku sempat menimbang lama untuk menulis cerita ini. Terlalu blak-blakan. Tapi begitu melihat akhir draftnya, di mana Tante Vina dan Om Dhani bertemu lagi dalam sebuah majelis ta’aruf, aku tidak bisa menahan air mataku.

Kisah ini terlalu sayang kalau tidak di tulis. Mengharukan sekali.

Akhirnya, di sela kesibukan, aku niatkan kembali untuk menulis. Satu komitmen lagi aku tambah dalam rencana kerjaku.

Menulis di kaskus hingga tamat.

Iya, bagiku itu adalah sebuah komitmen. Tidak peduli nanti berapa viewers yang akan baca, tidak peduli berapa banyak cendol yang aku terima. Komitmen adalah komitmen. Harus di selesaikan.

Lagi pula, menulis bisa melonggarkan tensi kepalaku yang penuh dengan kerjaan.

Oke lah…

Gass ajaaa !!
theiceberg
yuaufchauza
percyjackson321
percyjackson321 dan 26 lainnya memberi reputasi
27
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.